Selasa, 10 Desember 2013

5 Pengusaha Muda Sukses Indonesia Dibawah 20 Tahun

Mengenal Pengusaha Muda Indonesia





Pemuda kelahiran Jakarta, 23 April 1993, sudah memiliki bakat berbisnis semenjak masih kecil. Dia adalah pebisnis bertipe ulet dan tak takut rugi. Baginya kegagalan adalah hal biasa, seperti ketika ia berbisnis pin bergambar. Dimana ia tak sengaja merusakan alatnya ketika sedang mengerjakan produknya. Kamu tau itu harganya mahal loh. Titik baliknya yakni ketika aktif mengikuti sebuah seminar, bermodal nekat dan optimis, ia meminta kedua orang tuanya memberikan modal hingga Rp.75 juta.

Dia membeli sebuah bisnis yang telah berjalan cukup lama. Hamzah membeli franchise bimbingan belajar serta hak miliknya seharga Rp.175 juta. Hanya bermodal 75 juta, ia meyakinkan si empunya bisnis untuk membayarnya secara menicicil. Disisi lain, uang tersebut merupakan milik orang tuanya yang seharusnya untuk dibelikan mobil. Sekarang bisnis miliknya berkembang pesat beromset Rp.360 juta/semester. Ia tidak hanya membelikam orang tuanya mobil baru tetapi membuka bisnis lain; bisnis sofa bed.


Tak banyak cerita tentangnya, tetapi anak muda yang satu ini sudah memiliki banyak bisnis sejak awal. Tidak seperti Hamzah, ia mendapati dirinya pernah ditipu tetapi berkat kerja kerasnya kembali bangkit segera, dan dia adalah tipe yang berhitung cermat serta mampu berbisnis banyak hal. Dia juga paham investasi saham. membuatnya lebih menonjol lagi. Dia pernah bekerja menjadi sales perusahaan importir diumur 16 tahun dan mendapatkan penghargaan Top New Sales 2010.

Dia pernah mendapatkan omset penjualan 95 juta dalam satu bulan. Berjalan waktu, Darian memiliki saham 25% PT. Trijaya Mekar Mandiri, sebuah perusahaan peralatan rumah tangga. Ia juga memiliki merek dagang sendiri yaitu produk cairan pembersih kamar mandi. Lentas ditambah menjadi distributor produk Stick Jelly Food dan jahe merah instant Cap Cangkir Mas. Terkhir, ia sukses mendirikan organisasi Komunitas Bisnis Anak Muda, dimana ia menjadi foundernya, membahas aneka hal sekitar bisnis anak muda.


Farah Farce masih 17 tahun ketika dirinya membuka bisnis produk original impor sendiri. Dia memasarkan produknya melalui situs pribadi dan media sosial miliknya. Farah mengaku rahasia suksesnya adalah sifatnya yang mudah bergaul. Ia berkenalan dengan penulis "the Power of Kepepet", Jaya Setiabudi. Dia menjadi mentor sekaligus membuat bisnisnya melejit tinggi. Ia kemudian menjadi agen penjualan produk- produk dari luar negeri seperti China, Thailand, Singapura, Inggris dan Vietnam.

Farah bahkan memiliki brand miliknya sendiri yaitu Farce. Apakah yang membedakannya dari Darian atau Hamzah, pertama, adalah karena pergaulannya yang luas, punya cita rasa fashion, dan mampu mendesain apa produknya sendiri.

4. Valentina Meiliyana

Berbeda dengan Farah, Valentina Meiliyana, hanya berfokus pada penjualan produk karyanya sendiri. Ia sudah dikenal berbakat sejak kecil. Sejak 2008, Velentina telah fokus mengembangkan desainnya dibantu oleh penjahit terbaik lulusan sekolah mode, Inti Mode. Dia memberi nama mereknya yaitu Selkius Maxwell, yang produk andalanya Valentina Meiliyana Shoes. Dia tidak hanya menjual sepatu pesanan (custom), tetapi juga berbagai pakaian jadi.

Ia mengaku hanya belajar secara otodidak dari majalah dan televisi. Dia pernah dilibatkan sebagai perancang sepatu saat peragaan busana kelulusan sekolah mode, La Selle Graduation Show 2011. Omset perbulannya dari Rp.45 juta hingga Rp.50 juta. Farah dan Valentina punya satu kesamaan yakni sama- sama tertarik di dunia fashion. Yang membedakannya, ketika Farah belajar impor juga, Valentina fokus pada pengembangan produk sendiri baru soal penjualan.

5. Yasa Singgih

Pengusaha muda satu ini punya cerita lucu. Dia menjual produk yang hanya dibuat satu malam yaitu kaos oblong bergambar Bung Karno. Parahnya, Yasa bukannya mmbuat desain melalui Photoshop tetapi malah memilih Microsoft Word. Beda dengan Farah dan Valentina, Yasa sama sekali tak punya kemampuan mendesain sendiri, namun dia tau prospek bisnis fashion. Tak ayal satu bulan berjualan, ia hanya menjual dua kaos dan kaos yang kedua dibeli sang Ibu lantaran kasihan.

Terdorong buku berjudul "the Power of Kepepet", ia pun pergi ke pasar Tanah Abang. Bermodal 4 juta, ia membeli selusin pakaian jadi dan bingung harus diapakan. Beda dengan Farah, ia mengambil pasar yang dekat dengannya, asumsinya adalah bisa menjual lebih murah tapi kualitas barang terjamin. Yasa sendiri cukup percaya diri dalam hal memilih produk. Di rumah, ia terkejut sendiri atas ulahnya, semakin kepepet semakin menjadi.

Dia akhirnya berhasil menjual semuanya karena tak mau rugi dan akhirnya balik modal. Dari bisnis gila ini, ia kemudian berbisnis sendiri yaitu bisnis tempat nongkrong bernama "In Teh Kopi". Lainnya, ia membuka toko online bernama "Men's Republic", bisnis pakaian yang berfokus pada pria. Soal desain Yasa, jika penulis lihat, tak terlalu mengambil pusing. Fokusnya ada brand awareness ditambah kemampuannya untuk melihat paluang.

Artikel Terbaru Kami