Rabu, 01 Januari 2014

Kopi Gayo Melawan Perusahaan Belanda

Profil Pengusaha Sadarsah Gayo



Adalah pengusaha kopi asli Indonesia kelahiran 19 November 1974, telah dikenal akan ketekunannya dalam memperkenalkan kopi khas Aceh ke seluruh dunia. Kopi Gayo berasal dari dataran tinggi gayo, dimana rasa kopinya terasa begitu khas. Sadarsah sebelumnya pernah bekerja menjadi tenaga pemasaran eksportir kopi. Kemudian ia belajar medirikan perusahaan kopi miliknya sendiri. Dia dulu mendistribusikan kopi tersebut ke lima perusahaan di wilayah Sumut.

Tahun 2006, ia pernah menjadi marketing perusahaan untuk penjualan luar negeri. Dia menekuni pekerjaanya bertahun- tahun. Titik balik muncul ketika ada momen resesi kopi dunia, ketika banyak perkebunan jatuh dan cuma menyuplai 50% kebutuhan dunia. Sadarsah memutuskan keluar lalu membangun perusahaannya sendiri. Dia mengambil pasar internasional dimana masih kekurangan suplai.

"Ketika itu, Haji Abu Bakar memberi modal kepada saya untuk dikelola. Dia juga menyiapkan gudang dan sebagainya," ungkapnya.

Bisnis ekspor


Ia telah dekat berbisnis kopi semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pada 2006, ia resmi mendirikan perusahaan sendiri bernama Arvis Sananda di Medan. Dengan bantuan modal teman, usahanya baru dibilang sederhana kala itu. Perusahaan hanya mampu mengirim satu kontainer ke luar negeri saat itu. Lantaran masa resesi dimana kebutuhan kopi labih tinggi, dia percaya diri produknya akan diterima pasar luar, bertaruh bermodal tekat.

"Masa itu, langsung banyak permintaan kopi kepada kita. Rata- rata, penikmat kopi dari luar negeri menginginkan organik," ujar putra pasangan Mude dan Ratih ini.

Dia sadar akan peluang bisnis kopi. Untuk itulah ia membutuhkan sertifikat pendirian koperasi. Gunanya sertifikat adalah menaungi para pemilik kebun. Sadarsah resmi mendirikan KSU Arinagata. Di 2006 saja, anggota koperasi mencapai anggota 355 orang dan naik mencapai 2.600 orang, dengan luas tanah mencapai 2.700 hektar meliputi wilayah Aceh Tenggara dan Bener Meriah. Produk buatannya meliputi dua merek kopi siap ekspor, yaitu kopi gayo dan kopi biasa.

Kopi gayo siap ekspor bernama  Sumatera Arabica Gayo dan kopi biasanya bermerek Sumatera Arabica Mandailing. Sayangnya pembeli asal luar negeri ternyata meminta hal lain. Mereka menginginkan adanya lisensi ketururutan barang, menejemen koperasi, dan berdagang secara adil atau Fair Trade dari Jerman. Perdagangan adil berarti siap mengatur mata rantai jelas dan tegas dari anggota koperasi ke koperasi, lalu ke CV. Arnis Sananda, dan dari CV. Arni Sananda ke pembeli luar negeri.

Mengusung selogan yaitu "Quality, Trust, dan Excellence" membuat bisnisnya meluncur seperti roket. Ditambah lisensi Fair Trade, penikmat kopi akan tau asal kopi telah diminumnya saat itu. Sebaliknya, petani binaan akan mendapatkan langsung keuntungan. Sebab, 1 kg kopi yang dinikmati oleh peminum kopi di luar negeri, Rp.1.800/kg dari harga kopi harus dikembalikan ke petani kopi. Bahkan, uang yang diberikan ke para petani kopi organik tembus Rp.2 miliar.

Soal keuntungan lain, buat para petaninya selain uang petani binaan, CV. Arnis Sananda juga memberikan berbagai bantuan berupa sembako, pendirian tempat kursus, sarana air bersih, hingga toserba. Ini menjadi bukti penghargaan lebih kepada anggotanya jika mengikuti sarat luar negeri. Di tahun 2006, tercatat sudah omzet bisnisnya telah mencapai Rp.1,5 miliar per- bulan. Omzetnya naik menjadi Rp.3 miliar per- bulan di 2008, bahkan naik lagi mencapai Rp.7,5 miliar dengan ekspor mencapai 14 kontainer.

Jika di 2006, perusahaan hanya mampu mempekerjakan 15 karyawan, saat in karyawan telah mencapai 100 orang.

"Sejak 2006 sampai 2010 harga kopi antara Rp.30.000 hingga Rp.35.000 per kilo," ucapnya.

CV. Arvis Sanada telah mengekspor kopi ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Negara tujuan ekspornya meliputi Taiwan, Korea, Australia, Jepang, dan Laos. Pada 2006, omzetnya telah mencapai angka Rp.600 juta per- bulan mampu mengekspor 1 kontainer dan harga kopi Rp30.000/kg. Tahun 2007, omzet bisnisnya mencapai Rp1,5 miliar per bulan dan mengekspor 3 kontainer ketika harga kopi Rp30.000/kg. Pada 2008, omzetnya Rp3 miliar per bulan lalu mengekspor 5 kontainer dan harga kopi Rp32.500/kg.

Kopi Gayo dituntut


Keyakinan akan bisnis bisa tumbuh pesat karena memiliki potensi sangat besar, baik dari luar negeri ataupun dalam negeri. Ia melihat bagaimana banyaknya perkebunan kopi di kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Daerah tersebut diyakininya masih mampu mengisi kebutuhan kopi dunia. Ketiganya memiliki 94.800 hektar kebun, dan berada di ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut. Akan tetapi, Sadarsah harus menemui cobaan ketika bisnisnya lancar jaya merajai pasar dunia.

Merek Gayo mendapatkan surat keberatan oleh perusahaan asal Belanda, Holland Coffee, pada 2008 silam. Mereka mengaku telah memiliki sertifikat paten atas nama "Gayo" di produk miliknya. Perusahaan tersebut bahkan secara terang- terangan menyebut Sadarsah telah menjiplak mereknya. Perlu diketahui bahwa merek kopi Gayo buatannya telah terjual laris di negeri Belanda. Tak merasa salah, ia tetap menjual produknya ke negara Belanda.

Itu membuat perusahaan Holland Coffee kebakaran jenggot kerena ulah berani pria Gayo ini. Perusahaan Holland Coffee melunak menawarkan produknya agar mengganti nama. Mereka menyarankan menggunakan kata Mandailing, namu ditolak kembali mentah- mentah. Sadarsah menganggap kopi mewakili juga dimana asalnya, misalnya kopi Gayo berasal dari tanah Gayo sedangkan nama Mandailing ada wilayahnya tersendiri. Namun Sadarsah tetap ngotot mempertahankan merek Gayo tersebut.

Meski beberapa orang datang memaksanya mundur. Kemudian perusahaan Belanda tersebut mendakwanya melanggar aturan penjualan di Belanda. Karena, merek Gayo sudah ada lebih dulu, itu sudah atas nama perusahaan Holland Coffee. Dia tetap bersikeras bahkan mengirim empat kontainer ke sana. Satu kontainer mampu mengangkut 18.000 kg atau 18 ton kopi.

"Saya lebih berhak memakai nama Gayo ketimbang orang Belanda itu," tegasnya.

Adanya klaim tersebut mendustai petani Aceh serta bisa membuat kopi jadi rendah harganya. Menurutnya kata Gayo sendiri adalah identitas bukan sekedar menjadi merek dagang. Untuk memberikan perlawanan balik keras, ia pun segera mengajukan sertifikat asal- usul kopi. Baru Mei 2010 dia berhasil mengantongi sertifikat IG (indikasi geogafis) resmi International Fair Trade Organization (IFTO). Dia juga mengikutkan produknya di ajang internasional seperti Lelang Spesial Kopi Indonesia di Bali.

"Kopi Sumatera Arabika Gayo mendapatkan nilai tertinggi saat cupping score," ujuranya penuh semangat. Ini telah menempatkan produknya menjadi kopi organik terbaik di dunia.

Artikel Terbaru Kami