Senin, 23 Desember 2013

Indra Novint Berbisnis Baik Jujur Bermanfaat

Profil Pengusaha Indra Novint Noviansyah



Bisnis daur ulang memang terdengar kurang populer di kalangan masyarakat. Namun, kenyataanya, bisnis semacam ini sudahlah menjadi bagian sejarah umat manusia sendiri. Kita, manusia hanyalah pebisnis yang merubah benda yang sudah ada menjadi lebih baik lagi. Indra Noviansyah telah berbisnis daur ulang cukup lama. Dia yang sebelumnya berkerja mengumpulkan sampah di Jakarta, melebarkan sayap di Pontianak.

Bertempat di Jalan Teuku Umar, dekat Pontianak Mall, pabrik kecilnya telah berdiri diantara tumpukan sampah yang telah menggunung tinggi. Ia tampak sibuk mengamati pekerja di pabriknya. Beberapa orang sibuk memilah sampah- sampah yang telah terkumpul. "Kebetulan anak buah saya banyak yang lagi cuti, jadi agak sepi," ucap pria yang akrab dipanggil Novint ini. Tiap harinya, ia mengaku mampu menghasilkan berton sampah siap kirim ke berbagai negara, utamanya China.

Bisnis sampah


Dia, lajang 24 tahun sudah dua tahun ini merambah bisnis daur ulang sampah plastik. Dia fokus pada produk plastik baik sampah botol air mineral, tutup botol air minum, sampai gelas mineral. Novint memulai di Jakarta bersama beberapa orang dalam satu konsorium bisnis. Ia dan rekannya memulai di Jakarta dimana memang asalnya, serta kemudahan akses, serta dekat dengan pusat bisnis di Indonesia. Dia menyebut alat pengolah sampah ini sangatlah berat dan besar.

Sukses di Jakarta, ia merambah Pontianak, mengirimkan alat ke Pontianak melalui kapal laut. Di Pontianak, kini, ia telah memiliki alat pengolah sampah bernama plastic crusher, alat yang mampu menggiling sampah plastik dalam jumlah lebih besar. Alat yang terbuat dari besi baja yang didatangkan menggunakan kapal laut dari Jakarta. Alat tersebut belum diproduksi di Pontianak karena kerumitannya. Alat tersebut memanglah sangat berat, jadi jangan salahkan, kalau satu mesinnya bisa berharga ratusan juta. 

Alat ini digunakan untuk melumat sampah yang sebelumnya telah dipilah. Para pekerja akan bertugas untuk memilah berdasarkan warna serta jenisnya. Setelah dipilah lalu dibersihkan guna menghilangkan kotoran yang mungkin mengganggu. Lalu, mesin plastic crusher akan berkerja mengolah sampah plastik tersebut. Nantinya sampah yang telah diolah kecil- kecil akan dikirim ke Jakarta melalui peti kemas. Novint lantas menjelaskan pebrikanya harus menghasilkan setidaknya 10 ton baru dikirim ke Jakarta.

"Minimal 10 ton supaya tidak rugi. Kalau bawah itu rugi shipping- nya," tambahnya, kemudian sampah- sampah olahan tersebut dikirim ke China.

Jadi permasalah lain karena faktanya Pontianak tidak punya pelabuhan international sendiri. Jadi ia haruslah bersusah payah mengirim ke Jakarta dahulu. Ini menjadi tambahan modal tersendiri yaitu biaya bensin dan waktu. Di Jakarta, barang- barang tersebut akan disatukan barang- barang lain. Setelah dikurangi biaya pembelian, penyortiran, penggilingan, dan biaya pengiriman, dari 10 ton mampu memeberinya penghasilan hingga ratusan juta rupiah.

Barang yang terlihat tidak berguna tersebut ternyata harganya jadi lebih tinggi.

Cara bisnis sampah


Novint berujar bahwa sampah di Pontianak kurang banyak dibandingkan yang ada di Jakarta. "Kalau disini paling banyak sehari saya bisa mengumpulkan satu ton sampah," katanya. Di Pontianak terlalu banyak mafia sampah, dimana mereka membeli di pemulung dibawah harga kemudian dijual lebih tinggi. Agar pabriknya bisa mendapatkan sampah bagus, maka ia mengambil inisiatif membuat bank sampah. Ini akan menghemat waktu tanpa melalui perantara pemulung, tetapi langsung ke si pemilik sampah.

Ia akan menyiapkan tong sampah khsusus di kampung- kampung, lalu membeli secara langsung ke warga sendiri. Tanpa perantara ini akan membuat lebih mudah. Cara lain yakni merangkul siswa- siswa sekolah, Novint akan menempatkan tong- tong sampah di sekolah- sekolah. Para siswa akan dikordinasi oleh OSIS guna mengumpulkan sampah plastik di tempatnya. Setelah terkumpul, ia akan membelinya bukan gratis loh, dan uangnya akan digunakan keperluan siswa itu sendiri nanti.

Usaha samapahnya ternyata mendapatkan perhatian dari pemerintahan Brunei Darussalam. Saat mengikuti saty delegasi Asean- China Entrepreneur di Brunei Darussalam, dirinya sempat ikut mempresentasikan usaha sampahnya didepan delegasi se- Asean dan China.

"Semua delegasi presentasi banyak berbagai persoalan. Kami hanya persentasi soal sampah. Ternyata tanggapannya positif," katanya.

Pemerintah Brunei Darussalam bahkan sangat tertarik mengembangkan bisnis ini. Dia resmi diminta menjadi operator daur ulang di Brunei. "Kami bahkan sudah diberi tanah untuk mengelola sampah di sana. Sementara itu pemerintah akan mendapatkan 60 persen keuntungan, dan dirinya akan mendapat 40 persen. "Kami telah menyiapkan segala sesuatunya agar usaha kami berjalan di Brunei," sebut pria lulusan Fakultas Ekonomi di UNTAN ini. "Sudah ada agreement nya," imbuhnya bersemangat.

Artikel Terbaru Kami