Sabtu, 04 Januari 2014

Donat Madu Cihanjuang Waralaba Berkat Inovasi

Profil Pengusaha Fanina Nisfulaily


  
Ridwan Iskandar bersama istrinya, Fanina Nisfulaily, memulai bisnis donat madu sejak Mei 2010. Pertama kali, keduanya cuma membuka sebuah gerai bersama di jalan Cihanjuang Nomor 158 A Cimahi, Jawa Barat. Ide awalnya yaitu mengembangkan bisnis kuliner berbeda. Mereka ingin menciptakan produk premium namun memiliki harga terjangkau. Inovasinya dengan menambah unsur lain di adonan donat biasa yaitu madu.

"Butuh waktu satu tahun bagi saya meracik donat dengan campuran madu itu," ucap Ridwan.


Ia mengaku membutuhkan waktu lama. Bukan madu biasa, sepasang pebisnis ini memilih madu bermutu yaitu madu Sumbawa. Setelah yakin akan donatnya mereka baru mengeluarkan produknya di pasaran. Merek donat meraka berasal dari nama jalan dimana kiosnya pernah dibuka. Walaupun terbilang masih baru, donat Cihanjuang mampu sukses di lidah masyarakat.

Hingga kini, produk donatnya baru tersedia berbagai rasa yaitu almond, durian, pisang, abon, choco crispy, lemon dan lainnya. Setahun sudah beroperasi, ia telah memilih sistem kemitraan agar bisnisnya lancar. Mitra pertama mereka berada di kawasan Depok, Bogor dan Cinere. Tepat sejak bulan Juli 2011, Ridwan mengembangkan sistem kemitraan atau waralaba. Kamu cukup merogoh kocek Rp.10.000.000 untuk menjadi terwaralaba, lalu bisa membuka kios di wilayah sendiri.

Nilai investasinya nanti meliputi penggunaan merek, pelatihan karyawan, serta biaya promosi. Setelah beroperasi sang terwaralaba musti membayar senilai 9% dari omzet per- bulan. Ia menambahkan bahwa soal peralatan seperti pembut adonan, interior gerai, etalase donat dan juga tempat usaha terwaralaba yang menanggung. Soal bahan baku lain hal, ia menjamin pusatnya menyediakan semua kebutuhan bahan.

"Peralatan dan tempat sepenuhnya dari investor," jelasnya.

Ridwan sendiri memiliki empat gerai yang bisa kamu kunjungi yaitu Situ Gintung, Lenteng Agung, Cireundeu, dan Tanjung Barat. Agar kualitas rasa terjamin tak jarang dirinya sendiri mengecek ke gerai- gerai tersebut. Ia memastikan satu per- satu gerai utama miliknya.

Bisnis bulat


"Kami mengontrol mulai dari kebersihan dan juga pelayanan di masing- masing gerai," katanya yang juga merekrut dua karyawan khusus. Modal produksi satu waralaba berkisar Rp.7.500.000 per- bulan. Dan, dia meyakinkan melalui simulasi bahwa modal balik sekitar 4- 5 tahun. Terwaralaba akan menjual donat sekitar 300 potong dengan omzet Rp.900.000 atau setara Rp.27 juta per- bulan, satu donat dijual Rp.3000.
 
Fanina pada sebuah kesempatan bersama Bakery Magazine. Dia bercerita bahwa produknya premium tapi berharhga miring. Itu sengaja memang dipilihnya dan terbukti waralaba Donat Madu Cihanjuang bisa saja kita sandingkan dengan Dunkin Donut. Memang waralaba donat sudah banyak tapi Donat Madu Cihanjuang bisa melekat di hati. Alasan lain, kenapa berbisnis donat, Fanina bercerita pengalamannya menikmati satu brand donat.

Ia merasa dia mampu menjual sama tapi lebih murah. Ini dibuktikan dengan usahanya tak jera meracik- racik resepnya sendiri. "Ketika mencoba donat produksi sebuah brand, saya berpikir bahwa donat seperti itu bisa sebenarnya bisa dijual dengan harga yang terjangkau," kenangnya. Setelah satu tahun beroprasi barulah ia berani menyuguhkan konsep kerja sama waralaba. Soal mitra waralaba ia menjelaskan sudah ada 127 gerai, wow!

Apa yang membuatnya jadi favorit masyarakat adalah adanya varian- varian unik yakni donat abon, donat oreo, choco flake. Untuk menunjang varian rasa ia pun tak tinggal diam berkreasi. Bahkan dia berani agar staff -nya ikut andil dalam tumbuhnya donat madu Cihanjuang. Total ada 100 buah varian rasa donat yang berbeda. Alasan kanapa kamu harus melirik bisnis donat, "Donat adalah jenis makanan yang bisa dinikmati kapan saja," ujar Fanina Nisfulaily, pemilih Donat Madu Cihanjuang, yang jadi primadona kami.

Artikel Terbaru Kami