Senin, 14 Oktober 2013

Astra International Kisah Sukses Tujuh Turunan

Biografi Astra Theodore Rachmat

 

Nama panjangnya, Theodore Permadi Rachmat, atau dikenal sebagai Theodore Rachmat. Kelahiran tahun 1943, dan merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung, jurusan teknik mesin. Ia masih satu angkatan dengan sesama jajaran eksekutif di Astra International, seperti  Benny Subianto dan Subagio Wiryoatmodjo secara langsung. Ia sendiri merupakan keponakan seorang William Soeryadjaya, CEO Astra International.

Awalnya, ia lebih memilih berbisnis tanpa bantuan pamannya sama sekali. Tahun 1970, Theodore bekerja sama dengan Benecditus Rahmat, kakaknya, membangun sebuah perusahaan konstruksi di bawah bendera PT. Porta Nigra. Perusahaan tersebut cukup berkembang dibawah menejemen dua orang. Tetapi akhirnya, dia harus berurusan dengan Group Astra, dan melalui Allis Chalmers Astra, bekerja sebagai selesman alat- alat berat. 

Berkat kerja kerasnya, Theodore pun terpilih sebagai president direktur PT. Astra International dari tahun 1972- 1998, walaupun keluarga William Soeryadjaya tidak lagi aktif, semua berkat kemampuannya. Pada tahun 1998, ia masih menjadi jajaran direksi sepeninggal keluarga William Soeryadjaya tak lagi aktif. Ia sempat beristirahat hingga dua tahun, dan Theodore harus kembali ke PT. Astra International sebagai pucuk pimpinan kembali.

Theodore sendiri cuma memiliki bagian dari Group Astra sekitar 5%, dan ini bukan karena faktor keluarga tetapi kemampuanya mengembangka anak bisnis Group Astra International sendiri. Perlu kamu ketahui, bahwa semua komisaris di Astra, seperti Benny Subianto, Hugianto Kumal, Subagio Wiryoatmodjo juga mendapatkan bagian yang saham untuk Group Astra International, dengan nilai 1-5%. So, tidak ada pilih kasih.

Perusahaan keluarga


Meski anak, keponakan dan menantu terlibat dalam bisnis; mereka tidak langsung bekerja di tempatnya. Inilah ketegasan pertama seorang Theodore, "Saya tidak ingin anak- anak saya lulus langsung kerja disini," ucapnya. Theodore atau dipanggil akrab Teddy memiliki tiga orang anak, anak pertama dan kedua mengikuti jejaknya menjadi pengusaha. Sementara si sulung, sekaligus putri satu- satunya, memilih menjadi ibu rumah tangga.

Menantunya sendiri, suami dari putrinya, memilih membangun perusahaanya sendiri. Memang di usianya yang ke 63 tahun, dia telah memiliki generasi penerus sebagai pengusaha ulung dari hulu- hilir. Kedua putranya, si sulung Christian Aryano Rachmat, diserahi bisnis batu bara. Dan, anak keduanya Arif Patrick Rachmat, diserahi bisnis perkebunan PT.Triputro Agro Persada. Sementara si bungsu, Ayu Patricia Rachmat menjadi ibu rumah sesekali menjadi wedding organizer.

Sedangkan sang menantu, memegang keuangan Triputro dan menjadi pendiri perusahaan PT. North Star.

 "Anak-anak saya dan keponakan saya memang diberi kesempatan di sini. Namun, nilai-nilai yang saya tanamkan kepada mereka sama saja: jangan serakah dan jangan hanya memikirkan diri sendiri," Teddy menegaskan.

Ia tidak mau menspesialkan salah seorang anaknya menjadi catatan tersendiri. Dia meyakinkan semua anaknya berawal dari bawah dan masing- masing anak telah dibagi sesuai dengan bidangnya.

Penempatan Arif dan Aryano sudah di jalur benar, keduanya harus memulai sangat awal. Sebagai contoh, dia mencontohkan si sulung bekerja di Toyota, lalu Arif bekerja di Amerika selama 7 tahun. Arif dan Aryo menerima tanggung jawab dari ayahnya. Mereka akan saling terbuka, berkompetisi, Aryano menjabat komisari Triputro dan Arif menjadi direktur Triputro. "Kalau kami tidak kompeten dan tidak bisa memberi contoh yang baik, sama juga malu-maluin," kata Arif.

Pada April 2005, selama dua bulan Arif bahkan diminta membantu kakaknya di PT Adaro Indonesia. Dalam satu-dua tahun pertama, tugasnya lebih mencari lahan dan benchmark ke perkebunan lain. Arif memang dikenal nyambi usaha microfinance dan komisaris PT.Daya Adira. Keduanya dikenal saling mengevaluasi satu sama lain. Kalau sang ayah berperan dalam nilai- nilai duniawi (usaha), ibunya menekankan spiritual meski keduanya sama- sama pengusaha.

Teddy dan istrinya selalu berbagi peran masing- masing. Dimana Teddy selalu mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Jika menilik latar belakang kariernya, kompetensi Arif cukup mumpuni di industri perkebunan. Selama 7 tahun Arif berkarier di General Electric (GE), yang mana lima tahun sebagai manajer plant. "Di situ saya benar-benar belajar efisiensi produksi."

Selain disiplin dalam mengajarkan nilai-nilai bisnis pada generasi penerusnya, Teddy juga punya komitmen tinggi menerapkanny di urusan keluarga. Kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi nilai-nilai yang diajarkan Teddy kepada anak-anaknya. "Bapak selalu bilang, kami harus jaga nama baik," tutur Arif sembari menyebutkan kejujuran juga diprioritaskan.

"Saya selalu ingat pesan beliau, 'kalau kamu mau jadi pelukis saya tidak akan mendikte warna apa yang harus kamu pakai atau jenis lukisan apa. Tapi yang saya inginkan hasilkanlah karya masterpiece. Di samping itu, jadi orang harus humble'," kata Arif menirukan nasihat sang ayah.

Strategi bisnis


Melalui pola saham kecil, setidaknya dari tahun 1972, Theodore telah memiliki 1% dari PT. Surya Semesta Internusa. Tbk. Setahun kemudian, ia mendirikan perusahaan dibidang investasi PT. Windu Nusantara yang kemudian mendirikan lima anak perusahaan (PT Mutiara Samudera Lines, PT Kayaba Indonesia, PT Traktor Nusantara, PT Sinar Abadi Cemerlang dan PT Cipta Piranti Tehnik)

Ikut andil 2% di pada PT.Sunrise Garden sebagai pengembang perumahan Sunrise Garden Jakarta Barat. Dia juga memiliki 1,5 % HPH PT. Emporium Lumber. Nantinya perusahaan Emporium dimerger ke dalam PT. Sumalindo Lestari Jaya Tbk, yang dimiliki selama 17 tahun sejak 1980 hingga 1997. Dan, tercatat sabagi pendirinya PT. Inter Delta Tbk, bersama ketiga pamannya William Soeryadjaya, almarhum Tjia Kian Tie dan Benyamin Arman Suriadjaya dan almarhum Masagung.

Konsep bisnisnya sederhana melalui perusahaan induk dan pribadi. Perusahaan induknya yaitu PT.Triple A Jaya didirikan bersama istrinya Rani Imanto tahun 1979. Mereka kemudian membangun induk usaha lain, yaitu PT.Trikirana Investindo Prima. Sedangkan dua lainnya, mereka menjadi investasi pribadi milik mereka berdua. PT.Triple A Jaya semula bertujuan mewakili kepemilikan khusus untuk unit- unti usaha Astra Group. Ini menyangkut akuisis 17 perusahaan dan pendirian dua perusahaan baru.

Beberapa diantaranya adalah perusahaan investasi PT.Pandu Dian Pertiwi yang kemudian dilepas di tahun 1996, PT.Kelana Bina Persada (5%),  PT Suryaraya Serasi (2,5 %), PT Mitracorp Pacific Nusantara yang masih memiliki 7 anak perusahahaan. PT.Mitracorp Pacific Nusantara kemudian dimergerkan ke dalam PT Astra Graphia Tbk dan dibubarkan pada  tahun 2003. PT Suryaraya Idaman yang merupakan induk tiga  perusahaan perhotelan di Yogyakarta, dan terakhir PT Astra Otoparts Tbk.

PT Triple A Jaya juga memiliki bagian PT Aneka Komkar Utama, sebuah pabrik sarung tangan karet di Tangerang,  PT Suryaraya Wahana yang membangun pabrik pulp di Kalimantan Timur, PT Concretindo Rejeki, pabrik readymix concrete di Cirebon, PT Inkoasku, pabrik wheel rim di Jakarta, dan lain-lain. Melalui PT Triple A Jaya memiliki anak dan cucu perusahaan; ada 19 perusahaan anak dan 21 perusahaan cucu.

Perusahaan tersebut tidak semua akhirnya eksis dan dimilikinya sekarang, beberapa perusahaan telah berpindah kepemilikan. Cuma 10 perusahaan tercatat telah didivestasi, 3 perusahaan dimergerkan dan 8 perusahaan dilikuidasi. Dilihat jumlahnya, perusahaan induk memiliki kekuatan menyokong dirirnya. Itu juga bisa disimpulkan sulitnya mengatur semua. Bahkan, ketika itu, istrinya juga ikut ambil bagian dari usaha pribadinya.

Istrinya, Rani Imanto, tercatat memiliki inevstasi pribadi di PT. Delta Exim dimana setahun kemudian mendirikan perusahaan kontruksi PT. Delta Sarana Indonesia. Tercatat seluruhnya ada 14 perusahaan yang pendirian dan penyertaan awalnya terkait dengannya. Tujuh perusahaan perkebunan kelapa sawit menjadi bagian perusahaan pribadi istrinya; meliputi PT.Tunggal Perkasa Plantations, PT Sari Aditya Loka, PT Karya Tanah Subur, PT Sari Lembah Subur, PT Sankawangi, PT Sukses Tani Nusasubur dan PT Suryaraya Bahtera.

Perusahaan terkahir telah dilepas ke PT Astra Agro Lestari Tbk. Akhirnya, cuma ada  4 perusahaan masih aktif hingga sekarang, yaitu PT Catur Reksadaya (dagang), PT Djambi Waras (perkebunan karet), PT Purna Carmatama (sepatu olahraga) dan PT Brahma Binabakti (crumb rubber). Porsi setiap perusahaan relatif kecil, atau sekitar beberapa persen dari aset tidak menyurutkan keuntungan dari Theodore. Hal ini justru sangat menguntungkan, dan secara langsung merubahnya menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

Dia sekarang bukan hanya seorang entrepreneur tetapi juga investor. Dengan minoritas kepemilikan, dikala krisis datang, ia dapat menyelamatkan keuangannya dari krisis. Lain hal jika bicara pendapatan, Teddy dan keluarga mendapatkan keuntungan besar dengan tumbuhnya perusahaan. Apa lagi, Theodore Rachmat memiliki kemampuan menejarial serta kepemimpian terbukti dari pengalamannya di Group Astra. Sosok Teddy lagi- lagi bukan cuma pengusaha miliarder tapi investor cerdas.

Artikel Terbaru Kami