Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Jumat, 09 Desember 2016

Cara Menghasilkan Uang dari Bubur Kertas

Profil Pengusaha Sumarsono 




Menjadi buruh takut diphk. Namun, karena diphk, justru Sumarsono bisa menjadi pengusaha. Pasalnya dia tidak mudah putus asa. Ketika tempat kerjanya kolaps dan bubar karena krisi moneter. Justru Sumarsono mengajar ambisi pribadi. Menjadi pengusaha berbekal kemampuannya di bidang desain grafis.

Tepatnya tahun 1989, ia pertama kali datang ke Jakarta, dia bekerja menjadi advertising outdoor. Untuk ini dia bekerja menjadi produksi dan grafis. Dia punya dasar pemahaman tentang gambar. Hingga, masuk di tahun 98', bisnis perusahaan tempat Sumarsono bekerja kolaps.

Dua tahun dia hidup bermodal pesangon. Tahun 2000, kemudian Sumarsono berusaha serabutan menjual aneka benda seni seperti patung atau lukisan. "Ada dua tahun menganggur," kenangnya. Dia beruntung tak cuma memiliki keahlian tetapi bakat alam.

Bakat seni


Keluarga Sumarsono kebanyakan seniman. Khususnya dia tinggal diantara para seniman patung. Kemudian dia mengingat kerajinan masa sekolah. Bubur kertas. Dia berpikir kenapa tidak dibikin sesuatu. Dipadu padankan selera seni Sumarsono. Dia yakin bahwa kertas koran dapat dijadikan kesenian bernilai tinggi.

Tidak mudah seperti dibayangkan Sumarsono. Ketika mencoba malah takaran air tidak seimbang. Sia- sia sudah tumpukan koran tersebut. Ia belum paham caranya menyampur. Namun pria ini terus berusaha dan semuanya otodidak.

Kegagalan demi kegagalan dilalui. Akhirnya 2007 Sumarsono berhasil membuat bubur kertas. Kemudian dia mengolahnya menjadi ornamen dinding. Dia bercerita ketika memulai bermodal minim. Dia nekatlah menjual sepeda motor. Dia kemudian menambah melalui pinjaman orang.

Modal dikumpukkan dia sampai Rp.60 juta. Uang digunakan buat peralatan daur ulang. Buat membeli cat minyak, kertas koran, dan biaya oprasional. Itulah modal pertama digunakan Sumarsono. Hasilnya jadi 11 unit panel ornamen siap jual. Ia menamainya LaxsVin Art, dipasarkan ke pasaran Cibinong, Jawa Barat.

Sebelum memulai membuat bubur kertas. Ia pernah mencoba pakai panel kayu. Bahan bekas sengaja dia pilih karena murah dan go green. Tidak cuma papan, ada pelepah pisang, kemudian terakhir bubur kertas, menjadi pilihan utamanya. Bubur kertas memiliki karakter khas ketika diberi sentuhan lukisan olehnya.

Awal dia membuat cuma dua dimensi. Meskipun aneka warna, hasilnya tidak begitu bagus, nah sejak itu ia juga mulai bereksperimen lewat tiga dimensi. Tahun 2006 akhirnya menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Tidak punya literatur khusus menjadi panduan. Ia cuma meraba menciptakan produk belum orang lain buat.

Lukisan panel berukuran 80x120 tersebut laris manis. Dalam tempo dua jam tinggal dua buah. Sehari dia bisa mengantungi untung Rp.4 juta. Memasuki tahun 2007, dia mulai diajak pemerintah setempat aktif mengikuti berbagai pameran kewirausahaan. Melalui pameran dia membangun brand mengajak orang beli.

Melalui pameran dia mendapatkan masukan baru. Katanya jualan Sumarsono kemahalan. Dan ukurannya terlalu besar. Sulit buat dibawa orang perjalanan jauh. Khususnya buat panel lukisan yang dibandrol harga Rp.1,5 juta. Pembeli asing mengeluhkan produknya berat sulit dibungkus dibawa pulang.

Berbekal masukan tersebut dia merubah gaya. Lantas dia membuat panel seberat lima kilogram. Ukuran tersebut cocok dengan batas bagasi 20kg di pesawat. Bisnis panelnya dijalankan Sumarsono mengajak 3 orang pegawai bekerja. Kertas koran didapatkan lewat pengepul. Seharinya memakai 300- 400 kilogram koran bekas.

Agar pengepul tetap menjual ke dia. Dirinya ikhlas menaikan nilai beli sampai Rp.2000 per- 1kg. Maka para pengepul mendapatkan untung Rp.1000. Biaya produksi untungnya rendah. Menekan harga jual tetap dia bisa lakukan. Ukuran 45x45 dibandrol Rp.75.000- Rp.100.000, produksinya sampai ribuan panel.

Harga pas


Ia mengatakan kenapa makin laris. Panel bikinanya murah. Bahkan ada diskon Rp.75.000 sebuah bila mau membeli enam. Kan orang biasanya beli satu kali satu panel. Hal lain agar jualannya makin mantab ialah ia membuat lukisan berserial. Jadi orang akan berpikir buat menambah koleksi membeli lebih banyak.

Uang muka 30% buat pemesanan sudah cukup. Ukuran segitu sudah menutupi biaya produksi. Dia juga jadi eksportir menjual sampai ke luar negeri. Dia mengandalkan pameran menggait eksportir. Baik dari Brazil ataupun Malaysia. Omzetnya naik dari Rp.20 juta menjadi Rp.30 juta per- bulan.

Uang segitu 20% nya dipakai produksi. Total Sumarsono tidak mengandalkan pinjaman bank sama sekali. Ia menjamin panel buatanya akan selalu berbeda. Akan ada desain baru setiap kali ada kesempatan. Juga ia akan aktif mengikuti aneka pameran.

Warna era 80 -an dihidupkan kembali lewat dominasi oranye. Meskipun beda desain ataupun ukuran, dia tetap menyasar rumah konsep minimalis. Warna dasarnya berusaha memakai hitam. Tujuannya agar dapat dengan mudah ngeblend dengan warna cat rumah apapun.

Tidak cuma jualan saja. Ia menularkan konsep daur ulang juga. Dia memberikan pelatihan umum. Menjadi pembicara berbagai kegiatan bertama daur ulang. Dari NTB, Serang, dan Jakarta dia telusuri menjadi ahli di bidangnya.

Dari menjadi pembicara dan pelatihan, eh ternyata, ia bisa menghasilkan uang juga. Terutama jika dia beri pelatihan khusus. Bisa mencapai Rp.2,5 juta buat pelatihan. Dia sendiri tidak khawatir banyak pesaing. Ia beralasan setiap orang punya gaya lukis sendiri. Ditambah jam terbang dia lebih banyak soal aspek bisnis.

Mereka akan mengangkat budaya mereka sendiri. Gaya lukisan mereka sendiri juga. Dibantu tiga orang karyawannya. Untung didapat bisa mencapai 50% nya. Atau dia bisa mengantungi uang Rp.30 juta. "Saya akan mangajarkan mereka yang mau belajar," tutur dia.

Kamis, 08 Desember 2016

Kreasi Telur Asin Rasa Inovasi Adonan Jaya

Profil Pengusaha Sukses Sulaiman



Kisah Sulaiman layaknya drama televisi. Dia kini dikenal sebagai juragan telur asin. Awalnya dia memulai usaha beternak bebek saja. Usaha miliknya bernama Adonan Jaya. Menjual aneka telur asin aneka rasa, yang mana pembelinya tidak sekedar lokal, tetapi sudah diekspor sampai manca negara.

Alkisah Sulaiman terlahir dari keluarga miskin. Tahun 1987, ia berniat membantu pengeluaran keluarga, dan kebetulan ditawari bekerja menjadi penggembala bebek. "Angon bebek" dilakukan bocah Sulaiman tidak malu ataupun capek.

Ia tidak berkecil hati. Ia yang masih duduk di bangku SMP. Akan sibuk menggiring bebek ketika sekolah telah usai. Sampai dia harus berenang di empang buat mengejar bebek. Pria kelahiran Sidoarjo 58 tahun silam ini tidak berhenti, karena memang begitu lulus SMP, sudah tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.

Hidup susah berwirausaha


Walaupun masih kecil, Sulaiman terbiasa bekerja keras, dan hasilnya menjadi sosok tangguh. Tidak ayal ia menyisihkan uang buat berbisnis sampingan. Sambil menggembala bebek dia berusaha kecil- kecilan. Dia membeli telur bebek. Mengolahnya sendiri menjadi telur asin dan dijual ke kampung sebelah.

Lima tahun bisnis sampingan berjalan. Dia masih menggembala bebek. Mulai muncul niat memiliki bebek sendiri. Dari 20 ekor bebek terbeli, berkembang bahkan mencapai 2.200 ekor, sekarang Sulaiman tidak lagi perlu mengambil telur peternak lain.

Dalam sehari dia menghasilkan 1.000- 1.500 telur. Dia beralih menjadi juragan telur asin. Tiga jenis dia ciptakan telur asin biasa, sedang, dan istimewa. Kenapa  istimewa: Karena telur dibuat dari telur besar dan butuh waktu 20 hari pemeraman. Warnanya juga kuning kemerahan dengan lelehan minyak jikalau dibelah.

Untuk sedang maka ukurannya lebih kecil. Waktu peram juga cuma butuh 10 hari. Berkat ide membuka peternakan sendiri usahanya lebih lancar. Pembuatan telur asin bisa tidak tergantung pasokan. Berapa saja dibutuhkan dia bisa ambil. Sisanya mungkin dapat dijual dalam bentuk telur bebek biasa.

Selain itu juga bisa guna balik. Contohnya bebek diberi makan cangkang telur, dicampur kulit udang, lalu kupang putih, dan bekatul. Hasil makanan tersebut cangkang telur tebal, isinya kemerahan, dan ukurannya besar.

Keberhasilan Sulaiman tidak mudah. Butuh waktu untuk menciptakan cara tepat. Bagaimana menciptakan telur asin berasa. Sebagai pengusaha dia tidak segan menerima kritik saran. Contohnya ketika pelanggan ada yang protes karena telurnya cepat basi. Atau mungkin ketika berasa tidak masir atau asin sedap.

Dia butuh banyak percobaan. Ia harus menyesuaikan selera konsumen bukan kebalikan. Campuran batu bata, abu arang batok kelapa, dan garam. Batu bata baiknya dibakar dulu. Tujuannya ketika dibalurkan ke telur, agar tidak membuat telur tidak mudah berjamur.

Bisnis inovatif


Sulaiman sudah melakukan inovasi sejak 1992. Inovasi berupa telur asin rasa kepiting, udang, salmon. Dia mendapatkan ide dari temannya -yang seorang nelayan. Kenapa sih tidak membuat telur asin rasa seafood. Dia lantas memulai eksperimen tersebut.

Masa peram butuh sampai 12 hari. Selepas itu, telur bebek direbut pakai larutan berisi rasa selama 4 jam. Ia mengakhiri dengan pematangan telur asin. Tiga cara pematangan terakhir direbus, dioven, atau digoreng.
Cara mematangkan ini mempengaruhi kualitas keawetan, digoreng kuat 15 hari, dioven kuat sampai 20 hari.

Namanya kian populer ketika memperkenalkan inovasi. Bukti bahwa pasar jenuh akan pasaran telur asin yang biasa. Bahkan nih, Sulaiman tidak capai, pelanggan mendatangi tempatnya sendiri. Pesanan datang dari luar kota bahkan sampai luar negeri, khususnya ke pasaran Asia.

"Untuk Jakarta, saya rutin mengirim 2.500 telur asin," jelasnya. Omzet Sulaiman pernah jeblok loh. Utama ketika musim flu burung. Yah dibalik kesuksesan pastilah ada hambatan menghadang. Omzet turun kala itu sampai 30% -an.

Mimpi besar Suliaman adalah membawa ke pasar internasional. Meskipun begitu kesuksesa Adonan Jaya patut diacungi jempol. Pasaran Jawa Timur sudah dikuasi pria paruh baya tersebut. Inovasi juga terus dia gencarkan. Contohnya dia meluncurkan telur asin herbal, baru diluncurkan dan mendapat aprasiasi bagus.

Menurutnya ini telur asin sehat. Karena ada campuran ginseng, akar alang- alang, daun jambu batu, dan ada daun salam. Makan telur asin bisa sakit jantung? Cobalah telur asin herbal variasinya CV. Adonan Jaya tersebut. Harapan merambah luar negeri terus dia gencarkan lewat berbagai pengembangan.

Sukses keuntungan dibalik dengan menambah ternak dan memperlua kandang. Dia menjadi panutan para pengusaha sejenis -meski pesaing dia- dianggap menjadi pelopor dan meningkatkan harkat martabat Desa Kebonsari, Sidoarjo.

Dia menceritakan awal sering dikembalikan karena rusak. Dia kemudian berpikir caranya telur asin awet lebih dari seminggu. Ide datang ketika dia melirik bandeng asap. Kan kalau ikan bandeng diasapin malah lebih awet dibanding telur asin. Dia mulai mengasapi telur asinnya, hasilnya kuat 20 hari- 1 bulan.

Telur asin dibakar itu rasa udang. Telur diasapi rasa udang. Dan digoreng untuk telur asin rasa ikan salmon. Ya kamu tidak salah mendengar ikan salmon. Cara penanganan memasak rasa ikan salmon unik. Karena ia goreng langsung sama kulitnya bak ikan salmon goreng.

Jumlah telur dijual sudah ribuan per- minggu. Sukses tidak membuat Sulaiman pelit. Dilihat oleh Good News From Indonesia (www.goodnewsfromindonesi.id), dalam buku tamunya berderet nama- nama orang bahkan organisasi, sekolah, dari TK, Mahasiswa, media masa, bahkan orang asing datang ke rumahnya.

"Kalau punya ide, punya cita- cita jangan setengah- setengah harus semangat terus walaupun gagal, harus lah telaten, harus tekun dan berhati- hati," tutupnya.

Selasa, 06 Desember 2016

Pengusaha Telur Ayam Arab Wanita Juga Bisa

Profil Pengusaha Melati Fajarwati 



Tekun pantang menyerah. Itulah Melati Fajarwati. Bermula dari inspirasi bisnis tetangga terdekat. Wanita asal Pontianak ini. Mulai asik menggeluti bisnis ayam petelur. Warga Pontianak, Kalimantan Barat, masih umur 20 tahun memulai peternakan sendiri.

Dia melihat peluang mengembangkan ayam organik. Mela melihat peluang ayam Balqis. Itu loh ayam Arab yang mana cocok dengan keadaan lingkungan Kalimantan Barat.

Bahkan dia menang perlombaan kewirausahaan Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan.

"Saya melihat peluang cukup bagus, tetapi belum dikelola dengan baik," imbuhnya.

Ia merasa beternak masih sekedar hobi. Untuk menjalankan rencana dia membuat bisnis plan. Jika para wirausaha percaya diri dengan bisnisnya. Mela memilih mengikuti perlombaan tersebut. Mela memilih merecanakan kedepan bisnisnya. Perencanaan matang dibuat agar tidak sekedar beternak.

Mengikuti perlombaan Bank Mandiri juga. Kemudian dari kemenangan tersebut, uang hasil lomba Mela pakai buat modal usaha tambahan. Dari perlombaan pula namanya menggema. Bisnisnya mulai maju dan menghasilkan 4 ribu butir per- hari.

Harga telur dia jual Rp.2.500 -an. Kalau dilihat omzet perharinya mencapai miliaran. Untung bersih dia membuka sampai Rp.10 juta. Omzetnya mencapai Rp.4,3 miliar. Peternakan Melati, di daerah Parit Wak Wiji, Kabupaten Kubu Raya, membawa dia menjadi jutawan muda.

Telur ayam Melati tidak membuat alergi. Apalagi menimbulkan bisul atau jerawat. Protein dihasilkan juga lebih tinggi. Dimana omega 3 nya lebih nendang dibanding ayam jawa. Ayamnya diberi nama ayam arab. Tetapi sebenarnya merupakan perpaduan antara ayam belgia dan jawa.

Melati spesifik memberika makanan. Bahkan dibilang joran. Jika ayam biasa cukup makan pelet. Maka ia membuatkan dedak khusus, campuran kepala udang, sayuran, dan jamu khusus. Dimana resepnya ya di jamu itu agar ayam mampu memiliki stamina bertelur lebih banyak.

Dia sejak mula sadar tidak bisa sendiri. Mangkanya untuk mengembangkan bisnisnya dia bermitra. Dia lalu mengajak peternak lain bersama. Mereka menghasilkan telur lebih banyak. Pertumbuhan jumlah ayam juga mudah karena saling menolong.

Untuk distribusi Mela sudah merambah Jawa. Puluhan juta sudah dihasilkan Mela sendiri. Kreativitas ia tidak berhenti. Pengembangan bisnis lainnya adalah membuat kerajinan cangkang telur. Dia mengajak para pemilik warung mie instan dan jamu. Khusus limbah cangkang akan dijadikan kerajinan termasuk tas juga.

Minggu, 04 Desember 2016

Remaja Jualan Online ini Pernah Diketawain Pelamar

Profil Pengusaha Lia Marlina 




Pengusaha sekarang tidak lagi harus diatas 30 tahun. Sudah banyak pengusaha kok, bahkan ada dibawah 20 tahun yang sukses berbisnis sendiri. Namun pandangan sinis masih dirasa. Apalagi ketika sang muda mau mencoba berusaha. Bahkan cemooh datang dari mereka yang masih muda pula.

Lia Marlina sudah sukses sejak remaja. Seragam putih abu- abu disangdang sambil berdagang. Kenapa mau berbisnis sendiri. Inspirasi kedua orang tua menjadi alasan. Ibu dan ayah seorang pedagang kaki lima. Lia kemudian mau terjun langsung ke bisnis juga.

"Jiwa berdagang dari mereka," jelas Lia. Awal mula berbisnis emperan. Berjualan di emperan tentu punya tantangan tersendiri.

Dia mempunya ide membantu orang tua. Berjualan sendiri tetapi tanpa meminta modal. Tanpa keluar uang menyewa toko. Lantas bertemu lah Lia dengan bisnis berbasis online. "Situs jual beli online jawabannya," ia memaparkan.

Awal usahanya pakai uang seadanya. Berkat kegigihan dia mampu memutar uang Rp.400 juta/bulan. Dari berbisnis online kepercayaan sang pengusaha muda bertambah. Perkembangan bisnis online memang ia rasa sangat mengejutkan. Kalau dulu dia cukup lumayan berjualan melalui Tokopedia.com, sekarang?

Banyak orang berbisnis online. Disisi lain, dia juga mendapatkan banyak pesanan, prinsip bisnis dipakai Lia adalah kepercayaan konsumen. Untuk mendukung bisnis online dia tidak segan mempekerjakan orang. Ia memasang iklan lowongan pekerjaan.

Tidak sedikit pelamar pekerjaan memilih mundur. Mereka berpikir, mungkin, apa bisa bocah ini memberi gaji karyawan. Sejumlah orang pelamar mundur berbagai alasan. "Mungkin mereka takut bocah ini tidak bisa membayar gaji mereka," jelasnya.

Di usia 20 tahun, dia mempekerjakan tiga karyawan, dimana bisnis online ini menjadi penyokong utama kebutuhan keluarga. Kebutuhan akan layanan prima memang dibutuhkan. Bisnisnya bernama Kios Balita Fawa, berjualan aneka perlengkapan bayi.

Perbandingan antara jualan online atau offline. Dia mengatakan berjualan di emperan ya dikejar petugas. Dia mampu memutar uang sampai Rp.400 juta.

Sabtu, 03 Desember 2016

Pembuat Keramik Muda Menginspirasi Usaha

Profil Pengusaha Bregas Harrimardoyo 



Keberadaan mereka dianggap kurang. Banyaknya mesim mampu mencetak ratusan. Pengrajin keramik bisa dibilang dihitung jari. Kerajinan keramik dianggap terlalu sukar. Detailnya yang beda dari sekedar caranya membuat keramik. Perajin keramik mengalami kesulitan dalam regenerasi.

Banyak pemula merasa bosan. Prosesnya dianggap memakan waktu. Butuh tidak cuma kreatifitas tetapi juga kemampuan bersabar membakar. Dari tanah liat, caranya membuat, teknik glasir, serta pemahaman akan tungku, pokoknya rumit buat diturunkan.

Sementara itu kuliah jurusan perkramikan ada. Tetapi mahasiswanya seolah bisa dihitung jari. Mulai dari ITB, IKJ, ISI, dan UNJ, apakah ada contoh suksesnya. Tidak jarang mahasiswa malah pindah jurusan. Nah, orang tua sendiri terlihat skeptis dibanding jurusan kesenian lainnya, apa keuntungan finansial ahli kramik.

Mangkanya banyak anak muda dilarang- larang. Namun ternyata kalau ditekuni menghasilkan juga. Apalagi jumlah pesainnya dapat dihitung jari.

Bisnis seni


Ambil contoh Bregas Harrimardoyo. Sejak kecil dia sudah melihat ayahnya berkutat dengan kramik. Dia lambat laun mencintai kesenian tersebut. Ayah Bregas adalah pendiri Pakunden Pottery tahun 1987. Lalu ia mewarisi bakat membuat keramik. Dia mencontoh ayah iseng membuat keramik sendiri.

Tertarik karena biasa melihat ayah kerja di studio. "Saya sudah belajar sekitar umur 5- 7 tahun," jelasnya. Ia mulai serius ketika lulus SMA. Dia tertantang untuk lebih. Tertantang menyamai kepiawaian sang ayah mengolah keramik. Usia 16 tahun sudah mewarisi keahlian sang ayah membuat aneka keramik.

Dia melanjutkan Pakunden Pottery. Kelebihan studio ini adalah kesederhanaan keramik. Namun coraknya khas Indonesia mendetail. Inilah yang coba ditonjolkan Bregas. Keramik layaknya kanvas. Disana dia akan menorehkan lukisan. Kanvas jangan rumit- rumit. Yang terpenting apa polanya terurai cantik diatasnya.

Bregas fokus mencari corak Indonesia. Dituangkan dalam kanvas keramik sederhana cukup. Harganya jadi variatif dari Rp.40 ribu sampai Rp.5 jutaan. Dan sudah dapat ditebak 95 persen pembelinya adalah orang asing. Bahkan karyanya dibawa di galeri internasional, menuju Portland, Oregon, Amerika Serikat. 

Menjadi eksportir omzet Bregas dibilang tergantung. Tidak pasti tergantung ada pameran tidak. Jumlah yang dikirim juga tidak banyak. Meskipun begitu pendapatan Bregas bisa dibilang dollar. Justru pasaran lokal dianggapnya lebih susah. Untuk orang Indonesia butuh pendekatan bukan cuma nilai estetik saja.

Kalau orang asing kan begitu liat seni langsung tertarik. Orang Indonesia mikir dulu baru memutuskan mau beli atau tidak. Kalaupun ada pasti dari kalangan tingkat pendidikan dan ekonomi atas. Lima persen ia anggap memang kurang. Bregas tetap menggali pasar 5% ini melalui aneka upaya inovatif.

Turun temurun


Sang ayah terlahir di daerah bernama Pakunden, Semarang. Ibunya Ating, kelahiran sana asli dan ketika berjalan waktu Pakunden menjadi bagian Kota Semarang. Nama Pakunden ternyata berarti kendi atau juga disebut pot.

Sementara ayah Bregas aslinya dekat situ. Kemudian menikah dan ide bisnis tentang membuat kerajinan berbahan tanah liat muncul. Hasilnya sebuah aneka benda kecil- kecil berbekal tanah liat belakang rumah. Kemudian ayah yakin memperdalam ilmu otodidak, menghasilkan studio kecil bernama Pakunden.

Nama Pakunden juga merupakan persembahan buat sang istri. Lambat laun keahlian ayah Bregas makinlah terasah. Kemudian anak kecil bernama Bregas Harrimardoyo mulai membuat pernik kecil berbahan tanah liat.

Ketika mereka pindah ke Jakarta, ibu Bregas masuk kuliah IKJ jurusan batik. Kemudian dia ditawari oleh kampus mempelajari tentang pembuatan keramik. Namun dia menyerah karena terlalu teknikal. Disitulah ayah Bregas masuk mengambil alih kuliah tersebut. Padahal jurusan ayahnya adalah teknik mesin waktu itu.

Kemudian keterarikan akan membuat keramik makin kuat. Dipadukan akan kemampuan teknikal mesin. Ia membuat studio dengan mesin sendiri. Berjalan waktu dia dikenal menjadi pengrajin, maestro, dalam hal pembuatan keramik. Dia mulai mengikuti aneka pameran kesenian keramik.

Umur 14 tahun Bregas banyak ketemu sesama perajin keramik (teman ayah). Ketika lulus SMA dia dapat kesempatan masuk Arkeologi. Melalui arkeologi dia memasuki pemahaman akan keramik. Aneka bentuk karya orang dulu sesuai passion -nya akan membuat kesenian keramik.

Ibu Bregas sangat tertarik akan batik. Dia pembuat kroset. Dan idenya selaras dengan keahlian membuat macam pola etnik. Sementara itu sang ayah juga masih aktif. Dia akan setiap hari terlihat menggambar, lalu membentuk desain pola, membentuk keramik, dan memberika saran jika diperlukan oleh Bregas.

Dia punya saudara laki- laki, seorang arsitek. Sang anak, Yuka, suka ikutan Bregas mengerjakan keramik. Tanah liat datang dari Jawa Barat. Yang mana sumbernya sangat diteliti benar. Dia memilih membeli buat distok untuk enam tahun. Bahan bumbunya datang dari lokal sekitar. Sumber: www.ajourneybespoke.com

Kamis, 01 Desember 2016

Ikut Waralaba Waka Waka Gaji Diatas UMR

Profil Pengusaha Chaprina Kurniati Utami Dewi


 
Manisnya sukses membawa gadis muda ini berbisnis. Mencari kemandirian, gadis cantik bernama Chacha atau lengkapnya Chaprina Kurniati Utami Dewi, mencoba peruntungan lewat martabak mini Afrika Waka- Waka. Waralaba asal Jakarta tersebut dibawanya ke Solo, Jawa Tengah.

Panganan dengan aneka toping yang nikmat. Cuma berjualan dengan booth kecilnya di depan TK Kristen Manahan Solo, gadis berhijab ini mengaku untung. Dia menghabiskan 3kg adonan dan menghasilkan uang Rp.3 juta per- bulan.

Dia berhenti jadi pegawai. Fokus mengerjakan waralaba yang dia ikuti. Modal awal dia keluarkan yakni Rp. 7.500.000. Untung menggelontor melalui marketing sederhana. Cukup BBM dan brosur sudahlah cukup menjadikan dia untung. Gajinya menjadi wirausaha bahkan lebih besar dibanding cuma pegawai.

Lebih puas pula dibanding kerja bareng orang. Kenapa memilih martabak mini? Alasanya karena dia liat belum ada pelopor bisnis martabak mini. Kemudian karena produk Waka- Waka tebal kulitnya tidak tipis. Topping juga bukan sembarang tetapi sudah direncanakan matang.

Orang tinggal pilih topping sesuai selera. Banyak pilihan rasa mulai toblereno, nutella, ovomaltine, kitkat, dan banyak lagi. Kemudian aneka taburan lebih dari 30 jenis, dari kacang, coklat tabur, blueberry chip, dan lainnya.

Harga Rp.15.000 per- boks isi 4 spesial, satunya Rp.4000 -an. Untuk biasa Rp.10.000 isinya 4 juga, kalau beli satuan Rp.3000. Daerah Solo minimal beli 3 boks bisa delivery order. Kemudian dia juga siap buat pemesanan 30 boks. Kalau mau order banyak maka dua hari sebelumnya sudah pesan.

Harga mahal tentu ada komplain. Pelanggan ada pernah komplain soal harga. Namun ketika sudah rasakan kelezatan Martabak Waka- Waka langsung nagih. Repeat order mau beli lagi meski harganya mahal. Tapi sesuai kok, meski ukuran kecil, tetapi tebal dan topping nya total.

Banyak yang ketagihan. "Banyak repeat order," Chacha senang. Sehari dia menghasilkan 30- 50 boks. Yang mana adonan 3kg dimana 1kg menghasilkan 100 martabak. Optimis dalam sebulan dia akan balik modal. Untuk daerah Solo mau ikutan waralaba, bisa hubungi dia, karena akan ada trainning nya loh.

Untuk kedepan mau buka booth lagi. Di depan Lippo yang ramai banyak orang lewat. Buat membuka booth baru dia cukup bayar retribus pemerintah. Ditambah mengajukan ijin buat pedangan sekitaran sana. Dia mau menyasar malam hari karena dirasa paling ramai.

Mau Jualan Martabak Mini Waka Waka Prospeknya

Profil Pengusaha Sukses Cintra


 
Ia berkisah semua berawal Piala Dunia 2010 silam. Cintra, 42 tahun, dan suami, Suhendra, 26 tahun mulai membuat aneka martabak mini. Bisnis berdasarkan racikan bumbu Cintra. Khas itulah membedakan hasil karyanya dibanding buatan sendiri.

Dia juga tidak segan memberi lebih. Topping nya banyak tidak tanggung. Mulai berbisnis dia langsung bisa menghasilkan. Lalu langsung, Cintra dan suami langsung membuka prospek waralaba. Walaupun terbilang baru bisnis mereka melesat.

Kurang lebih mereka memiliki 800 mitra. Produk dia tidak cuma makanan tapi minuman. Omzetnya capai Rp.100 juta per- bulan jika ramai. Standar hasilnya antara Rp.20- 50 juta. Tetapi tidak semua mitra aktif menjalankan. Tidak sedikit dua kali order tidak ada kabarnya.

Untuk bisnis ini 50% mitra waralaba aktif. Tenang mereka tidak menarik royalti kok. Untung didapatkan mereka dari pembelian brand dan kios. Kemudian dapat dari pembelian bumbu racik oleh kita. Bumbunya martabak Rp.20 ribu, minuman racik dan botol milkshake beserta cool station adalah Rp.3.500.

Spesial bisnis Cintra adalah racikan green tea bernama Green Canyon. Dimana disediakan Rp.5 ribu per- bungkusnya. Dia mempertimbangkan sistem royalti karena saking banyaknya mitra tidak komitmen. Dia berpikir pakai royalti ada untungnya. Bagi brandnya bisa tumbuh pesat dibanding cuma waralaba begitu.

"Kita liat bagaimana kalau pake royalti, berjalan baik atau tidak," tuturnya. Kemudian dia siapkan skema model restoran dan kafe bernilai Rp.160 juta- 200 juta. Cukup bayar segitu dan semuanya akan disediakan pihak mereka.

Website:  www.franchisewakawaka.com

Sate Rembiga Lombok Bu Sinnaseh

Profil Pengusaha Bu Sinnaseh 



Tidak ada berbeda dari usaha dijalankan Bu Sinnanseh. Rasanya berbeda menjadi andalan. Bukan sate biasa, Sinnanseh mengatakan bisnisnya bukan produk baru. Kuliner bernama sate rembiga tersebut enak jos. Ia malahan memilih sapi lokal. Benar- benar sapi lokal ketika orang lain memilih sapi impor.

Ia menjaga kualitas bahan. Ingat kualitas produk merupakan utama. Bumbunya lengkap. Segala bumbu dia pakai seperti cabai, terasi, bawang putih, gula merah dan garam. Sate rembiga miliknya merupakan resep turun- temurun.

Resep asli Hj. Nasipah yang merupakan guru Sinnanseh. Diturunkan langsung dari si empunya kepadanya. Setelah dia meninggal barulah Sinnanseh barulah jualan. Rasa hormat memberanikan diri membawakan resep 25 tahun ini.

Bahan semua dicampurkan baru dibakar. Dia awal bekerja menjadi pembuat bumbu. Dia bekerja di kedai milik Hj. Nasipah. Dia bersama suaminya menghasilkan jutaan. Nama sate rembiga memang dikenalnya khas Lombok, Nusa Tenggara. 

Warung miliknya dikunjungi tidak cuma wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing.

"Kalau per bulan saya tidak hitung," tutur dia. Kalau per- harinya menghasilkan Rp.12- 15 jutaan! Wow, ia juga mengatakan puncaknya ketika puasa, maka omzetnya lebih dari Rp.15 juta per- hari.

Angka tersebut nyata. Karena dia bisa mengolah 100kg daging sapi dijadikan 9.000 tusuk. Tidak ada yang berbeda dari sate buatannya. Tetapi kemampua Sinnanseh mengolah dan mempertahankan kualitas sangat sedap.

Selasa, 29 November 2016

Dianggap Gila Mau Jadi Pengusaha Kopi Pesisir

Profil Pengusah Yuri Dulloh 


 
Yuri sempat dianggap gila. Namun niatnya tetap bertahan sampai sekarang. Pasalnya dia tidak sekedar mau mengejar materi. Dua hasrat terbesar: Pertam Yuri Dulloh ingin menghijaukan kampungnya di Kebumen. Yang kedua adalah mengembangkan potensi kopi lokal asli.

"Saya dianggap gila ketika mulai menanam kopi di pekarangan rumah," kenang Yuri. Alasan Yuri tetap ada kepada pendiriannya, tidak lain karena sejarah Kebumen yang pernah menjadi pusat kopi Belanda. Disana ditanami aneka tanaman termasuk kopi dan berhasil.

Ditanami lah rumahnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tidak bisa dipercaya kalau kopi dapat ditanami di daerah pesisir. Dia juga merambah aneka macam jenis kopi ketika penelitiannya terbukti. Mulai Arabica, Liberica, Robusta, dan Javanica, mampu tumbuh subur di sana.

Buahnya memerah menghasilkan kopi tanpa cela. Tidak ada rasa berubah. Aroma juga nikmat layaknya itu kopi berasal dari daerah beralam sejuk pegunungan. Banyak orang terheran- heran kok bisa tanaman kopi tumbuh di daerah pantai ya.

Mimpi wirausaha


Ia bercerita hidup merupakan tantangan. Dia pernah mengerjakan aneka usaha. Merantau ke Jakarta tidak lain menjadi upaya Yuri merubah nasib. Dia pernah menjadi guru les, penjaga toko, salesman, captai bar, penjaga pintu tol, bahkan terakhir menjadi tukang masak restoran.

Antara Jakarta, kemudian ia ke Madiun, bersinggah di Semarang dan kembali ke Kebumen karena lelah. Mungkin hiruk pikuk kota besar dirasakan cukup. Tahun 2006 dia mencoba membuka usaha gypsum, dan juga menjadi tenaga pemasaran pabrik semen. Juga termasuk usaha jual- beli tanaman bonsai di pasar.

Sibuk berbisnis hingga sore Yuri sempatkan beristirahat. Disela- sela waktu, ia sempatkan mengobrol dengan masyarakat. Sebuah informasi mencengangkan bahwa di Kebumen, dulu, sekitar 5- 10 tahun silam berdiri pabrik kopi Kebumen. Namun kopi mereka tanam adalah kopi Lampung bukan Kebumen.

Apakah Kebumen memiliki kopi lokal. Pertanyaan tersebut menggelitik. Ia melanjutkan obrolan. Hingga ia menemukan fakta Kabupaten Kebumen punya kopi Salam. Sayangnya, produk kopi Salam sudah tinggal kenangan, sudah ditinggalkan masyarakat sangat lama.

Katanya warna kopi lebih pekat. Rasa kopi Salam konon memilik cita rasa lebih tajam juga. Berhentinya budidaya karena harga kopi rendah. Kopi belum sengetran sekarang. Alhasil petani mengganti tanaman kopi mereka menjadi cengkeh. Beberapa membiarkan tanaman mereka mati dan lahan tidak produktif.

Seketika dia mendapatkan inspirasi wirausaha. Ia ingin membudidayakan kopi. Bayangan kedai kopinya sendiri dan tanaman ditanam sendiri. Ia memulai dengan menanam 20 batang pohon. Berbekal akan rasa kepercayaan bahwa Kebumen pernah menjadi pusat tanaman kopi.

Tradisi menaman kopi memang sudah hilang. Banyak warga menganggam Yuri gila. Rasa optimis dia terus tumbuhkan. "Lah nyatanya tumbuh dan besar dan lebat," paparnya. Dia menaman di pekarangan rumah. Ia menunggu telaten pohon kopinya tumbuh. Sembari itu dia mengajak tetangga buat ikutan menanam kopi.

Tahan banting


Dia mengatakan sisa pohon kopi masih ada. Mereka tersembunyi diantara rimbunnya lahan tidak terpakai. Lantas Yuri menawarkan kerja sama kepada masyarakat. Ia menawarkan sistem bagi hasil. Yuri belikan bibit, menanam, merawat, dan memanen, sementara masyarakat mengikhlaskan tanahnya ditanami kopi.

Yuri ikhlas membagi dua hasil. Namun tidak semua petani langsung mengiyakan permintaan itu. Beberapa malah menolak. Untuk itulah dia serius membuktikan bahwa daerah pesisir juga bisa.

Fokus Yuri mengembangkan lahan kritis. Tanah yang tidak diurus pemiliknya. Dijadikan diolah menjadi tanah produktif. Ketika orang umum memilih pinus buat penghijauan. Yuri memilih menanam kopi jadi solusi penghijauan juga. Gerakan penghijauan produktif ini menggaung sampai Kulon Progo.

Menyiasati bisnis kopi diawal. Ia menggunakan untung bisnis gypsum. Dia juga merelakan gajinya jadi tenaga marketing. Sampai dua tahun barulah usaha dijalankan membuahkan hasil. Lahan tidak produktif itu mulai ditumbuhi pohon kopi berbuah. Kian banyak warga mengikuti jejak Yuri menanam aneka jenis kopi.

Pokoknya tidak boleh ada tanah menganggur. Kebumen harus berswasembada memiliki komoditi andalan. Ia mengakui semua dipelajari otodidak. Berbagai strategi menanam mulai okulasi dan stek dicoba. Dari hobinya bereksperimen dia bahkan menghasilkan perpaduan lima jenis biji kopi.

Tujuh tanaman kopi dikembangkan Yuri. Menurut Kompas.com, bahkan mengembangkan kopi lokal yang pernah hampir punah. Kalau melihat tanaman kopi liar di jalan, Yuri akan langsung cabut dan dibawanya ke Kebumen. Banyak tempat dia coba, mematahkan pendapat bahwa kopi cuma ditanam di tanah pegunungan.

Bahkan ada pohon kopi berusia 40- 50 tahun loh. Masih subur berbuah tetapi tidak dirawat layaknya satu komoditi. Dari biji kopi, Yuri merambah teh berbahan daun kopi, kemudian kulit kopi dijadikan pupuk cair dan padat. Hobi eksperimen bersumber dari berbagai tempat. Dia juga orangnya hobi berdiskusi tentang sesuatu.

Ia juga bertanya kepada perajin kopi di luar daerah. Dia lantas mengembangkan produksi kopi jadi. Alasan karena dia tau menjual biji kopi hasilnya dikit. Kopi olahan dihargai lebih tinggi dia sarankan. Sudah jadi makanan sehari- hari hasil eksperimen Yuri tidak sesuai harapan.

Pernah bahkan dia kehilangan 100 kilogram biji kopi. Kegagalan bagi Yuri adalah awal kesuksesan. Lalu ia mendirikan perusahaan sendiri. Brand yang bernama Yuam Roasted Coffee. Yuam berarti namanya dan juga nama Kecamatan Ambal. Dia juga belajar menyeduh kopi sendiri, belajar kursus barista di Jakarta.

Yuri juga bekerja sama dengan banyak kafe- kafe. Total ada 10 kafe dari Kebumen, Magelang, Purworejo, Sukoharjo, Semarang dan Yogyakarta. Yuri sendiri mengaku masih mau terus bereksperimen lewat kopi. Dia juga ingin lebih banyak membantu para petani khususnya kopi.

Impian lain Yuri, adalah tanaman kopi khas pesisir, aneka jenis kopi bisa ditanam di kawasan pantai. Dan ia tidak akan berhenti hanya di Kebumen. Yuri menargetkan pasar ekspor. Sejak 2009, dia memulai usaha, hasilnya mencengangkan contoh satu pohon usia lima tahun menghasilkan 25kg sekalinya panen.

Inovasi kopi


Kopi enak tidak harus mahal. Prinsip inilah mendorong Yuri berkreasi. Hobi eksperimen membawa dia menciptakan suatu alat unik. Yuri menyulap bambu menjadi alat penyaring kopi. Bambu dipotong lantas ia jadikan bak saringan ekspreso. Harga saringan asli ditaksir mencapai Rp.4 sampai Rp.50 juta rupiah.

Nah, kalau kopi sudah kena alat, maka harganya kopi ekspreso mencapai Rp.20 ribu- 50 ribu. Ia mencoba merubah paradigma tentang kopi ekspreso. Ia menawarkan kopi standar kafe. Proses pembuatan saringan ekspreso cukup sederhana loh. Bambu dibikin kayak gelas diberi lubang buat menyaring ampas.

Memang buat menyaring butuh waktu lima sampai sepuluh menit. Pria 37 tahun ini mengatakan hasilnya layak disandingkan ekspreso. Tetapi rasanya tidak kalah, bahkan mungkin unik dibanding kopi ekspreso standar. Pembuatan kopi macam ini sejak 2011 silam, dan dia juga menghias alat penyaring tersebut.

Ada pernak- pernik dipinggiran saringan bambu. Juga ditambahi aneka gambar dan diperhalus teksturnya. Ia menyebut agar banyak masyarakat tertarik. Satu paket kopi bambu seharga Rp.60 ribu sudah termasuk satu saset kopi Kebumen hasil tanamnya.

Sebagai mantan pengusaha muda. Yang masih tertahan menekuni bisnisnya. Ia mengaku masih saja sempat dicemooh gila. Butuh waktu dia memperkenalkan kopi bambu lewat workshopnya. Dia bahkan khusus memperkenalkan lewat komunitas. Dan mulai banyak barista Jakarta membeli kopi bambu karya Yuri.

Untuk melindungi hasil karya. Ia mendaftarkan kopi bambunya. Memang soal hak cipta menjadi masalah tersendiri. Balitbang sendiri menawarkan diri. Melakukan pendampingan agar bisnis terlindungi secara intelektual.

Senin, 28 November 2016

Kisah Tukang Angkut Ikan Menjadi Jutawan

Profil Pengusaha Jhon Nesimnasi 



Awal bisnis tidak menyenangkan. Kehidupan sebelum menjadi suplier ikan layaknya kuli. Jhon Nesimnasi, memulai menjadi pengakut ikan. Jhon sudah hidup susah sejak kecil, sudah terbiasa akan namanya kerja keras. Dia bekerja sebagai pengakut ikan.

Kuli ikan, sebelum usahanya sendiri dibuka 2002 silam, ia setiap saat ada kapal merapat akan segera berlari. Jhon akan membantu mengangkuti. Ikan dibawa ke pasar dan nanti ia mendapatkan imbalan lumayan. Lumayah loh, ia mengaku sehari bisa mengantungi Rp.100 ribu.

Meskipun begitu tidak mudah. Persaingan sesama ditambah kehidupan keluarga yang susah. Hidup adalah bekerja keras. Kedua orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah Jhon. Maka ketika pulang sekolah, Jhon kecil langsung berangkat ke pantai, mengangkut ikan- ikan membantu para nelayan bekerja.

Dimulai sejak sekolah menengah pertama atau SMP. Dia bersama kawan mulai ikut bekerja bersama. Jhon menjadi bakul ikan.

Kisah sukses


Nasib berubah ketika tempat itu dirubah menjadi pelelangan ikan. Pantai kecil tersebut sudah memiliki satu tempat khusus. Nah, karena Jhon dikenal dapat dipercaya, maka para nelayan menerima bantuannya. Ia dijadikan suplier buat nelayan menyetorkan ikan.

Ia mengatakan menghasilkan Rp.20 juta. Itu diluar biaya yang Jhon keluarkan buat anak buah loh. Ada 16 orang dipekerjakan dia. Tugas mereka membongkar ikan dan membawa ke pelelangan. Sebagai suplier dia bekerja mengumpulkan ikan hingga dipasarkan ke pasar- pasar di daerahnya, dan pengolahan ikan juga.

Setiap harinya pria 40 tahun ini bisa memasarkan sampai 10 ton ikan. Ikan dipasarkan banyak macam, dari ikan cakalang, tuna, layang, tongkol, dan kakap. Moda dikeluarkan Jhon terbilang kecil. Kepercayaan akan John membuat bisnisnya lancar. Usahanya terus berkembang lewat kemitraan bersama.

Jhon pun merasakan berkat kebaikan nelayan. Dia memberikan timbal balik. Yakni memberikan modalnya ke nelayan. Sebagai gantinya meminta dia menjadi supliernya. Para nelayan akan menjual ke Jhon buat dia pasarkan. Namun dia menggunakan harga lelang yang disepakati bersama.

Uang dibutuhkan nelayan senilai Rp.2- 7 jutaan. Utama nelayan akan memancing tuna. Lamanya lumayan sampai tujuh hari melaut. Atau bahkan mereka bisa memancing sampai sepuluh hari. Kemitraan dijalankan Jhon mampu membeli dia satu kapal sendiri. Dan dibawah naungan Jhon ada 22 kapal mitra milik nalayan.

Kondisi angin laut menjadi tantangan tersendiri. Bahkan ketika musim angin barat, dalam dua bulan dia bisa tidak mendapatkan ikan. Kalaupun nelayan bisa menangkan ikan ya terbatas. Pria asal Kupang ini dulu pernah terjerat rentenir. Dia harus membayar bunga sampai 10- 20 persen dari total uang dipinjamkan.

Hingga situasi tersebut dapat diatasi selepas 4- 5 tahun. Paling terberat adalah karena hutang Jhon tidak boleh dicici. Kewajiban membayar hutang tersebut akhirnya terbayar. Karena dia memakai uang bukan buat sembarangan. Hasil usahanya penampungan ikan, gudang seluas 8x13 meter, dimana ikan disalurkan.

Jumat, 25 November 2016

Asal Usul Pengusaha Batik Creative Batik Abstrak

Biografi Pengusaha Khaleili Nungki 



Wanita 27 tahun ini beruntung. Namun keberuntungannya tidak mudah. Berbekal pendidikan ekonomi dari Universitas Islam Indonesia, dia memilih membuat batik. Padahal dia sama sekali tidak pernah belajar membatik. Sejak kecil nih, katanya, dia bercita- cita menjadi pengusaha sukses bukan karyawan saja!

Lulusan cum laude tentu mudah mencari pekerjaan. Tetapi kecintaan akan batik kadung kian membesar. Wanita bernama lengkap Khaleili Nungki Hashifah (Nungki). Lantas merasakan dia ingin membuka usaha batik sendiri. Tahun 2012 barulah dia memutuskan membuat batik sendiri otodidak.

Nungki pernah bekerja menjadi spg, mengajar les bahasa Inggris, dan terakhir ia berjualan batik printing online. Disana kecintaan akan batik tumbuh. Dia mengaku berjualan pakaian sudah bukan hal baru. Sudah lama sejak jaman sekolah dia menjual aneka pakaian.

Ketika UNESCO mengamini bahwa batik merupakan warisan budaya asli Indonesia. Namanya menanjak dan menghasilkan miliar rupiah berkat batik.

Alkisah pengusaha


Belajar batik bukan mudah. Awalnya karya Nungki dianggap cocok menjadi ukiran. Setengah mengejek itu (batik nya) tidak laku ditempel di kain. Kegigihan terus belajar dia mengambil jalur lain. Ketika pengusaha lain condong ke batik kontemporer dia mengambil jalur batik abstrak.

Creative Batik sudah dilaunching sejak 2010. Sambil berjalan waktu dia menyempurnakan tekniknya. Dia, kelahiran 27 Juli 1989, tidak mau ketinggalan ketika batik menggeliat. Berbekal pengalaman online dia yakin mampu menjual.

Uang Rp.500 ribu dia membuka workshop kecil. Nungki membeli perlengkapan batik. Wanita yang tinggal Selokraman KG III/1069 RT 49/11 Kota Gede, Yogyakarta, dia mencoba aneka batik kontemporer hingga batik abstrak. Mencoba menciptakan keunikan dengan motif batik abstrak karyanya sendiri.

Perpaduan antara motif Jawa kuno dan abstrak. Pewarna alami adalah prinsip dipakai oleh Nungki. Teknik dia menggunakan teknik celup dan colet. Menyerap lekat dengan teknik celup dia lakukan. Kemudian dia menggunakan teknik colet buat menciptakan gradasi, terutama antara abstarak dan kontemporer miliknya.

Eskperimen Nungki menghasilkan sesuatu. Warna cerah membuat batik karyanya disenangi anak muda. Ia terus melakukan eksprimen. Mulai membuat kain batik. Karena keterbatasan bahan dia berpikir, akhirnya dia memilih menciptakan pakaian jadi, yang dibatik dia sendiri.

Bahan katun dan sutra menjadi andalan. Dia potong kain batiknya sendiri, dijahit dijadikan kemeja, blaze, dress, syal atau aksesoris. Seperti pengusaha muda lainnya dia pernah merasakan susah. Pasang surutnya karena pengadaan bahan baku terkadang seret. Itu mempengaruhi tahap produksi jadi omzetnya tidak tetap.

Bahkan dia mengaku cenderung merosot. Gadis lajang ini mencoba bertahan mengikuti ritme pebisnis muda. Hasratnya masih kuat melawan kesukaran. Namun kesabarannya diuji ketika masalah mendera itu datang. "Saya ingin anak muda itu bisa pakai batik asli," paparnya.

Bertahan berusaha


Kegigihan dia terbayar kesuksesan mendatang. Tahun 2012 menjadi tahun tersulit baginya. Memasuki ke 2013, keadaan mulai membaik bagi Creative Batik, bisnisnya mulai membaik. Omzet bertahap mulai lah naik kembali ke posisi semula. Dia kemudian merekrut 15 orang memproduksi 150 pcs per- bulannya.

Dia memadukan antara marketing offline- online. Untuk itu dia mengikuti aneka pameran nasional. Dia juga menjajakan bisnisnya di blog. Lewat www.batikabstrakkontemporer.blogspot.com, Creative Batik menelisik memasuki pasar internasional pula. Produk miliknya dipamerkan di Amerika, Suriname, dan Filipina.

Galeri di Yogyakarta dan Jakarta menjadi pelanggan tetap. Omzet nya mencapai Rp.13 juta per- bulannya waktu itu. Kini, dia minimal menghasilkan Rp.50 juta, dan bahkan bisa sampai Rp.100 juta. Nungki makin bersemangat memperluas ragam batik. Termasuk menambah lini pemasaran agar tetap berekspansi lagi.

Dia meningkatkan kualitas produk. Juga dalam hal pengemasan barang serta pengiriman. Konsultan desain juga dipanggil agar konsumen puas. Ada garansi produk ditambah diskon agar tidak monoton. Keinginan menambah luas workshop. Juga menambah kapasitas produksi tidak dipungkiri begitu menggeliat.

Keinginan membuktikan batik bukan buat orang tua (saja). Keinginan ini menambah gelora dalam benak seorang Nungki.

Dia berkisah ayahnya adalah pembatik. Lebih tepatnya mengukir kayu bak batik. Disanalah desain batik ia miliki tumbuh. Dipadunkan desain pakem yang sudah ada. Kegigihan buat memperkenalkan batik khas miliknya sendiri. Dia mulai memasarkan online dulu. Begitu percaya diri, dia menawarkan ke toko- toko.

Proses batik tradisional memang sulit. Pantas lah kalau harga dijual Nungki lumayan. Tetapi setara dengan proses pembuatan yang sampai memakan minimal satu minggu. Sentuhan gradasi, warna, hingga desainya begitu menarik. Motif dan warna benar berkualitas menempel pada kain buatan Creative Batik.

Rabu, 23 November 2016

Membuat Bubur Sop Arang Enak

Profil Pengusaha Muhammad Farid



Namanya tidak begitu populer. Justru ditangan Muhammad Farid. Makanan ini kemudian naik daun karena ke khasannya. Inilah kisah Farid, sang pengusaha muda, pebisnis kuliner yang bernama bubur sop arang. Makanan perpaduan antara Palembang dan Arab, bubur gurih belum banyak diketahui orang.

Justru makanan tidak terkenal. Malah membawa nama Farid sampai diliput Viva.co.id. Pemuda tampan ini bercerita tentang petualangan mencari bisnis. Sampai dia menemukan bahwa makanan kesukaanya langka. Bubur sop arang susah didapatkan kecuali ada pernikahan. Itupun pernikahan orang keturunan Arab saja.

Dia sering mencari tetapi susah. Hampir tidak dapat. Hobi makan membawa dia ke ide bisnis. Kesimpulan gampanya: Karena dia suka dan belum ada penjualnya. Usaha pertama tersebut bermodal Rp.150 ribu. Dia menyebut sisa hasil gaji bulan sebelumnya.

Disamping berbisnis terselip pesan moril. Keinginan melestarikan makanan khas Palembang. Jadilah dia lebih bersemangat mengembangkan usaha. 

Menurutnya orang Palembang sudah mulai jarang. Lebih suka menikmati makanan cepat saji. Padahal menurut Farid rasa bubut sop arang lebih "ajib" dibandingkan semua. Sulit memang jadinya mengenalkan makanan tersebut. Kesulitan bukan halangan buat menjalankan kewirausahaan!

Dalam tiga pekan, berkat kegigihan Farid mengantungi Rp.2,5 juta. Dia menceritakan bagaimana cuacanya terkadang menantang. Tidak bersahabat. Hingga dia terpaksa mengantarkan pesanan pakai motor. Karena kemasan ala- kadar maka rusak lah. "Suka dukanya banyak, terutama soal destribusi," paparnya.

Dia menerapkan bisnis layanan antar. Menjemput pelanggan sendiri langsung. Kalau pelanggan jauh yah lumayan susah ya. Farid mengatakan pembuatan bubur memang mudah. Namun, khasnya, justru terletak pada aneka macam rempah khas Palembang. Dicampur kaldu ayam, kapulaga, cengkeh, dan beras.

Semua bumbu ditumis sampai harum. Lantas tambahkan parutan kelapa. Semua bahan digongseng. Jadilah usaha andalan Farid. Kini, halangan rintangan terbayar, bisnis miliknya dikenal masyarakat. Namanya Bubur Sop Arang -Arang kepanjangan dari Arab Palembang-, yang omzetnya mencapai Rp.10 jutaan.

Senin, 21 November 2016

Pirton Hutagalung Anak Pengusaha Metromini

Profil Pengusaha Metromini Kaya  


 
Tidak mudah bagi Pirton Roul Hutagalung merantau. Apalagi dia harus memulai semua dari nol. Dia tau bagaimana rasanya kesusahan. Bermula dari bisnis sang ayah, Mangaradja Haolanan Hutagalung, hanyalah seorang petani karet. Merintis bisnis agrari kecilan sampai lahan didapat semakin luas.

Namun sang ayah lantas menyadari bisnisnya kurang menjanjikan. Ayah Pirton sendiri merupkan orang kepercayaan Jendral Maraden Panggabean dan TB. Simatupang, lantas memilih pergi ke Jakarta. Disana meski punya kenalan dia tetap bekerja keras!

Ia berusaha jualan toko kelontong kecil. Di sebuah gang kecil, kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, yang mana Pirton selalu terkenang kegigihan ayah. Toko tersebut dinamakan Toko Sandang Pangan, dimulai sejak tahun 1957.

Berubah haluan bisnis


Insting ayah Pirton mulai terasah. Ketika ada kesempatan dia langsung belok. Arah bisnisnya kemudian ke bisnis transportasi. Keberuntungan mulai hinggap. Tahun 1962, Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin tengah mencari sosok mengurusi usaha bus Ikarus, dalam rangka mensukseskan Asian Games IV di Jakarta.

Sang ayah mengelola usaha tersebut. Bisnis yang kemudian diberi nama CV. Kawan & Co. Bisnis Ikarus tumbuh pesat. Dia lantas dipercayai lebih. Dia dititipi pengelolaan angkutan umum kota "metromini". Bisnis kecil merah tersebut merupakan pasrahan Bus Robur khasnya Jerman Timur, oleh Gubernur Henk Tuang.

Alasan utama kenapa ayah Pirton kebagian. Bahwa BUMN, pada 1969, tidak mampu mengelola unit yang begitu banyak usai pesta olah raga GANEFO. Didirikan lah perusahaan atas nama PT. Arion Paramita. Ia mampu meningkatkan kesukses dan melakukan difersivikasi bisnis ke macam bisnis lainnya.

Usaha dijalankan meliputi properti, hotel, travel dan industri. Aset perusahaan Arion Mal, Hotel Arion Swiss -belhotel Jakarta dan Bandung, Hotel Citra Cikopo, dan Grand Maharaja Ballroom. Dimana ada 18 buah perusahaan dibawa kerajaan bisnis mereka, menaungi 1.000 orang karyawan.

Adapula 150 armada bus Arion, dibawah naungan Arion Permata Group, digunakan untuk membantu antar jemput maskapai Singapore Airline dan Japan Airline.

Kisah sukses tersebut lantas dilanjutkan Pirton. Bersama tiga saudara lainnya bahu- membahu agar tidak jatuh. Tidak mudah mereka memperluas bisnis keluarga. Namanya bisnis keluarga harulah kompak loh. Ia bersama tiga saudaranya mengikuti filosofi ayah, "memeras botol sampai setetes dua tetes air.

Ikhtiar dan doa dipanjatkan. Ketiganya bersama sang ibu, MD Hutagalung, bersama membangun bisnis atas dasar kebersamaan.

Ambisi Buruh Ilegal di Suburnya Bisnis Jamur Thailand

Profil Pengusaha Than Wai Aung 



Ia berkata, "saya tidak pernah mau menjadi pegawai siapapun." Kisah seorang imigran asal Burma yang kini tinggalnya di Thailand. Pendatang asal Vietnam tersebut terjebak. Dalam rutinitas bekerja menjadi buruh di negara lain. Setelah mendapatkan pelatihan pria 44 ini menjadi pegawai kontruksi sebuah perusahaan.

Than Wai Aung menghabiskan waktu selama hampir 16 tahun -semenjak pindah ke Bangkok, Thailand. Dia juga bekerja tidak cuma membangun perumahaan di Bangkok, termasuk membangun beberapa properti di kawasan North.

Hingga tiga tahun berselang, Than lantas mengunjungi sebuah provinisi, yakni Ratchaburi, sebuah provinsi perbatasan Thailand. Disana dia menemukan sebuah kegiatan menarik hati. Warga sekitar asik menanam jamur untuk bertahan hidup. Dorongan membawa Than menetap di kawasan tersebut, tidak bekerja lagi.

Bekerja konstruksi menurutnya sangat berat. Sementara membudidaya jamur dianggapnya asik. Karena ia mengatakan suka alam. Kecintaan akan alam inilah dia bertahan. Justru ketika passion -nya menemukan jalannya. Ternyata pasaran Ratchaburi justru tidak mampu menampung bisnis budidayanya.

Terlalu bersemangat hingga jamurnya banyak rusak. Tidak mau jamurnya rusak, akhirnya dia memutuskan kembali ke Kota Bangkok.

Bisnis alami


Pertama kali menginjakan kaki di Thailand. Dia tidak bisa berbicara bahasa lokal. Tidak pula mampu bicara bahasa Inggris sempurna. "Itu sangatlah susah," kenang Than. Mencari pekerjaan juga semakin susah. Dia cuma bekerja menjadi pekerja konstruksi. Karena tidak punya surat ijin jadilah dia terkadang ditangkap.

Dari bekerja menjadi buruh konstruksi, Than hanya menghasilkan antara 200 hingga 300 bath -atau di sekitaran $6- 9 per- harinya. Pandangan tentang jamur juga sudah ada. Ketika dia bekerja menjadi buruh konstruksi dia merasa kenapa tidak ditanam. "Kenapa tidak membudidaya itu?"

Pikiran lain, ya, tidak ada satupun teman melakukan hal sama. Dia merasa inilah pekerja utamanya. Dulu, pernah dia bekerja menjadi di perusahaan farmasi Vietnam, angan- angan Than memang sudah menjelajah mau menjadi boss buat dirinya sendiri.

"Dan ketika saya datang ke Thailand, saya tau saya tidak akan pernah kaya bekerja dengan orang lain," ia menambahkan, inilah mimpi besarnya.

Bicara mengenai Vietnam tidak ada masa depan. Dan ketika kamu berbicara buruk tentang militer. Kamu akan ditangkap. Oleh karenanya dia datang ke mari (Thailand). Dia berkata di Vietnam perasaan takutnya sampai 24 jam. Kamu tidak boleh asal ngomong. Sangatlah susah hidup dibalik ketakutan di sana dulu.

Hingga dia datang dan menetap di Ratchaburi, di Barat Thailand, yang mana berjarak dekat dengan garis perbatasan antar dua negara. Berbipikir mengenai bisnis jamur. Awalnya tidak berjalan seperti dia akan bayangkan. Tidak ada seseorang mengajarinya menanam dan memanen jamur, dia belajar otodidak loh.

Dia pernah nih menaruh terlalu banyak air. Alhasil media tanamnya, kantung- kantung baglog, miliknya malah membusuk dan bibit jamur tidak tumbuh. Namun perjalanan waktu hasilnya ternyata menggiurkan. Apalagi pertumbuhan Thailand menaik. Oleh karena itu, banyak orang Vietnam menyusup masuk ilegal.

Disisi lain, ada keburukan disana, banyak perusahaan konstruksi mempekerjakan imigran gelap. Mereka mau dibayar murah karena tidak punya surat. Mangkanya kisah Than termasuk sangat langka. Dia bahkan mampu menjual tinggi ke Thailand. Dia beralih menjadi pengusaha jamur menghasilkan lebih banyak uang.

Bisnis sederhana


Dia menyewa tempat di dekat kota Thailand. Dimana tempat itu dikenal kering, diantara kolam ikan lah dia mendirikan gubug kecil. Biaya sewanya lumayan kecil yakni $16- $32. Karena letaknya dekat Bangkok ia merasa cukup buat memasarkan hasil panennya.

Than juga niat mengikuti pelatihan dari International Labor Organization (ILO), yang menjalankan sebuah program bernama Community Based Enterprise Development (C-Bed), mana tujuannya memberikan dukungan kepada pengusaha kecil kemudian saling berbagi pengalaman.

Ketika awal berbisnis dia buta. Kalau untung uangnya pasti dihabiskan. Lewat pelatihan dia mulai membagi buat disimpan. Sebagian lagi dijadikan modal kembali. Dia memperhitungkan berapa bibit dibutuhkan buat menghasilkan untung. Menghitung berapa kilo dia beproduksi nanti. Berapa banyak jamur dia menjual dan simpan.

Dia kembali ke tempatnya. Mulai mengamati setiap baglog berisi bibit. Rak- rak kayu menampung hasil jerih payah Than. Rajin membersihkan jamur agar akarnya bebas spora. Dia mulai memanen, menimbang, kemudian dia akan mengantar ke tempat distribusi lewat motor, dimana di sana masih dibawah konstruksi.

Pembeli utama Than kebanyakan juga para buruh Burma. "Saya mau menjadi orang kaya -cukup kaya buat membeli mobil. Melalukan apapun yang saya mau lakukan -tanpa kamu takut menjadi melarat," ia berujar.

Sakarang dia bisa menjual apapun dia budidayakan. Than sudah memiliki perlengkapan. Cuma masalahnya dia belum memiliki lahan. Dia butuh lahan lebih luas dan sedang mencari. Than juga bisa jualan baglog ke orang- orang. Ini lebih menambah pendapatan Than. Meski efeknya nanti akan banyak kompetitior, ia tidak takut.

"Saya suka bekerja keras untuk bisnis saya," jelasnya. Dalam sebulan dia menghasilkan omzet sampai 20 ribu bath!

Jika dulu dia menawarkan diri: Sekarang distributor datang sendiri mengunjungi kebunnya. Dia memiliki ide mengurangi harga, tetapi justru dia mengurangi waktu dan biaya, dimana dia menggunakan biaya buat bahan bakar motor. Dia awalnya bekerja tanpa tujuan. Kapanpun dia dapat untung langsung dipakainya!

Untuk memperluas bisnisnya, dia mempekerjakan beberapa pegawai, yang ternyata juga imigran Burma. Ia punya tujuan memperluas produksi. Dia ingin mencapai 70- 80kg per- hari. Pelatihan kewirausahaan telah memberinya pengetahuan soal memperluas bisnis.

"Saya bisa melihat dalam dua sampai tiga tahunan saya akan menjadi entrepreneur (sejati)," tutup.

Sabtu, 19 November 2016

Jual Sandal Japit Premium Anne Merambah Fasion

Profil Pengusaha Anne Arcenas Gonzales 



Dia bersama sang suami memulai bisnis nol. Sebelum menjadi distributor resminya brand Havaianas pada 2003 di Filipina, keduanya, Anne Arcenas- Gonzales dan suaminya, Freddy, hanya berbekal kamar tidur di rumah mereka sendiri. Tak satupun percaya bahwa mereka menjual jutaan pasang tiga tahun kemudian.

Menurut majalah Entrepreneur Filipina, keduanya mengimpor sampai 2 juta pasang. Keduanya cuma mau mendapatkan barang bagus. Bersama mereka mendirikan perusahaan bernama Terry S.A, Inc. "Karena kami sangatlah amatiran, kami tidak menyadari bahwa akan memakan waktu kami (sangat sibuk)," paparnya.

Harapan mereka tidak akan sebesar ini. Tetapi mereka mampu membangun seluruh perusahaan, dan yang awalnya cuma berkantor di kamar tidur. Meskipun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan. Ia memulai dengan mengimpor lewat menja distibutor perantara kecil.

Mereka kemudian menjual sandal Havaianas. Mereka menjual bersaing ke toko fasion, dari Aura Athletic sampai Rustan's Department Store. Perusahaan utaaa Havaianas, Alpargatas S. A, memang memfokus buat menjual melalui distributor kecil di penjuru dunia.

Kesempatan besar


Dan ketika Anne berhasil menjual seluruh stok mereka. Dimana cuma butuh waktu satu setengah tahun. Ia langsung bertekat memperbesar bisnisnya. Ada masanya ketika ia berpikir "Apa saya benar mau membuat ini ke level selanjutnya?" Semuanya berjalan lancar tapi apakah akan berjalan lebih lanjutnya.

Perasaan bercampur antara keyakinan dan keraguan. Mereka merasakan jalannya saling bersinggungan. Sang ayah keduanya, mengingatkan bahwa apa mereka akan pertaruhkan adalah uang. Mereka membuat bisnis tersebut sebagai startup, bukan menarget jutaan atau miliaran uang.

Adanya kesempatan itulah yang mereka incar. Bukan berlebihan menarget sesuatu kira- kira begitu. Anne dan Freddy membuka kartu kredit dan bekerja sama dengan Jon Syjuco, yang merupakan juga patner toko fasion Aura Athletica -yang kemudian dibeli oleh perusahaan Anne, Terry S.A.

Tidak kesempatan lain untuk tumbuh. Kemudian Terry S.A., pada 2005, membuka toko pertama khusus menjual sandal Havaianas, di Glorietta, Makati City, dimana sudah ada 38 cabang sekarang ini. Pada 2009 mereka memenangkan hak distribusi resmi Havaianas di Malaysia dan Singapura juga.

"Saya tidak berpikir (Alpargatas) menyadari bahwa kami akan menjadi negera utama mereka, konsisten setiap tahun, dan menjadi negera utama mereka (dalam hal jumlah penjualan)," terang Anne.

Apa penyebab sandal premium ini begitu digandrungi. Mereka mengadakan event berjudul "Make Your Own Havaianas", terbatas lokalan kecil tetapi konsisten terus dijalankan. Hingga banyak selebriti mulai melirik brand mereka. Mereka menjadi fans, disana dan memakainya, yang mana juga membantu brand.

Salah satunya ada selebriti Filipina bernama Pia Magalona -dimana banyak ibu muda yang mengefans dia, akhirnya ikutan mengoleksi sandal Anne. Mereka membentuk kelompok bernama Havaianaticos, yang menggemari produk mereka, yang mana diikat dalam bentuk tema pertemanan.

Kekuatan Havainas adalah kemampuan global. Tumbuh sangat cepat secepat mungkin, menguasai pasaran cepat secepat mungkin. Utamanya memanfaatkan selebriti lokal agar menaikan pamor. Kemudian mulai lah menyulam kampanye luas. Inilah cara ampuh bagi brand baru menjajaki pasaran dimanapun.

Kisah sukses Havainas merupakan kisah sukses brand baru. Dimana formula utama digunakan kita adalah sebuah dedikasi, presisten, dan berkomitmen membentuk grup orang. Yang mana akan membuat inovasi produk tulus berasal dari pelanggan kita.

Terry S.A menjual Havainas bersama brand- brand lainnya, termasuk bisnis clothing karya mereka sendiri, yang diberi nama Thread 365, dijual melalui toko multi- brand milik mereka CommonThread, dimana sudah membuka di Malaysia, Singapura, dan Filipina pada 2003 silam.

Anne masih tidak bisa tidur awal -nampaknya sekarang karena memiliki lebih dari 500 orang karyawan- dan dia menerima ketidak nyamanan itu. "Kegelisahan adalah tandanya kamu khawatir," Anne menurutkan. Ketika kamu mau melakukan sesuatu terbaik, tetapi merasa sangat percaya diri, maka disanalah akan jatuh.

Rasa gelisah berbeda dari ketakutan akan kompetitor. Tetapi lebih ke bagaimana menjalankan bisnis lebih baik. Kualitas produk Anne pikirkan matang. Dia percaya bahwa pasar bisnis ini besar. Cukup besar buat kompetitor dan dia bersaing sehat. Bukan masalah terlalu optimis dan mengacuhkan kompetitor.

"Kami masih disini," jelasnya. Menjelaskan bahwa produk Anne bagus. Memiliki brand bagus yang mampu mendukung penjualan. "...dan sangat fokus ke senjata kami tersebut."

Kamis, 17 November 2016

Susahnya Menjadi Pengusaha Kentang Goreng

Profil Pengusaha Robby Widjaya 



Pepatah mengatakan kegagalan awal kesuksesan. Inilah kisah Robby Widjaya. Pengusaha sukses yang satu ini begitu sangat bersemangat. Padahal sekitar lima tahunan lalu, dia sudah hidup nyaman menjadi salah satu pemasok aneka perlengkapan farmasi. Sampai nekad membuka usaha bersama empat kawannya.

Dia bersama kawan pengen membuka usaha gampang. Bikinnya mudah dibanding bisnis lain. Lalu mereka menemukan bisnis kentang goreng. Untuk membuat berbeda tidak memakai saus sambal. Ia memilih buat meracik bumbu sendiri ditambah mayonais, mak nyus.

Aneka rasan toping mengejutkan. Ayah seorang anak yang idenya dadakan. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggiurkan. Pada 8 Desember 2005, resmi lah nama bisnis mereka, yaitu K- Patats menjadi merek dagang mereka. Adapun abjad K pada namanya berarti kepanjangan "King" atau raja.

Bisnis tidak gampang


Sementara Patat merupakan bahasa Belanda -bukan berarti jorok loh. Artinya tidak lain yah kentang, atau jika digabungkan maka namanya Raja Kentang. Ia ingin menciptakan sesuatu yang baru dalam tren bisnis kentang goreng kita.

Bisnis ternyata tidak semudah diucapkan. Awal dia bermimpi bisnis miliknya akan menjadi raja. Lalu dia malah mengalami kerugian. Tiga bulan pertama omzet penjualan dibawah Rp.100 ribu. Satu gerai miliknya sepi pembeli. Gerai di Pasar Atum tersebut ternyata dibiyaai patungan, bahkan sampai nilai puluhan juta.

Masa sulit membutuhkan komitmen bersama. Semangat teman Robby ternyata tidak sehabat itu. Bentuk komitmen tidak mampu membendung rasa putus asa. Bisnis mereka dianggap tidak prospektif. Sementara Robby masih ingin melanjutkan K- Patats. Beberapa masih bertahan bersama Robby memilih tetap jalan.

Bendera bisnis mereka harus tetap jalan. Aneka promosi makin gencar dilakukan. Sekitar gerai mereka mulai mempromosikan manfaat kentang. Mengenyangkan tidak menggemukan. Bulan empat bisnis milik mereka mulai naik cepat. Pertumbuhan bahkan mencapai tidak cuma puluhan tetapi ratusan persen.

Komitmen menurut Robby merupakan kunci. Komitmen bisni seseorang akan bisnisnya berbeda. Makin kamu berkomitmen maka akan ada jalan. Inilah perbedaan antara orang berwirausaha mengikuti trend dan mereka yang berhasrat menjadi wirausaha sebenarnya.

Hasilnya dapat dilihat, ketika pertengahan 2006 -an, dia mengingat orang mengantri baik remaja ataupun dewasa buat membeli kentang goreng saja. Anak- anak juga suka kentang goreng mereka. Bahkan antrean satu orang bisa menunggu sampai dua jam. Pelanggan mencapai 80 orang mengular menunggu pesanan mereka.

Sukses bisnis Patats tidak membuat puas. Mereka lantas menerapkan sistem inden. Maksudnya orang bisa memesan, dibayar dimuka, kemudian bisa ditinggal buat belanja dulu. Untuk mengakali mereka lantas memugar agar tempat menjadi lebih luas.

Peralatan diperbanyak untuk menangani pembeli membludak. Lebih cepat memasak tetapi tidak merusak kualitas rasa. Ia juga menambah jumlah pegawai mereka. Setelah masuk September, mereka lantas mulai menawarkan sistem franchise, dimana mereka menemukan mitra pertama yang mau mendukung dua gerai.

Dua gerai di Tanjung Delta Plaza dan Royal Plaza, dibuka bersamaan. Gerai mereka bahkan sampai ke kota lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Solo, Malang, dan Semarang. Di luar Jawa ada di Manado dan Makassar sampai ke Jayapura, bisnis kentang aneka saus miliknya makin mantap.

Bahkan sampai di Tanjung Selor, yang pengiriman bahannya sulit, dia tetap menerima tantangan tersebut karena komitmen. Membesarkan bisnis sudah pernah dirasakan sulit. Banyak tantangan ditanggapi penuh kepercayaan diri. Penyemangat utamanya adalah komitmen berbisnis agar sukses besar.

Dua tahun sudah bisnsi Robby eksis. Karena daerah pengiriman ada yang sulit. Harga Patats pun melonjak sampai dua kali. Namun justru karena medannya sulit, maka tidak ada perasaingan berarti di sana. Langkah selanjutnya dia ingin membuka bisnis sampai Malaysia dan Singapura juga.

Biografi Mekarsari Ida Widyastuti Pebisnis Camilan

Profil Pengusaha Camilan Sidoarjo


 
Keterbatasan memaksa orang menjadi pengusaha. Kisah klasik yang masih relevan sampai sekarang. Inilah kisah Ida Widyastuti. Pengusaha asal Demak ini sudah merasakan pahit hidup lengkap. Wanita kelahiran 30 Oktober 1974, begitu lahir, pahit menarima kenyataan ibunya meninggal ketika dia dilahirkan.

Sekeluarga hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah begitu, Ida kecil mendapat cemooh anak- anak lainnya, karena Ida tidak punya ibu. Memasuki masa SMP, nenek dari bapak meninggal, Mbah Suripah merupakan sosok pengganti sang ibu, mulai merawat, mengasuh, dan membesarkan.

Untuk mencapai pendidikan tingkat lanjut. Ia tinggal bersama Bude Mustaqarah, kakak ibunya ini memberi ruang baginya berpendidikan. Selepas lulus SMA Muhammadiyah 1 Jombang, tekadnya memasuki dunia perkuliahan tetapi tidak punya biaya.

Hidup pekerja keras


Dia kemudian menjadi karyawan di Batam. Mencoba bertahan hidup di perantauan. Sudah lima tahun dia bekerja di perusahaan Jepang dan mendapat gaji tetap. Kepahitan Ide tidak berakhir meski sudah nampak berkecukupan. Karena menjadi pegawai gaji Ida tidak banyak!

Sambil bekerja ia memutuskan berbisnis. Caranya, ketika jam istirahat, dia akan segera membuka lapak di ruangan dekat toilet perusahaan. Barangnya lantas dipasok dari Yogyakarta. Bisnis sampingan tersebut sudah dibilang lumayan. Sambil berjualan Ida mengasah strategi marketingnya lewat teman sekantor.

Keinginan penuh menjadi pengusaha memanggil. Hingga dia menikah dengan Harris Setiawan, yang lalu mengajaknya pindah ke Surabaya. Disela merawat anak dia kemudian berjualan kembali. Jualan emping melinjo ke Pasar Gedangan, Sidoarjo, tahun 2001 -an.

Inspirasinya dari saudara yang memproduksi keripik melinjo. Memang hasrat menjadi pengusaha tidak bisa ditahan. Ida membuktikan selama fakum. Selama tidak berjualan apapun. Dia merasakan kebosanan yang sangat. Apalagi dia harus pindah- pindah mengikuti sang suami, yang bekerja di Astra.

Dia berjualan menjajakan emping melinjo. Lelah dirasakan Ida keluar masuk toko oleh- oleh. "Hasilnya pas- pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari," paparnya. Harga murah lantas dipakai Ida. Hasilnya meningkatkan omzet usaha. Kemudian mulai banyak orang datang mengambil dagangan emping ke Ida.

Harris lantas ikutan nimbrung berbisnis. Hingga ujungnya mengundurkan diri. Ia melihat kerepotan sang istri ditambah semangat berbisnis. Selain itu prospek bisnis makanan khas Jawa Timuran nampak mulai menjanjikan. Tidak cuma emping melinjo, Ida mulai merambah bisnis lain untuk mendongkrak omzet.

Bisnis jajanan


Sementara Harris membawakan berbuntal emping. Ida akan sibuk menawarkan barang. Tahun 2003, bisnis yang bernama Emping Kawanku, mulai menujukan geliat luar biasa. Ida sudah berhasil menguasai pasaran Malang dan Probolinggo. Karena murah ya sampai jualannya menjalar ke Kalimantan.

Ida fokus menggarap bisnis camilan. Lainnya dia mengembangkan camilan keripik pisang. Untuk satu ini, awalnya dia bergeriliya dulu, mengunjungi pemasok cemilan se- Jakarta dan Jawa Barat. Kerja sama dia buat untuk menjajakan produksinya.

"...kami ditolak olehs suplier karena mayoritas pemain lama," kenang Ida. Namun justru semangatnya makin menggebu.

Ia memutuskan tidak bekerja sama dengan suplier. Justru turun lebih ke dalam lewat produsen langsung. Ia belajar sampai ke Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis, dan Cirebon. Ida memang orangnya begitu telaten. Setiap apa tujuannya ditekuni meski halangan menghadang.

Berawal pemikiran iseng, dimana tempat asalnya keripik melinjo laris manis, kini dia menjajakan tidak cuma di tempat tinggalnya tetapi sampai ke luar pulau. Awal jualan keripik melinjo dia membeli basah. Dari produsennya di Demak, kemudian dia menggorengkan sendiri dengan bumbu sendiri.

Awalnya dia sempat ditolak karena harga mahal. Terlalu mahal buat bisnis lokal kawasan Gedangan. Selalu konsisten dan berupaya keras. Sambil menggendong putranya bernama Nabil Hilmi Dafa, dia menjajakan bisnisnya hingga akhirnya menemukan beberapa pembeli.

Pemasok emping begitu mengenal Ida. Dia lantas dijuluki Ida Bakul Emping. Merambah bisnis lain, dia mengajak orang lain dalam bisnisnya. Dia mengajak industri rumahan lain buat memasakan sesuai resep. Masalah muncul ketika dia terlalu bernafsu merambah bisnis cemilan lainnya.

Tabungan mereka sempat hampir ludes karena salah perhitungan. Bantuan sang suami banyak membantu, alumnus Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ikut membantu berbisnis kembali. Padahal kalau orang awam liat Ida berjualan emping saja sudah cukup sangat menghasilkan.

Namun isting pengusaha Ida sudah terlanjur terasah. Hasrat kewirausahaan Ida juga semakin bergairah. Dia tidak cuma mengejar uang. Tahun 2005, bisnisnya ingin lebih, bisnis aneka cemilan tersebut lantas dia namai dari Kawanku menjadi Mekarsari. Inspirasi bunga yang mekar layaknya harapan akan bisnisnya.

Camilan sukses


Ia membutuhkan waktu dua tahun. Aneka kegiatan UKM disambangi Ida. Tujuannya agar ambisis menjadi pengusaha aneka camilan terlaksana. Inilah kenapa dia siap menggelontorkan uang Rp.50 juta. Uangnya dipakai membiayai perajin camilan dibawah asuhan bisnis UD. Roemah Snack Mekarsari tersebut.

Jumlah besar ditambah kualitas rasa. Kelamaan sampai menembus ke Bali loh. Melihat pasokan pisang yang melimpah di Trenggalek, dia berminat membuat bisnis pisang. Kebetulan menurutnya pisang tanduk mereka unik, karena besar- besar, dan rasanya manis.

Dua pabriknya di Trenggalek dan Sidoarjo, selalu mengolah tujuh ton setiap harinya. Bisnis keripik pisang miliknya diperkuat kerja sama 250 mitra petani. Tahun 2009, dia membuka gerai di Pondok Jati, Sidoarjo, dimana ribuan orang pasti berkunjung ke sana, yang bukannya sampai 24 jam sepanjang waktu.

Cabang lain ada di Krian, Sidoarjo, Denpasar, dan Bali. Hobinya traveling merambah menjadi bisnis baru. Yang mana diluar bisnis camilan. Dia membuka bisnis agen tour. Kemudian juga membuka agen ekspedisi sendiri. Pokoknya dia menjelma menjadi pengusaha besar berkaryawan 160 orang.

Meski begitu bisnis tidak selamanya untung. Contohnya dia pernah diajak bekerja sama bisnis vanili. Dia rugi ratusan juta. Cuma mendapatkan bisnis tidak berprospek. Uangnya sisa Rp.50 juta dan sisa vanili yang mencapai angka Rp.43 juta, sisanya rekan kerjanya bawa kabur entah kemana.

Ia menggandeng banyak UKM. Prinsipnya amanah karena dia sendiri pernah ditipu. Total 50 UKM sudah bekerja sama. Kemudian ada petani pisang sampai 200 orang memasok. Karena memperdayakan bisnisnya petani pisang, dia mendapatkan penghargaan Green Entrepreneur dari Wirausaha Mandiri.

Bisnis keripik pisang mulai tahun 2004. Potensinya besar berbisnis keripik pisang. Sejak awal bisnisnya dimulai modalnya Rp.600 ribu, tetapi perjalannya banyak keringat dan tangis. Bisnis pisangnya bernama Omah Pisang Bananos. Keistimewaan bisnisnya adalah menggunakan bahan alami semuanya.

Harum bau pisang asli terasa. Membuktikan bahwa pisangnya banyak. Keripik pisang berbagai rasa harga terjangkau diminati segala kalangan. Kini, dia bahkan memproduksi buat dijual ke manca negara. Ekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Qatar rajin memesan.

Sukses keripik adapula opak pisang. Semua dikemas layaknya perusahaan makanan ringan besar. Dia selalu siap mencari cara memenuhi permintaan pasar.

Bisnis inspirasi


Tiga tahun berdiam diri karena tidak bekerja. Kemudian lahir seorang anak menjadi jalan. Ida tidak mau lagi hanya diam. Semangat kewirausahaan didukung keberuntungan. Dia kebetulan berkunjung ke kerabat di Demak. Disana dia melihat kerabatnya tengah asik berbisnis kecil- kecilan keripik melinjo.

Perjalanan Demak ke Sidoarjo, Ida lantas berpikir untuk membawa usaha tersebut pulang. Tahun 2001 dia mulai menjajakan emping melinjo. Pernah ditipu teman suami yang menawarkan kerja sama. Uang modal yang semula Rp.600 ribu berkembang menjadi Rp.500 juta, kemudian ditipu sampai habis Rp.300 jutaan.

Tiga bulan dirinya meratapi nasib ditipu. Namun kecintaan akan kewirausahaan membawa dia bangkit. Lalu dia berbisnis kembali. Dorongan sang suami berperan besar dalam masanya. Kebangkitan juga didorong oleh kawan- kawan Harris. Mereka ikut mensuport memasarkan bisnisnya kembali.

"Saya berasal dari kebaikan kawan- kawan Mas Harris yang turut membantu permodalan," kenang Ida. Maka dibalik pernah ditipu kawan sendiri. Kini Ida malah dibantu kawan- kawannya lain. Jangan berhenti percaya ketika kamu pernah tertipu orang.

Perempuan memang punya banyak keterbatasan. Ini ditutupi sang suami yang akhirnya ikut berbisnis. Dia bertekat membantu sang istri. Hingga bisnis mereka meledak sampai sekarang. Kenapa Ida memilih buat ekspansi ternyata ada alasan lain, tidak cuma sekedar hasrat berwirausaha saja loh, teman.

Dia mengevaluasi bisnis emping melinjonya. Kelemahan utama bisnisnya adalah kesadaran masyarakat akan efek bagi kesehatan. Melinjo memang dikenal memberi efek samping kesehatan. Dari dulu berbisnis camilan curah, kini, fokusnya mencari pemasok camilan!

Tidak kurang 200 jenis camilan. Dia mengirim satu truk ke Bali setiap minggu, Mataram dua truk, lalu ke Kalimantan sekitar 28 boks, Jawa Tengah satu truk, dan Jakarta satu truk juga. Itu saja masih belum bisa memenuhi kebutuhan karena banyak sekali permintaan.

Minggu, 13 November 2016

Raja Sapta Oktohari Pengusaha Promotor Tinju

Biografi Pengusaha Ketua HIPMI 


 
Pria punya selera. Bisnis miliknya telah menjangkau adrenalin kelakian. Raja Sapta Oktahari bukan lah pengusaha muda biasa. Dikenal sebagai pebisnis promotor, dikenal pula ketua umum Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), seorang petualang yang menyalurkan adrenalinnya ke bisnis ditekuni.

Mulai menjadi promotor tinju, Formula Asia Drift, kemudian mendatangkan Justin Bieber -yang penuh akan kontroversi-, ataupun mendatangkan David Foster. Tidak cuma mempromotori termasuk menambang dan bisnis penyewaan jet. Penggagas gerakan Bike to Work Kalimantan ini memang pria sejati.

Dia adalah komosaris OSO Group. Berkisah masa SMA dijalaninya dengan bersusah. Dia mulai berbisnis jualan pakaian bersama teman sekolah ke Tanah Abang. Mangkanya sepulang sekolah, di rumah, dia akan menenteng banyak kantung kresek berisi pakaian.

"Jualan pakaian itulah, usaha saya yang pertama," tuturnya kepada Viva.co.id

Belajar berbisnis menurutnya cukup mengalir. Orang tua tidak mengajarinya khusus. Tidak cuma berhenti berbisnis, dia juga disibukan kegiatan OSIS, jadi yah, Okta jarang sekali berada di rumah.

Dari berorganisasi membuatnya lebih percaya diri. Pengalaman berorganisasi dibawa sampai ke Amerika Serikat. Ketika berkuliah di Oklahoma dipercayai menjadi Wakil Ketua Perimpunan Mahasiswa Indonesia -Amerika Serikat (Permias).

Bisnis sejak muda


Dia bangga karena dia adalah perpaduan terbaik. Antara ayah dan ibunya, dimana ayah memberi Okta dalam hal kedisplinan. Dia juga mengingatkan bahwa hidup berlajar dari pengalaman. Jujur Okta sering sekali berontak bahwa kenapa begini, kenapa begitu, akhirnya dia merasakan ada benarnya.

Lingkungan mendorong pola pikirnya. Ketika SMP, ia mengadakan lomba balap tingkat DKI Jakarta, di masa itulah pula dia berminat akan dunia tinju. Terutama ya karena sang ayah juga promotor tinju. Puncak ketika ayah mempromotori Ellyas Pical dan Raul Diaz tahun 1988.

Tinju menjadi bisnis kenapa tidak. Ia memadukan kesukaan akan olah raga menjadi bisnis: Sebut saja ada bersepeda up hill, arung jeram, balap mobil, menembak dan bungee jumping. Selesai SMA dia lanjutkan berkuliah ke Oklahoma City University, Amerika Serikat.

"Padahal cita- cita saya waktu kecil ingin jadi pilot," selorohnya. Usia 22 tahun, selesai berkuliah, dia lalu kembali berbisnis pakaian (garmen) langsung ke pusatnya, Tanah Abang.

Okta tidak malu masuk ke pasar. Pengalaman tersebut begitu luar biasa bagi lulusan luar negeri. Tidak malu merupakan kunci sukses Okta. Baginya bisnis tidak sekedar menjual, berdagang, juga intuisi harulah berperan. Lantaran dia sendiri tau rasanya ditipu, dibohongi orang, dicuri, dicelakai, dijahati, sudah biasa.

"Disitu saya juga nipu, saya juga bohongin. Hahaha. Jadi mereka tak bisa bohongin saya," candanya.

Sebuah pembelajaran besar langsung. Dia tidak menemukan itu di pendidikan formal. Bagi pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1975, terlahir dari keluarga konglomerat OSO Group, Oesman Sapta Odang, tetapi tidak pernah malu mengakui bahwa dia pernah gagal total!

Bisnis pengusaha muda


Baginya terjun langsung ke bisnis merupakan kenikmatan. Melihat jelas bagaimana transaksi perdagangan berjalan. Uang miliaran berputar di depan mata. Banyak jenis manusia berada di satu tempat tersebut. Dia berhadapan langsung dengan pembeli. Memaksa dirinya berpikir keras akan perkembangan bisnisnya.

Dia menggunakan kemampuan bahasa asing miliknya. Dan tidak malu belajar bahasa India sendiri. Dia juga menggunakan ilmu ekonominya di luar negeri. Bagaimana transaksi antar negara. Termasuk juga bagaimana memilih kain terbaik, memilih produk garmen terbaik, dibawa ke toko dan dijadikan contoh.

Belajar berbisnis dari level pejabat sampai sopir. Belajar komunikasi mereka langsung. Dia belajar cara menempatkan ritme komunikasinya. Pengalaman menjadikan dia komunikatif, banyak idenya, kreatif, dan pandai bergaul, layaknya pembelajaran dari sang ayah.

Kegagalan dianggapnya bukan kekalahan. Pembelajar setiap kegagalan membawanya ke puncak. Tidak ada rasa lelah menjadikan kehidupan nyata layaknya perkuliahan. Awalnya dia sempat berpikir hidup menjadi pegawai. Mencari kerja dianggap akhir perjalanan pendidikan formalnya.

Namun ujungnya ketika bekerja: Dia bekerja sangat keras, tidak ada uangnya. Jugalah bukan pula bisnis buat eksistensi atau cuma buat gaya- gayaan. Ia tidak memungkiri bisnis memang untuk mencari uang. Dia akhirnya mampu memisahkan antara komersialisasi dan idealisme.

Dia memang mengaku sempat idealis. Akan bisnisnya, tetapi akhirnya Okta memilih mengkomersialkan apa benaknya. Kunci bisnis adalah distribusi. "Yang kita mau pasti kita bisa. Tapi kalau kita gak mau ya, pasti jadi enggak bisa."

Namanya besar berkat bisnis promotor. Khusus laga tahun 2008, dimana dia menyelenggarakan tinju kelas dunia, tidak cuma di Indonesia tetapi Amerika. Dia mempromotorkan laga Daud Yordan. Dan mengajak orang Indonesia melihat tinju bukan sekedar hiburan atau tontonan. "Tinju itu seni," papar Okta menambah.

Okta memiliki ambisi jelas. Bagaimana menjadi mandiri secara finansial. Pengen mendapatkan uang buat berpergian ke berbagai tempat. Kekayaan utama menurut Okta adalah koneksi. Kan enak tuh jalan bareng temen ke tempat- tempat seru, yang tidak banyak orang bisa.

Sejak kecil dia sebenarnya ingin menjadi pilot. Nah, dari sanalah, mungkin hasratnya tersalurkan lewat satu bisnis yakni Enggang Air Service. Dimana mereka melayani penerbangan eksklusif. Mereka memiliki banyak jenis pesawat jenisa Legacy, kapasitas 16- 12 penumpang, serta dua pesawat Cessna Citation.

Bersama bisnis lain, termasuk PT. Perikanan Teluk Batang, bisnisnya termasuk penangkapan ikan dan penyimpanan ikan. Punya 17 kapal dengan kapasitas 300 ton per- hari. Tempat penyimpanannya mencapai 3000 meter persegi dan diolah menjadi ikan kalengan.

Untuk bisnis sekuritas dia memiliki PT Reinvestama Surya Optima, yang sudah menyebar ke berbagai pelosok Indonesia. Kemudian PT. Rennaisasance Sinergi Optima, bidang trading, mining, serta investasi. Kemudian ada Mahkota Promotion, bisnis event organizer, yang mengangkat namanya.

Semuanya tidak lain merupakan hasil usaha dari nol. Bayangkan Okto juga sempat berjualan besar loh. Dari Makassar, merambah sampai Pare- Pare, kemudian sampai ke tanah leluhur di Kalimantan. Termasuk usaha properti Mahkota Mayong, dengan hotel megah di pinggir kota Sukadana, Kalimantan Barat.

Semenjak sang istri meninggal, Okto belum kelihatan serius dengan wanita manapun, pada dasarnya dia suka wanita keras, tegas, independen, menghargai diri sendiri, pintar dan punya kharisma. Kalau soal fisik ayah dari Sultan (13) biasanya dekat dnegan cewek- cewek mungil.

Jika ditanya tentang fantasi liar. Maka dia menjawab dia sudah memilikinya. Setiap usaha dijalankan oleh Okta ya berasal dari pemikiran liarnya. "...menjadi orang alim," selorohnya menyebut kalau benar- benar apa yang dia inginkan kelak.

Kamis, 10 November 2016

Cara Membuat Es Krim Sayuran Berbuah Jutaan

Profil Pengusaha Elia Kurniawati 


 
Wanita satu ini memang sudah dekat dengan ubi ungu. Karena sang suami, seorang guide, yang hobinya bawa pulang ubi ungu. Sebagai wanita kreatif menyulapnya menjadi es krim. Oleh- oleh ubi ungun menjadi bisnis es krim barulah memasuki tahun 2013.

Dia mengaku ubi ungu sempat membuat pusing. Lantaran banyak tetapi pengolahannya monoton. Ubi ungu biasanya dilah direbus. Meski laku disantap suami dan anaknya, Elia Kurniawati, ingin membuat olahan spesial.

Ketika ia membuat es krim ubi ungu, respon keluarganya begitu cepat. Ludes sudah es krim buatannya sampai nambah. Kemudian sang suami nyeletuk menantang Elia. Dia ditantang yuk membuat es krim lain dari bahan tidak terduga.

Bisnis laris


Dari ubi ungu menjadi anake macam. Andalah Elia adalah aneka es krim sayuran. Marketingnya bagaimana membantu orang tua. Bagaimana agar anak- anak mereka menyukai sayuran. Percobaan pertama dilakukan dan ditawarkan kepada anak- anaknya.

Mereka suka ternyata, dan es krim tersebut membuatnya tenang. Anak- anak kini sudah dapat menikmati sayuran. Perempuan asal Kota Batu ini, memanfaatkan melimpahnya suyuran di kota asalnya: Seperti ada ubi, brokoli, tomat dan wortel.

Buahnya ada es krim apel, buah naga, stroberi, dan mangga, bisnis Elia menaikan nilai buah lokal. Lalu ia mengembangkan es krim jamur. Prinsipnya mengolah sumber daya lokal apapun. Baginya produk terbaik mampu meningkatkan nilai ekonomis benda.

Wanita 27 tahun ini merubah konsep es krim kita. Adanya campuran sayuran dan buah benar- benar segar. Olahannya juga seimbang antara susu dan buahnya. Total varian masih 17 rasa, yang mana dijajakan di aneka pusat oleh- oleh. Juga ke Malang, Kediri, Kalimantan, dan Sulawesi, harganya Rp.5- 7 ribuan.

Aneka kreasi


Ia mampu mengolah 20 varian rasa. Dalam sebulan dia mampu menjual sekitar 2.000 cup es krim sayuran. Uniknya dia mengikuti pasaran lokal. Dimana jika satu kota tengah musim buah ini; maka dengan cekatan dia akan membuat itu. Contoh Kediri tengah musim pisang, maka dia akan membuat es krim pisang.

Karen disana pisangnya melimpah. Mungkin Elia lebih hemat dalam hal bahan baku. Contoh lain ketika ada musim buah naga di Banyuwangi, dan wortel di Kota Batu. Meskipun begitu bisnis Bingu Bidu punya masalah lain yakni mencari stok buah bagus.

Meski sudah musimnya, kalau buah tidak berkualitas, maka Bingu Bidu tidak akan mengambil. Kesulitan mencari stok apel ketika musim hujan sudah biasa. Stok buah naga yang kosong di pasar juga, membuat ia dan suami memeras otak.

Padahal ketika imlek kamerin dia sampat membuat es krim buah naga. Dan produk buatanyan mereka ternyata sangat menarik perhatian. Sayangnya soal stok buah berkualitas terkadang masalah. Permintaanya banyak tetapi stoknya sulit. Pokoknya bagaimanapun mereka harus menemukan stok buah naga tersebut.

Bisnis mereka dibawah bendera perusahaan CV. Berkah Omah Sejahtera, berawal dari membuat es krim berbekal buku resep. Seiring perjalanan Elia menyempurnakan resepnya, seiring percobaan dia lakukan agar es krimnya lebih awet, tanpa pemanis buatan, pokoknya beda dari buatan pabrik.

Awalnya dia memakai blender, susunya lebih banyak, hasilnya halus sekali layaknya es krim pabrikan. Tapi justru disanalah kelemahan brand -nya. Dia yang menawarkan es krim sayuran asli dicurigai. Apakah benar dia menjual sayuran asli. "...enggan membeli, selain bentuknya sama, kami salah harga dan rasa," tuturnya.

Ia memperbanyak porsi buah dan sayuran. Caranya buah atau sayuran diblender dulu. Pertama buah dan sayurnya jangan lupa dibersihkan. Dimasukan mesin blender sampai halus. Kalau sudah siap, adonannya diaduk bersamaan susu sampai mengental menjadi krim.

Kemudian ia dinginkan di suhu 27 derajat celcius. Pengiriman menggunakan foam khusus. Karena sudah menjadi es katanya mampu bertahan empat bulan. Karena kualitas buah dan sayurnya terjamin maka harga bisa dipatok es krim biasa.

Ketika orang terkejut akan harga, Elia segera menjelaskan tetek bengeknya, mulai penggunaan bahan yang terbaik, proses pengolahan, kemudian soal penjualan. Ditambah pembeli mencoba langsung ketagihan karena rasanya.

Tiga tahun berbisnis, dia bersama suaminya, Cholis, mereka bersemangat membangun bisnis mereka. Ia berencana membuat es krim berdasarkan kotanya. Jadi es krim buah dan sayuran dibuat berdasarkan apa sumber daya daerahnya. Contohnya, Kediri, mereka akan membuat es krim salaknya di sana langsung.

Karena kalau mereka harus memesan akan sulit. Stoknya berkualitas sulit didapat jika memesan. Soal lain adalah ia ingin menambah tenaga kerja. Dua hal tersebut adalah pencapaian yang mereka tengah kejar. Dia berpikir akan menambah modal. Omzet sementara mereka mampu mengantungi puluhan juta dari es krim.

Artikel Terbaru Kami