Jumat, 27 Desember 2013

Tahu Organik Rudik Setiawan Semua Kalangan

Profil Pengusaha Tahu Sarjana Agribisnis



Memang Rudik Setiawan bisa melihat bisnis dari kacamata berbeda. Dia memilih mencoba mengembangkan bahan panganan organik yang sedang ngetrend akhir- akhir ini. Dia mencoba berbisnis tahu goreng, bukan sembarang tahu, melainkan tahu berbahan organik. Bermodal tekat, dia mencoba mengambil pangsa pasar kelas menengah atas. Alasanya dipahami karena bahan bakunya sangat mahal. Tapi, ia mengaku keuntungan tiap produksi bisa mencapai 15-20 persen saja.

Rudik bukanlah sembarang pembuat tahu. Pendidikan S2 -nya mengambil jurusan agribisnis di Universitas Muhammadiyah, Malang, sehingga membuatnya paham manfaat produk berbahan organik serta aspek bisnisnya. Pria kelahiran Malang, 4 Oktober 1984 ini, sudah memulai bisnis tahu sejak SMA kelas 3 di tahun 2001. Ketika itu dirinya melihat bagaimana bisnis tahu berkembang pesat. Tepat disebelah rumahnya ada pabrik tahu yang menyewa tempat.

Rudik kemudian menginvastasikan modalnya ke usaha tahu tersebut. Investasi senilai 25 juta didapatnya dari hutang tetangga. Di tahun 2003, usaha tersebut bengkrut membawa lari semua investasi miliknya. Jadilah dia mengambil alih semua bisnisnya, ditambah hutang investasi miliknya. Bertahap dia berhasil mengumpulkan uang sedikit- demi sedikit bermodal menjual ampas tahu. Masih kurang ia bahkan terpaksa menjual tanah milik kedua orang tuanya.

Singkat cerita, tepat 29 Mei 2004, Rudik mengganti nama pabriknya menjadi industri tahu RDS (berasal dari nama ketiga anaknya, Rasendria El Furqonia, Dzufairo El Kamila dan  Muhammad Sirhan Syahzani). Ia tak menyerah kemudian melanjutkan bisnis bermodal uang sisa menjual tanah. Dia setidaknya masih memegang uang 15 juta ditangan, semuanya dipasrahkan di bisnis tahu tersebut. Tak disangka persaingan bisnis begitu keras, dia mendapatkan cobaan lain yaitu pengusaha lain yang mencoba mempengaruhi pegawai.

Pengusaha itu mencoba untuk mempengaruhi mereka agar keluar. Caranya mudah yaitu menjanjikan akan diberi uang saku cukup banyak, jika mau keluar dari pabrik milik Rudik. Akhirnya ia ditinggalkan pegawai- pegawainya setidaknya ada enam orang telah keluar, menyisakan dirinya saja di satu bulan bisnisnya. Rudik tetap bertahan yaitu melalui anak- anak remaja di desanya, Klampok Singosari, Malang. Mereka memang lah buta akan pembuatan tahu tapi mau apalagi, diangkat lah mereka menjadi pegawai.

"Saya cari orang baru yang benar- benar tidak tahu tentang dunia tahu, disitulah mereka saya didik mulai dari nol," papar sarjana matematika, Universitas Brawijaya, Malang ini.

Bisnis kelas atas


Dia segara menemukan pangsa pasarnya sendiri. Ia sadar betul kelebihan produk organik segera mengambil inovasi. Dia merubah bahan baku tahunya menjadi kedelai organik. Meski mahal dia tetap yakin bisnisnya akan berhasil. Dia mencoba berbagai hal agar menjadikan bisnisnya lebih efisien termasuk soal mesin. Rudik merancang sendiri mesinnya termasuk bagaimana mengemas tahunya.

"Saya habiskan waktu beberapa minggu untuk bisa menemukan teknik pembungkusan tahu agar awet dan menarik," ujarnya. Pabriknya menghabiskan 4 kintal kedelai organik tiap harinya, atau memproduksi sekitar 2 ribu- 2,5 ribu potong.

Pangsa pasarnya meliputi pasar tradisional hingga supermarket atau mini- market di daerah Malang. Bukan hanya kelas atas saja ternyata menikmati tahu organik; tetapi semua lapisan masyarakat. Mereka yang mencoba umumnya ketagihan akan rasanya. Rasa mengalahkan uang dikeluarkan, ada sensasi sendiri ketika menikamti tahu Rudi. Rasanya terasa lebih lembut, tidak sangit, ataupun masam. Berlebel organik tahunya dijual seharga Rp.3000 per- kantong untuk kualitas biasa (berlebel pelangi warna merah).

Sedangkan kualitas tinggi (berlebel pelangi warna hijau), Rudik akan menjualnya ke berbagai pasar swalayan seharga Rp.6000 per- kantong. Harganya lebih mahal dua kali dengan tahu biasa di pasaran yaitu Rp.1400 per- kentong. Meskin mahal tahu- tahu tersebut tetap laris manis dipasaran. Sang pemilik mengaku beromzet Rp.150 juta per- bulan. Meskin harga jual tinggi, ia mengaku tidak panik ketika harga kedelai naik. Seperti beberapa waktu yang lalu, dimana harga kedelai naik dari Rp.3.500/kg jadi Rp.8000/kg.

Dia begitu yakin karena memang biaya keseluruhan telah diperhitungkan matang- matang, mengingat dirinya ahli matematika. Bahan baku organik itu sendiri bukanlah dari impor melainkan petani lokal bersertifikat asal kawasan Jawa Timur. Layaknya pengusaha lain tidak berhenti melihat kesempatan. Dia mampu merubah limbah tahunya menjadi bahan pupuk. Kala itu dirinya hanya berpedoman bahwa tahunya tidak mengandung kimiawi.

Ia kemudian mulai membangun aliran menuju sawah milik orang tuanya, hasilnya volume panen meningkat. "Saya juga mengembangkan limbah itu menjadi nata de soya dan biogas," ucap pria lulusan S2 agrobisnis tersebut.

"Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang ada cuma rugi saja, biasanya kita rugi materi, tetapi dibalik itu saya mendaptkan keuntungan immaterial, misalnya mental, pengalaman, relasasi, dan sebagainya yang tidak bisa dihargai dengan uang, jadi semua kerugian merupakan investasi untuk masa mendatang," tambahnya.

Hari ini bisnisnya memproduksi berbagai kategori yaitu tahu iris besar, iris kecil, dan stik tahu. Tahu iris besar akan dijual Rp.2.000- Rp.2.500 per- potong, khusu industri yang mengolahnya lagi. Iris kecil dijual seharga Rp.1.700- Rp.2000 per- potong. Sedangkan stik tahu akan dijualnya seharga Rp1.500 per- 400 gram.

Artikel Terbaru Kami