Senin, 21 Oktober 2013

Sekolah Internasional Stella Maris STEMA

Profil Pengusaha Pierre Sanjaya 



Bisnis pendidikan adalah bisnis menjanjikan. Salah satu pengusaha muda berhasil memulai bisnis pendidikan adalah, Pierre Sanjaya, seorang pengusaha pendidikan sukses pemilik Stella Maris; sekolah yang bertaraf international. Semuanya berawal dari ibunya yang prihatin kehidupan pendidikan anak- anak yatim, memilih membuka sekolah sendiri. Cita- cita mulia ibunya berhasil membawa nama Stella Maris bersinar. 

Apa itu sekolah Stella Maris? Stella Maris merupakan jaringan sekolah yang mengelola TK (taman kanak- kanak) hingga sekolah menengah atas (SMA). Cikal bakal Stella Maris adalah lembaga yatim piatu Padang Gembala. Sekarang, Stella Maris dibawah kepemimpinan Pierre Sanjaya telah memiliki dua sekolah sendiri hingga dua sekolah waralaba. Di tahun 2010 saja, sekolah yang didirikan Pierre berhasil menghasilkan omset hingga Rp.100 miliar.

Bisnis pendidikan


Seperti Purdi E Chandra, nama Pierre Sanjaya memang menempati tempat khusus. Pasalnya dia merupakan pengembang bisnis pendidikan, dimana mewaralabakan sekolah. Bukan tanpa halangan jalannya, ia harus berjuang dari bawah sekali atau memulai nol besar. Tetapi, dengan bakat alami, Pierre yang diharuskan tetap fokus di pendidikan tetap melakukan bisnis di sela- sela kesehariannya. Memang ayah dan ibunya itu adalah merupakan orang mementingkan pendidikan, terutama ibunya pelopor Stella Maris.

Selain sekolah formal, ia fokus bisnis pendidikan karakter, pendidikan karir, dan bisnis konsultan pendidikan. Dibawah naungan Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia, ia telah membantu 20 sekolah hingga 2010 -an. Dari panti asuhan Anak Gembala, sang ibu membangun Stella Maris di kawasan Serpong sekitar tahun 1995. Ia mulai dengan dua ruko; yang satu untuk umum, satu untuk anak yatim. Fokusnya kala itu hanya pendidikan TK dan SD belum menyangkup tingkatan lain.

Ketika sekolah Stella Maris dibuka pertama kali, Pierre Sanjaya masih lah bersekolah (SMA). Meski masih sekolah, ia diserahi tanggu jawab membegikan brosur dan memasang spanduk Stella Maris di pasar hingga pusat perbelanjaan."Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, respon cukup bagus. Kami mendapatkan 200 murid," kenangnya. Setelah itu, dua ruko berkembang menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko di 1999.

Jenjangnya kemudian bertambah SMA dan SMP. Disaat kuliah akuntansi di Universitas Bina Nusantara mengambil jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab keuangan dan administrasi di Stella Maris. "Saya padatkan kulai menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,"ujarnya. Anak kedua dari dua bersaudara ini ditugaskan membenahi sistem informasi agar lebih mudah dan cepat pelaporannya. Lulus kuliah di 2001, ia memilih bekerja menjadi programer sekaligus pengurus Stella Maris.

Dia melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di bank Lippo, Pierre hanya bertahan satu tahun saja, kemudian pindah di PT. Rimba Dana sebagai pegawai system analysis selama satu tahun. Setelah itu sisinya ia konsentrai ke Stella Maris total.

Modal usaha


Tahun 2004, sekolah Stella menggunakan sertifikat ISO 90001:2000. Ia melakukan studi banding hingga Singapura dan Australia. Pierre kemudian menggunakan sistem International Baccalaureate (IB) serta kurikulum Cambridge yang menitik beratkan kemampuan akademik. Sekolah Stella sudah memiliki sekitar lebih dari 2.500 siswa. Pierre sukses dengan sekolahnya siap melakukan ekspansi. Dia mencoba masuk ke raah sekolah internasional.

Bukan perkara mudah, ada dua hal mengganjal bisnisnya, pertama adalah mutu pengajar serta kurikulum. Pierre melakukan perjalanan studi ke luar negeri sebagai solusi. Selain itu, ia mencoba mengajukan kredit pengembangan. Nah, ini hal kedua yang harus dihadapi oleh seorang Pierre Sanjaya,

"Untuk membangun sekolah ini, kami membutuhkan modal puluhan miliar, aliran pendapatan tentunya tidak akan mencukupi," ujarnya, menceritakan proses panjang bisnis miliaran rupiah. Dia mencoba pinjam ke bank tapi ditolak.

Dua bank yang ditemuinya menolak proposal miliknya. Pierre pun mulai belajar lagi, mencoba mengajukan kedua kalinya. Pierre belajar macam bisnis diminati oleh bank. Hasilnya, dia mendapatkan modal dari bank swasta, melihat arus kas lancar dan jumlah murid terus bertambah. Ia juga menemukan kendala lagi, setalah uang masuk, dia harus menghadapi warga karena lahan yang dibangun di kawasan Summarcon Serpong.

"Hanya karena kesalah pahaman, mereka mendemo. Tapi syukur, bisa diatasi." ucap Pierre.

Kesuksesan membuat beberapa berharap mewaralaba sekolah Stella Maris. Di 2004, ia merasa siap mewaralabakan bisnisnya. Dia menargetkan 5 cabang melalui waralaba. Salain Stella Maris, Pierre memiliki bisnis pribadi yaitu jasa leasing sepeda motor besar, dan penjualan villa di Bali.

Artikel Terbaru Kami