Sabtu, 19 Oktober 2013

Pemilik Kedai Digital Jogja Bisnis Waralaba

Profil Pengusaha Saptuari Sigiharto



Siapa Saptuari Sigiharto tak menyangka kalau usahnya jadi pebisnis tahan banting berbuah manis. Dia adalah sosok pengusaha muda asal kota Yogyakarta. Kiprahnya sebagai pengusaha telah diakui dengan menangkan runner- up wirausahawan mandiri 2007. Dia melalui bisnis kedai digital berhasil menjadi waralaba populer. Konsepnya mudah, Kedai Digital, nama perusahaanya, menjual berbagai hasil digital berbentuk aksesoris.

Ia termasuk tipe pekerja keras, ulet, dan tahan banting. Terbukti dari sekian bisnisnya, dia tetap fokus meski gagal itu sering terjadi. Saptuari agresip bisnis sejak berkuliah di UGM, berbisnis hanya untuk membiayai kuliahnya. Berbagai usaha dan pekerjaan telah ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Dimulai dari bekerja di perusahaan rokok, event organizer, radio swast, hingga perusahaan komunikasi. Ia lalu banting stir membuat usaha sendiri.

Dia menjelankan bisnis ayam kampung dan stiker, yang terakhir ini membawanya sukses. Alasan gagalnya karena keuntungan yang tak sejalan dengan modal dikeluarkannya. Setiap kegagal menjadi motivasi bagi Saptuari, membuatnya semakin ngotot bekerja. Suatu hari, ia menumakan ide bisnis baru, ketika itu melihat ibu- ibu berebut marchandise bergambar.  Apa itu? Bisnis aneka marchandise bergambar artis selebritis, padahal hal semacam itu bisa dibuat  sendiri.

Pengalaman tersebut memberikan ide untuknya. Beda dengan bisnis sebelumnya bisnis kali ini tampak lebih sederhana. Dia kesana- kesini mencari tau lalu mempraktikan bisnis unik yaitu bisnis cetak digital pribadi. Konsepnya membuat produk marchandise yang bisa dipesan secara khusus. Modalnya hanya 28 juta tergolong minim dibanding bisnis sebelumnya. Sapturai mulai membuka toko sendiri di Jl. Cendrawasih 3C Demangan Baru.

Bisnisya resmi bernama "Kedai Digital" bertempat di toko kecil berukuran 2x7 meter. Awalnya Kedai Digital hanya membuat aneka gantungan kunci saja, dibantu oleh tiga karyawan Kedai Digital merambah bisnis lain; seperti membuat gantungan kunci, t-shirt, pin, jam, mouse pad, poster, keramik, dan terakhir baner. Respon bisnis barunya dibilang bagus. Ternyata masyarakat menyukai produk- produk miliknya. Tiap tahun omset Kedai Digital semakin meningkat.

Usaha yang sebelumnya hanya dibantu tiga orang mendadak berubah jadi 150 karyawan. Merek tersebar di 40 cabang berbeda tersebar di berbagai kota. Rata- rata pegawainya merupakan mahasiswa karena ingin menghilangkan konotasi negatif. Mahasiswa dikenal tukang demo dan tawuran ini akan labih baik jika belajar berbisnis. Dengan usaha keras, pemuda 30 tahun ini menggunakan model franchise atau waralaba. Ia telah menjalankan bisnisnya selama lima tahun, menghasilkan omset miliaran.

Baginya mencoba sesuatu yang baru ditambah ketekunan membuahkan hasil. Dia pandai mengambil pangsa pasar anak muda mencoba membentuk karakter pengusaha sukses.

Artikel Terbaru Kami