Selasa, 03 Desember 2013

Putera Sampoerna Masa Depan Rokok

Biografi Generasi Kedua Sampoerna



Siapa Putera Sampoerna atau Liem Tien Pao, pria kelahiran 13 Oktober 1947, merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Dia adalah suami dari Katie, warga negara Amerika keturunan Tiong Hoa, dan ayah dari empat orang anak yaitu Jonathan Bradford Sampoerna, Jacqueline Michelle Sampoerna, Michael Sampoerna, dan Farah Khristina Sampoerna.

Dia sendiri adalah generasi ketiga keluarga Sampoerna dimana sang ayah, Aga Sampoerna, dan kakeknya pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee, merupakan pengusaha dibalik sukses produk Sampoerna. Putera sendiri sudah mendapatkan pendidikan intensif sejak usia dini guna meneruskan bisnis keluarganya. Ia pernah bersekolah di Diocesan Boys' School di Hong Kong, Carey Baptist Grammar School di Melbourne, dan terakhir University of Houston di Texas.

Pada 2011, Fobes mencantumkan namanya sebagai orang terkaya nomor 9 dengan total kekayaan $2,4 miliar.

Bisnis keluarga


Perusahaan didirikan oleh Liem Seeng Tee, keturunan TiongHoa yang tinggal di Surabaya sejak 1930 setelah berimigrasi dari propinsi Fujian, China. Leim mengadopsi nama Sampoerna sebagai nama keluarganya di Indonesia yang berarti kesempurnaan (dalam bahasa Indonesia); kemudian menjadi naman perusahaannya sendiri, yakni House of Sampoerna. Perusahaannya lantas dikenal sebagai pembuat merek rokok salah satu yang terbaik.

Produknya seperti Dji Sam Soe di 1913, Sampoerna A Hijau di 1968, dan Sampoerna A Mild sukses sejak awal 1988. A Mild sendiri menjadi produksi terbesar di era Putera Sampoerna, dimana nilai investasinya $150 juta. Pada April 1987, Putera sedang memulai pembangunan pabrik di Surabaya, tepatnya proyek tersebut dimulai pada 1 April 1988. Kala itu, A Mild terlah dikembangkan oleh 38 orang termasuk Adiguna Yos Ginting tetapi belum segera diluncrukan.

Dan, ketika pembangunan pabrik seluas 7.500 meter persegi telah selesai; A Mild siap dipasarkan pada 1988. Dimana kala itu, kebutuhan rokok putih sangatlah tinggi dari masyarakat penikmat rokok kretek. A Mild diresmikan pada 19 Oktober 1988, sebagai jawaban masyarakat akan rokok yang memiliki kandungan tar dan nikotin rendah, atau rokok sehat. Dari sosial, rokok A Mild akan membantu ketika mereka yang sedang merokok di tempat tertutup.

Masyarakat terkadang bersembunyi ketika menikmati rokok sering mendapat teguran dari orang terdekat. Dan, rokok A Mild mengurangi jumlah asap yang dihasilkan serta bau menyengat. Semenjak November 1988, permintaan akan rokok semacam ini terus miningkat hari ke hari. Tepat Maret 1993, Sampoerna meluncurkan ukuran raja (King size). A King berhasil merebut sukses kembali setalah lima tahun peluncuran A Mild pertama kali.

Pada 12 Mei 1996, A Mild dan A King ikut mensponsori pertandingan bulu tangkis Thomas & Uber Cup di tahun itu. A Mild dan A King merupakan kesuksesan besar Putera, dan kemudian Sampoerna A International diluncurkan pada 1997, sembilan tahun setelah A King diluncurkan yang menuai kesuksesan. Pada 1997, ketika itu krisis moneter melanda Indonesia, Sampoerna harus menaikan harga produk mereka cukup tinggi.

Bahkan A Mild ( beserta A King dan A International) mendapatkan kritik karena kenaikan tidak cuma tinggi tapi sangat tinggi. Produk ini sebelumnya berharga Rp.6.000 menjadi Rp.17.000 per- bungkus. Ini menjadi kenaikan tertinggi karena naik hingga tiga kali lipat harga pasaran. Toh, meski dinaikan, penikmat rokok A Mild kedarung cinta akan produk ini.

Menjual perusahaan


Ia adalah pebisnis visioner dan gerakanya memang sukar untuk ditebak. Meski begitu, tiap bisnisnya selalu berhasil pada akhirnya. Di tahun 2005, Putera Sampoerna menjual semua saham kepemilikan kepada Philip Morris International. Setelah penjualan PT. HM. Sampoerna, ia dan keluarganya justru mendirikan perusahaan investasi bernama Sampoerna Strategic. Dimana, anaknya Michael Sampoerna menjadi pucuk pimpinan perusahaan baru tersebut.

Keputusan ini mengejutkan karena PT. HM. Sampoerna sendiri ada pada posisi baik pada 2004. Dia memutuskan untuk tak berkutat di bisnis rokok lagi. Sebagai catatan, perusahaan menghasilkan laba Rp.15 triliun dengan nilai produksi 41, 2 miliar batang. Dalam posisinya, Sampoerna masuk tiga besar bersama Gudang Garam, dan Djarum, Mereka merupakan deretan rokok lokal yang menguasai pasar dalam negeri. Belakangan banyak orang menganalisa gerakanya bukan sembarangan.

Ini kemungkinan disebabkan oleh kepercayaan industri rokok akan sulit berkembang. Itulah yang para pakar pikirkan tentang pergerakan seorang Putera Sampoerna. Terbukti nyata dengan beberapa negara di Eropa mulai membatasi rokok putih dengan variannya. Sampoerna sendiri masih mencatat untung mencapai29, 55 trilun rupiah pada 2006 saja. Penjualan saham tersebut disebut menghasilkan nilai $5, 2 miliar. Kini, Sampoerna Strategic mengambil jalan berbeda.

Mereka fokus berbagai investasi bahkan berani revolusioner, yakni seperti halnya investasi di berbagai bisnis telekomunikasi, agrobisnis (minyak sawit), kehutanan, dan usaha mikro. Ia dan keluarganya juga aktif di kegiatan philantropis melalui Putera Sampoerna Foundation yang didirikan pada 2001. Badan tersebut aktif terutama pada kegiatan yang bersifat pendidikan.

Artikel Terbaru Kami