Jumat, 17 Januari 2014

Mengolah Bumbu Masak Menjadi Usaha

Profil Pengusaha Sukses: Deden Arfianto 



Modal bisnis Deden hanyalah hobing makan. Berkat itu pula ia mampu membedakan bumbu- bumbu seperti apa yang cocok. Nama lengkapnya Deden Arfianto memulai bisnisnya cuma hal sepele seperti bumbu dapur. Tahun 1999, ia bermodal kurang dari 50 juta, dan nekat mencoba ide bisnisnya. Saat itu Deden menciptakan bermacam- macam bumbu cepat saji. Awalannya ia cuma menciptakan aneka tepung bumbu, targetnya yaitu kesenangan masyarakat atas makanan serba digoreng.

Hasilnya, prediksinya tidak lah salah, dalam 3 tahun  saja bisnisnya berkembang sangatlah pesat. Berbisnis memang seperti sudah mendarah daging dalam dirinya. Sewaktu kuliah dulu di Perbanas, Deden juga punya sambilan seperti jualan motor, jualan mobil, dan calo tanah. "Double job-lah," celetuknya. Namun, menurut Deden, usaha broker kurang punya prospek yang bagus. Ia berpikir, sebagai pedagang harus punya tempat jualan.

"Maka, saya lalu membikin minimarket," katanya. Minimarket itu lantas diberinya nama Mitra Kencana yang mana terletak di kawasan Kelapa gading. Sementara ada mini market, pria tiga puluh delapan tahun ini juga masuk menjadi pagawai bank; berbisnis sambil bekerja istilahnya.

Bisnis UKM


Diawali munculnya tepung bumbu Kobe puluhan tahun lalu. Kini beragam merek tepung bumbu terpajang apik di etalase mini market, bahkan toko kelontong biasa. Kebanyakan memang merupakan tepung bumbu buatan pabrikan. Namun, siapa sangka Deden berhasil menembus ketatnya pasar tepung bumbu. Ia dulu memulai bisnisnya pada level UKM hingga bisa berhasil sejajar. Mitra Qu, singkatan Mitra Quality sudah biasa dijumpai di Carrefour, Makro, Superindo, Indomaret, dan Hero.

Tahun 1999, ia memulai bisnis tepung bumbu masih di level kelas UKM. " Modal saya enggak lebih dari Rp 50 juta," tuturnya. Dia bahkan tak sanggup membeli  mixer penggiling berukuran besar. Tak lantas menyerah, ia nekat meminjam gilingan milik orang lain. "Saya menumpang giling di tempat orang," kenangnya. Produk pertama dibuatnya bernama Divaboga. Penjualan produk Diva dilakukan melalui sistem orang terdekat dahulu.

Deden menjajaki konsumen terdekat seperti kerabat dan teman- temannya. Setelah memperoleh respon cukup positif dari mereka, barulah produk miliknya mulai dipasarkan. Ia pun mempromosikan produknya pada masyarakat luas melalu ibu – ibu rumah tangga. Tak jarang Deden ikut mempromosikan produk melalui demo. Bersama tiga orang sales dan dia sendiri mencoba peruntungan pertama di bisnis bumbu masak ini. Hasilnya lumayan, penjualan produk bisa mencapai 70 sampai 100 kg. Ia kemudian makin rajin mendatangi beberapa arisan atau pengajian pemilik katering

"Ternyata ada banyak sekali perkumpulan pemilik katering dan restoran. Ada kumpulan orang padang, orang solo," tuturnya. Tanpa segan, Deden mempromosikan tepung bumbunya satu per- satu.

Mereka mendapatkan setidaknya 10 pelanggan dari sana. Produksi pertama UKM -nya cuma bisa sekitar 1 ton sebulan. Tepung bumbu ini dikemas dalam bentuk curah dan dibungkus plastik dari 1 kg sampai 12,5 kg. "Saat itu saya masih belum memakai merek," kenangnya. Kemasan plastik itu kemudian ditempeli stiker sederhana bertuliskan "Diva", merupakan singkatan dari Diva Mitra Bogatama, nama perusahaannya kelak. Bisnis bumbunya berkembang pesat bahkan kini telah memasuki pasar industri.

Ia mulai menjadi pemasok beberapa perusahaan besar seperti nugget dan sosis. Deden mulai merekrut banyak orang profesional mengisi pos- pos penting. "Saya sendiri di bagian produksi untuk mengawasi peracikan," katanya. Pengalaman bisnis terbesar mungkin ialah ketika berhasil memasok bumbu ke waralaba McDonald. Waralaba asal Amerika ini tentu akan memilih produk terbaik miliknya. Mereka tak usah repot- repot membeli dari negeri asalnya.

Bisnis besar


Permintaan level industri membuatnya harus berani membeli dua mesin penggiling sekaligus. Dia berujar tak mau setengah- setengah. Dengan masin baru berkapasitas 200 ton sebulan, Deden siap menjadi pengusaha sekala besar. Ia bahkan telah menciptakan 30 bumbu berbeda. Hal itu dilakukan semata karena dorongan mencari- cari pelanggan baru. "Ternyata saya salah langkah, karena banyak jenis tepung yang tidak ada lagi permintaannya," ujar Deden.

Belakangan ia mulai mengurangi variasinya menjadi enam bumbu agar menjaga kualitas. Berdiri di Jakarta, diakhir tahun 1999 silam, PT. Diva Mitra Bogatama adalah perusahaan bergerak di bidang manufacturing makanan olahan. Inilah titik tertinggi bisnis seorang Deden, pria lulusan D3 Akuntasi di Perbanas tahun 1986. Melongok bisnisnya sekarang, kita tidak terkejut ketika tau bagaimana masa lalunya. Deden bekerja menjadi pegawai bank tujuh tahun lalu.

Ia bekerja di bagian kredit, membuatnya terus menumbuhkan ide- ide bisnis.

"Mereka harus menjajaki siapa saja konsumennya. Mulai dari teman-teman sendiri sampai orang lain," ucap Deden, menjadi senjata utama pemasaran bisnisnya sekarang.

Selain ke industri, Deden juga berhasil memasok restoran besar dan hypermarket. Produk MitraQu menjadi salah satu andalan bisnisnya. MitraQu, ingkatan dari Mitra Quality biasa dijumpai di berbagai hypermart seperti Carrefour, Makro, Superindo, Indomaret, dan Hero. Selain memasok ke pasar modern, Deden juga mengirimkan tepungnya ke perusahaan pembuat nugget dan restoran cepat saji. Produk- produk Mitra Qu mulai dijualnya pula di luar negeri.

"Sekarang ke New Zealand," kata Deden lanjut, terlihat di matanya masih bernafsu menjajaki pasar ekspor di negara lain. Untuk bisa memasok pasar ritel sendiri, perusahaan Deden bisa menghabiskan hingga 50-60 ton tepung sebagai bahan baku setiap bulan.

Saat musim liburan sekolah dan Lebaran kebutuhan tepung itu naik dua kali lipat. Jika satu kilogram tepung bumbu dijual dengan harga eceran Rp 12.000, bisa dihitung berapa omzet Deden dalam sebulan. Seluruh bahan baku itu lantas dipakai membuat enam jenis tepung bumbu, yakni tepung bumbu biasa, marinasi untuk membuat rasa gurih merasuk sampai ke daging, tepung tempura, tepung tabur, dan seasoning. Semuanya bermerek Mitra Qu.

"Yang dijual di supermarket hanya tepung bumbu," kata Deden.

Kemudian adapula jenis marinasi khusus dijual kepada pedagang ayam potong, dan seasoning dijual kepada pengusaha makanan. Perkembangan bisnisnya begitu pasat, ia berancang- ancang memulai bisnis lainnya. Deden menyebut bisnis bumbu cepat saji sangat ketat. "Persaingan di tepung bumbu sangat ketat. Saya harus mengembangkan bisnis lain, tapi yang ada sekarang tetap dipertahankan," katanya. ia berencana membangun sebuah bisnis dibidang minuman berenergi atau teh dalam saset.

Artikel Terbaru Kami