Minggu, 13 Oktober 2013

Rumah Yogurt Berubah Bisnis Serius 6 Juta

Profil Pengusaha Yogurt Aditya Fajar



Aditya Fajar tidak pernah berhenti berbisnis. Pekerjaan di kantor membuatnya jenuh meski telah mencapai kedudukan yang nyaman. Dia berkerja sebagai marketing salah satu perusahaan di Jakarta. Dari bisnis, beberapa kali bangkrut, Adit tertatih bangkit berbisnis kembali. Di ujung fajar, ia mendapat hidayah berbisnis yogurt. Kisah cinta membawa Aditya Fajar, pria kelahiran Jakarta, sampai di kota Bandung, Jawa Barat, ke rumah pujaan hatinya.

Dia menemukan ide bisnis tersebut disini, ketika telah membina rumah tangga sendiri. Dia yang pindah dari Jakarta ke Bandung, lantas memilih berbisnis sendiri.

"Sekitar 2008, pasca pernikahan, saya memulai bisnis ini," kenangnya

Awalnya hanya ingin memberdayakan ibu- ibu di sekitar rumahnya saja. Dia cuma berpikir daripada mereka sibuk hanya menonton sinetron pikirnya. Namun bukan perkara mudah, Adit memulai tanpa tau seluk beluk cara pembuatan yogurt. Dia hanya berharap melalui pelatihan- pelatihan mandiri. "Saya kursus membuat yogurt 1,5 tahun dari teman saya, orang perancis. Memang tidak mudah, saya pun awalnya sering mengalami kegagalan," ujarnya berkisah.

Membuat yogurt tidak bolah sembarang atau akan berubah menjadi racun. Bisnis ini merupakan bisnis sehat butuh kemahiran khusus di setiap prosesnya. Adit merasakan sendiri susahnya menyiapkan bisnis barunya ini. Saat itu, yogurt buatanya diberi nama delicieux dipasarkan melalui sistem bagi hasil. Pelan tapi pasti bisnisnya mulai bangkit.

Peminat yogurt miliknya mulai bertambah, tak mau lekas puas; Adit beserta istrinya, Tarie, membuka kedai kecil khusus menjual yogurt produksinya. Namun tidak selalu nasib baik, usahnya mengalami kebangkrutan. Apa salahnya? Adit berkesimpulan bisnis miliknya tidak menutupi biaya operasional. Konsep bisnis bagi hasil tersebut kurang mendapatkan sokongan.

"Tahun 2009, saya dan istri akhirnya pindah ke Jakarta. Bukan hanya itu, saya pun membawa pindah bisnis itu ke Jakarta dengan nama baru Rumah Yogurt," ucapnya

Kegagalan membuatnya belajar banyak bagaimana memperbaiki semua tentang bisnisnya. Hingga akhirnya, cahaya sukses itu datang menghampiri. Dia memutuskan keluar dari kerja, memilih fokus hanya pada bisnis yogurtnya. "Saya keluar kerja berarti penghasilan nol. Saya bertekat mebangun bisnis yogurt ini dari nol lagi, waktu dan pikiran saya akan banyak habis mengurusi bisnis ini meski modal seadanya, 2 juta rupiah," ucap Adit berapi- api.

Pilihan keluar dari pekerjaan berarti tidak adanya penunjang hidup. Itu juga berarti tidak adanya pendukung dalam berbisnis. Ya, secara matematis tidak ada lagi modal selain uang 2 juta rupiah ditanganya, bahkan bila terbentur masalah lagi yah dia resmi bangkrut. Adit hanya bermodal ketekunan serta pantang menyarah membangun dari nol. Dia merasa bisa lebih fokus daripada sebelumnya. Kini, meski baru seumur jagung, bisnisnya mulai memperlihatkan arahnya. Dia berkata untungnya sudah bisa mencapai 6 jutaan.

Meski masih tergolong industri rumah tangga, tapi dia merasa uang itu bisa menutupi keputusannya. Dia merasa uang satu bulan enam juta sama dengan gajinya selama tiga bulan. Bahkan dia sambil bercanda "Bisa dikerjakan sambil tiduran," selorohnya tertawa. Pemasaran sekitar Jakarta terus ditingkatkan mengahasilkan 150 cup per- hari. Dia yakin terus berusaha mengembangkan pemasaran. Yogurt yang dijual seharga 6.000 itu sudah memanggil tidak hanya pelanggan dari Jakarta tapi juga Bandung dan Bekasi.

"Mudah- mudahan, saya bisa mengembangkan bisnis ini menjadi besar. Karena bagi saya, tidak ada pilihan selain sukses!" tutupnya

Artikel Terbaru Kami