Minggu, 19 Januari 2014

Sekolah Bartender Berkah Bahasa Inggris

Biografi Pengusaha Sudi Artawan



Seorang pemuda penjual kelapa, menjadi bartenteder, hingga akhirnya bisa memiliki bisnis sendiri PT. Ratu Oceania Raya Bali. Inilah pria dibalik cerita tersebut seperti sinetron saja ya. Bernama lengkap Sudi Artawan atau Sudi,  hanya tamatan sekolah menengah, namun telah memiliki segudang pengalaman di bisnis resort dan hotel. Berawal cuma berjualan kelapa di pasar Bandung bersama pamannya yang tengah sekeloh D1. Semua berawal senang bahasa Inggris.

Akhirnya bahasa lah membawanya menjadi bartender di Restourant Nusa Dua. Ia tak pantang menyerah meski bergaji kecil. Sudi memang ulet dan gigih tetap menjadi pribadi ramah. Dia tetap bisa bergaul bahkan dengan para pelancong asing berkat bahasa Inggrisnya. Dia sering mendapatkan uang tambahan menjadi tour guide. Dan, dari Restourant Nusa Dua lah, dia bisa diterima bekerja Hotel Niko Bali dan baru berlangsung 1 tahun beliau pindah kerja kehotel Rizt Calton.

Bekerja di Ritz Calton, ia bertahan selama 2,5 tahun hingga kemudian mendapatkan panggilan kerja di Four Season Resort Jimbaran, sekitar dua tahunan lah. Ia sendiri memiliki ide- ide cemerlang sekaligus kesukaan terhadap tantangan. Di sinilah, mulai seorang Sudi Artawan bisa masuk ke perusahan Kapal pesiar termewah di Dunia bernama Celebrity cruise line sebagai seorang Bartender. Di perusahan Celebrity Cruise Line lah dia kemudian dipercaya bekerja di Bar terfavorite yaitu Martini Bar.

Berdasarkan pengalaman bekerja di beberapa Hotel Berbintang di Bali maka tidaklah sulit buat bagi Sudi untuk beradaptasi. Dia bahkan sudah dipercaya men-setup martini bar setiap kapal baru akan keluar dari Celebrity Cruise Line. Penghargaan demi penghargaan dibawanya seperti karyawan terbaik dalam 1 bulan, dalam 3 bulan sampai karyawan terbaik setahun penuh didapatnya. Di kontrak kerja ke tiga, tahun 2002, dia sudah dipercaya merekrut bartender.

Dia dipercaya mencari orang yang akan di salurkan ke celebrity cruise line. Ia harus memilah mereka kembali orang- orang yang disalurkan oleh agen yang dipercaya oleh perusahaan waktu itu. Tahun 2008 ia mencoba membuka kursus bar sendiri diberinya nama FBC ( Flair Bartender Course) di Bali. Dengan alasan keluarga menuntutnya tinggal di rumah, Sudi bermodal sejuta pengalaman, mampu mengangkat murid muridnya di angkatan pertama atau sebanyak 11 orang bisa menggantikanya bekerja menjadi bartender.

Tak tanggung- tanggung mereka lolos masuk ke Celebrity Cruise Line; bekerja di Martini Bar. Kemudian cuma bermodal koneksi serta reputasi, kenalannya menejer hotel, banyak membuatnya siap membuka usaha lain. Sudi lantas membangun PT. Ratu Oceania Raya Bali. Bisnisnya meliputi agensi bartender terbaik di Bali. Dia memang lahir dari keluarga tak mampu; dia bermodal ide- ide, keuletan, dan kegigihan. Itulah pelengkap dari bisnis matangnya.

Sudi telah membuka aneka bisnis lain, seperti Sekolah perhotelan dan kapal pesiar Monarch Cruise Line dan Hospitality Training Center. Sudi juga punya agen pengiriman tenaga kerja sendiri ke kapal pesiar- kapal persia, menjadi eksportir,  dan memiliki agen perjalanan dan akomodasi. Dia lah sang pengusaha muda yang memulai bisnisnya dari satu tingkat ke tingkat lain. Seorang ulet fokus pada satu bidang bisnis. Jikalau banyak pengusaha punya banyak lini bisnis; Sudi fokus pada pariwisata- perhotelan.

Masa kecil


I Nyoman Sudi Artawan lahir pada 1 Desember 1975, merupakan putra ketiga pasangan Ketut Merta dan Wayan Kenak. Ia terlahir di sebuah desa asri bernama Desa Pelapuan, Bali. Kedua kaka perempuannya meninggal ketika masih berumur 2 dan juga 4 tahun. Hal ini sangat menyakitkan bagi kedua orang tuanya. Keduanya meninggal diwaktu hampir bersamaan tanpa diketahui apa penyakitnya. Sejak kejadian itu, setelah Sudi lahir, orang tuanya memutuskan pindah rumah.

Keduanya lantas menyiapkan tanah seluas 1 hektar (1000 Are) bermodal mengangsur di Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu. Rumahnya dibangun secara sederhana setengah tembok dari bata dan setengahnya dari kayu. Saat musim hujan tiba, angin akan masuk ke kamar dan semua keluarga kedinginan. Terlebih lagi, 50% tanah tersebut merupakan tanah tandus dan  50% sisanya itu berisi tanaman kopi dan cengkeh.

Dengan kondisi itu, ketika kedua orang tuanya bekerja, Sudi bersama adik perempuannya, Ketut Pariasa, harus sering ditinggal dirawat oleh tetangga dan hanya cukup disediakan nasi dicampur dengan ketela atau pisang. Setelah Sudi masuk sekolah dasar, kedua orang tuanya membelikan seekor kambing. Ia pun belajar beternak guna membantu pendapatan kedua orang tuanya. Karena lingkungan orang disekitar ialah orang berkasta, dia dan adiknya sering merasa minder dalam pergaulan.

Mereka takut jika berbuat salah. Kelas 3 SD Sudi baru bisa membaca dan menulis. Saat itu, buku- buku yang tersedia terbatas dan lingkungan kurang memadai. Saat malam ia harus belajar dibawah lampu tempel karena tidak ada listrik. Dia juga harus kelelahan setiap kali sampai di rumah karena berjalan sejauh 4 km lebih. Dia kemudian melanjutkan sekolah di SMP PGRI 3 Kemoning. Jika berangkat sekolah yang berjarak jauh, ia kan menempuh 80% berjalan kaki dan 20% diantar oleh ayahnya; naik motor RX 100.

Sudi kemudian melanjutkan sekolah di SMA N 2 Singaraja, dimana saat itu adalah sekolah unggulan di Singaraja. Dia tinggal bersama kakak sepupunya, Kang Kertu, yang berprofesi sebagai guru matematika di salah satu SMA terkemuka. Begitu pula istrinya yang juga berprofesi sebagai guru Ekonomi di salah satu SMA di Singaraja. Tinggal bersama lingkungan keluarga guru, membuat beliau ikut terpengaruh jadi suka membaca dan terus membaca.

Lingkungan belajar


Sudi menempati kelas 1.2 yang merupakan kelas terbaik di sekolahnya. Karena persaingan sangat ketat, dia hampir- hampir saja tidak naik sekolah. Akan tetapi, di kelas 2 (tahun ke-2), Sudi cenderung memilih jurusan sosial. Sejak saat itu pula, dia malah selalu menjadi juara kelas (juara 1 atau juara 2) sampai kelas 3. Ia juga mulai suka akan bahasa Inggris sejak masuk ke kelas sosial. Saat duduk di bangku kelas 3 SMA (tahun ke-3), ia menyempatkan diri kursus bahasa Inggris di Manggala English Course.

Sejak itulah,  bahasa Inggrisnya terus terlatih, Sudi jadi semakin menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Karena kedua orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah sampai universitas; Sudi hanya dibekali kursus bahasa Inggris di program ILC Anugrah. Sambil mencoba kuliah lagi D1 di BLKP, disinilah ia setiap kali berjualan kelapa di pasar Badung. Ibunya ikut membantu yaitu mengerjakan kerajinan sangkar burung dan berdagang. Bagi dirinys ibu merupskan inspirasi bisnis tak ternilai.

Sudi lantas tinggal di rumah pamannya yang pada saat itu masih tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Kemuda No.46 Tonja Denpasar. Profesi almarhum pamannya adalah penjual kelapa di Pasar Badung. Karena itulah, beliau pun membantu pamannya berjualan di pasar hampir setiap hari sejak pukul  1.00 dini hari hingga 7.30 pagi. Guna melancarkan bahasa Inggrisnya, ia rela datang sendiri ke kawasan obyek wisata seperti seperti di Museum Bali dan Art Centre.

Mengawali kariernya, Sudi memilih bekerja  menjadi saleman mencari nasabah untuk perusahaan ERERA Card Group. Perusahan multilevel marketing yang setiap hari mengharuskan dirinya berkeliling ke penjuru Bali. Dengan bermodal  mengendarai Vespa yang dibelikan ayahnya, pekerjaan tersebut dilakoni kurang lebih dua bulan dan tentunya sambil kursus bahasa Inggris dan kuliah singkat di BLKP jurusan Bartender.

Pekerjaan tersebut diemban karena keadaan terpaksa membantu beban orang tuanya. Dia membantu mereka karena masih ada tanggungan, yaitu adik- adiknya. Dua adiknya saat itu masih duduk di bangku  Sekolah Menengah Atas (SMA) dan  Sekolah Dasar (SD). Karena ingin merubah nasibnya lebih baik, ia pun pindah ke rumah temannya (Dewa Sudi dan istrinya Dian). Di sinilah Sudi ikut membantu memasak, mencuci, dan sebagainya; menjadi pembantu istilahnya.

Selama disana meski tidak membayar apapun dirinya tidur di alas karpet biru. Kadang hujan dan rasa dingin mencekam dirasakannya karena tidur di luar dengan berbantal kamus bahasa Inggris. Karena tekad  belajar  yang tak pernah pudar, kemana pun pergi dia selalu membawa buku bacaan. Sudi akhirnya harus tinggal bersama Pak Dewa Sudi kurang lebih ada 1,5 bulan. Berkat Pak Dewa Sudi pula lah., akhirnya ia memilih jurusan 'Bartender' meski bertentangan cita- citanya, sederhana yaitu menjadi 'Guide'.
.Ketut Merta dan Wayan Kenak
Ketut Merta dan Wayan Kenak

Artikel Terbaru Kami