Senin, 30 September 2013

Web Portal Bisnis Berpenghasilan $3,6 Miliar

Biografi Pengusaha Takafumi Horie



Berbeda di negara asalnya, Jepang, Takafumi Horie malah memilih gaya berbeda di dalam hal fasion bahkan berbisnis. Dia tak jarang ditemui hanya mengenakan kaos lucu ataupun kemeja tanpa dasi. Cara bisnisnya, ia memilih gaya ala Amerika. Atau, kita menyebutnya gaya koboi bermodal segala arogansi untuk mencoba mengkapitalis suatu hal.

Media nasional bahkan menyebutnya Kind of Men atau berarti orang yang tega.

Apa Horie yang lakukan,  seorang entrepreneur muda sekaligus CEO, wajarnya hanya mencoba untuk  membesarkan bisnis perusahaannya melalui banyak merger dan akuisisi.

Lahir di Yume, Fukuoka Perfecture, Takafumi Horie hidup sabagai standar orang Jepang kebanyakan. Yakni ayahnya hanya pegawai kantoran sementara sang ibu, hanya penggarap lahan persawahan. Horie berkuliah di universitas terkenal di Jepang, University of Tokyo, dan memilih jurusan agama atau teologi walaupun itu sesungguhnya tidak semenarik internet.

Ambisi pengusaha muda


Di tahun 1995, Horie memilih drop- out, bersama beberapa teman sekelasnya, lantas mendirikan perusahaan yang bernama Living' on the Edge. Dimulailah Living' on the Edge, yakni sebuah perusahaan konsultan web yang dikerjakan Horie dan teman- temannya, dan berubah menjadi perusahaan resmi bernama Livin' On the Ede.Inc, April 1996, di Minato, Tokyo.

Livin' On the Edge merupakan perusahaan tertutup, hingga terus berkembang menjadi sebuah perusahaan terbuka. Perusahaan ini akhirnya resmi masuk ke dalam bursa saham Tokyo di July 1997, dan masuk secara publik di Tosho (bursa saham Jepang, di Indonesia IHSG) pada 2000.

Di November 2002, Livin' On the Edge sukses mengambil alih sebuah web portal bernama Livedoors, dari perusahaan Livedoor Corp yang hampir bankrut. Lanjut November 2003, Livin' On the Edge menggunakan nama perusahaan yang diambil alih, atau resmi berubah menjadi Livedoor Co. LTd. Apa itu Livedoor? Situs portal terkenal Jepang, dan memiliki beberapa bisnis lain.

Livedoor ini menggabungkan antara situs portal berita dan bursa saham, perbankan, hosting, hingga aspek entertainment. Aspek entertainmentnya saja, pengunjung dimanjakan oleh gosip selebriti, berita olah raga, berita dan tips perjalanan yang ditulis oleh Horie sendiri. Livedoor juga menambahkan layanan email, forum serta layanan blog, merubah tampilan situs seperti sebuah komunitas besar.

Salah satu usaha yang menarik, Livedoor pernah mencoba membeli sebuah tim Baseball, Kintetsu Buffalos, hanya berakhir gagal. Pembelian tersebut ditolak mentah- mentah oleh menejer baseball tersebut. September 2004, mereka membuat tim sendiri bernama tim Livedoor, tetapi kalah di penyisihan oleh tim tuan rumah.

Melalui langkah akusisi semacam itu, Horie mendapat julukan pembangkang sebuah sistem, baik ekonomi, politik hingga sosial.

Perusahaan miliknya tumbuh melalui berbagai aksi  akuisi "paksa", mencoba menjadi kapitalis sejati, serta memblow -up berita kontroversial, berita tentang CEO -nya atau perusahaan itu sendiri sudah menjadi perhatian khalayak Jepang. Di tahun sama, Livedoor melakukan pengambil alihan beberapa perusahaan milik asing, seperti perusahaan MailCreations di Miami, Florida.

Dan, Livedoor berada dibawah kendali Horie, membeli perusahaan iklan teks dan pencarian dari Amerika. Secara resmi Livedoor telah memiliki kantor pusat di Amerika pada November 2005. Sejujurnya media masa sangat menikmati setiap langkahnya sebagai pembangkang.

Melakukan berbagai pengambil alihan paksa, mereka berdua, Horie dan Livedoor, menjadi berita dimana- mana hingga akhirnya menantang raksasa media. Kali ini, bukan hanya menjadi headline satu, tetapi di setiap surat kabar di Jepang. Bisnis selanjutnya, sebuah perjalanan ke luar angkasa untuk kamu, sayang, ini menjadi khayalan belaka.

Mengakuisisi paksa


Pertama- tama, Horie mendekati Nippon Broadcasting System, perusahaan kecil yang berafiliasi dengan Fuji TV. Ia kemudian membeli banyak saham melalui Livedoor. Dua bulan kemudian, Fuji TV merasakan bahaya dari Livedoor yang mencoba masuk ke perusahaan. Fuji menghentikan upaya pengambil alihan "paksa" tersebut karena bertentangan hukum Jepang.

Akhirnya? Horie tidak mendapatkan apa- apa, tetapi juga tidak rugi besar.

Fuji TV setuju membeli 15 saham dair Livedoor untuk mengganti aset yang hilang. 

"Para eksekutif itu tidak memiliki aset dibandingkan dengan entrepreneur pemilik usaha yang dengan usahnya sendiri membangun semuanya," ucapnya menanggapi penolakan yang didapatkan. "Mereka hanyalah lintah di dunianya yang kecil dan, kurang darah segar, mereka hanya berpikir tentang membatasi dunia bisnis." jelas Horie tentang para eksekutif.

Bagi Horie pemilik hak bicara adalah pemilik perusahaan yang memiliki aset itu. Di Agustus 2005, Horie mengumumkan untuk masuk ke Politik. Di sinilah lantas masalah datang, dengan sikap yang tidak kompromi, ia harus berhadapan dengan sistem yang kuat. Dia harus mengakui kekalahan dari Shizuka Kamei, dengan 110.979 dan 84.433.

Pada bulan Januari 2006, Horie ditangkap atas tuduhan melakukan penerobosan keamanan dari data pribadi hingga pencucian uang. Efeknya Livedoor kehilangan saham senilai 14,5 persen bahkan sempat membuat indeks Tokyo harus berhenti total. Mereka diduga melakukan securities fraud (atau window dressing dan membuat panik pemilik saham) di 17 Januari 2006. 

Ulah Livedoor memunculkan panik besar di pasar saham, hingga memaksa pemilik saham menjual secara besar- besaran di Tokyo Stock Exchange. Mereka mencoba menjual sahamnya tetapi tidak diperbolehkan oleh broker. Disaat bersamaan ada kepanikan besar karena isu diluaran sana. Hal tersebut membuat system crash karena banyak pemegang saham panik menjual saham.

Hingga Livedoor benar- benar menyebabkan Tosho harus ditutup dua jam lebih awal. Skandal ini memuncak tanggal 16 Januari 2006, ketika auditur memaksa masuk ke beberapa tempat berbeda, ke rumah Horie, dan rumah eksekutif Livedoor. 13 Maret 2006, Horie didakwa dua setengah tahun, disusul eksekutif Livedoor atas tuduhan upaya perusakan keamanan dan pencucian uang. 

Setelah kehilangan 90% saham, dari empat bulan dan terbukti securities fraud, Livedoor dicoret dari Tosho tepatnya di 14 April 2006. Fuji TV melakukan tuntutan kerugian kepada Livedoor senilai 35 miliar yen ganti rugi, disusual oleh 3.340 individu pemilik saham sebesar 23 miliar yen. Tuntutan, dari pemilik saham menuntut Livedoor untuk 7,6 miliar yen dan diikuti tuntutan sebesar 4,9 miliar yen.

Livedoor kemudian menuntut balik sang CEO Horie dan ekeskutifnya senilai 21 miliar yen dan menghasilkan 760 juta yen. Ada rumor yang menyatakan bahwa Livedoor melakukan penjualan aset sebesar 2 miliar yen pada 2008. Berita ini membuat para pemilik situs portal di seluruh dunia tertarik akan isu tersebut untuk membeli, tetapi tak ada IPO sama sekali.

Faktanya, Livedoor dijual kepada sebuah web portal asal Korea 6,3 miliar yen. Lanta, bagaimana dengan nasib Horie?

Kekayaanya turun dari 1,3 miliar yen manjadi hanya 280 juta yen di Juni 2006.  Mengenang itu semua, Horie cuma bisa menulis buku berjudul Complete Resistance, sebuah pengakuan ke tidak bersalahan selama di penjara. Dia mengaku menjadi target pemerintah karena kekayaanya, bukan karena sifat atau tindakan kriminal.

Meski demikian ia menjadi tokoh non- konservatif penentang tradisi. Dia disebut seorang ambisius melawan kekuatan besar para konglomerat masa lalu. 

"Orang sekarang mengkritik Horie karena upayanya menjadi kaya cepat dengan taktik, tapi apa yang salah dari sana?," ucap Hamada, yang stress karena kesulitan meningkatkan penjualan. "Tanpa mind set seperti itu, kamu tidak akan menemukan ide bisnis baru."

Hari ini merupakan jamannya efisiensi waktu dibutuhkan. Dia melanjutkan ceritanya lagi, "jika (dia ditahan) menjalankan entrepreneurial, saya berpikir masyarakat menjadi tumpul."

Artikel Terbaru Kami