Minggu, 03 November 2013

Bisnis Rokok Kretek Djarum Triliunan

Biografi Pengusaha Robert Budi Hartono



Robert Budi Hartono ternyata kelahiran Kudus, Semarang, tanggal 18 April 1941, Robert Budi Hartono atau yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong, merupakan anak kedua pendiri perusahaan Djarum Oie Wie Gwan. Perusahaan yang sebelumnya bernama Djarum Gramophon, sebuah usaha kecil dibeli oleh ayahnya di 1951. Selain bisnis Djarum, bersama kakaknya, Michael Bambang Hartono, tercatat memiliki saham lima puluh persen di Bank BCA.

Selain itu, mereka juga memiliki 65.000 hektar perkebunan sawit di Kalimantan. Ia dan kakaknya, Michael Hartono telah memulai semuanya di bisnis keluarga. Robert di usia 20 tahun menerima warisan sang ayah. Kedua bersaudara bahu membahu membangun kerajaan bisnis hingga sekarang. Mereka mendapatkan warisan walau tidak sempurna berjalanan. Bisnis mengalami cobaan di awal, keduanya menerima bisnis tersebut ketika pabriknya mengalami kebakaran.

Ayahnya menginggal di tahun 1960- an, tak lama setelah kebakaran di pabrik Djarum. Kala itu, Robert harus menghadapai prasangka masyarakat atas orang keterunan Tionghoa. Ia dan kakaknya akhirnya tak ragu untuk melepaskan pendidikannya di Universitas Diponegoro. Mereka memutuskan menghadapi segala hal prasangka bermodal bisnis keluarga. Dengan semangat pantang menyerah, kedua bersaudara memilih fokus mengembangkan bisnis rokoknya.

Mereka bahkan mendatangkan para teknisi asing demi memberi pelatihan pekerja di Djarum. Hasilnya, keduanya menyelamatkan bisnis keluarga tersebut. Mereka menjadikan Djarum fokus tidak hanya membuat tapi meriset pasar. Djarum mulai melirik pangsa pasar dunia terutama di kawasan Amerika. Tercatat Djarum menghasilkan 48 milyar per- tahun atau 20% rokok di pasaran. Pertumbuhan seperti ini membuat perusahaan mudah melakukan ekspansi bisnis lain.

Pabriknya mulai mengadaptasi mesin rokok putih memproduksi rokok kretek. Djarum juga mengadopsi pembukuan modern, lalu memperbaiki manajeman. Sejak 1972, mereka bahkan mengembangkan merek merek khusus dijual ke luar negeri. Hasilnya mereka mulai memasarkan andalan merek Djarum Super diluncurkan di 1984. Enam tahun dilalui, Djarum telah menguasai 31% pasar rokok nasional atau menjadi perusahaan rokok kretek nomor 1 di Indonesia.

Keberhasilan tersebut tampaknya tidak membuat kemitraan mereka terpecah. Keduanya semakin solit dalam berbisnis dan berinvestasi. Tercatat jika ada nama Robert Budi Hartono maka disana akan ada biogafi sang kakak, Michael Bambang Hartono.

Ekspansi bisnis


Grup Djarum dikenal menguasai bisnis di bidang lain seperti perbankan dan juga media. Melalui kepemilikan saham mayoritas, Grup Djarum menguasai BCA, tepatnya di tahun 2008, Grup Djarum telah menguasai 51 persen yang berarti saham mayoritas. PT. Bank Central Asia menurut Bank Indonesia memiliki aset sebesar 1,3 triliyun.. Dia dan sang adik melalui Farindo Holding Ltd. yang dibeli melalui Alaerkan, membeli saham BCA senilai 51% tersebut.

Keduanya memiliki saham atas Farindo 92, 18 % salain perusahaan asing Amerika, Farallon dengan nilai saham sekarang 7, 82 %. Sebelumnya, Alaerkan hanya pemilik 9, 36% sedangkan Farallon pemilik saham mayoritas 90, 64%. Berubahnya komposisi saham, ini membuat sacara langsung Alaerka lah pemilik saham mayortias Farindo manjadi penguasa BCA.

Farindo sendiri merupakan perusahaan investasi berpusat di Mauritius. Selain BCA, Grup Djarum juga aktif melakukan bisnis lain tapi serupa. Perusahaan memiliki dua buah bank tepatnya yakni Bank Haga dan Bank Hagakita. Di 13 Juli 2006, keduanya resmi dijual ke Rabbobank Group yang berpusat di Belanda. Bank Haga dan Hagakita memiliki total aset 3, 97 triliun per- 31 Desember 2005. Keduanya memiliki 78 kantor cabang terbagi di Jawa Tengah, Bali Sumatra, dan total karyawan 1.537.

Grup Djarum memilih fokus di BCA melalui modal kapitalis Rp.61,665 triliun.

Lainnya, Grup Djarum masuk ke bisnis properti melalui Grand Indonesia sedangkan elektronik melalui merek terkenalnya Polytron. Grand Indonesia merupakan kawasan bisnis mewah tepat di jantung ibu kota, kawasan Hotel Indonesia, Djakarta. Djarum menggabungkan fungsi pusat belanja, perkantoran, apartment, dan hotel sekaligus. Untuk kawasan belanja dikutip website Grand Indonesia, mereka menawarkan pusat belanja 250 ribu per segi delapan lantai.

Sedangkan Hotel, Djarum memilih mendesain ulang Hotel Indonesia yang sudah ada sejak 1960. Hotel yang dulunya bernama Hotel Indonesia Kempinski oleh Kempinski Group, memiliki 280 kamar yang berstandar Internasional. Hotel yang dikenal setara  The Raffles Singapura dan The Oriental Bangkok. Yang tak kalah penting, menara BCA yang sejajar pusat belanja Grand Indonesia. Salah satu menara tertinggi di Jakarta dengan total lantai 11 ditambah ruang fitnes.

Sektor lainnya, Group Djarum memilih dunia Internet dengan memulai bisnis online. Malalui Global Digital Prima Venture, Rebert dan kakakanya melalui Kaskus mencoba menjajaki kerja sama. Ada sedikit kontrofersi, apakah Kaskus dibeli Djarum, tetapi Ken Dean Lawadinata salaku CEO menolak sebutan akuisisi. Di pihak lain, founder Kaskus, Andrew Darwis mengaku hanya berbagi pertnership dengan keuntungan share knowledge dan funding. 

Robert Budi Hartono sangat menyukai olah raga terutama bulu tangkis. Ia memulai dari sekedar hobi hingga perkumpulan bulutangkis (PB) Djarum terbentuk 1969. Di lapangan melinting kretek, Robert menemukan talenta dari seorang Liem Swie King. Dia benar- benar mampu melihat sesuatu dari anak tersebut hingga dikenal sebagai "King Smash".

Artikel Terbaru Kami