Senin, 30 September 2013

Kopi Luwak Lanang Produk Beromset Miliaran

Profil Singkat Theresia Deka Putri



Theresia Deka Putri, 27 tahun, memulai debut di dunia wirasusaha bermodal kepercayaan akan peluang. Dia yakin bahwa kopi, terutama jenis kopi luwak, mampu mengantarnya ke pintu kesuksesan. Awal mulanya menjadi tenaga pemasaran kopi eceran. Ia lantas bertekat membangun bisnis sendiri. Dia lantas mulai belajar menjadi seorang ahli kopi otodidak.

Tahun 2007, bermodal sekitar Rp. 200 juta, Putri bulatkan mengerjakan bisnis kopi luwak. Targetnya ialah konsumen berkantong tebal yang doyan kopi kelas premium. Memulai usaha dari nol, ia hanya bermodal pengalaman memasarkan kopi dari warung ke warung sendiri. Dia mulai mengumpulkan informasi tentang kopi luwak.

Dia belajar sendiri sampai mempraktikan langsung. Melalui CV. Karya Semesta, perusahaan kecilya mampu memproduksi tiga merek kopi sekaligus, yakni merek Kopi Luwak Lanang, Lanang Landep, dan juga Gajah Hitam. Mereka membuat usaha pengolahan kopi sederhana tahun 2008. Karya Semesta mesangrai biji- biji kopi hanya dengan penggorengan terakota.

Untuk alat penggilingan, modal awalnya, perusahaan cukup memilih menggilingnya ke tempat- tempat yang menawarkan jasa penggilingan. Perjalanan waktu, mereknya telah mampu merembah Kota Jakarta, Bali, hingga ke Makasar, dan diberbagai pasar lokal. Pasar luar negeri akunya merek Kopi Luwak Lanang sudah mampu masuk sampai ke Malaysia, Taiwan, Polandia, Inggiris, Korea Selatan dan Inggris.

Sebuah perjalanan sulit, namun ia telah berhasil sebagai wirausahawan wanita. Dia melalukan sendiri tanpa bantuan orang tua karena memang dia seorang yatim piatu. Dan, Putri sendiri memang sudah akrab dengan bisnis semenjak masih kecil, dari berjualan sepatu, pakaian, dan produk fasion lain.

Waktu itu, dia menarget pasar sekitarnya, menjual produk fashion ke teman- temanya terdekat dulu. Tahun 2000 -an, dia telah masuk pasar makanan minuman seperti teh dan kopi. Selepas itu ia mulai mendapatkan kepercayaan dari perusahaan menjadi pimpinan tim.

Dia berkeliling sekitar Jawa Timur memasarkan produknya.

"Saya ikut berkeliling- keliling dari warung ke warung menwarkan berbagai macam produk minuman," ucapnya mengenang. Kegigihannya menghasilkan sesuatu, dia mengaku mulai mengerti soal aktifitas pasar dan peluang- peluang di dalamnya. Banyak kompetitor dari bisnis minuman, menandakan semakin besar peluang pasarnya."aku Putri.

Kopi luwak sendiri


Putri selalu berpikir tentang menciptakan produknya sendiri. Tanpa mengandalkan perusahaan supplyer. Dia ingin memiliki kebun sendiri, dan juga luwak sendiri. Relasi kuat menjadi andalan memastikan mereknya tetap berjaya.

"Dari pemilik warung, saya memahami selera kopi yang digemari konsumen. Itu pengalaman berharga." jelas Putri

Dia telah memiliki kebun sendiri sebesar empat hektar. Namun kebutuhan semakin meningkat, akhirnya Putri urung melepaskan supplyer. Ia menjalin kemitraan dengan para petani kopi di kawasan Bondowoso dan Malang. Meski punya produk sendiri, dia tetap menjajakan produk lain dari perusahaan lain. Ia melakukan itu sebagai upaya memberikan variasi produk CV. Karya Semesta.

Setelah resmi satu tahun perusahaan beroperasi telah memproduksi dan menjual produknya sendiri, pada 2011, Theresia Deka Putri menghasilkan omset Rp. 1 miliar pertamanya.

Tahun lalu Putri telah sukses bisa memenuhi 90% dari target dengan omzet Rp 1,6 miliar yang dipatoknya.

"Ada saja tantangannya. Tapi ibarat manusia, kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi masih bisa mengarahkan layar. Ini yang saya lakukan untuk orang tua, mungkin mereka di sana (surga) bisa melihat saya sukses disini," tutur Putri.

Kunci sukses ada di aneka pasar ditarget. Putri telah memiliki segementasi luas di tiap produknya. Tak lagi fokus kepada kelas premium lagi. Gajah Hitam memiliki segmen kalangan menengah bawah dari warung ke warung. Dua merek lain, Luwak Lanang dan Luwak Landep dipilih menjadi produk kelas premium, yang menyasar penikmat kopi menengah atas.

"Kopi Luwak Lanang selalu habis dipesan orang dari luar negeri," ujarnya.

Sesuai namanya, Luwak Lanang merupakan produk premium berasal dari fermentasi biji kopi dari luwak jantan. Hal tersebut dimaksud memunculkan aroma khas. "Luwak jantan mengeluarkan enzim jauh lebih kuat dari betinanya." Demikian pula Lanang Landep, Ia hanya menggunakan biji- biji kopi tunggal atau biji kopi lanang (pearl berry).

Biji kopi tersebut disortir secara ketat mencari di kumpulan biji kopi. Setiap bulan, perusahaan mengeluarkan berton- ton biji kopi. Luwak Lanang saja membutuhkan 1,6 ton biji kopi diproduksi. Ini semua berkat aneka pameran yang diikutinya setiap ada kesempatan. Tak heran jika perusahaan miliknya mampu mendapatkan aneka penghargaan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Meski begitu, Putri masih berpikir perusahaan butuh produk olahan baru, seperti teh. Putri ingin menciptakan kesan lebih lewat kemasan, mengingat itu merupakan kunci sukses lainnya. Kini dia bahkan mempunyai alat pembuat kemasannya sendiri. Bertambah permintaan, ia melakukan berbagai hal agar memenuhi permintaan pasar.

Hasilnya, setiap bulan, ia memproses berton- ton biji kopi. Ia lalu mengemasnya sendiri. Produk andalan ya masih Kopi Luwak Lanang, darisana ia mengolah 1,6 ton biji kopi tiap harinya. Diluar itu ia mendapatkan puluhan ton untuk dioleh seperti penjelasnya kepada pewarta Kontan. Setelah sekian lama berencana Putri pun mempunyai produk teh sendiri.

Tercatat dia pemilik produk teh berlabel Gambung Tea. Wanita yang menyenyam pendidikan Manajemen ini tetap fokus paket produknya. Setiap saset dibuatnya semenarik mungkin. Lebih dalam siapakah sosok si Theresia Deka Putri sebenarnya.  Bagaimana dia membangun mimpinya, jelas sosoknya merupakan seorang pekerja keras, yang sudah aktif berbisnis semenjak kecil.

Ini bisa jadi satu catatan bagi kita. Sedari sekolah ia sudah berjualan sepatu sendiri, baju, serta aneka produk fashion. Saat itu, seperti orang seusianya, pelanggan Putri hanyalah keluarga dan teman- teman sekolahnya.

Tahun 2002, tercatat ia merambah bisnis teh bermodal keyakinan dari salah satu produsen.

"Saya turut berkeliling dari warung ke warung untuk tawarkan bermacam product minuman itu," kenang wanita yang besar di Gresik. Kegigihan menjadikan koneksi kuat jaringan warung kopi di seluruh kawasan kota dan kabupaten lain di Jawa Timur.

Tak cuma tinggal diam, ia mampu membuat produk sendiri, sukses Kopi Lanang berkat mimpinya ditambah kerja keras. Dulu tahun 2008, Putri bermodal pemanggan milik orang lain, yaitu memanggang bermodal penggorengan terakota lahirlah bisnis. Hingga sebuah tempat penggilingan biji kopi, mau memberikan ruang bagi Putri menggiling sendiri.

Artikel Terbaru Kami