Kamis, 16 Januari 2014

Jus Buah Sampai Buah Ekspor Made Donny

Profil Pengusaha Buah Made Donny



Hobi Made Donny ialah berjalan- jalan ke rumah teman- temannya atau asik berkebun melon. Banyak sih teman- teman yang mengira dirinya kini sudah drop- out, karena sibuk berkebun melon di sekitar Darmaga, Bogor. Meski kedua orang tua manyiapkan hadiah sebuah rumah disaat kuliah di Institute Pertanian Bogor; dirinya tak bergeming. Dia tetap melanjutkan hobinya meski molor kuliahnya. Made sendiri punya sebuah pendekatan unik agar mampu meluluhkan dosen pembimbingnya.

Ia berhasil lulus kuliah membalik dugaan miring sebelumnya.

"Saya berhasil meluluhkan dosen- dosen saya saat saya ajak mengunjungi kebun melon saya," paparnya.

Melalui pendekatan cerdik ditambah tanpa kenal lelah, ia berhasil mengembakan bisnisnya pula. Dia yang tak kenal lelah budidaya buah- buah lokal. Dia mengaku bisnisnya baru terlihat ketika tahun 2000. Ketekunan ditambah kerja keras tersebut menghasilkan 10 outlet buah- buahan dan juga 2 outlet jus- buah dibawah nama Moena Fresh.

Bisnis putra mantan Gubernur BI, alamarhum Nyoman Moena, memang tidak mudah. Serbuan buah- buah impor membuatnya cukup kesulitan fokus ke buah lokal. Dony sendiri merintis bisnisnya bermodal Rp.4 juta, serta kebun melon yang dimulainya sejak1983. Setelah sukses, ia langsung mengambil inisiatif membuka beberapa kebun melon di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan terakhir Lampung. Selama 1983 sampai 1993, dia telah memiliki lebih dari 20 lokasi, luasannya mencapai 200 hektare, paparnya.

Dia mengklaim mampu memasok sekitar 40 persen kebutuhan melon di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Di tahun 1985, ia mulai menanam semangka tanpa biji di Banyuwangi dan Muntilan. Pada areal sekitar 100 hektare dengan bekerjasama dengan para petani, Doni memasok sekitar 20 ton hingga 25 ton per hari. Dari kebun buah- buahan, ia membuka UD Moena Fresh tahun 1990. Dia lalu membuka toko buah di Bali. Langkah selanjutnya, Made membeli beberapa kios di pasar induk Caringin, Bandung.

Sejak 1995 -an, dia mendirikan perusahaan bernama PT. Moena Putra Nusantara (MPN) yang bergerak sebagai suplier buah- buahan. Usaha bisnisnya tumbuh sangat pesat. Ia bahkan mulai memikirkan bisnisnya ke aneka ekspor buah lokal. Ada total sekitar150 karyawan tersebar di Bandung, Jakarta dan Denpasar menggantungkan diri pada usahanya. Namun, serbuan hypermart asing mulai menggerogoti pasarnya yang hanya kios- kios buah biasa. Puncaknya pada saat berlangsung krisis moneter 1997.

Di tahun 1997 itulah, Made mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Kegiatan usahanya di Bandung ia tutup agar bisa menghalau krisi moneter. Dimana sebesar 30 persen modal itu digunakan kembali untuk bagaimana mempertahankan usahanya di Jakarta. Sisanya yang 70 persen digunakan membuka toko buah- buahan di Bali secara bertahap, ujar dia. Bali dipilih karena selain untuk konsumsi, buah- buahan juga untuk keperluan upacara; langkahnya terbukti cermat.

Dengar- dengar ia cuma mengelola 12 outlet Moena Fresh, memperkerjakan sekitar 250 karyawan memiliki omset sekitar Rp 4 miliar per- bulan. Sedang bisnis suplier buah-buahan dengan bendera PT. MPN mampu memperkerjakan 70 karyawan memiliki omset sekitar Rp 750 juta per bulan. Dia berencana menambah satu toko tiap tahun. Tahun 2014, Moena Fresh akan mampu membuka lapangan perkerjaan untuk 500 orang karyawan. Obsesi lainnya yaitu membuka outlet di Australia.

Bisnis buah impor


Tak mudah berbisnis gerai buah, terutama agar bisa bersaing dengan swalayan. Made Donny menyebut ada beberapa hal perlu diketahui tentang memiliki bisnis buah. Mulai dari pemilik kios kecil hingga tentang bisnis buah impor. Partama, kita harus lebih dahulu tau sumber- sumber buah lokal atau pun buah impor. Kalau bisa kita harus bantu- bantu dulu menjadi penyalur buah dari sumber- sumber buah langsung agar dipercaya oleh sang bandar.

Kedua, kita harus belajar tentang pengetahuan mengenai sumber buah, pengirim, harga, kontinuitas pasokan, cara pembayaran, dan sifat petani. Sementara bagi buah impor, kita mesti mengunjungi para importir sendiri, dan mulai belajar tentang kekuatan si importir itu. Bisa dilihat mulai ragam buah yang diusahakan, pesaingnya, dan bonafiditasnya. "Soalnya, kalau main buah impor, ada semacam kartel. Tapi kalau bermain cantik, dijamin akan mendapat harga khusus atau barang baru," tandas Donny.

Intinya, ketiga, hubungan silaturahmi antara buah lokal dan impor berperan penting. Mungkin modalnya bisa hampir tidak ada, kita justru akan dimodali buah untuk dijual. "Kalaupun menggunakan uang tunai, paling hanya sebagai syarat. Yang penting, begitu barang dagangan habis, cepat bayar, selesai urusan," jelasnya.

Untuk menjaga silaturahmi, ia menyebut akan ada saja gerai dibukanya tiap tahun. Kita harus terus bertahan menjaga kualitas dan jika bisa menjadi pemasok swalayan. Kunci lainnya ada di karyawan dan tekun dalam bekerja. "Kita mesti sabar, jujur, tahan banting, menjaga kepercayaan, selalu bersyukur, dan jangan lupa berzakat. Mudah-mudahan usaha gerai buah yang dilakoni selalu mendapat ridha-Nya," harap Donny.

Artikel Terbaru Kami