Sabtu, 30 November 2013

PT Indofood Inovasi Rasanya Nendang Triliunan

Biografi Pengusaha Anthony Salim 



Anthony Salim atau Liem Hong Sien, putra Sudono Salim sekaligus generasi kedua kepemimpinan bisnis di Salim Group. Kelahiran 25 Oktober 1949, Anthony lahir di keluarga mapan dan berhasil menyelamatkan perusahaan dari dampak krisis ekonomi 1998. Sebelum kriris 1998, Salim Group diperkirakan memiliki aset mencapai $10 milyar (Rp.100 triliun) Bank Central Asia (BCA), miliknya di rush sehingga berhutang Rp.52 triliun. Ia berhasil melunasi semua hutang dengan menjual aset perusahaan.

Dia menjual beberapa perusahaan yang dimilikinya seperti PT. Indocement Tunggal Perkasa, PT. BCA, dan PT. Indomobil Sukses International. Dia menyisakan beberapa aset utama termasuk PT. Indofood Sukses Makmur, dan PT. Bogasari Flour Mills. Tujuannya satu yakni mempertahankan bisnis agar jalan perputaran uangnya tetap.

Keduanya merupakan satu kesatuan yaitu menghasilkan produk tepung terigu dan mie instant. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mengembakan bisnis keduanya menciptakan berbagai inovasi. Selain produk mie instant legendaris seperti Indomie, Supermi, dan Sarimi, perusahaan Indofood menciptakan berbagai varian rasa dan ukuran. Produknya ditunjang kenyataan bahwa mereka adalah pelopor mie instant membuat produknya mengakar kuat.

Produk lainnya yakni meliputi susu Indomilk, tepung Bogasari Segitiga Biru, Kunci Mas, dan Cakra Kembar. Selain produk tersebut, Salim Group juga memproduksi minyak goreng Bimoli dan mentega Simas Palmia. Di 2009, PT. Indofood pernah mencatat laba bersih mencapai 2 triliun rupiah. Nilainya bahkan lebih besar dari era sebelumnya. Selain itu, pada tahun 2009, harga komoditas sedang bergejolak sehingga keuntungan perusahaan benar- benar mengagumkan.

"Kami senang meski harga harga komoditas terus bergejolak, namun kami berhasil mencapai laba tertinggi," ujar Anthony dalam laporan keuangan di 2009. Model bisninya yang mengikuti agro bisnis dan non- agro bisnis membuat perusahaanya tetap bertahan diperiode krisis keuangan. Di masa krisis, Bogasari menjadi perusahaan yang paling menderita kerugian karena harga tepung naik. Sementara itu, ia juga memiliki kiat tersendiri guna menutupi nilai kerugian.

Dia lantas memfokuskan infestasi pada produk- produk yang telah memiliki merek. "Kami fokuskan program komunikasi menyeluruh untuk meningkatkan awareness konsumen guna menjaga loyalitas," ucapnya. Dia juga meluncurkan produk- produk baru yang dipastikan mampu menembus pasar lokal. Ia mengembangkan dua varian mie gelas yang diluncurkan tahun 2009. Indofood pun giat menembus pasar desa berkonsep "Raja Desa" mencoba mengambil hati masyarakat bawah.

Putra dari Liem Sioe Liong ini terus berkomitmen untuk berekspansi dengan terus berinovasi. Ia pun milirik kerja sama dengan Nestle S.A. Kedua belah pihak bersepakat membangun PT. Nestle Indofood Citra Rasa, perusahaan yang menyedot dana sampai Rp.50 miliar. Keduanya sama- sama menyetor dana senilai 50% di tiap perusahaan.

"Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan," ujar Anthony. Ia percaya akan reputasi kedua perusahaan ini mampu mendongkrak nilai bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan baru ini bergerak dibidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan distribusi produk kuliner.

Ke dapannya, Indofood akan memberikan lisensi produk kuliner kepada Nestle- Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan proses produksi biaya rendah, jangkauan yang sangat luas, dan kecepatan menjangkau masyarakat melalui anak perusahaan; PT. Indosentra Pelangi sebagai pemain utama di bumbu masakan. Anthony melihat perusahaanya sebagai kapal dengan 50.000 karyawan. Ia percaya akan komunikasi yang baik antar karyawan agar perusahaan fokus melihat pasar.

Katanya, sebenarnya bisnis yang dijalankan begitu banyak tetapi tidak pernah terlihat oleh media. "Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis," ucapnya. Majalah Globe Indonesia menyatakan Anthony Salim menjadi orang terkaya dibawah Budi Hartono (Grup Djarum) dan Eka Tjipta Widjaja (Grup Sinar Mas). Anthony memiliki harta senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun.

Artikel Terbaru Kami