Minggu, 01 Desember 2013

Boenjamin Setiawan Dokter Terkaya Indonesia

Biografi Pengusaha Boenjamin Setiawan



Dokter terkaya itu bernama Boenjamin Setiawan. Dia memiliki latar pendidikan bagus. Namun, sejak awal, hasratnya cuma ada di bidang kewirausahaan. Boenjamin kelulusan Universitas Indonesia, mengambil gelar dokter dan kemudian melanjutkan ke jenjang lebih tinggi di luar negeri sana. Pria yang akrab dipanggil Dr. Boen, merupakan alumni University of California. Dia mendapatkan Ph.D untuk jurusan farmasi serta sempat mengajar sebagai dosen selama beberapa tahun.

Dr. Boen serius menjajaki bisnis tetapi tidak jauh dari latar belakang pendidikannya. Berbekal semangat kewirausahaan tinggi, serta rasa kepercayaan akan kebutuhan obat nasional, ia pun memberanikan membuka pabrik farmasi kecil- kecilan. Perusahaan tersebut lantas didirikan oleh enam bersaudara:  Khow Lip Tjoen, Theresia Harsini Setiady, Khouw Lip Swan, Boenjamin Setiawan, Maria Karmila, and Fransiscus Bing Aryanto.

Perusahaan start- up tersebut didirikan di sebuah garasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan menjadi satu dengan kantor di ruang tamu. Dalam pengakuanngya sudah beberapa kali mencoba. Usaha pertamanya yaitu selepas pulang dari Amerika. Kalbe Farma sendiri terbangun dalam keserba kebetulan. Keberuntungan jadi faktor kunci, yang tentunya diawali terlebih dahulu dengan kerja keras. Dia menjelaskan kepada Detik.com pertama kali membangun bisnis sendiri tidak lah mudah.

Pabrik garasi


Dr. Boen mengaku memulai dengan meniru produk yang sudah ada. Saat itu ada sebuah produk "booming" di jamannya dibidang kesehatan, produk itu bernama Cap Elang. Tak jelas obat macam apa itu. Tapi, dalam pengakuannya, dia membuat produk "tiruannya" seksama. Produk tersebut lantas diberinya nama Cap Beo. Kemudian disusul aneka obat- obatan lain seperti obat kina, dan obat- obat lain. Kegagalan adalah karena penjualan bukan pada racikannya loh.

Melalui Tria- Error barulah berdiri resmi sebuah perusahaan. Tepatnya 10 September 1966, Kalbe Farma berdiri di garasi itu pun setelah disemangati kakaknya. Sebelum dibangun resmi di garasi tersebut. Dr. Boen sempat patah arang karena produknya tak laku- laku. Ia mengaku sempat berpikir untuk pindah ke Belanda. Akan tetapi urung dilakukan karena rayuan kakaknya (yang juga dokter). Singkat cerita bersama kakaknya itu, seorang kenalan, kemudian merambat luas ke seluruh keluarga.

Bersama- sama mereka mendirikan Kalbe Farma di garasi rumah.

"Saya membaca banyak perusahaan lahir di garasi dan kebanyakan diantaranya sukses. Seperti Google, Hewlett Packard, Apple, semuanya dimulai di garasi," ucap Dr.Boen.

Bisinis resmi pertama perusahaan adalah membuat obat cacing. Setelah untung, digunakan kembali untuk modal lagi, semua uang modal berputar hingga perusahaan besar. Tetapi, akhirnya jatuh, perusahaan itu tidak cukup kuat sehingga terkena dampak krisis di 1998. Kalbe akhirnya jatuh bangkrut, ia pun segera mengikuti langkah pebisnis lain; dia mengambil hutang luar negeri.

Meski berusaha, Kalbe tetap tidak senggup membayar karena rupiah terus terdefaluasi. Keberuntungan itu masih ada di belakang kehidupannya, dan ia akhrnya menjual semua aset perusahaan kecuali bisnis yang berhubungan dengan farmasi. Perusahaan akhirnya mencari solusi memulai berbagai macam bisnis seperti properti atau logistik. Kalbe Farma tetap berusaha memperkuat basisnya sembari mencari bisnis lain. 

"Kami melakukan berbagai bisnis hanya untuk bertahan. Jika kami berkonsentrasi pada satu hal, saya berpikir itu tidak baik untuk mengambil semua telur dalam satu basket." Prospek bisnisnya terlihat semakin kuat dimasa mendatang, terlihat dari neraca keuangan yang imbang, akuisisi yang cerdas, dan garakan ekspansi yang masih bersinergi dengan bisnis utama.

Dua tanda kesuksesan Kalbe Farma terlihat dipertengahan 2012. Awal tahun, Kalbe Farma mengambil alih Hale International, perusahaan minuman sehat. Hale International perlua kamu tau merupakan produsen minuman "Love Juice" sebagai selogan. Di bulan berikutnya, disekitar bulan Juni, Kalbe menyiapkan kerja sama atau join venture Milko Beverage Industry, membangun Kalbe Milko Indonesia. Kedua perusahaan menandatangani kerja sama $150 miliar untuk produk makan dan minuman berbahan dasar susu.

Ekspansi bisnis


Ekspansi PT. Kalbe Farma Tbk. tidak ada hentinya melalui dua perusahaan: Hale dan Milko. Pertumbuhan perusahaan minuman mencapai Rp.12 triliun, dimana 16% berasal dari minuman energi seperti Extra Joss, Fatigon Hydro dan Sakatonik. Yang terbaik dengan ekspansi, pernghasilan dari produk minuman meningkat ke 18%, bersumber dari jus dan minuman susus. Nilai kenaikannya sangat tinggi dimana rata- rata produk sejenis hanya 15% kenaikan berdasarkan laporan Soft Drink Industry Association (Asrim).

Bisnis utamanya, Kalbe dari bisnis farmasinya menghasilkan sekitar 26% saja dari pendapatan keseluruhan. Bisnis utamanya ini hanya menyumbang seper- empat kenaikan pendapatan sekarang. Kalbe hanya memiliki 17,4% produksi obat generik, atau sama dengan pasaingnya Indorama yang menghasilkan 17,6%. Selain produk farmasi dan minuman sahat, sekitar 20% berasal dari produk nutrisi. Produknya fokus pada berbagai susu formula, susu anak- anak dan susu remaja; seperti Prenagen, Morinaga, Entrasol, dan Diabetasol.

Kalbe sendiri memiliki market yang kuat dengan nilai kapitalis Rp.39 triliun, dan Rp.1 triliun di nilai buku dan hanya Rp.115 miliar hutang. Lebih lanjut, beberapa tahun kemudian, Dr.Boen akan fokus Kalbe diposisikan menjadi perusahaan yang mengakuisisi perusahaan sejenis dan perusahaan akan berusaha lebih lanjut.

"Kami haus untuk mendapatkan perusahaan lain dan kami mencari lebih," ucap Dr.Boen yang kini 80 tahun.

Perusahaan bergerak diluar dasar bisnis memulai berbagai bisnis lain. Kalbe fokus tidak hanya obat- obatan tetapi bisnis berbasi kesehatan. Prinsipnya bisnis mereka tetap fokus pada produk kesehatan dan kebaikan. Lainnya, Kalbe mendirikan beberapa rumah sakit, nutrisi, dan produk konsumsi. Saudaranya, Fransiscus Bing Aryanto mendirikan banyak rumah sakit dibawah bendera Mitra Keluarga Hospital.

Ia sadar dibutuhkan seseorang yang mampu meneruskan. Dr. Boen pun sudah turun dari posisinya sebagai CEO, dan digantikan oleh keponakannya,  Bernadette Ruth Irawati Setiady pada tahun 2008. Sebelumnya, posisi ini dipegang oleh Johannes Setijono yang telah menjabat direktur utama selama 10 tahun, kini bekerja sebagai president komisioner. Bernadette merupakan contoh wanita di pucuk pimpinan dan pernah bekerja sejak tahun 1987.

Artikel Terbaru Kami