Awal Aplikasi Hotel Airbnb Menyewakan Tempat Kamu

"Saya akan berkata, jangan dengarkan orang tua. Mereka adalah hubungan paling penting di dunia, tetapi seharusnya anda jangan mengambil saran karir mereka, dan saya menggunakan mereka menjadi jembatan untuk semua tekanan di dunia."

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Kamis, 29 September 2016

Untungnya Jualan Ikan Hias Seharian

Profil Pengusaha Beni dan Mardiah 


 
Kisah pengusaha ikan hias kali ini datang dari dua generasi berbeda. Mereka lah, Beni (25) dan Mardiah (55), eksis berkat berbisnis ikan hias. Mereka bersaudara merupakan penjual ikan di kawasan kios penjual ikan hias daerah Jalan Muhammad Kafi I, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Mereka berada di komplek Balai Budidaya Perikanan, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Pemprov DKI Jakarta. Yang mana terdapat sebelas kios berjualan disana. Sebelum berbisnis ikan hias, Beni sang adik, pengusaha muda satu ini pernah berbisnis lobster air tawar.

Berbisnis hias


Beni lantas pindah ke ikan hias. Beda Mardiah, mulai ikutan usaha ikan hias lantaran tidak ada pemasukan kuat. Semenjak sang suami Didi memilih pensiun dini pada 2003. Sejak pertama kali berwirausaha ya langsung menjadi penjual ikan hias.

Ibu tiga anak ini mengenang pertama usaha mereka dibuka. Mereka sama- sama menggelontorkan uang tidak sedikit. Beni yang Sarjana Ilmu Teknologi Kelautan, lulusan 2009, mengeluarkan uang sampai Rp.23 juta modal tabungan. Sementara ibu Mardia mengeluarkan uang sekitar Rp.20 juta.

Dalam kurang dari satu tahun, uang yang dikeluarkan keduanya kembali. Melihat prospek ikan hias bagus keduanya jadi lebih bersemangat. Mereka menjual ikan mas koki, manvis, komet, neo tetra, cupang, juga aligator, yuppy, kura- kura, lalu ada jenis arwana. Mereka juga menjual aneka kebutuhan ikan lengkap.

Dari menjual makanan, aksesoris, dan obat- obata, seperti blitz- icht, itu loh obat buat penyakit jamuran pada ikan. Aneka pakan tambahan juga tersedia seperti cacing beku, pelet, kemudian juga menjual aneka ukuran akuarium, dan batu karang hias.

Untung bersih dicapai Beni setiap bulan Rp.5 juta. Lalu Mardiah mampu mengantungi uang Rp.9 juta dan Rp.10 juta kotor. Keuntungan segitu tidak serta- merta. Mereka mengatakan bahwa butuh waktu 3 tahunan sampai mencapai angka itu stabil.

"Dulu pertama kali dagang sehari saya cuma dapat Rp.30.000 dan itu kotor," kenang Beni. Kalau sebulan ya untung paling Rp.300 ribu, kadang cuma malah balik modal belanja.

Faktor utama ialah letak jualan mereka. Jumlah pengunjung ke tempat itu hari biasa mencapai 100 -an. Dan kalau begitu pendapatan kotor mereka ya Rp.500 ribua per- hari. Nah memasuki akhir minggu atau hari libur pengunjung mencapai 1.000. Dalam sehari Beni pernah mendapatkan untung seharinya Rp.20 jutaan.

Tidak dipungkiri keadaan ekonomi global mengganggu. Pendapatan mereka cenderung menyusut hingga ia dan Mardiah cuma mengantungi Rp.300 sampai Rp.400 juta. Sabtu- Minggu cuma dapat Rp.3 jutaan saja. Ia mengatakan sebelum krisis per- hari mencapai Rp.500 ribu, Sabtu- Minggu mendapat Rp.5- Rp10 juta.

Keduanya mantap menjalankan bisnis sekarang. Kesulitan berjualan ikan menurut mereka tidak besar. Dan yang paling menggiurkan adalah untungnya besar. Prospek jualan ikan hias masih cerah. "Terus jualan ikan hias dong," seloroh Beni. Keduanya mengaku memang jadi hobi memelihara ikan jadi tidak ada paksaan.

Selasa, 27 September 2016

Usaha Membuat Pisau Komando TNI

Profil Pengusaha Nina Agustina 



Sebenarnya perintih usaha dijalankan Nina Agustina adalah sang ayah. Dijalankan mendinga ayah, Widarto, yang juga merupakan anggota TNI aktif kala itu. Sebagai anak tentara Nina sudah terbiasa melihat senjata tajam. Namanya pisau khas TNI sudah tidak asing dimata ibu dua orang anak ini. 

Dibantu sang suami, Nurdiansyah, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, mereka berusaha menjalankan bisnis keluarga lebih lagi. Cerita bisnis pisau brand Amphibious memang cukup panjang. Kalau singkatnya semua ada hubungan dengan keahlian sang ayah di melempar pisau.

Bisnis senjata tajam


Sebagai anggota pasukan khusus TNI Angkata Laut. Pak Widarto memiliki keahlian melempar pisau. Dia waktu itu ditugaskan menjadi pelatih buat siswa Pelatihan Tempur Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur. Ia menunjukan keahliannya melempar pisau ke sasaran.

Keahlian melempar pisau miliknya sangat disegani. Belum tertandingi waktu itu. Jika dilempar pisau maka akan langsung menancap tepat di sasaran. Keahlian satu- satunya dijajaran Widarto lah yang membuka satu peluang bisnis. Bukan rahasia bahwa keahlian memakai pisau merupakan salah satu bagian keahlian TNI.

Dia selalu mempraktikan keahlian di rumah. Akhirnya anak- anak Widarto diajari semua cara melempar pisau. Termasuk ya Nina sendiri, bahkan aksi tersebut terbilang ekstrim lanjutnya. Dimana mengagetkan jantung anak- anak karena seketika. Ketika tiba- tiba dia melempar pisau tepat di bawah kaki mereka.

Sambil bergurau ayah cukup menjengkelkan. Dan ketika memiliki bisnis kebiasaan tersebut juga kena ke para pegawai. Bayangkan pisau terbang seketika tepat disamping kaki pegawai. Atau paling ekstrim bisa melewati wajah orang yang tengah berjalan. Kayak di film- film itu loh benar persis sangat mengagetkan.

Ketiga ana Widarto diajari melempar pisaung. Hanya saja, semuanya tidak sehebat ayah, yah bisanya cuma melempar tetapi tidak setajam mata ayah.

Kemudian banyak teman melihat keahlian Widarto.  Mereka iseng berpikir kenapa dia tidak ahli membuat pisau juga. Pikiran tersebut lantas menjadi bentuk dukungan. Widarto mulai memikirkan bagaimana cara membuat pisau sendiri. Dipadu dengan kemampuan memahami pisau pastilah menjadi pisau khusus TNI.

Tantangan bisnis


Dia kemudian mendatangi pandai besi, Pak Hafid, asal Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. Sang bintara TNI tersebut mendikusikan kemungkinan kolaborasi. Hafid memang dikenal pandai besi pembuat anaka benda tajam. Disela pekerjaan, Widarto menunjukan sketsa pisau desainnya ke Hafid agar dicoba.

Widarto datang membawa desain lengkap dengan ukuran. Coretan- coretan itu dimintanya dijadikan pisau nyata. Ia meminta Pak Hafid membuatkan tetapi dengan bentuk kasar. Ditangan Widarto sendiri pisau lalu dipoles dijajal, agar seimbang dan proposional. Hasilnya ternyat sangat bagus sesudah dipoles Widarto.

Benar presisi ukuran mampu membuatnya akurat ketika dilempar. Lalu teman Widarto menjajal dan mulai memesan pisau buatannya. Karena selalu laku terjual, bisnis sampingan tersebut dilanjukan sambil tetap menjadi anggota TNI AL. Kemudian Pak Hafid dijadikan pegawai permanen oleh ayah Nina.

Bertahap hingga mereka membuka workshop. Mereka membuka tempat pandai besi dekat tempat tinggal mereka. Maka setiap hari, Pak Widarto akan membuat desain, kemudian Hafid menempa membentuk sesuai desain. Bagian finishing kemudian diserahkan kepada pegawai lainnya.

Bentuk pisau mereka bagus serta ideal bagi standar TNI. Hingga salah satu desainnya lantas dipatenkan. Ia memberi nama Amphibious.

Memang kualitas pisau mereka bagus. Alhasil masuk tahun 2000- 2009, mereka memenangkan tendar di mabes TNI AL untuk marinir. Seiring waktu usahanya tidak cuma membuat pisau standar TNI. Adapula pisau lain diproduksi workshop mereka. Mereka membuat pisau tradisional, pisau rumah tangga, samurai.

Sang ayah lantas meninggal dunia pada tahun 2009. Bisnis mereka kemudian dilanjutkan adik laki- laki Nina, yaitu Oscar Muara. Hanya adik Nina kemudian mengundurkan diri. Kemudian Nina menggantikan buat melanjutkan usaha. 

Sementara itu produk Amphibious tersebar ke pasar seluruh Indonesia. Selain digunakan TNI AL, produk
Amphibious juga pernah menjadi pegangan petugas keamanan (satpam), petugas SAR, tetapi tidak melulu untuk satu model saja. Perkembangan desain produk mereka juga masih dijalankan Nina.

Mereka juga memberikan kesempatan desain sendiri. Namun, Amphibious memang menjadi juara, selain karena desain menarik, kekuatan dan ketajaman presisinya terbukti. Bahkan menang jauh dibandingkan produk pisau buatan China.

Kalau buatan mereka, mau harga termurah, sampai termahal semuanya rata- rata terbuat dari bahan baja yang tentu beda dengan besi biasanya. Bahan tersebut biasanya didapat dari cakram motor, per mobil, juga dari gergaji. Untuk bahan baja memang menurut Nina menjadi masalah produksi workshop mereka.

Kesulitan juga tinggi hingga tidak semua ahli. Cuma Pak Hafid memiliki keandalan membentu pisau. Ini menjadi masalah ketika dia meninggal dunia. Alhasil pandai besi lainnya tidak seandal Pak Hafid dalam menempa baja menjadi pisau. Alhasil Nina terpaksa mengorderkan ke pandai besai lain yang tersebar di pelosok.

Memang sulit mencari pandai besi yang mau mengerjakan. Namun tidak langsung ketemu cocok. Karena nama mereka terkadang tidak sesuai digadangkan masyarakat sekitar. Meski begitu buat finishing, syukur, Nina memiliki pegawai siap membuat sarung, pegangan, dan penghalusan dari tempaan pandai besi.

Bisa saja tidak memakai pandai besi. Namun hasilnya tidak akan sekuat dan setajam diharapkan. Karena itu tidak langsung dipotong kemudian dibentuk. Tahap penempaan merupakan krusial dalam bisnis mereka. Ia menyebutkan proses pembakaran akan sukses jika dilakukan pandai besi asli.

Disisi pandi besi handal terbatas. Pesanan ke Nina memang cenderung banyak. Pesanan dari berbagai pihak kedinasan menanti. Jumlahnya besar terus, alhasil ya dia memutuskan tidak menerima beberapa pesanan. Total 330 model telah diproduksi workshop mereka mulai pisau dapur sampai samurai bisa.

Buat samurai ada jenis kenzi dan tanto. Yaitu samurai pendek buat harakiri. Juga samurai panjang layaknya di film. Soal logo serta ukiran diserahkan ke pemesan bisa. Walaupun tanpa sang ayah, Nina tetap yakin, percaya diri membangun bisnis keluarga bahkan memproduksi desain buatannya sendiri.

Ia sadar jika tidak akan ditinggalkan konsumen. Buat model baru dicari lewat internet. Inspirasi tidak bisa ditunggu saja. Tentu sejumlah modifikasi dilakukan agar lebih tajam. Nina sekarang melayani sejumlah toko aksesoris militer di penjuru Indonesia. Dia memiliki dua showroom di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dan usahanya rajin mengikuti pameran. Harga jual variatif mulai Rp.10 ribuan, sampai samurai yang bisa mencapai jutaan. Soal omzet sudah Rp.200 juta per- bulan. Kemudian pisau laku lainnya yakni pisau King Cobra. Sang suami akan membantu urusan eksternal, sedangkan didalam Nina mengurusi semuanya.

Pembeli banyak dari berbagai latar belakang. Ada tukang jagal hewan yang memerlukan ketajaman pisau. Atau ada sekedar pengkoleksi pisau atau samurai.

Minggu, 25 September 2016

Mengolah Bekas Semen Menjadi Batik Pekalongan

Profil Pengusaha Harris Riadi 



Nama Harris Riadi merupakan salah satu maestro di bidang batik. Pengusaha batik yang menekankan akan pentingnya memanfaatkan lingkungan. Harris sebelum menjadi pembantik dikenal sebagai seorang pelukis.

Lambat laun dia ingin membuka usaha batik sendiri. Sebelum berbisnis batik, ia sudah pernah bekerja jadi desainer perusahaan batik, yang mana dilakoni sekitar enam tahun. Sedangkan menjadi pelukis ia lakoni selama 15 tahun berkelana sampai ke Bali, Jakarta, dan Solo, kemudian menjadi pembatik sambilan saja.

Pria kelahiran Pekalongan, kemudian pulang kampung dan membuka usaha sendiri di Pekajangan, Kab. Pekalongan, tahun 1997. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, lulus 1979, dimanan lanjut ke Akademi Seni Rupa Indonesia -sekarang Institut Seni Indonesia, tetapi ternyata dia tidak tamat.

Bisnis cerdik


Usaha bernama Bintang Batik juga buka di Desa Jeruksari, Tirto, Pekalongan. Karena berlatar belakang seni lukis maka dia tidak asal. Dia ingin menciptakan batik bukan sekedar komersial. Bintang Batik tidak memproduksi masal batik. Semua pekerjaan dilakukan dengan pemikiran agar menjadi master piece.

Tahun 2006 ketika ada Piala Dunia, inspirasi mendadak muncul, yang kemudian dia tuangkan lewat 100 lembar batik tulis. Motif batik menendang bola dan bola menjadi andalan. Dimana kemudian pesanan batik datang dari Bandung, Jakarta, Semarang, sampai Jerman.

Kemudian ketika ada musim valentine tahun 2007, tiba- tiba Harris meluncurkan motif batik bergambar kodok sedang bercinta. Pokoknya motif batik Harris benar cerdik. Bukan sekedar membuat aneka motif baru saja. Untuk pemawarnaan dia lebih memilih ke pewarna alami buatan sendiri.

Alasan utama kenapa ya karena mencemari lingkungan. Harri mengamati bagaimana industri batik sudah mencemari sungai Pekalongan. Contoh pewarna alami batik pengusaha batik Pekalongan ini: Warna merah dari kulit bawang, warna ungu dari bunga sepatu, kulit biji jelawe buat hitam, kayu mahoni warna coklat.

"Saya tidak ingin menambah beban lingkungan," tandasnya.

Walaupun begitu tidak dipungkiri Harris juga memakai. Bahan kimia dia gunakan serendah mungkin yakni 40% -an.

Semengat merubah bahan kimia menjadi alami. Membawa Harris semakin berinovasi mengurangi tingkat penggunannya. Cara paling kreatif menggunakan bahan limbah. Tahun 2006 dia membuat warna berbahan kotoran sapi dan kulit tebu dan rumput sebagai pewarna batik.

Obsesi batik


Tidak cuma terobsesi akan warna alami. Hal lain memenuhi pemikiran Harri ialah daur ulang. Walaupun cerita tentang kotoran sapi menjadi pewarna miring. Tanggapan masyarakat tersebut dianggapnya menjadi tantangan. Alhasil, memasuki aal 2007, dia membatik diatas kertas dan kantong bekas bungkus semen.

Bayangkan kantung bekas semen menjadi batik. Limbah yang dijual murah perkiloan ternyata jadi uang dan banyak. Kemudian produk tersebut diubah menjadi sarung bantal, tas, sandal, sampai gorden. Jikalau orang bicara kenapa tidak dijadikan pakaian, Harris lebih menjawab karena alasan estetika saja.

Batik kantong semen dibuat ya seperti batik biasa. Dia bercerita batik kantung semen mewujudkan cita- citanya. Yakni batik 100% berbahan alami. Pasalnya kalau memakai bahan kimia maka kantung akan rusak hancur.

Bayangkan pengusaha ini sebulan memproduksi 200 lembar. Penjualan utama ada di Jakarta yang mana ia jual antara puluan ribu sampai ratusan ribu.

Ada dua cara membatik diatas kantung semen. Pertama yaitu dibersihkan dulu kemudian baru dibatik langsung. Kedua dibentuk tali, dirajut, barulah dibatik diatas yang  sudah jadi. Ingat kualitas kertas bekas semen harus samalah kualitas. Kalau sudah jadi ternyata produk buatan Harris dapat dicuci loh.

Kisah batik kantung semen terinspirasi pemulung. Dimatanya tampak tidak berharga. Kreatifitas langsung mengusik memunculkan ide spontan. Seperti cerita- cerita sebelumnya Harris langsung praktik. Alasan lain karena mengandung timah. Dan di Jakarta, dibakar, kemudian membuat lingkungan tercemari olehnya.

Sejak Juli 2009 sudah mulai tuh memunguti sampah bekas semen. Bahan yang diduga mengandung timah dijadikan produk permanen. Produk terbaru seperti tas laptop, kotak tisu, gesper.dll. "Kalau bumi tidak diselamatkan dari limbah, ini berbahaya," tutur Herris penuh keyakinan.

Tidak berhenti disitu, dia masih ingin mengolah limbah lain menjadi batik. Banyak jenis limbah mengotori lingkungan. Cuma berpindah tangan tanpa solusi penyelesaian. Cara terbaik menurutnya adalah bagaimana memperpanjang masa pakai. Caranya menjadikan limbah menjadi produk permanan dapat dipakai terus.

Ia sadar tidak mudah limbah menjadi batik. Butuh ketelatenan serta masa trial dan error baginya. Namun ia meyakini selama memiliki keyakinan pasti bisa. Memang membuat produk batik bahan limbah tidak akan sebanyak batik biasa. Justru disanalah kelebihan produk batik karya Harris karena tidak ada duanya.

Ia berharap pembatik sadar lingkungan. Kenapa dia sukses membuat batik bekas bungkus semen ya karena dia dekat dengan pemulung. Dia memang lebih ke arah seniman. Sosok ayah pernah menentang pilihan Harris, Chairil Kasmuri seorang tentara, namun melihat sosial Harris malah mendukung dirinya.

Dia mendukung Harris menjadi pembatik. Bukan sekedar menjadi pembatik mandiri menghasilkan uang sendiri, tetapi berguna bagi masyarakat. Harris ingat dia anak ke empat dari sembilan bersaudara. Dan, ia sudah sukses berkat membatik.

Jumat, 23 September 2016

CEO Taro Joko Mogoginta Visioner Bisnis Dunia

Profil Pengusaha Jajanan Anak



Tidak mudah mencapai posisi sekarang. Berawal bisnis keluarga PT. Tiga Pilar Sejahtera bertransformasi jadi pemain di bisnis makanan ringan. Berawal bisnis mie kering bernama Cap Cangak Ular pada 1993. Kemudian si pendiri mulai bertransformasi bisnis ke aneka makanan ringan.

Keturunan ketiga Tan Pia Sioe, bernama Joko Mogoginta, membuktikan bahwa generasi ketiga tidak akan menjatuhkan malah menaikan nama perusahaan. Sosok cerdas visioner membuatnya mampu memegang semua lini usaha yang dulu cuma jualan mie kering dan bihun.

Perusahaan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, mulai membesar sejak 2003 lewat akusisi fenomenal. Dimana mereka mengakuisisi PT. Asia Inti Selera.tbk atau pemilik brand mie kering Ayam 2 Telor. Bisnis utama mereka yakni food processing, crude oil atau CPO, hingga bisnis beras bermerek sendiri.

Dimulai menggurita sejak membangun pabrik baru di Sragen, Jawa Tengah, pada 1992. Dimana ada sosok Budi Istanto dan Priyo Hadisutanto. Nama diambil TPS dari inisial pendiri Tan Pia Sioe. Terus lama- lama kebutuhan akan produksi meningkat dan lahir pabrik baru seperti di Karang Anyar, Jawa Tengah.

Tahun 2000 -an mereka mendirikan satu pabrik di tanah seluas 25 hektar. Dimana dibangun pusat produksi satu atap, dan mampu memproduksi lebih dari 30.000 ton. Ditambah mereka mendirikan unit produksi buat mie instan.

Bukan bisnis biasa


Memang semenjak kecil sudah biasa dengan makanan. Waktu sekolah dasar sudah aktif membantu usaha keluarga. Bahkan sampai SMP bekerja menjadi marketing mencari calon kosumen kesana- kemari. Joko juga menerima dan menagihi pesanan di pasar- pasar terdekat seluruh Solo.

Masuk SMA sudah sampai ke luar kota buat memasarkan produk. Selesai masa kuliah Teknologi Pangan, Universitas Gajah Mada, tahun 1991 langsung terjun ke dunia bisnis. Karir pertama adalah membangun satu pabrik TPS di Sragen, Jawa Tengah, dengan produk andalan mie kering Superior.

Dia mengenang bagaimana mie Superior sulit. Jujur saja latar belakang pendidikan Joko tidak sesuai. Jika harus memasarkan produk olahan tersebut. Kalau menurutnya pribadi mie harus lembut, bagus, dan tidak putus, berbeda pikiran masyarakat. Menurut mereka justru mienya itu keras, susah dimasak, dan sulit dibumbui.

Akhirnya perusahaan mengikuti keinginan pasar. Dimana produk diubah sedemikian rupa agar dapat mudah diolah.

Strategi bisnis TPS memang ngetop. Mulai dari mengakuisisi Asia Inti Selera, dan mendapatkan produk mie Ayam 2 Telor tahun 2003. Kemudian menaruh perusahaan menjadi bagian dari pasar modal. Berkat dorongan pasar dengan bermodal itulah aneka akusisi dilanjutkan.

TPFS memiliki segenap strategi mengikuti arah pasar. Produksi pertama adalah produk utama yakni ada mie kering, mie kering premium, bihun, dan bihun premium. Merek dagang mulai mie Ayam 2 Telor, mie Superior, Filtra, dan Buah Kurma.

Kemudian jenis kedua yang digemari anak- anak tentunya kita tau. Mereka memproduksi mie kering siap makan, sereal, biskuit, waferstik, dan permen. Akuisis jajanan Taro menjadi puncak, karena nilai akuisi tersebut Rp.240 miliar dimana dibeli langsung di salah satu raja bisnis konsumsi, PT.Unilever Indonesia.

Tahun 2010 mulai lebih ke bisnis sawit dan beras. Anak usaha mereka yakni PT. Dunia Pangan, merubah padi basah petani menjadi beras dengan mesin modern. Agar makin hebat diakuisisi lah perusahaan padi modern PT. Jatisari Sri Rejeki di Cikampek, Jawa Barat.

Kemudian mengakusisi perusahaan PT. Alam Makmur Sembada, dengan produk andalan milik mereka beras merek Ayam Jago, melalui pembelian PT. Indo Beras Unggul. Dimana perusahaan mereka mampu memproduksi 800 ton gabah. Jika sebelumnya perusahaan produksi sekarang perusahaan TPSF lebih ke marketing.

Untuk bisnis palm oil melalui akuisisi perusahaan baru. Dan sudah memiliki lahan sampai 17.000ha pada 2011 saja. Tahun 2013 mendorong mendirikan perusaah minyak sawit sendiri.

Serba akuisisi


Tidak mudah mencari perusahaan diakuisisi. Satu syarakat diajukan Joko adalah memiliki fondasi kuat. Utamanya memiliki margin untung kotornya 40%. Untuk bisnis makanan ringan diakui memiliki sebuah kompleksitas yakni daya beli masyarakat. Akuisisi Taro sudah dipersiapkan sejak 2009 lalu loh.

Konsumen di bisnis makanan ringan terbilang komplek. Jadilah perusahaan harus konsisten mengamati prilaku dan mengakomodir kebutuhan pasar. Sembilan produk makanan unggulan perusahaan yakni snack Taro, Mie Kremezz, Growi, dan produk non- snack yakni Tanam Jagung, Ayam 2 Telor, Superior, Ayam Jago.

Strategi marketing juga sudah bukan soal memperkenalkan. Tetapi lebih ke ikut masuk ke kehidupan dari masyarakat melalui aneka acara atraktif. Kemudian ada promosi melalui televisi, aneka promo, dan itulah yang akhirnya membawa snack Taro dan Mie Kremezz jadi Top Brand for Kids dan Teen.

Pengembangan bisnis lainnya, yakni melalui gulas, mie instan, dan biskut, yang dianggapnya dapat dijual ke masyarakat global. Memang nilai ekspor rendah dari semua penghasilan yakni 3% saja. Sementara dari penjualan lokal atau market lokal telah menguasai 5% market share.

Melalui membagi saham menurutnya perusahaan tidak akan sendiri. Orang bilang ngapain dibagi- bagikan ke orang banyak. Namun menurut Joko justru disanalah perusahaan akan menjadi fondasi bagi Indonesia. Ia mengatakan bahwa passion -nya adalah membantu banyak orang.

"Passion karena ingin membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang," tutur dia.

Filosofi dibalik masuk bursa saham yaitu jangan hebat saja di akuarium. Jadilah perusahaan yang kemudian bisa masuk ke danau luas. Akusisi dalam bisnis makanan memang sangat penting. Karena menurutnya, ia membutuhkan pertumbuhan dimana konsumen mudah berubah, dan agar orang menaruh uang investasi di dalam.

Konstribusi terbesar yaitu Taro. Menurut dia kenapa sih mengakuisisi Taro. Karena produk tersebut sudah dicintai masyarakat, punya cita rasa dan ciri khas, dan utamanya konsumen loyal. Perusahaan aktif buat semua feedback dari anak pecinta Taro.

Kalau Taro sendiri baru menjajaki pasar ekspor beberapa tahun di 120 negara. Sedangkan merek dagang Taro di Indonesia sudah kuat sejak 30 tahunan. Marketing terbaru Taro adalah Taro Ranger. Tujuannya bagaimana membuat anak Indonesia yang dijajah gadget kembali ke alam.

Berawal dari 25 karyawan perusahaan bertransformasi besar. Tahun 2001 sampai 2002 dia mencanangkan profesionalisme, terutama karena perusahaan keluarga. Perusahaan harus dikembalikan ke pekerja. Dia menyebutkan perusahaan people harus menjadi good people.

"Pemimpin kalau punya tangan berani bertindak. Tapi kalau enggak punya otak, dia menjadi preman," tutur dia.

Kamis, 22 September 2016

Bisnis Hidroponik Owner Disc Tarra Jadi Pengusaha Sehat

Profil Pengusaha Wirawan Hartawan 


 
Sejarah bisnis Disc Tarra patut diapresiasi. Ditengah turunnya bisnis CD lagu. Sosok Wirawan Hartawan tetap mengagumkan. Terakhir pengusaha senior ini membangun bisnis hidroponik. Memang terlepas dari bisnis sebelumnya namun berhasil. Wirawan kemudian bercerita kepada wartawan bagaimana kisahnya.

Satu gerai muski didirikan tahun 1980 -an. Usaha Wirawan menjual setidaknya 30 keping CD dan sampai ratusan keping selanjutnya. Didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota, dimana gerainya tumbuh dari waktu ke waktu lewat sistem franchise.Memang namanya bisnis ada naik turun. 

Pengusaha ritel


Wirawan mencatat terutama ketika krisis ekonomi. Namun tetap pasar Disc Tarra mengakar sampai 1000 pegawai dan 100 gerai terbuka. Dalam perkembangan bisnisnya menjelma menjadi Tarra Group, membawahi berbagai bisnis lain, mulai rumah produksi, pabrik, pusat pelatihan, sampai bisnis agro.

Wirawan sangat mengandalkan kerja tim. Dukungan orang sekitar dianggapnya berhasil mengangkat. Dan soal meningkatkan kemampuan tim, justru menurut Wirawan datang dari keadaan di dalam toko tersebut. Ia menambahkan tempat usaha harus nyaman, dicintai pegawai, hingga pegawai memiliki pemahaman.

Sebagai usaha dibidang ritel, maka strategi marketing dijalankan spesifik. Wirawan memanfaatkan aneka acara road show ke kampus, mengikuti pameran, mengikuti event musik, maupun menjadi sponsor produk. Untuk franchise cukup membayar 200 juta sudah bisa memiliki hak gerai besart isinya.

Dari Jaya Pura, Bontang, dan Surabaya, menjadi tempat gerainya berdiri. Dia memberikan pelayanan ke mitra utama. Mereka dirangkul tidak dijadikan gerai kedua tetapi juga utama. Pokoknya pemilik gerai yang franchise akan bangga akan trademark milik Wirawan.

Pemilihan tempat memang sangat signifikan. Dia mengisyaratkan tempat tumbuhnya kaum urban. Tempat para anak muda senang mengapresiasi produk bagus. Usaha Wirawan tampak ketika bisnis Disc Tarra ini sudah memiliki market 20%- 30% market share.

"Persaingan tidak terjadi antar pemilik ritel, tapi dengan pembajak," ujar Wirawan miris.

Hidup berkecukupan tidak membuat sosoknya lemah. Meski memiliki jenjang pendidikan bagus sampai ke luar negeri. Walaupun sudah memiliki pekerjaan mapan. Wirawan masih haus akan belajar melalui cara berwirausaha.

Macam cobaan pengusaha


Sempat kolaps ketika krisis ekonomi 98'. Bayangkan dia kaget ketika biaya oprasional naik, uang miliaran hangus, hutang pun menanjak di Bank. Tahun 2012 ujian kembali hadir di kehidupan pengusaha senior ini karena penyumbatan otak kiri.

Beruntung sang istri selalu menemani dalam doa. Kegagalan Disc Tarra lambat laun diperbaiki. Disisi lain penyakit mulai membaik. Wirawan taat perintah dokter untuk mengurangi makan daging merah. Kemudian dia disarankan mengkonsumsi sayuran hidroponik yang lantas menjadi inspirasi bisnis.

Berbekal pengalaman pahit dia sekarang makan sayuran tiga kali sehari. Dalam keranjangnya ketika keluar dari supermarket akan ada sayuran hidroponik. Lambat laun muncuk keinginan untuk menanam sendiri. Ia mulai mengambil inisiatif mengikuti kelas hidroponik. Juga mencari aneka literatur onlin tentang sayuran ini.

Wirawan yakin bahwa kesehatan mahal. Mangkanya dia bertekat buat belajar hidroponik sampai ke luar negeri. Begitu pulang dia praktikan menanam sendiri. Banyak orang terkesan dan minta diajari Wirawan. Kemudian orang datang menanyakan apakah produknya dijual.

Dia menggaet jajaran tim Tarra Group. Tujuannya agar membangun bisnis sebenarnya. Lewat kerja tim yang dikenal solit munculah usaha hidroponik Wirawan. Bahkan mengembangkat bibit sendiri selain juga menanam sendiri. Lewat You Tube juga memberikan aneka tutorial cara berhidroponik ke khalayak.

Dibawah naungan PT. Hydrofarm kemudian memasok pupuk, bibit, obat, dan segela informasi tentang cara berhidroponik. Portal www.hydrofarm.co.id muncul menjadi solusi gampang. Pada Mei 2015 dibuka satu kafe hidroponik dengan sayuran berasal dari usaha Hydro Farm.

Biografi Singkat Pengusaha Hijab Yoya

Profil Pengusaha Yoki Ferdian dan Yuni Putri 



Memang bisnis hijab tengan naik daun. Diantara sesaknya brand lokal di luaran sana. Nama Yoya Hijab ini mungkin tidak kamu tau. Tetapi mereka, pasangan suami- istri, yang tidak menyerah hingga omzet usaha mereka telah mencapai miliaran. Siapa sangka dibalik sukses mereka terselip makan bekerja keras dalam.

Nama Yoya merupakan nama perpaduan Yoki  dan Yani. Dimana 20% pangsa pasarnya merupakan wanita asal negeri seberang. Wanita asal Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Brunei Darusalam, dan juga beberapa negara kawasan Asia Tenggara, menjadi pelanggan mereka.

Berawal dari cuma memproduksi hijab. Kini, mereka kompak mengikuti arah mode muslim, dimana tidak lagi cuma menjual hijabnya tetapi pakaiannya juga.

Bisnis perjuangan


Tidak jarang pelanggan meminta 40% stok lebih. Corak hijab  milik Yoya memang unik. Mereka telah memilik nilai kompetitif melalui 40.000 macam hijab. Dan 30.000 lebih jenis pakaian wanita muslim telah mereka produksi.

Mereka bercerita ada cinta dibalik bisnis ini. Keduanya ternyata sama- sama pegawai toko di Tanah Abang. "Dari situ kami bertemu dan jatuh cinta," tutur Yani. Jika Yani merupakan seorang penjaga toko. Maka si Yongkin adalah penjual kain atau sales kain, bahasa sananya tukang kantau.

Sehari- hari Yani sibuk melayani pembeli, mulai mengamati corak dan memeriksa kualitas kain hijab yang dipesan. Namun selepas menikah total Yani menjadi pengangguran. Disela menganggur timbul rasa bosan. Sampai puncaknya Yani memiliki hasrat membuka usaha hijab sendiri.

Yoki berkisah berawal dari pengalaman jualan kain. Ditambah pengalaman sang istri, Yani, dibidang kain- kain buat hijab. Keduanya bekerja sama membangun bisnis Yoya. Pada 2003 sampai tahun 2012, Yoki disibukan bekerja menjadi freelance jualan bahan ke lapak- lapak.

Bersama istri mulai menjual kain. Waktu itu keduanya belum berpikir berjualan kain hijab. Dimulai cuma berjualan keliling lantas memiliki toko. Untuk bisnis hijab Yoki relakan satu motor kesayangan. Digadai hasilkan Rp.20 juta untuk sewa toko. Uang tersebut ternyata masih kurang karena harga sewa Rp.30 juta.

Sisa uang didapatnya lewat pinjaman bank selama enam bulan. "Modalnya nekat buat modal jualan," ujar Yoki. Ternyata apa dipikirkan Yani tepat adanya tentang bisnis hijab.

Dari awal keduanya memakai nama Yoya. Sejak awal keduanya sepakat membuat desain mereka sendiri. Ia jual dengan cara grosir sampai eceran. Harga eceran memang lebih mahal dibanding grosir. Keunggulan Yoya adalah fokus berbisnis grosir.

Di awal bisnis hijab keduanya bekerja sendiri, sekarang ada belasan karyawan. Jatuhnya harga juga cukup kentara yakni grosiran 480 kodi pasminan Rp.24 ribu, dan eceran Rp.35 ribuan, kalau jilbab segi empat harganya Rp.40 ribu.

"Jilbabnya 580 kodi jatuhnya Rp.29 ribu," paparnya.

Mereka bekerja sama mulai bongkar karung, mengantarkan pesanan, packing, sampai masukin ke gudang. Kemudian sang istri menjadi penjaga toko. Sedangkan Yoki aktif memasarkan lewat sosial media. Yang mana kini dibantu 3 orang, bertugas menyebarkan informasi. "Konveksi ada 14 orang dan jahit 6 orang."

Bisnis tidak disangka


Pria kelahiran Bukit Tinggi, 25 April 1984 ini, berawal dari menjual hijab biasa. Lantas berkembang jadi jualan gamis, blus, rok, hingga baju anak- anak muslimah. Penjualan utama ya lewat toko online mereka yakni www.yoyahijab.com. Juga bisa memesan lewat Instagram, Facebook, BBM, dan sebagainya.

Ia bertutur merantau ke Jakarta tanpa saudara. Sama sekali dia tidak punya pegangan. Langkah kaki Yoki langsung ke Tanah Abang. Patokan Yoki adalah banyak teman bekerja disana. Kerja pertama ya serabutan apapun dikerjakan. Mulai menjaga toko sampai naik kelas menjadi penjual kain keliling.

Dia belajar lewat teman sesama anak rantau. Otodidak dia mulai belajar mengenai segala jenis kain. Lalu sendiri berkeliling ke gudang menjualkan bahan. Dia belajar sendiri bagaimana, kemana, dia akan menjual barang tersebut. "Saya pun ngutang di warteg, tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari- hari," jelasnya.

Yah terpaksa dia menginap di rumah teman. Ketika bertemu Yanti keduanya sepakat menikah di 2012. Dia juga mantap banting stir. Karena merasa bahwa kini sudah memiliki tanggungan. Dia mau membuka usaha tetapi tidak tau usaha apa. Dimulai bermodal kain pinjaman 5 kodi dirubah menjadi hijab.

Ia mencari dimana tukang jahit terbaik. Dia ingat ketika itu malam hari. Mencari tukang jahit yang lantas membuat hijab bermotif polkadot. Cukup satu jam sudah beberapa hijab dijahit. Bahan digunakan Yoki kala itu terbilang unik karena belum dipakai dimana- mana, yakni kain sutra salju.

"Sempat dicemooh teman- teman tapi saya cuek saja," kenangnya.

Karena kurang variatif maka barang tidak laku. Ujung- ujungnya bahan andalan Yoki akhirnya dicontoh. Ia tetap tidak patah semangat. Bertahap dia memperkenalkan kepada masyarakat. Bertahap sampai 5 kodi hijab polkadot tersebut terjual.

Istri Yoki senang sekali memberikan kabar tersebut. Dia yang sibuk promosi di luar, memutuskan buat memproduksi lebih banyak dan menambah corak. Ancang- ancang ambil untung Yoki ditekan sampai cuma untung Rp.4- 5 ribu dulu. Awal sekali keduanya berjualan di depan toko orang lain, belum punya toko.

Kalau toko tersebut buka maka lapak kecil pindah. Sang istri harus ikut pindah membawa jualan mereka. Ia mengenang tiga kali pindah lapak. Cuma bermodal jualan di emperan untungnya mencapai Rp.30 juta per- bulannya.

Tahun 2013, menyewa toko sendiri, dia menyewa di lantai 5 yang dikenal sepi. Namun lambat laun berkat marketing gencar tokonya jadi ramai. Bahkan menjadi paling ramai dibanding toko lainnya. Setahun sudah berlalu dan Yoki membeli toko dengan harga Rp.270 juta.

Semakin bersemangat dia mamproduksi sampai 5000 potong/bulan. Dia juga sudah tidak lagi menumpang menjahit. Awal tahun 2015, keduanya makin mantab karena berbisnis satu paket, tidak cuma hijab tetapi sudah satu dengan pakaian muslimnya. Pertama kali ia mengenang membuat model blouse muslimah.

Dia "mencontek" model di Tanah Abang. Kemudian meminta penjahit dijahitkan. Awal mencoba pasarnya dengan memproduksi sedikit. Ternyata malah ludes diborong penggemar brand mereka. Maka mereka lalu merambah rok sampai gamis.

Omzet bisnis memang tidak diragukan. Dibelakang Yoya Hijab sudah ada 600 reseller. Bahkan ada orang meminta dijadikan franchise macam Rabbani. Sekarang sih dia ingin membuka toko sebenarnya. Inspirasi Yoki adalah brand pesaing yang memiliki nama dan toko dimana- mana.

Dia berkisah usahanya membantu banyak orang. Berkat mereka pula usaha Yoki dapat sampai sekarang. Ia menyebut mereka juga memberikan andil soal desain. Mereka reseller ambil contoh seorang pegawai bank sudah bisa resign dan menghasilkan untung lebih dari gajinya.

Puluhan ribu corak bunga sudah siap. Agar menyenangkan reseller, ia memberikan aneka hadiah berbekal poin reseller. Hadiahnya mulai dari handphone dan lainnya. Sampai juga laptop dapat didapatkan berbekal poin penjualan.

Selasa, 20 September 2016

Biografi Rudy Hadisuwarno Sejak Kapan Buka Salon

Perjalanan Karir Penata Rambut Rudy Hadisuwarno 



Dia bukanlah terlahir sebagai orang hebat. Alkisah lahirlah seorang anak bernama Rudy Hadisuwarno. Dia adalah putra dari pasangan (alm) Iskandar Hadisuwarno dan juga Tresna Lestari Sutedjo. Lahir ke dunia tepatnya 21 Oktober 1949. Tepatnya ketika agresi militer Belanda kedua datang ke Tanah Nusantara kita.

Ia hidup bahagia. Sebagai anak kecil, Rudy tumbuh normal selayaknya anak- anak seumuran. Dalam sebuah wawancara dia meyakinkan hal tersebut. Bisa dilihat dari senyum terkembang Rudy senang. Meski hidup dengan sederhana toh dia tidak minder.

Ia terlahir di Kota Pekalonga. Di masa kecil tidak ada ingatan istimewa. Yah selayaknya anak kecil biasa, Rudy kecil menikmati bermain, sementara itu sang ibu mengerjakan salon di rumah. Sebuah salon kecil yang diakui oleh masyarakat kota. Ibu Rudy diakui menjadi salah satu penata rambut mahir di Kota Batik.

Bisnis salon


Banyak pelanggan datang ke salon kecil ibu Rudy. Hampir setiap hari Rudy kecil mampir ke salon. Tidak cuma mampir atau meminta uang jajan. Rudy malah asik mengamati ibu bekerja. Dari sanalah, mungkin ia mulai merasakan ketertarikan akan dunia salon atau tata rambut.

Rudy langsung mengatakan terus terang. Akhirnya ibu Rudy mengajarinya banyak tentang tata rambut. Dia belajar bagaimana menata rambut, memotong rambut, dengan baik dan benar. Kalau ibu Rudy merupakan seorang pengusaha salon. Maka ayahnya juga bukanlah orang biasa karena dia juga seorang pengusaha.

Kalau dikenang, sebenarnya ayah mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi yah, memang ibu Rudy, itu orangnya tidak mau berdiam diri di rumah. Disulapnya sebagian rumah menjadi salon kecil- kecilan. Ayah Rudy merupakan pengusaha pembuat pewarna batik.

Usaha salon ibunya hanyalah sebagai pengisi rutinitas. Dari salon lah Rudy mendapatkan keahlian menata rambut. Sementara sisanya merupakan bakat wirausaha kedua orang tua. Ayah dan ibu Rudy sangat peduli akan pendidikan anak- anaknya. Dia, si sulung, dan ketiga adiknya tidak pula kehilangan perhatian mereka.

"Ayah saya orangnya tegas dan disiplin," ungkapnya. Dimana sang ibu lebih ke memberikan kelembutan ke anak- anak mereka.

Rudy kecil menghabiskan masa kecil di Pekalongan. Dia merupakan alumni SD Santo Pius yang sukses. Ia kemudian masuk sekolah negeri bergengsi, SMP 2, tetapi terpaksa pindah karena ayah Rudy karena jika tetap di Pekalongan dirasa tidak baik. Di Pekalongan ternyata tidak ada sekolah SMA buat anak- anaknya.

Tahun 1963, mereka sekeluarga berangkat ke Jakarta, dan Rudy bersekolah di SMPK II Pembangunan buat melanjutkan SMP. Kemudian ia masuk ke SMA Kristen 1, Jakarta. Masuk 30 September gerakan komunis mulai meraja- lela. Keadaan politik di Ibu Kota memang tengan terguncang menjadi perhatian kalayak.

Rudy merasakan kegetiran dalam masa tersebut. Mangkanya ketika sudah lulus SMA, Rudy tidak langsung melanjutkan ke kuliah. Rudy merasa dia masih haus akan pengetahuan. Oleh karena itulah dia memilih buat mengisi waktu luang dengan kursus. Apalagi kalau bukan dia memilih kursus potong rambut.

Dia digerakan oleh hobi. Berjalan lah kursus pertama di salon bernama Salon Robby. Dia belajar dengan sang pimilik langsung yakni Vivian Rubianty. Waktu itu dia juga belajar cara Vivian mengelola salon. Saat itulah ia meyakini tata rambut merupakan pilihan karir. Berlanjut Ruddy kemudian membuka usaha salon sendiri.

Marketing cerdik


Ia tidak langsung sukses. Pertama kali membuka Rudy tidak memiliki pelangga. Hanya seorang teman satu kampus yang mau potong rambut di tempatnya. Beranjak waktu dengan ketekunan Rudy pun meraih hati masyarakat. Satu pelanggan puas membuat Rudy makin percaya diri mendalami.

Dia mulai yakin akan karir penata rambut. Kualitas layanan ditingkatkan, sedikit- demi sedikit masyarakat mulai mengenal salon Rudy. Marketing mulut mampu menemui sasaran utama. Tetapi tidak mau sekedar orang tau bahwa dirinya jago. Ia rela banting harga agar nilai jualnya semakin tinggi.

Istilahnya kalau lebih baik tapi murah, kenapa milih yang mahal. "Bila salon lain tarifnya Rp.3000, maka di salon saya separuhnya," Rudy menjelaskan. Pelanggan baru yang dulunya cuma kenal nama. Mereka yang ingin membuktikan kualitas Rudy jadi lebih mudah.

Pelanggan baru datang membawa pelanggan lain. Dari cuma menerima pelanggan yang datang ke salon -tepatnya di rumah yang dijadikan salon-, Rudy mulai menawarkan jasa layanan panggilan. Ia dengan cara menerima potong rambut di rumah berhasil. Jadilah semakin bertambah jumlah pelanggan ditangani oleh Rudy.

Karena pelanggan terkadang rumahnya jauh. Rudy sedikit kerepotan kalau harus dipanggil. Memang nama Rudy sudah cukup terkenal lah. Untuk ini ayah Rudy membantu mengantarkan. Semakin lama salon kecil tersebut dikenal banyak orang di Kota. Hasilnya Rudy membuka salon sendiri dengan ukuran 8x9 meter.

Salon tersebut sudah tidak menjadi satu dengan rumah. Dalam salon sudah ada kaca rias besar berbahan dari kaca bekas lemari pakaian ibu Rudy. Peralatan salon juga semakin lengkap dibeli bertahap. Untuk meja cukup pakai meja bekas meja makan rumah. Bak pencuci rambut cukup pakai baskom kaleng bekas.

Pengering rambu tinggal pakai punya orang kebanyakan. Pokoknya pertama kali serius membuka salon itu cuma seadanya. Karena masih berkuliah alhasil salon Rudy cuma buka sore hari.

Bisnis passion


Setahun dia menjalankan rutinitas ngampus dan nyalon. Selepas kuliah mantap Rudy ingin fokus. Setahun sudah dia mengelola salon sederhana. Hasrat menjadi penata salon kenamaan makin kuat. Ia ingin menjadi lebih profesional. Meski, tahun 1970 -an, pengusaha salon identik dijalankan oleh ibu- ibu rumah tangga.

Tahun tersebut salon masih dirasa sambilan. Tetapi di mata Rudy merupakan potensi karir. Di kedua mata seorang Rudy melihat prospek cerah usaha salon. Hingga dia mulai berpikir untuk menekuni karir sampai ke luar negeri.

Berbekal nekad, Rudy menerima ajakan Robby sekolah penata rambut ke Hongkong selama dua minggu. Ia begitu pulang dari Hongkong makin bersemangat. Rudy ingin sekali menuntut ilmu lebih soal menata rambut. "Saya menabung dengan susah payah," tambahnya.

Uang tersebut kemudian digunakan berangkat ke London. Mulai tahun 1971 selama enam bulan dia belajar tentang tata rambut. Sudah banyak pengetahuan serta pelajaran didapat Rudy. Keahlian miliknya semakin terasah saja.

Kemudian dia mendaftar menjadi penata rambut modeling di Jakarta. Karir penatan rambu profesional dia jalani semakin menanjak. Padahal Rudy awalnya ingin sekali menjadi seorang arsitek. Namun lambat laun rasa cinta membawa ke dunia penata rambut. Ketika kuliah arsitek Universitas Trisakti tidak bersemangat.

Juga karena dia kesulitan membagi waktu antara karir dan kuliah. Hingga tahun 1972, diambil keputusan bahwa, Rudy memilih berhenti mengejar cita menjadi arsitek. Dia malah ingin berkuliah sampai ke Paris, berkuliah tata rias di kota fasion.

Dari menjadi penata rambut profesional orang. Dia membuka kembali salon sendiri. Lambat laun bidang usaha Rudy mencakup kursus tata rambut pemula. Masuk tahun 1974 kemudian ia mengembangkan bisnis salonya. Dia membuka cabang bersama Grace Soebekti, salah satu muridnya.

Nama Rudy Hadisuwarno makin berkibar saja. Sebagai pribadi mampu melampaui batasan negera. Nama Rudy sudah masuk Intercoiffure, yakni organisasi penata rambut asal Paris, Prancis. Pengakuan datang dari rekan sesama penata rambut dari luar negeri. Dia menjadi anggota organisasi penata rambut dunia.

Ia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana oleh Presiden Soeharto. Sejak 1998, namanya tercantum dalam buku bertajuk Who's Who in The World. Dimana dirinya didapuk sebagai orang profesiona dan juga terkenal di bidangnya. Walau banyak penghargaan Rudy masih merasakan belum sukses.

"Sukses itu relatif ya". Mendapatkan berbagai penghargaan, didapuk menjadi juri di berbagai kontes tata rambut, baik dalam dan luar negeri. Dia didapuk menjadi vice- chairman Persatuan Ahli Tata Kecantikan Kulit dan Rambut Indonesia- Tiar Kusuma.

Bisnis Rudy mencangkup Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) yang memiliki 147 cabang salon. Juga termasuk sekolah tata rambut. Rudy mengajak kedua adiknya, Haryadi (55) dan Gunawan (51), menjadi pengelola manajemen perusahaan. Sementara adik perempuan, Yani (54), yang memilih bekerja menjadi arsitektur.

Harapan bisnis Rudy adalah mencapai pasar luar negeri. Dia ingin membuka salon di luar negeri. Kalau ia bicara tentang pendamping. Yah Rudy menyerahkan kepada waktu menjawab.

Menghadapi masalah bisnis


Rudy sadar bahwa menata saja tidak cukup. Seorang ahli rambut harus mampu menciptakan. Dan sebagai seorang pengusaha sudah banyak inovasi diluncurkan. Aneka gaya rambut diciptkan Rudy khusus buat para pelanggan. Rudy pun memanfaatkan seorang "pelanggan setia" menjadi kelinci percobaan inovasi rambut.

Dia tidak lain adalah sang adik perempuan. Adik Rudy selalu mau ketika ditawari gaya rambut baru. Tidak sedikit sang adik komplain. Mulai dari merasa gaya rambut tersebut terlalu kependekan. "Kenapa kok jadi begini," ia menirukan Yani. Tidak jarang sang adik merasa kecewa atas hasil karya tangan Rudy kala itu.

Untuk menjawab rasa kecewa tersebut. Rudy siap berkaca akan gaya dihasilkannya. Perbedaan akan selera setiap orang diakui Rudy ada. Rudy menjadi sosok berhati- hati soal berinovasi. Meski begitu sebagai sosok pengusaha dirinya tidak akan pernah kapok membuat trobosan bisnis.

Apapun orientasi pelanggan akan coba diwujudkan Rudy. Disisi lain banyak halang rintangan lain datang dari pesaing. Suatu ketika muncul isu miring tentang salon Rudy. Katanya ada pelanggan mati karena kena steamer ketika creambath. Isu dihebuskan bahwa wanita tersebut juga merupakan istri seorang jendral.

Isu lain menyusul bahwa Rudy masuk penajara karena lalai. Kabar- kabar miring tersebut sudah menyebar membuat geger semua masyarakat sampai ke polosok. Namanya memang sudah disejajarkan dengan para tokoh publik. Alhasil salon yang biasanya melayani 70 pelanggan tiap hari, menyusut sampai sisa 3 orang.

Dia mencoba berpikir jernih menyelesaikan masalah. Langsung Rudy mengundang pewarta. Memberikan pengumuman besar- besaran mengklarifikasi. Cara menaikan pamor lagi ala Rudy, ialah menciptakan logo perusahaan berbentuk huruf R. Maksudnya agar memperkuat brand sampai ke tingkat paling pelosok.

Tidak berhenti disana, masalah besar lain ada yaitu dengan rekan kerja Rudy. Waktu itu My Salon dan Rudi menghadapi perselisihan. Katanya karena ada beda persepsi tentang bisnis. Sisi lain My Salon memiliki hak mencantumkan nama Rudy dibawah nama salonnya.

My Salon mengaku sudah ada kesepakatan. Disisi lain, Rudy tidak mengakui hak mereka, lantara pihak My Salon sudah melewati waktu perjanjian. Masalah tersebut digugat dan memenangkan pihak Rudy sebagai pemilik brand Rudy Hadisuwarno.

Jumat, 16 September 2016

Merubah Nasib Lewat Wirausaha Eceng Gondok

Profil Pengusaha Sambina Alfrina 



Keinginan merubah nasib membawanya. Ini kisah Sambina Alfrina. Ia hidup sebatang kara di Tangerang. Dia ditinggalkan sang suami. Tidak memiliki pekerjaan. Dia adalah perantauan asal Purbalingga. Semua ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan, tidak ada keinginan muluk ketika memulai usaha eceng gondok.

Bahkan dibenaknya apakah mungkin berhasil. Keraguan tersebut dibayar melalui aneka pelatihan. Untung karena PT. HM. Sampoerna tengan mensponsori acara. Sebuah acara pelatihan wirausaha oleh Dewan Kerajinan Nasional atau Dakernasda.

Dimulai tahun 2013 dengan bermodal seadanya. Dia mendapatkan pelatihan: Bahwa eceng gondok punya kemampuan diolah menjadi kreasi tanpa batas. Yang dibutuhkan Sambina Alfrina hanya imajinasi dan kreatifitas. Bermodal uang Rp.1 juta dan peralatan dari Sampoerna dimulai lah.

Bisnis sederhana


Dia bersama beberapa ibu bekerja sama. Mereka memanfaatkan limbah enceng gondok. Memang daerah mereka banyak ditumbuhi tanaman gulma ini. Dari membuat kerajinan tas tangan, pot bunga dan sepatu. Ia mampu menghasilkan untung Rp.2 juta per- bulan. Ini sudah mencukupi tanpa mengandalkan pendapatan suami.

Tidak gampang tertulis diatas. Ia merasakan masalah datang. Kebutuhan biaya produksi menjadi kendala utama. Kembang kempis dia mencoba bertahan pertengahan 2013 silam. Untungnya dia tidak berhenti di tengah jalan. Meski berhenti sesaat, dia langsung bangkit dan memulai kembali usaha.

Tidak cukup uang buat menyetok eceng gondok. Apalagi ketika musim penghujan tiba. Dia terpaksa buat berhenti. Alhasil dia tidak menjual dan menggaji pegawai susah. Awalnya dia membuat produk tempat tisu dan tas. Sambina tidak patah arang terus belajar membuat lebih komplek.

Disisi lain, dia juga memberikan pelatihan kepada masyarakat, mereka bersama terus meningkatkan daya jual mereka. Tahun 2014 dirinya dikirim menjadi instruktur di Madagaskar. Uang memberi pelatihan ia gunakan kembali menjadi modal usaha.

Ia kemudian menyetok bahan baku. Mengkombinasikan dengan bahan baku lain. Sambrina telah mampu menciptakan produk diversif tidak monoton. Bahan lain syaratnya harus ramah lingkungan. Mulai bahan kain batik daur ulang, tali tegel, ataupun pralon bekas. Pegangan tas, contohnya dibuat dari pralon bekas loh.

Proses pembakaran dilakukan agar pralon lunak. Ataupun cukup diamplas saja. Dia membuat produknya jadi sebagus mungkin. Kualitas produk sudah dipahami wanita ini. Semua produk bagus, tentu juga relatif, tergantung persepsi pembeli tentang produknya.

Bisnis untung


Usaha dibawah bendera Putri Eceng. Sedikit banyak membantu membersihkan rawa dan saluran irigasi. Ia juga menciptakan karpet eceng godok darisana. Produk karpet lumayan diminati masyarakat. Bahannya jadi empuk serta tidak panas ketika cuaca panas. Benar- benar cocok buat kamu yang mau jalan- jalan.

Meski sederhana semua dijamin. Ina, begitu panggilan akrabnya, mampu mengkonsep produk semenarik mungkin. Bukti sukses Ina ya salah satu anggota DPR RI, Indah Kurnia, menggunakan produk Ina. Ketika ia melihat produknya langsung diborong loh.

Dua tas langsung dibeli dia loh. "Salah satunya adalah tas eceng gondok dengan pegangan dari pipa pralon yang dibakar," imbuhnya senang.

Harga jual produknya terbilang tidak mahal. Ya satu tempat tisu dijual seharga Rp.20.000. Untuk tas harga jual Rp.150.000 dan karpet sampai Rp.350.000. Bersyukur Sambina kini dibantu delapan orang pegawai. Kalau ramai mengajak tetangga lewat lima kelompok pengrajin membantu.

Meski sudah sukses dirinya tetap mengajar sesama. Ia mengajak semua orang menjadi pengusaha bidang sosial sepertinya. Wanita kelahiran 1974 ini banyak mengajak warga sekitar rumah. Dia langsung tidak ragu membagikan pengetahuan. Baginya membagi ilmu menjadi salah satu media beramal mudah.

Total satu kuintal eceng gondok dipakai. Mereka diangkat dari rawa, dikeringkan sampai kadar air hilang, diperas sampai benar kering. Kemudian Ina bersama pekerja akan menganyam. Produk dibutuhkan waktu 1- 2 hari kalau mudah. Paling sulit ialah membuat karpet dari bahan eceng gondok karena ukurannya.

Dalam sebulan usahanya menghasilkan 15 item- 20 item. Ia mengaku untuk sekarang omzetnya mencapai Rp.10 juta. Ini berkat penjualan sampai ke Jakarta, Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan ke Makassar. Ia juga membuka showroom di gedung SME Tower Jakarta.

Konsumen asing benar- benar tertarik dengan karpet. Salah satunya pembeli asal Jepang menjadi langgana karpet.

Kamis, 15 September 2016

Menakar Untung Bisnis Zaza Salon Muslimah

Profil Pengusaha Sukses Laili S



Menjadi pengusaha salon memang gampang- gampang susah. Munculnya salon khusus muslimah seolah menjawab keraguan. Benar- benar salon, memberikan pelayanan prima buat kecantikan wanita. Pengusaha asal Kudus ini berawal dari salon kecil menjelma menjadi besar.

Pelayanan ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita bernama Laili S, mencoba menjabarkan tentang usaha dijalankan sekarang. Usaha yang memiliki pelayanan setara salon biasa. Baik pelayanan creambath, hair spa, hairmask, coloring, dll, sudah ada. Kemudian dikombain spa miss V dan totok aura membuatnya beda.

Laili meyakini pelayanan diberikan beda. Sangat berbeda dengan salon pada umumnya. Apalagi sebagai seorang muslim berjilbab Zaza Salon memang buat kaum hawa nyaman.

Bisnis muslim


Meski mengkonsep bisnis salon muslimah. Laili meyakinkan pelayanan mereka tidak kaku. Wanita dari kalangan manapun dapat merapat. Ia meyakinkan kaum Adam cuma menunggu. Area perawatan dibuat oleh Zaza sangat steril. Hairstylist dan Kapster memakai pakaian muslimah yang membuat nyaman.

Karena pakaian tertutup bukan berarti mereka tidak terampil. Ia meyakinkan bahwa mereka telah lulus tes. Pengusaha mantan pegawai BUMN, sebuah Bank, ini telah mendapatkan testimoni memuaskan dari para wanita muslimah.

Sukses membuat Zaza makin berjaya di Kudus. Bahkan nih ada salon mengaku- ngaku cabangnya. Padahal Laili belum membuka cabang kala itu di Kudus. Melihat potenis dia mengisaratkan melalukan ekspansi membuka cabang. Sejak 2010, Laili resmi membuka cabang lewat usaha berbasis waralaba salon.

Cabangnya sampai ke Cirebon, Malang, Probolinggo, Cilegon, Pangkal Pinang, Medan, dan Yogyakarta. Ia mengisaratkan akan terus mengembangkan sayap bisnisnya.

Berawal dari merasa kesulitan menemukan salon muslimah. Dia merasakan susah mencari salon yang pegawainya muslimah satu muhrim. Bermodal Rp.100 juta dirinya mantap membuak salon di Kudus. Ia menambahkan kelebihan usahanya pria tidak boleh jadi pegawai dan pria tidak boleh masuk area.

Omzet per- outlet Rp.45- 50 juta per- bulan. Dimana kontrak waralaba selama tiga tahun. Selama itu para mitra akan mendapatkan penghasilan 100% masuk kantung. Semua kebutuhan sudah disediakan pihaknya dan siap jalan.

Rabu, 14 September 2016

Donat Thailand Diwaralabakan Daddy Dough

Profil Pengusaha Peter Thaveepolcharoen 




"Saya suka bisnis donat ini jadi saya tidak pernah gentar untuk tidak menyerah," tulisnya. Sebuah kisah dari pengusaha muda asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen, seorang direktur perusahaan waralaba bernama Daddy Dough.

Ia menceritakan bahwa bisnis bukan hal lama. Ini merupakan bisnis keluarga. Namun, hanya dari sentuhan tangan dingin Peter, usahanya berkembang menjadi tiga gerai utama. Selanjutnya usaha pemuda 27 tahun tersebut adalah membuka waralaba atau franchise global.

Alkisah dia hanyalah pegawai IT. Pekerjaan dengan gaji 100.000 bath. Nyaman bekerja saja ternyata tidak cukup. Dalam ketidak mungkinan, apapun bisa terjadi Peter malah memilih keluar dan membuka bisnis. Ia bermodal resep keluarga. Kesulitan justru dianggapnya menjadi karena dia masih lah sangat muda.

Kini pria 33 tahun ini sudah memiliki perusahaan besar. Nama Daddy Dough, berbekal resep sang ayah, sudah sangat dikenal di telinga masyarakat Thailand. Kepada IndoTrading, kisahnya bermula ketika umur masih 23 tahun, dan ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi pegawai IT.

Bisnis tekat


Ia suka IT tetapi bukan passion. Berwirausaha merupakan panggilan hati. Inilah dirasakan Peter ketika ia mengeluhkan alur kerjanya. Bercerita ke ayah malah membuahkan ide berwirausaha. Sang ayah justru jadi orang pertama yang mendorong anaknya menentukan nasib.

Dorongan tersebut dibuktikan lewat pengunduran diri. Reaksi ayah ya tetap meyakini bahwa Peter akan jadi sukses. Lebih sukses lagi dibandingkan bekerja menjadi pegawai IT. Terbukti bisnisnya telah sukses mengantungi untung 15 sampai 30 kali lipat gaji ketika menjadi pegawai dulu.

Bayangkan dia mampu mengantungi omzet 80 juta baht global. Latar belakangan pendidikan pun tidak jadi masalah. Seorang lulusan sarjana komputer dan kemudian pindah ke jurusan manajemen. Tidak nyambung lagi dengan bisnis donat, Peter merupakan lulusan travel industry management.

Selepas sekolah menengah sebenarnya dia sudah disuruh. Ayah Peter mengajaknya membesarkan bisnis donat milik keluarga. Justru ketika dia tertekan dengan rutinitas pegawai. Perasaan bahwa bekerja bukan jadi passion -nya muncul -tetapi berwirausaha sendiri.

Meski ditangan Peter baru berjalan setahun setengah. Optimisme tinggi ditambah passion akan wirausaha tidak tertandingi. Kebetulan fakta bahwa bisnis donat belum begitu populer di Thailand. Sentuhan tangan anak muda membuat Daddy Dough memiliki cita rasa sehat mengikuti perkembangan jaman tidak jadul.

Ketika masuk ke bisnis keluarga bukan mudah. Ketika itu bisnis ayah sudah berbentuk restoran. Dan dia tidak mau tuh menjalankan restoran. Dianggapnya sistem yang sudah ada sudah terlalu mapan. Inilah pula alasan kenapa dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga.

Dimarahi jadi pegawai


Tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Ia malah bekerja menjadi akun eksekutif di perusahaan software. Ayahnya sempat marah tetapi pasrah. Ketika kebosanan rutinitas kerja datang ke Peter. Dia sendiri malah yang datang kepada ayahnya.

Inspirasi terbesar Peter adalah Roti Boy. Sebuah bisnis berkonsep seperti Krispy Kreme -nya Amerika. Sebuah fenomena waktu itu katika dia ke Bangkok. "Saya ingin membuat kembali fenomena," ia tambah. Demi menghormati ayah maka dia menggunakan resep ayah.

Bisnis dia imajinasikan ternyata lumayan. Uniknya dia membuka satu toko donat kecil diantara restoran sang ayah pada Agustus 2006. Penjualan ternyata bagus loh tetapi masalah ketika membuka cabang ke Siam Paragon di Desember 2007. Butuh waktu sepuluh bulan, akhirnya dia bisa membuka hingga brandnya dikenal.

Ia berkisah banyak orang gagal. Mereka gagal ketika membuka bahkan tempat kecil di mall. Inilah kenapa Peter mendapatkan tentangan dari ayah. Yah tetapi keduanya akhirnya sepakat bekerja sama untuk melaju ke depan. "Kamu tidak benar bisa memisahkan kehidupan pribadi dan bisnis," terang Peter.

Paling tidak dia dan ayah bisa saling jujur. Tidak diam ketika berbisnis hingga saling menyalahkan diakhir. Membuka usaha sendiri justru Peter tidak punya hari libur. Dia bahkan tidak memiliki malam minggu. Jika kamu pekerja kamu bisa lupakan pekerjaan ketika weekend.

"...tetapi saya tidak bisa," jelasnya. Bahkan ketika dia tengah mendorong keranjang belanjaan. Pikiran Peter akan ke perusahaan yang tengah dia rintis. Tetapi dia menganggap itu kenikmatan tersendiri.

Dia cuma keluar seadanya. Istilahnya kita mencari angin ke pantai ketika malam sabtu. "Saya sangat senang akan pekerjaan saya." Keinginan membuat donat kualitas internasional selalu terngiang. Dia bahkan sudah ingat dan fokus siapa pesaing utama mereka, Mr. Doughtnut.

Ia ingin membuat kita kenal produknya. Kunci sukses bisnis Daddy Dough sampai sekarang diantaranya ada di kualitas bahan baku. Peter menggunakan coklat Belgia yang lembut.

Bisnis waralaba


Dia menggunakan toping coklat Belgia. Ini merupakan pertama bagi negara Thailand. Donat miliknya juga tidak memakai lemak trans, yang mana merupakan andalan kebanyakan perusahaan makanan. Total ada 40 varian donat aneka rasa toping. Kualitas coklat merupakan andalan Daddy Dough tidak sekedar rasa.

Dengan resep rahasia, Peter yakin usaha dijalankannya akan semakin besar ke depan. Bahkan dia jaminkan bahwa tidak ada satupun tau resep miliknya. "Ibu dan ayah saya mengarahkan saya untuk menjadi pengusaha sejak kecil," imbuhnya.

Dia sama sekali tidak tau soal waralaba atau franchise. Dia cuma liat keluarganya sukses waralaba. Untuk mencapai tujuan ekspansi maka waralaba menjadi pilihan. Masalah lain, selain kesulitan ekspansi, ialah ia sulit mendapatkan pekerja berkualitas.

Menurut Peter semua orang bisa membuka toko. Tetapi mendapatkan tenaga berkualitas susah. Ini adalah tantangan lain ketika dia sudah menemukan waralaba. Dia bercerita bahwa beruntung sampai awal, mereka sudah mampu membuka lima cabang utama. Tetapi untuk mendapatkan pekerja berkualitas tidak secepat itu.

Butuh waktu bersama membangun bisnis. Tidak memiliki pengalaman menjadi masalah pengusaha muda. Termasuk pengalaman mencari dan menyeleksi pegawai.

Inovasi dari 15 menjadi 40 merupakan cara. Bagaimana Daddy Dough mencoba tetap berekspansi. Jika ia pertama kali menjual donat 15 baht sekarang 28 baht. Jumlah toko naik sampai 30 cabang tersebar. Dia ingat sepuluh tahun lalu: Mereka menjual 300 donat sekarang mencapai 1500 donat setiap harinya.

Berawal dari seorang pengusaha, ayahnya, yang bernama Somchai Thavepholcharoen membuka toko donat di Amerika kemudian di Thailand. Dimana di Thailand, Somchai malah beralih membuka sebuah restoran, daripada membuka toko donat. Dan ketika ayah Peter melihat bisnis donat lokal berkembang menggila.

Ia mengajak Peter melanjutkan bisnis keluarga. Resep donat andalannya kemudian diwariskan kepada sang anak, Peter. Tidak apa- apa kalau bangkrut Peker berpikir. Pengusaha muda tersebut bermodal 5 juta baht lantas memulai usaha donat.

Selasa, 13 September 2016

Penjual Buku Online di Buka Lapak Untung Besar

Profil Pengusaha Arief Mai Rakhman 



Menjadi pengusaha sekarang memang gampang. Tinggal mental saja bagaimana tetap konsisten. Keinginan seorang Arief Mai Rakhman adalah menjadi pengusaha. Usaha penjualan buku yang dijalankan melalui media online. Ia bergegas mewujudkan mimpinya menjadi penjual buku pertama online.

Tidak mudah bagi Arief memang. Tetapi berkat dukungan lingkungan sekitar, sedikit- demi sedikit usaha dijalankan mulai terlihat hasilnya. Mahasiswa asal Yogyakarta ini lantas memilih niche bisnis beda. Fokus dirinya menjual aneka buku keperluan kuliah.

Hobi baca jadi bisnis


Dia memang hobi membaca. Lambat laun menjadi ketertarikan mencari aneka buku. Koleksi Arief mulai banyak dan disini ide bisnis muncul. Buku dikoleksi Arief mulai membahas tentang sosial, hukum, sejarah dan psikologi.

"Saya memang fokus untuk buku- buku anak kuliahan," imbuhnya. Memang pasaran mahasiswa masih bisa terbuka. Jika penjual buku online lain menyasar novel. Arief memilih menjual buku kuliah seperti metoda penelitian. Untuk jenis buku metode penelitian menjadi paling laris.

Arief tidak sendirian bekerja. Tahun 2011, dia bersama seorang teman kuliah membuka Delta Buku, bisnis online yang memanfaatkan Facebook. Hasil penjualan lumayan buat ukuran anak kuliahan. Didukung oleh kegemaran mereka mencari buku.

Jumlah koleksi mereka makin meningkat dan berimbang. Arief tau mana buku memiliki nilai kebutuhan tinggi. Tidak jarang dia berburu buku langka sendiri. Hingga akhir 2012, dia ditinggal oleh rekannya, sejak saat itu Arief dipasrahi mengelola bisnis jualan buku online. Sementara temannya kemudian pulang ke kampung.

Bisnis dijalankan tidak selamanya mulus. Beberapa kali Arief harus menelan pahitnya kegagalan. Berkat passion -nya kepada buku masalah dihadapi. Ia memang pekerja keras mencapai tujuan. Penjualan online dianggpnya cepat memutarkan uang.

Begitu untung, Arief langsung mencari buku baru untuk dijual. Dia bekerja sama dengan beberapa toko buku. Tujuannya agar mendapatkan buku lebih murah. Hasrat lainnya adalah menjual buku impor. Namun sementara dia memilih mengambil ke penerbit langsung, ditributor dan agen, seputaran Kota Gudeg.

Ia fokus mencari buku spesifik. Buat mahasiswa membutuhkan buku khusus. Nah kendala terbesar ialah mereka tidak punya waktu. Inilah pasar dikembangkan Arief mencari. Buku- buku edisi terbatas sudah bisa dia dapatkan. Buku yang tidak ada di toko buku konvensional, ada di tangan Arief sang juragan buku.

Bisnis cinta


Berawal dari usaha bernama Delta Buku. "Saya awalnya cuma nemenin muter- muter cari buku," ia cerita. Arief lantas ikut membantu sang teman jualan di Facebook. Sempat vakum lama usahanya kemudian dia ambil alih. Pria 29 tahun ini sudah paham betul seluk- beluk pasaran buku khusus mahasiswa.

Hingga, tahun 2013, dia menemukan bukalapak.com. Awalnya dia aktif berjualan lewat Facebook, Twitter, dan Instagram. Kemudian BukaLapak memberikan kemudahan berbeda. Arief merasa nyaman karena disini transaksi penjual dijamin.

Perkenalan dengan BukaLapak tidak tiba- tiba. Arief sendiri senang memanfaatkan iklan baris. Ketika dia mengetik jualan di Google. Dipilihan teratas langsung BukaLapak.com muncul. Ia kemudian berinisiatif menjual lewat BukaLapak saja. Dari BukaLapak usahanya berkembang sangat cepat dibanding dulu.

Dari Delta Buku, nama Beta Buku di BukaLapak begitu terkenal. Ia memang berjualan penuh amanah. Ya hasilnya dia mendapatkan feedback positif 1400 pengguna. Mereka adalah pembeli dari toko Delta Buku yang puas atas produk dan pelayanan Arief.

Inilah yang merubah Arief menjadi salah satu top seller. Dia sekarang dikenal menjadi Juragan Buku di BukaLapak. Akunya sudah melayani 10- 15 transaksi per- hari. Omzet dicapai Arief terbilang tinggi bisa sampai Rp.60 juta per- bulan. Dia sudah memiliki 4.000 judul buku di laman BukaLapak ini.

Meski di luaran sana, era buku digital atau e-book marak, dirinya tetap yakin bahwa buku fisik tidak akan hilang pasarnya. Ini semua karena masyarakat masih terbiasa membaca buku fisik. Fakta bahwa membaca buku fisik lebih nyaman dan enak.

Ia tidak sendiri lagi. Arief berkerja bersama seorang patner kerja. Yang sekaligus menjadi patner hidupnya kini. Wanita bernama Dewi Perwita Sari, bertugas menjadi penasihat sekaligus motivator. Dia juga jadi teman packing Arief. Keduanya, meski pengantin baru, menikmati proses menjadi wirausahawan.

Bisnis buku menunjukan tren positif. Walaupun tren masyarakat berubah terutama soal buku. Ia meyakini selama kita mampu bersikap kreatif. Mampu beradaptasi akan kebutuhan masyarakat. Niscaya, usaha kita akan memiliki peluangnya, pokoknya selalu kreatif, fokus, agar memberikan yang terbaik buat usaha kita.

Mimpi besar Arief ialah memilik toko buku besar seperti Amazon. Menjadi pengusaha buku onlin jadi pilihan seorang Arief. Kesuksesannya diakui oleh sang CEO BukaLapak sendiri. Achmad Zacky merasa kagum atas kegigihan pengusaha satu ini.

Minggu, 11 September 2016

Cuma Lulusan SMA Tetap Semangat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses Herdian 



Bisnis kreatif memang soal bagaimana menciptakan. Kita adalah seniman dalam berbisnis. Tidak ada pula batasan pendidikan berbisnis kreatif. Inilah Herdian, pria 30 tahun yang merambah bisnis miniatur, yang mana omzetnya mencapai Rp.15 juta per- bulan.

Tidak murah Herdian mengawali. Modal Rp.50 juta digelontorkan buat bisnis. Dibantu 12 orang karyawan dirinya mantap berbisnis miniatur. Pengusaha satu ini memang sudah dikenal. Dia menghasilkan uang dari menjual figura, dan kini, berjualan miniatur gitar difigura.

Pengusaha asal Lembang, Bandung Barat, ini hanyalah lulusan SMA. Sejak lulus sudah banyak usaha telah ia jalankan. Tidak ada minat bekerja menjadi pegawai. Hasil usaha disisihkan buat menjalankan usaha lain. "Karena ingin menciptakan lapangan kerja," Herdian menuturkan.

Sajak 2005 dia sudah berbisnis sendiri. Ia kritis kenapa banyak orang menganggur di kampungnya. Kenapa mereka tidak membuka usaha jika tidak diterima kerja. Alhasil banyak pengangguran bahkan usia tua juga ada.

Usaha Herdian membuahkan hasil. Biaya produksi juga mengandalkan daur ulang. Tujuannya agar bisa memproses bahan tidak terpakai di kampungnya. Limbah kayu mahoni menjadi bahan pembuatan miniatur. Sebulan sudah bisa memproduksi ulang 1- 2 ton limbah kayu mahoni.

Ia memproduksi sampai 300- 500 pcs figura gitar dan 2.000 miniaturnya. "Banyak dikampung saya," ia menjelaskan. Limbah tidak terpakai banyak, dan masih memiliki nilai ekonomis jika dipasangkan dengan ide kreatif. Dibantu 12 orang memproduksi di sebuah galeri kawasan Taman Wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Jualannya diminati kebanyak dari orang luar negeri. Utama pesanan datang dari Malaysia dan Singapura. Ia tidak takut karena kompetitor lumayan. Harga jual dipatok Rp.50 ribu sampai Rp.1,5 juta buat figur gitar. Dan buat miniatur agak lebih mahal yakni Rp.100 ribu sampai Rp.1,5 juta.

Pengerjaan antara tiga hari sampai dua minggu. Herdian menetapkan minimum pemesanan Rp.5 juta. Ia dibantung pemerintahan Jawa Barat makin maju. Ia pun berpesan bahwa anak muda jangan cepat menyerah menjadi pengusaha. Dia sendiri merintis dari nol besar tanpa ijasah sarjana.

"Usaha apapun harus dijalani asal tekun," tutupnya.

Buka Usaha Tali Temali Untung Kalau Digali

Profil Pengusaha Bernama Joko 



Iseng main simpul Pramuka jadi usaha. Inilah kisah Joko, pengusaha sekaligus seniman tali makrame dan kur. Ini karejinan memang lebih dikenal kerajinan tali Pramuka. Tetapi sejarahnya ternyata jauh. Seni ini dikembangkan oleh sosok Alm. Bambang Sumitro. 

Joko sendiri hanyalah seorang pegawai SPBU. Sementara Bapak Sumitro merupakan seniman sejati. Dia yang belajar dari tempatnya bekerja dulu. Sumitro lantas mengajarkan ke semua orang, mulai dari ibu- ibu sampai anak putus sekolah. Sedangkan Joko mengambil ilmunya sebagai dasar membuka usaha.

Kerajinan anak SD ini memang sudah dikenal langka. Jarang sudah peminatnya jaman sekarang. Justru ide muncul dibenak mantan pegawai SPBU ini, yang juga pernah menjadi karyawan hotel. Joko memang orang biasa tetapi dibalik usahanya sekarang terselip harapan lain.

Bisnis lestari


Ia ingin melestarikan seni makrame. Memang simpul- menyimpul membutuhkan waktu lama. Mungkin juga inilah alasan banyak orang "malas" melanjutkan. Joko berusaha menjalankan misinya, membuat aneka kerajinan, dari meja gantung, akuarium gantung, gantungan pot, tirai, sampai tempat tidur gantung.

Jiwa seni Joko memang kuat meski bukan seniman. Dia tau akan cantik jadinya jika seni talinya dipadu padankan dengan desain interior. Contoh lampu gantung eksotis buatan Joko. Atau coba beli akuarium gantung miliknya. Yang mana dipadukan lampu, menjadi penerang manis dan unik dikala malam hari.

Atau tirai tali buatan Joko yang berukuran 1x2 meter. Yang mana menghabiskan waktu 8 hari pengerjaan. Disini letak keindahan dan nilai usaha dijalankan Joko. Jika Bapak Sumitro membuat tas tali buat satu perusahaan. Maka Joko memilih membangun mimpi perusahaan sendiri.

Ia sangat menyangkan tidak ada penerus. "Semenjak tokohnya meninggal, daripada seninya mati disini, saya mencoba hidupkan kembali," pungkasnya. Harga produk mulai termurah Rp.5000 sampai yang paling mahal Rp.2,5 juta untuk meja gantung. Semakin mahal maka pengerjaan dan detail semakin sulit.

Pelanggan tetap dari luar negeri, adalah negara- negara pecinta produk handmade, seperti Swiss, Jepang, Belanda, Jerman.

Sabtu, 10 September 2016

Membuat Album Foto Menjadi Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Freddy Sinatra  dan Lio Andrian


 
Usaha berawal dari iseng sudah banyak. Berawal keinginan menambah uang jajan. Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Freddy Sinatra menjajaki wirausaha. Usaha foto album kecil- kecilan berubah jadi satu perusahaan besar. Lumayan lama dari berjualan keliling hingga menembus pasar internasional.

Jiwa seninya memang menjadi andalan. Ditambah keuletan ingin mencari penghasilan sendiri. Usaha yang dirintis sejak 1964 kemudian berkembang. Freddy sempat loh berjualan keliling. Menenteng album foto ditangan, menjualnya dari pintu ke pintu. Tangan dinginnya lalu memasukan karya ke toko- toko sekitaran Semarang.

Tidak disangka usaha album foto ternyata menjanjikan. Usaha bernama Susan Photo Album mulai tampak untung didepan mata. Produk foto album miliknya bahkan masuk ke pasar Australia.

"Saya tidak menyangka bila bisnis ini bisa berkembang pesat," kenangnya. "Saya memulai usaha album foto ini hanya iseng."

Usaha yang awalnya cuma menghasilkan uang jajan. Kemudian merambah uang tabungan buat kuliah. Inilah hidup kini Freddy telah berbalik 180 derajat. Pria kelahiran Blitar 1946 ini memang sudah berniat untuk membuka usaha sendiri. Ide membuat usaha apa berbekal kreatifitas tangan sendiri.

Bisnis tidak disangka


Dia mencari bahan, membuat, dan memasarkan sendiri. Awalnya dia berjalan berkeliling menawarkan satu per- satu. Suami Lanny Riana Dewi ini, memang sudah menyukai dunia seni. Dibantu dua orang karyawan agar bisnis Renddy tetap berjalan. 

Tugas utama Freddy adalah memotong dan pengepakan. Dalam sebulan menghasilan 20 buah album foto. Ia menyebutkan kualitas utama merupakan kunci. Tidak cuma sekedar desain bagus saja. Pelayanan baik mampu membawa perusahaan, kini, memiliki 200 orang karyawan tersebar.

Soal menjalankan bisnis tidak perlu neko. Usaha kecil- kecilan dikerjakan mengikuti arus. Namun dia ingat bahwa bisnis berubah mengikuti jaman. Dia tidak bisa menjaga loyalitas pelanggan terus. Jika ada perubahan sedikit saja usahanya akan hangus. Inilah Freddy fokus mengembangkan inovasi produk lebih baik.

Ia rajin menungunjungi pameran. Aktif menjual tidak cuma offline, juga online melalui sosial media atau website perusahaan sendiri. Barapa pun permintaan pasar diusahakan dipenuhi. Dulu mungkin Freddy akan keteteran tetapi sekarang tidak.

Ayah dua anak, Lio Andrian dan Olivia Susanti, hanya ingin melayani saja. Kualitas produk sekali lagi, lalu inovasi, ditambah melayani pembeli. Tidak salah usahanya lambat laun berkembang makin pesat. Pesanan album foto meningkat cepat. Pria bermoto "maju terus" merasakan Susan Album Photo sudah terkenal.

Tahun 2016 saja, Susan Album Photo memiliki 200 orang karyawan, sudah termasuk tenaga produksi dan staf. Niatnya sungguh- sungguh membuka usaha. Membantu lebih banyak lewat jiwa seninya. Dia bekerja keras tanpa dipengaruhi omongan orang sekitar. Tidak terpengaruh dan fokus mengembangkan usahanya.

Nama Susan sendiri ternyata bukan nama orang terkenal. Bukan pula nama istri Freddy sendiri. Pemilihan brand Susan hanya nyeletuk saja. Alasan utama karena mudah diingat dan diucapkan. Orang luar negeri juga mudah mengucapkan Susan.

Bisnis Freddy tidak berhenti di penjualan langsung. Dunia digital eCommerce sudah dijajaki pria paruh baya tersebut. Namun demikian pendekatan personal lebih kental. Sukses Freddy kini diambil alih oleh sang putra. Lio Andrian memiliki masalahnya sendiri dimana orang menyebut album foto sudah kuno.

Bisnis tak lekang


Meski banyak orang bilang jualan album foto sudah ketinggalan jaman. Lio masih meyakini bahwa ini hanya soal peralihan. Oleh karena itulah, ia bertekat merubah konsep album foto agar dapat mengikuti laju perubahan jaman. Lio sendiri tampak siap menghadapai tantangan global bisnis album foto.

Tidak cuma menjual album foto. Perusahaan mereka mantap memberikan jasa konsultasi. Bagaimana agar membantu rekanan bersama memajukan bisnis mereka. Lio menyasar konsep album art work, corporate package, hingga mengambangkan bisnis lain di dalam maupun luar negeri.

Freddy sendiri sudah membekali Lio. Selain ekspansi bisnis lain, seperti bisnis bridal, salon kecantikan, dan spa. Itu semua diberi nama Susan.

Devirsifikasi bisnis memang giat dilakukan Freddy. Bisnis selain album foto dikerjakan sang istri dan juga putrinya. Dua wanita Freddy memang menyukai bisnis kecantikan. Freddy mengaku bisnis dijalankan tidak ada perencanaan khusus. Freddy sendiri sejak awal sudah dibantu permodalan oleh Bank BCA.

Lio sendiri menjalankan bisnis senang hati. Memang berwirausaha sudah menjadi passion -nya. Selain itu, dirinya mewarisi bakat seni sang ayah. Dia tertarik karena melihat ayah bekerja sejak kecil. Freddy bilang Lio tidak melihat uang dibalik bisnis ayahnya. Cuma dia melihat bagaimana bisnis mempengaruhi industri fotografi.

Inilah kenapa Lio lebih mencintai berwirausaha. Dibanding sibuk memikirkan berapa uang didapat. Freddy sendiri membebaskan Lio berekspresi. Lio sendiri mengerjakan business development. Bagaimana agar membuat brand awareness tentang produk- produk milik Susan.

"Banyak orang menyebut pasar album foto sudah "senja"," ujar Lio. Penulis melihat bisnis mereka bukan cuma soal album foto tetapi brand Susan itu sendiri.

Jumat, 09 September 2016

Obat Tradisional Kalimantan Akar Kayu Berkah

Profil Pengusaha Heni Wijiastuti 



Pengetahuan akan ramuan kuno membawa berkah. Inilah kisah pengusaha Heni Wijiastuti. Semenjak sang suami kecelakaan tidak bekerja. Otomatis dia menggantikan tugas mencari nafkah. Bukan perkara mudah, karena membuka usaha pun butuh uang.

Sejak sembilan tahun silam, Heni mulai mengikuti cara kuno masyarakat Pulau Kalimantan, yang dikenal memiliki satu kekayaan alam hutan. Dia mulai meramu apa yang bernama akar kayu. Obat tradisional yang mana kemudian menjadi fondasi perusahaan miliknya, Berkat Uhat Kayu, diberi nama sesuai bisnisnya.

"Sesuai nama usahanya, uhat berarti kayu," Heni menjelaskan.

Sejak kecelakaan sang suami berhenti bekerja. Otomatis semua bergantung kepada tangan Heni. Otodidak ia mulai meramu ramuan akar kayu. Total 25 ramuan telah ia kembangkan berbekal akar kayu. Bahan juga mudah didapatkan gratis mencari di hutan.

Namun masalah pengembangan daerah sawit menjadi masalah. Itu sejalan dengan pengalihan fungsi hutan. Jadilah susah mendapatkan bahan baku utama akar kayu.

Dia lantas membudidaya sendiri kayu. Ramuan akar kayu Hani bisa menyembuhkan sakit pinggan hingga obat diabeter. Heni dibantu 4 orang karyawan. Usahanya memproduksi 2.000 bungkus per- bulan, yang ia kirim ke berbagai tempat termasuk Bandung, Bali, Pangkalan Bun, sampai Batam.

Ramuan dijual antara Rp.22.000 sampai Rp.75.000, disesuaikan jenis penyakitnya. Hitungan kasarnya ia memperoleh omzet sampai Rp.60 juta. Heni sendiri enggan menyebut angka pasti. Namun dia mampu menghidupi 7 orang anaknya. "Sekolah semua, dua kuliah," ungkapnya kepada Detik.com

Ia meyakinkan produknya sudah mendapatkan ijin Kementrian Kesehatan RI.

Pengusaha Eksportir Teh Hijau Kakak Beradik

Profil Pengusaha Ifah Syarifah 



Semua berawal dari keprihatinan akan teh kita. Dia adalah Ifah Syarifah, wanita 49 tahun, yang mulai aktif di kegiatan sosial. Berawal aktifitas sosial diantara petani kebun teh, dia menyulap aneka teh hijau jadi aneka makanan. Terutama nih opak teh hijau yang dibaluri coklat enak nikmat.

Dalam setahun usahanya sudah mengantungi Rp5 miliar. Usaha Ifah dikenal sebagai eksportir teh hijau ke luar negeri. Aneka produk teh hijau terbilang inovatif dan variatif. Ada opak teh hijau, pelembab teh hijau, sabun teh hijau, dan masker wajah teh hijau. "Kami membuat pewarna lukisan dari teh."

Harga jualnya sih cuma Rp.10 ribu sampai Rp.125 ribu. Ibu Ifah cuma berpikir bagaimana agar teh disukai semua orang. Bagaimana nih agar remaja menyukai makanan tradisional seperti opak. Tidak cuma teh hasil lokal tetapi teh Jepang yang hijaunya lebih pekat.

Aneka usaha


Ifah berdomisili di Jakarta aktif kegiatan sosial. Fokus sosialnya membangun sekolah anak jalanan. Sejak muda dia memang lebih ke sosial. Dari 1995 sudah menyukai kegiatan sosial, di sekitaran kebun teh di daerah Bandung, Jawa Barat.

Dia membantu petani bersama teman- teman. Mereka membangun sanitas juga jalan. Sela- sela perjalanan dia belajar memetik teh. Ia mampu memilah teh berkualitas. Gurunya Ifah ya petani serta pemetik teh. Dia memahami seluk beluk proses pembuatan teh. Gaya pemetikan lewat ketajaman indra penciuman kita.

Di tahun 2014, dia kembali ke Bandung, kali ini dia kembali memberikan pelatihan buat petani teh. Bagi lulusan S- 1 Psikologi, Universitas Padjajaran, ini bukanlah hal tidak biasa. Dia mulai mengingat sembilan tahun lalu sebuah keinginan. Potensi bisnis teh hijau dalam benaknya menggeliat kembali.

Dia lantas mengajak adiknya, Evi Amalia, wanita 46 tahun tersebut bersama Ifah mulai melakukan riset kecil- kecilan. Maksudnya menemukan produk andalan yang tidak monoton. Untuk bahan baku daun teh dipasok kawasan Ciwidey, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat dan Garut.

Mereka dibantu enam karyawan mengolah. Mereka merupakan anak- anak petani teh. Tidak mudah tetapi karena dibalik usaha mereka adalah berbagi; tidak terasa rasa lelah. Setelah menemukan aneka produk dan pasar menerima usaha Arafa Teh. Keduanya sepakat memberikan donasi 25% kepada keluarga petani teh.

Bubuk teh hijau dijadikan coklat teh hijau, opak, kemudian minuman instan. Coklat teh hijau bukanlah coklat sembarangan. Memiliki level kepekatan teh hijau terasa dimulut. Kemudian ia menaburkan teh hijau Jepang keatas opak. Inilah perusahaan pertama inovatif yang fokus ke usaha aneka teh hijau.

Bisnis besar


Orisinalitas usaha mereka tidak perlu ditanyakan. Cita rasanya terjamin. Begitupula dengan higenitas yang mereka tawarkan. Perusahaan mereka juga menghasilkan pewarna batik dari teh loh. Arafa Teh menggaet pengrajin batik Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta menjadi patner.

Mereka juga membuat sabun berbahan teh hijau. Merekomendasikan sabun tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan farmasi. Mereka juga memproduksi teh putih yang mencapai 3 ton/bulan.

Agar bisnis mereka makin moncer: Arafa Tea membangun jaringan reseller. Antara lain Batam, Padang, Medan, Balikpapan, Lombok, Menado, dan Makassar. Mereka nanti menjadi jalan masuk ke kafe- kafe. Ia menyebut reseller mereka ada di 11 titik. Omzet dari mereka saja sudah mencapai Rp5 milair per- tahun.

Olahan teh mereka dilirik negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Qatar, Srilanka, dan Korea Selatan. Ia menyebut volumen ekspor sampai satu kontainer ke masing- masing. Inovasi selalu dilakukan Ifah agar usaha mereka mengglobal lewat jaringan yang sudah ada.

Sambutan positif masyarakat direspon lewat aneka produk baru. Kakak- beradik asal Bandung ini memang tidak ada bandingnya. Bahkan produk opak mereka sudah pernah dipesan Bapak President Susilo Bambang Yudhoyono sampai 2.500 opak. Produk mereka dibandrol harga Rp.10.000 sampai Rp.125.000 -an.

Mereka juga mendukung riset dan penelitian teh hijau. Mereka menggandeng Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Padjajaran, menciptakan aneka pangan inovatif berbahan teh. Seiring peningkatan permintaan PT. Arafa Hangarita Asia memproduksi 120kg coklat, 5.000 opak, dan 60kg daun teh kering seduh tiap minggunya.

Pengusaha Yogurt yang Pernah Bangkrut Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Pepew 


 
Alkisah pengusaha muda bernama Pepew atau Febrianti, cuma tau wirausaha lewat buku teori. Berawal perkenalnnya dengan Rendy Saputra, pemilik KeKe Busana, timbul niat usaha. Lantas mahasiswi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Bandung (UPI), ini mulai langsung praktik.

Katanya nekat merupakan jalan baginya. Pepew nekat meminjam uang. Sebagai mahasiswa biasa, dia nekat pinjam uang, yang baginya tidak sedikit yakni Rp.24 juta. Sebenarnya malu sih tetapi hati ingin buktikan apa ucapan kang Rendy.

Diusia muda baru 19 tahun waktu itu tidak cuma pengangguran. Tidak punya penghasilan ditambah punya hutang puluhan juta. "Saya juga bingung waktu itu tidak malu sama sekali untuk utang (modal)," selorohn Pepew.

Bisnis yogurt


Kalau dibayangin pastilah malu. Tetapi memang malu tidak bisa membeli apapun. Kesuksesan tidak bisa ia capai kalau malu. Tidak punya pengalaman dia nekat buka usaha. Usaha berprinsip kalau belajar renang ya harus masuk kolam renang nyelem. Belajar wirausaha tidak bisa cuma baca buku atau internet.

"Harus nyemplung ke kolam," imbuhnya.

Berawal dari pelatihan kewirausahaan oleh Randy Saputra. Pelatihan tersebut menantang dia berwirausaha langsung.

Dua bulan membuka usaha -yang entah apa usahanya- finalis Womenpreneur ini malahan jadi bangkrut seketika. Hasilnya dia dicari- cari kreditor menagih hutang. Mereka meminta uang mereka dibayar dan ia tidak menghasilkan apapun. Uang modal tersisa tinggal Rp.1 jutaan dikantung Pepew.

Rasa malu barulah berasa ketika dia gagal. Rasanya ketika mau menutup usaha tersebut sudah tidak ada muka. Optimisme dulu tersisa rasa malu kepada teman sekuliahan. Terpaksa dia harus menutup toko dia banggakan dulu. Pepew jatuh sakit dan frustasi karena omongan Randy "salah".

Ia segera menemui Randy. Seolah ingin mengatakan semua dia katakan salah. Dengan entengnya nih sang motibator menjawab,"terjunlah kamu tanpa berbekal parasut". Randy mencoba menyemangatinya. Tetapi sakit hati tidak dipungkiri karena kini dia berhutang puluhan juta.

Ucapan Randy belum mengena langsung. Ia cuma tau Randy "menjerumuskan" dia menjadi pengusaha. Dia cuma mikir bagaimana membayar hutang titik. Dia kembali membuka usaha yogurt tetapi bermodal uang sejuta. Usaha dijalankan lebih bekerja keras dan ngotot karena hutang menumpuk- numpuk.

Dia merasa diterjunkan tanpa parasut. Ketika sudah jatuh tidak ada sama sekali penolong. Pepew cuma bisa merenungi nasib. Dia merasa dibodoh- bodohkan. Ke kampus terasa berat bagi Pepew melanjutkan. Tagihan tetap mengalir butuh mental superman menghadapi.

Kesimpulannya: Hutang adalah tanggung jawab harus dibayar. Ia membuka usaha yogurt bermodal meja kecil di depan rumah pinggir jalan. Tidak ada karyawan seperti ketika ia membuka toko di Jl. Trunojoyo. Ia membuka toko tersebut mulai Agustus 2010 tapi dua bulan bangkrut.

Niat membayar utang berbuah manis. Niat baiknya terbayar dengan usaha makin laris. Berjualan nekat ia mendapatkan untung lumayan. Omzet Rp.10 juta bermodal meja ukuran 1x1 meter. Semangat Pepew naik lagi dan tidak malu. Dia menjalankan usaha kembali dan mencicil utangnya sedikit- demi sedikit.

Usaha yogurt pinggir jalannya sukses. Langsung dia membuka toko di kampusnya sendiri. Kemudian dia sudah membuka warung bukan cuma meja kecil. Dia bisa bernafas lega serta ringan pergi ke kampus. Dia sukses membayar hutang semuanya dalam enam bulan.

Jadilah toko tersebut sebuah kedai Jalan Cihaurgeulis no.4 Bandung. Dua gerai masing- masing Jakarta dan Bandung. Untuk kedepan dia berharap mampu membuka bisnis bar yogurt. Brand Amleera mulai naik daun berkat kerja keras Pepew. Dia sadar kita lah sendiri bukan orang lain yang menaikan semangat.

Artikel Terbaru Kami