Rabu, 11 Februari 2015

Usaha Bakso Cak Eko Pelopor Waralaba Bakso


Biografi Eko Sriyantono

 
Pengusaha bakso ini bernama Henky Eko Sriyantono, kelahir di Surabaya, 5 Mei 1979, yang juga dikenal sebagai salah satu pelopor bisnis waralaba di Indonesia. Eko pernah berkuliah  di Institut Teknologi Sepuluh November tahun 1992-1996, mengambil jurusan teknik. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di teknik sipil menejemen proyek di kampus yang sama tahun 2002-2003. Berkat pendidikannya dia berhasil menjadi pegawai salah satu BUMN di Surabaya.

Tapi langkah kakinya berhenti, dia membawa hidupnya ke Jakarta dan bekerja keras menjadi pengusaha. Mimpinya sebagai pebisnis membawa langkahnya keluar dari perusahaan kontrakor. Eko berkeinginan untuk membuat bisnis, membuka lapangan pekerjaan. Sebelum sukses seperti sekarang, dia mengerjakan berbagai bisnis hingga 11 jenis sejak 1997 mulai dari Multi Level Marketing (MLM) hingga argo bisnis. Sayang, bisnis tersebut belum menjadi jodohnya.

Kegagalan tak membuat pria yang akrab dipanggil Cak Eko ini merasa trauma atau putus asa. Kekuatan bernama "The Power of Kepepet," membuatnya tetap bertahan hingga kini.

Dia pernah berbisnis jual beli hand phone bekas, tetapi hanya bertahan 8 bulan. Bisnis keduanya yaitu MLM dimana dirinya hanya bertahan lima bulan. Alasannya dia merasa tidak cocok dengan sistem kerjanya serta gagal mendapat downline. Tahun 1999, ia bekerja sama dengan tujuah orang temannya mengerjakan bisnis budidaya tanaman jahe gajah. Modal hasil patungan sebanyak 40 juta. Namun hasilnya gagal panen dan sisa uang sebesar 16 juta.

Tahun 2000, Eko berbisnis dompet dan tas produksi Tanggulangin, Sidoarjo. Dari bisnis ini, ia mendapatkan kesuksesan lumayan dimana berhasil menjual hingga mal- mal di Jakarta. Modal bisnis barunya tersebut 13 juta yang berasal dari sisa uang saku perjalanan ke Jepang, dari hasil artikel teknik buatannya di sayembara berhadiah. Meski bisnis barunya tembus ke sejumlah butik mal di wilayah Jakarta, ia harus mengikuti sistem yang ada.

Dia harus mengikuti sistem konsinyasi dan menjadi permasalahan karena modal yang minim. Sistem tersebut membuat pembayaran oleh butik- butik tersebut tidak lancar. Ia juga kesulitan menjaga arus kas keluar dan masuk. Akhirnya setelah setahun, dia memutuskan untuk menutup bisnis miliknya dan menarik semua barang dari butik. Gagal berbisnis macam ini tak membuatnya kapok dan mencari ide- ide bisnis lain. Hingga Eko menemukan bisnis bakso.

Bisnis terakhir


Memulai dari nol tak membuatnya patah arah, dia menemukan ide bisnis di waktu yang tak terduga. Kala itu, tahun 2006, dia melihat kedai bakso di Bandara Soekarno Hatta bagitu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Ia tertarik bisnis serupa dan membulatkan tekatnya membuka warung bakso Malang, khas Jawa Timur. Bahkan dia berguru langsung ke ahlinya dari Malang hingga Surabaya. Dia sedang mencari komposisi yang pas.

Dalam tiga bulan dia mencoba mengamati pasar, menawarkan uji coba kepada teman- temannya. Ia dibantu teman- temannya berhasil mengumpulkan modal Rp.2,5 juta, lalu membuka sebuah warung di foodcourt di wilayah Bekasi pada Maret 2006. Tujuh bulan berlalu bisnisnya maju pesat dan mendapatkan untung cukup banyak. Eko memutuskan membuka gerai keduanya di Tamrin Square di Oktober 2006. Warung bakso itu kemudain diberinya nama Bakso Cak Eko.

"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," jelasnya. Sebenarnya dia sendiri hobi memasak sejak SMA, jadi membuat bakso menjadi kesenangan tersendiri. Dia mengaku pernah berbisnis katering kuliner tetapi gagal karena menunya yang selalu sama dan balik modal yang lama.

Berbeda bakso Malang miliknya lebih kaya rasa dimana tidak monoton aslinya. Ia tau betul bagaimana bisnis semacam ini. Dia mulai menambahkan olahan siomay dan batagor ditambah dengan berbagai macam bumbu tambahan. Dia menambahkan bumbu tersebut membuatnya menjadi bubuk tabur. Ide waralaba itu datang ketika ia menuliskan kisah suksesnya di berbagai media masa. Dia kemudian ditawari banyak permintaan kerja sama.

Dalam kurun waktu 10 bulan, melalui sistem waralaba, gerainya bisa tumbuh super pesat. Sekitar 2006 -an, bisnis bakso Cak Eko telah tumbuh memiliki sekitar 120 gerai waralaba. Model bisnisnya gampang, dimana dia membuka pusat pengolahan diberbagai pusat. Dia telah membuka 3 tempat produksi, dimana para mitra akan membeli bahan bakunya dari sana.

"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu," ucapnya. Kini ia aktif berbagi kisah di sekolah kewirausahaan bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung agar orang lain tidak mengalami kegagalan 11 kali seperti dirinya.

Menurut Cak Eko ada beberapa hal yang membuat bisnis gagal. Pertama, kita harus berhati- hati dalam memilih mitra. Kedua, ketidak mampuan kita memisahkan antara uang pribadi dan uang bisnis. Ketiga adalah jangan tergesa- gesa menaikan harga, karena kita berbisnis untuk pembeli. Dia juga berpesan jangan tertarik akan iming- iming untung besar, terutama ketika tidak tau bisnis macam apa dan resikonya. Soal persaingan, dia mengaku perlu adanya perbedaan di kualitas produk dan inovasi.

Artikel Terbaru Kami