Selasa, 21 Januari 2014

Desain Kaos Distro Berbuah Miliaran Rupiah

Biografi Pengusaha Ryo Baskoro



Nama panjanganya Kusdarmawan Ryo Baskoro masih berusia 28 tahun, tapi sudah menjadi pengusaha muda sukses. Pria asli Solo ini sudah memulai perjalanan bisnisnya sejak sekolah dasar. Tepatnya di kelas 3 SD, Ryo kecil sudah ikut membantu orang tuanya jualan gorengan dan kacang ke sekolah. Lumayan katanya bisa menabung dari uang yang diberikan ibunya.

Berjualan gorengan terus dilakoninya sampai masuk sekolah menengah pertama. Di SMA, dia yang berbakat seni sudah bisa membuat desain sendiri. Bakatnya dituangkan lewat seni desain dan sablon di kain sarung pantai. Ryo mulai merintis bisnis distro kecil- kecilan semenjak kuliah. Awalnya sih cuma iseng- iseng saja namun berubah menjadi bisnis menjanjikan. Ketika masuk kuliah di 2008, dia membanguka usaha patungan bersama teman.

Mereka memasarkan berbagai produk fasion bermerek Ankles. Targetnya kala itu adalah mereka komunitas skateboard.


Sayang, usaha bersama diatas akhirnya malah bubar jalan. Ryo tak mau lantas berhenti; ia masih bisa melihat ada prospek di bisnis tersebut. Iseng- iseng dia mulai lagi mendesain kembali sebuah t-shirt. Tak disangka, banyak yang meminati desainnya itu. Permintaan pun terus berdatangan darinya. Pada tahun 2006 Rown resmi lahir bermodal awal Rp 30 juta rupiah.

Pria kelahiran 9 November 1984, menjelaskan nama Rown berarti Aryo Own. Di tempat kelahirannya di Solo, bisnis distro miliknya tak kalah dari pengusaha muda asli Bandung. Awalnya bisnis tersebut hanya dibantu tiga karyawan. Dia membuka sebuah gerai seluas 3 meter x 10 meter. Lambat laun, dari semula hanya memproduksi puluhan kaos, bisnisnya harus melayani ratusan hingga ribuan potong. Pada 2008, Ryo mulai mengembangkan bisnisnya.

Ia kemudian mendapat pinjaman dari sebuah bank.

"Saya meminjam Rp 100 juta untuk pengembangan usaha. Sekarang, aset saya sudah miliaran," ungkapnya tanpa mau menyebut detail berapa besar tepatnya.

Ryo pun menambah pegawai yaitu 3 desainer, kini, ia memiliki lima desainer utama dan total pegawai lainnya mencapai 50 orang. Toko yang semula seukuran kamar, kini sudah meluas menjadi 360 meter persegi.

"Saya sudah membuat jenjang karier bagi para karyawan. Namun, yang langsung melayani pembeli saya bayar secara harian," cerita lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret ini.

Di dalam pemasaran kala itu, ia memakai satu taktik jitu yaitu menjadi sponsor di berbagai acara anak muda; seperti pentas band. Untuk hal ini, mereknya Rown pernah menjadi sponsor Efek Rumah Kaca, acara MTV Ampuh, MTV 100%, dan juga berbagai film televisi (FTV). "Saya pantang jualan produk rejected," katanya menimpali.

Dia tak lantas puas masih banyak cita- cita ingin dicapainya. Salah satunya, ia berencana membuat merek Rown untuk produk jam tangan. Bisnis satu ini direncanakan akan dibuat semi- waralaba. Bertanya tentang apa hambatan terbesar yaitu infrastruktur. Dimana, ia mengaku sulit menjual barang keluar negeri. Mereka itu sering membuat pelanggan menunggu lebih lama. Ia tidak menyukai hal semacam itu. Bagi Ryo meluncurkan desain baru merupakan kebutuhan bisnisnya.

Ini yang mengejutkan: Rown akan selalu memiliki desain baru tiap harinya, tidak semua tentang kaos. Desain barunya akan meliputi jaket, t- shirt, sepatu, jaket, kemeja atau aneka jins. Agar tetap ekslusip, Ryo memilih membatasi satu desain untuk 30 potong item. Selain dijual di distro sendiri, ia pun menyasar distro lain untuk memasarkan produknya tersebut. Ini terbukti berhasil ketika anak muda Bandung lebih menyukai produk buatannya.

Bandung yang dianggap kiblat fasion Indonesia menghasilkan keuntungan cukup besar. Bagi produsen Rown ini cukup mengejutkan, karena seolah menantang pebisnis distro disana. Ryo sendiri berencana membuka satu cabang disana. Untuk saat ini, Rown masih memiliki dua distro utama yaitu di Solo dan Karanganyar bukan di Bandung. Selain pasar lokal, ia mengaku hasil produknya juga masuk pasar luar negeri seperti ke Singapura. Setiap produknya dibandrol dari Rp.20 ribu sampai Rp.800 ribu.

Mengusung nama Rown Divisions, selain menyasar target anak muda, ternyata juga mulai berani mengambil target lain. Bisnisnya bahkan berani mencoba masuk ke pasar anak dan dewasa. Ini dirasa cukup sulit, namun inovasi bisnis membawanya tidak hanya fokus pada kaos tapi produk lain, seperti halnya kemeja yang mencoba eksis. Dalam sebulan, distro ini mampu memproduksi 3.000 hingga 4.000 kemeja, 2.000 pasang sepatu, 3.000 potong celana jins, dan yang terbanyak adalah sekitar 25.000 potong kaus.

Setiap satu desain hanya diproduksi 30 potong. Bermodal mitra sendiri, Ryo memasarkan produk dari Aceh hingga Papua. Dua tahun terakhir, merek Rown ini bahkan sudah masuk pasar Malaysia dan Singapura. Tak lama lagi, produknya bakal dikirim ke Kanada. "Kalau soal omzet yang pasti terjual lumayan hingga ribuan pieces dengan rentang harga mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 800.000," ujar bungsu dari dua bersaudara ini. Ryo Baskoro memang sosok pengusaha muda Solo yang membanggakan.

Artikel Terbaru Kami