Minggu, 12 Januari 2014

Keripik Singkong Resep Rahasia Sukses

Profil Pengusaha Sukses: Aceng Kodir



Produk singkong atau ubi kayu memang dikenal menjadi salah satu alternatif sumber karbonhidrat harian. Tapi, olahannya, biasanya cuma dijadikan sekedar hidangan cemila dikala bersantai atau ketika berkumpul teman ataupun keluarga. Aceng Kodir, warga Gang Pancatengah I, Batujajar Kebupaten Bandung Barat, melihah ini sebagai potensi bisnis. Dia mengolah bahan baku singkong menjadi keripik, namun jangan salah, produknya lain daripada yang lain karena punya rahasia.

Ia menganggap ini jalan hidupnya menjadi seorang pengusaha. Sebuah cemilan olahan singkong kemudian diberinya nama Singkong Crispy atau Singkong Konghui. Pria 42 tahun itu nyatanya mampu meraup omzet dari menjual keduanya tak kurang dari Rp.3 juta per- hari. Fokus bisnisnya tidak hanya tentang dirinya pribadi namun tentang petani singkong di kampungnya. Berangkat dari rasa peduli, Aceng melihat bagaimana singkong dari petani dihargai Rp.400 per- kilogram.

Melalui tangannya mencoba merubah paradikma itu.

"Saya berpikir bagaimana agar petani singkong tidak terpuruk, dan yang paling penting adalah agar mereka tetap semangat menanam singkong karena singkongnya terjual dengan harga wajar,” ujar Aceng.

Membuka bisnis


Aceng mulai berinovasi bagaimana merubah singkong menjadi cemilan super. Ia membali beberapa kilogram bahan singkong, minyak goreng, dan bahan- bahan lainnya. Jika ditotal ia cuma mengeluarkan modal bisnis 200 ribu rupiah awalnya. Dengan cekatan dirubahnya singkong kemudian diiris tipis- tipis menjadi berasa crispy. Hasilnya tidak langsung dijual, ia memberikan produknya dicoba oleh tetangga. Mereka benar- benar menyukai keripik produksinya.

"Setelah digiling halus, bahan diuleni dan dipress sampai benar-benar tipis. Setelah itu dipotong berbentuk segi empat persegi panjang, dan terakhir digoreng," katanya, di sebuah acara UKM di Kampus Unpad Jalan Dipati Ukur

Tak puas dia lantas mengunjungi beberapa pejabat lokal seperti lurah, camat, hingga bupati pernah mencicipi produknya. Sekali lagi produknya mendapatkan pujian oleh mereka. Aceng pun optimis untuk menjualnya ke pasaran. Sesudah persiapan selesai, ia menemukan ide keripik Konghui yaitu perpaduan singkong dan ubi. Ini memberikan variasi rasa gurih dan manis terutama dari si ubi ungu. Ternyata kedua produknya secara baik bisa diterima oleh masyarakat.

Dengan harga Rp.19.000 untuk produk crispy singkong dan harga Rp.20.000 untuk produk Konghui. Aceng telah mampu maraup omzet kini mencapai Rp.90 juta per- bulan, atau dia mampu menjual 150 bungkus per- harinya. Bahkan produknya dibeli oleh para wisatawan asing sebagai oleh- oleh khas daerahnya. Dalam sehari, Aceng bisa membuat 250 bungkus crispy singkong dan crispy konghui. Dia menjualnya berkisar Rp 12.500 per bungkus.

Jika dijual melalui reseller, atau jika dihitung omzetnya akan Rp 3 juta per- hari. Untuk peralatan produksi, Aceng mengaku tidak kesulitan karena memang cara pembuatanya sangatlah mudah. Demikian pula bahan baku ataupun tenaga perajin. Perkebunan singkong terhampar luas di daerahnya menjadi sumber bahan baku. Aceng membeli singkong dari petani Rp 1.000 per kilogram atau lebih mahal Rp.600 dari harga biasa. Sementara sejumlah tetangga menjadi pekerja pembuatan crispy singkong dan konghui buatannya.

Mereka bekerja di rumahnya yang disulap menjadi pabrik kecil- kecila bernama Rumah Crispy. Agar para konsumen tidak bosan, produknya tersedia dengan beragam rasa yaitu crispy singkong dan crispy konghui. Selain rasa original, ada barbeque, balado, keju, barbeque pedas, pedas, dan pizza. Sementara produk crispy konghui ada dua original dan pedas. Kedua kudapan itu dikemas di dalam bungkus plastik transparan dengan berat bersih 250 gram untuk masing- masing.

Kudapan itu kemudian dijajakan di toko oleh- oleh Kartikasari dan minimarket Circle K.

Twitter: @yummycrispy

Artikel Terbaru Kami