Kamis, 12 Desember 2013

Merry Riana Kunci Mimpi Sejuta Dollar


Profil Sukses Merry Riana


Merry Riana tak pernah bemimpi belajar hingga ke Singapura, ataupun memulai karirinya disini. Lahir pada tanggal 29 Mei 1980, ia lahir dan tumbuh di Jakarta bersama keluarga yang sederhana, dia merupakan anak sulung dari 3 bersaudara. Perjalanannya ke Singapura itu dimulai ketika kerusuhan besar di Jakarta tahun 1998. Ketika itu cita- citanya kuliah jurusan teknik elektro di Universitas Trisakti buyar seketika.

Ayahnya memutuskan mengirimnya ke sana, ke Singapura, menghindari hal- hal yang tidak diinginkan sebagai seorang keturunan Tionghoa. Negara Singapura dipilih karena memang letaknya dekat, foktor keamanan, dan juga sistem pendidikan yang lebih baik. Di tahun 1998, Mery mengambil jurusan Electrical and Electronics Enginering (EEE) di Nanyang Technology University.

Meskin harus berhutang keinginannya menjadi seorang insinyur sangat lah kuat. Mery tercatat pernah sempat gagal di tes bahasa Inggris untuk masuk ke Nanyang University.

"Saya mengambil jurusan tersebut karena terlihat sebagai pilihan paling sesuai saya ambil saat itu," ucapnya.

Pinjaman pendidikan dari pemerintah Singapura cukup untuk bersekolah, tetapi itu tidak akan bisa lebih. Dia meminjam $40.000, dan harus dilunasi ketika selesai kuliah dan bekerja. Sering kali, ia harus bekerja sendiri menutupi hal lain seperti hal akomodasi, buku pelajaran, makan, dan kebutuhan lain. Dia mulai berpikir serius bagaimana membayar hutang $40.000 itu.

"Jika saya menjadi sukses suatu hari, saya ingin mencapai itu ketika saya masih muda, sebelum ulang tahun ke 30, bukan ketika berumur 40-50," ucapnya serius.

Diakui Merry bukanlah tipe yang mudah menyerah. Ia mulai menghitung semuanya, membuat pengeluarannya sehemat mungkin. Dia hanya mengantongi $10 hanya untuk seminggu saja. Dia pun menyiasati hidupnya dengan makan mie instant di pagi, dua lembar roti tanpa selai di siang dan malam, bahkan untuk minumnya harus melalui air keran di kampus. Hal ini terjadi terus di awal kuliah yang seharunya menyenangkan. 

Kehidupan seperti itu mendorongnya bekerja di luar jam kuliah. Dia mulai mengambil pekerjaan sampingan dari jam 9 sampai 5 sore. Menyadari hidupnya tidak akan berubah, ia mulai membangun mimpinya di tahun kedua masa kuliah. Dia mulai mencoba membeli saham tetapi kehilangan $1000. Dia benar- benar hancur, tetapi tidak membuatnya menyerah seketika; ia harus menjadi seorang entrepreneur. Untuk itu ia bahkan rela bekerja sebagai penjaga toko bunga, dan menjadi pelayan.

Ia masuk ke bisnis mandiri yaitu pembuatan skripsi dan MLM. Di bisnis multi level marketing, ia kehilangan uang hingga $200. Dia bangkit dengan belajar tentang seluk beluk pasar saham. Setelah tamat kuliah, Merry membuka bisnis jasa konsultasi keuangan. Memulai bisnis barunya tersebut, Merry harus berhadapan dengan berbagai hambatan dan kesulitan. Orang tuanya, gurunya, dan temanya secara umum tak mendukung segala bisnisnya tersebut.

Merry kala itu tidak bisa berbicara mendarin, ketika lebih dari separuh Singapura berbahasa mandarin. Dia seorang baru lulus dan tidak punya pengalaman maka sulit baginya berhubungan secara sosial. "Tentunya, saya memiliki persaaan takut dan khawatir," ingatnya. "Tetapi menjadi muda dan tidak adanya beban, tidak ada kehilangan apapun jika saya gagal. Saya akan mendapatkan pelajaran berharga dan pengalaman baik jika saya gagal maupun sukses." inilah kunci sukses Merry.

Tanpa rasa malu dan tidak terbebani kegagalan, ia yakin mengikuti jalannya sebagai konsultan keungan bahkan menyisihkan waktu 14 jam sehari. Ia berdiri di dekat setasiun MRT dan halte bus untuk menawarkan asuransi. Dia bekerja sampai tengah malam dan baru pulang ketika jam 2 dini hari. Titik baliknya ketika ia bekerja di Prudential Assurance Company.Di Prudential, Merry tidak berhanti menanjak karirnya hingga melunasi hutang $40.000 tersebut.

Disana dia mulai menjual produk perbankan seperti asuransi, kartu kredit, deposito, dan lain- lain. Dari 2003, ia mendapat anugrah berupa penghargaan Top New Adviser Award. Di 2004, kurang dari 15 bulan setelah ia bergabung dengan perusahaan Prudential, mendapatkan kenaikan pengkat menjadi menejer lalu seketika membuka agensi miliknya sendiri, bernama Marry Riana Organization (MRO). Tahun 2005, dia mendapatkan penghargaan agensi terbaik, Top Agency of the Year Award dan Top Rookie Agency Award.

Kala itu, ia sudah punya pendapatan sekitar $300.000. Lain hal, dia bekerja menjadi mentor dan memotivasi ribuan profesional dan eksekutif di area penjualan. Di MRO, dia memegang 40 orang perencana keuangan, semuanya sekitaran umurnya 20 -23 tahun.

"Motivasi saya datang dari rasa ingin memberi kehidupan terbaik bagi kedua orang tua," tegasnya. "Tetapi juga persaaan ingin membantu orang- orang muda untuk berbuat sama, untuk menciptakan hidup lebih baik. untuk mereka, orang tua, dan keluarganya."

Merry Riana menghasilkan sesuatu yang fenomenal. Di umurnya sekarang, dia yang masih 25 tahun mampu menghasilkan $700.000 setelah empat tahun menyelesaikan kuliah. Visinya hanyalah membuat anak- anak muda menjadi generasi sukses. Mereka telah merubah hidupnya, kemudian membangun mimpi, dan kembali ke sosial. Mereka akan mengabdikan hidupnya dari apa yang telah didapatkan.

"Efek air terjun kesuksesan ketika anak muda sukses membagi kekayaannya, dalam bentuk pengetahun dan uang, akan merubah ekonomi dunia menjadi lebih baik," dia tersenyum.Visi yang membuatnya mendirikan RMO, sekumpulan anak muda bertujuan mencapai kebebasan finansial.

Ia juga percaya memberi kembali ke sosial. Dia mempunyai waktu dua jam sehari untuk mementori anak- anak muda dari 20- 30 tahun. Melalui program "Personal Mentorship Experience" (PME), dimana setiap hari ada satu hingga dua orang mendaftar tiap harinya. Kegiatanya membantu tiap orang mengindentifikasi tujuan dan cita- cita mereka, dan mengarahkan mereka bagimana mereka mencapai tujuannya." Merry kemudian menulis buku pengalamannya yang menjadi best seller di Indonesia.

Bukunya "Mimpi Sejuta Dollar" telah dipublikasikan di Singapura dan Indonesia. Nama Merry tak cuma dikenal di Singapura tapi sampai ke Indonesia.  Ia kemudian menulis buka lain berjudul "A Gift for a Friend" yang sukses besar di Singapura. Dia bercerita bagaimana strategi menghadapi berbagai masalah datang dan mencapai kesuksesan sekarang.

Artikel Terbaru Kami