Sabtu, 19 Oktober 2013

Perkebunan Kelapa Sawit Terbesar Garuda Mas

Biografi Orang Terkaya Sukanto Tanoto



Sukanto Tanoto lahir di Belawan, Sumatra Utara, 25 Desember 1949, memiliki nama asli Tan Kang Hoo merupakan pengusaha besar Indonesia. Dia adalah sang CEO PT. Garuda Mas Indonesia, perusahaan yang bergerak dibidang minyak sawit, plup, dan kertas. Berdasarkan Forbes, ia disebut- sebut merupakan orang terkaya nomor 418, total kekayaan mencapai $2,8 miliar.

Lahir di hari natal, di tahun 1949, Sukanto merupakan yang tertua dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah imigran berasal dari Putian, provinsi Fuji di Mainland China. Di 1966, ketika ia berusia 17 tahun, Tanoto berhenti sekolah karena sekolahnya ditutup oleh pemerintah Soharto. Ia pun memilih berbisnis setelah berhenti, bekerja keras 16 jam, kemudian masuk ke bisnis saham.

"Saya sedang belajar di sebuah sekolah Cina. Saya tidak diijinkan untuk pergi ke sekolah nasional karena orang tua saya mengadakan kewarganegaraan Cina. Saya dianggap asing. Saya tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara resmi, " kenang Tanoto.

Ia kemudian masuk ke bisnis pipa minyak sekala multinasional. Keberuntungan membawanya ke situasi yang kondusif berbisnis, ketika harga minyak naik di 1972 ketika krisis minyak. Tanoto mulai mencetak $1 juta pertamanya ketika berhasil melalui bisnis minyak. Memaksa keberuntungan, ia pun mencari modal mengembangkan bisnisnya. Tanoto menyadari bisnis kayu merupakan bisnis yang berkembang, kemudian diubah menjadi plywood.

Bisnis kayu dibawa ke negara Jepang dan Taiwan, merubahnya menjadi plywood kemudian dijual kembali ke Indonesia lebih mahal. Melihat kesempatan tapi tidak efisien, ia ingin membangun bisnis pulp di Indonesia, hanya dia butuh perijinan. Di era Suharto, itu merupakan praktek umum ketika pengusaha harus dekat para politisi. Tanoto harus dekat mereka guna mendapatkan ujin pabrik plup. Mereka meragukan ide bisnisnya memaksa agar melapor ketika pabrik jadi.

Dalam 10 bulan, Tanoto mulai membangun pabrik pulp pertama, Inti Indorayon Utama di provinsi Sumatera Utara. Ia berhasil merubah wajah Indonesia, dan membuat pemerintahan militer tersebut kagum. Semuanya berkat keputusannya agar tak idealis. Dia mendekati para politisi dimasanya itu. Di 7 Agustus 1975, Suharto datang ke pembukaan pabrik pertama di Medan. Perusahaan Pulp digagas oleh Tanoto, lalu dibeking oleh Suharto membuatnya menjadi orang terkaya di Indonesia, di 1980 -an.

Pertengahan 1970-an, ia akhirnya baru pergi ke sebuah sekolah bisnis di Jakarta. Setelah sukses dia yang tidak bermodal pendidikan formal di bidang bisnis. Merasakan pentingnya pendidikan bagi kerjaan bisnisnya. Merasa tidak puas, dia memutuskan ke luar negeri yakni belajar di INSEAD, sekolah bisnis terkemuka di Fountainbleau, Perancis.

Bakat bisnis


Sukanto Tanoto berbicara bahwa sifatnya yang mirip ibunya, sifatnya tegas dan keras membentuk dirinya. Dia mengenang bagaimana ibunya selalu tegas menegurnya. "Saya paling banyak makan rotan," kenangnya tentang sosok sang ibu. Sejak 12 tahun, ia gemar membaca buku apa saja termasuk buku revolusi Amerika dan tentang perang dunia; ia bercita- cita menjadi dokter. "Kalau dulu saya meneruskan fakultas kedokteran, saya jadi dokter."

Tapi, ketika 13 tahun, Tanoto menghadapi sulitnya hidup ketika ayahnya pergi karena strok. Ayahnya, Amin Tanoto yang juga pebisnis minyak, bensin, dan onderdil mobil. Pekerjaan yang sangat dikenal karena selalu ia lakukan sepulang sekolah, sambil sibuk belajar tentunya. Dari ayahnya pula, dia belajar bertanggung jawab mengambil alih bisnis lalu membantu ke enam adiknya. Pandai melihat peluang, ia mulai berjualan kayu lapis ketika menghilang di pasaran Singapura, membangun CV.Karya Pelita di 1973.

Tanoto kemudian memproduksi kayu lapis merubah namanya menjadi PT.Raja Garuda Mas, merubahnya menjadi CEO atau direktur utama. Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

"Strategy competition saya itu satu dua step sebelum orang mengerjakannya," ungkapnya.

Ia pun memulai Indorayon, atau PT.Inti Indorayon Utama, perusahaan bergerak dibidang penananam plup. Pabriknya menghasilakn plup, kertas, dan rayon. Perusahaan juga berhasil membawa bibit plup unggulan guna ditanam di Indonesia. Kehadiran Indorayon sempat ditolak masyarakat dan aktifis karena ditengarai mencemari danau toba. Danau diduga tercemar limbah plup, membuat Indorayon ditutup. Tanoto mengambil hikmah kesalahannya, memilih tidak mengulangi lagi.

Ia kemudian membangun lagi pabrik pulp lagi di kepulauan Riau. "Apa yang saya pelajari dari Indorayon, saya praktikan di Riau," ucapnya mengingat. Di Riau, ia membangun hutan tanaman industri dan pabrik plup terbesar di Riau, PT. Riau Plup. Bagi masyarakat, dia mengkonsep menjalankan hubungan sosial dengan lembaga swadaya masyarakat. Dia mengajarkan bagaimana berusaha; penggemukan sapi, pembuatan jalan, dan pertanian.

Tapi, sayangnya, pabrik PT. Riau Plup tidak berjalan lancar, meski sukses merebut hati masyarakata, karena adanya krisis moneter, pabrik yang mulai berdiri 1995 baru selesai di 2001.

PT. Raja Garuda Mas


Pada 1972, ia mendirikan perusahaa CV. Karya Pelita, belakangan berganti nama PT. Raja Garuda Mas. Mendalami seluk beluk kayu, dia harus terbang ke Taiwan mempelajari kayu lapis. Tak sampai enam bulan, perusahaan telah memproduksi polyplex, produk kayu lapisnya yang kemudian dijual ke Timur Tengah dan Eropa. Tanoto kemudian membangun Forindo Pte.Ltd. di Singapura mendukung pengadaan barang dan jasa pendukung perusahaany PT. Raja Garuda Mas.

Lewat PT. Bina Sarana Papan, yang kemudian sukses membangun Uni Plaza dan Thamrin Plaza di Medan. Bisnis lainnya yaitu bisnis kelapa sawit, mendirikan PT Inti Indosawit Subur di 1980. Kebun kelapa sawitnya sudah mulai 8.000 hektare dengan 2.000 karyawan. Tiga tahun kemudian Raja Garuda Mas mengakuisisi Bimoli. Tahun yang sama, ia mendirikan Pec- Tech, perusahaan infrastruktur, energi, minyak, dan gas di Cina dan Brasil.

Bukan tanpa halangan, dua perusahaannya harus berhadapan dengan masyarakat, pecinta lingkungan hidup, dan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim. Menurut Emil perusahaan dibawah kepemilikan Sutanto Salim mencemari lingkungan sungai asahan. Perusahaan yang bernama PT. Inti Indorayon Utama, yang memiliki pabrik bubur kertas di desa Sosor Padang. PT. Inti Indorayon Utama dianggap mencemari, tapi malalui kekuasaan Suharto kala itu; perusahaan tetap maju.

Hingga, penampungan limbah itu akhirnya jebol, tumpah semua ke sungai asahan; Indorayon harus tutup Juni 1999. Ia mangaku baru kali ini berinvestasi sangat besar $213 juta, sekaligus rugi besar $600 juta. Melalui Soharto, Tanoto kembali membangun Indorayon menjadi PT. Toba Plup Lestari. Pada 1989, ia mendirikan Asia Agri, perusahaan pengolahan sawit. Induk usaha baru tersebut fokus pada pengolahan 150 ribu hektar perkebunan sawit, karet, dan kakao di 4 negara berbeda; Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Modalnya 19 pabrik, Asian Agri, perusahaan berhasil menembus 1 juta ton produksi minyak sawit, sekaligus menjadikannya pemain utama di bisnis sawit dunia.

Usaha yang lain, Tanoto mengambil alih mayoritas saham bank United City Bank di tahun 1986-1987. Tidak hanya dalam negeri, ia mendirikan perkebunan kelapa sawit melalui National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta pabrik kertas di Cina. Sejak 1997, ia dan keluarga memilih tinggal di Singapura dan mengambil kantor pusat di Singapura. Cita- cita terbesarnya adalah menjadikan pengusaha Indonesia pemain bisnis global.

Artikel Terbaru Kami