Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Jumat, 20 Januari 2017

Quote Terbaik Yasa Singgih Pengusaha Muda

Quote Terbaik Pengusaha Muda 



Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Suhaedah 




Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.

Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.

Bisnis keluarga


Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.

Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.

Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.

Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.

Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.

Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.

Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.

Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.

Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.

Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.

Kamis, 19 Januari 2017

Ditipu Tiga Ratus Juta Kisah Holycow by Chef Afit

Profil Pengusaha Lucy Wiryono dan Afit Dwi Purwanto 



Sungguh tidak mudah mengikhlaskan suami jadi pengusaha. Apalagi ketika suami sudah memiliki kerjaan mapan. Awalnya Lucy Wiryono menolak ide suami tentang berwirausaha. Kan kalau jadi pengusaha punya resiko besar. Orang tidak pernah tau apakah usaha akan sukses atau tidak.

Hasilnya kan juga tidak besar tetap setiap bulan. Faktor- faktor lainnya, contoh faktor teknis seperti SDM berkualitas, bisa menyeret orang ke jurang kebangkrutan. Disisi lain, pengeluaran bulanan akan selalu ada sama besarnya, bahkan bisa- bisa malahan naik.

Kemudian sang suami, Afit Dwi Purwanto, seorang chef pada acara khusus di stasiun RCTI. Nyeletuk gini di depan Lucy: Kalau menjadi pegawai yang ngerasain aku, kamu, anak kita, keluarga... dan paling sudah dibafi zakat. Jika Afit membuka usaha sendiri bisa membantu banyak orang, kan?

Bayangkan kamu mempunyai pegawai, digaji kamu, kemudian menikah menafkahi istri, anak, terus sampai jenjang setinggi mungkin. Lewat usaha sendiri,  berkat kamu, pegawai kamu itu nanti bisa mencukupi gizi, menyekolahkan, dan banak lagi. Jadi bisa lebih membantu dibanding jadi pegawai meski banyak tunjangan.

Bisnis sendiri


Chef Afit akhirnya memutuskan berhenti dari RCTI. Lucy tengah berjudi akan nasib keluarga mereka di tangan nasib. Bersama mereka kemudian membahas mau bisnis apa. Keduanya ternyata memiliki satu hal sama. Mereka ingin membuka tempat makan steak bagus, tetapi itu loh, butuh banyak uang dikorbankan.

Kesimpulan mereka ingin membuka warung. Konsep gila mereka: Membuka warung steak wagyu murah yang berkaki lima. Usaha mereka jualan di pinggir jalan. Istilahnya nebeng, dan waktu itu keduanya buka usaha di depan toko kaca film untuk mobil, tanah jualan mereka tentu bukan milik mereka sendiri.

Bisnis dijalankan Maret 2010 silam, dikerjakan enam orang tidak termasuk Lucy, tentu saja yang jadi juru masaknya Afit. Menurut blog pribadi Lucy Wiryono, ia cuma bisa melihat saja karena tugas lebih penting, yakni menjaga anak mereka.

Hari pertama buka pengunjung lumayan. Afit dan lima orang rekannya lumayan kerepotan. Tidak punya pengalaman melayani orang, apalagi sebanyak itu. Sempet merasa takut kalau salah melayani. Waktu asik melayani pengunjung, eh masalah datang, tiba- tiba hujan besar menyeruduk kanopi sampai bocor, becek.

Beruntung pengunjung tidak kabur. Pengunjung memilih bertahan bersama mereka. Orang berpikir kalau mau makan enak harus di restoran. Inilah tantangan coba mereka patahkan. Terbukti pengunjung merasakan betah meski hujan mengguyur panjang. Kebersihan sangat diperhatikan mereka agar pengunjung merasa nyaman.

Bermodal uang bersama senilai Rp.70 juta di Bali. Mereka tengah mencoba membuktikan bahwa bisnis wagyu murah bisa. Hasrat ingin bekerja untuk diri sendiri mengemuka. Alasan itulah kenapa bisnis mereka penuh kehati- hatian serta perhitungan cermat. "...bukan keren- kerenan," ujar Lucy.

Bisnis murah


Murah tetapi tidak jual murahan. Konsep yang dibawa Afit dan Lucy, membawa usaha bernama Holycow ini beruntung. Dulu cuma menumpang jualan di pinggir jalan. Kini, Holycow sudah memiliki tempatnya sendiri -tanah milik mereka sendiri.

Tuga pengusaha adalah membangun kepercayaan. Gimana sih agar wagyu murah diyakini memiliki kualitas tidak kalah. Mereka mengambil daging stik asal Jepang, untuk meyakinkan masyarakat, mereka datang ke Jepang sendiri. Melihat lewat mata sendiri peternakan sapi, dari perawatan sampai sembelih, semua halal.

Kenapa daging wagyu yang dikenal mahal itu jadi miring. Ternyata rahasianya yaitu penentuan margin untung Holycow. Mereka lebih memilih meningkatkan jumlah penjualan. Dibanding mengambil margin untung besaar. Sama- sama daging Jepang berkualitas tetapi harganya jadi lebih miring deh.

Banyak orang belum tau wagyu. Jika orang lain menjual daging wagyu antara Rp.200- 500 ribu. Maka di Holycom dijualan bisa sampai Rp.90 ribu. Lucy memang sempat berpikir amatir. Sebelum bisnis bidang daging sapi. Dia sempat berpikir harga mahal karena faktor distribusi dan perawatannya.

Tetapi ternyata harga mahal justru karena profit diambil pengusaha. Gampangnya orang jualan di mall- mall sama di jalanan beda. Ada harus bayar AC lah, karyawan lebih mahal lah, sedangkan Holycow ini jualannya di jalan. Hitungan umum pengusaha profitnya 70% dibanding modalnya cuma 30% -nya.

Kalau Holycow membalik prinsip tersebut: Jadi profit 30% dibanding belanja modal 70%. Mangakanya mereka getol berpromosi guna menutupi margin. Pemikiran bahwa semua orang suka daging. Menjadi landasan bisnis Holycow bertahan diterpa cobaan.

Salah satunya orang berpikir daging mereka bermasalah. Mulai berpikir daging reject lah. Daginya bekas lah. Pokoknya prasangka bermunculan jika kalian menggunakan prinsip Holycow. Sukses mereka juga terletak kepada kesabaran mengedukasi pasar bahwa kita berkualitas sama -dibanding yang lebih mahal.

Memilih berpisah


Sejak lama Afit menginginkan usaha sendiri. Tetapi menjadi pengusaha bukan perjalanan semalam. Butuh waktu waktu hingga Chef Afit berada di posisi sekarang. Sudah mendapatkan tentangan dari istri, Afit juga mendapatkan tentangan dari orang tua, terutama ayah yang ingin Afit jadi profesional di bidangnya.

Gaji tetap menjadi alasan kebanyakan orang. "Dari kuliah, saya selalu ingin independen. Tidak mau jadi buruh orang lain" ujarnya kepada situs Marketeers.com.

Sejak kuliah Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Afit sudah mulai menjual aneka kaos sablonan. Bisnis ini bahkan sempat dibapakai seorang VJ MTV. Sayang, Afit tidak pandai mengantur uang, terbawa arus kehidupan remaja berfoya- foya. Singkat bisnis Afit runtuh karena gagal mengelola keuangan usaha.

Selepas menikah dengan Lucy Wiryono, beberapa bisnis sudah dimulai, sebalum mantab berbisnis steak wagyu. Bisnis Afit meliputi bisnis keripik dan bisnis trading company. Kegagalan dilalui kedua pasangan tersebut. Bahkan nih, tahun 2004, ia sempat tertipu sampai Rp.300 juta.

Dua pelajaran kamu bisa dapatkan: Jangan fokus hanya mencari untung lebih cepat. Dan, harus paham akan seluk beluk bisnis ditekuni.

Puncak masalah justru datang ketika dia menjalankan Holycow. Yakni ketika rekan bisnis mereka memilih pisah karena berbeda visi. Alasan klise ini sempat membuat Holycow goyah pada 2012 silam. Tepatnya di Mei 2012, kedua belah pihak memilih mengambil jalan sendiri, membesarkan Holycow masing- masing.

Perpecahan memang berat tetapi jangan bersatu malah saling curiga. Menjadi catatan menarik ketika mereka berpisah lewat notaris. Mereka membawa mediator bersertifikat membagi saham. Aneka biaya dikeluarkan mulai biaya penalti, disusul tutupnya gerai Holycow di Singapura.

Hutang suplier akhirnya menumpuk di pihak Afit. Meskipun sama- sama memakai nama Holycow, nama dibawa Afit berbeda. Bagaimana membedakan Holycow Afit atau bukan. Untuk menarik pelanggan yang sampat hilang. Aift membuka sayembara logo buat bisnis Holycow milik mereka sendiri.

Lahirlah nama Holycow Steakhouse by Chef Afit, pada Oktober 2012. Dia tau betul bahwa orang sudah tau kalau Holycow pecah kongsi. Cuma orang belum tau Holycow yang mana besutan Chef Afit. Yang mana kah Holycow menghadirkan masakan otentik sang Chef.

Unik memang, bisnis mereka dioperasi, dan memilih wajah baru berdasarkan keinginan pelanggan. Cara brand awareness cocok buat kamu yang pisah bisnis. Membuat konsumen sadar bahwa brand mereka baru tetapi tetap memiliki kualitas sama.

Kedua belah pihak sama di mata hukum berhak memakai Holycow. Hal terbaik dilakukan ialah lewat menegaskan brand mereka. Nama by Chef Afit semisal, memberikan ketegasan bahwa inilah Holycow yang bercita rasa awal, racikan tangan Chef Afit.

Perpecahan memberikan dampak kepada keuangan juga. Memulai bisnis tinggal separuh aset, sementara dia sendiri dalam ketidak pastian, ditambah harus menanggung 28 karyawan yang memutuskan ikut Afit. Dua gerai tersisa di tanganya, maka dia memberikan dua sift pendek dan ekstra libur kepada karyawan.

Isitilahnya mereka kelebihan pegawai, ketika bisnis mereka memulai ulang bermodal dua gerai. Hingga seorang Angel Investor memberika uluran tangan. Afit membuka gerai ketiga dibuka di Kelapa Gading. Dimana tujuan menampung tenaga kerja, serta meningkatkan produktifitas.

Dua sisi mata koin terjadi ketika Holycow berpisah. Terutama soal kemajuan bisnis. Singkatnya ketika Holycow satu berbuat ulah. Maka Holycow lainnya dapat terkena dampak. Begitu juga sebaliknya, jika Holycow Afit sukses berprestasi, Holycow satunya juga ikutan mendapatkan kredit.

Senin, 16 Januari 2017

Pengusaha Hijab Paling Terkenal Malaysia Selebriti

Profil Pengusaha Noor Neelofa Mohd 




Baginya setiap ada kesempatan merupakan anugrah. Salah satunya, menjadi artis tenar asal Negeri Jiran, Malaysia, wanita kelahiran 10 Februari 1989 tengah diasikan bisnis hijab. Dulu, sebelum berhijab sudah berbisnis aneka macam. Noor Neelofa Mohd menunjukan gabungan antara karir dan bisnis keseharian.

Bukan sekedar artis tetapi ratu kencatikan Malaysia. Lihat lah jutaan penggemar mengikuti dia di sosmed, follower Twitter capai 1,4 juta, dan 2,2 juta pengikut Facebook. Ketika dia mengenakan hijab maka para penggemar akan segera memburu hijab dikenakan.

Dalam tempo setahun bisnis hijab Lofa, begitu dia akrab disapa, mampu menembus angka triliunan. Satu hijab dihargai $24 atau pendapatan $11,5 juta. Bisnis Lofa tidak cuma soal busana muslim. Aksesoris besuta perusahaan miliknya juga digandrungi wanita non- muslim.

Kemampuan dia melihat pasar tidak kebetulan. Pengalaman aneka bisnis sudah dijalani sambi berakting. Ia sudah punya banyak cabang, reseller juga tersebar menyebar ke penjuru Malaysia. Total reseller capai 700 orang mendongkrak penjualan online Neelofa Hijab.

Dia dibantu sang adik, Noor Nabila, sebagai Direktur NH Prima Internasional, dibalik layar Neelofa Hijab melalang buana. Sudah ada distributor di Brunei Darussalam, London, Australia, dan Amerika Serikat, ia sudah jajaki. "Kami terkejut dan kaget," ujar Noor, respon pasar yang tidak disangka- sangka.

Pengusaha terus



Banyak usaha pernah dijalankan Lofa sambil barakting. Masalah datang juga di usaha dijalankan. Banyak orang mendengar dia dilaporkan ke Utusan Malaysia, karena soal bisnis. Usaha pertama ialah jualan aneka sepatu berhak tinggi. Berawal kesukaan sang selebiriti membeli sepatu aneka warna berhak tinggi.

Dia dikenal pandai belajar. Tetapi juga hobi pengoleksi sepatu. Bahkan katanya nih, dia terobsesi, bahkan sampai selemari loh. Kemudian dia mulai mendalami bisnis pembuatan sepatu berhak tinggi sendiri.

Meskipun digelari jutawan hijab, Lofa hanya tersenyum manis, yang terpenting usaha dijalankan tidak lah melanggar hukum. "Alhamdulillah, apa yang saya telah capai merupakan puncak titik keringat saya dan keluarga," ujarnya.

Pasar bisnis Lofa menembus negara tetangga Asia Tenggara. Menjadi fenomen tersendiri berkat dorongan banyak pihak. "...tidak ada hal yang mustahil dalam hidup jika tidak berputus asa," dia menambah. Nama bisnisnya berkat seorang anak muda asal Johor, menjadi distributor awal bisnis hijab.

Ada kesenengan mendengar kesuksesan reseller ataupun distributor produknya. Menjadikan dia lebih lagi bersemangat membuat produk terbaru. Tidak lagi terhanyut akan duni gemerlap selebiriti. Fokus dia kini hanyalah mengembangkan perusahaan dibawah brandnya.

Walaupun tidak seramai dulu berakting. Dia masih menganggap seni merupakan rumah. Karena sudah lagi berhijab banyak batasa dia lakukan. Termasuk lebih selektif memilih peran. Tidak lagi banyak tampil di layar kaca berakting, kini, kesibukan Lofa adalah menjadi pebawa acara nomor satu Malaysia.

Termasuk sosok yang peduli akan pendidikan. Lofa dikenal mempunya nilai tinggi dalam ujian nasional. Dia juga rela terbang ke New York buat sekedar kuliah singkat. Ke New York, dia banyak belajar tentang kewirausahaan, dia memang lebih ingin bicara tentang bisnis dibanding hal lain.

Dia mengantungi gelar sarjana ilmu perdagangan internasional, Sunway University Collage, yang mana mau lebih berjaya dibanyak hal. Untuk bisnis dia berharap mampu mengimbangi selera fasion pasar. "Saya akan bersifat lebih berani," unggahnya.

Aneka Tas Ekspor Eropa Rico Yudhiasmoro

Profil Pengusaha Rico Yudhiasmoro 



Menjadi pengusaha muda merupakan pelajaran. Bahkan tidak tertulis detail dalam buku bisnis manapun. Kisah dari setiap pengusaha berbeda- beda. Satu pengusaha mengandalkan bekal pendidikan. Tidak jarang berjalan menjadikan kewirausahaan pendidikan itu sendiri.

Butuh kerendahan hati untuk selalu belajar. Juga butuh rasa tidak puas karena belajar sepanjang jalan. Ini kewirausahaan tidak semudah membalikan telapak tangan. Rico Yudhiasmoro, lulusan jurusan ekonomi dan advertising, Universitas Gajah Mada, memilih membuka usaha tas dibanding bekerja di perusahaan.

Ia nekat membuka usaha tas bermodal otodidak. Semua desain karangan Rico merupakan ide original. Dia lantas bertemu seorang pengrajin. Sosok dia membantu Rico tumbuh kembang. Dari seorang mahasiswa lulusan ekonomi menjadi desainer tas berkualitas ekspor.

Awal Juni 1997, seorang pengrajin bergabung dengannya, ialah pengrajin asal Kota Yogyakarta yang dia ketahui sumber bahan dan kerajinan kulit. Soal desain dia belajar banyak belajar sama si pengrajin. Dia hanyalah pemula ketika memulai bisnis. Semua barang dipelajari betul- betul oleh Rico layaknya kuliah.

Mulai pembuatan tas, dompet, sarung tangan, sampai jaket kulit. Berlanjut usaha mereka merambah bahan non- kulit. Menjadi pengusaha muda merupakan belajar di tempat. Apapun pesanan pembeli disetujui saja olehnya.

Bisnis besar


Bertahun bersama sang pengrajin mengundurkan diri. Perbedaan visi menjadi alasan keduanya pecah. Rico merasa bahwa sang pengrajin juga kurang soal kualitas. Padahal disadari betul pembeli mulai banyak, jadi kualitas harus diperhatikan agar tidak kalah bersaing -sesuai prinsip ekonomi dan advertising dia pelajari.

Usaha produk aneka kulit Rico natural. Bahan baku hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak memakai cat supaya terkesan natural. Kulitnya ramah lingkungan atau istilahnya vegetable tanned. Soal modal tidak ada masalah karena prinsipnya kepercayaan.

Kredibilitas bahwa dia berkomitmen akan produknya. Soal uang akan mengucur sendiri, baik uang sendiri ataupun pinjaman bank. Atau terkadang berupa kucuran bahan baku. Orang akan datang rela menginvestasi ke bisnis Rico. Tunjukan prestasi dulu, kredibilitas, maka yang menawarkan modal tidak akan kecewa.

Lebih mudah soal uang dibanding teknis. Ambil contoh Rico bisa meminta pinjaman keluarga. Ketika dia diberi pinjaman maka tanggung jawab. Susah justru datang dari kebutuhan sumber daya manusia. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus membuat tas disini.

Pelatihan harus diberikan oleh Rico sendiri. Pelatihan khusus spesifik untuk pekerjaan tertentu. Ada yang diajarkan mengelem, menjahit. Setiap orang diberikan keahlian khusus. Mereka tidak mengerjakan semua dari awal sampai akhir. Awalan dia memiliki lima orang karyawan bekerja di garasi rumah orang tuanya.

Kalau sekarang sih, sudah ada 100 orang karyawan, dan usaha M Joint bergeser ke belakang rumah supaya menampung banyak karyawan. Usaha mereka fokus membuat tas dan dompet kulit. Alasan karena barang tersebut tetap ada sejak dahulu kala. Kualitas dia ingatkan merupakan urusan nomor satu pengusaha muda.

Bisnis terbang ke Eropa


Kualitas baik maka barang akan dicari oleh pembeli. Konsumen akan sendirinya mencari- cari. Contoh ringan ya kalau berbisnis kuliner: Makanan enak kalau tempat terpencil tetap laku. Orang akan datang ke pelosok buat menikmati kuliner.

Produk Rico dipasarkan utama lewat mulut ke mulut. Usaha lainnya, lewat aneka pameran, tujuan Rico ialah membangun relasi bisnis. Usaha pameran menghasilkan pembeli bahkan dari luar. Pameran yang dia rasa paling berkesan, ialah pameran di Frankfurt, Jerman, lewat Badan Pengembangan Ekspor pada 2007.

Promosi dianggap penting gak penting. Pokoknya harus meningkatkan kualitas produk kita. "...kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri," ujarnya.

Produksi Rico mencapai 2500- 3000 buah setiap bulan. Jumlah produksi ditentukan kesulitan desain dia miliki. Makin rumit semakin sedikit diproduksi. Jumlah produksi tas mencapai 90 persen. Sisanya dia fokus mengerjakan aneka dompet. Tahun 1998, produknya sudah masuk Jepang, meskipun tidak banyak.

Pengiriman ke Jepang tidak berlangsung panjang. Alasan karena produk M Joint kalah bersaing dengan produk China. Sekarang pasar eskpor dialihkan ke Eropa, dimana besaran 80%, sementara ke Australia 15% dan sisanya dalam negeri. Produk Rico mengisi etalase 450 toko, dijual lewat mereka setempat.

Pasar lokal Rico hanya menyasar pameran atau di rumah. Jadi kalau kamu mau tasnya harus ke rumah Rico sendiri. Kalau sekarang dia ingin mempertahakan penjualan di duna negara itu. Pernah dapat pesanan besar dia syukuri. Dengan cara kerja lembur semalaman buat memenuhi pesanan produksi dua negara.

Oleh karena penjualan lebih ke luar negeri. Dimana produknya dimereki orang lain. Rico mengaku masih kesulitan mengembangkan brand sendiri. Ia tengah mempersiapkan paten atas mereka sendiri. Sementara itu pasaran Indonesia mulai bergeliat minta dipenuhi. Omzet sendiri tidak bersedia beberakan detailnya ke Kompas.com

Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.

Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.

Biografi Medina Zein Pengusaha Klinik Kecantikan Miliaran

Biografi Singkat Pengusaha Medina Zein 



Siapa nama panjang Medina Zein, ialah Medina Susani Zein, seorang pengusaha muda bisnis hijab. Punya cerita tersendiri dibanding pengusaha lainnya. Di umurnya masih 19 tahun, wanita cantik Kota Kembang, Bandung, sudah dikenal pandai berbisnis. Apakah yang melatar belakangi dia menjadi pengusaha.

Ketika orang tua berharap dia menjadi dokter. Medina justru mau berbisnis kecantikan saja. Orang tua itu sangat berharap anak kedua -dari dua bersaudara- ini menjadi seorang dokter. Pokoknya menjadi dokter tidak yang lainnya. Namun namanya jalan tidak bisa dipungkiri, hingga membawa Medina jadi pengusaha.

Dia tidak bisa menjadi dokter. Medina pilih mengambil jurusan Akademi Kebidanan Stikes Budi Luhur, Bandung, tetapi cukup membuat orang tua senang. Dia mengikuti jejak orang tua yang juga bekerja bidang persalinan tersebut.

Meskipun mereka diarahkan berkuliah. Ia tidak merasa terbebani. Justru dia mengambil sisi wirausaha dari berkuliah di bidang kesehatan. Ketika dia ditawari kuliah kembali, Medina memilih belum. Di hatinya ia menginginkan menjadi pengusaha muda.

Bisnis klinik kecantikan


Ia ingin membuka klinik kecantikan. Ingin sukses berdasarkan minatnya yakni berwirausaha. Ketika lulus kuliah, wanita kelahiran 23 Mei 1992 ini, kemudian mengikuti kursus singkat estetika. Ketika semua di keluarga diarahkan orang tua menjadi profesional di bidang kesehatan, Medina enteng pengen berbeda!

Medina pengen punya klinik kecantikan. Namun orang tua sangat menentang akan keputusan tersebut. "... mereka juga sempet ngambek," paparnya. Rasa ingin membuktikan bahwa dia akan sukses kuat. Disela- sela kuliah dia mengikuti aneka pelatihan di bidang impiannya.

Dia mulai menabung. Ingin membuka usaha sendiri tanpa bantuan orang tua. Diantara kesibukan berkuliah, dia memutuskan menikah muda

Medina menikah umur segitu tinggal di kosan. Suami hanya bekerja jadi pegawai hotel. Maka benar- benar sukar buat menambung. Diantara kesibukan mengikuti aneka pelatihan. Dia juga berjualan kecil- kecilan produk kecantikan. Memang kekurangan sisi finansial bukan alasan kamu berhenti menjadi pengusaha.

Dulu dia kerap gonta- ganti produk kecantikan. Untung keluarga Madina kebanyakan adalah tenaga bidang kesehatan. Termasuk seorang dokter estetika, menawarkan produk skin care buatan sendiri ke Medina. Ia menanggapi dengan senang hati. Hasilnya ternyata cocok tidak meragukan membuat dia betah memakai.

Beberapa waktu teman- teman wanita melihat. Mereka membicarakan kulitnya kinclong. Inilah cikal- bakal dia ingin wirausaha. Dia jualan produk kecantikan milik omnya -yang dokter kecantikan wanita. Dia membagi antara uang saku, ditabung buat bisnis, begitu terus sambil mengikuti kuliah dan pelatihan.

Selanjutnya dia mencoba jualan lewat online shop. Hasilnya lumayan dan diseriusi sambil berkuliah. Dia mengumpulkan Rp.50 juta, dan pada 2015 membuka klinik sendiri. Awal dia kerja dibantu empat orang karyawan, dimana dia merangkap jadi pegawai beautician.

Rencana bisnis dimatangkan


Tidak mudah memang apalagi dia juga ibu rumah tangga. Awal dia masih jualan aneka produk dari omnya. Dia mulai bergriliya. Termasuk mencoba dapat endorse seleb- Intagram. Cara lainnya, dia menjaring para pelanggan menjadi distributor atau reseller. Memakai brand sendiri Lazata Skincare usahanya terus maju bertahap.

Eh, ternyata, permintaan malah membludak, awal tahun 2015 menjadi puncak bagi usahanya. Disinilah dia mulai mencari jalan menciptakan sendiri. Dia bertemu seorang dokter kecantikan. Dia diajari membuat produk sendiri. Dia juga mengajak kerjama sama dokter kecantikan dan apoteker.

Jadilah sebuah pabrik dimana dalam sebulan menghasilkan 10 ribu. Jika awalnya berjualan lewat online, kini, orang datang sendiri membeli atau mau menjualkan. Kalau dulu dia mengantarkan sendiri jika ada pesanan. Sekarang memakai jasa antar TIKI atau JNE, lebih gampang menyebar ke penjuru Indonesia.

Ketika mengantar sendiri, dia sewa motor atau mobil, begitu suami pulang langsung diantar- antarkan saja. "Dalam usaha itu harus berani ambil resiko," Medina mengingatkan. Alasan kenapa harus mahal- mahal buka klinik dulu di 2012. Ternyata sebagai pendongkrak kepercayaan orang akan kualitas produknya kini.

Tantangan terbesar bisnis bukan cuma itu. Sebagai ibu rumah tangga memiliki anak menjadi tantangan. Dia nekat meninggalkan anak. Agar anak tidak dekat pembantu maka dititipkan neneknya. Tetapi pemikiran ia balik "kalau jadi ibu rumah tangga saja. aku tidak akan sesukses ini", mangkanya ada pengorbanan dahulu.

Awal usaha dia memakai nama Beauty Lady Care. Hanya kok namanya terlalu umum dipakai usaha sejanis. Dia memutar otak kembali menamai aneka produk kencatikan tersebut. Lama- kelamaan namanya menjadi Lezata -perubahan nama sederhana tersebut berpengaruh besar-, usahanya makin menanjak berkat nama.

Sudah sukses tantangan lainnya: Produk buatannya banyak ditiru. Produk baru bahkan ditiru, tidak jarang memakai atas namanya. Banyak konsumen terjebak memakai produk tiruan. Inovasi apapun ditiru oleh mereka plagiat. Untuk mengatasi plagiat dia serius meningkatkan kualitas tidak cuma pada merek seja.

Ditipu juga menjadi tantangan. Tetapi sudah dianggap makanan utama pengusaha. Di awal membangun kerajaan bisnisnya, Medina mengaku pernah ditipu pembeli. Puluhan juta lenyap diikhlaskan olehnya. Sempat dikirimi bukti transfer uang palsu belum seketat jualan sekarang.

Pernah ditipu sampai Rp.10 juta oleh pelanggan. Padahal dia memegang uang sendiri tidak dititipkan ke karyawan. Bisnis Medina terus meningkat sampai menyentuh miliaran. Gelar hijaber miliarder juga dia dapatkan. Namanya sudah disejajarkan pengusaha muda dibidang fashion hijab -seperti Dian Pelangi dsb.

Manfaat membuka klinik dan ganti nama begitu berasa. Apalagi ditambah dia gencar mencari endorse dari Instagram. Awal jualan harga produknya kisaran Rp.100 ribuan, omzet awal Rp.20 juta, dari 3- 4 paket yang berisi sekitar 20 varian produk. Varian meliputi skin care, krim malam, face wash, krim pagi, sun block.

Sekolah kebidanan mendukung juga. Seolah orang langsung percaya padahal kan kulit dan kebidanan dua hal berbeda. Untuk menambah kepercayaan diri, dia juga mengikuti aneka pelatihan cepat. Om Medina juga ikutan menjadi tenaga medis dia. Awal saja sudah bisa menabung Rp.6 bulan setiap bulan, hebat kan?

Inspirasi wanita muda


Bisnis miliknya semakin tinggi, bisa nabung Rp.10 juta, dari omzet Rp.30 juta setiap bulan. Tabungan itu kemudian diputar dijadikan klinik baru. Fokus bisnis Medina memang tidak cuma bisnis online. Total ada 3 klinik tersebar di Bandung. Rencana akan buka cabang di Jakarta sampai Bekasi tahun selanjutnya.

Medina juga punya pabrik sendiri di Bekasi. Produk varian sudah sampai 150 macam. Tidak cuma bisnis kencatika, Medina merambah bisnis lain- lain. Lewat perusahaan bernama PT. Medina Global Travelindo, mendirikan butim hijab Medinazein Beautiqeu.

Meski awalnya sempat tidak setuju. Orang tua Medina -terutama sang ibu-, ikut memberikan semangat dia berkarir. Bisnis merupakan karir bagi Medina Zein. Suami Medina juga ikut membantu sejak awal. Dia sekarang bertuga mengembangkan bisnis travel dan butik. Lewat berbisnis mereka berkomunikasi saling kompak.

Sudah ada ratusan reseller dan 14 distributor besar. Tidak cuma Indonesia juga merambah negara lain. Ada kisah dibalik biro travel miliknya. Alasan utama ternyata adalah kemudahan administrasi. Bukan cuma buat orang lain umroh atau haji tetapi juga buat diri sendiri.

Kedepan ingin mengumrohkan seluruh karyawan. Total sekarang sudah ada 150 orang karyawan. Gampang sudah dia mengumrohkan karyawan. Tiap enam bulan sekali ada dua karyawan ke Tanah Suci. Pokoknya semua karyawan akan dapat jatah. Selain buat omroh juga menjadi brand ambassador juga loh ternyata.

Bisa buat mengirim orang pemotretan brand. Bisa membawa nama brand sendiri buat dikenalkan ke orang banyak. Tidak cuma bisnis travel, ataupun bisnis fasion, ingin rasanya membuka usaha bidang pendidikan. Tapi bukan sekolah umum tetapi sekolah gratis.

Tidak jauh- jauh cukup seperti Playground, TK, atau SD. Dia merasa tidak tega melihat banyak anak tidak sekolah, pas jamannya tinggal di rumah ibu, di Ciwidey dulu.

Jika dirunuk kebelakang banyak perkembangan dia lakukan. Meskipun tanpa ilmu manajemen khusus, ia membuktikan mampu berbisnis.

Dari sekedar pakai dokter umum, sekarang bisnis Medina mempekerjakan dokter SpKK. Perizinan semua lengkap sudah dilengkapi sejak awal. Memang susah membuat perijinan membuka klinik. Bikin ijin klinik satu buat enam bulan saja. Setiap cabang dibuka sudah pakai perijinan, IMB, semuanya dilengkapi dulu.

Ketika beberapa orang menyinggung dia tidak berpendidikan dokter. Senyum simpul mengembang. Dia memang ingin berkuliah kembali tetapi jurusan manajemen bisnis. Memang orang tua, terutama kakek itu keras kepala karena keluarga kebanyakan bekerja di bidang kesehatan -utamanya menjadi dokter apapun.

Dulu ada rasa kesal ketika dia berkuliah. Tetapi justru jurusan kesehatan membuka peluang usaha. Ia kini mensyukuri saran keluarga. Sudah ada tawaran sebuah Universitas asal Bandung buat kuliah kedokteran. Tapi dia masih asik berbisnis utamanya mengembangkan jaring- jaring bisnis ke bidang lain.

Sempat berpikir nanti kalau kuliah bisnis keteteran. Jadi dia memilih mengembangkan bisnis dulu. Soal dokter, perusahaan sudah mempunya tim kedokteran solid. Si adik kan kuliah kedokteran mungkin bisa menjadi bagian dari bisnis Medina. Manajeman bisnis dianggap penting buat dia dibanding kedokteran.

Belajar pengalaman semua keuangan tercatat. Keluar masuk sudah ada catatan sendiri. Perusahaan juga ia perkuat keluarga sendiri. Tantangan yang masih menjengkelkan adalah pemalsuan. Kesal, pastilah kesal, tapi dia meyakinkan diri akan terus meningkatkan kualitas agar konsumen yakin terus mempercayakan.

Kesibukan lain sekarang dia juga seorang motivator. Utama bagi pengusaha muda, terutama mereka para wanita yang mau berbisnis. Aktifitas tersebut sangat dinikmati Medina Zein. Soal public speaking dia lebih senang orang lain ngomong dulu, kemudian terpancing hingga bercerita lengkap tentang pengalaman.

Sabtu, 14 Januari 2017

Notaris Sambilan Pengusaha Sarung Tangan Musim Dingin

Profil Pengusaha Wing Mahareny 




Seorang notaris yang mendadak menjadi pengusaha. Apalagi dia menjadi pengusaha garmen. Uniknya ya karena dia sama sekali tidak bisa menjahit. Kesempatan itulah Wing Mahareny Yudiati lihat ketika melihat bisnis sarung tangan. Walaupun tidak bisa menjahit, dia tetap "paksakan" menjadi pengusaha dengan segala suka- duka.

Tugasnya menyuplai buat kebutuhan perusahaan lain. Dia membuat lalu dilabeli sendiri orang lain.  Dimana ada perusahaan asal Korea, batal investasi di Indonesia. Perusahaan Korea batal membangun pabrik di Magelang. Tetapi sudah terlanjur melatih 150 tenaga kerja lokal.

Semua karena Gunung Merapi meletus di 2010. Padahal mesin juga sudah berdatangan siap pakai. Disisi lain, bisnis Wing lumayan, menyetok tiga perusahaan melebeli produksi Wing sendiri. Ketika dia ditawari  kerja sama sang pengusaha asal Korea. Tinggal menyiapkan tempat buat berproduksi dan ia sanggupi itu.

Bisnis peruntungan


Bukan perkara mudah menciptakan sarung tangan. Awal bisnis usahanya gagal menembus pasar luar, juga tidak cocok di lokal. Usaha sempat mati suri tetapi tetap bertekat. Sempat berhenti produksi ketika rekan bisnis mereka berhenti berproduksi -mungkin perusahaan asal Korea tersebut ya.

Karena alasan keamanan ketika Gunung Merapi meletus. Untung kejadian bencana tidak berlangsung lama. Alhasil Wing kembali mencoba peruntungan bisnis sarung tangan. Perusahaan asal Korea tersebut juga membuka peluang berproduksi sendiri lebih banyak.

Dipikir mencoba sesuatu lebih baik. Ia mengambil alih 75 orang pekerja siap pakai -hampir semuanya perempuan. Laki- lakinya kecil jumlahnya, termasuk orang kepercayaanya, pimpinan perusahaan dibawah Wing langsung sebagai tangan kanan. Perusahaan berjalan lebih cepat, tetapi kok tidak semudah itu jualan.

Di Magelang sendiri, wanita muda lulusan SMP- SMA, lebih senang bekerja menjadi pelayan toko atau pembantu rumah tangga. Tempat kerja Wing sendiri memiliki tekanan tersendiri. Dimana ia menerapkan tempat kerja tenang, tanpa gangguan ponsel di jam tertentu, pokoknya tidak boleh mengobrol tapi kerja.

Inilah yang membuat karyawan Wing susah. Mereka merasa kurang nyaman karena ada tekanan. Terutama jika ada pesanan besar membutuhkan target waktu. Mereka belum terbiasa. Apalagi ditambah soal tempat tinggal yang jauh dari tempat produksi. Butuh waktu naik angkot, lebih banyak uang habis buat ongkos.

Ujung- ujungnya beberapa pegawai mengompori. Mereka mengajak teman buat keluar perusahaan. Ini jadi beban produksi karena butuh orang baru. Kemudian masalah pegawai lain dari orang dekat Wing yang ikut dipekerjakan. Karena merasa dekat secara pribadi, kebanyakan bermuka tetapi kerja nol.

Masalah lain umur pegawai, ya, karena pegawai kebanyakan perempuan umuran 15- 18 tahun. Kan kalau sudah saatnya ada cuti nikah, cuti hamil, kalau sudah begitu susah dipaksa bekerja lagi. Mangkanya dia banyak bongkar pasang pegawai. Susah mempekerjakan pegawai dari nol lagi, tetapi mau bagaimana lagi.

Sukses belajar mengenai manajemen otodidak. Ia menerapkan pegawai hanya bekerja satu pekerjaan. Jadi yang mengerjakan pola satu tugas, tidak dari semua pola sampai jadi dikerjakan pegawai. Pokoknya satu orang mempunya satu kerjaan yang harus diselesaikan. Ada khusus memotong, menjahit luar, variasi dan sebagainya.

Kacau, padahal belum balik modal, padahal dia beru merenovasi bangunan biar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Korea tersebut. Sampai sempat putus asa menyerah akan keadaan. Dua tahun awal bisnis itu dianggap paling emosional. Alhasil berefek hubungan dengan karyawan, manajemen, dan hasil produksi.

Setelah bongkar- pasang pegawai, akhirnya, Wing mendapatkan tim solid bekerja bersama. Ujungnya ya ia mampu memproduksi lebih banyak sarung tangan cantik. Ia menerapkan quality control ketat. Wing cari pegawai dari desa- desa, mereka perempuan yang tidak memiliki pekerjaan tetap, mereka dididik jahit.

Prinsipnya mereka mau kerja diberi pelatihan. Bahkan ia rela mengirimkan mesin jahit ke desa. Mulai lah sistem tersebut berkembang. Dimana perempuan desa dilatih, kemudian desanya dijadikan Wing tempat produksi, ada dua yaitu di Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Grabag di Kabupaten Magelang.

"...dan satu lagi tempat produksi di rumah saya," tuturnya.

Kenapa memecah pusat produksi, ternyata ada alasan tertentu, lantaran bagaimana membuat mereka bisa bekerja dekat rumah. Urusan emosi memang wanita lebih rentan. Untuk kendali Wing sudah memiliki sosok tangan kanan.Tidak ada kerja sistem kontrak, mau kerja ya kerja, kalau keluar sudah punya skill.

Bisnis harus kuat


Kenapa bisnis garmen selalu menggunakan perempuan. Dasarnya perempuan telaten, sabar, dan persaaan halus, tentu terbawa ke produk mereka ciptakan. Kalau dikerjakan tangan kasar nanti lekas rusak. Ibarat dia karakter seseorang terlihat dari sentuhan di mesin jahit.

Oleh karenanya, pegawai tidak boleh pindah mesin jahit, satu mesin hanya diperuntukan khusus buat si pemegang sejak awal.

Pasar Wing adalah perusahaan di Korea, mereka bisa meminta label dipasang disini. Lalu perusahaan itu akan ekspor ke Eropa, atau negara bermusim empat lain. Katanya sih dijual di mal- mal besar karena dia memang buat sarung tangan musim dingin.

Si perusahaan Kore akan menjual ke berbagai perusahaan besar, seperti ada Adidas, Nike, dan Sanrio yang punya hak cipta Pororo. Adapula perusahaan alat olah raga lain, Eagle, menawarkan kerja sama langsung buat konsep sarung tangan. Wing becerita konsep sangat bagus, tetapi lebih rumit bila nanti dikerjakan.

Untuk sekarang ini, Wing merasa sangat beresiko, daripada nanti terlalu banyak reject. "...lebih baik saya tolak." Ada 10 jenis sarung tangan dan dikerjakan bertema permusim. Produksi juga mengikuti musimnya, contoh dikerjakan bulan Januari, maka dikerjakan 2- 3 bulan sebelumnya agar sesuai musim dinginnya.

Setiap sarung tangan memiliki perbedaan, baik bahan, material, dan kebutuhan pasar. Apalagi sekarang dia tidak lagi cuma memproduksi sarung tangan musim dingin umum. Kan ada sarung tangan golf, ski, atau aktifitas lainnya, yang tentu bahan berbeda, ada lycra, parasut, dan sebagainya.

Mesin jahit juga disesuaikan bahan. Jika tidak, ketika pergantian kain, satu jenis mesin jahit malah bikin mesin macet, jahitan benang ruwet, lompat- lompat, dan sebagainya. Mangkanya mesin jahit harus beda juga termasuk soal jarum. Pokoknya satu mesin jahit hanya dikerjakan oleh satu pegawai ahlinya saja.

Setiap bulan dia memproduksi lebih dari 5000 pasang. Pesanan tergantung musimnya, contoh lebih detail, sarung tangan golf pada bulan Januari- April, kemudian bulan Mei- Juli ada pesanan dari perusahaan sepatu boot asal Finlandia. Harga jualnya misal sarung tangan anak Pororo harganya mencapai Rp.400 ribu.

Perusahaan sendiri memang tidak menarget produksi besar. Pasalnya melihat pengalaman lebih baik kecil tetapi tetap dan bagus kualitasnya. Sesuaikan dengan jumlah karyawan 60 orang dan 75 mesin jahit, kira- kira bisa berproduksi 5- 6 ribuan lah.

Ternyata sepanjang perjalanan tidak semulus kelihatan. Kerja sama dengan perusahaan Korea sudah tidak lagi. Lantaran makin ke sini, pengiriman bahan makin berkurang dan terlambat, eh ternyata perusahaan itu sudah punya cabang lagi di Yogyakarta. Memotong uang sebagian tidak sesuai kontrak pertama mereka.

Sempat memegang 2- 3 pesanan dari perusahaan berbeda. Kini dia lebih nyaman fokus satu perusahaan rekanan. Untung dia menemukan perusahaan yang sesuai, jadi mereka kerja sama sudah empat tahun jalan, keduanya juga fokus membuka usaha bersama di Yogyakarta.

Wing sendiri ketika ditanya mau gak bikin merek sendiri. Kepada Tabloid Nova, dia memang ingin sekali menjual langsung ke pembeli. Dia juga melihat bagaimana beberapa pegawai masih dibawah UMR. Dia ingin sekali menjual tanpa perantara. Mungkin dengan meningkatkan kualitas produksi dan menjajal pasar lokal.

Memang kalau dijual buat lokal susah. Apalagi bahan baku impor, termasuk bulu dombanya, mangkanya tidak salah jika harga jual dikisaran Rp.400 ribuan. Oleh karena itu, untuk pasar lokal, Wing tengah hitung- hitungan biar produknya bisa diminati siapa saja. Yang jelas menurut Wing sumber daya manusia utama!

Selain menjadi pengusaha, ternyata Wing masih kerja menjadi notaris sejak 2005, dan juga pernah jadi anggota DPRD. Kegiatan lain menjadi semacam pelestari manian tradisional lewat sebuah komunitas di Magelang. Mengurus pegawai sudah jadi biasa, dulu, dia pernah bekerja di Salim Group pada 1991 -an.

Kamis, 12 Januari 2017

Jualan Sarung Pas Lebaran Untung Kodian

Artikel Bisnis Pengusaha Tanah Abang 



Bisnis sampingan paling laku di Lebaran. Mungkin jawabannya bisnis jualan aneka kue kering. Namun, ternyata ada juga bisnis lain, yakni jualan sarung. Contoh sukses gampang kok. Mereka yang berjualan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Salah satunya pengusaha kecil bernama Upi, berbisnis dua bulan sebelum Ramadhan. Kalau bulan puasa ramai, lebaran tuh lebih ramai. Puncaknya ketika lebaran telah usai. Jualannya gampang musiman cuma 2 bulan sebelum Ramadhan cukup.

Meski musiman omzet kok mencapai Rp.300 jutaan. Selama tiga bulan periode tersebut sudah sangat lah cukup. Jualan Upi beragam merek dari biasa sampai terkenal. Penjualan perkodi menguntungkan karena per- kodi dibandrol Rp.900.000/kodi, dan sarung paling mahal per- kodi sampai Rp.2 jutaan.

Sabunan Gak Pakai Air Pengusaha Muda Afrika

Profil Pengusaha Ludwick Marsishane


  
Ketika dia masih duduk di bangkus SMP. Merasakan susahnya hidup di Benua Afrika. Ludwick Marsishane berpikir kenapa sih mandi butuh air. Padahal kita tau Afrika dikenal daerah tandus kekurangan air. Maka ia kemudian kuliah jurusan Ilmu Science di University of Cape Town.

Untung dia bertemu rekan bisnis baik, Lungelo Gumede, dan ketika bisnis mereka mulai berjalan. Mampu menggaet tenaga profesional, seperti Dr. Hennie du Plessis -ahli teknik kimia dan merupakan pimpinan formulasi industri- sebagai ujung tombak. Temuan mereka simple kok tetapi membantu banyak orang.

Awal ingin menciptakan lotion buat tubuh. Itu digunakan sebagai pengganti air mandi dan sabun. Tetapi dia berasumsi sudah ada. Hingga Lud mulai meneliti sendiri apakah ada. "Produk seperti ini tidak ada di luar sana," ia paparkan. Dia lantas belajar dari bahan lition, krim, atau pembersih tangan, agar bisa buat tubuh.

Bagaimana mereka diciptakan. Bagaimana menemukan sesuatu tenpa harus menggunakan air. Bahkan dia sudah merancang tabel formula sendiri. Berlembar kertas berisi teori serta table formula, tetapi apalah daya, Lud tidak memiliki sumber daya. Sayang sekali.

Ide awal


Ide awal memang bagaimana menciptakan mandi tanpa air. Namun, ternyata dibalik ide, ada celetukan dari seorang kawan yang malas mandi. Ketika suatu hari dia dan teman hendak jalan ke pantai. Dengan santai si teman berkata, "adakah seseorang menemukan sesuatu buat badan tetapi tidak perlu mandi."

Inilah ide awal, lampu penerangan terpancar, sebuah "oh" faktor yang dikaitkan dengan populasi Afrika dan dunia yang mana 2,5 juta orangnya tidak punya akses air. Tanpa ada arahan dia langsung membuka banyak hal. Dari halaman Wikipedia dan pencarian Google menjadi rujukan Ludwick agar tercipta sesuatu.

Dia tinggal di pinggiran Kota Limpopo, dimana sumber daya terbatas. Di tempat yang begitu jelek, yah di Afrika, banyak orang sakit karena bakteri kulit bahkan dalam air tenang. Bayangkan jarang air, adapun air bisa membunuh mu.

Bakteri tersebut, melalui kulit meresap ke sistem pencernaan kamu, menyebabkan diare, atau sekedar ada di mata kamu -membuat trachoma, infeksi mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Kalau buat tempat yang sudah bersih penemuan Ludwick bisa digunakan sebagai pembersih tubuh aman, dengan atau tanpa air.

Inilah kelahiran bisnis bernama DryBath. Sebelum memasuki perkuliahan, sudah siap- siap dipatenkan, ia menciptakan formulanya sendiri. Dan akhirnya menjadikan dia orang termuda pemegang paten di Afrika. Masalah baru datang karena dia belum bisa memproduksi masal.

Formula sudah ada dua tahun sebelumnya, nah kalau masalah bisnis baru dikerjakan ketika dia masuk ke Universitas. Selepas sekolah menengah, dia dapat beasiswa nih, ke UCT dimana menjadi sumber daya dia menyempurnakan konsep awal. Hingga dia mengikuti lomba kewirausahaan sehingga uangnya jadi modal usaha.

"Itu tidak berhasil seperti saya pikirkan awal," ia melanjutkan.

Dia sudah pengalaman membuat paten -dulu tentang rokok sehat. Kini, dia ingin mengembangkan apa yang dia kembangkan dulu. Memang membuat tubuh wangi dari produk awalnya, namun meninggalkan jejak- jejak kering seperti layaknya ketombe, ketika gel yang digunakan kering.

Ketika itu dia mulai berpikir butuh tenaga ahli. Disinilah peran Dr. Hennie de Plessis ada, seorang teknisi yang sudah berpengalaman di bidang industri perawatan tubuh, hingga memperbaiki formula menjadi sempurna.

Atas sumbangsih dia, maka Lud memberikan saham kepada dia, menjadikan dia salah satu eksekutif di perusahaan bernama DryBath. Kenapa dia mau membantu? Karena Ludwick memiliki passion kuat. Dan mampu menujukan kerja nyata kepada Dr. Hennie.

Dukungan datang karena dia tidak ingin ide hilang. Tidak mau gagal mematenkan, mangkanya rela sekali memberikan data dia pernah kumpulkan. Dr. Hennie kemudian menyempurnakan. Dibantu pengacara yang juga melihat kegigihan dia. Jadilah Ludwick, umur 17 tahun, sudah memiliki paten sendiri buat produk itu.

"Tidak masalah jika Anda Apple, Google atau remaja yang mencoba untuk membuat bisnis T-shirt di perkampungan. Setiap bisnis adalah semangat. Orang tidak benar-benar menyadari bahwa kita semua pergi melalui hari di mana kita benar-benar sadar proses paket produk datang ke rumah, di malam hari, dengan pacar kita, dll ... Jadikan ini sebuah semangat (karena entrepreneurship adalah kerja keras)."

Tahun 2011, Lud menjadi salah satu finalis lomba kewirausahaan, Anzisha Prize. Dimana dia menjadi salah satu entrepreneur muda diantara 15 tahun sampai 22 tahun. Penghargaan seluruh Afrika yang bisa mengangkat namanya sebagai pengusaha di kancah Internasional.

Pengembangan produk


"Ketika kami menciptakan DryBath pada dasarnya kita hanya ingin menciptakan produk pengganti mandi yang sederhana dan tidak membutuhkan air sama sekali ...," jelas Lud, yang baru- baru ini disebut 30 orang muda dibawah 30 tahun yang merubah dunia, oleh Time.

"Jadi pertama kita harus belajar kebersihan dan apa artinya menjadi bersih," ia menambahkan. Awal pikir dia bersih berarti tidak bau. Yah kalau tidak bau berarti bersih bagi kebanyakan orang. Inilah indikator yang dia capai pertama kali.

Bagi orang kulit hitam mandi berhubungan dengan status sosial. Jika orang kulit hitam mandi air panas maka status ekonominya naik. Namun di Afrika kebanyakan mandi menjadi sukar, bukan tidak mau mandi, tetapi masalah sanitasi, kelistrikan, terutama Afrika Selatan membuat mandi bukan masalah utama.

Dari bisnis DryBath, kemudian menjelma menjadi industri kebersihan, Headboy Industries. Nama dari Ludwick menjadi sosok utama dalam perkembangan aneka bisnis. Utamanya menjadi pemain di industri yang pasarnya Afrika dan Asia pelosok.

Sayangnya perusahaan kesukaraan menciptakan produk berharga ekonomis. Tantangan utama pengusaha muda dalam berbisnis. Untuk masalah terget utama mereka mungkin belum terpenuhi. Tetapi mereka masih bisa menghasilkan uang untuk aktifiktas outdoor buat pasaran Eropa sampai Amerika.

Mulai dari camping, traveling, dan festival, maka DryBath adalah solusi, jadi 90% keuntungan perusahaan justru dari target di luar pasar mereka sebenarnya.

Pengalaman akan tinggal di komunitas yang kumuh. Tud membuat konsep paket pakai sendiri, dibanding membuat buat paket besar. Ia berpikir di Afrika, orang beli rokok sebatang, tidak sepak padahal kalau dirunut harga lebih mahal. DryBath dijual 50 cents untuk negara berkembang, dan $1,50 untuk hotel atau pesawat.

Harapan besar seorang pengusaha kepada bisnisnya. Tud berharap ekonomi membaik hingga menurunkan biaya produksi. DryBath belum dijual secara bebas. Tetapi dia tidak pungkiri akan menyebarkan produk itu ke penjuru dunia.

Senin, 09 Januari 2017

Masa Lalu Kelam Pengusaha Bakso Hitam

Profil Pengusaha Sigit Prihanto 


 
Jadi pengusaha apa batasnya. Hanya langit, jelas Ibu Risma, Walikota Surabaya dalam suatu kesempatan. Ia mendorong siapa saja jadi pengusaha. Menjadi pengusaha tidak boleh minder. Seperti sosok Sigi Prihanto salah satu pengusaha percontohan Surabaya, yang masa lalunya dianggap hitam di mata masyarakat. 

Mantan pemakai narkoba memilih membuka usaha bakso hitam. Aneka usaha bakso pernah dijajaki Sigit hingga ke Malaysia. Penggagas bakso Cokjudes (Coklat Keju Pedas), pernah membuat bakso berbahan daging kijang di Malaysia.

Warga Kembang Kramat II, Surabaya, meskipun dikenal hitam tetapi tidak minder. Ingin jualan yang halal, seperti bakso berwarna hitam, sehitam masa lalunya. Berawal terjebak di Sulawesi 1998, sudah tinggal luntang- lantung, dan sudah 10 tahun meninggalkan keluarga tanpa masa depan.

Ujung- ujungnya, Sigit cuma bisa meminjam uang tetapi bukan buat makan. Dia mengolah uang tersebut jadi usaha menjanjikan. Usaha pertama dijalankan pria 37 tahun ini adalah martabak.

Bisnis terus


Dalam perjalanan dia juga belajar membuat bakso. Keisengan belajar dari seorang teman lantas jadi ladang bisnis. Peruntungan dijajaki ketika ada kesempatan tinggal di Malaysia. Di sana Sigit kembali membuka usaha bakso. Tetapi bukan daging sapi malah memilih bakso daging kijang.

Tahun 2008 dia jualan bakso daging kijang. Pasalnya harga daging kijang lebih murah dibanding sapi. Lalu dia meninggalkan Malaysia. Ketidak puasaan membawa dia kembali ke Surabaya. Sigit kembali berjualan bakso. Daya tarik bakso seolah melekat dalam benak Sigit Prihanto.

Tahun 2010 dia sudah membuka usaha lagi. Selain bersyukur terbebas jerat narkoba. Dia bersyukur berkat usaha bakso bisa kembali ke Surabaya. Kerinduan akan orang tua membawa rejeki tambahan. Bisnis bakso buatan Sigit dimodifikasi ulang mengikuti jejak hitam masa lalunya.

Hidup kelam Sigit dimulai dari pergaulan di jalanan. Diracuni teman hingga memakai narkoba. Tapi juga bukan berarti kita tidak boleh berkawan. Sigit menuturkan memang dia salah karena terjerak buju rayu gratisan. Sejak SD memang Sigit dikenal sudah hidup keras bekerja sendiri.

Sejak SD dia "dipaksa" bekerja keras. "Saya sudah bosan sejak kecil menderita," paparnya. Namun masuk ke dunia narkoba hanya kebahagiaan semu. Dia membantu orang tua jualan es batu, sampai berkeliling buat jualan koran. Di jalan dia bertemu teman yang salah hingga terjebak jeratan narkoba.

Beberapa kali nyawa hampir terenggut. Agar terhindar jeratan narkoba, Sigit memilih cabut pergi ke luar pulau, yakni Sulawesi. Ke Palu tanpa memberi kabar apapun selama 10 tahunan. Sigit bekerja buat sebuah LSM untuk menjaga hutan lindung. Kala itu, tahun 1998, kemudian meminjam uang Rp.5 juta buat usaha.

Bisnis hitam


Mulanya dia membuka usaha martabak. Kemudian membuka usaha bakso setelah di jalaann lama. Belajar dari pengalaman Sigit menjadi lebih memilih dalam pergaulan. Berkenalan dengan sesama pedagang kaki lima dan tergabung dalam komunitas pedagang kaki lima di Sulawesi.

Berlanjut dia pindah ke Malaysia jualan bakso daging kijang. Untung lumayan bisa dibawa pulang kampung membuka usaha sendiri di Surabaya. Dia cuma pakai gerobak bakso biasa. Jualan bakso berkonsep coklat, keju, pedas. Di Surabaya dia ketemu teman lama sekolah, namanya Erika, yang seorang petugas Linmas.

Beruntung dia tidak ditankap. Memang Walikota Surabaya tengah gencar menanamkan kewirausahaan. Ia merangkul pedagang kaki lima lewat bazar Pahlawan Ekonomi, saat itu ada di Kecamatan Sawahan, tahun 2015 silam. Sigit dipilih lantaran cita rasa bakso buatannya beda, semua berkat inovasi tidak monoton.

Di acara tersebut Sigit bertemu Timothy Lee, pendiri desain gravis Keavi, ditantang buat membuat bakso berwarna beda. Kan lagi musim tuh makanan aneka warna mencolok. Entah dapat ide dari mana Sigi lalu membuat bakso pentol hitam.

Caranya dengan teknik pengasapan lewat berbahan aktif charcoal -atau arang bamb Jepang. Si Charcoal sendiri memiliki efek positif bagi kesehatan. Itu akan merangsang pencernaan lebih sehat. Mampu buat menetralisir racun dari pencernaan. Untuk racikan bakso hitam hanya memakai mie putih, touge, dan sawi.

Tidak pakai pangsit siomay atau gorengan. Memang khusus buat pentol hitam saja. Penggunaan coklat dan keju digunakan sebagai pengganti kecap dan saus. Nah, kalau bakso hitam, khusus dibuat dari tangan dia sendiri. Ia tidak mau menyerahkan ke istri karena nanti rasanya akan beda.

Kebanyakan pelanggan sudah tidak pakai kecap atau saus. Bakso hitam sendiri susah buat dibikin. Teknik khusus dibutuhkan untuk membuat warna hitam serta pembulatan. Bisnis bakso menghasilkan untung lumayan.

Bisa sampai Rp.200 ribu per- hari keuntungan dikantungi pengusah satu ini. Kalau bakso hitam beda, dia mampu mengantungi Rp.400 ribu per- hari. Jualannya di Kampus Unesa Lidah Kulon. Di sana dia sudah bisa jualan aman karena punya SIUP, jadi tidak usah takut diusir petugas keamanan.

Tidak mau berhenti cuma jualan bakso. Sigit membuka cakrawala lewat bisnis online. Jualan bakso online dia rambah. Pelanggan datang sudah dari Kota Batu sampai Salatiga. Dalam satu kota mengirimi 40 pack bakso aneka rasa -termasuk bakso hitam.

Minggu, 08 Januari 2017

Pria Ganteng Pengusaha Muda Babe Bakery

Profil Pengusaha Tonny Rusli




Setiap pengusaha punya kisahnya sendiri. Situs pengusaha kami, kali ini, akan bercerita tentang pengusaha muda ganteng. Yang awalnya asisten direktur, memilih mengundurkan diri, hanya untuk membangun bisnis bakery kecil- kecilan. 

Pria bernama Tonny Rusli meskipun pesaing bisnis tepung terigu bermunculan. Tonny mengaku tidak akan gentar. Dia katanya asisten direktur sebuah lembaga pendidikan. Tempat kursus Bahasa Inggris selama 7 tahun. Ia nekat membuka jualan roti saja. Semua karena ibu yang sakit kangker butuh makanan sehat.

Tonny ingin buatkan roti sehat buat sang ibu -dan kemudian menjadi bisnis serius.

"Mama saya suka roti," jelas Tonny. Penyakit kanker payudara memang butuh perhatian serius. Mangkanya roti tanpa bahan pengawet butuh.

Usaha bernama Babe Bakery memang menjual aneka roti sehat. Memang tidak disangka justru tanpa ada "bumbu" tambahan. Justru menarik perhatian masyarakat luas. Alumni Universitas Tarumanegara tersebut memang memperhatikan kesehatan, layaknya kita adalah mamah dia sendiri.

Inilah kelebihan dari Babe Bakery. "Modal hanya sangat kecil, kami hanya membeli peralatan sederhana saja seperti oven, mixer, dan proofer," jelas dia. Tonny tidak sendirian menggarap bisnis. Ia mengajak dua adik ikutan bergabung.

Ia berani menyewa kios kecil. Selama tiga bulan mereka menyadari tempat tidak strategis. Dalam kurun waktu empat bulan mulai berkembang. Tonny tidak salah memindahkan tempat usahanya. Bisnis berslogan roti lembut,enak, sehat, dan tanpa pengawat, pelanggan pertama mereka adalah teman sekantor Tonny.

Bukan sekedar jualan roti


Empat bulan berjalan bisnis Tonny naik daun. Cepat, begitulah orang akan bilang ketika bisnis tersebut bis tumbuh. Dari satu gerai menjadi empat gerai berbeda. Gerai pertama dibuka di Puri Kembangan, lalu ia membuka satu lagi dulu di Jalan Wolter Mongsindi, Bandar Lampung, dan seterusnya sampai empat buah.

Tiga toko pertama sudah memiliki 30 karyawan. Untuk yang ke empat baru tahap pembangunan. Cuma ada 3 cabang sudah menghasilkan omzet Rp.270 juta. Rencana ke depan mau buka sampai ke Jakarta dan juga daerah lainnya.

Ingin rasanya membuat semua orang menikmati roti sehat mereka. Visi dan misi bisnis pengusaha muda berkacamata ini, adalah bagaiman merangkul mitra menyebarkan roti sehat tanpa pengawet. Banyak sudah inovasi rasa dan bentuk dia kembangkan. Kunci sukses meyakinkan pelanggan kualitas roti akan terjamin.

Memang banyak pengusaha roti di luar sana. Namun dia tidak merasa lemah karena pasar ketat. Justru ia lebih bersemangat menunjukan perbedaan. Bukan soal rasa enak ditawarkan tetapi mengedukasi pasar. Dia mau mengajarkan tentang roti sehat.

"...ketika tidak laku, kami akan tarik, setiap pagi selalu ada roti fresh," ia menambahkan.

Bagaimana agar orang tertarik. Ya melalui membagikan taster gratis di tempat- tempat ramai, seperti hal di sekolah, rumah ibadah, sampai ke bank. Inovasi dilakukan sejalan Tonny suka makanan enak. Hobi dia berburu makanan diaplikasikan: Seperti roti crunchy ovomaltine, smoke beef blanket, dan Mexico salted caramel.

Tips sukses pengusaha muda: Jangalah takut memiliki mimpi memulai usaha. Jangan takut memulai jika kamu belum tau akan berhasil atau tidak. Sukses bukan instan tetapi berani berinovasi. Contohnya adalah dia berani membagikan taster gratis yang mungkin merugikan keuangan usaha.

Mendirikan Usaha Seorang Diri Tanpa Bantuan

Profil Pengusaha Iwan Suprianto 



Meskipun mabel bambu cuma bertahan lima tahun. Bisnis Iwan Suprianto tetap mengemari. Ia ingin mengembangkan agar lebih efekti. Karena, di sisi lain, dari pohon bambu sendiri lebih gampang tumbuh kembang. Sukses Iwan bermodalkan kesederhanaan dalam desain yang minimalis. 

Harga murah namun dapat dijadikan aneka benda bermanfaat. Iwan mengolah tanaman menjulang tersebut. Aneka benda kerajinan dapat tercipta. Aneka furnitur unik klasik dapat dibentuk. Memang butuh ketekunan ekstra karena tidak gampang. 

Kerja keras Iwan sudah dimulai sejak tahun 1991 -an. Empat tahun bekerja di perusahaan mabel menjadi bekal. Iwan mantab membuka usaha mebel sendiri. Bermodal 150 ribu di saku, dia mulai membuat mabel bambu sederhana. Caranya mengumpulkan bambu gelonggong dirakit menjadi satu. 

Namun cara sederhana tersebut tidak tahan lama. Jualan mulai laku. Sementara serbuan mabel asing terus masuk. Agar bertahan kala itu, Iwan harus berinovasi dari segi desain dan ketahanan. Iwan mengklaim dia mampu membuat furnitur bambu awet selama 10 tahun hingga 15 tahun.

Usaha miliknya berkembang. Tahun 2000 Iwan menamai usahanya menjadi DK Milenium. Bisnis yang sudah berbadan tersebut mulai digalakkan. Nama Milenium diambil bertepatan akan isu unik. Tahun baru yang disebut tahun milenium -menyongsong tahun 2000 -an, dan meninggalkan dekade 1000 -an.

Iwan tidak mempekerjakan siapapun. Tanpa bantuan mendirikan usaha. Lewat tangan kreatif, bambu yang terkesan tua, sudah menjelma menjadi furnitur modern. Unsur klasik masih terasa tetapi dari segi desain sudah beda. Sudah tidak ketinggalan jaman karena Iwan sadar kelemahan bambu.

Masih menonjolkan kesan etnik. Ia sekarang mempekerjakan delapan orang karyawan. Menjual dua jenis bambu, yaitu bambu standar dan kualitas tinggi. Iwan juga merangkul perajin bambu lainnya. Usaha tidak dijalankan seorang diri lagi. Harga dipatok Rp.2,5 juta- 4 jutaan, yang mana produk kualitas tinggi.

Untuk biasa dihargai antara Rp.1- 2 jutaan. Dan bisnis dikembangkan Iwan beromzet Rp.25 juta per- bulan. Setiap bulan paling tidak menjual 5 buah set- furnitur bambu. Pemesan terbanyak datang dari Pekalongan, lainnya ya standar saja atau musiman.

Mengembangkan bisnis dia mengikuti aneka pameran. Target Iwan memasuki pasar Kota Jakarta. Dia juga membuka showroom sendiri di bilangan Matraman. Meskipun sudah ada showroom tetap tidak puas. Ia memang pengusaha sejati tidak mudah puas. Ingin sekali rasanya mampu mengirim sampai pasar ekspor.

Kesulitan meningkatkan kualitas produk masih dirasa. Masih butuh peralatan modern menunjang usaha ia tengah jalankan. Pokoknya dia terus berusaha agar maju. Apalagi tujuan tengah dia capai ialah menjual ke pasar ekspor -sampai ke luar negeri lah. "Mudah- mudahan dalam waktu dekat bisa ekspor," paparnya.

Jumat, 06 Januari 2017

Sulam Usus Bisnis Mewariskan Budaya Lampung

Profil Pengusaha Siti Rahayu 



Hidup sebagai ibu tunggal membuat Siti Rahayu sempat goyang. Lantaran suami yang dicintainya, Andi Supandi, meninggal kan dia bersama anak- anak. Sebelum suami meninggal, Rahayu memang sudah gemar membuat kerajinan tangan. Lewat Rahayu Gallery Lampung mencoba mempopulerkan hobi uniknya.

Awal dia membuat aneka sulam tapis. Kemudian ibu empat orang anak ini melihat potensi sulam usus. Kan Lampung dikenal akan teknik sulamnya. Apalagi nama sulam usus tidak setenar teknik lain. Melalui usaha sulam usus dia mencoba mengisi kekosongan ketika sang suami pergi -untuk selama- lamanya.

Bisnis sulam


Tuntutan ekonomi makin berat, ketika 1997, sang suami meninggal. Tahun berikutnya yakni 98' terjadi krisis moneter. Nah waktu menjalankan bisnis sulam usus. Rahayu tengan merintis tepat ketika krisis itu tengah bergejolak panas. Beruntung bisnis sulam usus dijalankan tidak goyah. 

"Itu masa berat bagi tante," ujar pensiunan Pegawai Neger Sipil itu.

Meskipun sedih bercamput getir tetap berusaha. Kecintaan akan teknik sulam membangkitkan semangat. Ia semakin semangat ketika orang lain terdampak. Didukung nama besar sang kakak, Aan Ibrahim, yang dikenal sebagai desainer terkenal mencoba memasukan bisnis sulam usus.

Bertahap dia mulai membangun bisnis. Dibantu banyak ibu- ibu dan anak muda asal Lampung. Sulam usus menjadi usaha bersama. Ia seolah memberikan harapan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan karena di PHK.

Wanita kelahiran Pagardewa, 10 Oktober 1957, juga merupakan anak seorang master jahit. Jadilah dia dan Aan Ibrahim klop kompak bisnis fasion. Keluarga mereka dikenal sebagai pesulam usus kenamaan asal Lampung. Namun dia baru benar berbisnis ketika kebutuhan menghimpit keluarga kecilnya.

Kakak Rahayu memiliki prespektif diluar keahlian Rahayu. Dia selalu menganggap sulam usus lebih punya potensi lewat fasion modern. Jadilah keduanya berkolaborasi bersama. Bisnis sulam usus menelan biaya Rp.20 juta tetapi omzetnya mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Sulam usus tidak selalu monoton berkesan mahal. Bisa dijadikan akesoris lewat sarung bantal, tapak meja, alas piring atau biasanya yang mahal dijadikan kebaya. Pengunjung datang ke galerinya sekarang, paling tidak merogoh kocek 500 ribu sampai puluhan juta.

Macam motif seperti ukel- ukel, sulur, dedaunan, harga juga bervariasi. Mangkanya bisnis sulam usus bisa dibilang sama seksinya dengan tenun atau batik. Karena proses pembuatan yang sulit, pantas kalau harga bisa sangat mahal, apalagi kalau media sulam besar bukan sekedar taplak.

Bisnis berlanjut


Proses pembuatan terkadang Rahayu akali. Kalau- kalau dia membuat bahan kombinansi harga bisa sampai Rp.700 ribuan. Sulam berarti dikerjakan sangat detail, ia mengatakan tidak boleh emosional terburu- buru. Haruslah cermat agar sulaman rapih membentuk motif menarik.

Sukses Rahayu menurutnya karena pelanggan setia. Mereka tidak bisa meninggalkan sulam usus miliknya. Kualitas tinggi memang diandalkan Rahayu, tidak ada pilihan lain. Banyak pejabat dan sosialita memilih menjadi pelanggan Rahayu. Kain diubah bahkan menjadi gaun penganting menawan buat dipamerkan.

Untuk pelanggan setia cukup pesan lewat telephon sudah. Aneka kerajinan lain meliputi bed cover, hiasan dinding, juga sarung tapis. Yang paling mahal adalah pembuatan gaun pengantin. Terbuat dari kain kebaya senilai Rp.2 juta sampai Rp.8 jutaan, yang diatasnya ditaburi batu swarowski.

"Ada rupa, ada harga," jelas Rahayu.

Penjualan juga sudah merebak sampai ke pasar- pesar sekitar. Juga sudah masuk ke pasar Malaysia- Singapura juga loh.

Menggunakan prinsip binaan bisnis Rahayu berjalan. Dia berharap para wanita terinspirasi melestarikan budaya sulam Lampung. Pengen setiap ibu muda putus sekolah, remaja putri, bukan sekedar duduk- duduk tanpa melakukan kegiatan bermanfaat di rumah.

Untuk bahan dia beli dari Jakarta karena lebih murah. Sulam usus dibuat dari pilinan kain satin, dirangkai dengan jaring berbentuk jaring- jaring. Kemudian dihiasi payet- payet nan- indah memanjakan mata. Ia mengatakan pembuatan bisa sampai dua hari sampai dua minggu.

Kamis, 05 Januari 2017

Pengusaha Dulunya Sangat Miskin Merantau di Lampung

Profil Pengusaha- Pengusaha dari Nol 


 
Sukses tidak harus ke Jakarta. Banyak orang tertipu oleh gemerlap ibu kota. Sementara di Jakarta orang datang hidup susah tetap susah. Di sini, daerah Lampung semisal, orang datang jika mampu bertahan hidup susah maka akan sukses. Apalagi mereka mengikuti program pemerintah transmigrasi.

Berikut kisah orang sukses tanpa bantuan. Mereka datang ke Lampung sebagai pendatang. Tanpa modal ataupun tanpa dukungan pemerintah. Namanya Lulut, Lesung, dan Suratmin, orang Magetan, Jawa Timur, kemudian jadi saudagar Lampung.

Tidak disangka Lulut, pria umur 55 tahun, dulu pernah tiduran di emperan. Sekarang Lulut bergelar Haji karena keuletan, kejujuran, dan kerja keras. Kini, dia memiliki kios di Pasar Terminal Induk Pringsewu, merupakan anak ketiga dari sembilan saudara. Dia memang terlahir dari keluarga sangat tidak mampu.

Nekat merantau


Pemuda asal Desa Karangrejo, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, di tengah ekonomi keluarga super sulit mau melakukan apa. Solusi Lulut tidak lain hanyalah merantau ke kota. Nekat dia berangkat ke Lampung dengan uang minim.

Sejak tiba di Lampung tidak ada saudara ditumpangi. "Tidur di emperan pasar hanya beralaskan kardus," ia melakoni itu mulai 1973- 1976. Sekitar tiga tahun tersebut ia kerja jadi buruh. Bukan buruh sekarang yang gajinya Rp.2 jutaan. Lulut menjadi buruh pengemas sayuran berupah Rp.25 per- karung.

Lelaki yang cuma tamatan SMP tersebut, lantas ketemu Sukati, wanita 55 tahun yang juga hidup sangat miskin seperti Lulut. Keduanya nekat menikah hingga hidup makin sulit. Sukati sendiri juga perantau dari Jawa, menjadi buruh juga di pasar sama. Sukati sendiri biasa tidur di pasar beralas ala kadarnya.

Sesudah menikah hidup mereka makin susah. Tidak cuma menerapkan konsep "Jipe Jinggo", atau baju yang dipakai satu, satu lagi dicuci kering kemudian dipakai lagi dan satunya dicuci. Makan sehari- hari pun juga cuma makan pisang sisir direbus. Mereka cuma bisa bekerja keras serta bertawakal mengumpulkan uang.

Hasilnya mereka punya rumah sendiri sekarang. Mereka punya kios jualan hasil bumi. Omzet dicapai oleh Lulut mencapai Rp.20 juta sehari. Bayangkan sekarang mereka bahkan punya mobil.

Kisah lain diretas pria bernama Lesung Sudarsono. Pria yang kini menginjak umur 55 tahun. Dikenal juga jadi saudagar kaya padahal cuma lulusan SD. Merupakan kelahiran Desa Nguntolonadi, Takeran, Magetan. Yang merantau ke Lampung juga berbekal minimal. Juga pernah dia merasakan dingin tidur di lantai pasar.

Dia bekerja sebagai buruh angkut. Sudah rantau ke Lampung sejak 1980 -an dan enam tahun sudah tidur di pasar. Lesung bekerja bisnis dari Haji Sarkun. Karena cerdik, tekun, jujur, dan kerja keras, Lesung berubah menjadi pedagang hasil bumi di Pasar Pringsewu.

Jualannya sukses, dia sudah punya rumah kos, sarang burung walet, dan sawah sangat luas. Untuk hobi, dia menekuni bela diri, dan mendirikan padepokan silat Persaudaraan Setia Hati Teratai, yang merupakan cabang perguruan silat asal Jawa Timur

Lesung sama halnya Lulut juga menangis. Terharu mengingat perjuangan menggapai keadaan sekarang. Dia pamit merantau kepada ibu. Dalam sungkem dia menangis bersujud meminta restu. Ibu tidak rela kalau ia merantau ke tempat jauh. Tetapi tekat merubah nasib begitu bulat berada dibenak Lesung.

Kemudian ada kisah dari Suratmin, pendatang asal Gorang Goreng, Magetan. Dimana ia sudah merantau sejak  Merantau sejak 1990 bermodal uang Rp.250.000. Uang tersebut digunakan ongkos bus, kemudian sisa baru dijadikan modal usaha, sederhana kok usaha dijalankan Suratmin.

Dia jualan sayur- sayuran, seperi ada bawang merah, kol, cabai, dan kacang- kacangan. Awalan cuma jualan sayuran dengan jumlah sedikit. Jualan sayuran sekedar 10- 20 kilogram. Kalau sekarang ya jualan sudah mencapai puluhan kuintal sehari.

Omzet sampai Rp.30 juta seharian, bahkan Rp.60 juta jika masuk musim Lebaran. Meskipun rindu pulang kampung, dia mengaku tidak akan tinggal di Jawa. Apalagi harus meninggalkan kerjas keras selama ini di Lampung. Walaupun dibayari sejuta sehari tidak mau meninggalkan kerja keras.

Rabu, 04 Januari 2017

Pengusaha Muda Dari Nol Bisnis Batik Kartun

Profil Pengusaha Garina Irmayanti 



Pengusaha muda dari nol tersebut bernama Garina Irmayanti. Umur baru 22 tahun, tetapi sudah memutar uang senilai Rp.100 juta. Rahasia bisnis Garina ternyata adalah batik. Dia mengambil inisiatif dikala naik pamor batik Indonesia. Bukan perkara mudah karena mahasiswa aktif ini akan hadapai banyak pesaing.

Mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, masih aktif kegiatan perkuliahan. Sembari itu dia memiliki pandangan ke depan. Berwirausaha menjadi pilihan. Kalau dulu kan batik terkenal buat pakaian formal. Ia mencoba merasuk lebih dalam. Dari sekedar pakaian keseharian lebih dalam lewat aneka motif berbeda.

Garina pun tidak sekedar membatik. Ia berlatih menjadi pembatik tulis sejak Juli 2010 silam. Aneka kaos batik memang sedang populer. Ia ingin mengambil langkah beda. Batik Garina menampilkan aneka batik tulis bermotif kartun, animasi, dimana ditabrak motif bunga dan binatang pada batik tradisional.

Bisnis Garina dimulai lewat menjadi reseller. Kalau dulu, dia menjual kembali aneka tas batok kelapa, kalau sekarang memproduksi sendiri. Bisnis ditekuni gadis berjilbab tersebut memang tidak jauh dari kesan etnik. Garina,  gadis manis berjilbab, menciptakan sendiri batiknya lewat belajar sendiri.

Jualan aneka souvenir dan tas batok kelapa. Uang didapat dijadikan modal usaha. Kurang, Garina memilih meminjam ke ayah Rp.3 juta. Tentu agar bisa membayar hutang tersebut. Garina lebih giat belajar batik dan mulai bekerja karena itu amanah!

Awal usaha pasti kesusahan. Ponta- panting Garina mencoba memasarkan produk. Kesulitan membacar apa kesukaan konsumen. Membuat batik bikinan Garina tidak sempurna. Lewat blog, dia mencoba buat langsung memamerkan desain, dari sana lah, ia menemukan cita rasa kegemaran pembeli dari desainnya.

Disisi penjualan memang dirasakan sulit. Namun dia bisa melewati hal tersebut seiring waktu. Hanya saja, masalah kembali tiba justru ketika usahanya mulai naik. Permintaan akan barang dagangan tidak diimbangi oleh jumlah pegawai. Susah mencari tim kerja yang sepandangan tentang bisnis batik tengah ia geluti.

Ada kesusahan sendiri ketika membatik di atas kaos polos. Proses tidak mudah. Diawali gambar desain lewat pensil. Dititik pakai malam kemudian barulah diwarnai. Harga jual berdasarkan ukuran yakni kaos anak Rp.85 ribu, dan kaos dewasa dihargai Rp.130 ribuan, tutup gadis kelahiran 20 Juni 1990 ini.

Selasa, 03 Januari 2017

Emping Melinjo Sehat Bebas Penyakit Bantul

Profil Pengusaha Sukses Sukati 



Ibu bernama Sukati kemudian menceritakan kisah suksesnya. Orang bilang sukses tidak perlu mahal. Inilah sukses Sukati, seorang pengusaha emping melinjo, berkat usaha sederhana mampu mensekolahkan anak sampai lulus sarjana. Diawali rasa prihatin atas melimpah ruah biji melinjo di kampung halaman.

Warga Dusun Tegalkenongo, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, yang merasa kok banyak ya melinjo berceceran. Tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hanya jualnya rendah sekali. Kesempatan buat Sukati membuat perubahan pada bisnis melinjo lokal.

Dia kan asi Wonogiri, Jawa Tengah, nah di tempat asalnya, buah melinjo diubah menjadi emping. Buah si melinjo dijadikan emping dan harganya jauh lebih mahal. Dia hanya mencoba membuat apa yang sudah ada di luar, tetapi tidak di lokal. Usaha dijalankan pada tahun 1980 silam berjalan lancar.

Tahun 80 -an itu, melinjo dihargai Rp.1000 per- kg, dan ketika dia bikin emping harga Rp.3000 per- kg. Laris manis jualan Sukati terutama ketika Lebaran tiba.

Uang Rp.3000 itu banyak jaman dulu. Penjualan cukup sekitar rumah saja. Atau ada pedagang yang datang mengambil buat dijual lagi. Tahun 2000 -an, bahan baku malah naik sampai Rp.60 ribu per- kg. Mangkanya dia tidak cuma membutuhkan dari lokal saja.

Cari sampai keluar Bantul, sampai ke Kulonprogo dan Sleman. Dia sudah punya penjual langganan. Sehari dia memproduksi 500kg permintaan. Bahan baku mencapai lima kilogram setiap kilogram untung sampai Rp.1000. Jika sebulan laku 150kg dikalikan saja Rp.1000, atau hasilnya sampai Rp.150.000.

Ia mengatakan emping melinjo miliknya beda. Karena rendah purin, maka tidak masalah dikonsumsi oleh penderita asam urat hingga darah tinggi. Ia berani kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan sampai bisa menciptakan emping melinjo. Emping melinjo rendah purin dihargai Rp.90 ribu per- kilogram.

Senin, 02 Januari 2017

Gimana Sih Cara Buka Usaha Konveksi Pengusaha Muda

Biografi Pengusaha Fauzi Ishak 



Ide bisnis disekitar kita. Itulah inspirasi sukses seorang Fauzi Ishak. Disinilah kunci sukses si pengusaha muda konveksi. Di Bandung, era 1990 -an, kan banyak siswa suka bikin seragam sendiri. Seragam kelas biar keliatan kompak. Momen inilah yang diambil Fauzi, bagaimana menciptakan kenangan tak terlupakan.

Banyak siswa memesan kaus buat seragam kelas. Nah, darisanalah Fauzi remaja mulai kordinasi, mengajak teman buat bikin kaus kelas. Kebetulan nih keluarga Fauzi memang sudah membuka usaha konveksi kecil. Ia mulai menyasar setiap kali siswa mau membuat seragam kelas.

Fauzi bermodal pesanan ke konveksi kakaknya. Dia mengordinasi kelas, pria kelahiran 7 Maret 1870, dari situ dia dapat uang saku. Lumayan tidak besar sekali. Kadang dapat Rp.50 ribu, atau kalau beruntung bisa dapat Rp.100 ribu. Cukup buat dia jajan dan bersekolah di Bandung lah.

Semangat usaha sendiri


Sejak lulus SMA, semangat Fauzi adalah berwirausaha. Bagaimana berbisnis masih belum berpikir. Hanya saja dia ingin memulai di Kota Jakarta atau Surabaya. Di sana diharapkan menjadi landasan dia berbisnis. Darah muda Fauzi bergelora menaklukan kedua kota besar tersebut.

Pertimbangan kenapa memilih Jakarta. Fauzi punya saudara di sana. Dan disanalah bisnis Fauzi bermula. Ia mengikuti arus bisnis ketika SMA dulu. Ia mengontrak rumah di Mampang Prapatan, Jakart Selatan. Uang Rp.2,8 juta yang diberikan ayah dijadikan modal usaha, Fauzi lantas menyusun strategi bisnis agar sukses.

Uang Rp.800 ribu disisihkan buat kontrak. Agar layak seperti usaha konveksi kecil. Uang tambahan dia rogoh buat biaya renovasi. Sisa uang Rp.1,25 juta buat disimpan. Target besar sudah ditentukan sejak awal. Ayah Fauzi minta tiga bulan harus sudah ada pekerjaan atau pesanan jahitan.

Pria asli Riau ini tidak mau menunggu lama. Tiga pekan pertama sudah ada pesanan. Ada 40 kaus yang ia hargai Rp.40 ribu harus dijahitkan. Pemesan oleh SMA 1 Bekasi. Orderan pertama membuat gairah bisnis dia makin naik. Untuk pembuatan sementara diserahkan ke kakak, di konveksi miliknya di daerah Bandung.

Strategi marketing Fauzi sederhana. Lewat panflet, upaya cukup efektif, usaha milik Fauzi mulai dikenal luas. Pemesanan mulai banyak. Dia mulai bisnis jemput bola. Dia memborong kau dibawa ke Jakarta. Ia mengistilahkan kalau orang Jakarta beli kaus di Bandung, kini, di konveksi miliknya sudah cukup.

Setahun sudah bisnis konveksinya berjalan. Gila dalam setahun bisnis sudah hasilkan mobil. Pertama kali membeli mobil adalah Suzuki Carry -harga cuman Rp.5,8 jutaan saja. Kunci sukses konveksi miliknya? Ia menyebutkan bisnis harus unik. Keunikan Fauzi ialah ketepatan waktu dibanding bisnis sejenis.

Komitmen bahwa pesanan harus selesai tepat waktu. Dari sekedar bikin kaus kelas, usahanya membesar ke arah pemenuhan kebutuhan seragam perusahaan. Keinginan besar memberikan pelayanan cepat tetapi tepat hingga hasilnya memuaskan. Prusahaan besar macam Trakindo, Telkomsel, mau mempercayakan ke dia.

Pria yang pernah menjadi pengurus HIPMI ini. Mengatakan bahkan dia mampu menyelesaikan pesanan seragam dalam sehari. Besok seragam langsung dikirim, jika, pesanan tidak banyak sekali tentunya. Untuk bisnis ini dia sudah memiliki 55 unit mesin jahit. Karyawan sudah ada 70 orang siap tempur buat lembur.

80% pekerjaan Fauzi adalah menggarap pakaian seragam. Memproduksi pebulannya 5 ribu unit, bisa juga sampai 500 ribu unit jika ada event tertentu seperti Pilkada. Omzet mencapai Rp.7- 10 miliar pertahun. Ia mengatakan tempat usahanya sangat ramai.

Sampe nih menjadi tempat tawuran pelajar. Mangkanya dia pernah dipanggil Kapolsek setempat. Sebuah pengalaman menarik: Ketika siswa STM Boedoed dan STM Penerbangan Jakarta sama- sama memesan kaus ke dia. Bentrok tidak bisa dihindari ketika kedua masa bertemu.

Meskipun ke tawuran tetapi tidak sampai rugi benda. Justru dia bersyukur karena nama konveksi miliknya jadi terkenal. Omzet tahunan bisnis BEKaos tidak tetap. Setahun ini bisa mencapai Rp.10 miliar omzet. Tahun depan belum tentu, bisa saja malah turun sampai Rp.4 miliara. "Tergantung orderan," paparnya.

Dibawah naungan bendera bisnis PT. Bandung Prima Kencana, Fauzi sudah punya showroom yang luasnya mencapai 1.000 meter persegi di Condet, Jakart Timur. Brand milinya adalah BEKaos, meski nama bisnis kaos, kenyataanya dia lebih banyak mengerjakan aneka seragam perusahaan.

Memang bisnis konveksi ada naik turun. Dia mengakui hal tersebut. Mangkanya dari 55 mesin, hanya 35 bekerja optimal. Jikapun ada pesanan dadakan ribuan. Dia siap meladeni. Fauzi punya trik khusus jika ada pesanan super- banyak dan minta waktu cepat. Kan dia punya kakak yang juga bisnis konveksi di Bandung.

Tinggal dibagi dua, sebagian dikerjakan dia, dan sebagian lagi dikerjakan sang kakak. Fauzi lantas bercerita pernah menyelesaikan pesanan 50.000 kaus pesanan dari Aceh dalam tempo dua minggu.

Minggu, 01 Januari 2017

Jual Lampu Aroma Terapi Mas Toyo Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Sutoyo 



Mental bisnis Sutoyo jangan diragukan. Warga Dusun Manayu Lor, Desa Tirtonirmolo, ini sudah pernah berbisnis aneka jenis. Mulai berbisnis daur ulang kertas. Jatuh bangun pun sudah dirasakan Sutoyo agar mencapai namanya kesuksesan. Orang bilang kita harus gagal berulang kali hingga menemukan jalan.

Ia pernah tertipu eksportir. Dua kontainer kerajinan tidak dibayar. Tidak berputus asa, dia lakukan semua agar tetap menghasilkan karya. Meskipun usaha dijalankan Sutoyo bermodal sangat minimalis.

Bisnis daur ulang


Menjadi pewirausaha tidak wajib bersekolah tinggi. Wirausaha dijalankan Sutoyo cuma bermodal ijasah setingkat SMA -ijasah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurusan Teknik Mesin. Ayah dua anak yang sejal awal menekuni usaha kreatif. Bermula dari usaha bernama Toy' Production: Flower & Handycraft.

Pada awal dia mendistribusikan aneka kerajinan tangan. Tahun 2005 usahanya bergeser dari sekedar jualan aneka kerajinan. Nama Titoy Production: Terracotta & Handycraft, dia mulai memproduksi aneka ragam kerajinan tangan bikinan sendiri.

Di tahun 2008 dia membuat aneka kerajinan. Sebut saja frame foto berbahan lintingan kertas, frame kaca, wall dekor, aksesoris, dan lainnya. Ia menjelaskan kepada Indotrading News. Awal usaha saja sudah tidak semulus kamu bayangkan.

Ia menjalin kerja sama dengan eksportir. Eh ternyata malah mendapatkan komplain. Tahun 2010, menurut pria yang akrab disapa Mas Toyo, mengatakan mereka menghentikan kerja sama sepihak. Rugi besar tentu diderita pihak Mas Toyo.

Usaha miliknya gulung tikar. Ada 32 orang karyawan dirumahkan. Mereka bahkan tidak dapat pesangon. Ia malu sangat. Harta benda digadaikan, dijual, seperti sebuah gudang, dua unit mobil, dan empat unit motor hilang. Walaupun sudah dijual tetap tidak nutup kerugian menyisakan hutang sampai Rp.100 juta.

Tahun 2011, dia menyadari bahwa sang eksportir hanya ingin memonopoli, ingin menguasai produk karya miliknya. Semena- mena dan akhirnya Toyo tidak lagi membuka kesempatan. Pembayaran juga tidak bisa lancar. Harga ditawarkan ke dia juga jatuhnya terlalu murah.

Terjepit bukan kembali berbisnis sama. Mas Toyo mengadu nasib lewat jualan soto. Empat bulan bisnis tersebut dikerjakan. Kemudian ya berhenti lantaran sepi pembeli. Dia lalu meminjam modal Rp.4 juta buat jualan ayam ke Taman Hias (Pasty), Yogyakarta, hanya 5 bulan karena jualannya kena flu burung.

Ayam mati hingga tidak balik modal. Walau gagal terus. Toyo mengaku tidak capek. Tetap melangkah maju membuka usaha lain. Didukung sang istri, Dwi Astuti, mereka berbisnis mensuplai aneka kebutuhan buat spa. Mereka membuat lotion, lulur, handbody, dan lain- lain.

Lumayan usaha mereka berjalan baik. Cukup membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Agar lebih banyak menghasilkan dia juga jualan jagung bakar. Tapi, yah, usaha jagung bakar itu berakhir gulung tikar kembali.

Bisnis terus


Ide bisnis pembawa berkah. Muncul ketika dia melihat banyaknya limbah berserakan di sebuah toko, di samping rumah kontrakan Toyo. Pada 25 Juni 2012, dia mengadu nasib kembali lewat bisnis kerajinan, yakni menjadi pengrajin kaca bekas. Tangan dingin Toyo memang sempat kaku tetapi kembali dilemaskan.

Dia mulai mencari, memotong, merangkai, hingga terbentuk produk. Produk unik dihasilkan Mas Toyo yakni lampu. Ia cuma bermodal kaca bekas bangunan. Atau sekedar kaca bekas akuarium pecah.

Bisnis ini dijalankan cuma bermodal uang Rp.100 ribu. Uang tersebut dibelikan kaca bekas, batu alam, dan mangkuk. Mangkuk digunakan sebagai landasan atau atasan. Ditempel sedemikian rupa sampai bentuk jadi lebih manis. Batu alam digunakan menjadi penopang kaca. "Jadilah barang unik."

Awalnya cukup dipotong kecil- kecil layaknya puzle. Produk pertama bikinan Mas Toyo adalah pengharum atau lampu aroma therapy. Sang istri, yang lulusan farmasi, mendukung ide bisnis Mas Toyo. Keduanya lamtas bersiap memasarkan. Sasaran pertama dia adalah memamerkan ke guru- guru sebuah SLB.

Memuaskan hampir semua guru memesan 80pcs. Harga jual murah kok, hanya Rp.85 ribu sampai Rp.150 ribu. Justru ketika permintaan itu banyak Mas Toyo pusing. Lantaran tidak disangka peminat akan sebesar itu. Bagaimana produksi sebanyak itu? Mangkanya dia berhasil selesaikan pesanan baru setelah 3minggu.

Enam bulan berlalu usaha Toyo naik daun. Ia lantas mematenkan usaha dalam bentuk perusahaan. Usaha bernama Titoy Jaya Production -Lampu Aroma Therapy & Handicraft. Usaha kecil menengah ini semakin menggeliat saja. Kerajinan lain mulai lampu biasa, vas, lampu tidur. "Saya optimis dengan produk baru ini."

Tidak mau sendirian sukses. Ia mulai merekrut tetangga. Pesanan melipah naik dibanding sebelumnya. Ia mendapatkan pesanan pengusaha- pengusaha, mereka kebanyakan membeli buat dijual kembali ke hotel- hotel. Ia mempekerjakan 15 orang. Jika pesanan melonjak dia mengambil pegawai tambahan tetangga.

Ia bersemangat dengan bisnis barunya. Bahan dibutuhkan murah, dan proses pembuatan yang tidak sulit. Ia mengatakan cukup kaca dipotong, ditata dan ditempel, dibentuk sesuai keinginan. Nilai jualnya jadi tinggi kalau sudah jadi.

Untuk menciptakan perbedaan. Ia berinovasi, lampu bikinan Toyo bisa dijadikan selain pengharum, bisa jadi lampu penerangan, bisa pula dekorasi mewah. Rahasia sukses produk Toyo ada pada minyal aroma esensial, yang mana dicampur air. Panasnya lampu akan menguapkan aroma tersebut ke udara sekitar.

TJP, singkatan usahanya, mampu memproduksi 300- 400 buah. Meskipun sudah sukses, Toyo tidak puas hati, ingin meciptakan aneka inovasi lain. Selain aroma therapy juga aneka lampu, seperi lampu tidur, baca, dan lampu hias. Ada 25 motif lampu siap menyambut kita pembeli, dan 18 varian aroma berbeda.

Meskipun sama aroma therapy tetapi berbeda fungsi: Ada pewangi ruangan saja, penghangat atau massage oil, penghangat lulur, juga ya lampu hias. Aroma macam- macam, dari flamboyan, night queen, kenangan, kamboja, bogenvil, rose, ylang-ylang, edelwis, sandal wood, lily, akasia, dan bali flower.

Sedangkan aroma minyak esensial, yang digunakan sebagai pengharum ruangan, antara lain ada lavender, jasmine, green tea, peppermint, sandalwood, rose, opium, sakura, bali flower, apple, strawberry, vannila, lemon, ylang-ylang, frangipani, lotus, night queen, dan orange.

Pemasaran utama masih disekitaran Kota Yogyakarta. Namun Toyo juga sudah mengikuti aneka pameran, dari Nusa Dua Bali, Plasa Kementrian Industri, Jakarta, dan optimis membuka peluang menjual ke banyak daerah. Optimis pasarnya akan bisa diperluas dari biasa mereka.

"Tiap pameran saya ikuti, produk saya selalu habis," ungkapnya senang.

Omzet mencapai kisaran Rp.10 juta- Rp.25 juta. TJP sendiri masih banyak kendala. Contohnya pengadaan mesin. Maksudnya agar lebih mudah dalam produksi. Termasuk banja bahan, yang semakin sulit lantaran kapasitas produksi meningkat. Tenaga karja juga masih dianggap tidak mencukupi dengan pesanan.

Pengembangan UMKM menurut Mas Toyo udah baik. BUMN juga ikut membantu majunya UMKM. Tapi belum menyentuh merata ke semua UKM, apalagi ke pelosok daerah. Mas Toyo cuma berharap bahwa pemerintah makin memperhatikan UKM kita.

Artikel Terbaru Kami