Senin, 09 Februari 2015

Resep Abon Membawa Berkah 25 Juta Rupiah


Usia bukan kendala bagi pengusaha mengembangkan bisnisnya hingga level nasional. Ini berlaku bagi Johan Yuniarto, pria kelahiran Bandung yang tak muda lagi memilih berbisnis abon. Dia yang telah pensiun merasa perlu mengisi hari- harinya dan berbisnis merupakan jalan. Berawal kesempatan, ia melihat bisnis makanan begitu berkembang di Bandung. Dia yakin abon buatannya akan diterima pasaran.

Pasalnya, ia membuat abon yang berbeda memiliki cita rasa khas. Johan mengambil bahan bahan dari laut daripada abon sapi. Abonnya diolah dari bahan baku unggulan seperti ikan hiu, tuna, kakap, salem, dan ikan krapu. Dia menuturkan lantaran ini pula harga abon miliknya mencapai Rp.20.000- Rp.25.000. Masih bisa dibilang murah, Johan berseloroh itu karena abonnya mampu meningkatkan kecerdasan otak.

"Kalau abon harganya Rp.20.000 itu untuk bahan bakunya ikan air tawar, tapi untuk yang Rp.25.000 terbuat dari ikan laut," tuturnya.

Dia menambahkan usahanya dimulai sejak 2009 silam masih berorientasi usaha kecil. Dia mengerjakan semuanya bersama keluarga di Jl. Keadilan II No.33 Bandung. Dalam waktu dekat, Johan berjanji akan membuka cabang baru di beberapa tempat. 

Bisnis menjanjikan


Johan menawarkan beragam rasa dan semunya merupakan hasil dedikasi. Ia membuat resepnya sendiri melalui berbagai percobaan panjang. Dia bahkan mengorbankan keluarganya mencicipi resepnya. Akhirnya berhasil, resep abonnya lahir setalah 3 bulan masa percobaan kemudia disusul sample yang siap dipasarkan.

Ia yakin betul sukses suatu produk berdasarkan keunikannya. Ditambah, abonnya selalu menggunakan bahan- bahan terbaik. Johan telah lama mengamati di Jawa Barat khususnya, jarang ditemukan pembuatan produk abon ikan. Bermodal 4 juta rupiah, ia yakin bisnisnya akan berhasil membawanya menjadi pengusaha sukses di 2009.

"Saya survei ke supermarket di Bandung jarang ditemukan abon ikan semacam ini. Kalau ada, paling hanya sedikit, itupun diproduksi diluar Bandung; seperti Cirebon dan Subang. Itupun masih sebatas abon nila, belum bentuk variasi," ujar dia berbincang di Liputan6.com.

Menurutnya bagian tersulit hanya bagaimana memastikan bahan- bahannya. Dia berbicara bagaimana cara memilih ikan, mencuci, dan memisahkan daging dari duri. Rumah Abon, nama usahnya, mengambil ikan di daerah sekitar Bandung untuk ikan air tawar. Ikan air laut, ia mengambil dari Pangandaran, Indramayu, dan Cirebon. Produk abonnya meliputi abon ikan air laut, seperti abon hiu, tuna, kakap, salem, dan kerapu.

Sedangkan abon ikan air tawar, meliputi abon ikan nila, gurame, gabus, lele dan belut. Sebagai catatan tambahan, bisnis abon akan menurun penjualannya di masa masuk sekolah. Ibu- ibu akan memilih belanja keperluan sekolah daripada membeli abon. Di lain waktu, seperti Ramadhan, ia mengaku permintaan meningkan jauh disebabkan kepraktisan abon. Ibu- ibu dengan mudahnya membeli, menyimpan, kemudia memakannya ketika berbuka atau sahur.

Dalam sebulan, Rumah Abon menghasilkan 1 kuintal abon atau sekitar 1000 box pesanan. Satu box akan dijual untuk Rp.25.000. Kini omset rumah abon sendiri mencapai Rp.25 juta per- bulan. Johan memiliki 2 karyawan, dan beberapa anggota keluarga yang ikut masuk di bisnisnya. Ia menempatkan mereka ditiap cabang membuat bisnis keluarga semakin luas.

Untuk terus laris, Johan Yuniarto selalu mengembangkan cara baru bisnisnya. Dimulai dari pemasaran dimana ia menyerahkan semuanya melalui penjualan online. Dari segi produksi, ia membuka cabang baru sedangkan disegi produk; Johan tak segan mencoba resep baru lagi. Ia bahkan menemukan resep baru yaitu abon kremes. Apa itu? abon ikan yang merupakan gabungan ikan dan irian kentang halus yang digoreng kering.

"Kalau keuntungan sih cukup lumayan, apalagi saat ini produk kami dipromosikan hingga ke Mekah. Kami juga membuka kesempatan menjadi reseller," ujarnya. Ia juga menambahkan saat ini bisnsnya menghasilkan omset sekitar 25 juta rupiah. Nilai yang sangat besar bagi seorang pensiunan yang tidak mungkin lagi bekerja sebagai pegawai.

Artikel Terbaru Kami