Rabu, 09 Oktober 2013

Games Fruit Ninja Melalui Kesederhanaan

Profil Pengusaha Game: Shainiel Deo 


Shainiel Deo memulai karirnya dari sebuah perusahaan kecil miliknya sendiri. Perusahaan hanya fokus membuat game atau karakter digital bernama Halfbrick Studio. Deo tidak pernah berpikir untuk menjadi jutawan. Tentu tidak, dia hanya ingin melakukan pekerjaannya dangan passion.

Dia, 23 tahun, seorang CEO perusahaan asal Australia. Perusahaanya Halfbrick Studio menghasilkan game kasual kelas dunia Fruit Ninja. Game yang memberikan rasa candu bagi kamu karena mudah untuk dimainkan dan unik. Game yang fokusnya kepada ketajaman grafik, speed, serta details. Fruit Ninja hanya dijual seharaga 99 sen.

Di April 2010, semenjak rilisnya lebih dari 10 juta pengguna telah mendowloadnya.

Menurut Entertainment Software Association, game kasual memiliki nilai pelepas stress yang tinggi. Mereka melangsir setidaknya 47persen game yang beredar merupakan game tipe ini. Mereka mendominasi bisnis serta penjualan tertinggi. Terutama, bagi pengguna iPhone dan iPad yang terus tumbuh. Pemiliki gadget menginginkan game semacam Fruit Ninja.

Perusahaan dunia


Deo menemuka Halbrick tahun 2001 di Brisbane, Australia, sebuah perusahaan yang dulunya tidak terfokus di game kasual. Mereka lebih sering menciptakan karakter anak- anak di televisi. Geme tersebut dimainkan di Xbox, Playstation serta berbagai website; sebuah game umum. Tetapi, iPhone menaikan nilai game kasual di 2007, membuat Halfbrick mencari jalannya.

Halfbrick Studios meluncurkan Fruit Ninja, dan yang terbaru, meluncurkan Age of Zombies.

"Ketika mobile mengambil alih, pasarnya menyatu dengan kekuatan kami," dia berkata.

App- Store memberikan semacam kebebasan tanpa adanya perantara. Mereka menciptakan kebebasan dalam pengembangannya designya. Kini, mereka  menciptakan peluang bagi Halfbrick Studios, sebagai perusahaan kecil. Perusahaan tersebut berhasil memimpin menjadi multi jutawan. Formula sukses? mudah, game memiliki detail tetapi mampu meninggalkan jejak- jejak kecil. Game haruslah tidaklah menghabiskan banyak daya baterai.

Deo melihat kedepan juga untuk ponsel Android yang mulai marak. Lainnya, dia dan perusahaan masih memegang kunci di game flash atau HTML5.

Deo percaya masalah lain cuma ada "bagaimana untuk masuk ke pasar". Dia menyebut segala hal baru segala tentang nexus, cloud computing dan sosial media, dimana Halfbrick perlu mengatur level tersendiri sampai memasarkannya kepada para fans. Terlihat lebih sulit, Deo sekarang hanya akan fokus menggunakan prinsip game kasual; mudah, langsung, membuat candu serta menghibur.

Teknologi mobile memberikan ravolusi di pengembangan dari segi bisnisnya. Dimana Halfbrick Studio tidak lagi mendapatkan untung dari sekedar penjualan. Mereka bisa menghasilkan dari game gratis yang disuport oleh pengiklan, atau menjual produk virtual seperti senjata online. Yah, Deo berkata penjualan di dalam gamenya sendiri merupakan yang tertinggi.

 "Pengembangan merupakan 50 persen darinya," ucap Deo. Dia menambahkan,"tetapi jika kita ingin sukses, promosi menempati tempat lebih banyak. Kita harus memiliki relasi yang baik antara media dan platform. Kita juga membutuhkan viral video untuk sekedar promosi. Kita membutuhkan kontrol menejemen bagi komunitas pendukung untuk saling mempromosikan."

Berkembangan teknologi mobile merubah pengembang game, seperti Halfbrick, mengontrol pendapatannya sendiri. Dulu, setiap orang membutuhkan lisensi serta orang ketiga memasukan ke pasar. Kini mereka bisa melakukan pemasaran langsung tanpa pihak ketiga. Mereka bisa menjual tanpa menggunakan nama besar sebagai pendukung penjualan, seperti Nintendo, Gameloft, Sega. dll.

Artikel Terbaru Kami