Kamis, 23 Januari 2014

Jaya Setiabudi Pengusaha Kepepet Indonesia

Siapa Penulis Buku The Power of Kepepet



Nama Jaya Setiabudi pastilah jadi rujukan pengusaha muda sekarang. Jika itu kamu maka pastilah tentang sebuah buku fenomenal miliknya. Pria kelahiran Semarang, 27 April 1973, dulunya dikenal sebagai anak yang bandel. Ia ketika masih sekolah dasar pernah hampir dikeluarkan. Lalu di SMP nya, ia pernah disumpahi oleh salah satu guru bahwa dia tidak akan pernah menjadi orang sukses. Namun ternyata sumpah- sumpah itu tidak berlaku bagi hidupnya.

Berjalan waktu, ketika sudah duduk di bangku STM, sifat Jaya justru semakin bandel bahkan sering bolos atau istilahnya "cabut". Perjalanan hidup berubah ketika dirinya tumbuh dewasa. Dia mulai memiliki tujuan hidup; menjadi pengusaha sukses. Baginya menjadi pengusaha telah menjadi keharusan baginya. Sang ayah, Untung Setiabudi, setuju akan pilihan anaknya kala itu. Pengalaman ayahnya pernah menjadi pegawai bank membuatnya tau betul.

Sang ayah lantas memberikan nesehat, "lebih baik kecil- kecil jadi bos, daripada gede- gede jadi kuli."

Karir Jaya Setiabudi


Setelah berhasil lulus dari salah satu universitas swasta di Surabaya. Dia pun mencari sumber ilmu tentu saja agar bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Dipilihlah salah satu anak perusahaan milik Astra Group yang dijadikannya wadah mempelajari sirkulasi perdagangan. Bahkan dengan pede -nya (percaya diri), saat ada satu tes wawancara berlangsung, Jaya Setiabudi menya­takan bahwa tujuannya bekerja adalah mencari ilmu. Ia bahkan dengan PD -nya menyebut jelas dirinya ingin jadi pengusaha ketika itu.

Posisi dipilih bukanlah engineer sesuai dengan studi pernah ditempuhnya, namun technical buyer. Meski jam kantor telah usai, Jaya tetap bersemangat mengerjakan pekerjaannya, tanpa perlu ada kata lembur. Ketika teman sekantornya masih tertidur pulas, dia mempelajari dan memahami semua tentang pekerjaan tersebut, salah satunya purchasing order. Si atasan juga tak perlu tau apa yang dikerjakannya hingga malam hari. Jaya tak pernah mendapatkan uang lembur sama sekali.

Dia akan sibuk bekerja dari Senin sampai Minggu tanpa mempedulikan besarnya gaji yang diperoleh saat itu. Kondisi seperti ini berlangsung hampir selama 1 tahun penuh tanpa libur pasti. Setelah dirasanya puas atas ilmu yang didapatkannya dari Astra. Putra ke enam dari tujuh bersaudara ini lalu mengundurkan diri. Dia pun bersemangat untuk membuka usaha sendiri setelah kurang lebih 1 tahun 4 bulan bekerja. Bisnis pertamanya dibuka pada Agustus 1998.

Jaya cuma bermodal uang 4,5 juta di tangan, lalu bersama dua rekan mencoba berbisnis di bidang Industrial Supply. "Alhamdulillah 3 bulan bangkrut," katanya, setengah bercanda. Karena kegagalan itu pulalah hari- harinya menjadi sulit. Untuk makan sehari- hari, ia hanya membeli satu buah telur dari uang receh yang dulu tidak disukainya. Tapi suami dari Liana ini memilih tetap tegar dan tak takut terjun kembali ke dunia bisnis. Bermodal minim, Jaya mulai merangkul orang lain bekerja sama.

Dia mencoba bisnis serupa bermodal kepercayaan oleh mitra barunya. Tetapi Jaya mulai melihat bisnisnya merangkak naik, mulai menunjukan hasil. Namun seperti pengusaha pemulai lain, bisnisnya disebutnya terlalu cepat untuk berekspani ke bisnis- bisnis lain yang tak sejenis -yaitu membuka warung makan, desain grafis, distribusi additif (otomotif) membuatnya rugi besar ketika mengalami gagal. "Itu semua uang sekolah saya," ucapnya tanpa beban.

Dan terbukti kini dirinya sukses bahkan sanggup membuka aneka bisnis dengan lebih bersabar.

Bisnis besar


Di usia bisnis ke sepuluh tahun, Momentum Group telah membawahi berbagai perusahaan aneka bidang. Ia fokus pada bidang- bidang seperti makanan, teknologi, industri, supplier, minuman, dan ratail. Lainnya, Jaya juga memiliki usaha seperti agen oli (di Jakarta) dan perusahaan training entrepreneurship. Semuanya telah dipercayakan kepada orang- orang pilihannya. "Kecuali Momentum Entrepreneur Mindset (yang membidani Ecamp dan YEA), semuanya saya tidak pegang lagi", imbuhnya.

Kini jangan salah jika dia bisa hidup tenang bersama keluarga kecilnya kini. Itu semua karena bisnisnya telah ditangani para direksinya. Sebagian besar perusahaannya berlokasi di Batam, karena disanalah tempat yang potensial untuk arus perdagangan baik skala nasional maupun internasional. Setelah Batam, dipilihlah Jakarta sebagai tempat kedua bisnisnya. Meski telah mencapai nilai angka miliaran rupiah, namun jumlah karyawan tidak banya, cuma ada sekitar 20 orang.

Menurut pria yang menyukai film dan tidur, rahasia bisnisnya yaitu diferiensi kuat serta sistem kerja handal. Bisnisnya ditunjang kewirausahaan tinggi dimana prinsipnya "We Create Partners, not employees". Prinsip tersebut kemudian dituangkan dalam kebijakan pembagian saham kepada pegawainya, tentunya dengan syarat tertentu. Syarat yang wajib dipenuhi meliputi integritas, loyalitas, dan beberapa kriteria lain. Penerapan konsep tersebut membuat para karyawannya serasa ikut memiliki perusahaan yang dinaunginya.

Hasilnya perusahaan itu terus maju dan makin berkembang. "Saya memiliki partner-partner yang jauh lebih pandai dari saya dan bisa mengembangkan perusahaan lebih baik daripada saya sendiri," ucapnya merendah. Ayah dari Sarah Aulia Setiabudi dan Alfin Setiabudi ini, masih sempat membagi ilmunya. Secara aktif ia telah menjadi narasumber di beberapa radio di Batam, TV lokal dan Kolumnis di media masa, baik lokal maupun nasional selama tiga tahun terakhir.

Disamping itu, Mentor terfavorit 2008 versi Entrepreneur University ini, memiliki kesibukan berbagi di lebih dari 30 kota se-Indonesia. Tidak seperti beberapa pengusaha lain, Jaya mengaku tidak menyukai politik. Ia memilih menuliskan konsep pemikiran melalui media buku. Salah satunya  buku yang berjudul "The Power of Kepepet" telah menjadi motivasi banyak pengusaha muda. Sebagai pengusaha muda sendiri, Jaya memiliki visinya sendiri yang ingin digapainya.

Pertama, Jaya ingin menciptakan sejuta pengusaha sukses. Dan kedua, dia berharap bisa menjadi saluran rejeki bagi orang lain. Salah satu upaya tersebut melalui Entrepreneur Association (EA). Tujuannya adalah menciptakan pengusaha Indonesia bermoral  seta memiliki integritas tinggi. Asosiasi ini mampu mewadahi semua lapisan pengusaha agar bisa andil di dalamnya. Sistemnya melalui pengelompokan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan yakni starting (pemula), growing (berkembang), dan expanding (meluas)

"Saya tetap menikmati masa-masa susah waktu itu. Andaikan mengalami kegagalan lagi, saya yakin bisa bangkit kembali," ujarnya.

Katanya sih, pengusaha sukses selalu punya ciri khas sendiri bahkan dianggap gila. Jangan kaget karena kesehariannya punya ciri khas, pria yang mengendarai Mercedes ini, memilih hanya akan mengenakan t-shirt, celana jins dan bersandal ria. "Itulah seragam kebesaran saya. Malas Jaim-jaiman," imbuhnya. Ke depannya, dia masih ingin mewujudkan obsesi didambanya yakni menciptakan Entrepreneur Place yang kelak menjadi Pusat Study dan Pariwisata Entrepreneur terbesar sedunia.

Info lebih lanjut: Jayasetiabudi.net

Artikel Terbaru Kami