Sabtu, 28 Desember 2013

FX Harso Susanto Bisnis Kreatif Koran Bekas

Profil Pengusaha Daur Ulang Kertas Koran



FX Harso Susanto, pria asal Yogyakarta kini tengah sibuk menggeluti bisnis sampahnya. Bisnis berbeda biasanya karena bukan hanya berbicara untung tetapi lingkungan hidup."Tapi juga menjaga lingkungan dari limbah kertas koran," jelasnya kembali. Dia berbeda dengan pebisnis sejenis hanya fokus pada sampah non- organik. Ia malah asik sibuk memilah sampah- sampah kertas saja, terutama kertas koran. Dibawah bendera Peperfurniture.com, ia mencoba melebarkan sayap bisnisnya sejak 2006.

Bisnisnya bicara banyak tentang kerajinan tangan. Ditambah tempatnya berdagang di kawasan Yogyakarta, tak ayal beberapa bule terlihat naksir kepada barang buatannya. Tak jarang mereka meragukan kualitas dari produknya tersebut. Keraguan tersebut terlihat dari sebuah cerita selalu dikenangnya. Kala itu, ada seorang wanita Inggris membeli meja kertas disangga rangka- rangka kayu. Wanita tersebut terlihat tergopoh- gopoh membawa benda buatan Fransiskus Xaverius Harso Susanto itu.

Seolah tau kegelisahan si wanita, Harso segera menaruh sekaleng lem yang beratnya sekitar 10kg -an diatas benda itu. Dia tersenyum memperlihatkan karyanya bukanlah mainan melainkan meja sungguhan.

"Waktu itu, perempuan asal Inggris tersebut membeli 100 buah barang- barang kerajinan saya mulai dari nampan, tempat majalah, sampai keranjang kotak," kenangnya.

Pria yang berdomisili di Sanggrahan, Yogyakarta ini, memulai bisnisnya karena kecintaan akan barang bekas. Rasa cinta itu semakin memuncak disaat mendampingi anak- anak jalanan beberapa tahun silam. Beberapa tahun tersebut, dia memang sudah getol membuat- memperkenalkan barang- barang kerajinan dari bahan kertas, merasa persaingan belum ketat.

Dia segera saja menyusun konsep bisnisnya. Harso membuat berbagai kerajinan dari koran bekas, beberapa aksesoris tersebut dijualnya lewat internet. Namun dunia memang cepat berubah terutama bagaimana iklim bisnis di Indonesia. Dia merasakan betul bisnisnya mulai terasa kembang kempis. "Banyak calon pembeli yang mengirim e-mail membatalkan pembelian. Wah, ini sudah jadi tanda- tanda surut," kata pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini.

Seolah tak mau tergerus krisis itu, ia segara mencari cara agar kreatifitas tak berhenti begitu saja. Energi dari bapak dua orang anak ini disalurkan melalui produk baru. Dia bersama empat rekannya mulai memproduksi barang- barang furnitur sekala besar. Tentunya barang- barang tersebut akan lebih sulit dibentuknya. Tak ada kerangka khusus melainkan hanya berbekal lem kanji. Cara pembuatan produk mereka awalannya relatif mudah.

Kertas koran cukup dilumuri lem kanji, sesudah itu dipilin- pilin. Tetapi, pembuatannya memang butuh satu ketelitian ungkap Harso kepada Kompas. Kertas itu dipilin lalu dipasang sesuai bentuk mengikuti modelnya. Pengeleman setiap jalinan demi jalinan wajib mendapatkan perhatian khusus. Furnitur karyanya dibuat 100% berbahan kertas koran bekas tanpa campuran bahan lain, semisal besi atau kayu. Kendati bahan utamanya hanya kertas terbukti mampu menahan beban hingga 200 kilogram.

"Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong ini. Menurutnya produk karyanya telah mendapatkan sambutan sangat positif.

Dia lantas fokus memasarkan produk lewat jalur online. Kini, bengkel bekerjanya di Janti, Yogyakarta, sudah sering didatangi para turis asing. Banyak turis asing yang berminat akan produk karyanya. Mereka akan memesan secara besar untuk dibawa ke negera masing- masing. Dibantu empat karyawannya, ia mampu mendapatkan omzet berkisar 10 juta- 20 juta. Produknya dijual beraneka harga disesuaikan tingkat kesulitan. Harga produk kerajinan furniturnya berkisaran harga Rp.8.000 - Rp.600.000.

Sampai saat ini, Harso, masih memasarkan produknya melalui peperfurniture.com. Dalam perjalanannya, ia mengaku sudah mampu memproduksi 50 jenis barang.

Twitter: FX.Harso Susanto (@semestarec)

Artikel Terbaru Kami