Rabu, 01 Januari 2014

Lab Pramita Bisnis Panjang Penuh Dedikasi

Biografi Pengusaha Sarno Eryanto



Ketika Sarno Eryanto duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, tepatnya, di pertengahan tahun 1970- an, dimana kondisi keuangan keluarganya serba terbatas, ia rela menjalankan berbagai jenis pekerjaan sekaligus. Sejak kecil, hari- harinya dilalui dengan bekerja keras dan keprihatinan. Sejak SMA, dia sudah terbiasa hidup mandiri sendiri; bersekolah, siang bekerja serabutan, kemudian menjual minuman ringan, koran, hingga obat- obatan.

Dia juga pernah berjualan obat- obatan ekspor yang didatangkan dari pelabuhan Tanjung Perak. Kehidupan di tanah perantauan yang keras membuatnya harus pintar- pintar mengadu nasib. Pria kelahiran Brebes tahun 1959, tak sekalipun berpikir dirinya akan menjadi pengusaha sukses. Dia selalu berganti- ganti pekerjaan, berdalih mencari pengalaman kerja. "Dari dulu hidup saya selalu diisi oleh kegiatan kerja dan kerja. Kalau enggak begitu, saya tidak bisa makan dan sekolah," jelasnya.

Kedua orang tuanya yang buta huruf dan cuma lulusan SD membuatnya getol melanjutkan bersekolah.

Bisnis obat


Dia pernah bekerja menjual jamu temulawak dititipkan dari warung- ke warung. Setelah berjualan jamu, dia beralih berjualan obat- obatan di jalanan. Pekerjaan tersebut diakuinya kurang menguntungkan karena jika hujan turun dan harus berjualan hingga larut malam. "Lakunya gak seberapa. Akhirnya saya berpikir untuk ganti profesi," katanya ketika ia ditemui di Laboratorium Pramita cabang Jemur Andayani, Surabaya. Ingin berganti suasana, dia akhirnya memilih melamar pekerjaan, sudah bosan berbisnis.

Sarno kemudian melamar pekerjaan di Apotek Bangun Harjo seberang kantor perusahaan air. Berawal dari rasa penasarannya ketika melihat apotik tersebut. Ketika itu turun hujan dirinya melihat sang pemilik turun dari mobil Mercy; dia langsung meminta pekerjaan."Nah, saya diterima jadi cleaning service. Bersihkan WC, ngepel, macem- macem," tuturnya.

Pekerjaan tersebut dilakoni setelah pulang sekolah hingga pukul 21.00. Dia banyak belajar disana, didukung oleh relasi dengan para asisten apoteker. Karajinannya membuahkan karirnya cepat naik hingga akhirnya ia bisa diangkat menjadi resepsionis. Setelah jadi resepsionis, Sarno dipindahkan mengurusi bagian gudang. Dia juga ikut membantu bagian administrasi. Dia akhirnya menjadi bagian kepala administrasi.

"Mulai noto resep, ngeplong- ngeplong, sampai berbagai jenis obat saya hafal. Injeksi, drop, sirup, hafal semua. Tulisan dokter yang jelek sekali pun saya bisa baca,'' kenangnya.

Beberapa tahun bekerja di apotek membuatnya mudah berkenalan banyak orang. Sifatnya supel- mudah bergaul, ditambah otaknya cerdas, itu membuatnya mudah berbaur dimanapun. Dia kenal sejumlah dokter yang kemudian menyarankan dirinya berkuliah di analisis medis di Universitas Airlangga, Surabaya. Selepas SMA, dia sebenarnya diminta sang ayah masuk Akabri, namun tak bisa karena kerempeng. Untunglah, ada jalan untuk masuk ke Unair, mengambil diploma analisis medis.

Dia bahkan pernah berkuliah sarjana mengambil jurusan hukum terutama tentang malpraktik. Setamat kuliah medis di Unair, dia lalu bekerja di lab milik dosennya, Lab Majapahit dan Lab Pemuda. Cukup lama bekerja di sana, ia ditawari seorang teman dokternya menggunakan alat- alat lab tidak digunakan. Sarno lantas tidak menyiakan kesempatan itu. Ia kemudian mengumpulkan 7 orang teman, masing- masing menyetor Rp.500 ribu sebagai komitmen saham.

Kemudian bersama mereka bersama membuka bisnis bernama Lab Klinika tahun 1985.

Bisnis belajar


Melalui relasi kuat disaat bekerja di apotek dulu, dia jadi sering berkomunikasi dengan beberapa dosen di Universitas Airlangga. Dia berkomunikasi secara intens dengan dosen kesehatan dan obat. Sarno disarankan berkuliah di studi analisis medis, namun terbentur biaya. Saat itu pula ia mencoba meminta hutang ke koprasi tempatnya bekerja, namun ditolak. Ia sadar direktur mulai berulah, dan keuangan kantor mulai memburuk; dia pun nekat berhenti dari tempatnya bekerja.

Bermodal 8 juta, ia dan rekannya yang juga ahli medis dan retailer berbisnis laboratorium di Dharmahudasa, Surabaya. Mereka mencoba menawarkan layanan cek-up langsung, mula- mula hanya berupa cek darah dan urin. Sarno kemudian diangkat menjadi direktur Lab Klinika. Sukses berbisnis, mereka berhasil membagi untung Rp.500 ribuan ke tiap pemegang saham. Dua tahun berlalu, usahanya semakin ramai hingga terjadi ricuh di antara pemegang saham. Mereka tergiur menduduki jabatan direktur.

Malang tiak bisa dihindari, salah saorang pemegang saham yang sukses menjadi direktur utama, justru dirinya melakukan tindak korupsi. Kondisi lab nya menjadi amburadul. Selepas itu Sarno memutuskan hengkang dari perusahaan miliknya. Dia pun memutuskan fokus kuliah saja di Unair guna memperdalam ilmu agama saja. Sejalan waktu, ia ditawari oleh Kyai Sulton, suami sahabatnya, mengajak berbisnis lab lagi. Mereka lantas membuka lab bernama Lab Citra di daerah Malang pada tahun 1987.

Malang dipilihnya agar tidak terlihat akan menyaingi Lab Klinika. Dia akhirnya berhasil membesarkan Lab Citra di Malang. Lagi- lagi dia diangkat menjadi direktur kemudian merubah nama bisnisnya menjadi Lab Sima. Dalam tempo setahun saja, bisnisnya sukses mengahasilkan untung. Berita itu ternyata sampai ditelinga para pemegang saham Lab Klinika. Mereka yang tau hal itu mengambil tindakan dengan tidak memberikan untung dari nilai sahamnya.

Sebagai catatan namanya masih tertulis karena memang saham belum pernah dijualnya. Sarno terkejut atas tindakan mereka lantas membuka lab lain tepat di daerah tersebut di Dharmahudasa, Surabaya. Lab tersebut dibuat seolah menantang mantan- mantan patnernya. Tahun 1987, bisnis barunya resmi dibuka di Surabaya, yang bernama Pramita Lab. Modal awal bisnisnya Rp.7,5 juta, dimana Rp.4 juta uang muka sewa gedung dan Rp.3 juta untuk membeli perlengkapan.

Dengan relasi sangat kuat, ia tidak sulit mencari pinjaman modal lalu membeli perlengkapan mahal. Paramita Lab langsung memiliki sistem komputer dimana hasilnya akan lebih cepat keluar. Gebrakan lain Sarno juga menawarkan layanan satu atap yakni layanan tes USG, rekam otak, treadmill, dan ECG. Pramita Lab memastikan tidak ada penipuan atau rekayasa hasil pemeriksaan. Mereka tidak menerima pemalsuan hasil lab guna melamar pegawai atau memalsukan data pengurusan asuransi.

Kenyamanan juga menjadi urutan teratas. Paramita Lab memiliki ruang luas, rapi, bersih, dan nyaman seperti butik eklusip. Mereka juga memiliki interior mewah dan bergaya. Sarno sendiri mengklaim tarif lab -nya Paramita sangat kompetitif dengan bisnis sejenis. Lab -nya menawarkan harga Rp.25 ribu untuk melakukan tes kehamilan, tes darah sekitar Rp.12 ribu sampai jutaan, dan tes kanker hanya Rp.250 ribu- 1,5 juta. Soal harga tersebut disebutnya tidaklah terlalu mahal sebut salah seorang pengunjung.

Selain pelayanan, gebrakan lain yaitu gaji tinggi hingga naik 50% dari gaji biasanya. Tak ayal banyak analis medis berniat pindah. Hasilnya pesaing bisnisnya harus ikut menaikan gaji, bukan sebaliknya, jikalau tidak bisa kehilangan lebih banyak pekerja medis!

Artikel Terbaru Kami