Selasa, 17 Desember 2013

Bisnis Sampingan Brownies Amanda

Profil Usaha Ibu Sumiwiludjeng



Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Bandung tanpa membeli oleh- oleh kan. Ny. Sumiwiludjeng, memang sosok yang satu ini pasti dicari bagi kalangan penikmat kuliner. Bagi yang belum tau, dia adalah orang dibalik suksesnya kue brownies kukus Amanda. Ia (69 tahun) adalah perantau di tanah pasundan, wanita kelahiran Jombang ini berhasil berkat kerja kerasnya. Dia terkenal ulet serta kreatif membidik selera warga tempatnya tinggal.

Banyak orang akan mengira pemilik brownies kukus lezat tersebut si Amanda sendiri. Tetapi ternyata, nama tersebut adalah sebuah singkatan "Anak Mantu Damai", itulah harapan terhadap ke empat anaknya nanti; Joko Ervianto, Andi Darmansyah , Sugeng Cahyono, dan juga Rizka Kurniawan, yang diharapkan rukun selalu. Wanita kelahiran Jombang, Jawa Timur, 1 Agustus 1940 ini, menyebut brownies miliknya memang berbeda yaitu dikukus meski sama- sama terbuat dari coklat.

Bisnis keluarga


Bu Sum itulah nama panggilan sang penemu brownies kukus Amanda. Bukan berlatar belakang pebisnis, ia hanya mengikuti suami untuk hijrah ke kota Bandung. Suaminya merupakan pegawai PT. Pos Indonesia, membuat keluarganya selalu berpindah- pindah. Awalnya, ia dipindah tugaskan ke Bogor selama tujuh tahun, lalu terakhir kembali ke kota Bandung lagi.

"Itu setelah lulus Akademi Pos, Telephon, dan Telegram (PTT) dan menikah pada 1964. Setelah itu pindah ke Bandung, Magelang, dan saat akan pensiun kembali lagi dinas di Bandung." ungkapnya.

Di setiap tempat keluarganya ditempatkan, Bu Sum selalu membuka bisnis kecil yaitu membuat kue. "Usaha kue ini saya dirikan sebenarnya agar bekal ilmu yang saya peroleh dari sekolah jurusan tata boga tidak sia- sia. Tetapi karena tinggalnya tidak pernah lama, maka tak bisa besar. Setiap mau besar, eh bapak dimutasi." kenang nenek enam cucu ini.

Akhirnya di 2000, ketika suaminya akan pensiun dan dipindahkan ke Bandung, kesempatan bisnis itu akhirnya ada. Dia dan suaminya memboyong seluruh kelurga ke Bandung. Dia pun terpikir kembali untuk memulai bisnis kue lagi. Ia menyebut ini sebagai pengisi hari pensiun tetapi hasilnya justru diluar dugaan. Bu Sum ingat benar pertama kali menawarkan brownies kukusnya secara gratis. Dia memasukan kue barunya tersebut ke kardus diselipkan diantara kue- kue pesanan.

Kuenya bertekstur lembut karena dibuat secara kukus, teksturnya lebih lembut daripada yang di panggang (oven). Pasaran kue tersebut disengaja menyasar berbagai kalangan usia. Responnya sangat mengejutkan karena memang lebih enak dan empuk. Saat itu, enam karyawan di dapur rumah yang hanya berukuran 3x6 meter. Darisana pula bisnis tersebut semakin besar karena antrian pembeli yang semakin panjang. Pada tahun 2002 -an, empat anaknya memiliki ide menyewa tempat yang merupakan bekas warung.

Tempat tersebut memiliki ukuran lebih luas yakni 5x6 cm serta dekat rumah. Di tempat baru, antrean itu tetap memanjang semakin panjang, saking panjangnya sampai menghambat laju angkot di depan rumah mereka. Setiap hari ada 500 kardus terjual laris, ini pula yang mebulatkan tekat Bu Sum membangun cabang di pusat kota Bandung. Ia bermaksud memecah antrian para pembeli agar tidak menumpuk di satu tempat. Sejak itu bisnisnya menjadi semakin besar padahal hanyalah bisnis coba- coba.

Kini, wanita yang justru tak mau cucunya bernama Amanda ini memiliki 19 cabang serta pabrik pembuatan kue di wilayah Bandung, Surabaya, Jogjakarta, dan Medan, memiliki 470 orang karyawan. Pabrik tersebut disiapkan guna mensuplai kebutuhan di setiap toko- tokonya. Jarak pabrik dan toko pun sudah benar- benar diperhitungkan matang yakni empat jam perjalanan ke toko di pusat perkotaan. Tak lupa dengan Bu Sum berdo'a melalui nama Amanda, agar membuat keluarga mereka tetap bersama bahagia.

Mereka bisa saling berbagi rejeki sementara Bu Sum dan suaminya bisa duduk tenang. Mereka anak serta mantu ikut serta dalam bisnis keluarga tersebut sementara Bu Sum tak lagi mengurusi detailnya. Tak salah, dengan bigitu banyak cabang tidak membuat brownies kuku Amanda jatuh. Mereka ditangani satu keluarga kompak dibawah naungan Bu Sum. Berjalannya waktu, mereka juga terus melakukan inovasi agar tidak tertinggal oleh para pesaing yang bermunculan.

Pada 2004, nama brownies Amanda telah dipatenkan jadi jika menemukan nama ini di kota lain; kita harus melaporkannya.

Artikel Terbaru Kami