Senin, 02 Desember 2013

Rumah Sakit Bisnis Baru Raja Mayapada

Biografi Pengusaha Dato Sri Tahir



Siapa Dato Sri Tahir atau Tahir, pria kelahira tahun 1952 asli Surbaya, yang dikenal sebagai seorang pekerja keras. Keluarganya kesulitan dalam hal keuangan dan menjalankan bisnis bengkel becak di Surabaya. Ia memperbaiki becak memastikan becaknya berjalan di jalanan. Waktu pun telah berlalu, Tahir kecil sudah menamatkan sekolah tinggi, keluarga bekerja sangat keras menyekolahkannya lagi. Sayang Ia hanya mampu bertahan satu semester di sebuah universitas di Surabaya.

Dia berkuliah di jurusan teknik mesin tetapi mengalami beberapa kesulitan di awalnya. Kemudian, Tohir memilih hijrah ke Taiwan, dimana sebuah universitas disana menerimanya di jurusan kedokteran. Ayahnya yang menderita penyakit serius membuat Tahir muda harus berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya. Di umur 20 tahun, ia diterima di sekolah bisnis di Nanyang University. Tiap bulan Tohir mencari produk di Singapura kemudian menjualnya di Surabaya.

Dia membeli pakaian wanita dan sepeda dari sebuah pusat perbelanjaan di Singapura, menjualnya kembali ke Indonesia. Dari sinilah, ia mendapatkan idenya untuk kapitalisasi produk impor guna membantu biaya sekolah. Umur 35 tahun, Tahir bersekolah kembali lalu menyelesaikan pendidikan keuangan di Golden Gate University. Dia berkata baru menyadari pentingnya pendidikan seiring waktu berlalu. Ia menyesal tak melanjutkan pendidikan

"Kekuatan keluarga, atau sebuah negara atau sebuah organisasi atau kesatuan bisnis tidak semuanya tergantung oleh menejeman yang sekarang tatapi lebih tergantung pada generasi mendatang yang akan mengambil alih," ucapnya di sebuah wawancara New York Times.

Bisnis Mayapada


Tahir memulai kembali bisnis di bidang garmen lambat laun memasuki bidang keuangan. Diawali Mayapada Group yang didirikannya pada 1986, bisnisnya merambat dari dealer mobil, garmen, dan perbankan. Empat tahun setelah berbisnis, Bank Mayapada lahir menjadi salah satu bisnis andalannya. Ketika itu, bisnis garmen Mayapada tidak lagi tumbuh, justru bisnis banknya maju pesat. Bank Mayapada masuk ke pasar saham Bursa Efek Jakarta meski dibanjiri krisis di 1997.

Bank Mayapada terus agresive ketika melihat dirinya sukses menghadapi krisis moneter. Dengan investasi asing seperti US, UAE, dan Singapura, banknya kini memiliki lebih dari 100 cabang di penjuru Indonesia. Di 2007, bank ini mendapatkan predikat bank umum terbaik nomor 2 selain bank milik negara. Penghargaan yang dikeluarkan oleh majalah InfoBank, majalah tentang bank paling berpengaruh. Selain perbankan, perjalanan Mayapada Group masih melanjutkan ekspansinya.

Bisnisnya meliputi:

1. Industri ritel melalui kerja sama dengan Duty Free Shopper yang dimiliki oleh LVMH, atau Louis Vuitton. Bisnisnya bergerak di bidang perlengkapan mewah, dan beroperasi di Jakarta dan Bali.

2. Industri properti dimana Mayapada memiliki beberapa tower mewah di Jakarta CBD; Mayapada Tower, Permata Tower 1, dan Sona Topas Tower. Di bali, Mayapada Group mengembangkan Mal Bali Galleria, mall terbesar di pulau, Regent Bali Hotel dan perumahaan di sekitar Sanur.

3. Bisnis kesehatan meliputi Mayapada Hospital yang telah diresmikan.

Tahir lantas menikah dengan Rosy Riady, putri konglomerat Mochtar Riady, dan memiliki 4 orang anak. Dia tinggal bersama keluarganya di Jakarta dan penganut kristen yang kuat. Dia ditunjuk sebagai pelaksana komisaris di University of California, Berkeley, menjadi satunya dari Asia Tenggara yang pernah menjabat. Di 2008, ia mendapatkan gelar doktor dari sebuah universitas di Surabaya, Jawa Timur.

Terbaru Bank Mayapada membuka Mayapada Life, jadi salah satu asuransi tercepat pertumbuhannya. Perusahaan ini bekerja sama dengan asuransi berbasis di Zurich, Switzerland. Selebihnya, Bank Mayapada menjadi jangkar semua bisnisnya. Duty- Free Shop disebut juga ambil andil di kerajaan bisnis Mayapada. Tokonya telah tumbuh menjadi 10.000 meter persegi dengan outlet nya meliputi bandara di Jakarta, bandara internasional di Bali, dan pusat kota di Bali.

Produknya meliputi produk lokal mewah dan luar negeri seperti Louis Vutton dan Gucci. Untuk produk non- fashion, Duty- Free Shoping menjual minuman beralkohol, makanan, dan rokok. Sekali lagi Mayapada Group melebarkan bisnisnya ke jasa kesehatan melalui program Mayapada Healthcare Group (MHG). Perusahaan tersebut menggelontorkan dana ekspansi hingga Rp.1 triliun. Rencananya, grup ini mencoba membuka 4 rumah sakit di Jakarta.

Mayapada mengakuisisi RS Honoris di Tangerang senilai Rp.1 miliar. Rumah sakit itu lantas berganti nama menjadi Mayapada Hospital. Mayapada juga akan membuka RS di Kelapa Gading, TB Simatupang dan satu lagi di wilayah Jakarta. Setelah Jakarta, Mayapada juga akan membidik kota lain seperti Surabaya. Untuk memperkuat bisnis barunya, Mayapada Group akan menggandeng National Healthcare Group Singapore untuk menyediakan layanan kesehatan dengan standar Singapura.

Tambahan Mayapada jadi pemiliki lisensi atas majalah Forbes Indonesia.

Artikel Terbaru Kami