Rabu, 15 Januari 2014

Blue Bird Group Cerita Bisnis Generasi Ketiga

Biografi Pengusaha Noni Sri Aryanti



Siapa Noni Sri Aryanti Purnomo, merupakan generai ketiga Blue Bird, yang kala itu masih berusia tiga tahun ketika  Blue Bird lahir di 1972, melihat bisnis taksi tumbuh berkembang. Ialah sang nenek, Mutiara Dojoko Sutono menjadi pendiri perusahaan taksi biru ini. Awalnya Blue Bird hanya menggunakan dua mobil pribadi sebagai armadanya. Sang pendiri kemudian menyulap rumah di JL. H.O.S. Cokroaminoto, Jakarta, sebagai poll taksi pertamanya.

Ayahnya, Purnomo Prawiro, bertugas menjadi sopir armada pertama di Blue Bird. Sedangkan sang ibu, yaitu Endang Basuki, berperan costumer service atau penerima telepon bagi yang mengorder taksi. Noni sudahlah mulai ikut terlibat dalam bisnis keluarga ketika berusia lima tahun. Ketika jamannya, Blue Bird sudah mulai menemukan titik puncaknya. Perusahaan mulai menambah beberapa armada dan sopir baru.

"Saya bertugas mengamplopi upah buat para sopir," terangnya. Ia menjadi dekat dengan lingkungan kerja di Blue Bird.

Mulai dari SMA, ia bekerja paruh waktu sebagai petugas yang memasukan data ke komputer kantor. "Saya digaji 70 ribu sebulan," katanya sambil tersenyum. Setelah lulus dari Tarakanita I Jakarta, Noni memutuskan meneruskan kuliah ke Universitas Trisakti, Jakarta. Dia lantas mengambil jurusan Teknik Industri. Dua tahun di Trisakti, ia kemudian memilih pindah ke Australia dilanjutkan berkuliah di Universitas of Newcastle, yang mana ia mangambil jurusan yang sama, yaitu Teknik Industri.

Dunia bisnis


Dia kembali ke Jakarta setelah lulus kuliah. Noni mulai meniti karir dari bawah sendiri. Dia lalu bekerja di Jakarta Convention and Exhibition Bureau. Dia banyak belajar tentang pemasaran disana. Lantas, bagaimana dengan bisnis Blue Bird? Ia ternyata tidak pernah melupakan asalnya, memilih bekerja selepas pulang kerja hingga pukul 11 malam. "Saya bekerja dobel pada waktu itu," katanya, dan begitulah kehidupan sehari- harinya.

Noni mengaku semuanya bukalah tentang uang. Dirinya hanya menimba banyak pengalaman dan jaringan bisnis. Sedangkan di Blue Bird, ia mengaku, pengelaman bekerja di luar agar ia bisa mengetahui keadaan perusahaan. Pikirannya sudah merujuk agar sewaktu- waktu dirinya siap. Ini semua agar membuatnya siap menjadi penerus. Dua tahun sudah berlalu mengerjakan dua pekerjaan berbeda satu waktu. Ia telah mantap melanjutkan bisnis keluarga, Blue Bird.

Namun sebelumnya, dia harus kembali berkuliah di University of San Fransisco, setelah dua bulan berhenti. Noni kemudian mengambil jurusan Master of Business Administration (MBA), yang difokuskan pada finance dan marketing.

"Saya memilih jurusan untuk memajukan Blue Bird," terangnya lanjut.

Biasanya, kata Noni, pengelolaan keuangan perusahaan keluarga tidak kuat. "Kita sudah terbiasa laci bisnis adalah laci rumah. Saya mau itu tak terjadi di Blue Bird," ungkapnya lagi. Ketika gelar MBA sudah ditangan, ia malah tergoda bekerja di Amerika. Bukan tanpa alasan, dia telah diterima di perusahaan multi nasional loh. Namun, sang nenek seolah mengingatkannya dan meminta sang cucu kembali ke Indonesia. Bisnis Blue Bird sendiri telah menggurita kemudian dikenal sebagai Blue Bird Group.

Usahanya tidak lagi taksi atau transportasi, namun mereka telah merambah wilayah properti, jasa konsultasi teknologi informasi, logistik, dan industri perakitan.

 "Ayah saya menyarankan saya untuk mempelajari keuangan sebagai kontrol keuangan dalam bisnis keluarga biasanya tidak kuat. Namun, saya tidak tertarik dengan subjek ini. Untuk menghormati orang tua saya, saya mengambil keuangan dan pemasaran," kata Noni, ketiga putri Purnomo Prawiro dan Endang Basuki.

Di bidang transportasi, Blue Bird Group bergerak di usaha taksi, mobil carteran, dan bus carteran. Khusus di taksi, perusahaan membawahi Blue Bird, Silver Bird, Morante Jaya, Cendrawasih dan Pusaka Nuri Utama. Blue Bird Group telah mengoperasikan sekitar 20 ribu armada. Sedangkan di bidang logistik, perusahaan menyediakan layanan angkutan truk kontainer dan di sektor properti memiliki Holiday Resort Lombok.

Memajukan bisnis


Setelah benar siapa, Noni pun kembali ke Jakarta dan melakukan berbagai hal di pengurusan Blue Bird. Dia segera melakukan pengembangan bisnis, relasi publik, dan memperbaiki marketing di perusahaan. "Saya biasanya mengerjakan proyek dan menyukai hal- hal baru. Sebagai anak, itu tidak mudah bagi saya meyakinkan ayah saya tentang ide baru tertentu. Untuk meyakinkan dia, saya harus menerangkan ide sangat detail dan jelas jadi semuanya jadi jelas," ingat Noni.

Dia tau betul ayahnya bermain sangat penting dalam kemajuan perusahaan. Dia mengajarkan berbagai filosofi bisnis, kejujuran, disiplin dan bekerja keras kepadanya. Noni kemudian menerapkan itu ketika akan aktif mengembangkan bisnis Blue Bird. Ia juga selalu meminta para supir berlaku jujur jika menyangkut tentang penumpang. Mereka diharuskan mengembalikan semua yang tertinggal di kursi belakang. Blue Bird selalu bangga akan menjadi perusahaan yang berlaku jujur seperti itu.

Ketika sopir ditemukan menyimpan barang tertinggal, dia akan menegur. Selain itu, Noni juga memberitahu sopirnya bagaimana bekerja dengan benar dan baik. Ia yakin bisnis transportasi terutama bisnis taksi masih menjanjikan. Akan tetapi wajar jika nantinya banyak usaha yang sama akan menjamur di jalanan Ibu Kota. Tetapi dirinya tetap yakin atas kemampuannya dan Blue Bird masihlah menjadi terdepan. Bagi pengusaha, persaingan menjadi baik begitu pula untuknya.

Jika ada kompetisis, ia akan berjaga- jaga dan akan mulai bekerja lebih keras. Selain Blue Bird, Noni ikut membesarkan Pusaka Group, bagian dari Blue Bird, dan usahanya masih sama dibidang transportasi. Dan jika ini bisnis Pusaka Group berhasil, mungkin sang ayah akan meminta dirinya menjadi pengganti sang ayah, president direktur Blue Bird kini.

Artikel Terbaru Kami