Jumat, 24 Januari 2014

Cara Beternak Ayam Ala Waralaba

Biografi Asep Sulaiman Sabanda



Asep Sulaiman Sabanda, 29 tahun, menjadi sosok pengusaha muda asli Desa Cidahu, Subang, Jawa Barat, yang menjadi inspirasi banyak peternak. Ia bukanlah seorang kapitalis, selalu mengedepankan manfaat. Asep tak mau membangun kapitalis absolut. Baginya usaha bisnisnya tidak lagi mencari keuntungan semata. Dia mengaku ini merupakan pengalaman diri pribadi dimana jika mencari keuntungan saja; maka hal itu tak akan langgeng.

Bermula seseorang yang tak memiliki apa- apa, hanya dalam waktu lima tahun menjadi pemilik PT. Santika Duta Nusantara. Bisnisnya bahkan menembus angka miliaran rupiah sekitar Rp.60 miliar. Bisnisnya ini beragam mulai dari agrobisnis (peternakan dan pertanian), kontraktor, aneka perdagangan, serta aneka jasa. Dimana lokasi usahanya tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Atas sepak terjangnya inilah, Asep telah mengepakan sayap bisnisnya hingga Brunei Darussalam.

Ditambah pula bisnisnya dibidang kuliner waralaba ayam goreng.

"Dalam kemitraan mengandung konsep berbagi dan berkembang bersama," terang kembali pria lulusan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, ini atas apakah bisnisnya kapitalis. Atas segala usahanya inilah, pada 30 November 2006, dia dinobatkan sebagai Young Entrepreneur of The Year 2006 oleh lembaga keuangan internasional terkemuka, Ernst & Young.

Bisnis mengejutkan


Setelah drop- out kuliah, Asep memulai bisnisnya pada tahun 1998, tepat disaat krisis moneter. Mengikuti jejak sang ayah, Shobur Tadjuhin, dia mencoba menjadi peternak dan pengusaha plasma ayam pedaging di desa kelahirannya. Dia memulai dengan 10.000 bibit ayam. Dalam satu setengah bulan ayamnya telah siap jual, dan Asep untung 10 juta. Tergiur untung besar, ia tak segan- segan menambah jumlah produksi hingga 60.000 ekor. Bukannya meraih untung, Asep malah rugi besar mencapai Rp.80 juta.

Ditekan membayar hutang ditambah dengan rasa penasaran, dia menaikan produksinya hingga 80.000 ekor. Hasilnya? Ia malah merugi sampai Rp. 90 juta pada saat itu.

"Jadilah saya seorang pemuda yang berutang Rp 170 juta hanya dalam tempo enam bulan," kenangnya.

Kehidupannya kini menjadi gelap. Tak tahan ditagih debt collector, Asep kerap meninggalkan rumah. Untung ayahnya adalah orang yang bijak. Sang ayah menyelamatkan hidupnya bukan membayar semua hutangnya tapi dengan membukakan mata dan pikirannya. Bersama sang ayah yang menjaminkan utangnnya, ia mulai merestrukturisasi  hutang- hutangnya. Inilah titik balik dirinya dalam memandang sebuah bisnis.

"Kesuksesan merupakan sinergi dari keinginan, kemampuan, mental, dan kesempatan. Saya mungkin telah memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan. Tapi, mental, saya belum punya," katanya.

Pada tahun 2001, ia menerapkan konsep kemitraan dalam bisnis ayam -nya. Langkah pertamanya ya dimulai Asep aktif mengajak masyarakat awam ikut beternak ayam menjadi plasmanya. Dia ikut memberikan modal berupa bibit ayam, pakan, dan obat kepada mereka yang berminat. Para plasma akan diminta olehnya menyediakan sebuah tempat, kandang ayam, dan tenaga kerja. Ketika ayam sudah besar, sebagai inti, Asep membelinya.

Titik bisnis


Awalnya Asep menggandeng 20 orang di dalam plasmanya dengan total produksi 40.000 ekor. Ia juga ikut memelihara ayam sendiri sebanyak 60.000 ekor. Agar tak gagal, ia pun terjun langsung mengarahkan mitra bisnis plasmanya. "Kemitraan akan menjadi pola usaha yang sangat ideal jika dibungkus dengan sistem yang bagus dan loyalitas," katanya.

Tahun 2002, produksi plasmanya naik menjadi 150.000 ekor per siklus (setiap1,5 bulan). Lalu berkembang lagi menjadi 800.000 ekor setiap siklusnya. Dengan pola itu ia pun semakin percaya diri melakukan serangkaian ekspansi sendiri. Tahun 2003 -an, Asep telah mengajukan pinjaman Rp.350 juta ke sebuah bank pemerintah; tetapi ditolak mentah. Tak mau patah semangat, Asep mencoba lagi ke bank pemerintah yaitu Bank BNI. Bank BNI bahkan mau mengucurkan dana mencapai Rp. 1 miliar.

"Bank BNI tidak hanya mengeluarkan kredit, tetapi juga konsultasi manajemen," ujarnya.

Dengan dukungan finansial kuat membuat bisnisnya makin maju. Tahun 2004, kapasitas produksinya bahkan mampu mencapai 2,1 juta ekor per- siklus, dengan jumlah plasma membengkak menjadi 600 orang. Pemuda desa yang berpikiran global ini terus mencari cara agar bisnisnya semakin kuat. Kini dia tengah merintis usaha kemitraan ayam pedaging di Brunei Darussalam. Negara tetangga ini telah menjadi sasaran ekspor pakan ternaknya.

Ia tak berhenti di bisnis ayam saja. Suami dari Vina Nuryanti ini pun merambah usaha pertanian. Kini ayah tiga anak ini tengah mengambangkan pola kemitraan inti- plasma komoditas jagung di Blitar, Ponorogo, dan Kediri, Jawa Timur. Dia mencoba mengembangkan pola kemitraan untuk tanaman jati seluas 40 hektar di Subang. Asep masih memiliki segudang rencana terkait kemitraan yang akan dilakukannya tahun 2007. Salah satunya adalah mengembangkan program kemitraan petani asuh karyawan.

"Untuk mewujudkan ini, saya mewajibkan karyawan menginvestasikan bonusnya setiap tahun dengan membeli sapi. Targetnya, dalam waktu lima tahun, karyawan bisa memiliki 20 ekor sapi. Karyawan juga diminta mencari warga miskin untuk mengasuh sapi-sapi tersebut. Sebanyak 20 ekor sapi bisa diurus oleh 8-10 orang. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan masyarakat miskin," tuturnya.

Artikel Terbaru Kami