Jumat, 29 November 2013

Sabun Cuci Wings Rajanya Sabun Ekonomi

Biografi Pengusaha Harjo Sutanto



Tahun 1948, ada dua orang sehabat memulai bisnisnya dengan bahan terbatas membuat sabun di belakang rumah. Mereka membuka bengkel kecil dan membuat sabun cuci di sebuah rumah sekitar Surabaya, Jawa Timur. Johannes F.Katuari (Oen Jong Khing) dan Harjo Sutanto (Tan Siek Miauw) mulai menjual sabunya dari rumah ke rumah, warung ke warung, dan desa ke desa. Kerja keras mereka terbayar ketika sabun cuci itu terjual dan dapat diterima masyarakat.

Mereka menjual sabun batangan menjadi perusahaan serba usaha. Dari hilir dan hulu, bengkel kecil mereka berubah menjadi 70 perusahaan berbeda mebawahi pabrik- pabrik kimia besar. Bisnisnya meliputi berbagai kebutuhan rumah tangga, pembersih toilet, kimia dasar, makanan dan minuman, perdagangan, properti, dan perbankan. Pasar ekspornya mencapai 60 negara, sementara tenaga kerjanya mencapai 12 ribu lebih. Meski banyak bisnis dikembangkan, basis usaha mereka masih sama yaitu kebutuhan rumah tangga.

Harjo Sutanto meski sedikit informasi bagaimana pribadinya. Ia merupakan contoh hidup apa yang disebut kerja keras. Kehidupannya terkait erat dengan Johannes F. Katuari, dia bisa dibilang merupakan co- founder Wings. Kedua pengusaha mulai memproduksi sabun krim yang cepat diterima masyarakat di Jawa Timur. Sabun krim merupakan produk pelopor dimana tidak ada produk sejenis di pasaran. Produk ini memiliki kekuatan mencuci sama dengan sabun diterjen tetapi memiliki harga yang lebih murah.

Semuanya disebabkan rendahnya biaya produksi. Produk tersebut digemari seketika dan menjadi terkenal di seluruh Jawa pada umumnya. Kepopuleren sabun krim akhirnya tersebar di seluruh Indonesia. Sejak tahun 1971, sebenarnya bisnis keduanya sudahlah sangatlah maju tetapi hingga tahun 80'an nama mereka baru dikenal. Titik balik terjadi ketika di Januari 1991, perusahaan merubah nama mereka dari Fa Wings menjadi PT. Wings Surya.

Setalah itu, bisnisnya tidak hanya di bisnis sabun tetapi terus merambah bisnis lain menjadikan Wings menjadi perusahaan satu grup. Meski telah banyak bisnis telah dijalankan, Wings tetap berbasis bisnis rumahan yaitu memproduksi kebutuhan toilet, cuci pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya. Ini merupakan bisnis besar dimana produknya selalu laris dan memiliki batas penggunaan. Meski terjadi krisis moneter, selama Wings ada di dalam hati masyarakat maka bisnis perusahaan akan selalu untung.

Persaingan Bisnis


Di awal, Wings bergerak mengikuti pesaingnya Unilever dalam berbagai hal. Kemanapun, Wings akan selalu ada menjadi bayangan produk milik mereka itu. Diterjen Rinso dibayangi oleh produk So Klin dan Surf ditempel oleh Daia, pasta gigi Close- Up diikuti Smile- Up, sebun kecantikan Luv ditantang Giv, sabun kesehatan Lifebuoy dicegat Nuvo, dan terkahir sampo Clear diserang Zinc. Tidak hanya kesamaan konsep, didalam kandungan tak jarang memiliki kesamaan; meskipun begitu Wings selalu lebih murah.

Tak jarang banyak orang yang sadar akan hal ini akan memandang remeh Wings. Tetapi, perusahaan tidak cuma hanya mengandalkan konsep bisnis seperti hal ini. Wings tidak hanya mengandalkan harga murah tetapi terus berinovasi. Mereka menggunakan strategi bernama 4N ala Wings sendiri: Niteni (mengamati), Nitili (menganalisa), Nirokke (mencontoh), dan Nambahi (memberi nilai tambah). Melalui sumber terpercaya, pakar kimia ikut bekerja di proses pembuatan produk.

Wings mempekerjakan mereka untuk memecahkan kode kimia dari produk lain. Mereka akan menciptakan produk yang akan disukai masyarakat dan memiliki nilai lebih baik. Ini terbukti seperti produk Daia yang mengungguli Surf, sementara So Klin Softener mempecundangi Soft&Fresh (Johnson&Johnson), pelopor pelembut pakaian. Di produk sabun krim, Wings tetap menjadi raja melalui sabun Wings Biru dan Ekonomi. Meski Unilever membuat produk sejenis yaitu sabun Omo; itu sama sekali tidak berhasil.

Keluarga Harjo Sutanto


Sutanto dikaruniai empat orang anak, yaitu Hanny Sutanto, Fifi Sutanto, Handoyo Sutanto, dan juga Yenny Lillian Sutanto. Semuanya berasal dari perkawinannya dengan istrinya Yenny Lilian. Keluarga mereka dikenal sebagai keluarga randah hati walaupun kaya raya. Bicara tentang keluarga, maka tak ayal mereka juga ikut mendulang keberhasilannya. Anggota keluarga juga ikut dalam kerajaan bisnis miliknya. Tepatnya, kedua pendiri Wings, Harjo Sutanto dan Johannes F. Katuari, sama- sama melibatkan anggota keluarga.

Mereka ikut dalam pengurusan Wings Group. Misalnya, beberapa keponakan Sutanto, diantaranya Hendrik Tanojo, Alex Ivan Tanojo, Suzanna Tanojo, dan Lusi Tanojo, dan adalah putra putri Wakijo Tanojo, yang juga kakak dari istri Johannes sendiri, Lanny Hartati (adik Harjo Sutanto). Posisinya ini membuatnya sering diduga sebagai salah satu pendiri Wings. Bentuk kertelibatan mereka memang tidak begitu terlihat didepan masyarakat.

Sedikit dari mereka, salah satu keluarganya Teddy J. Katuari menjadi president komisaris Bank Ekonomi, Hendrik Tanojo menjadi direktur utama Bank Ekonomi. Fifi Sutanto mengendalikan Ecogreen, dan Ivan Tanojo menjadi salah satu direktur pemasaran perusahaan dibawah Wings Group. William yang merupakan putra Johannes F. Katuari menyebut bisnis keluarga mengedepankan dialog. Dia yang pernah belajar bisnis di Jepang, berbicara tentang kerja tim.

Dia berkata "Di sana (Jepang), kalau melakukan sesuatu, dibicarakan berhari- hari, dan membutuhkan jadwal, membahas semua dengan duduk bersama."

Tidak berbeda dengan keluarga Johannes F. Katuari, kaluarga Tanoto juga melakukan hal yang sama. Tidak peduli siapa atau anak siapa itu, mereka bekerja sama membangun dan mempertahankan bisnis. Menurut laporan majalah Forbes, Harjo Sutanto tercatat memiliki kekayaan $1,14 juta dan merupakan orang terkaya nomor 27 di Indonesia. Meski dalam catatan nama Harjo Sutanto ada pada puncak. Kenyataanya sosoknya tak bisa jauh dari Johannes F. Katuari.

Artikel Terbaru Kami