Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Jumat, 15 September 2017

Resep Carang Mas Membawa Berkah TKI Banyumas

Profil Pengusaha Pasangan TKI



Hujan emas di negeri orang tidak selamanya indah. Sebaiknya tempat beristirahat, ya, dimana lagi kalau bukan tanah kelahiran sendiri. Pasangan TKI ini merasakan betul susahnya menjadi buruh migran. Keduanya sepakat membuka usaha sendiri dan berhasil.

Namanya Krisna Adi (43) dan Ani Sugiyanti (28) asal Banyuwangi, keduanya mantan TKI di Taiwan yang dikenal bebas kekerasan. Toh, keduanya tetap memilih mencari uang di negeri sendiri, caranya adalah apa yang mereka kumpulkan sebagai buruh dijadikan modal usaha kue.

Bisnis bersama


Modalnya minim tetapi mereka bertekat kuat. Usaha mereka lantas menjadi oleh- oleh buat rekan- rekan sesama buruh migran. "Sebelum ini, saya usaha antara jemput TKI dan banyak nganggurnya," ujar Krisna. Ia menambahkan apa mereka usahakan mereka sekarang adalah kue- kue tradisional.

Ada keciput, kuping gajah, pastel kering, dan carang emas. Keduanya berawal dari menjualkan apa yang dibuat sesama mantan TKI. Mereka yang telah tergabung di dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Banyumangi. Lewat organisasi tersebut mereka saling bertukar keahlian, mereka saling memasarkan produk mereka.

Kebanyakan menurut Krisna, para TKI kebingungan ketika sudah pulang kampung mau apa. Maka mereka hadir merangkul mereka ke jalan kewirausahaan. Mereka sudah siapkan modal dan skill, "...mau belajar ya monggo". Prinsip usaha dijalankan ialah saling bahu- membahu. 

"Jadi salah satu teman ada kelebihan biar diajarkan ke orang lain," tuturnya.

Jadi ketika mereka pulang tidak ingat Taiwan lagi. Apalagi Banyuwangi sudah berkembang tidak seperti dulu lagi. Bagaiman prospek bisnis kue ini. Terutama ketika Lebaran, mereka memproduksi sampai empat kuintal kue. Mereka juga melayani ekpor loh, harganya juga menyesuaikan harga ongkos kirim yang lumayan.

Pastel saja bisa sampai 1 kuintal sebelum bulan puasa. Untuk jajanan favorit namanya carang emas karena itu jajanan langka. Harga jualnya sampai Rp.40.000/kg, harga luar dan ekspor sama. Carang emas sendiri dibuat dari bahan potongan ketela dibentuk membulat dan dibalut gula merah.

Resep carang emas sendiri dipelajari Ani dari ibunya. Dia mengaku awalnya mengalami kesulitan.Setelah ia coba beberapa kali baru dia bisa. "Saya belajar 1kg, ubinya itu lember. Sudah tak sisihkan, bikin lagi agak keras, sampai ada yang jadi batu," imbuhnya. Belajar terus sampai benar- benar bisa dibuat sesuai resepnya.

Akhirnya habis 20kg baru bisa sempurna. Itu semua berkat Google dan YouTube loh. Ani tidak cuma bisa menggantungkan resep keluarga. Pesanan dalam negeri kebanyakan merupakan mereka eks- TKI, yang mana dijadikan buah tangan buat keluarga di rumah.

Satu kali pengiriman bisa mencapai 6kg kue. Lokal pengiriman ke Trenggalek, Malang, Blitar, Madiun, Ponorogo, Yogyakarta, Pacitan, Jakarta, Lampung, pembeli merupakan mantan TKI dan sanak keluarganya. Carang mas memang primadona, bahkan sampai 65kg dikirim ke Trenggalek.

Rabu, 13 September 2017

Candy Corner Jualan Permen Kiloan Pilih Sendiri

Profil Pengusaha Rosmerie dan Rich Andreas 



Jika orang Filipina atau orang Pinoy berpikir tentang permen, maka bisa dipastikan tidak ada terbersit dalam pikiran mereka sebuah ide bisnis. Inilah kenapa Rosemerie "Bubu" Andrew melihat peluang bisnis tersebut ketika orang lain tidak pernah terpikirkan.

Dia bersama sang suami, Ricky Andreas, memulai bisnis permen pada 1996, yang kemudian diberi namanya Candy Corner, dimana bisa meledak menghasilkan banyak gerai di mal- mal.

Rose membawa permen yang tidak ada di negaranya. Konsep bisnisnya adalah mencampur permen, kita tinggal mengambil apa yang kita suka sedikit, ditambah ini- itu dijadikan satu kemudian tinggal membayar. Ia melihat konsep ini di negara lain. Dan dia yakin orang Filipina akan senang melakukan hal yang sama.

Tantangan bisnis


Tantangan berbisnis ini adalah tempat jualan. Karena permen itu murah, jadi kita butuh banyak orang yang membeli, bagaimana caranya agar banyak orang lewat di sana. Rose mengaku betul bahwa biaya sewa di mal mahal. Tetapi mereka meyakini memiliki kemampuan untuk menarik pembelian.

Tantangan lainnya adalah masalah jumlah permen. Perlu diketahui Rose tidak bisa sembarangan mengimpor permen. Karena jika impor akan dihitung kiloan, semakin banyak impor, maka biaya pengiriman akan makin membengkak sedangkan harga jual harus murah.

Lambat laun mereka menjadi pemain besar di bisnis permen. Bukan lagi beberapa tetapi sampai kontainer berisi permen. Candy Corner menjadi pemilik retail permen serta vendor bagi penjual kecil. Apa yang bisa membuat bisnis mereka tetap menghasilkan volume penjualan tetap.

Ialah bagaiman mempertahankan level kegembiraan dan ekslusipan. Ada standarisasi dalam pengiriman permen cokelat ke grosir, supermarket, ke pasar malam, dan outlet kecil, dimana semakin banyak varian, rasa, jenis, permen yang dijual Candy Corner.

Mungkin hal paling membanggakan adalah, fakta bahwa Rose merupakan ibu dari tiga orang anak. Rose mengatakan bahwa keluarga adalah nomor satu. Jika bukan karena mereka yang mendukung bisnis ini maka bisa dipastikan semua tidak akan terjadi.

"Jika mereka membutuhkan aku setiap waktu, aku tidak akan pernah sukses mengerjakan pekerjaan dan juga rumah tangga, jadi aku mengajarkan mereka independensi sejak dini," paparnya.

Dia membawa pembelajaran tentang pentingnya kejujuran, apalagi jika menyangkut akademis. Sebagai seorang mompreneur, Rose juga aktif dalam organisasi bernama Entrepreneur's Organization (EO). Tujuan utamanya membangun koneksi, bagaimana menjadi seimbang antara bisnis dan pribadi, mengisi hidup lebih lagi.

"Aku adalah wirausahawan ibu," ia lanjutkan, "Aku bahagia dengan pernikahanku, dan Ricky dan aku yang membesarkan 3 anak yang menakjubkan sedangkan tetap aktif dalam EO," tegasnya.

Bisnis penuh rintangan


Bisnis ini sempat booming pada era 90' an, tetapi lain ceritanya jika kita berbicara kita berbisnis pada tahun milenia ini. Tetapi mereka membuktikan mampu bertahan dengan berbagai strategi. "Permen dilihat sebagai cara membuat orang senang. Itu adalah hadiah kecil murah."

Diantara kisah bertahannya tersimpan kisah pilu jatuh- bangun. September 1999, pusat bisnis mereka yang ada di Bagong Ilog, Pasig City, terbakar hingga habis. Mereka mendapatkan telephon pada malam harinya. Begitu pagi harinya mereka tiba, itu semua sudah terlambat!

"Apinya terlalu besar untuk dikendalikan," ujar Ricky.

Mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menonton. Mereka kehilangan apapun semua kantornya itu hangus terbakar. Di dalamnya ada inventaris senilai $129.192,66, dan totalnya adalah $193.788,99. Yang tersisa adalah boks anti- api dan sebuah map berisi buku check, buku pass, dan tiga gulung tisu toilet.

Rose mengatakan mereka butuh seminggu untuk recover. Mereka pindah ke kantor lain di New Manila, untung surat asuransi masih ada di dalam boks anti- api. Semuanya sedang dipersiapkan namun sayangnya, pihak asuransi menolak menanggung semuanya walaupun mereka sudah lama berasuransi.

Beruntung mereka sudah membuat periapan terpisah. Dimana semua tentang hari Natal sudah dipersiapkan. Dimana semua stok permen sudah ada di tempat masing- masing. Persiapan yang sudah matang untuk dua bulan ke depan.

Sambil menyusun kembali inventory, mereka meminta tambahan waktu buat memperpanjang kredit tempat mereka. Disisi lain, mereka mencari hutang kanan dan kiri, dari teman, bank. Mereka juga harus berurusan dengan kantor pemerintah untuk mengurus dokumen- dokumen.

Mereka harus merendahkan harga diri mereka. Memohon kepada suplier untuk menghandle pembayaran lebih lama dan tetap mensuplai. Mereka meminta pinjaman lagi ke manapun. Mereka tetap berekspansi meskipun modalnya terbatas. Mereka mulai berhemat mengendalikan pengeluaran mereka ke depan.

"Itu menyangkut banyak kesabaran, fokus, tidur sampai larut malam -dan, ya, menahan semua tekanan dari luar," tutur Rose.

Rose -yang merupakan lulusan Asian Institute of Management, mengambil Master di Entrepreneurship- meyakinkan diri untuk menahan kredit mereka. Pembayaran apapun tertunda tidak bisa dihindari. Tetapi dia mampu meyakinkan suplier, kreditur, investor, dan meyakinkan mereka bahwa bisnis mereka akan terbayar.

Semua hal tersulit berjalan selama lima tahun. Pada 2005, semua kredit mereka sudah terbayar, dan arus kas sudah berjalan. Tidak ada solusi cepat. Orang terdekat mereka cuma menyarankan untuk menabung ke 10 tahun kedepan. Dan itu tidak ada lagi saran lebih baik lagi dibanding semuanya.

Menyerah bukanlah pilihan, Rose mangatakan, tetapi godaan untuk itu akan selalu datang. Agar mereka tetap pada tekatnya, termasuk membuat waktu keluarga ke luar negeri bersama. Mereka meyakinkan diri untuk tetap bersama bangkit. "Api itu mungkin masalah terbesar dan tersulit pernah kami alami," tutupnya.

Selasa, 12 September 2017

Pengusaha Muda Kelom Sepatu Kayu Unyu

Profil Pengusaha Nadia Mutia Rahma


 
Banyak lah pengusaha muda yang memulai coba- coba. Tidak sedikit mereka mengalami kesuksesan besar. Ambil contoh Nadia Mutia Rahma. Siapa sangka sepatu kelom atau sepatu kayu itu, bisa terjuang hingga ke manca negara. Kemampuan Nadia melihat tren anak muda, desainnya modern, jadilah satu paket menjual.

Kalau cuma berbentuk sandal kayu biasa tidak bisa. Butuh kreatifitas mendukung membuatnya jadi lebih menarik lagi. Kan sekarang orang lebih suka menggunakan sandal japit dari karet. Ditangan Nadia, sandal yang juga disebut teklek, meskipun mengendalakan desain tetapi harus nyaman, dan akhirnya disukai orang.

Bisnis bernama Kloom Clogs, merupakan kreasi tangannya sendiri, identitas produknya adalah desain batik dan ukiran menggunakan teknik cat air brush. Dia juga memadukan kayu dan kulit khas Eropa. Hasilnya sudah tidak lagi tampak sekedar sandal, tetapi menjadi karya seni, modern, fashionable, dan elegan.

Bakat seni dan bisnis


Dengan bisnis Kloom Clogs, dia mampu menghasilkan omzet Rp.250 juta per- bulan untuk pasar lokal dan banyak lagi untuk pasar luar negeri. Kerja keras merupakan kunci sukses Nadia sekarang. Warga asli Nusa Loka, BSD City, ini mendesain sendiri sepatu kayu buatannya.

Ia memang sudah senang desain sejak kecil. Nadia kecil senang menggunting- gunting gorden rumah menjadi prakarya iseng. Beranjak dewasa dia memiliki hobi lebih terarah. Lambat laun hingga dia mendesain sepatu miliknya sendiri. Bukan perkara mudah karena untuk berbisnis, Nadia bahkan menjual mobilnya sendiri.

"Modalnya seharga satu mobil he- he- he," kekehnya.

Ia menceritakan kalau dia tidak dikasih modal. "Waktu itu mama ku belum kasih modal..." imbuhnya. Jadi kebetulan ketika dia belajar di Jepang itu. Dia sempat bekerja part- time. Disaat pulangnya terbeli lah satu mobil hasil jerih payahnya di sana.

"...terus mobilnya dijual, itu (mobil keluaran) tahun 2000 -an," ia menjelaskan. Karena uang sudah ada buat modal usaha, ia segera mengeksekusi ide bisnisnya.

Namun kendala lain menghadang dari sumber berbeda. Kali ini, Nadia kesulitan menemukan penjahit yang bisa memenuhi hasratnya, wanita asli Yogyakarta ini kesulitan menemukan penjahit di kota kelahirannya itu. Penjahit disana terbiasa membuat sandal biasa, bukan bergaya Eropa seperti rancangan Nadia.

Berbulan- bulan dia mencari akhirnya menemukan penjahit. Uang modal digunakan membeli bahan baku dan membayar pengrajin. Masalah kembali datang karena dia butuh waktu. Maksudnya apa dirancang dia saat dibuat tidak sesuai harapan. Butuh proses percobaan agar produk terutama kayunya biar pas dan nyaman.

Berbagai macam kayu diuji coba oleh Nadia. Akhirnya ia menemukan bahan kayu sampang dan mahoni yang diambil dari Garut dan Kalimantan. Hingga banyak lagi jenisnya, jenis kayu dipakai Nadia berbagai macam asli Indonesia. Berbahan kayu Kloom Clogs tergolong ringan disaat dipakai oleh wanita.

Nadia mengatakan ada teknik khusus untuk mengawetkan kayu. Termasuk bagaimana agar kayu jadi lebih ringan. Teknik khusus seperti getahnya dihilangkan, dijemur dulu, atau direndam beberapa hari. Pokoknya ini sudah melewati percobaan terlebih dahulu bukan sembarangan produksi.

Bisnis ratusan juta


Selain memasarkan dalam negeri, dia juga menjual ke luar negeri dan sebulan mampu menjual 400 pasang, hingga bisa dihitung berapa omzet bisnis ini. Nadia secara terbuka menyebut omzet di angka Rp.120 juta. Produk yang dikerjakan di bengkel pribadinya Yogyakarta dan Tangerang, Banten.

Ibunya, Nurdiyanti, ikut membantu sang anak berbisnis. Sejak kecil dia memang hobi menggambar dan lalu mendesain sepatunya sendiri. Nadia sendiri pernah belajar desain di Jepang. Kemudian soal teknologi kulit ada di Yogyakarta. Selanjutnya Nadia belajar mengenai anatomi sepatu sampai ke Swedia.

Usahanya dirintis 2009, ia memilih alas kaki kayu karena unik, bermodalkan 20 model sepatu kemudian dijajakan. Pemasaran dipasarkan ke kekerabatan dahulu. Di perjalanan waktu, produk sepatunya semakin dikenal dari mulut ke mulut. Pesanan bertahap datang kemudian semakin membesar berjalanannya waktu.

Setelah berjalan barulah dia meminta dimodali orang tua. Maka dijual lah mobil itu, dan menghasilkan uang Rp.90 juta untuk dijadikan modal. Dukungan orang tua ternyata tidak sia- sia. Bermodal besar sehingga mampu mengembangkan wirausahanya.

Nadia membandrol harga sepatu Rp.350.000- Rp.800.000 per- pasang. Kloom pun gencar membuka gerai sampai ke berbagai mal, seperti Gandaria City, Pondok Indah Mall, dan BSD City. Namun sekarang fokus mengikuti pameran wirausaha.

Saat ini produk kelom bikinannya sudah sampai ke Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia, dan Denmark. Ada juga yang dikirim ke Australia dan Singapura. Untuk produksinya ditargetkan dari 4000 menjadi 6000 pasang per- bulan. "Fokus kami tidak hanya di pasar ekspor, tapi juga akan lebih giat dalam pasar dalam negeri."

Sejak kelas dua SMA atau tahun 2006 silam, Nadia tinggal di Jepang, mengikuti sang ayah yang ditugaskan di sana. Di sana dia menemukan banyak teman bahkan dari berbagai negara. Salah satunya dari negara Skandinavia, jika anak muda Indonesia bersepatu asing, maka si anak Skandinavia ini malah pakai kelom.

Selepas enam bulan bersekolah di Esmod Tokyo, pulanglah dia ke Yogyakarta, hingga mulai mencari para penjahit guna memenuhi hasratnya. Awalan dia cuma membuat tujuh pasang kelom, dan membandrol harga Rp.250.000 per- pasang, barang itu langsung ludes dibeli tetangga.

Otak bisnis yang menurun dari ayahnya berputar. Kebetulan dia suka gambar, dari sekedar mendesain biasa, ia mulai mendesain sendiri lebih bagus. Otodidak dia belajar mendesain sendiri sandal kelomnya. Ia lantas memutuskan mengikuti pendidikan Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta, fokus dalam mempelajari kulit.

"Cuma bertahan tiga bulan. Baik di Esmod maupun ATK tak sampai lulus," ia mengenang.

Dari kedua sekolah tersebut, Nadia menemukan jaringan bisnis, dan mendapatkan jaringan pembeli dari luar negeri. Awal produksi dia langsung membuat banyak. Bersama lima pengrajin, dipasarkan lewat sosial media seperti Facebook dan Blog. Sang ibu pun membantu dalam pemasaran agar Nadia fokus berproduksi saja.

Kembali menjual mobil dijadikan modal usaha kembali. Ia berencana memperbesar jumlah produksi kala itu. Ia juga memperkuat dari permesinan. Dimana 70% produksi dilakukan oleh mesin, sementara sisanya lebih mengandalkan kreatifitas manusia.

"Nah, mencari tenaga untuk membuat ini sangat sulit. Benar- benar harus mendapatkan orang yang terampil," ia menutup.

Minggu, 10 September 2017

Kisah Pengusaha Muda Berbisnis Limbah Kulit Ikan

Profil Pengusaha Putu Ary Dharmayanti 


 
Layaknya pengusaha muda lain, Putu Ary Dharmayanti, memiliki hasrat besar untuk produknya. Bagaimana agar produk buatanya diakui masyarakat. Adalah kisah co- owner Yeh Pasih Leather, menyulap limbah kulit menjadi produk bernilai jual tinggi. Prosesnya yang ramah lingkungan membawanya hingga ke Eropa.

Dalam praktiknya industri penyamakan sapi masih bermasalah. Limbah dihasilkan mencemari lingkungan jika tidak dikelola benar. Merupakan salah satu penghasil devisa dari segi non- migas. Penggunaan bahan- bahan kimia berbahaya ditambah meningkatnya perburuan liar untuk kulit hewan tertentu.

Wanita 27 tahun, lulusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Gajah Mada, yang ingin mengajak kita sebagai konsumen meninggalkan budaya buruk. Meninggalkan pemakaian fashion kulit yang prosesnya ini tidak ramah lingkungan, mengancam kelestarian satwa, maka bergabunglah dengan Yeh Pasih Leather.

Bisnis ramah lingkungan


Berawal dari keprihatinan akan limbah kulit ikan, di Pelabuhan Benoa, Denpasar, maka Putu Ary kemudian berpikir bagaimana merubah itu menjadi barang komersil. Tahun 2009- 2012, anak pertama dari tiga bersaudara ini, bersama sang ayah I Wayan Aryana melakukan riset, dan cocok karena latar belakangnya teknik kimia.

Putu Ary mendapati bahwa bisnis penyamakan kulit menggunakan kimia berbahaya, contohnya formalin atau krom. Kemudian pewarnanya juga, maka Putu Ary memilih menggunakan pewarna alami dan juga mencari pengawet nabati aman, seperti getah tumbuhan bakau.

Kerja sama antara anak dan ayah ini sangat tidak disangka. Menghasilkan produksi kulit ikan sama yang berkualitas tinggi dan diakui Badan Standarisasi Nasional (BSN). Di tahun 2012, beberapa tahun selepas dia lulus kuliah, dia fokus menggarap bisnis penyamakan kulit ikan sebagai co- owner dan co- foundernya.

Gadis berambu panjang ini memang dikenal sebagai pengusaha muda. Dia juga berbisnis budi daya lobster, restoran, juga bekerja sebagai public speaker di sebuah perusahaan, pernah dilakoni. "Namanya juga anak muda yang sedang mencari jati diri, saya akhirnya menemukan passion di bisnis keluarga ini," jelasnya.

Kenapa kulit ikan? Jawabanya gampang, karena Indonesia merupakan negara maritim, produksi ikannya sampai 47,6 juta ton atau setara 52 persen produksi dunia versi Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Bali sendiri merupakan sentra filet ikan terbesar kedua di Indonesia, dengan sekitar 23 unit usaha di Benoa.

Ada 40 persen bagian tubuh ikan yang dipakai, sisanya berupa kepala, tulang, ekor, dan kulit terbuang menjadi limbah. Satu usaha filet ini menghasilkan 3000- 4000 lembar limbah kulit per- hari.

Kulit ikan kan unik memiliki guratan- guratan. Bekas sisik itu sangat eksotis jika dijadikan produk fashion. Seratnya kuat juga cocok menjadi produk samakan. Tren melihat bahan kulit eksotis dan ekslusif memang tidak bisa dipungkiri. Pemain utama kulit ikan ada Australia, Islandia, Kanada, Rusia, dan Indonesia.

Keunggulan Indonesia adalah tidak mengenal musim. Ikan melimpah ruah hingga menunggu kita mampu atau tidak memanfaatkannya. Jika negara lain bahan bakunya tunggal yakni salmon, negara kita memiliki aneka ikan untuk disamak kulitnya.

Usahanya menggunakan tiga jenis ikan: ikan kakap, barramudi, dan mahi- mahi. Kakap memiliki ukuran sedang dengan permukaan kulit rapi. Cocok buat bahan baku tas, dompet, alas kaki, ikat pinggang, dan juga aksesoris.

Ikan barramudi ukuran sisik sedang, permukaan lebih panjang. Mahi- mahi punya sisik kecil, halus, jadi ini sangat potensial menggantikan kulit sapi, atau kulit sintetis untuk lapisan kulit sebuah produk. Dia dan ayah mengembangkan tiga unit mesin sendiri.

Meskipun sekala produksinya masih rumah tangga, Yeh Pasih Leather, sudah menjangkau luar negeri seperti ke Rusia, Prancis, dan Jepang. Mereka dibantu 10 pengrajin, dan 6 orang diantaranya merupakan tetangga mereka.

Besarnya publikasi dan mengikuti aneka pameran membuat pesanan lembaran kulit ikannya terus meningkat. Ia mengatakan untung diraih bisa sampai sekitar Rp.30 juta per- bulan. Kesuksesannya tidak mengalami kendala berarti. Kenaikan permintaan membuat dampat siginifikan dalam biaya operasi dan profit tentunya.

Permintaan dari luar negeri memang paling besar. Pembeli luar membeli hingga 10 ribu lembar dalam setiap bulannya. Bersyukur ada bantuan kredit Jamkrida Bali hingga kapasitas produksi sudah mencapai 3000 lembar. Putu Ary membeli kulit ikan sisa filet Rp.5 ribu per- kg di Benoa.

Jika dijual di dalam negeri, lembaran kulit ikan yang sudah ia proses seharga $3, maka jika dikirim ke luar negeri harganya $14 per- lembar. Prinsip bisnis Yeh Pasih Leather adalah bebas limbah. Sisik ikan yang tidak terpakai masih bisa dijadikan cangkang kapsul. Daging ikan yang menempel bisa diolah abon atau pakan ternak.

Pemanfaatan kulit ikan merupakan solusi untuk Indonesia. Bagaimana kita nanti bisa menjadi pemain besar di industri kulit dunia. Putu Ary mengajak semua anak muda untuk menjadi wirausaha, bukan cuma duduk dan menjadi pekerja semata. "Bisnis terbaik adalah bisnis yang segera dimulai," ia menuturkan.

Jual Rambut Ekstensi Online Miliaran

Profil Pengusaha Diishan Imira


 
Namanya Diishan Imira, dia adalah pendiri dibalik startup Mayvenn, yang merupakan ide sederhana tetapi cukup menarik investasi besar. Selena Williams, sang Ratu Tenis, salah satu tercatat menanamkan uangnya di bisnis yang dijalankan Imira.

Bisnis apa sih kenapa disebut sebagai bisnis kuda hitam. Imira sendiri adalah seorang penata rambut, salah satu pemilik salon kulit hitam, spesialisasinya tentang weaveologist, atau orang yang ahli dalam hal bagaimana memperbaiki gelombang rambut kamu atau semacamnya.

Dalam sebuah pasar yang tidak terbaca, seperti bisnis rambut. Penetrasi pasar menjadi begitu abu- abu. Butuh sebuah inovasi yang besar untuk memasuki ke dalamnya. Dengan kemampuan menggunting hingga bagaimana mendistribusikannya ke dalam bisnis jutaan dollar.

Dia merupakan salah satu pendiri Mayvenn. Sebuah perusahaan yang fokus kepada produk rambut ekstensi atau rambut tambahan. Berdiri di Oakland, California, perusahaan tersebut dikonsep sebagai tempat untuk para klien membeli rambut sambungan. 

Harga per- bundle antara 20%- 25% komisi untuk stylis di website mereka.

Dia berpikir awalnya bagaimana membantu saudara perempuannya. Dia ingin menjual rambu sambungan melalui internet. "Saudara perempuan saya sekarang adalah seorang stylist di LA, dan dia mau masuk ke bisnis menjual rambut sambungan untuk dipakai setiap hari," lanjut dia.

Hanya lima persen saja pemilik salon atau stylist di Amerika yang menjual rambut sambungan. Khususnya untuk mereka wanita kulit hitam. Bahkan produk dijual di Mayvenn, bahan baku utamanya merupakan rambut dari Asia, yang memiliki tiga tekstur utama.

Kurangnya modal usaha ataupun tempat penyimpanan merupakan masalah klasik. Panggilan dari sang saudara perempuan itulah yang memanggilnya. "Itu tahun 2012 silam, saya baru saja menyelesaikan MBA dan sudah bekerja di Afrika Barat untuk internship Ernst&Young."

"Saya tau saya mau memulai sebuah perusahaan online, tetapi saya tidak tau saya mau melakukan apa," ia menjelaskan

Seorang traveler sejati yang juga sibuk mengimpor barang -seperti sepatu sneaker, furnitur, dan barang seni- semuanya dari berbagai penjuru dunia. Dia kemudian memutuskan membantu sang adik. Dia mulai mencari banyak suplier, membawa barang tersebut sampai ke Oakland.

Caranya dia akan mendatangi salon- salon. Imira akan mulai bertanya tentang rambut dan kerja sama bisnis. "Bisakah anda dapat lebih banyak (untuk saya)?" ujarnya. Dia mulai menjual juga rambut sambungan itu dengan berbekal mobil. Mulailah dia melihat gambaran besar distribusi bisnis rambut sambungan itu.

Dengan latar belakang pendidikan manajemen suply. Juga pengalaman investasi luar negeri pula. Makalah Sang MBA dari Georgia State University, tau bahwa dia bisa menjadikan stylist sebagai jalan bagianya ke dunia entrepreneurship, lewat rambut sambungan.

Mayvenn membantu para stylist, memberikan mereka akses gratis, tempat berjualan, dan suport 24 jam untuk berbisnis. Barang dari Mayvenn garansi 30 hari datang atau uang kembali. Pembeli bisa memakai, mencuci, mewarnai, memotong, dan jika mereka tidak suka bisa dikembalikan.

Para stylist ditugaskan bagaimana memberi layananan. Sementara rambut sambungan nanti dari perusahaan Imira. "Kami akan memberikan komisi 25% penjualan ke alamat bank anda," jelasnya. Setiap penjualan senilai $600, para stylist akan mendapatkan $100 kredit rambut untuk membeli rambut.

Sabtu, 09 September 2017

Jualan Pisang Goreng Madu Bu Nanik Untung

Profil Pengusaha Nanik Soelistiowati 


 
Berawal dari masalah kesehatan lantas menjadi bisnis. Inilah kisah Nanik Soelistiowati dan bisnisnya yaitu pisang goreng madu Bu Nanik. Bahkan bisnis Nanik sudah dilirik pihak Istana Negara. Bermula dari satu pengalaman pribadi, penyakit diabetes membuatnya harus pilah- pilih makanan yang akan dikonsumsi.

Ia menemukan cara tetap bisa makan makanan manis. Tetap berasa manis tetapi nanti tidak mengganggu gula darah. Dia juga menambahkan bahwa keluarganya suka manis. Nah, jadilah dia coba berbisnis pisang goreng manis, dan keluarga dekatnya suka pisang goreng buatannya.

Pisang madu


Penyakit diabetes membuatnya sangat hati- hati. Bahkan makanan yang terlihat sehat belum tentu cocok. Contohnya pisang goreng biasa, bisa menaikan gula darah Nanik tinggi juga. Lalu keinginan untuk makan pisang goreng terutama pisang goreng madu muncul.

Dia membuat pisang goreng madu khusus. Madunya bukan sembarangan tetapi sudah disesuaikan. Bentuk pisang goreng madunya seperti gosong. Tetapi sebenernya merupakan karamelisasi dari madu itu. Dari cuma dikosumsi sendiri, dicoba tetangga, kini dipesan banyak orang buat dinikmati.

Sejak 2007, bisnisnya bermula dari gerai kecil sederhana, dimana dia menjajakan pisang gorengnya. Dia memanfaatkan aneka bazar makanan. Resep ditemukan ketika 20 tahun sebelumnya dia fokus berbisnis katering untuk hotel.

Ia menjual menggunakan namanya sendiri. Pisang Goreng Madu Bu Nanik atau Pisang Goreng Bu Nanik, dan orang ternyata gampang menghafalnya. Bu Nanik sendiri merupakan pelopor pisang goreng madu yang ada di Jakarta.

Sukses dia mampu memproduksi 70 peti pisang setiap hari. Hingga terkadang dia kesulitan menemukan bahan baku saking banyak permintaan. Khususnya waktu musim kemarau maka jumlah bahan baku akan menurun drastis. Bertahap bisnisnya tidak cuma terbatas pada produk pisang goreng madu saja.

Nanik menjual juga ubi madu, cempedak madu, nanas goreng madu, dan nangka goreng madu. Lalu ada risoles, tahu, tempe, yang asin- asin.

Sukses berbisnis pisang goreng bukanlah akhir. Ia ingin lebih maju lagi dengan bisnis lebih berkembang. Nanik bercita- cita mendirikan toko pusat oleh- oleh Jakarta. Maka pendapatan dia dapatkan tidak bisa ia langsung habiskan. Meski banyak untung, semisal Rp.10 ribu, tidak bisa begitu saja dipakai tetapi investasi ulang.

"Anak saya digaji dan saya juga mengambil gaji, sisanya saya investasikan," paparnya.

Keuletan merupakan kunci sukses berbisnis apapun. Kemudian, janganlah kamu melihat masa lalu, lihat ke masa depan, jalankan usaha kamu tanpa takut kegagalan. Ia juga mengatakan anda harus mengerjakan bisnis anda sendiri. Kuasai pasar anda, harus dimulai dari skala kecil terus promosikan bisnis anda ke khalayak.

"Jika ada project atau acara yang lain bawa kaos, sepatu, saya bawa pisang dan kartu," Nanik menambahkan.

Ia membawa kartu nama usahanya. Sementara pisang akan dibeli atau dibagikan sebagai upaya promosi. Dari semula berbisnis katering, ternyata berbisnis pisang goreng lebih menguntungkan. Memang bisnis makanan bisa masuk ke mana saja, ke perorangan, perusahaan, maupun perhotelan.

Senin, 04 September 2017

Biografi Pengusaha Kue Kering Yorya

Profil Pengusaha Liche Lidiawati



Ia tidak pernah berpikir akan menjadi pengusaha. Sukses baginya adalah mengikuti cita- citanya. Selepas lulus SMA, Liche Lidiawati, berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Tapi siapa sangka justru dari berbisnis aneka kue kering dia menghasilkan miliaran rupiah per- tahun.

Bakat memasak sudah menurun kepada Liche. Ibunya memang hobi memasak. Secara tidak langsung telah membawa kesukaan memasak kepada Liche kecil. Kecintaan akan memasak menjadi ketika dia sudah jadi ibu rumah tangga. Apalagi dia sudah memiliki seorang anak, dia rajin membuat aneka kue kering sehat.

Awal ia cukup mengkreasikan ulang jajanan anak. Sebut saja coco crunch dijadikan kue olehnya. Lanjut ia membuat kue kering berdasarkan resep ibu. Perempuan 30 tahun yang juga bekerja sebagai dokter gigi di Pertamina ini, menerangkan lebih lanjut tidak pernah mengikuti pelatihan khusus membuat kue.

Bisnis resep keluarga


Penggemar kue bikinan Liche tidak cuma tiga putranya. Banyak teman kantor berminat dengan kue bikinan Liche. Sejak 1996 dia resmi jualan terbatas kue kering toplesan seharga Rp.5000. Setiap kali pulang kerja dia akan membuat kue dari pukul 18.00 sampai 01.00, kue pesanan teman- teman kantornya.

Ketika pesanan sudah banyak, dia dibantu dua orang pembantunya sebagai karyawan. Lantaran enak dan juga gurih peminat kue Liche menjadi. Padahal ia mengaku tidak membuat marketing khusus ke orang- orang.

Banyak pembeli datang ketika Lebaran. Meski harga naik entah kenapa kue Liche tetap laris terjual. Kue Liche rajin ditawar- tawarkan pelanggan sendiri. Ketika krisi moneter datang dia sempat kaget. Harga jual bahan kue kan naik. Ia sempat berpikir mengerem laju produksi kue miliknya.

Meskipun harga naik, orang bela- belain membeli kue bikinan Liche, pesanan tetap membludak apalagi jika masuk Lebarran. Menyadari bahwa kesempatan terbuka luas. Kebutuhan akan kue- kue lebaran begitu tinggi maka ia tetap berproduksi sama bahkan meningkat.

Ia mengankat keryawan baru sampai 10 orang. Tidak mau tanggu dibelinya rumah sebelah buat tempat produksinya. Di tahun 2000 -an sistem keagenan diterapkan Liche. Karena bisnis hobi, meskipun pesanan membludak, dia tidak begitu pedulikan manajemannya. Agan pertama adalah orang- orang yang dia kenal sekitarnya.

Agar bisnis tetap digemari aneka varian diluncurkan. Bahan bakunya bermacam seperti buah- buahan, lalu kacang hijau, dan cokelat. Ia meraciknya sendiri menjadi varian kue kering. Kakak iparnya yang juga kerap membuat kue sering memberi masukan kepada Liche.

Bisnis serius


Semakin besar bisnis semakin besar kebutuhannya. Kapasitas produksi meningkat dibanding sebelumnya. Ia, pada 2002, mendirikan pabrik seluas 600 meter untuk menampung 80 karyawan. Tidak tanggung dia menginvestasikan Rp.1 miliar untuk membeli 3 oven besar.

Sukses berbisnis membuatnya semakin sadar. Dia kemudian membeir nama bisnisnya Yorya, yang diambil dari nama ketiga anaknya, Adya Kamara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Tahun 2009 berulah ia mematenkan nama usahanya. Liche mengaku usaha kue kering memang sifatnya musiman tidak setiap hari.

Dia membuat untuk kebutuhan hari raya kita semua. Puncak penjualan ada di Lebaran dan Natal. Namun ia meyakinkan kue kering sudah seperti kebutuhan pokok ketika musimnya tiba. "Orang yang tidak punya uang bela- belain membeli kue kering," jelasnya.

Wanita kelahiran 29 April 1955 ini, mengatakan pertumbuhan bisnisnya melonjak ketika musim tiba, sampai 15% itupun di Yogyakarta saja. Bulan biasa dia mampu menjual 50 lusin stoples kue kering. Dan ketika Lebaran- bisa mencapai 9000 lusin dalam sebulan saja. Pada hari Natal mencapai 2000 lusinan.

Ia tidak sendirian, tahun belakangan, anak- anaknya ikut membantu perkembangan bisnis Yorya Cookies. Utamanya anak kedua Ryan membantunya bidang pemasaran. Sambil berkuliah di Australia, dia membantu membangun website Yorya Cookies. Ryan jugalah menjadi sosok kunci perubahan sistem keagenannya.

Sistem agen Yorya ada tiga: Silver, Gold, dan Platinum. Untuk menjadi agen Liche tidak mengajukan syarat- syarat tertentu. Semenjak punya eCommerce sendiri, bisnisnya sampai ke Aceh hingga Papua. Ia menyebut ada 200 agen. Harga jual per agen antara Rp.45- 52.200 per- toplesnya. Harga ritelnya Rp.70- 75 ribu.

Bisnis kue kering sekarang berbeda. Tidak sama ketika dia merintis Yorya. Pesaingnya banyak jadi butuh perbedaan signifikan. Seperti ia mengembangkan bentuk- bentuk kue baru. Varian rasa yang sudah ada 100 buah. Kompetisi ketat membuatnya rela menurunkan margin untungnya, dulu 125% sekarang cuma 40%.

"Margin berkurang tidak apa- apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas," imbuhnya.

Kamis, 31 Agustus 2017

Camilan Sayuran Kering Enak Menguntungkan

Profil Pengusaha Andriani Kurnia 


 
Susahnya anak- anak makan sayur menjadi ide. Nah, kali ini kita ide bisnisnya datang dari Andriani Kurnia, yang mencoba peruntungan di bisnis camilan sehat. Apalagi banyak camilan mengandung pengawet. Orang tau butuh sesuatu yang sehat tetapi menarik perhatian si kecil.

Bisnis ibu rumah tangga


Ide bisnis ini datang ke seorang ibu rumah tangga asal Bandung. Dia mencampurkan sayuran tanpa bahan pengawet. Ketidak sukaan anak mengkonsumsi sayur memang menjengkelkan. Padahal sayurang sangatlah baik karena mengandung banyak vitamin. Tidak jarang orang tua menakut- nakuti anaknya agar doyan sayur.

Andriani memutar otak agar tidak maen ancam. Berbekal kemampuan mengolah kue kering, dia mencoba membuat camilan pendorong nafsu makan sayuran. "Saya coba- coba mencampurkan sayuran ke dalam adonan kue kering," tandasnya.

Merasa caranya jitu menciptakan sesuatu. Andriani mulai membuat kue kering berbahan sayur lagi. Lalu dia coba jualkan ke pasar- pasar. Respon pasar ternyata baik dan menerima kehadiran bisnis Andriani. Ia resmi membuka bisnis camilan sehat sejak Oktober 2008 silam.

Modal awalnya Rp.500.000, yang mana bahannya tepung terigu, mentega, keju, telur dan sayuran tentunya. Dia memakai peralatan sederhana. Wanita 32 tahun ini semangat membuat cheese stick sayur. Dimana ia menambahkan sayuran di tengah penghalusan adonan. Kandungan sayuran perlu diingat 40% dari adonan itu.

Kandung sayurang yang besar membuat cita rasa berbeda. Itu meliputi enam pilihan rasa, yakni brokoli, seledri, bayam, bit, jagung, dan wortel. Satu lagi tanpa sayuran yaitu rasa keju original. Untuk kemasan dia menggunakan plastik mika. Kalau kemasan tidak terbuka lama, camilan tanpa pengawet ini bisa 3 bulan awetnya.

Ada dua kemasan yakni 1 ons dengan harga Rp.3000- Rp.3500 dan kemasan 2,5 ons -atau seperempat ons- harganya Rp.10.000. Ia juga menjualnya dengan sistem curah. Harganya cuma Rp.40.000 per- kilo. Istri Dikdo Maruto ini berproduksi seminggu dua kali.

Sekali produksi menghasilkan 3- 4 kilogram masing- masing rasa. Dia dibantu dua karyawan berbekal peralatan memasak rumah tangga. Pemasaran masih di Bandung, Jakarta, dan Jepara. Mereka yang beli biasanya buat dijual kembali. Ibu dua anak ini sudah dua semester berbisnis camilan sayuran sehat ini.

Omzetnya masih Rp.3 jutaan, sudah dipotong biaya produksi dan gaji karyawan, maka margin untungnya ia cuma dapat 30%. Memang masih kecil tapi sejalan dengan pola produksi yang masih kecil dan lama usaha ini berjalan. Banyak kendala dihadapi mulai proses edukasi pasar yang berjalan lambat.

Apalagi dia belum punya tempat jualan sendiri. Kedepan kalau ada modal usaha dia akan membuka outlet sendiri. Karena industri rumaha penetrasi pasar juga lemah. Ia sendiri tidak tinggal diam. Masih menyusun konsep tepat untuk produknya.

Ia mencatat prospek bisnis camilan sehat bagus. Dia yakin akan ada perkembangan tentang bisnisnya. Dia mengingatkan bahwa ini camilan sehat tanpa pengawet. Camilan ini sehat tanpa pewarna dan pengawet karena warnanya sudah dari sayuran itu sendiri.

Rabu, 30 Agustus 2017

Jualan Sosis Bandeng Untung Jutaan

Profil Pengusaha Imam Tantowi 



Aneka olahan ikan bandeng sudah banyak. Bukan berarti tidak ada prospek bisnis. Ini contohnya jika kita pandai menebak pasar lewat kreatifitas. Salah satunya Imam Tantowi, pengusaha satu ini membidik bisnis sosis bandeng. Dengan membuat bandeng jadi gampang dimakan bebas durinya yang menjengkelkan.

Beda dengan presto yang masih ada kepala dan ekor. Sosis bandeng lebih halus teksturnya buat disantap. Mas Anton, begitu dia biasa disapa, sudah mengembangkan bisnis sosis ini sejak akhir 2015 di Bekasi. Ia mendirikan Izzan sebagai merek dagang sosisnya.

Uang Rp.1 juta digelontorkan untuk bisnis. "Separuhnya hasil pinjam kakak saya," jelasnya. Susah memang mencari modal usaha. Tetapi Anton semangat karena yakin ide bisnisnya akan sukses. Anton sudah nekat menjadi pengusaha karena perusahaan media tempatnya bekerja bangkrut.

Beruntung dia sudah siap mental, menjadi wirausaha sudah menjadi pilihan semenjak dia bekerja. Pria 35 tahun ini tidak serta merta meluncurkan Izzan. Butuh tiga bulan hingga ia menemukan resep tepat. Dia lalu menambahkan telor dalam campuran dagingnya.

Resep rahasia


"Plus bumbu (rahasia) yang saya racik sendiri," paparnya.

Teknik pembuatannya: Pertama ikan bandeng, telor, dan bumbu di campur, digiling satu wadah. Kemudian itu digiling lembut dan dimasak dengan cara khusus. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut caranya. Soal teknik agar adonan bebas dari duri juga tidak dijelaskan (rahasia mungkin).

Selepas matang daging ditaruh kembali di kerangka, lengkap dengan kepala dan ekornya. Agar terlihat nih produknya benar- benar bandeng asli. "Jadi tetap mempertahankan bentuk asli, tetapi kalau dipotong tidak ada durinya," paparnya. Untuk kualitas terbaik sengaja dia memilih bandeng hitam sebagai landasan.

Karena bandeng hitam tidak mengandung lumpur. Tidak ada bau lumpur di dagingnya nanti. Bandeng jenis ini dibeli di Bekasi, Cikarang, Karawang, dan Rengasdengklok. Dia memilih yang segar seharga Rp.15 ribu sampai Rp.16 ribu.

Dan nama sosis bandeng ini sudah terkenal di tiga daerah, yakni Cirebon, Banten, dan Semarang. Kalau di daerah ini namanya macam- macam. Dari bandeng gepuk di Cirebon, sate bandeng di Banten, dan otak- otak jika di Semarang. Tetapi ia meyakinkan buatanya berbeda karena merupakan resep rahasia khusus.

Bisnis ini prospeknya tinggi hanya belum tergali. Agar populer butuh diperluaskan pemasarannya, agar keuntungan bisa jadi berlimpah ruah. Anton sudah menebar benih bandeng sosisnya, dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Makassar. Semua dipasarkan lewat keagenan tersebar di berbagai kota.

Berbisnis terus dia mampu menembus pasar supermarket, seperti Giant, Hero, Farmers Market Kelapa Gading, dan Mal Pondok Indah 1. Juga termasuk beberapa restoran Sunda di Jabodetabek. Dibantu empat karyawan mampu memproduksi 1.400 kardus. Satu kardus berisi bandeng seberat 185grm harga Rp.15- 17 ribu.

Omzet Rp.13 juta sampai Rp.15 juta per- bulan. Omzetnya dikatakan turun karena musiman, bisa sampai Rp.20 jutaan. Pelebaran sayap pasar seperti ke Bandung menjadi solusi. Alasannya dia mendangar di sana cocok dikembangkan. Karena kota ini dianggap tempatnya orang Jakarta mencari oleh- oleh buat dibawa.

Senin, 28 Agustus 2017

Ikut Kompetisi Wirausaha Shark Tank Kisah Salon Cowok

Profil Pengusaha Michael Elliot 


 
Namanya Michael Elliot, merasakan betul bahwa laki- laki juga butuh manja. Seorang teman menganalisa dia benar butuh pedicure. Dia, perempuan, kemudian mengajak Michael pergi pedicure. Jujur si temannya ini mau bilang tetapi memilih diam. Takut kalau Michael tersinggung karena dia laki- laki.

Alhasil dia dibawa secara rahasia ke tempat perawatan kuku. Dan semuanya perempuan, tidak ada tempat bagi Michael merasa nyaman. Kemudian pengalaman itu diadaptasi olehnya. Menjadi bisnis hingga sang penulis skenario itu berubah menjadi pengusaha sukses.

Penulis Brown Sugar dan Just Wright, yang melihat peluang dibutuhkannya tempat perawatan khusus buat pria. Kita juga butuh kebersihan mendetail. Higenitas sudah bukan lagi barang bawaan wanita. Maka jadilah sebuah tempat dengan tempat tidur kulit, televisi flat- screen, furnitur kayu klasik, dan tentu minuman wiski.

Semua dapat ditemukan jiga perawatan ke Hammer & Nails, the Nail Shop for Guys. Dibuka tahun 2013 membutuhkan dana tidak tanggung $250.000. Harga perawatan antara $23 sampai $120, dari perawatan kuku dengan susu dan madu. Hasilnya dalam lima bulan menghasilkan $150.000 keuntungan.

Malu ke salon perempuan


Jujur dia suka perawatan kaki, tetapi dia merasa tidak nyaman jika harus perawatan bersama banyak wanita. Ia lebih memilih hengkang dari tempat tersebut. Kecuali ketika ada pria lain datang masuk dan mulai melakukan perawatan juga.

"Kami mulai ngobrol dan saya mengatakan ke dia bahwa saya merasa seperti ikan di lain air," kenangnya. Ia merasakan seperti dituduh menginvasi ruang wanita. Dan pria tersebut juga merasakan hal sama, maka ia berpikir apakah itu juga dirasakan semua pria.

Ia lantas melakukan aneka penelitian. Seperti bayanganya, tidak ada satupun salon buat perawatan khusus pria apalagi perawatan kuku. Dia ingin berdedikasi di area tersebut. Meski pandangan bahwa area tersebut tidak penting bagi pria. Tetapi bagi kesehatan ternyata itu sangat penting dipertimbangkan oleh kita loh.

November 2013, -delapan bulan setelah pengalaman pertama ke salon- , dia membuka usahanya sendiri tersebut. Tidak mudah bagi Michael Elliot menggapai mimpi. Butuh modal tentu untuk membuka usaha ini. Alhasil dia mengikuti berbagai kompetisi wirausaha, salah satunya di stasiun televisi ABC.

Acara Shark Tank tentu kamu sudah tau kan. Dia hadir di Season 6, pada 26 September 2014, dimana jadi penayangan terbanyak penontonnya dalam sejarah Shark Tank. Dia mencari investasi $200.000 yang mana sebagai gantinya dapat saham 20% untuk mengembangkan brand franchisenya.

Ya, untuk mengembangkan bisnis tersebut cepat. Michael memilih mengkonsep bisnis waralaba. Juga satu kebetulan dia terinspirasi kisah sukses waralaba. Dia menjelaskan kepada para Shark bahwa salonnya dirancang menarik hati para cowok maco.

Sayangnya, seperti beberapa pengusaha sukses lain di Shark Tank, dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan menurut Kevin O'Leary, "itu tidak akan pernah bekerja". Beruntung salah satu penonto episodenya adalah satu investor perempuan Africa- America, yang lantas memberinya kesempatan dengan investasi setelah itu.

Bisnis resiko


"Sejak awal, saya telah berpikir besar dan saya punya potensi untuk menjadi brand nasional," paparnya. Dia menyebutkan apa kita pikirkan akan berpengaruh ke masa depan kita. Dengan berpikir besar pengusaha akan menjadi sosok pemikir setiap langkah ke depan meskipun sekecil apapun -pasti akan berdampak juga.

Dia tidak ingin jadi salon murahan. Maksudnya cuma jualan di mall, tetapi harus memiliki tempat sendiri premium. Seperti memasang bisnis di tiga tempat ikonik yakni Rodeo Drive, Sunset Boulevard, atau di Melrose. "Saya selalu tau saya mau mengintregasi barber menjadi satu model bisnis jadi waralaba besar."

Dengan konsep waralaba, berapa Michael Elliot dapatkan, yakni investasi $234.700 sampai $531.000 dan menjual lebih dari 183 lisensi franchise Hammer & Nails.

Jika menelisik lebih dalam adakah prospek bisnis ini. Ditelisik ternyata perawatan kuku bagi pria itu beda. Jika wanita melakukan itu demi estetik; dimana mereka berganti warna setiap kali bosan. Maka bagi pria adalah murni soal kesehatan dan kebugaran.

Untuk mendukung bisnisnya Michael juga melakukan riset. Ia memberika delapa alasan kenapa pria harus pedicure. Salah satunya sebagai langkah pendeteksi awal retakan, infeksi jamur, dan kuku yang tumbuh tidak teratur. Kamu harus tau kuku tidak sehat membuat infeksi, bau busuk, kulit- kulit jelek mengeletek.

Maka setiap ada orang biasa datang berkunjung. Mereka yang baru ingin coba- coba. Tidak tau bahwa ada bahaya dibalik jamur kuku. Mungkin mereka tidak pernah membahas kaki dengan istri atau teman. Tapi mereka perlu tau pemain basket NBA menurut Wall Street Journal melakukan pedicure pada kaki mereka.

Jika pelanggan datang bukan soal kuku bersinar, maka setidaknya berpikirlah tentang aspek kesehatan. Ambil lah contoh Lebron James, sosok pemain basket terkenal sedunia ini paling vokal soal aktivitasnya pedicure kuku kaki. Lalu ada Dwyane Wade sebagai pebasket kaki adalah aset, maka dia merawat kakinya.

Persepsi tentang pedicure lambat laun berubah. Meskipun begitu dukungan wanita juga penting. Alhasil ada klien 3 sampai 5 persen adalah wanita. Mereka yang mengajak pasangannya yang kakinya bau. Meski begitu Michael tetap fokus terutama menarget mereka para pria berjas yang sudah memiliki pendidikan tinggi.

Wanita ini memberikan kontribusi 30% penghasilan perusahaan. Mereka mendorong para prianya agar tau bahwa kaki mereka butuh perawatan. Bisnis Michael adalah perawatan kuku dan tangan termasuk pedicure tetapi juga lainnya. Untuk menarik para pria ada perawatan pijat dengan scrub yang dicampur wiskiy juga.

Jumat, 25 Agustus 2017

Restoran Meksiko El Pastor Menu Andalanya Taco

Profil Pengusaha James Hart 


 
Menjadi pegawai bergaji puluhan juta memang enak. Tetapi kalu memiliki usaha sendiri lebih memuaskan hasrat kita. Apalagi kalau bisnisnya sukses menghasilkan lebih. Kebebasan finansial ditambah kebebasan kita berpassion. Inilah kisah dua saudara berbisnis taco Meksiko di Inggris, siapakah mereka.

James Hart, 32 tahun, memilih jalan berbeda dibanding dua saudara laki- lakinya. Mereka berdua yang dikenal sebagai pengusaha pemilik restoran juga. Dia memilih jalan menjadi broker. Bergaji enam digit angka dollar Amerika. Tetapi baru saja dia menyadari bahwa passion -nya adalah membuat makanan enak.

Sudah mendarah daging maka lahirlah bisnis El Pastor, bersama kedua saudaranya dan seorang temannya. Ia mendapatkan review bagus dan antrian pembeli. Sepuluh tahun bekerja menjadi pegawai di kota London. "Ketika saya resign Desember 2015 saya tidak terpikirkan untuk berbisnis di bidang jasa."

Ketika dia tengah berjuang berbisnis, sang kakak yakni Eddie (41), dan Sam (43), sudah membuka cabang ke empat restorannya -yang bernama Barrafina.

Bisnis taco


Ide El Pastor ialah tentang Kota Meksiko, dimana Sam menjalankan tempat klubing El Colmillo antara tahun 90- 00an. Orang cinta dengan kultur dan masakannya. Orang akan berdebat panjang tentang makanan taco ketika menikmati minuman dan musik.

Makanan Meksiko di Inggris ya gitu aja. Ada keju manis, ada nachos, krim, dan cabai jalepanos bila kita beruntung. Hingga restoran taco benar buka memberikan suguhan lebih menonjok. Ia mencoba mengikuti jalur tersebut bukan dengan restoran cepat saji tetapi restoran klasik.

Banyak orang memiliki mimpi bisnis taco. James hanya mengamati, menganalisa, bagaimana agar bisa ditranslatekan kepada tradisi lokal. Hingga dia menemuka titiknya semuanya adalah perjalanan sejarah. Ia meluncurkan El Pastor pada Desember 2016, tiga restoran telah dibuka hanya kurun 10 tahun saja.

Kisah suksesnya adalah pada rasa menonjok. Ia telah menemukan keilmuan tentang memasak taco yang sempurna. Dengan pergi kembali ke Meksiko, dia belajar sendiri dari ahlinya tentang taco, sejarah tentang masakan ini menambah cita rasanya. Semakin dipelajari ternyata makanan Meksiko sudah eksis 60 tahun lebih.

"Kami belajar dengan sendiri, jadi tentu saja banyak masalah menghadapi kami," ujar James.

Namanya diambil dari nama bisnis Taco Al Pastor, yang dikembangkan oleh imigran Lebanon di Meksiko. Inilah menu utama restoran ini. Bagaimana memberi bumbu menjadi kunci. Setiap detail kecil dalam hal pengolahan daging menjadi hal utama.

Trademark kualitas menjadi nomor satu. James menciptakan Al Pastor menjadi kasual. Bagaimana orang bisa menikmati makanan sesantai mungkin. Rasanya harus sangat brilian, dimana anda tidak perlu butuh akan adanya meja dan tetek bengek di atasnya.

"Layaknya makanan jalanan, itu merupakan jalan terbaik buat makan."

"Kami suka berbagi, ini merupakan satu cara kami menimati makan," ujar James. Meskipun sukses tidak mudah baginya menggaet para Londoner. Merupakan sentral makanan membuatnya pasti bertemu banyak pesaing. "Kami berjuang keras, sangat keras untuk lokasi kami (berbisnis)," tambahnya.

Margin untung bertambah akan sangat sulit. Dimana jika anda tidak memiliki ruang untuk bernafas buat menyempurnakan sagala hal. Biaya sewa tinggi membuatnya nerves untuk memandang ke depan. Akan semakin sulit menggaet orang baru berkenalan dengan produknya.

Hal tersulit menjadi pengusaha selain hal di atas. Adalah rutinitas dimana James harus bangun jam 6 pagi, bagaimana agar tetap sehat dan fit setiap hari. Dimana bisnisnya buka jam 7.30 sampai 4.30, yang mana sudah termasuk tetek bengeknya, tidak ada waktu buatnya pergi ke gym.

Meskipun sulit dibanding ketika dia bekerja menjadi pegawai. Ia sempatkan diri untuk fitnes disela- sela kesibukan bisnisnya. "Orang menjadi sangat bersemangat ketika berbicara tentang gaji namun demikian mereka lupa bahwa kunci semua hal adalah kebahagiaan," ucapnya, siap bertaruh jangka panjang wirausaha.

Kamis, 24 Agustus 2017

Petani Pengusaha Singkong Gajah Kalimantan

Profil Pengusaha Ariyanto Zeydan



Namanya singkong gajah, merupakan varian baru singkong yang sudah pasti lebih di ukurannya. Namanya juga gajah, jika dirawat benar, ukurannya bisa mencapai berat 80kg satu batangnya. Rasanya tuh gurih seperti mentega, teksturnya lunak, umbinya tidak cepat membusuk selepas dicabut dari tanah.

Hasil panan bisa mencapai 150- 200 ton jika dikelola baik, kalaupun tidak intesif mencapai 100 ton per- ha. Singkong ini cocok dijadikan bisnis tepung mocaf -tepung singkong fermentasi- karena warnya yang putih bersih.

Kulit umbi bagian dalam berwarna merah, batang mudah berwarna ungu, batang tua berwarna coklat, dan daun muda berwarna coklat. Salah satu pengusaha yang menarget keunggulan singkong gajah: Adalah Ariyanto Zeydan, seorang pengusaha budidaya singkong gajah asal Kalimantan Timur.

Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur ini, cuma memanfaatkan waktu luangnya menjadi petani singkong. Dia sangat suka berkebun. Bertahap dia mencari informasi budidaya apa yang asik tetapi menguntungkan sesuai kondisi lahan yang luas di sana.

Kemudian dia bertemu artikel dari pakar singkong Prof Dr. Ristono MS dari Universitas Mulawarman. Ini jadi titik tolak menaman bibit di lahan 1 ha. Sejak tiga tahun lalu dia sudah menggelontorkan uang Rp.25 juta. Kemudian tumbuh menjadi 2 ha di Samarinda dan membuka lahan 50 ha di Balikpapan Timur.

Lahan sendiri maupun lahan petani lain dengan bagi hasil. Harga jualnya tejangkau yakni Rp.1.000- 2000/kg tapi kuantitasnya besar. Jika dijual ke pedagang lain atau ke konsumen langsung harganya jadi Rp.1500- 2500/kg. Dia juga berjualan bibit singkong ukuran diameter 2- 3 cm dan panjang 20cm seharga Rp.500/batang.

Ia sangat optimis dengan bisnis singkong. Terbukti permintaan singkong terus berjalan. Bahkan sempat juga merasa kwalahan. Menurut Anto, singkong miliknya jadi rebutan tengkulak, karena mereka tau rasa singkong ini maknyus. "Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," paparnya.

Bahkan dia sudah membangun pabrik pengolahan sekala kecil. Dengan bantuan investor dari China dan lain- lainnya, dia tengah membangun lahan di Kutai Kartanegara seluas 7000 ha, Malinau 20.000ha, Berau 5000 ha, dimana dia berencana juga membuka lahan seluas 1000ha di Samarinda, tutup pria kelahiran 14 Januari 1977 ini.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Tugas Sekolah Jadi Peluang Usaha Andra

Profil Pengusaha Andra Fatih 


 
Siapa sangka anak SMP ini berhasil jualan. Sukses wirausaha diusia muda, baru 13 tahun, Andra Fatih telah menunjukan kepada kita pentingnya kreatifitas. Memupuk kreatifitas memang susah. Tapi hasilnya bisa jadi wirausaha atau entrepreneur muda layaknya Andra.

Fokus usaha Andra adalah lukisan cat air dan kaca ukir. Usaha tersebut tidak lahir dengan inisiatifnya tiba- tiba sendiri. Itu merupakan salah satu materi ketrampilan di sekolah. Andra mengembangkan sendiri jadi wirausaha.

Pelajaran tersebut mengajarkan Andra bagaimana mengolah. Menjadikan barang tidak berguna menjadi bernilai uang. Di situlah, dia dan beberpaa teman, menjual hasil produksi mereka sendiri. Butuh sebuah pengorbanan agar sampai disana. Bahan baku bisnis ini ternyata diluar dugaan, mahal kalau dihitungkan.

Selain itu sebagai pelajar dia terbentur waktu. Bagaimana cara menyimbangkan antara sekolah dan mulai menggeluti wirausaha. Padahal ukiran dan lukisan tidak bisa selesai sehari jika berjeda. Memang masih dalam jumlah terbatas. Dia masih memproduksi kecil- kecilan dan dijual ke sekitaran saja.

Satu lukisan atau kaca ukir dijualnya Rp.100- 150 ribu. Semua didasarkan harga bahan baku dan tingkatan kesulitannya.Keluarga Andra sendiri sangat mendukung. Meskipun belum yakni menjadi entrepreneur, tetapi dia sudah memupuknya. "Mungkin saja pas besar nanti kita bisa bikin peluang usaha sendiri."

Kamis, 17 Agustus 2017

Jual Kerajinan Bunga Sabun Untung

Profil Pengusaha Sukses Camelia


 
Selain harum di tubuh wangingnya sabun juga menguntungkan. Berapa banyak rupiah bisa diteguk. Ternyata bisa diluar dugaan dengan kreatifitas tingkat tinggi. Ini cerita seorang pengusaha wanita bernama Camelia. Siapa sangka wanginya sabun batangan bisa diubah menjadi emas sungguhan.

Singkat cerita dimulai dari ketertarikan Camelia akan karya seni. Bermula 2013 silam, lewat saudarinya dari Kendari, yang memperlihatkan kerajinan berbahan dasar sabun mandi. Produk sehari- hari tersebut ia lihat bisa dirubah menjadi sebuah bentuk kesenian ukir.

Melihat bentuk unik, indah, dan harum, Cameli mendapatkan ide cemerlang untuk membuat kerajinan dari bahan sabun batangan. Wanita asal Makassar ini menghasilkan keuntungan sampai jutaan. Untuk bisa dia sekarang, belajar mengukir sabun membutuhkan waktu lama.

Tidak mudah apalagi dia bukan orang menganggur. Sebagai ibu rumah tangga, kegiatan menata rumah bisa menyita waktu. Disela- sela membersihkan rumah, dia mengukir alat pembersih tersebut menjadi bentuk bunga. Satu pot diproduksi dalam tempo tiga pekan. Bau sabun berbentuk bunga menjadi kelebihan hiasan ini.

Semangat wirausaha menggebu ketika Camelia dikunjung orang. Melihat hiasan tersebut dan wanginya yang memenuhi ruangan. Mereka tertarik memberikan lontaran pertanyaan. Dari ketertarikan mereka bisa disimpulkan sendiri bahwa Camelia punya peluang bisnis menjelang Idul Fitri. Berjualan di Pantai Losari, hasilnya jualan Camelia laku keras diborong pembeli.

"Responnya sangat bagus, orang penasaran dengan kerajinan ini," jelasnya.

Bisnis serius


Dia merasa bisnisnya bisa dipasarkan lebih luas. Selepas Idul Fitri jualanya menyebar dari mulut ke mulut. Dibantu anak ketiganya, Adel, bisnis kerajinan sabun semakin dikenal masyarakat. Adel membantu pula promosi lewat sosial media. Pesanan semakin banyak lewat promosi semacam tersebut.

Dia juga ikut berbagai ajang promosi usaha kecil dan menengah. Juga ikut berbagai pelatihan wirausaha, seperti tentang bagaimana berpromosi, cara mencari modal, hingga produk mereka semakin luas dalam hal jangkauan penjualan.

Bunga buatan mereka pun ikut dipamerkan di acara pameran Menteri Koperasi dan UKM. Yang mana tiap pot ukuran besar dihargai Rp.150 ribu. Terhitung murah karena waktu pengerjaan mencapai 2 mingguan. Dan yang kecil dijualnya Rp.50 ribuan, usaha ini menghasilkan untung Rp.500 ribu per- bulannya.

Meskipun kecil, dia tidak menyerah, masih ada pasar yang tengah digalinya lagi. Untuk membuat satu pot atau 25 tangkai, dibutuhkan tiga sampai empat batang sabun. Sabun tersebut diparut kecil- kecil, hingga jadi serbuk, diberi air dijadikan adonan yang gampang dibentuk.

Setiap rangkaian dibentuk dengan lem. Kemudian diberi batang besi panjang sebagai dahan. Nah, kalau hal daunnya dibuat dari daun plastik. Ditempel ke bunganya hingga membentuk indah. Bunga akan mengeras dalam waktu. Soal wanginya bisa bertahan sampai empat bulanan.

Gunakan plastik yang dilubangi, dibungkuskan ke bunga, tujuannya agar wangi jadi lebih awet tahan lama. Produk ini juga ditawarkan ke pihak hotel, atau perusahaan- perusahaan. Optimis bisnis ini berkembang bahwa ketika mereka sadar akan produknya. Pastilah pesanan akan membanjiri dia ketika sudah berhasil.

Kamis, 10 Agustus 2017

Kisah Mualaf Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Potensi Clay Buat Wirausaha Menjanjikan

Profil Pengusaha- Pengusaha Clay 



Memang bisnis bidang kerajinan selalu ada jalan. Kalau kita jeli, pasti ada saja peluang dapat kamu bidik kembali. Cukup mengikuti trend kekinian bisa. Ambil contoh sukses beberapa pengusaha berikut. Soal bisnis mereka boleh dibilang tengah digandrungi masyrakat yaitu bisnis clay.

Clay impor menjadi pilihan beberapa pengusaha. Polymer clay memang bisa diubah menjai apa saja. Salah satu pengusahanya bernama Yeni, wanita 31 tahun yang mulai mendalami kerajinan clay sejak 2002 silam. Awalnya dia diajari seorang teman hingga akhirnya berwirausaha.

Produk mulai dari miniatur hewan, bentuk makanan, dan bunga. Pesanan bisa mencapai ratusan juta loh. Dia menjual Rp.15.000 per- item. Soal omzet Yeni memilih tidak memberi tau. Tetapi bisa dipastikan jika produk claynya sangat mirip aslinya, sudah pasti omzetnya bisa sampai puluhan juta.

Meskipun masa krisis, dia masih bisa menjual terutama mereka para kolektor. Pengusaha clay lainnya ada pasangan suami istri Hermawan dan Widi. Mereka membuat aneka figura berbahan polymer clay. Yang mana clay ini dioven dulu baru kering.

Bisnis mereka bermula dari hobi sang istri. Widi merupakan penggemar clay sejak dulu. Jadi tanganya memang sudah terampil. Masuk 2007, dia dan suami, mulai menekuni bisnis aneka produk clay dibawah bendera Pro C1ayArt, yang mana fokus mereka lebih artistik lewat figura clay bukan sekedar miniatur.

Perpaduan warna detail, dimana sudah ada 25 desain frame foto 3R dan 4R. Dimana sudah termasuk aneka hiasan kecil berbahan clay juga. Hiasannya juga tidak besar, terkadang hanya butuhkan 1 kilogram saja per- bulan. Dimana harga jualnya Rp.400-500 ribu dimana omzet mereka perbulan mencapai Rp.40 juta.

"Karena harus impor, harga jualnya jadi mahal," paparnya.

Selasa, 08 Agustus 2017

Mencintai Wirausaha Kunci Sukses Mendunia

Profil Pengusaha Thuy Thanh Truong



"Ketika saya mengerjakan sesuatu yang aku cintai tentanya maka aku akan menikmatinya, untuk ku berhenti mengerjakan itu berarti sebuah hukuman," ia membuka.

Namanya Thuy Thanh Truong, pengusaha muda asal Vietnam, dikenal sebagai ratunya startup di negar itu. Ia merupakan putri satu- satunya. Kelahiran Bein Hoa, kota di utara Vietnam. Di 2003, orang tuanya lalu pindah ke Amerika, untuk pendidikan lebih baik Thuy.

Dia masuk Alhambra High School. Kemudian kuliah di Pasadena City Collage. Tahun 2009 dia pindah ke University of Southern California sebagai lulusan ilmu komputer.

"Saya cuma tidur lima jam sehari," ucap pengusaha 29 tahun ini.

"Saya bahkan tidak bisa mengatasi jet leg. Saya tidak percaya prinsip hidup seimbang," jelasnya. Kenapa bisa begitu karena dia sibuk menjalankan tiga bisnis di dunia berbeda. Dia dengan semangatnya bisa masuk ke jajaran perusahaan Silicon Valley.

Awal bisnis


Layaknya orang tua lain asal Vietnam, Amerika menjadi tujuan terbaik pendidikan anak mereka. Tetapi ia memilih kembali ke Vietnam ketika lulus. Jujur orang tua Thuy ingin dia bekarir di Amerika Serikat. Dia kemudian memulai bisnis pertama yakni bisnis yogurt beku bersama teman sekolah menengahnya.

Bisnis tersebut dimulai 2008, yang mana diberinya nama Parallel Frozen Yogurt. Dengan sistem yang bersifat startup. Bisnis ini berkembang diluar perkiraan. Yang mana dia mendapatkan pendanaan untuk bisa membuka 3 cabang.

Dia berhasil menghasilkan ribuan dollar. Dengan marketing dan branding baik, bisnis Thuy bisa dibilang tidak ada hambatan. Namun brand bagus saja tidak cukup loh. Intinya bagaimana Thuy menciptakan bisnis berkesinambungan. gagal. Dalam tiga tahun akhirnya bisnis ini tutup pada 2012.

Penjelasannya adalah 99% bisnis startup gagal, hanya 1% yang berhasil dalam perjalanannya nanti. Dia menambahkan ketika kamu muda. Kamu mau menjalankan bisnis. Jalankan bisnis kamu rasa passion mu itu. "(Tapi) tidak ada garansi itu akan berhasil," terang dia.

Walaupun gagal dia menjelaskan di sana, kita bisa belajar sesuatu untuk bisnis lainnya ke depan. Disisi lain ternyata Thuy juga sedang menjalankan bisnis teknologi pertamanya -disaat yang sama bisnis yogurt dia jalankan.

Tahun 2010, teman kuliahnya, Elliot Lee berkunjung ke Vietnam. Keduanya setuju membuat studio kecil di Ho Chi Minh City, untuk membantu teknisi asal Vietnam berkembang. Usaha tersebut diberinya nama GreeGar dimana merupakan aplikasi whiteboard aplikasi desain kolaboratif laris iOS Store di berbagai negara.

Dimana penggunanya sempai 100 negara, penggunanya adalah para anak sekolahan. "Kami menghasilkan ribuan  dollar tetapi gagal menaikannya," tandasnya. Dimana pada 2014, bisnis ini selesai, tutup dimana sebagian timnya terpecah dan Thuy bersama beberapa orang mengerjakan aplikasi Tappy.

Apa sih Tappy? Sebuah aplikasi sosial media, dimana menyasar orang Vietnam sendiri, dengan tumbuhnya sampai 10% per- tahun. Tappy mencoba menjadi pemain lokal. Dengan mengenali keadaan Vietnam lokal mampu membuat aplikasi ini lebih bersinar.

Lewat Tappy bisa mencari orang di sebuh event tertentu. Tappy bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian jadilah komunitas kalian sendiri lewat Tappy. Pada Mei 2015, pihak Weebly, sudah sepakat membeli Tappy dimana senilai 7 digit angka nilai dalam waktu 10 bulan launching.

Lantas dia diangkat menjadi direktur bisnis oleh Weebly untuk Asia. Meskipun terlihat Vietnam punya potensi besar dalam startup. Faktanya infrastruktur masih terkendala. Wi- Fi dimana- mana sih. Tetapi sinyalnya sangat lemot. Dan perusahaan yang mau investasi butuh waktu 6 bulan hingga dokumennya siap.

Menjadi pengusaha muda Silicon Valley kehidupan Thuy adalah 50- 50 antara ke Amerika dan Vietnam. Dimana juga termasuk ke Singapura, dengan 10 kali pertemuan tiap harinya. Orang tuanya tinggal di Los Angles, pulang ke Vietnam dia berkunjung ke rumah paman dan sepupu di kampunya Bein Hoa.

Kekek Thuy dan ayahnya adalah pekerja keras, mereka memilih wirausaha. Mangkanya orang tua Thuy bisa mendukung memberikan semangat. "Kamu harusnya kerja keras ketika muda," tutup Thuy.

Kamis, 03 Agustus 2017

Toko Kebakaran Bangkrut Tetapi Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Nazmah Armadhani 



Menjadi pengusaha harus siap mengambil resiko. Begitu juga sukses Nazmah Armadhani, masih saja dia teringat cemooh tetangga. Waktu itu Nazmah sudah bekerja kantoran. Sebagai lulusan Sarjana, kok, gaji Nazmah tidak sebesar gaji babysitter.

"Sarjana kok gajinya kalah sama babysitter ku," ia menirukan.

Dia, seorang ibu rumah tangga memiliki tiga anak, bekerja kantoran cukup menyita waktu. Tetapi hasilnya tidak sebesar perjuangan mencapai gelar sarjana itu. Terselip keinginan membuka usaha sendiri. Namun dia belum punya bayangan. Berbisnis sepatu lukis? Menggambar saja Nazmah tidak bisa mau melukis lagi.

Bertitle Sarjana Ekonomi, pencapain Nazmah ialah bekerja sebagai editor, dan itupun di perusahaan kecil buku- buku Islam. Tahun 1992 digajinya uang Rp.80.000 per- bulan. Sedangkan sang babysitter tetangga gajinya Rp.400.000 per- bulan.

Malu Nazmah mendengar kenyataan hidup. Apalagi ditambah ejekan soal suami yang betah di kampung karena jam kerja Nazmah. Sang suami memang tinggal terpisah di kampunya, Banjarmasin, Kalimantan. Ia mencapai titik kesal ketika harus mengandung anak kedua.

Tahun berlanjut, masuk tahun 2000, anaknya sudah masuk TK -yang cukup mentereng di Surabaya. Yang mana isinya anak- anak tergolong mampu. Dibanding Nazmah, maka ia tidak ada apanya, justru ketika itu dia mulai mengamati paluang masuk ke dunia mereka.

Modal pertemanan dan tetangga toko di Pasar Turi. Dimana suaminya adalah pedagang ritel di sana. Maka Nazmah mendapatkan harga kusus buat ambil barang. Lantas dia mencoba menjajakan ke mereka berbekal mengamati mereka. Bisnis busana muslim Nazmah baru saja dimulai sambil membawa anak bungsu jalan.

Awalnya dia sama sekali tidak berani menawarkan. Mental tempe katanya. Padahal dia sudah bawa banyak barang tetapi tidak jadi dijual. Sampai ada ibu mendekati Nazmah karena penasaran akan barang bawaan -yang sangat besar itu. Nazhmah hanya tersenyum penuh arti. 

Sang ibu spontan nyeletuk. Rasa ingin tau membawanya membuka bawaan Nazmah. "Lho ini dijual ya, saya buka ya?" terang Nazmah. Dari sanalah kepercayaan lebih timbul. Mulai Nazmah berubah menjadi sosok pengusaha pakaian muslim sekaligus ibu rumah tangga.

Musibah bisnis


Diantara perjuangannya menjadi pengusaha. Kabar buruk terjadi yakni dua toko suaminya terbakar. Alhasil dia kehilangan banyak modal usaha. Padahal satu toko tersebut merupakan toko baru. Tetapi memang itu sudah menurun pendapatannya dan akhirnya terbakar. Tahun 2007 kerugian ratusan juta diterima dia dan suami.

Memulai bisnis kembali memang susah. Tapi Nazmah membuktikan dirinya mampu. "Dua toko kita habis, pas mau bulan puasa. Dua tahun kita bingung karena nggak ada pemasukan," ia mengenang. Dan suatu saat, sang anak mulai membuat lukisan di atas sepatu polos, Nuzmah lantas menjajal masuk ke pameran.

"Ternyata ibu gubernur suka," jelasnya.

Padahal bisnis dijalankan Nuzmah terbilang pasaran. Banyak sudah pengusaha masuk di bisnis tersebut. Tapi ia meyakinkan diri bahwa produknya berbeda. Pengalaman merupakan hal terpenting. Namun, disisi lain, Nuzmah merupakan sosok pelajar mengamti pasar dan juga kemampuan pegawainya.

Jika pengusaha lain sudah percaya diri. Nuzmah yang tidak bisa melukis. Mempercayakan kepada mereka yang cuma lulusan SD. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi justru disana ada ketelatenan. Dan darah seni tidak memandang jenjang pendidikan.

Hasilnya produk Nazmah seperti buatan pabrik. Garisnya rapih bukan sembarang goresan. Karyawannya cukup lima orang asal Jawa Timur. Bahan cukup cat sablon atau cat akrilik, kemudian sepatu polos didapat dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Bandung juga.

Omzet sampai Rp.20 juta kalau ikutan pameran. Sedangkan kalau tidak mengantungi omzet Rp.6 jutaan. Ia menambahkan masalahnya karena produknya nyempil di toko orang. Tidak terlihat mencolok namun pasti menarik pembeli. Ada 60 pasang dijamin laku ketika sudah keluar dari rumah produksinya.

Harga bervariatif antara cewek dan cowok beda. Harga mulai Rp.100- 300 ribuan, dan kalau cowok kan medianya besar jadi harganya lebih mahal. Nuzmah sendiri belum merambah pasar ekspor. Alasanya ya karena prosesnya berbelit. Walaupun sudah ada penawaran tetapi masih dia tolak buat memenuhi pasar.

Ia membayangkan keribetan ekspor. Sudah lagi ada kendala bahasa, dan ditambah lagi keharusan merapikan manajemen dulu. Bagi pengusaha sepatu lukis waktu empat tahun dianggapnya kurang. Mungkin 10 tahun lagi. Pemasan bisa memesan dengan model sendiri inilah kelebihan dia.

Warna cerah menjadi andalan brand Dhona Dani ini. Tips sukses buat kita? Nazmah mengatakan bagi kita pengusaha pemula, tidak khusus pengusaha sepatu lukis ya, harus percaya diri akan karya kita sendiri. Dia mengatakan kita harus selalu optimis ada masa depan di bisnis kita jalankan.

Senin, 31 Juli 2017

Patungan Kandang Ayam Pemberdayaan TKI

Profil Pengusaha Abdullah Hadi 



"Saya memilih sendiri strategi bisnisnya serta strategi menjalankannya," terang Abdullah Hadi. Yang punya visi kewirausahaan kuat. Ketika TKI Indonesia lainnya, lebih memilih menanam investasi tanah, Hadi lebih memilih membangun usahanya sendiri. 

Dan tidak sembarangan, tidak sekedar membuka warung makan. Hadi pernah berbisnis budidaya lele. Uang hasil menabung dari gaji TKI. Kini, dia malah dikenal sebagai pengusaha ayam kini, mantan TKI ini lantas mulai bercerita tentang kisahnya.

Kerja di Korea


Demi sukses, tahun 1997, Hadi berangkat ke Korea Selatan lewat uang gadai. Ia memantapkan diri buat menjual tanah milik orang tua. Tiga tahun di Korea dia bekerja di perusahaan terpal. Tiga tahun sudah dia bekerja di sana. Hadi meninggalkan Korea kembali ke tanah Sukolila, Kab. Pati, Jawa Tengah.

Mimpinya menjadi pengusaha di bidang perairan. Yakni menjadi pengusaha lele, dan akhirnya lewat uang bekerja di Korea, jadilah Hadi berbisnis lele.

Alasan dia ingin jadi pengusaha lele. Karena daerahnya banyak air -cocok dibuat empang lele mungkin. Tapi keberuntungan tidak membawa ia sukses. Padahal dia sudah pakai semua uang hasil mengumpulkan uang gaji itu. Namun kegagalan tidak bisa ditolak maka Hadi jatuh, "Saya gagal pulang dari Korea"

"Cita- cita yang saya idamkan jadi pengusaha, gagal," kenang Hadi.

Ketika dalam keterpurukan itulah, Hadi memilih menemui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Tujuannya mencari usaha apa lagi bisa dijalankan. Adakah program pemberdayaan buat TKI macam dia. Ternyata ada. Dan program tersebut difokuskan untuk bagaimana cara beternak ayam.

Program pemberdayaan tahun 2015, dia bersama tiga orang lainnya, para TKI asal Korsel ini lantas diajari membangun peternakan ayam modern. Kadang sebesar 100x10 meter persegi dan sudah ada pengolahan limbahnya terintegrasi.

Namun ternyata usaha ini membutuhkan biaya sampai Rp.1- 2 miliaran. Untuk itu pihak BNP2TKI beri jalan lewat hutang dari Bank BNI, dengan jaminan sertifikasi tanah. Uang Rp.2 miliar ditangan makalah tinggal membangun kandang ayam. Dua kandang ayam besar sudah dikerjakan Hadi siap menghasilkan.

Hadi bermitra dengan PT. Super Unggas Jaya (Suja), anak perusahaan Cheil Jedang Feed Indonesia, yang mana merupakan perusahaan peternakan asal Korea. Mereka menjadi pemasok bibit ayam Kop kepada Hadi dan kawan.

Ayam siap panen dalam usia 22 hari, bobot 1kg dan 29 hari bobotnya 1,6kg, dan bisa dihargai Rp.4000- 5000/ekor. Singkatnya dalam 24 kadangnya sekarang ada 600.000 ekor. Untuk selanjutnya dia mengajak sesama TKI Korsel untuk membangun pusat rejekinya sendiri.

"Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tidak perlu kembali bekerja di negeri orang," jelas Hadi.

Setiap empat orang akan investasi satu kandang, dimana populasi ayam 30.000- 40.000 ekor. Modal awal ya uang mereka bekerja di Korsel. Total omzet per- kandang sampai Rp.135 juta- Rp.180 juta/bulan. Hadi sendiri memiliki 220.000 ekor.

Bisnis Hadi dinamai Sonagi yang berarti bersih- bersih dalam bahasa Indonesia. Tidak cuma berhenti di ayam, Hadi membuka bisnis pertanian dan kursus bahasa Korea sebagai tambahan.

Jumat, 28 Juli 2017

Bisnis Pasaran Siapa Takut Persaingan

Profil Pengusaha Okta Indra Sakti



Tidak sedikit yang sudah bekerja memulai bisnis sampingan. Tidak juga mengganggu pekerjaan mereka. Inilah kisah Okta Indra Sakti. Lumayan menjadi tambahan penghasilan. Pria 26 tahun ini memang bekerja di perusahaan swasta. Berbisnis pomade -jenis minyak rambut- bermerek Piw's Pomade.

Bisnis dirilis tahun 2013, pertama kali menjadi reseller produk pomade lokal maupun luar negeri, lantas Okta mulai berusaha membuat sendiri. Bahan baku semuanya didapat bermodal Rp.5 juta. Uang segitu bisa dijadikan 20 buah. Lantas Okta titipkan ke tempat pangkas rambut untuk dijual kembali.

Kemudian Okta mencek respon masyarakat lewat situ. Ia tidak langsung produksi terus. Ketika sudah ia melihat sukses barulah. "Saya titipkan ke tempat pangkas rambut sebagai sample," jelasnya. Sudah terlihat menjual barulah Okta menseriusi produksi pomade.

Ia menjelaskan tidak ada bakat berdagang. Dari keluarga juga tidak ada garis keturunan pengusaha. Jujur ia berjualan berdasarkan hobi memakai pomade. Minyak rambut anti- badai tersebut sudah menjadi ciri khas. Sukses Okta lantaran mampu melihat naik daunya produk pomade akhir- akhir ini.

Produk ini tengah digandrungi anak muda sampai tua. Mulai dari yang mau coba- coba, sampai mereka yang sudah paham kualitas pomade. Okta membuktikan mampu membuat produk berkualitas. Bisnis ini lantas diberinya nama Piw's Pomade.

Alat promosi lewat Instagram, Facebook, pokoknya aneka jenis jejaring sosial. Respon baik membuat ia semakin semangat. Kemudian dia menjanjaki reseller buat Jabodetabek dan luar, seperti ke Lampung, Pekanbaru, Kediri, Gresik, Surabaya, Purwokerto, Cirebon, dan Indramayu.

Memang banyak pesaing bisnis ini. Tetapi kelebihan Okta ialah sudah memulai dua tahun sebelumnya. Ia yakin sudah memiliki jalur distribusi mantab. Hubungan baik dengan pelanggan juga menjadi andalan. Dia yakin ini kunci sukses jika bisnis kamu sudah ada di pasaran.

Kamis, 13 Juli 2017

Racikan Telur Asin Rasa Udang Mengundang Untung

Profil Pengusaha Reginald Indarsin 


 
Mau berbisnis harus unik, kreatif, merupakan dua senjata pengusaha muda. Contoh lah Reginald Indarsin yang siapa sangka membuat telor asin menjadi udang. Mahasiswa Universitas Prasetya Mulya, yang baru 21 tahun, mampu membuat telor asin berasa udang.

Sebelumnya ia membuat telur asin rasa jahe dan bawang. Reginald memulia usaha sejak awal 2015. Dia memang berambisi menjadi pengusaha muda. Terutama ketika melihat sukses telur asin Ibu Ambar yang di Jakarta Utara.

Dimulai awal tahun tetapi masih percobaan. Meskipun begitu, Reginald berani memasarkan. Dimulai dari rasa jahe, udang, dan bawang. Talur asin buatanyanya cocok dimakan pakai rawon. Proses pembuatan sih tidak susah. Telur asin diamplas dibubuki bumbu khusus yang dia sediakan.

Barulah dilapisi tanah liat layaknya telur asin umum. Perpaduan bumbu diatas kemudian direbus. Rasanya khas dan enak. Kini dia sudah mensuplai beberapa restoran di kawasan BSD Tangerang, Banten. Dalam satu minggu dua kali bayangkan dia memproduksi 200 telur.

Modal awal ia tidak tanggung- tanggung. Reginald menggelontorkan uang Rp.20 juta, dimana Rp.10 juta buat beli telur asin dan sisanya peralatan produksi. Nekat? Tentu karena bisnisnya boleh dibilang coba- coba. Enak dilidah kita belum tentu masyarakat akan merespon positif seperti kita.

Biaya produksi telur Rp.3000, kita jualnya Rp.6000 per- telurnya dan diproduksi selalu habis. "Kita baru mulai bisnis ini 6 bulan yang lalu. Inovasi rasa kita akan lebih optimalkan," jelasnya. Pasaran telur asin ini memang menjanjikan apalagi selera kuliner kita tidak diragukan lagi.

Artikel Terbaru Kami