Kamis, 12 Februari 2015

Biografi Hisyam Said Bawahab Membuka Paparon Pizza


Seorang pengusaha veteran, namanya Hisyam Said Bawahab, pria kelahiran 15 April 1954, masih ingat betul masa- masa perjuangannya dulu. Ia pernah menjajakan es di daerah Cikini, Jakarta Pusat, pada 1980. Momen yang merupakan titik balik hidupnya kini. Jejak- jejak usaha pria paruh baya ini sudah dimulai sejak SMA, pergi merantau ke Palembang untuk bekerja di perusahaan besi tua. Tak betah, ia kembali ke Jakarta lalu bekerja di toko material.

"Saya jadi kuli angkut kayu, nurunin dari truk- truk. Tak jarang tidurpun diatas papan." kenangnya.

Empat tahun kemudian ia bekerja di perusahaan es. Dia bekerja sebagai sopir es. "Saya nyetir ngirim balok es dari Pulo Mas sampai Ampera, ke Buncit, Kebon Sirih, terus muter dari jam 2 dini hari sampai pagi," kenang pria berdarah Arab- Betawi. Kembali berhenti bekerja, dia harus memulai usahanya sendiri yaitu berjualan es di Cikini. Nasib membawanya bertemu pembeli yang ternyata pemilik PT. Umawar, sekaligus pemilik UI Metal Work (UMW).

"Waktu itu dia baru pulang dari Inggris. Nawarin mau gak ikut dia kerja di perusahaan yang mau dibikinnya di bidang metal works," ujar Hisyam Ia tak perlu berpikir sejenak saat itu. Hisyam mendapatkan banyak pelajaran bisnis. Bahkan tak berlangsung lama, ia membuka bisnis sendiri, "Setelah menyetir es balok selama dua tahun, saya kerja di metal works. Dari situ saya mendapat ilmu tentang hal-hal mengenai teknik. Akhirnya saya berhenti karena merasa sudah cukup kerja dengan orang lain. Maka saya coba merintis usaha sendiri."

Bisnis peralatan dapur


Hisyam memulai bisnis pertama secara profesional di bisnis peralatan rumah tangga. Dibantu tiga karyawan, ia membuat perlengkapan dapur berbagai ukuran. Seorang kawan kemudian menawarinya tanah kosong. Di sanalah perusahaan miliknya berdiri kokoh. Perusahaan yang kemudian bernama PT. Hatindo Metal Utama di tahun 1985. Produk- produknya dikhususkan produk metal fokusnya di peralatan dapur komersial seperti meja, tempat cuci piring, pemanas, pendingin, exhaust, van dan kompor.

Demi kualitas terbaik bagi konsumen, ia memberanikan diri mengimpor produk- produk lain. Dia mengimpor produk lain seperti oven, mixer, steamer dan ricecooker besar. Perkembangan bisnisnya cukup pesat dimana seperangkat dapur untuk restoran senilai 300 juta per- gerai. Hasilnya dikumpulkannya sedikit demi sedikit guna membeli tanah seluas 1000m2 di Ciputat, Jakarta Selatan. Tanah tersebut kemudian dijadikan sebuah pabrik baru yang lebih luas. Sisa uangnya dibelikan beberapa mesin bekas.

Untuk bahan baku cukup dibelinya di kawasan Jakarta Barat. Perusahaan yang dibangun semakin besar, melayani berbagai pesanan dari seluruh Indonesia. Perkembangan Hatindo menyentuh beberapa perusahaan. Mereka bahkan menjual produknya ke hotel bintang lima seperti hotel Hilton, restoran Ponderosa di Widjoyo Center serta Bandara Soekarno-Hatta. Restoran Pizza Hut pernah mempercayakan pengadaan alat-alat dapurnya pada Hatindo.

Ekspansi Pizza Hut yang sangat cepat di tanah air, membawa keuntungan bagi Hatindo. Perusahaan telah mampu mengerjakan perangkat dan instalasi dapur untuk 75 gerai. Kemudian perusahaan juga memperoleh order memproduksi box pengantar Pizza Hut. Bisnisnya di Hatindo semakin matang, seiring berbagai pesanan besar. Mungkin dari pengalaman itu pula membuatnya berpikir merambah bisnis restoran, terutama bisnis pizza.

Bisnis pizza


Hasyim pun mencicipi hasil bisnis yang dulu menjadi garapannya. Tepat di 2001, dia membangun Papa Ron'z Pizza yang lisensinya didapatkan dari seorang teman, Ron Muller. Ia membuka gerai pertama di Warung Buncit, sekaligus menjadi yang pertama ada di Indonesia. Kemudian dilanjutkan satu gerai lagi di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan dan Depok. "Saya memutuskan menggeluti bisnis lain, karena saya lihat Hatindo bisa jalan sendiri, tinggal melakukan pengawasan saja," ujar Hisyam.

Tidak berhenti di Papa Ron'z Pizza, ia pun mencari bisnis lainnya yaitu bisnis peralatan dan mesin pendingin, CV. Kotajaya. Perusahaan yang terletak di kawasan Buncit, Jakarta Selatan, tumbuh menjadi pemasok pendingin di hotel- hotel, restoran, kafe- kafe, bahkan rumah sakit dan pabrik. Seiring tumbuhnya teknologi informasi, dirinya bersama seorang kawan mendirikan majalah Pasar Ponsel. "Dulu kalau untung, saya lebih memilih untuk memutarnya. Kini saya lebih memilih investasi ke bidang yang lain seperti properti."

Pada 1994, Hasyim mencoba bisnis properti yaitu membeli tanah kemudian membangun perumahan Pesona Agung sejumlah 23 unit rumah di daerah Lenteng Agung, diatas selua 2Ha. Kemudian berkembang dengan membangun gedung bertingkat dan ruko di sepanjang Warung Buncit. Kawasan bisnisnya termasuk yang strategis. Dia kemudian membangun perumahan, ada 22 rumah di sekitar Bintaro, kemudian perumahaan Pesona Eksklusif.

Melalui bisnis ini Hisyam bisa membangun kembali total 35 rumah di kawasan pinggiran Jakarta, seperti di daerah Ciputat, Supratman, Pondok Rangon dan Jati Makmur, dimana bergabung dengan perusahaan Fim Jasa Ekatama.

Artikel Terbaru Kami