Senin, 16 Desember 2013

Sukses Tanpa Gelar Akademik Kerja Keras

Profil Pengusaha Joel Drapper 


 
Remaja pekerja keras, Joel Drapper sukses mencapai cita- citanya menjelajahi lautan dengan kapal layar. Ia yang masih 14 tahun, bekerja keras di berbagai tempat dan mendirikan usahanya sendiri. Joe bekerja keras dengan ikut membersihkan kentang di toko ikan dan kripik, the Charmouth. Dia yang menderita ADHD mendapatkan pendidikan cuma di rumah.

Semua dibuktikan guna mengikuti sebuah perlombaan bertajuk, "Make Your Mark". Joe yang menyukai lautan mengikuti perlombaan tersebut agar bisa berlayar di kapal layar gratis. Sebuah lomba memintanya menunjukan ketukannya mencapai sesuatu. Lomba yang ditujukan bagi remaja yang memiliki keinginan untuk sukses mencapai sesuatu. Meski berlatar belakang home schooling, Joe menunjukan dirinya berani menerima tantangan tersebut.

Bisnis pantang menyerah


Joe mulai membersihkan kentang sebagai pekerjaan sambilan. Dia juga ikut bekerja membersihkan halaman Hensleigh Hotel, dimulai dari jam 3 pagi selama seminggu sekali. Selain itu ia juga mengerjakan 40 tulisan yang kemudian dikirim ke berbagai usaha lokal. Dia mendapatkan 250 pounds ditambah beberapa pounds untuk paspor; Joe siap berlayar di lautan. Inilah yang dikerjakannya disaat mengikuti lomba itu Make Your Mark

"Saya sangat bersemangat, tetapi ini menjadi yang pertama kali saya meninggalkan rumah begitu lama," ujar Joe.

Kedua orang tuanya, Andrew dan Ruth, tidak memiliki kehidupan yang berlebih. Mereka hanya memastikan setiap anaknya masih mendapatkan pendidikan. Tidak mudah, mereka memiliki 10 orang anak yang berjarak 20 hari hingga enam bulan. Mereka hanya meberikan akses komputer serta internet, membuat anak- anak mereka menjadi ahli disana. Seperti 10 saudaranya, Jeo terbiasa hidup mandiri dan memiliki bakat luar biasa di bidang komputer.

Mrs. Dapper sendiri percaya anaknya satu ini merupakan suatu anugrah. Dia yang menderita ADHD tidak cocok bersekolah di sekolah umum. Ini sama saja menyekolahkan kuda pacuan di treadmill; Joe tidak akan pernah berkembang.

"Orang dengan ADHD akan berpikir lebih jauh daripada orang normal lakukan di lingkuang sekolah, anda tidak bisa melakukan itu. Menaruh anak seperti Joe akan seperti menaruh kuda pacuan di treadmill," jelas Mrs. Drapper. Joe diberi kebebasan untuk memulai, walau bagitu harus tetap dengan pengawasan. Di kota sekecil asalnya, tidak akan ada banyak pekerjaan selain memotong kentang atau membersihkan hotel.

Joe ingin memulai bisnisnya sendiri, segala sesuatu tentang hobinya serta kebisaannya yaitu komputer. Dia memiliki rencana membuat sebuah website nomor satu yang mendukung usaha kecil. Dia ingin seperti gereja, organisasi sosial, atau keluarga mampu membuat bisnisnya di internet. Mereka bisa menawarkan produknya lalu dijual secara online tidak hanya di lokal.

Melalui Make Your Mark, ia juga mendapatkan sejumlah uang untuk memulai bisnisnya sendiri. Apa yang didirikannya ialah bisnis online, yaitu 1stclasswebdesign.com. Bisnis itu bisa dikerjakan olehnya di rumahnya sendiri. Joe dibantu teman serta saudara- saudaranya melalui akses internet. Di usia ke 15 tahun, ia berubah tidak hanya ahli desain website tatapi ahli SEO. Dia tidak lagi canggung mencari uang lewat internet. Ia meluncurkan blog nya, membantu situs lain agar berkembang melalui cara yang alamiah.

Dia mengajarkan secara langsung pengalamannya, bagaimana mengelola sebuah website bisnis melalui mesin pencari Google. "Dengan bisnis online yang semakin bersaing, anda membutuhkan pengoptimalan sehingga produk anda akan muncul di halaman utama pencarian."

Kerja keras menjadi sampul terdepannya mencapai tujuan. Ia bersama empat orang temannya membangun bisnis baru yaitu 9miles Media. Perusahaan yang fokus membantu anak muda mengembangkan teknologi. Mereka membantu pengusaha muda menciptakan berbagai situs dan aplikasi. Joe ahli mendesain abstrak pada website ciptaannya. Ia adalah desainer di 9mile Media sekarang. Kini, hidupnya jadi lebih berwarna, dibanding mereka yang bersekolah formal.

Artikel Terbaru Kami