Rabu, 23 Oktober 2013

Pendidikan Anak Usia Dini Menguntungkan

Profil Pengusaha Sukses Senita Jaya



Berawal susahnya mencari sekolah si kecil. Senita Jaya merasakan betul susahnya masuk TK. Alasannya mudah, anak Senita terlalu kecil untuk memulai TK. Tidak mau terus kecewa, ia memilih memulai sekolahnya sendiri. Senita membuka bisnis pendidikan pertamanya berorientasi pendidikan usia dini (PAUD). Bermodal tekat serta inspirasi yang kuat, ia pun bergegas membangunnya. Hampir putus asa, Senita terus mencari- cari pendidikan anak kecilnya.

Ia berjalan kesana kemari hingga jalan itu muncul. Dari sebuah brosur di pintung angkot yang ditumpanginya, dia berjalan menuju sebuah taman kanak- kanak. Taman kanak yang bernama TK Islami berada di kawasan Samarinda Utara, ketika ia mendatangi tempat tersebut; hanya sebuah taman yang disulap menjadi sekolah. TK Islami tersebut hanya lah dibangun di pekarangan rumah sebagai bisnis sampingan.

Dan, yang lebih mengejutkan bahwa sekolah tersebut berdiri diatas rumah milik warga. Pemilik TK tersebut ternyata bukanlah pemilik tanah, atau statusnya menyewa. Setelah lelah berjalan, mencari sekolah TK Islami, ia justru menemukan hal yang mengejutkan. Maski fasilitasnya kurang, sekolah tersebut menyampaikan aneka program baik dan Sanita bisa menerima anaknya di sana. Ada satu kali kilatan Senita sadar ternyata pendidikan tak perlu mewah.

Ternyata, dia menemukan pendidikan, bisa juga ya menjadi usaha menjanjikan. Inilah awal mula segalanya, bisnis sampingan kemudian berubah besar. Dia memulai bisnis sendiri; itung- itung membantu orang tua dan anaknya yang masih kecil. Sejak 2005, dia mulai mecicil modal usaha untuk membangun taman bermain. Dia selalu menyisikan uang yang diberikan suaminya sebagai belanja. Lambat laun sebuah sekolah mulai tercipta dengan biayanya sendiri walau baru kursi, meja, dan mainan anak- anak.

Ibunya, Sukeri dan Ayahnya, Syarif Suffendi, seorang dosen fakultas kehutanan Univerisitas Unmul, melihat sinis bisnis anaknya tidak akan berhasil. Mereka prihatin hanya 24 orang anak yang mendaftar di awal pembukaan. Meskipun begitu dia tetap meneruskan bermodal halaman depan rumah orang tuanya.

"Tak selalu diterima, brosur saya seringa ditolak mentah- mentah. Walau begitu saya tetap semangat," ingatnya di awal bisnis.

Meski sedikit, dia mengatakan itu bukanlah masalah baginya. Bagi Sanita yang terpenting anak- anaknya bisa gembira meski belajar seadanya. Lambat laun, persepsi positif tumbuh sejalan jumlah murid, Senita mencapai 185 murid serta menambah saran prasarana. Dia mengakui untuk semuanya butuh uang dan kerja keras. Dia mengaku awalnya biaya masuk belajar hanya sebesar Rp.600- 800 ribu bagi murid Play Group ataupun TK cuma SPP Rp.75.000.

Saat ini, Sanita menerapkan biaya yang lebih tinggi dengan uang masuk TK Rp.2,4 juta, dan PG sebesar Rp.2,2 juta. Sedangkan SPP, TK dikenakan biaya Rp.200 ribu dan PG sebesar $175 ribu. Apa tidak terlalu mahal? Tentu tidak, ia berkata harus benar- benar memilih guru yang tepat serta program yang mumpuni. Dia dibantu oleh 23 guru yang sebelumnya hanya sendiri mengembangkan bisnisnya akhirnya ke level lebih tinggi. Bagaimana dengan tempat?

Ia berekspansi tidak hanya dari depan rumah kedua orang tuanya. Bisnisnya, PG dan TK Silmi, kini berdiri di tanah pemberian orang tua sang suami. Ia juga resmi membuka cabang PG dan TK nya di JL. KH. Wahid Hasyim. Ibu dari bu dari Nabila, Nasywa, dan Nayla ini mengatakan, omzet dari usahanya ini bisa mencapai puluhan juta per- bulan. Sebelum jagung manis, Senita mengaku ada usaha lain tetapi gagal. Dia pernah menjual obat herbal hingga kerudung.

Sejak kuliah di Fakultas Pertanian Unmul memang dirinya hobi membuat pakain islami. Dia pun mengaku semuaya terjadi tiba- tiba kerena di memang menginginkan sekolah bagi anaknya. Senita Jaya mengaku bisnis sekolahnya mengantongi omset puluhan juta perbulan.

Artikel Terbaru Kami