Senin, 06 Januari 2014

Circa Handmade Boneka Buatan Tangan

Profil Pengusaha Ukke R. Kosasih



Tak disangka oleh Ukke R.Kosasih (34) bahwa boneka buatannya akan begitu disukai. Meski telah memiliki pekerjaan nyaman, wanita lulusan Universitas Indonesia ini tidak berhenti berkreasi. Dia pun menjelma menjadi pengusaha. "Dengan berpikir kreatif, tercipta peluang usaha baru yang inovatif," jelasnya. Berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia, ia memilih bisnis boneka tradisional. Ukke memperkenalkan berbagai tokoh asal daerah beserta pakaian adatnya.

Boneka miliknya memperkenalkan berbagai suku di Indonesia. Tahun 2006, ia mantap memilih mundur dari jabatannya sebagai advisor. Kisah suksesnya diawali ketika kembali ke kampung halamannya di Cihanjuang, Bandung. Disana Ukke tak sengaja bertemu Wati, putri tukang kebunnya, dan melihatnya terampil membuat boneka. Ia memang memiliki jiwa seni serta ketrampilan tangan, memiliki ide membuka workshop sendiri. Dia dibantu sang kakak, Joanita, lalu Wati yang pandai membuat boneka.

Boneka hand made


Mereka cuma bermodal 20 juta guna membangun bisnis kecil- kecilan. Ukke kemudian membeli dua mesin jahit dan merekrut dua orang pekerja. Mereka bekerja sama membangun bisnis boneka buatan tangan dari nol. Namanya, Circa Handicraft dipilih menjadi nama workshop yang digawangi oleh dirinya dan Joanita. Ia menjelaskan nama Circa memiliki arti kurun waktu yang tidak ada habisnya. Filosofinya, boneka tangan yang dihasilkan bisa diwariskan mereka kepada anak- cucunya.

Para pegawai rata- rata perempuan kurang beruntung di desa. Konsep bisnis Circa Handicraft yaitu warna- warni nusantara dimana menampilkan bentuk berbagai suku dan budaya, serta ditambah pakaian daerah asalnya. Circa Handicraft sendiri mampu mengalami perkembangan pasat karena konsepnya ekslusip khas Indonesia. Ukke juga sengaja memanfaatkan kreatifitas pegawainya, dan 100% buatan tangan. Hasil karya mereka kemudian diberi nama sesuai daerahnya.

Misalnya, sepasang boneka khas Sunda, akan diberinya nama khas, yaitu Asep&Euis, Kadir&Badria untuk Madura, Putu&Sawitri untuk boneka Bali, serta Jiun&Rodiah untuk daerah Betawi. Wanita asli kelahiran Subang, 3 Januari 1966 ini, mampu mengundang banyak perhatian masyarakat luas. Ia mampu menunjukan kreatifitas serta ketekunan tinggi. Bahakan Departemen Store di Kuta, Bali, telah menjadi pelanggan tetap bonekanya yaitu Putu&Sawitri.

Mereka bahkan berani memasan 100 pasang secara rutin seharga berkisar Rp.75.000 sampai Rp.150.000. Ukke kemudian dibantu oleh 17 pegawai yang mampu menghasilkan omzet Rp.20 juta per- bulan. Bahkan omzetnya bisa naik ketika musim liburan. Pesanannya tidak hanya datang dari dalam negeri, namun beberapa turis terpikat menjadikan cindra mata. Agar bisnisnya terus berputar dan semakin kencang, Ukke melakukan berbagai strategi pengembangan produk dengan menciptakan rangkaian seri kreasi baru.

Beberapa di antaranya seri Kiddies (lewat karakter Sunday, Megan, Wood Elf, Vivian), Country (Joan, Nina, Pipi), dan boneka kaus seri Animal (Owie Owl, Sasa Sheep, Cathy Cat, Ducky Duck). Dia bahkan berani menggunakan bahan lokal asli daerahnya. Seperti kain batik ataupun songket untuk membuat pakaian si boneka. Dia sering berkunjung ke Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Ukke mengaku melakukan penelitian terlebih dahulu agar benar- benar asli nusantara.

Workshopnya sebelumnya memiliki 4 orang pegawai, kini telah ditambah 11 orang pegawai baru. Boneka itu dikejakan dengan tangan. Mulai dari membuat pola, menjahit, mengisi dakron, memasang rambut, membuat baju, menggambar wajah (menyulam bulu mata), memasang aksesori (mata, hidung), hingga membungkus dalam plastik. Jelas, pekerjaan ini memang butuh ketekunan, kesabaran, minat tinggi dan niat tinggi belajar boneka dan berkreatifitas.

Artikel Terbaru Kami