Sabtu, 28 Desember 2013

5 Pengusaha Sukses Berbisnis Limbah Sampah

Daftar Pengusaha: Sukses Berbisnis Limbah



Ia tidak menyangka hidupnya akan berbalik 180 derajat, justru karena limbah sampah.

Baedowy cuma bekas pegawai merasakan betul bekerja hingga tengah malam. Hidupnya berbalik itu ketika nekat memutuskan keluar dari kantornya. Dia saat itu 25 tahun, nekat hengkang dan memulai berbagai bisnis guna bertahan hidup. Dia kemudian berbisnis botol plastik bekas. Modal awalnya hanya 50 juta, sebagian milik mitra bisnisnya.

Baedowy kemudian mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik sendiri, namun mulai ditinggalkan sang mitra. Keduanya sama- sama belum berpengalaman berbisnis. Dilain hal mesin penghancur plastiknya sering sekali rusak. Jadilah Badowy berniat menjual bisnisnya. Tak kunjung laku, dia memutuskan mengutak- atik mesinnya sendiri. Hasilnya dia malah menjadi ahli, berhasil membuat berbagai mesin pengolah sampah. Bisnisnya maju pasat bahkan mampu membeli tanah senilai satu miliar.

Singkat cerita, ia mendirikan perusahaan CV. Majestic Group, sebuah perusahaan pengolahan sampah yang bermitra sekaligus menjual mesin daur ulang. Dia tiap bulannya terhitung harus mengirimkan dua mesin ke China, sedangkan untuk olahan plastik sekitar dua kontainer tiap bulan. 

2. John Peter

John Peter baru saja naik kelas 2 SMP, ketika terpaksa keluar dari rumah berbekal seadanya. Dia hidup di tengah kota Cirebon, saat itu berumur 18 tahun. Dia selalu membawa sebuah koper kamanapun langkahnya berjalan. Sebuah keluarga TiongHoa kemudian mengangkatnya, memberikan rumah dan makan hingga lepas sekolah menangah. Di keluarga tersebut, ia belajar berbisnis secara otodidak melalui pengalaman.

Selepas sekolah, ia berniat melanjutkan ke ITB, dan diterima di jurusan ilmu kimia. Untuk itulah, John muda harus bekerja memastikan pendidikannya tetap berjalan lancar. Ditengah perjalanan, ia juga aktif kegiatan pelayanan di geraja menemukan sesuatu. Dia sadar bahwa pemulung berpenghasilan menjanjikan. Berbekal tekat, meski buta akan menejeman bisnis, dirinya memulai bisnis sampah menjualnya ke pengepul. Waktu berlalu, ia telah memiliki beberapa pemulung dibawah naungannya; meraka bekerja sama.

Paling menarik ketika John rela tinggal satu atap, bersama- sama mencari uang dari ditumpukan sampah. Hingga bisnis tersebut mulai tumbuh dimana sebuah mesin pengolah telah terbeli. Dia membeli mesin karena tertarik melihat harga biji plastik lebih mahal. Dimana harga biji plastik bisa senilai Rp. 8.500 per- kg sedangkan berbentuk mentah hanya Rp.400 saja. Dia juga tak lagi menjual sampahnya ke bandar lain. Dari 18 juta per- bulan, bisnis itu tumbuh senilai Rp.800 juta- Rp.1 miliar per- bulan.

3. Indra "Novint" Noviansyah

Lajang 24 tahun ini dikenal akan keuletannya berbisnis sampah. Pembuktianya yaitu mampu mendirikan satu bisnis mandiri, yaitu bisnis sampah plastik, sendiri. Putra asli Pontianak merantau hingga ke kota Jakarta. Di sana selain berkuliah dirinya juga bermitra membangun bisnis sampah plastik. Berbekal semangat ia tertarik memboyong bisnis ini hingga ke Pontianak. Melalui jalan kapal laut, dibawalah mesin berat seharga ratusan juta itu dari Jakarta ke Pontianak.

Guna meningkatkan kesadaran akan nilai sampah plastik, dia bekerja sama membangun bank sampah, selain itu juga bisa dapat bahan baku lebih murah. Dia menempatkan tong- tong sampah khusus tanpa perantara pengepul, juga aktif berkeliling memberi suluhan serta membeli sampah mereka langsung. Novint tidak hanya bekerja sama dengan masyarakat umum, tetapi hingga level pelajar, meski berlomba dengan para pengumpul sampah berat dirasanya.

4.Achmad Iskandar

Ide awalnya ketika dirinya mengikuti pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya Juli 2008, ia tengah berkeliling menikmati produk- produk daur ulang sampah plastik. Dia terpikir kenapa semua hasil produknya selalu berbentuk konvensional seperti taplak, tas plastik, hingga produk lain yang sudah sering dilihat. Iskandar yang pernah menggeluti bisnis tanaman hias terbersit dipikirannya untuk membuat sesuatu yang berbeda.

Idenya adalah menciptakan vas bunga dengan plastik hasil daur ulang. Dia mencoba berbagai cara. Yang terakhir, Iskandar menggunakan sebuah wajan guna memasak sampah- sampah plastik tersebut. Setelah matang, ia akan menuangkannya ke sebuah cetakan. Dari sinilah sebuah vas unik berbahan plastik tercipta. Ia menjual produknya masih di kawasan Kalimantan Timur. Tiap vasnya diberi harga bekisar Rp.25.000 per- buah, dan sudah bermotif.

Dia juga menemukan Marmo, batu tiruan yang bisa digunakan di lantai atau dinding. Marmo kemudian dia jual seharga 140.000 per- meter persegi. Dia mengaku membeli bahan baku sekitar Rp.500 per- kilogram, sedangkan satu vas beratnya 1 kg. Artinya, ia mampu mengantongi laba bersih Rp.24.500 per- kg plastik. Dia juga sudah mempatenkan teknik pembuatan vas plastik daur ulangnya.

5. FX Harso Susanto

Bisnisnya berbicara tentang kerajinan tangan. Dia tidak hanya mengolah sampah, tetapi merubahnya menjadi aneka furnitur dan aksesoris. Namanya FX Harso Susanto, seorang seniman asal Yogyakarta yang merubah cara pandang tentang bisnis daur ulang. Cara pembuatan produknya mudah, ia cukup mengumpulkan koran bekas kemudian mencampurnya dengan lem kanji. Dia memulai dengan memilin- milin kertas itu kemudian mulai membentuk betuknya.

Furnitur itu dibuat 100% berbahan kertas koran. Kendati berbahan kertas, furnitur itu bisa menahan beban hingga 200 kilogram. Bicara harga produk tersebut dibandrol Rp.8.000- Rp.300.000. Pemasarannya melalui berbagai cara, terutama media online di berbagai situs jejaring sosial. Untuk sekarang ia mengaku mampu membuat 50 jenis. "Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong ini

Artikel Terbaru Kami