Minggu, 22 Desember 2013

Vas Plastik Botol Bekas Bisnis Jutaan

Profil Pengusaha Achmad Iskandar


 
Ada kesibukan tersendiri di sudut kota Balikpapan. Seseorang tengah sibuk- sibuknya mencari sesuatu di tumpukan sampah. Dia sedang mengumpulkan aneka sampah plastik, kemudian memisahkannya ke karung tersendiri. Sampah apapun bukan cuma botol kemasan air minum, termasuk juga bungkus makanan ringan, termasuk juga bungkus kopi, atau apapun berbahan plastik. Pria itu bernama Achmad Iskandar, seorang lelaki kelahiran Muara Munta, 57 tahun silam.

Dia bukanlah sembarang orang atau sekedar pengepul sampah. Sampah itu kemudian akan dimasukannya ke sebuah wajan berukuran sedang yang telah dipanasi dulu. Setengah jam kemudian, Iskandar mulai mengaduk plastik yang telah meleleh berbentuk pasta. Sebuah cetakan semen telah disiapkan, ia pun menuang pasta plastik tersebut langung ke dalam cetakan tersebut. Dia menunggu 15 menit lalu plastik itu telah mengeras di dalam cetakan.

Melalui cetakan inilah keajaiban datang ditangan bapak orang anak dari obsesi terhadap sampah plastik. Ia mulai melepaskan cetakan tersebut, lalu jadilah sebuah vas bunga siap diolah selanjutnya. Iskandar kemudian menyiapkan dempul dan amplas, menghaluskan tiap sisi vas yang telah kering tetapi masih terasa elastis. Setelah permukaannya halus, maka ia pun mulai mengecat aneka warna ke vas itu. Ia menggunakan berbagai warna lalu membuatnya menjadi bermotif retak- retak.

"Mengapa retak- retak yang dipilih? Karena sampah plastik apalagi foil (plastik yang mengkilat dan sukar diurai), sangat membahayakan. Jika semakin banyak sampah plastik, bumi bisa retak," terangnya, menjelaskan maksud dibalik pilihannya tersebut. Begitulah kegiatan sehari- hari di workshop yang dijalankan oleh warga Jalan Ampal, Sumber Rejo, Balikpapan ini.

Inspirasi bisnis


Berkat kerja keras ditambah kreatifitas membuatnya memiliki penghasilan tetap tiap. Ia dikabarkan telah mampu membuat 900 buah tiap bulannya. Barang daur ulang tersebut kemudian dipasarkan ke daerah- daerah di Kalimantan Timur. Kini, dia ingin memasarkan produknya lebih jauh lagi. Ide awalnya itu ketika dirinya mengikuti pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya di Juli 2008, ia berkeliling menikmati aneka produk daur ulang sampah plastik.

Saat itu ia berpartisipasi mewakili pemerintahan kota Balikpapan melihat produk karya daerah lain. Dia terpikir kenapa semua hasil produknya selalu berbentuk konvensional seperti taplak, tas plastik, ataupun produk- produk lain yang sudah sering dilihat. Iskandar yang pernah menggeluti bisnis tanaman hias terbersit dipikirannya untuk membuat sesuatu yang berbeda. Idenya adalah menciptakan vas bunga dengan plasti hasil daur ulang.

Dia segera mencari tau segala sesuatu tentang plastik. Iskandar kemudian mencati tau hal apa saja yang bisa dibuat dari sampah plastik, bagaimana caranya, dan yang terpenting apa bahayanya. Dia menghabiskan waktu beberapa bulan lalu mencobanya secara berulang- ulang. Setelah yakin  dengan teorinya, ia pun segera membuat berbagai vas hingga berbagai ukuran. Ada sekitar 20 macam bentuk, mulai dari berukuran tinggi 25 sentimeter hingga tinggi 45 sentimeter berdiameter 45 pula.

Barang daur ulangnya kemudian dicat dan diberi gambar motif. Ia membuat motif bunga ataupun motif dayak agar terlihat eksotis. Suatu ketika, Iskandar lantas menciptakan Marmo, batu tiruan dari plastik yang bisa kita gunakan jadi aneka hiasan. Anaka produk dijual dikisaran harga seharga Rp.25.000 per- buah untuk vas bungan, dan Marmo dijual seharga 140.000 per- meter persegi. Dia membeli bahan baku Rp.500 per- kilogram, sedangkan satu buah vas beratnya 1 kg.

Artinya, ia mampu mengantongi laba bersih Rp.24.500 per- kg plastik.

"Untuk warga pesisir laut, bisanya saya beli mahal, yaitu Rp.1000 per- kg. Ini supaya mereka termotivasi mengumpulkan plastik di pantai atau laut," tambahnya.

Agar hasil karyanya tak dibajak, ia membranikan diri mematenkan produknya. Melewati berbagai tahapan Iskandar sukses terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Lingkungan, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dalam lima kali uji, hak paten metode dan proses pembuatan barang yang didaur ulang terbit pada 1 Februari 2010 bernomor P00201000069. Biaya hak paten mencapai Rp 32 juta, dimana pemkot Balikpapan membantu Rp 12 juta.

Artikel Terbaru Kami