Jumat, 13 Februari 2015

Pupuk NPK Menghasilan Miliaran Rupiah


Profil Yohanes Nugroho Hari Hardono 


Yohanes Nugroho Hari Hardono, pendiri dan pemilik Saraswanti Group, tak pernah berpikir untuk menjadi seorang pengusaha. Di kehidupannya kala itu semuanya telah terlihat menyenangkan. Sampai dirinya berumur 30 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki rumah nyaman tipe 70, ditambah sebuah mobil Kijang. Tiap hari minggu akan digunakannya untuk pergi ke Gereja bersama keluarganya. Ia kala itu hanyalah seorang general manager di perusahaan pupuk alam di Mojokerto, Jawa Timur. 

"Saya sudah nyaman di situ. Untuk hidup, ya, sudah cukup, walau tidak lebih," kata pria paruh baya ini. Hari, begitulah nama sapaannya, telah cukup lama bekerja di tempat itu. Sampai suatu saat di tahun 1998, sebuah peristiwa memicu kekecewaan Hari. Di umur 35 tahun, ia mendapati dirinya berkeinginan untuk membangun perusahaan sendiri.

Kedudukan tertinggi telah digapainya dan hanya terpaut satu garis dengan sang atasan. Hari mau tak mau, harus membuka bisnisnya sendiri. Bisa ditebak ide bisnisnya tak jauh dari pupuk. Ia berencana membangun sebuah pabrik pupuk NPK. Pupuk yang mengandung 3 komposisi utama yaitu natrium, fosfor (phosphor), dan kalium sekaligus. Kala itu, meski pupuk NPK sudah dikenal lama, aplikasi di lapangan masih jarang.

Kebanyakan perkebunan saat itu masih menggunakan pupuk tunggal, antara lain pupuk urea.

Modal bisnis


Modalnya hanya nekat, dan sebuah rencana rapi yang telah direncanakan jauh- jauh hari. Hari telah mantap menggarap bisnis pupuk NPK.Dirinya yakin kebutuhan akan pupuk jenis ini akan meledak. "Saya sudah membayangkan bahwa kebutuhan pupuk NPK tak terhindarkan lagi mengingat semakin sulit perkebunan mengumpulkan satu-satu jenis pupuk," terangnya. Hari pun meminta sang adik bungsu, Adhi Harsanto, mempersiapkan pembangunan pabrik.

Tiga bulan kemudian, dia baru mundur dari pekerjaan. Ia harus berkonsentrasi penuh atas bisnis barunya ini. "Saya siapkan Rp 10 juta untuk mengurus perizinan. Tabungan saya serahkan istri untuk membiayai hidup keluarga selama enam bulan. Kalau saya gagal, saya akan cari pekerjaan lagi," lanjut Hari. Disaat mengurus perijinan keberuntungan itu menghampiri dengan sendirinya. Pemerintah sendiri yang menawakan kemudahan demi kemudahan.

Mereka, Departemen Perindustarian,  menawarkan 60 pekerja siap pakai untuknya. Dan, pekerja tersebut akan digaji oleh pemerintah selama enam bulan. Dari tawaran tersebut, Hari akhirnya hanya bisa menampung separuhnya. Ternyata, 16 orang di antaranya meminta keluar setelah dua minggu bekerja. Kemudahan lain, seorang koleganya yang memiliki mesin pengolahan mau meminjamkan mesinnya. Andai ia gagal dengan bisnisnya, maka mesin bisa dikembalikan tanpa biaya.

Dilengkapi modal ratusan juta serta modal tambahan dari seorang teman. Hari mulai mengibarkan nama PT. Saraswanti Anugrah Makmur (SAM), berkantor di sebuah gudang sewaan seluas 600 meter persegi. "Kami berproduksi saat ada order. Hanya enam bulan mesin terpakai," tuturnya. Namun setelah beberapa lama bisnisnya tumbuh lancar. Salah seorang anak buahnya di pekerjaan lama telah memilih untuk keluar. Dia, Yahya Taufik, bergabung dengan bisnisnya.

Sesungguhnya Yahya sudah tercatat dalam akta pendirian perusahaan sebagai pemilik sejak awal berdiri. Ia bersama Adhi dan Yahya, dan Hari telah berbagi kepemilikan saham SAM hingga sekarang. Pada tahun kedua, pesanan pupuk NPK telah meningkat tajam. Dari dua tahun, seluruh mesin telah digunakan dalam produksinya. Barulah di tahun ketiga pabrik miliknya berproduksi penuh setiap harinya. Kelancaran usaha terus mendatangi hidupnya.

Meski begitu, bukanlah berarti ia cuma akan mengandalkan hoki. Keberhasilannya menembus pasar adalah buah dari kejelian dia menyusun strategi bisnis. Salah jurusnya adalah menggandeng Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan. SAM memproduksi pupuk yang memiliki formula hasil penelitian lembaga itu, yang telah disesuaikan dengan karakter masing-masing kebun pemesan. Jurus merangkul pusat penelitian seperti itu juga dia terapkan untuk membidik kebun kopi, kakao, dan tebu.

"Saya membayar royalti hingga Rp 7 miliar setahun," ungkapnya. Ia mengawali semua tanpa cita- cita namun bukan hanya berhenti sekarang. Bisnisnya telah menguasai 3,5% pangsa pupuk NPK nasional. Dan, ia ingin mengibarkan SAM hingga menembus 10% pangsa pasar.

Artikel Terbaru Kami