Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Senin, 26 Juni 2017

Biografi Singkat Syahir Karim Pengusaha Oleh- Oleh Haji

Profil Pengusaha Pemilik Bursa Sajadah 


 
Hidup Syahir tidak mudah hingga seperti sekarang. Pengusaha oleh- oleh Haji ini, bercerita tentang masa kecilnya harus bekerja keras kepada awak media. Sejak umur 14 tahun sudah "dipaksa" bekerja keras. Dan hasilnya dia adalah pemilik toko Bursa Sajadah, usaha beromzet ratusan juta.

Orang baru naik haji pasti paham nama toko oleh- oleh haji. Buat mereka jamaah haji yang tidak sempat membeli oleh- oleh. Inilah solusi mereka buat membahagiakan keluarga di rumah. Nah, salah satu toko oleh- oleh terkenal adalah Bursa Sajadah, pemiliknya bernama Syahir Karim Vasandani.

Cabangnya sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Bisnisnya mulai dari jualan air zam- zam, aneka sajadah, mukena, kerudung, tasbih, teko, cangkir arab, lalu karpet. Produknya datang dari produksi dalam negeri. Sisanya Syahir mengimpor langsung dari Arab Saudi sendiri.

Perjalanan panjang bisnis


Pria kelahiran Surabaya, 18 November 1949, ini sudah bekerja keras sejak kecil. Alasannya karena sejak umur tiga bulan dia sudah yatim. Sejak umur 14 tahun, Syahir kecil sudah mengerti bahwa sebagai lelaki dia harus bekerja. Ia tidak tega melihat perjuangan ibu apalagi Syahir punya empat adik kecil.

Tidak tanggung dia bahkan berhenti sekolah buat kerja. Waktu itu dia sekolah kelas lima sekolah rakyat atau setara sekolah dasar. Pekerjaan pertama dia menjadi pegawai pengusaha tekstil asal India. Kerjaanya apa saja membantu tidak tetap satu bidang.

Ia mengerjakan bahkan hal aneh tidak ada hubunganya dengan tekstil: Seperti menyemir sepatu atau dia akan disuruh membuang sampah. Ia sempat hijrah ke Jakarta namun kembali lagi. Di Surabaya, Syahir lalu kembali bekerja di perusahaan tekstil lagi pada 1864, hingga pekerjaanya mapan jadi manajer penjualan.

Total dia bekerja di Surabaya lagi selama enam tahun. Syahir namapaknya puas dengan karirnya yang mulai bagus. Sesekali dia mencoba berbisnis tekstil sendiri meski gagal. Tahun 1972, ia hijrah ke Bandung dan melamar ke pabrik tekstil di Majalaya, yang juga punyanya orang keturunan India.

Sudah jadi rahasia umum kalau orang India lebih merekrut keturunan India juga. Orang tua Syahir sendiri berasal dari Hydrabad Syind, Pakistan. Cara unik dilakukanya untuk mendapatkan ilmu gratis. Karena dia bekerja pada malam hari, maka paginya Syahir masuk meskipun tidak bekerja sama sekali.

Datangnya pagi hari cuma buat observasi bagaimana pimpinan pabrik bekerja. "Saya mencari ilmu setiap hari," jelasnya. Dia bekerja, lalu menikah, dimana menetap di Bandung sampai 1979. Tahun 1980 dia lalu dikirim ke Negeria membantu penjualan kosmetik si boss. Tidak lama Syahir bekerja di negeri orang dan kembali.

Empat tahun di Indonesia lagi, barulah Syahir berniat membuka usaha sendiri lagi. Tetapi pulang dari sana, dari Negeria membawa masalah, karena kebiasaan minum disana terbawa hingga Indonesia. Dia menjadi sosok pemabuk. Alhasil mau membuka usaha malah gagal terus karena uangnya kepakai buat mabuk lagi.

Tobat jadi pengusaha


Tahun 1992 dia bertobat tidak lagi minum- minuman. Ia berhenti minum sekaligus berhenti merokok, dan mulai mendalami agama. Di tahun 1993, dia mengajak istri menunaikan ibadah Haji di Mekah. Pulangnya dia membuka toko oleh- oleh haji di kawasan Jalan Palaguna, Bandung, yang bernama Babussalam.

Uang modal membuka toko oleh- oleh haji. Ada Rp.10 juta merupakan hasil sisa simpanan dan pinjaman. Dia bisa dibilang genius. Karena apa, karena bisnis semuanya sudah dihitung, dan Syahir belajar buat mengatur uang perusahaan terpisah.

Ceritanya sebelum bisnis oleh- oleh ini. Syahir sudah lebih dulu berbisinis jaket kulit Garut. Bisnis jaket ini menjadi penompang bisnis oleh- oleh Hajinya. Tepatnya tahun 1994, dia menekuni pembuatan jaket kulit sampai ekspor 1000 buah. Karena mulai sepi memutar otak memindahkan uang modalnya ke bisnis ini.

Alasan bisnis oleh- oleh Haji ternyata datang dari pelanggan. Mereka iseng mengucap kebutuhan mereka ke Syahir. Mulai lah dia mendatangkan barang- barang dari Mekah dan Madinah. Lalu pabrik garmen di Majalaya dan Kopo, memproduksi tidak cuma jaket tetapi kemeja, rompi, baju olahraga, dan lainnya.

Alkisah tahun 1993, ia pulang beribadah haji, teman lama datang ke rumah. Ngobrol macam- macam lalu sang teman meminta pekerjaan. Lebih tepatnya tidak meminta langsung tetapi bercerita butuh pekerjaan. Ia langsung menawarkan pekerjaan di tempatnya. Dan kebaikan itu berbuah manis ternyata diujung cerita.

Bayangkan, Pak Krisna, teman lamanya itu ternyata sangat handal dalam penjualan. Seorang salesman yang tangguh dari sejak pengunjung masuk toko. Pokoknya kalau ditangani dia, pengunjung pasti pulang dengan membeli sesuatu. Syahir memang orangnya mengapresiasi orang lain, terutama karyawannya sendiri.

Baginya karyawan merupakan aset penting perusahaan. Disisi lain tidak ada tuh namanya break event point atau target tertentu. Pokoknya ia menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Dari bentuk kerja keras serta didukung oleh sikap baik. Lahirlah perusahaan bernama PD Aarti Jaya yang berbisnis bidang garmen.

Tahun 1998, dari PD Aarti Jaya menjadi CV Aarti Jaya, dan semakin besar jadi PT. Aarti Jaya. Kini SKV -begitu nama bekennya- memiliki sekitar 1000 karyawan. Dimana ada 30 UKM yang menjadi pemasok ke toko- toko miliknya. Tokonya kini menjual lebih dari 6000 jenis produk tekstil dan oleh- oleh haji.

Toko Bursa Sajadah sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Malang dan Solo. Satu pencapaian lainnya ialah, bahwa Bursa Sajadah merupakan pengimpor terbesar aneka sajadah dan karpet dari Turki, Arab Saudi, India, Iran, dan Uni Emirat Arab pada umumnya.

Kini, bisnisnya, sudah diserahkan ke sang anak Heera Syahir Karim Vasandani, yang mana juga memiliki segudang prestasi dalam melanjutkan bisnis sang ayah. "Allah mau

Kamis, 22 Juni 2017

Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Rabu, 21 Juni 2017

Jualan Kulit Harimau Sumatra Aman Ala Catur

Profil Pengusaha Debi Catur Setyobudi 


 
Berburu harimau itu dilarang. Tetapi bagaimana cara bisnis aman kulit harimau. Bagaimana kalau kita coba seperti pengusaha muda satu ini. Namanya Debi Catur Setyobudi, yang mana bisnisnya unik, bagaimana dia bisa jualan kulit harimau aman berikut detailnya.

Kulit harimau memang dicari buat koleksi. Warga Dukuh Alastuo, Desa Balegondo, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan, yang berbisnis kulit sapi. Dimana Catur merubah kulit sapi nampak seperti macan. Aneka motif macan bisa dibuat Catur seperti macan tutul kecil/besar, cheetah atau leopard, hingga motif zebra bisa.

Mereka dibuat pakai kulit sapi. Hanya motifnya diubah. Cara pembuatan menggunakan pigmen warna. Tapi sebelumnya dia siapkan dulu motif targetnya.

Bisnis kreatif


Bisnis ini sudah dijalankan sejak lima tahun lalu. Awalnya pengusaha muda, putra pasangan Sirun Priadi dan Eni Sri Mawar, pernah bekerja di pengolahan limbah industri Magetan. Catur memilih membuka usaha sendiri tetapi tidak mudah seketika.

Butuh waktu setengah tahun, untuk mencari cara merubah warna kulit lewat pigmennya. Susah apalagi itu masih ada bulunya. Ia menjelaskan yang diwarnai bukan kulit tetapi bulu sapi. Bagaimana caranya merubah warna bulu menyerupai bulu harimau. "Itu susah bukan main," jelasnya.

Walau kamu oles pigmen hitam belum tentu jadi hitam. Kan motif harimau itu ada hitam- hitamnya, ada coklat- coklatnya kemerahan. Campuran pigmen agar mendapatkan warna itu butuh lebih dari pengalaman. Hingga pengalaman dan teknik itu mendapatkan bayaran berupa maraknya pesanan datang.

Dia menjual aneka ukuran. Ukuran 25 sentimeter persegi kulit motif dijual 35 ribu, itu kalau satu warna, nah kalau warnanya dua harganya Rp.45 ribu.

Produknya sudah ada di wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Nantinya akan diproduksi ulang jadi tas, sepatu, dan dompet, yang bahkan diekspor ke Timur Tengah. Motif harimau dan zebra Catur juga dibikin jok mobil bisa. Penggunaan kulit lain juga dimungkinkan seperti kulit domba atau kambing.

Namun tidak semua bisa dicetak semprot. Khusus buat motif harimau Sumatra butuh lukis tangan. Jadilah harganya pantas mahal. Setiap bulan dia mengirim 50- 100 lembar kulit. Kadang bisa melonjak banyak ya kadang juga permintaan sedikit.

Pasar impor


Pria yang cuma lulusan STM Mesin ini. Tidak cuma lokal tetapi juga merambah internasional. Sebuat saja negara Amerika menggemari motif leopard, jaguar, dan zebra miliknya. Untuk motif zebra ada kendala tersendiri nih teman. Karena warna dasarnya harus putih dan kulit seperti itu hanya ada waktu tertentu.

Usut- punya usut ternyata dia pernah belajar kulit. Meskipun singkat tetapi dia bekerja langsung. Dia dulu ikut Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Langsung kerja dipengolahan kulit dari dasar. Ternyata adalah bosnya yang pernah menantang Catur membuat kulit harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

Mantan bosnya dapat pesanan entah dari mana. Tapi dia maksa Catur bekerja meski di rumah. Bahkan dia rela memberikan bahan untuk dikerjakan gratis. Sukses membuat sendiri, si bos malah makin rajin buat memberinya proyek sampai ke Bali.

Kendala lain adalah masalah cuaca. Dimana pengeringan masih memakai tenaga matahari. Alhasil pada musim tertentu pemenuhan permintaan bisa dibatasi. Dia cuma dibantu seorang karyawan bernama Tumini yang juga tetangganya. Keduanya mampu memenuhi pesanan seabrek itu hebat bukan.

Harga jual meningkat drastis dibanding jualan kulit sapi polos. Apalagi nih, kalau sudah di kirim ke luar, di pasaran Eropa saja harganya bisa berlipat- lipat. Kulit tanpa motif harganya Rp.15 ribu per- 30 senti, dan kalau sudah bermotif harimau di Eropa harganya bisa Rp.50 ribu per- 30 sentimeter.

Meskipun sudah jadi barang ekspor. Pihak pemerintahan daerah Magetan masih belum sadar. Keberadaan bisnisnya tidak disadari. Walau kebutuhan modal tidak mendesak. Ia masih merasa bisnisnya ini butuh promosi terutama ke daerah lain diluar jangkauannya sekarang. "Atau pembinaan kualitas kerajinan saya."

Selasa, 20 Juni 2017

Artis Sekaligus Pengusaha Bakso Marcell Darwin

Profil Pengusaha Artis Marcell Darwin 


 
Artis berbisnis langsung sukses. Mungkin beberapa tetapi tidak semua. Yang pasti mereka akan merasakan susahnya membangun pasar. Salah satu artis yang berbisnis adalah Marcell Darwin. Bisnisnya kami anggap anti- mainstream dimana jika artis lain membuka restoran, bisnis kosmetik, tetapi bukan pabrik bakso.

Entah dapat ide dari mana. Tetapi nyatanya bisnis Marcell mulai berjalan baik. Dalam lima tahun omzet bisa mencapai Rp.10- 20 juta. Namun bagi pengusaha bisnis umur lima tahun masih tergolong muda. Ia mengatakan butuh pematangan.

"Namanya pabrik baru, nggak bisa cepat, matengin dulu," tuturnya. Kalau masalah modal Marcell sudah mendukungnya setahap- demi setahap. Hanya masalah SDM masih dirasanya kurang memadai.

Tiga tahun pertama menjadi ujian bisnis baksonya. Tahun suram begitu Marcell mendiskripsikan tahun itu. Ia sempat ditipu orang. Terkena isu bakso babi. Sempat hampir tutup tetapi dia perjuangkan kembali. Dan akhirnya lancar sampai sekarang.

"Pernah rugi karena duitnya dimaninin," kenang Marcell yang semakin hati- hati mengatur kas perusahaan. Dia meyakini setiap itu merupakan pelajaran sebagai pengusaha muda.

Bisnis bakso dan kopi


Menjadi produsen bakso berapa sih modalnya. Perkiraan menurut Kontan sekitar Rp.10 juta bisa kok. Ada beberapa cara membuka bisnis bakso. Dari menjual sendiri baksonya atau menjadi suplier bagi pedagang bakso. Kalau pakai sistem titipkan ke penjual bakso maka modal kamu akan membengkak.

Sistem mereka pakai konsinyasi atau bayar setelah laku. "Sistemnya mereka utang dulu," jelas Marcell. Nanti mereka bayar kalau sudah seminggu bahkan dua minggu. Dengan usaha yang mulai mapan Marcell bisa menentukan dijual ke siapa dan masih bisa berjualan sendiri.

Dia memilih opsi siapa yang bisa beli baru bisa kerja sama. Jadi cash flow -nya lancar kalau mau menjadi pemasok Bakso Salsa -nama usaha bakso Marcell Darwin. Apa perlu diperhatikan lainnya adalah masalah mesin dan tentu lokasi karena berpengaruh kepada pemasaran.

Contoh Bakso Salsa di Jakarta Selatan, karena tidak mengandung bahan pengawet, mangkanya distribusi sekitaran Jabodetabek saja. Kalau kelamaan nanti bakso bisa jamuran. Salah satu strategi bisnis jualannya lewat layan delivery order. Kalau dulu sebalum BBM naik masih bebas, sekarang mah pakai minimum order.

Sukses berbisnis bakos apa yang dilakukan Marcell Darwin selanjutnya? Apalagi kalau bukan membuka usaha lainnya. Dia memang sudah diajari untuk hidup beretos kerja tinggi. Business is business itulah satu penggalan kalimat profesionalitas Marcell.

Setelah sukses bakso kini dia membuka usaha warung kopi. Semua berawal dari tongkorongan, iseng kok kepikiran bikin warung kopi, jadilah bisnis tersebut. Dia kemudian jadi public- relation dan memodali. Ia menyerahkan bisnisnya dikerjakan orang lain. Ternyata keuangan semua bisnisnya diserahkan ke mamah Marcell.

Jujur mengakui dia orangnya masih boros. Marcell Darwin menarget pasar anak muda. Ide sederhana kok bukan kayak coffee shop gitu. Buka warung kopi tetapi berkonsep restoran santai. Uniknya ketika ada saudara mereka harus tetap bayar. "Manajemen tetap, business is business, nggak ada yang gratis."

Warung kopi beneran kayak warung kopi. Bahkan dia membawa langsung konsep dari Jawa. Mulai dari tata ruang, aksesoris, pernak- pernik khas warung kopi. Nama bisnisnya Cafe KingXkong, dibuka di Pasar Impres, Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Bisnis Marcell tidak tergesa- gesa. Semua sudah diperhitungkan termasuk soal tempat. Strategis karena di depan kampus. Apalagi Marcell punya klub montor bisa dah nongkrong. Selain kopi ada musik yang akan menemani telinga pengunjung. Di malam khususnya, musiknya beda, bahkan ada yang bawa musik sendiri.

Kalau dibilang udah balik modal belum. Marcell sadar bahwa bisnis tidak bisa cepat. Yang penting sudah keliatan marketnya. Dia juga berjualan pernak- pernik kecil- kecilan. Marcell memang senang wirausaha jadi jalaninya enjoy. Bahkan rencana ekspansi ke luar kota itu ada. "... kita mau ekspansi," tegasnya.

Berbisnis sambil menjalankan karir akting. Marcell mendapatkan dukungan dari tim management. Tapi ia tetap tidak meninggalkan perkembangan bisnisnya sedikit pun. "Gue syuting, pabrik bakso mama jalanin. Gue lebih ke managemennya aja," tutupnya.

Senin, 19 Juni 2017

Biografi Pengusaha Mebel Jepara yang Sukses

Profil Pengusaha Furnitur Ali Sodikin



Nama kota furnitur dimana lagi kalau bukan Jepara. Banyak perajin kayu berasal dari daerah tersebut. Ialah Ali Sodikin sedikit dari banyak namanya menanjak. Anak petani ini diangkat ceritanya oleh Kontan.co.id. Orang tuanya petani tetapi lingkungan Ali di Jepara adalah para pengrajin kayu.

Akhirnya pria 37 tahun ini tertarik akan dunia mabel. Dia kemudian memutuskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk memperdalam ilmu desain. Sayangnya, karena kekurangan biaya, dia akhirnya drop- out kuliah. Lantas apa yang dilakuan Ali muda selanjutnya berikut lengkapnya.

Desainer mebel


Pulang ke Jeparang langsung memilih bekerja. Pekerjaan pertama Ali adalah membuat desain untuk rumah mabel. Gambarnya masih pakai tangan. Ternyata perasaan mau kuliah masih membara. Dia sempat mau berkuliah di Jepara saja. Namun urung dan kembali berhenti di tengah jalan.

Waktu krisis moneter banyak kena imbas. Termasuk pengusaha mebel asal Jepara. Dampaknya tempat Ali kerja bangkrut. Ali lalu lari ke Jekarta mengadu nasib. Di sana dia memasuki dunia yang sama apalagi kalau bukan dunia mebel atau furnitur.

Beda dengan pengusaha mebel Jepara. Di Jakarta, mereka tidak memakai kayu semuanya, tetapi adalah perpaduan antara triplek dan kayu. Baru ketika di Jakarta dia belajar bagaimana material mebel. Sudah memegang material sendiri, Ali nekat berbisnis sendiri di Jepara, dimana semuanya dimulai tidak sengaja.

Dia secara tidak sengaja mendapat pesanan pintu rumah. Pembeli menantang Ali memenuhi pesanan itu. Ia menanggapi serius dan pembeli itu puas. Berlanjut pembeli tersebut mulai memesan lebih banyak. Adanya keberuntungan itu ditanggapi Ali lebih serius, pesanan mulai dari furnitur isi kantor dan rumah juga.

Mulai pemesanan semakin banyak datang. Guna menggarap itu, Ali kemudian meminta pinjam alat dari kakaknya, yang kebetulan menjalankan usaha mebel di Jepara. Tetapi usaha sang kakak itu bangkrut ketika krisis datang dulu. Ali kemudian mengambil alih semua peralatan dengan uang Rp.13 juta.

Sudah punya peralatan Ali berani buka workshop sendiri dengan sewa. Sudah memiliki workshop sendiri, Ali menerima kontrak pembuatan lantai kayu dari sebuah pabrik di Solo. Dia menerima orderan yang mungkin sulit tetapi dikerjakan. Meskipun pengalaman minim tetap dikerjakan buat menggaji karyawan.

Menambah modal dilakukan Ali berbagai cara. Termasuk ikut ajakan Pemerintah Daerah untuk datang ke Pulau Seram, Maluku, guna memberikan penyuluhan anak muda agar memanfaatkan kayu. Dua bulan dia bekerja di sana kemudian balik ke Jepara.

Bisnis lanjut


Pria kelahiran Jepara, 6 Juni 1978 ini, pada 2006 silam mendapatkan perhatian dari pembeli luar negeri. Dari dia, Ali mendapatkan pesanan berupa aneka furnitur luar rumah atau outdoor. Bisnis beresiko sih, Ali mengatakan tidak ada pembayaran uang muka, sebuah bisnis beresiko sulit mekanisme pembayarannya.

Untuk menyelesaikan masalah, dia memutar otak, caranya menghubungi pemasok yakni dari pengrajin lain dibidang mebel ini. Tujuannya agar cepat menghasilkan barang. Dan, anehnya, Ali berani menggelontorkan uang lebih meski tanpa uang muka. Dia beli lebih mahal agar bisa cepat dikemas dalam 6 kontainer siap kirim.

Pembayaran selesai, sukses Ali semakin percaya diri akan bisnisnya. Dimana bisnis itu berjalan ke tahun- tahun berikutnya. Jumlah pesanan bertambah tiap tahun. Mulai 6 kontainer, menjadi 10 kontainer, lalu sampai 24 kontainer. Dalam satu periode bisa mengirim hingga 43 kontainer sejak 2009- 2010.

Meskipun dianggap orang sebagai bukti kesuksesan. Menurut Ali, menanggapi ekspor belum tentu kita katakan sukses, karena tidak ada uang muka beresiko tinggi. Apalagi pasarnya makin kompetitif banyak pemainnya. Mangkanya tuntutan keuangan kuat harus dimiliki pengusaha macam Ali.

Suami Yuni Fatciah ini mengaku, agak kurang nyaman berbisnis seperti itu. Karena tidak sedikit pengusaha bangkrut karena bisnis ekspor tersebut. Padahal untungnya tipis, kalau dilanjutkan Ali harus punya modal kuat tegasnya. Celah lain adalah memperkuat penjualan dalam negeri sambil tetap melayani ekspor mebel.

Kemudian dari segi profit, penjualan mebel indoor lebih tebal dibanding mebel garden furniture. Jadilah dia semakin gesit menggarap furnitur dalam ruangan. Model- modelnya didesain semenarik mungkin buat di mata. Caraka Creasindo menawarkan solusi produk furnitur untuk kebutuhan keluarga di ruangan.

Contoh satu paket furnitur untuk lobi hotel. Desainnya semenarik mungkin bisa agar menarik pengunjung hotel. Tidak cuma membuat meja kursi, termasuk membuat aksesoris buat menambah keindahan. Akhir 2011, dia semakin matang berbisnis furnitur indoor, dan mulai mengurangi pengiriman mebel outdoor.

Tetap berjualan outdoor termasuk pasar luar negeri. Namun, jumlahnya terbatas, agar bisa disesuaikan dengan keadaan keuangan dan kenyamanan perusahaan Caraka Creasindo. Masih menjual aneka furnitur outdoor ke Eropa, Timur Tengah dan Kanada kok.

Untuk pasar lokal makin digenjot Ali. Khususnya memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran. Dengan penargetan ini Ali yakin bisnisnya tidak akan berhenti di satu titik. Kini, dia mampu mempekerjakan 60 orang karyawan.

Minggu, 18 Juni 2017

Sejarah Andrrows Mematahkan Stigma Pria Bertato

Profil Pengusaha Faris Juniarso


 
Stigma melekat bahwa orang tatoan tidak berprestasi. Mereka yang biasanya cuma memilih kriminalitas. Dipatahkan oleh Faris Juniarso, dipatahkan sampai kecil- kecil, karena prestastinya menciptakan satu produk yang merambah pasar Malaysia, Singapura, bahkan Australia.

Pria 28 tahun ini memang ingin mematahkan stigam itu. Pengalaman susah dapat kerja juga. Bayangkan orang seperti Faris sangat disepelkan. Dipandang tidak mampu bekerja kantoran. Alhasil wirausaha jadi pilihan kebanyakan orang bertato. Namun Faris memilih bisnis diluar kebiasaan yakni bisnis cuci sepatu.

"Orang bertato itu bakalan susah dapat kerja... Mangkanya saya memilih bikin kerjaan sendiri," tuturnya kepada pewarta Merdeka.

Rintisan pertama berupa bisnis cuci sepatu. Ia merekrut anak muda bertato yang susah cari kerja. Dia juga ingin menunjukan ke masyarakat bahwa orang bertato berkarya. Sengaja dia nyari pegawai yang bertato. Perasaan dulu pernah ditentang untuk bertato oleh keluarga berasa.

Bisnis inovasi


Ia mengenang bagaimana orang tua melarang. Apalagi orang tua Faris adalah pegawai kantor urusan agama. Sejak kelas 3 SMA dia mengaku sudah punya tato. Tentu waktu itu dia masih sembunyi- sembunyi dari orang tua. Ketika kuliah ikut teater, lalu dia kenalan sama seniman- seniman bertato dan jadilah dia.

Aneka pekerjaan diterima asal tetap menjadi diri sendiri. Tentu tidak banyak pilihan pekerjaan. Sebut saja dia pernah bekerja sebagai tukang sampah, pencuci piring, dan bartender. Karena tato hidupnya susah dan harus siap kerja apapun untuk makan saja.

Wirausaha pertama Faris ialah berjualan lekker. Semuanya bermodalkan sendiri, hasil jualan apapun yang ada di badan tanpa bantuan orang tua. Kemudian dia membuka bisnis semir sepatu berlanjut jasa buat mencuci sepatu bernama Andrrows.

Andrrows merupakan nama diambil dari sahabat Faris. Keduanya sepakat bekerja sama membangun satu bisnis. Sayang dia meninggal dunia ketika bisnis cuci sepatunya belum sukses. Namanya Andrrows adalah teman bermain sejak kuliah. Keduanya hobi sepatu bersama membuat cairan pembersih sepatu sendiri.

Dia menggunakan nama sang teman. Sebagai bentuk penghargaan, biar menjadi persembahan karena dia belum merasakan suksesnya sekarang. Bayangkan nama Andrrows sekarang dikenal di luar negeri semua berkat cairan pembersih racikan mereka.

Mereka pecinta sepatu, berdua kerap pergi bersama mengisi waktu luang untuk hunting sepatu. Mereka kemudian kepikiran membuat pembersih sepatu lewat obrolan santai. Ide mereka kemudian dicoba tetapi kegagalan selalu ada.

Kegagalan kunci sukses


Awalnya mereka ingin membuat alat pembersih sneaker. Namun, kelamaan, keduanya mengembangkan buat semua macam sepatu. Semua sepatu bisa dari kain, kulit, atau jenis pantofel. Termasuk buat sepatu cewek yang aneh- aneh bahannya.

Bisnis digeluti Faris sebenarnya adalah bisnis cuci sepatu. Tetapi nama produk pembersih Andrrows jadi lebih menonjol. Tidak apa- apa toh bisnis Faris sukses. Pasarnya luas sampai menerobos batas negara besar macam Australia -yang notabennya susah dimasuki pasarnya.

Merek Andrrows diluncurkan pertama kali 1 Mei 2014. Dimana total produksi baru beberapa botol saja. Dua tahun berselang produksinya perhari meningkat jadi 2.5000 botol per- hari. Awal, untuk uji coba, ia mendekati para kolektor sepatu dan hasilnya oke.

Inovasi digayangkan Faris agar beda dengan produk pencuci luar negeri. Bahannya dibuat alami yakni dari bahan virgin coconut oil dan aroma khas Andrrows. Kebetulan kotoran di Indonesia lebih banyak jadi kita sudah tau ketahanan Andrrows terjamin.

Dalam sebulan omzet sampai Rp.100 juta karena juga diekspor, dan mempekerjaan 19 orang pegawai buat produksi. Penjualan sampai ke Malaysia, Singapura, dan Australia. Untuk proses produksi masih ada di Semarang, packingnya dan distribusi ke Yogyakarta,

"Kami pertahankan produk lokal berkualitas internasional," terangnya penuh semangat.

Ia belajar dari pembersih asal Amerika. Yang harganya Rp.300 ribuan, sudah mahal dan susah dicari, lalu dia mulai membuat produknya sendiri. Semua orang kan memakai sepatu mahal, anak SD saja sepatunya sudah mahal, tidak cuma buat orang kantoran jadi prospek bisnisnya bisa ke atas ataupun ke bawah.

Contoh Jason Markk -produk pembersih asal Amerika- bahannya coconut oil, jojoba oil, dan lainnya. Ya sayangnya memiliki kandungan bahan kimia. Maka Faris ingin produk bagus namun bebas bahan kimia. Ia bayangkan kalau alami beda lebih baik kenapa tidak.

Apalagi ya kotoran di Indonesia lebih ngeri candanya. Proses pencarian resep dari 2010 tetapi terus gagal, tahun 2013 akhirnya menemukan resep tepat, maka dilirik produk buatan mereka itu. Dari omzet Rp.40 juta sudah naik Rp.100 juta hingga membuat kantor cabang di Australia juga.

Inovasi kerja sama bisnis

Harganya Rp.150 ribu lebih murah dibanding produk impor. Dia juga membuat starter kit memudahkan buat pembeli berisi satu pembersih dan standar brush atau sikat seharga Rp.180 ribu. Sikat itu terbuat dari bulu sapi Australia. Cukup Rp.400 ribu itu saja sudah bisa membuat bisnis cuci sepatu sendiri loh.

Pemasaran produk semakin gencar. Teknik pemasaran termasuk mengajak kerja sama jasa layanan cuci sepatu. Mitra pertama mereka yakni Shoes & Care asal Yogyakarta. Ada 40 perusahaan bekerja sama dengan mereka, tersebar di Lampung, Aceh, Batam, Makassar, dan kota lainnya.

Bentuk kerja samanya perusahaan itu harus berjanji. Mereka tidak akan menggunakan bleaching ataupun pakai ditergen. Jadi 100% menggunakan produk mereka sudah. Jika kerja sama baik, kita sebagai mitra mau mengikuti SOP mereka, akan dapat potongan 15%- 20% selama memakai produk mereka.

Edukasi pasar terus dilakukan. Tetapi sekarang ini bahkan anak SMP sudah tau pentingnya merawat sepatu mereka. Bisnis cuci sepatu berkembang sejalan bisnis cairan pembersih Adrrows. Selebihnya tinggal dia melakukan promosi sosial media seperti Intagram dan Twitter @Andrrows.

Jaringan ke costumer didekatkan lewat layanan Line. Pokoknya cara marketing modern sudah dia lakukan sekarang. Hasilnya tidak mengecewakan. Target berikutnya menguasai seluruh pasar Asia. Inovasi coba dia kembangkan adalah produk pembersih sepatu berbentuk spray buat traveling.

Jumat, 16 Juni 2017

Kerja Dulu Baru Buka Usaha Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Bayu Wirawan 




Skill dipelajari seseorang ketika sekolah, belum tentu menjamin kesuksesan seseorang. Justru dari hobi kita bisa menemuka skill utama kita. Sekolah cuma mempoles teori sedangkan dari hobi bisa jadi sebuah pekerjaan nyata. Inilah kisah seorang pengusaha pemilik toko kue bernama Queen Pastry.

Sempat dia bekerja di restoran dan bakery. Justru disana, dia belajar banyak, berkat hobi memasak pula dia jadi semakin percaya diri. Ini kisah Bayu Wirawan, yang kemudian resign kerja untuk mengejar bisnis pembuatan roti. Meskipun sekala kecil dia mengerjakan dengan senang hati dibanding menjadi karyawan.

Bisnis kue


Agar dapat modal dijualnya motor pribadi. Dia tidak pernah belajar di luar negeri. Tidak pernah belajar buat membikin kue khusus. Modalnya nekat dengan uang seadanya. Total Rp.500 ribu digunakan sebagai modal bisnis. Skill terasah selain karena hobi tetapi juga karena keluar masuk perusahaan bakery.

"...benar- benar memulai dengan Bismillah," tuturnya.

Tetapi dia tidak langsung resign. Awalnya dia masih bekerja hingga bisnisnya matang. Merasa omzet sudah matang. Bayu baru memutuskan resign. Mantan karyawan Aston Hotel ini, memproduksi setelah pulang dari jam 12 malam sampai 6 pagi.

Untuk awalan dia membidik makanan umum. Sesuatu yang tidak mahal dijangkau semua golongan. Namun cita rasanya harus sekelas bakery besar. Inilah daya jual Bayu berbekal modal seminim itu. Targetnya kue- kue pasar seperti donat isi, bolen keju, seharga Rp.2000/pcs, donat keju Rp.3000/pcs.

Tidak cukup juga ada roti mini bite, roti kacang coklat, lapis Surabaya, American risoles, pastel ulir, dan akhirnya aneka wedding cake. Tidak mudah tetapi berhasil. Tiga bulan omzet terakhir Rp.100- 180 jutaan. Dia dibantu sang istri semakin menajamkan bisnisnya.

Berbisnis hanyal berbekal ijasah SMA. Tetapi lantaran karena memang hobi masak. Ia memilih untuk bisa mengembangkan skillnya. Bukan lewat kuliah, selepas SMA, Bayu memilih bekerja di sebuah toko kue saja. Sambil bekerja sambil mengasah kemampuan langsung tanpa teori melulu.

Dia keluar- masuk toko bakery dan restoran di Pontianak. Pikirannya bagaimana mengasah skill tetapi dia dibayar. Apalagi kalau sudah masuk umur 30 tahun, kan ijasah SMA saja tidak cukup. Prinsipnya di dunia kerja digeluti itu. Semakin pengalaman di dapur maka akan semakin dicari oleh perusahaan bakery bukan teori.

Jatuh bangun pemasaran pernah dilalui. Dia pernah terpuruk. Tetapi bangkit kembali membenahi sistem di dalamnya. Bayu pernah kesulitan bekerja sama dengan karyawan. Kini, dia memilih lebih aktif di dapur, hasilnya bisa dirasakan pada produksi kue miliknya.

Walaupun sudah menjamur tetapi dia yakin. Bisnis bakery bisa dia taklukan dan tetap menghasilkan omzet menjanjikan. Untuk itu inovasi selalu diberikan Queen Pastry. Termasuk salah satunya ialah ia membuka tawaran kue blackforest, vanilla cake, dan cake brownies, dengan desain pesanan kita sendiri.

Minggu, 11 Juni 2017

Rugi Bisnis Konsinyasi Tetap Berjuang Terus

Profil Pengusaha Kartika Yuswadi Soediwardojo 


 
Siapa sangka berawal keisengan menjadi bisnis serius. Kesenangan seseorang siapa sangka, seperti kisah dari Kartika Yuswadi, yang merubah kesenangan menjadi bisnis. Iseng dia menjual hasil karya kerajinan tangan miliknya. Dia memang hobi membuat aneka pernak- pernik gelang sendiri.

Nama lengkap wanita 28 tahun ini, Kartika Yuswadi Soediwardojo, hobinya mengkoleksi buku. Dimana dia memilih jurusan kuliah D3, kemudian berlanjut S1 dibidang Ekonomo Manajemen di Univesitas Islam Indonesia.

Sebelum usaha gelang dia pernah usaha lain. Bisnis kecil- kecilan membuat aneka kartu ucapan. Yang dia lalu jual kepada teman- teman kuliah. Bosan, Kartika lantas mencoba sesuatu yang baru, alasannya usaha itu dirasa tidak efesien dalam waktu. Kan dia melanjutkan kuliah tentu meskipun renggang tetapi harus efektif.

Bisnis gelang


Awal dia mempunya banyak waktu kosong, karena Kartika mengambil program ekstensi, jadi materi kuliah sudah habis di awal. Waktu kosong disempatkan membuka- buka buku bukan pelajaran. Dia mempraktekan apa di buku handycraft yakni membuat kerajinan kertas -awalanya sekali tuh.

Uang Rp.50 ribu digunakan untuk modalin awal. Uang segitu menjadi aneka kartu ucapan, atau berupa juga bookmark buku. Lantas dia titipkan ke penjual Malioboro. Ternyata, eh ternyata, jualannya laku terjual loh dan membuat dia semakin bersemangat menitipkan barangnya ke toko- toko souvenir lainnya.

"Saya nekat menitipkan hasil kerajinan tangan saya ke toko- toko tersebut," ia menerangkan. Lewat para penjual Malioboro nama Karika kokoh sebagai pengusaha muda.

Waktu itu jujur tidak diperhitungkan sama sekali. Dia tidak perhitungkan biaya produksi, biaya operasional dia keluarkan. Pokoknya dibenaknya titip dan laku terjual. Padahal dia harus membayar biaya konsinyasi besar yakni senilai 50%. 

Dia santai saja karena hal terpenting laku. Apalagi produknya belum terstandarisasi, dan ada yang belum layak jual menurutnya. Pada waktu itu dia dapat untung Rp.50 ribu bulan pertama, dengan produksi yang masih kecil segitu sudah banyak.

Potongan konsinyasi tidak dipikirkan. Yang penting dia melihat prospek bisnis tersebut. Maka wanita kelahiran 8 April 1980, mulai memproduksi kerajinan lainnya, seperti clay, peperquilling, clay tepung, knitting, sulam dan sebagainya.

Bisnis berlanjut

Ia lantas menambah modalnya. Uang Rp.1 juta hasil pinjam orang tua diglontorkan. Kartika mulai fokus untuk mengerjakan bisnis sampingan ini. Alhasil dia kini tidak lagi menganggapnya bisnis sampingan. Ia tetap fokus merampungkan kuliah kok. Dasarnya rasa penasaran mencoba apa di buku tersebut lagi dan lagi.

Pelan tetapi pasti dia belajar lewat praktik. Mencoba apa di dalam buku kembali. Dua bulan dia mengawali bisnis. Bayangkan dia mengantungi untung Rp.700.000.000. Kartika senang karena bisa merangkul lebih banyak karyawan. Sekarang dia tidak bisa menjalankan bisnis sesuka hatinya lagi.

"...sudah ada tanggungan gaji karyawan dan tagihan ini itu yang perlu saya pikirkan," tandasnya.

Semula hanya sampingan sekarang menjadi bisnis utama. Kemudian dia beri nama bisnisnya itu Semoet Ketjil dan menjadi salah satu pengusaha muda kebanggaan Indonesia.

Produk andalan Semoet Ketjil lainnya. Adalah aneka gelang lucu. Berkat ketekunan, dia mampu tidak lagi berkonyasi, tetapi kerja sama saling untung dengan beberapa toko. Bahkan Semoet Ketjil sendiri yang ditawari kerja sama. Kartika sendiri tidak terobsesi dengan keuntungan bakal diraubnya nanti.

Kualitas baginya menjadi nomor satu. Hal desain berbeda membuat produknya gampang disukai. Saat ini dia berproduksi 1000- 1500 buah, seharga antara Rp.15 ribu- 500 ribu. Karena bisnis dijalankan berdasar passion jadi terlihat santai.

Dia sendiri tidak memiliki rahasia khusu sukses. Sarana promosi juga umum seperti sosial media. Tetapi dia menekankan selalu berinovasi. Bagi pemula, ingatlah untuk mengamati potensi sekitarnya dulu, jadi tidak tergesa- gesa berbisnis. Memang bisnis butuh perhitungan sebelum meluncurkan produk kamu.

Contoh, kan dia tinggal di kawasan wisata, jadi dia lihat apa yang potensi dari daerah Yogyakarta itu, maka jadilah bisnis aneka aksesoris miliknya.

Sabtu, 10 Juni 2017

Penjual Prabotan Akar Kayu Jati Nur Ali

Profil Pengusaha Nur Ali




Namanya pengusaha pasti pernah gagal. Begitu juga Nur Ali, rejeki justru datang ketika dia iseng belaka. Kok malah menjadi bisnis menjanjikan kedepan. Pria yang dulu pernah berbisnis ayam potong ini. Gagal. kemudian iseng menaruh akar jati erosi di depan rumah.

Bisnis akar jati dimulainya lima belas tahun silam. Awalnya dia menirukan mencari akar jati, tapi bukan dijadikan kayu bakar seperti tetanggnya, dia taruh di depan rumah buat hiasan. "Siapa tau ada yang berminat (iseng)," kenang Ali.

"Saya menunggu beberapa hari, tak ada yang menawar," ucapnya. Akhirnya ada orang iseng membeli kayu jati itu. Uang Rp.65.000 masuk kantong buat akar kayu jati. Dia sempat diejek tetangga. Akar kayu yang item kusam tersebut dijual- jual, ngapain?

Niatnya berbisnis bukan mencuri. Ali cuek ketika mendengar cemooh tetangga. Mantan buruh tani, itu loh orang yang disuruh mengerjakan sawah orang lain, ini memang memiliki mental pengusaha karena sudah terbiasa gagal. Lambat laun dia menemukan akar jati tersebut bisa dipoles bukan sekedar glondongan saja.

Jujur akarnya itu keras, susah dibentuk, jadi baiknya dibiarkan begitu saja. Natural memang akar kayu itu sudah terlihat indah. Cukup dibersihkan dan diperhalus saja. Bentuknya sudah bagus, kalau beruntung dia dapat yang berbentuk hewan. Harganya lumayan dibanding bentuk biasa dipajang di depan rumahnya.

Cara mendapatkan akar kayu jati erosi, Ali datang ke tengah hutang, seizin PT. Perhutani sebagai pihak yang bertanggung jawa. Ali akan berjalan masuk hutan kawasan antara Ngawi, Madiun. Jarak dari rumahnya sekitar 100km dari rumah. Tahun ke tahun, bisnis Nur Ali makin bagus, tidak lagi bentuk standar biasa.

Ali menjual buat kursi, meja, bentuk jamur, dan aneka souvenir. Tapi benda itu masih setengah jadi yang mana dijualnya dari Rp.50 ribu sampai Rp.5 juta untuk ukuran besar. Harga akar jati erosi yang besar memang harganya lumayan yakni Rp.750 ribu sampai Rp.5 juta, untuk meja besar Rp1- 1,5 juta, kursi Rp.250- 500 ribu.

Souvenir dijual terjangkau yakni Rp.50 ribu, dimana tiap bulan dia memproduksi 1.000 buah souvenir ke berbagai daerah. "Kalau bentuk bagus, karakternya bagus, ada daya seninya, saya jual Rp.5 juta," ia lalu menambahkan. Selain dia, kini, tetangga Ali ikutan berbisnis sama bahkan membentuk paguyuban akar jati.

Untuk sementara ini, orang desan Ali menjual bentuk setengah jadi, tentu kalau bentuk jadi akan jauh lebih mahal harganya. Meskipun begitu perputaran uang bisnis ini ternyata sampai miliaran.

Senin, 05 Juni 2017

Bisnis Sepatu Kulit Mahasiswa Keterusan Suksesnya

Profil Pengusaha Jangkar Sri Kusumo Wibowo 



Kekuatan pengusaha muda satu ini adalah keberanian. Prinsip dipegangnya usaha dulu, tidak ada kata buat keraguan. Meskipun ada masalah, Jangkar Sri Kusumo Wibowo tetap usaha meskipun kegagalan pasti membayangi langkahnya. Dia tidak pernah takut berwirausaha.

"Bagi saya, yang penting action dulu. Saya tak mau ragu- ragu," paparnya.

Bisnis dicoba Jangkar adalah memproduksi sepatu kulit. Prospek bisnis ini nampak jelas. Kita tau bahwa sepatu sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Dilihar dari segi kegunaan, fashion, serta estetika maka sepatu tengah digilai anak muda.

Bahkan pria jaman sekarang rela. Mereka rela merogoh kocek untuk mengkoleksi sepatu. Sebuah hal yang tidak kita temui ketika dulu. Inilah coba diraih oleh industri sepatu lokal. Bagaimana caranya pengusaha muda seperti Jangkar mengambil celah kebutuhan anak muda -yang tergeneralis oleh perusahaan besar.

Perubahan trend tidak diikuti oleh perusahaan sepatu besar. Sementara mereka sibuk menebak pasar yang terlalu luas. Pasar lokal menjadi perhatian khusus Jangkar. Apalagi sebagai anak muda tentu dia lebih tau kesuksaan anak muda kita sendiri.

Pengusaha lokal jaya


Prospek cukup tinggi dilihat Jangkar. Pemuda 23 tahun ini ternyata mampu meraup untung jutaan rupiah. Ia mengaku tumbuh ide karena hobi. Dia memang hobi beli sepatu tipe leather footwear atau sepatu kulit. Ia tidak peduli mereknya. Sepatu lokal banyak dimiliki Jangkar tidak pilih- pilih merek.

Pembuatan sendiri mulai digeluti April 2012 silam. Awalan dia mensurvei pasar dulu, tidak langsung saja membuat produk. Dia mensurvei jenis apa yang cocok buat anak muda. Mencari tau sepatu macam apa yang dia sukai bukan cuma mengandalkan selera pribadi.

Dia kepikiran kesukaanya akan sepatu kulit. Lalu dia langsung aksi tidak pakai pikir lama. Mahasiswa dari Universitas Airlangga ini, langsung mencari siapa bisa bikin. Uang digelontorkan Jangkar ada Rp.8 jutaan dan jadi 32 pasang.

Per- pasangnya dia jual Rp.450 ribu sampai Rp.425 ribu. Dalam waktu dua bulan habis sudah barang dia buat. Omzetnya kemudian digunakan untuk membeli bahan baku kembali. Hasil produksi dan penjualnya mencapai untung Rp.15 juta. Dia sangat senang dan bangga karena merupakan bisnis pertamanya.

Kan jarang nih, apalagi mahasiswa, menghasilkan uang sendiri murni dari berbisnis bukan jadi karyawan tengah waktu. Sudah 10 bulan dilakui diakui masalah tetap ada. Meskipun langsung untung, Jangkar akui ada saja masalah berdatangan, berwirausaha memang tidak mudah teman.

Prinsip Jangkar pasti ada celah dibalik setiap kesulitan. Dia tinggal memikirkan dimana letak celah itu. Ia memastikan kita tidak boleh berhenti mencari jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dia menyebutkan beberapa masalah dihadapi. Pokoknya tanamkan dibenak kita harus selalu semangat usaha.

Masalah seperti produksi yang molor, ngaret, dari deadline yang dia berikan ke pihak produksi. Atau yang ngaret pengiriman bahan baku ke tempatnya. "...itu saja yang bikin sebel," curhatnya.

Mengusung nama Zappier dia mencoba mereguk pasar anak muda. Modelnya mengusung modal kuno, ia menyebutkan model broques, modelnya Inggris kuno. Kan biasanya anak muda suka sporti dan kasual. Dia mencoba menawarkan gaya vintage yang berbeda.

Modelnya elegan jadi tidak keliatan jadul. Cocok buat anak muda menurutnya. Alhasil usaha yang dimulai sejak 2017 itu. Akhirnya meraup perhatian anak muda Indonesia. Pelanggan datang merupakan anak muda berbagai profesi.

Omzetnya mencapai Rp.15 Juta per- bulan dimana terjual rata- rata 32 pasang, terjual offline ataupun online. Produknya masuk toko- toko baik di Surabaya, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Dia menggunakan kulit domba asli awet 4 tahun lebih. Hingga nama Zippier diminati para artis musik indie.

Para artis tersebut bahkan membawa brandnya ke luar negeri, sebut saja Endah n Rhesa, Sore Band, Rock n Roll Mafia. Memang berbisnis ini tidak bisa langsung dihargai seperti sekarang. Pasang surut sudah dia temui. Semua masalahnya menurut Jangkar merupakan proses pendewasaan berwirausaha teman.

Bisnis Jangkar juga mulai berkembang tidak cuma pada sepatu, ada produk dompet, belt, gantungan kunci, slingbag, dan beberapa aksesoris berbahan kulit lainnya.

Sabtu, 03 Juni 2017

Mencari Kemasan Rendang Terbaik Uni Farah

Profil Pengusaha Retno Andam Sari 


 
Namanya Retno Andam Sari, sedikit dari banyak pengusaha rendang kemasan sukses. Ceritanya berbeda dan wajib kita simak bagaimana dia menangani persaingan. Semua bermula ketika, di 2004 silam, dimana dia mulai mencari ide bisnis.

Dari ide bisnis apa bisa dijadikan hantaran. Makanan apa yang khas Padang, yang bisa dijadikan hantaran buat pernikahan. Maka dia berpikir tentang rendang dalam kemasan. Dia kemudian menamai usaha rendang itu Uni Farah. Naman yang berdasarkan nama putrinya sendiri dan memulai usahanya.

Berawal rendang dikemas dalam toples. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia mencoba. Retno memang ingin menciptakan alternatif. Tujuannya agar berbedang dengan rendang lain. Lalu dia tawarkan sebagai hantaran Lebaran.

Sesuatu yang nyeleneh atau unik tidak langsung sukses. Ia bercerita bagaimana pandangan sinis orang ke dia. Beberapa melihat keunikan dan melihat rendang dalam toples masuk akal. Mereka inilah peminat rendang Uni Farah. Lambat laun orang banyak semakin meminati rendang tersebut karena memang enak.

Pengemasan produk


Sukses rendang dalam toples, Retno belum merasa nyaman dengan jualannya. Ia berpikir bagaimana agar jualannya lebih mantap. Bagaimana agar kemasan lebih aman terutama ketahanannya. Bagaimana agar juga nyaman dikirim dan dibawa ke mana- mana.

Maka dia berpikir tentang rendang divakum. Rendang kemasan vakum lebih aman, menjadi lebih bersih, jadi lebih praktis, lebih lama disimpan. Kalau kamu simpan di freezer bisa tahan sampai 6 bulan. Kalau disimpan di chiller rendang bisa tahan 3 bulan. Di suhu ruangan bertahan sampai 2- 3 minggu.

Ibu dua anak ini semakin mantap menjajakan rendang kemasannya. Seperti kata penulis sebelumnya ada saja yang nyinyir melihat rendang kemasan Retno. Mereka merasa gak penting dikemas seperti ini. Ya karena mereka bisa menemukan rendang dimana- mana.

Rendang kemasan belum dianggap penting. Butuh waktu buat mengenalkan produk rendang kemasan itu, ya kesabaran sebagai pengusaha diuji, banyaknya rumah makan padang dianggap masyarakat tidak perlu ada rendang dikemas.

Masyarakat lantas mulai menyadari keberadaan produk Retno. Mereka mulai memesan untuk keperluan traveling -seperti membeli buat dibawa oleh orang yang berangkat haji. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah atas. Mereka dianggap lebih sadar akan kepraktisan rendang dikemas vakum miliknya.

Mereka yang suka kepraktisan buat dibawa dan disimpan. Pikiran Retno mengarah ke populernya nuget dan sosis dalam kemasan. Kenapa produk lokal seperti milik kita tidak bisa. Meski kemasan sudah sangat modern ternyata dia tetap tradisional.

Pembuatan rendang buatanya masih pakai tungku kayu bakar. Agar menjaga kualitas rasa masakan Sumatra Barat katanya. Uang 3 juta dibelikan mesin vakum cuma satu, dan bahan baku daging dan bumbu. Lalu dibuat menjadi rendang aneka rasa. Ia ciptakan rendang suwir, rendang paru, rendang ayam, dan udang.

Harganya variasi mulai Rp.28 ribu sampai Rp.450 ribu. Ukuran mulai 100 gram sampai 1 kilogram. Sarjana desain grafis Universitas Trisakti ini. Juga tidak tinggal diam melihat minyak rendang yang jatuh menetes. Ia terinspirasi akan minyak zaitun dan minyak cabai yang dikenal masyarakat.

Apa guna minyak rendang tersebut. Bisa digunakan menambah cita rasa rendang. Atau bisa kamu gunakan untuk memasak nasi goreng atau bahkan pasta. Biar rasa rendang tersebut mengalir menjadi penyedap rasa ke masakan kamu. Minyak tersebut didapat dari hasil tirisan rendang yang sudah jadi.

"Minyak rendang ini menjadi penambah aroma masakan," tuturnya. Per- botol 250cc dibandrol Rp.50 ribu. Ia mengatakan hasil untunga dari keseluruhan mencapai 15- 20 persen.

Kamis, 01 Juni 2017

Sepatu Desle Sepatu Sekolah Hingga Trendi

Profil Pengusaha Sukses Haryamto 


 
Meskipun serbuan sepatu luar begitu kuat. Namun siapa sangka, diantara kita masih ada produk lokal yang sukses bertahan. Ternyata masyarakat sudah mulai sadar untuk menggunakan produk lokal. Ada sepatu buat anak sekolah, sepatu olahraga, dan kantoran, mereknya Desle merupakan produksi pengusaha asal Yogya.

Pengusaha asal Yogyakarta itu bernama Desle. Berdiri sejak lama sekitar tujuh tahun lalu. Pria bernama Haryamto mengaku dulu sukar. Bayangkan, waktu itu, dia bersaing dengan produk impor yang kata orang lebih baik. Pemikiran bahwa produk lokal jelek dan tidak tahan lama begitu menggema kala itu.

Padahal kalian tau, meskipun mereknya luar negeri, ternyata pembuatannya dilakukan oleh pabrik tetangga Haryamto sendiri. Alasan tahan lama, modis lah, seolah membenarkan gengsi orang waktu itu untuk beli produk asing.

Selama itu dia bersama pengusaha lokal lain gencar. Mengkampanye bahwa produk dalam negeri juga bisa sangat berkualitas. Perlahan tetapi pasti marketing Haryamto membuahkan hasil. Kampanye untuk cinta produk dalam negeri membantu bisnis Desle.

Strategi marketing


Dia menggunakan diskon besar- besaran. Sampai memberikan garansi uang kembali kepada masyarakat. Ia meyakinkan kualitas produknya. Menjadi produk lokal asli Yogyakarta, dia diberi kesempatan ikut acara khas seperti Yogya Night Run. Di kesempatan itulah dia membangun brand bisnisnya, lewat acara tersebut nanti.

Ia memberikan hadiah bagi siswa berprestasi. Dengan cara tersebut dia mencoba mendongkrak penjualan produk dan berhasil. Dengan marketing tersebut ternyata mampu menarik lebih banyak pembeli. Utama dari pelajar Indonesia mulai melirik produk lokal, yang lebih murah tetapi kualitasnya sama dengan asing.

"...kualitasnya tidak kalah dari sepatu impor," paparnya.

Sepatu impor lanjutnya, ternyata, kebanyakan dijual disini merupakan buatan orang kita sendiri. Kan sama saja yang membuat orang kita sendiri. Yang penting ada kecintaan akan produk dalam negeri. Sisanya kita sendiri ternyata yang membuat kualitas dengan brand milik orang asing.

Nama Desel berarti "Depok- Sleman" atau Desainya Orang Lodok imbuhnya. Dia mengatakan sudah bisa berproduksi lebih 20 ribu pasang sepatu. Ia mampu meningkatkan penjualan saban bulan. Target pasarnya adalah Indonesia Timur. Menurutnya di sana resiko bisnisnya cukup kecil karena bebas bencana.

Kalau di Jawa, nama Desle memiliki pasar kok, pangsa pasarnya terutama di kota- kota besar. Di Jawa kita bisa melihat outlet- outlet sepatu Desle, contohnya di Kebumen, Pati, dan Kabupaten lainnya di Jawa. Lewat sistem CSR ke sekolah- sekolah. Tujuannya mendongkrak penjualan di outlet mereka sendiri.

Ajang seperti Desle School Wefie, menjadi ujung marketing mereka di daerah- daerah. Efektif promosi ke outlet lokal mereka. Sejak dini Desle fokus mengajarkan anak buat mencintai produk dalam negeri. Salut buat perjuangan pengusaha kita yang satu ini.

Rabu, 31 Mei 2017

Kisah Wanita Diphk Tetapi Tetap Bangkit Wirausaha

Profil Pengusaha Yanti Rusdianti 


 
PHK membawa berkah. Tidak jarang banyak orang mengalami hal tersebut. Pasalnya insting kita akan naik ketika terdesak. Kreatifitas kita akan tiba- tiba muncul. Kita akan memilih jalur kewirausahaan. Kenapa begitu karena menjadi wirausaha tidak terikat dengan aturan perusahaan.

Ini kisah Yanti Rusdianti seorang wanita pemilih wirausaha. Dia mengenang kembali tahun 1998, ketika itu pabrik garmen tempat kerjanya memecatnya, rasa gregetan masih berasa.

Berhenti bekerja, dia kembali dari Surabaya ke Bogor, di sana mencoba melamar pekerjaan. Tetapi dia merasa semangat mencari pekerjaan tidak seperti waktu muda. Yanti berpikir kalau jadi karyawati kan udah bisa dihitung. Gaji perbulan sudah pasti setiap bulannya sama.

Ibu dua anak tersebut maka memilih pengusaha. Ia ingin memberi lebih terutama kepada keluarga. Walau ia sudah bertekat membangun usaha. Tidak semudah tersebut. Masalah utama mau berbisnis apa. Semua bermula dari iseng- iseng membuat usaha. Pertama kali Yanti memilih membuka bisnis kredit.

"Saya sudah tidak punya gaji, tetapi keluarga ini tidak boleh berhenti," kisahnya.

Ia berlanjut ke bisnis kredit aneka perlengkapan dapur. Menawarkan perlengkapan dapur pintu ke pintu. Usahanya ternyata berkembang. Tetapi dia mendapatkan masalahs seketika. Dimana usahanya bangkrut karena semua uang ditipu orang.

Bisnis kembali


Begitu gagal, Yanti tidak patah semangat, malah berbisnis kembali dengan uang seadanya. Kali ini memilih membuka kantin. Bisnis kantin kecil di perumahannya Bumi Indraprasta, Bogor. Bisnis ini kecil, tetapi jadi besar, bahkan menjadi lima kantin dia kelola.

Begitu suksesnya bisnis kantin ini. Sang suami bahkan memutuskan keluar pekerjaan. Dia ingin fokus buat mengerjakan bisnis kantin. Diantara itu, Yanti mulai melirik aneka kue, iseng- iseng mulai membuat aneka kue cake, black forest, dan kue cokelat lainnya.

Memang memasak sudah hobi. Dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu buat beli bahan. Awalnya dia malu- malu menunjukan hasil karyanya ke masyarakat. Apalagi mau dijual tidak terpikirkan. Suatu hari dia lantas membawa kue tersebut ke acara arisan ibu- ibu. Barulah Yanti berani menjual di tahun 2002 dengan brand sendiri.

Lewat ibu- ibu arisan pesanan terus mengalir. Dia mengolah 6 ton cokelat batangan setahun atau 500 kilo per- bulan. Ia lantas menamai Waroeng Cokelat. Tentu hasilnya puluhan juta rupiah. Ia semakin percaya diri untuk bisnis Waroeng Cokelat. Jika awalnya cuma menerima pesanan momen tertentu sekarang tidak.

Jika sebelumnya, seperti hari Valentine, dia mendapatkan pesanan. Sekarang kapan saja produk cokelat itu bisa dijual. Dengan kemasan menarik dan modern, maka pembelian juga meningkat di hari biasanya, jadi tidak cuma cokelat dikemas hati saja.

Produk harian


Dia memutuskan produksi tiap hari. Dari sekedar kue berkembang ke aneka cokelat. Ia menemukan aneka resep cokelat enak. Agar semakin kreatif,Yanti tidak segan mengikuti aneka seminar tentang cokelat ke luar kota. "Semua itu (seminar) saya lekukan demi bisnis," jelas Yanti.

Mungkin terdengar bisnis rumahan kecil. Namun siapa sangka dia mampu menembus pasar supermarket. Ia menyetok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. Dia sangat berani mempromosikan bisnis cokelat miliknya. Tidak pernah malu lagi untuk menunjukan ke masyrakat.

Menurutnya agar masuk ke pasar ritel, satu- satunya cara adalah meyakinkan masyarakat bahwa produk miliknya berkualitas. Dia punya hobi mengikuti aneka pameran. Pokoknya jika ada suatu badan yang tengah mengadakan ajang kewirausahaan; dia ikut.

Mengikuti pameran dia mendapatkan banyak pengetahuan. Meskipun sudah untung jutaan Yanti tidak mau berhenti belajar. Contohnya ketika ia belajar bahwa cokelat tidak bisa dijajakan di ruang terbuka. Ya nanti kan bisa meleleh pungkasnya. Walaupun sudah dimasuk ke kulkas setelahnya, kualitas cokelat akan rusak.

Dia mencontohkan pengalamannya sendiri. Setelah dijajakan di ruang terbuka dan dimasukan ke kulkas. Cokelat tidak sebagus kondisi awal. Mangkanya dia sekarang tidak sembarangan memajang produk yang dia buat.Sukses Yanti justru baru mulai membangun mimpinya bahkan ketika orang bilang dia sukses.

Dia pernah mengikuti pameran oleh Kementerian Pertanian. Dimana dia menemukan, di China, Chiang Mai membuat cokelat dengan wadah besar. Beruntung ketika berkunjung di Malaysia dia menemukan apa cetakan sesuai besar. Modal awal Rp.500 ribu sekarang setiap tahun bisnisnya naik 10% setiap tahunnya.

"Jangan pernah takut untuk memulai bisnis. Kalau ada kemauan, pasti ada jalannya," tutup Yanti.

Senin, 29 Mei 2017

Sukses Pengusaha Mutiara Jualan di Kaskus Makin Mulus

Profil Pengusaha Fredy Imansha 


  
Berbisnis butuh ide, dan terkadang ide bisnis datang mendadak di benak kamu. Pengusaha muda satu ini merasakan ide mendadak muncul. Awalnya sepulang liburan di Indonesia Timur, kok, Fredy Imansha tidak mendapat apa- apa. Semua oleh- oleh dibawanya ludeh habis diambil oleh kerabat dan teman.

Fredy berpikir bisnis ini bagus. Waktu itu sih, pemuda 25 tahun ini membawa oleh- oleh berupa perhiasan mutiara, sekitar tahun 2011 silam. Siapa sangka bisnis mutiara air tawar miliknya bernilai Rp.40 juta!

Bisnis internet


Ia membeli beberapa perhiasan mutiara. Dikasihnya kepada keluarga dan beberapa teman di Jakarta. Sisa ia kemudian jual di Kaskus aja. Siapa sangka akan laku keras loh. Fredy semakin yakin akan peluang bisnis mutiara air tawar. Peluang bisnis aksesoris dan perhiasan mutiara buat dijual ke Jakarta.

Sebulan setelah sisa oleh- oleh habis. Fredy kembali memborong mutiara. Tiga bulan dia bolak- balik buat memborong mutiara- mutiara tersebut. Dia beli mutiara ketika jadi oleh- oleh cuma Rp.2 juta. Sekarang Fredy membeli Rp.10 juta bolak- balik dari Indonesia Timur.

Itu sejalan dengan omzetnya yang naik dari Rp.7 juta per- bulan, jadi Rp.40 jutaan. Perbelanja Fredy bisa memborong 100- 150 mutiara yang dijadikan aksesoris. Ia kemudian menyebar mutiaranya kepada para reseller. Tujuh reseller bahkan ada yang mengambil untung lebih banyak dari Fredy.

Pekerjaan sebagai pemasok dan penjual dilakoni. Kunci sukses bisnisnya adalah faktor harga. Apalagi jika kita bandingkan dengan toko- toko perhiasan di Jakarta. Sebagai tambahan dia melapisi mutiaranya dengan aneka perhiasan lain, seperti gelang perak atau chrome yang khas anak muda.

Ia menyebutnya ekslusif tetapi terjangkau. Karena setiap produknya dia bandrol seharga Rp.100 ribu. Ia lebih memilih jualan lewat online. Pasalnya mengurangi biaya- biaya tidak perlu. Alhasil produknya bisa dihargai lebih murah.

Pembeli kebanyakan anak muda. Mereka membeli buat kado pacarnya. Sempat kwalahan dia menghadapi permintaan pas Valentine khususnya.


Minggu, 28 Mei 2017

Kerajinan Kerang Ekspor Bagaimana Caranya

Profil Pengusaha Nur Handiah Jaime Taguba 



Tidak jarang kita menyepelakan bisnis kecil- menengah kita sendiri. Ternyata diantara pesimisme pasar lokal, ada pengusaha- pengusaha hebat, mereka menjual ke luar negeri dan hasilnya mencengangkan. Kita ambil contoh nih pengusaha kulit kerang bernama Nur Handiah Jaime Taguba.

Lewat tangan kreatif dia merubah kulit kerang. Produk etnik karyanya diekspor sampai ke Eropa, Asia, Afrika, hingga ke Amerika. Nur adalah pemilik perusahaan Multi Dimensi Shell Craft yang membawa kulit kerang Pantura ke kancah dunia.

Bisnis karena cinta


Bisnis Nur berawal dari ketertarikan seorang kawan. Suami kawan tersebut ingin mengekspor kerang buat dijadikan kerajinan. Nah, Nur Handiah, menjadi perantara buat mengirim kerang- kerang tersebut. Tidak lama dia memutuskan berkreasi sendiri.

"Saya penasaran buat apa, akhirnya saya enggak mau kirim bahan bakunya," tuturnya. Setelah dia tau kalau setelah diekspor bahan bakunya naik berkali lipat harga!

Ia berkata, "saya buat barangnya."

Usahanya berdiri pada 2000 silam. Di atas lahan 1000 meter persegi, pabrik kecilnya berdiri mengolah si kulit kerang. Dia mempekerjakan sekitar 60 orang, yang mana adalah tetangganya. Harganya murah kok dari Rp.5000, seperti gantungan kunci, bunga, dan kecil- kecil lainnya.

Tetapi tidak juga terbatas. Nur Handiah juga menyiapkan produk premium. Seperti produk berharga Rp.24 juta, berupa satu set furnitur, mulai lampu, kaca cermin, meja.dll. Inovasi juga terus digalangkan hingga produknya benar- benar menarik.

Berjalan waktu pabrikannya seluas 32.000 m2. Dimana kapasitas sampai 8 kontainer per- bulan. Jangan bilang bisnis dijalankan gampang. Dia sudah mengerjakan bisnis ini selama 12 tahun. Jadilah pantas jika dia sudah mempunyai koneksi dari Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, sampai ke Afrika.

Perusahaan Nur sekarang nilainya tidak kurang 2 miliar. CV. Multi Dimensi beralih dari pengekspor kulit kerang menjadi produsen furnitur kerang. Fokusnya awal menggunakan kerang simping, namun makin ke sini, dia mulai berinovasi dengan aneka kulit kerang lainnya, seperti kerang dara, hijau, dan kerang hitam.

Tidak berhenti kreasi. Suatu hari, Nur ingin mengaplikasikan kerang dengan media lebih luas, maka jadi sebuah rumah bernama Rumah Kerang Cirebon. Dengan kulit kerang ditempelnya menjadi hiasan outdoor. Lalu dia mulai mendekorasi isinya dengan kerang juga.

Dari korden, furnitur, hingga lampu gantung dari kerang!

Tentu tidak langsung sukses. Nur mengaku sempat kelimpungan soal modal. Untungnya dia mendapatkan perhatian dari sebuah BUMN. Pinjaman bunga lunak tidak disia- siakan. Usahanya lalu menjadi salah satu mitra binaan BUMN tersebut. "Inginnya sih pinjaman tanpa pengembalian. Tapi tidak ada," guraunya.

Selain itu dia dimediasi untuk mengikuti aneka pameran. Menurutnya pengusaha harus rajin cari tau. Ia mengatakan pengusaha pemula haru update dari pemerintah. Mereka menyediakan tempat gratis. Namun, ya, akomodasi harus modalin sendiri. Kelebihannya kita bisa mendapatkan koneksi ke luar negeri seperti dia.

Kita diberi booth gratis kok. Kalau startegi pemasaran, selain ikutan pameran tersebut, maka andalkan strategi mulut ke mulut. Dibantu Pemda Cirebon, usahanya makin gampang menyebar ke seluruh pelosok, maka banyak pejabat datang berkunjung termasuk dua presiden kita Pak SBY dan Jokowi datang melihat.

Agar sukses dia tidak lupa mengikuti trend. Mangkanya dia membuka promosi lewat internet. Salah satu caranya adalah lewat toko online www.capizbalishell.com. Tidak lupa membuka outlet di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Semua pencapaian itu membuat nama Nur Handiah menjadi satu pengusaha yang ternama Indonesia.

Sabtu, 27 Mei 2017

Ide Bisnis Makanan Tradisional Langka Kolombeng

Profil Pengusaha Sukses Sumadi


  
Sumadi bukan orang baru dalam pembuatan roti. Dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik roti. Bayangkan puluhan tahun pria 42 tahun ini mengabdi. Penghasilan tidak sebanding dengan keringatnya. Namun, dari sana, ternyata menumpuk tumpukan kerak- kerak pengalaman mengurusi pembuatan roti.

Inilah cikal- bakal pengusaha asal Yogya tersebut. Ketika memutuskan keluar dari pekerjaan tidak mudah. Apalagi niat menjadi pengusaha butuh modal. Bagaimana membuka usaha kalau penghasilan pas- pasan. Ia lantas mencari cara: Sumadi menjual perhiasan sang istri untuk membuka usaha roti.

Berkat kerja keras, keuletan, usaha dijalankan oleh Sumadi sukses. Bermodalkan uang Rp.350 ribu, kini, ia mampu mengantungi omzet minimal Rp.6 juta sehari.

Bisnis tradisional


Warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mana usahanya dimulai sejak 1999. Usaha kue kolombeng bersama istrinya, Nanik (36), adalah bisnis bermodal perhiasan simpanan mereka. Itu merupakan hasil kerja sepuluh tahun dengan seorang pengusaha roti asal Yogya.

Modal usaha awal buat membangun usaha Roti Kholombeng. Awal Sumadi membuat 1.000 bungkus roti sehari. Roti tersebut lantas dijual ke Pasar Bringharjo, dan beberapa pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Jadi roti akan dibuat seharian dari pagi sampai siang hari. Lalu dikumpukan lantas akan dijual pada esok harinya. Sumadi akan mengayuh sepeda ontelnya. "Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain," ujar Sumadi.

Roti buatannya kok laris manis. Ternyata memang rasanya mak nyus. Roti buatan Sumadi diborong oleh pedagang besar. Apalagi dia menerapkan harga yang sangat terjangkau. Cocok buat pedagang besar jual kembali ke masyarakat. Yakni roti buatannya dihargai Rp.350 sebungkus berisi 10 roti kolombeng.

Bagi para pedagang pasar itu sangat murah. Singkat, bisnis Sumadi naik pesat, bahkan sudah sangat dikenal oleh orang pasar. Lantaran menjadi kompetitor tunggal pesanan membludak. Sumadi bahkan sampai khawalahan. Waktu itu Sumadi sendiri bersama istri mengerjakan semua proses pembuatan roti.

Menghadapai pesanan membludak Sumadi mempekerjakan karyawan. Bahkan tenaga kerja bertambah yang mana disesuaikan permintaan yang juga bertambah. Ia selalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Dia sudah memiliki 7 orang karyawan.

Dibantu tujuh karyawan untuk berproduksi. Berapa Sumadi berproduksi setiap harinya. Dia mengaku bisa berproduksi 1.500 roti per- hari. Disisi penjualan semakin mudah karena nama. Sudah ada pedagang roti grosiran yang langsung menjemput. Pedagang roti juga tidak segan buat mengambil langsung ke pusat produksi.

Sumadi mampu menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika posisi pasar sepi, maka Sumadi hanya bisa memproduksi sampai 5 karung tepung terigu. Pamornya yang naik membuat kerja sama datang sendiri. Pemilik produk terigu menawarkan kerja sama memasok tepung terigu ke tempatnya.

Tidak cuma untuk berproduksi. Ia juga mendapatkan pelatihan penjualan dan produksi di Semarang. Omzet Rp.6 juta sehari itu belum dipotong buat gaji, bahan baku, sudah termasuk transportasi yang sudah tidak lagi memakai ontel. Untuk keuntungan bersih Sumadi dan Nanik sepakat tidak menyebutkan angka.

Sumadi menggaji Rp.30 ribu sehari, kalau pesanan banyak, yah dia mengeluarkan uang tambahan buat para karyawannya tersebut. Dengan sistem pesanan borong memberi rejeki lebih ke karyawan.

Bisnis tak lekang


Mungkin orang lebih mengenal nama roti bolu, roti tar, donat, dan yang terbaru brownies. Siapa sangka diantara roti populer tersebut. Nama roti tradisional Kolombeng ternyata masih eksis. Ditangan dia lah, pengusaha asal Yogya, roti tradisional yang terkenal pada 1950 -an ini, kembali terkenal dan laris manis.

Persaingan ketat justru datang dari roti modern. Lewat kue tradisional, Sumadi mengaku senang karena namanya juga ikut menjadi sorotan. Ia bangga sekaligus bahagia. Ternyata kue kolembeng buatanya bisa bertahan sampai sekarang.

Sebelum fokus di Kolombeng Sumadi mengaku sempat membuat bakpia dan wingko. Resep kue tersebut ada telur, gula, essen jeruk, dan ovelat dicampur menjadi adonan. Lalu dimasukan cetakan aneka bentuk. Mulai berbentuk kotak dan persegi. Kemudian dimasukan ke oven selama 20 menit hingga matang siap.

"Kami bangga karena masih bisa membuat dan memproduksi kue tempo dulu," tutur dia.

Bahan baku pun mudah sehingga mudah diproduksi. Bahan bisa dicari meskipun produksinya masuk ke pedesaan. Pasarnya selain untuk umum, bisa dijual buat acara tertentu seperti pengantin, supitan, sripah, atau saat orang meninggal.

Zaman dulu Kolombeng dikenal merakyat. Enak disajikan dengan minuman seperti teh buat teman kita mengobrol. Di jaman kemerdekaan, kue tersebut digunakan sebagai pemerat persatuaan masyarakat di daerah Yogya. Enak teksturnya unik dan memiliki perjalanan sejarah panjang membuatnya masih digemari.

Jumat, 26 Mei 2017

Rencana Usaha Ayam Bakar Mahasiswa Sukses

Profil Pengusaha Dymas Tanggul Panudju 


 
Semenjak kecil, Dymas Tanggul Panudju, memang gemar berwirausaha. Baka bisnisnya berkembang walau dia tidak bersekolah khusus. Mahasiswa Universitas Brawijaya, jurusan Teknologi Hasil Pertanian, malah memilih bisnis ayam bakar. Mungkin terlihat banyak persaingan tetapi pemuda 28 tahun ini mampu.

Menyalip diantara bisnis serupa bukan mudah. Dipicu oleh kekurangan biaya kuliah. Dymas mulai sibuk bekerja sampingan. Pilihan tidak menyenangkan adalah memilih bekerja langsung atau tidak kuliah, atau tetap kuliah tetapi keteteran. Jadi dia membuat opsi sendiri dia memilih mengakali biaya kuliah sendiri.

Dia bekerja di sebuah rumah makan. Lanjut dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan katering. Dia mendapatkan gaji cukup. Dari katering ternama tersebut dia bisa melanjutkan kuliah. Rangkul hari mu atau seize the day, yakni prinsipnya bahwa keseharian harus diisi oleh hal- hal berharga.

Mangkanya selain sibuk bekerja dan kuliah, Dymas sempatkan diri mengikuti organisasi di kampus. Lalu ia diangkat menjadi steering committee. Jabatan bergengsi di organisasi kampus, kemudian dia mulai menemukan kasus- kasus, seperti bahwa kampus membutuhkan jasa katering.

Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa membutuhkan konsumsi buat anggota seminar dan panitia seminar. Ia kemudian mendapatkan tugas buat menyiapkan konsumsi. Tetapi keterbatasan dana menjadi masalah. Ia tetap semangat. Pokoknya tugasnya bagaimana menciptakan makanan murah tetapi berkualitas.

Bisnis katering


Jujur dia kembingungan menghadapai pesanan tersebut. Dymas mulai berpikir keras bagaimana mampu menyediakan menu tersebut. Disisi lain keinginan menjadi pengusaha katering muncul. Pasalnya karena kebutuhan makanan pesanan memang sangat dibutuhkan. Memang bisnis kuliner tidak pernah ada matinya bukan.

Prospek sebut saja jika 6000 orang hadir, dimana ada tiga hari dalam sepekan, dan dimana kegiatan itu sudah bersifat rencanan tahunan atau sudah pasti ada. Disisi lain, organisasi memiliki 10- 16 program kerja, dimana nanti akan ada pesanan sendiri.

Dymas mulai hitung- hitungan di atas kertas. Hitungan 36 Universitas di Malang, dimana jika mereka nanti menjadi pelanggan katering yang akan Dymas dirikan. Sudah berapa keuntungan bisa diraih oleh pemuda tersebut.

"Orang yang terbiasa menggunakan otak kanan akan melihat titik finish dimana ada banyak sudut pandang meskipun dalam benang kusut dan hanya 5 meter," ungkapnya dalam blog pribadi.

Masih kuliah Semester 3, dia membiayai semua bisnisnya sendiri, Ia memutar otak agar bisa mendapatkan modal usaha. Pertama mikir mau pinjam bank tetapi pasti tidak dikasih. Dymas mikir lagi apalagi mau minta orang tua, untuk biaya kuliah dan makan aja susah.

Dia juga kayaknya malu kalau pinjam saudara. Maunnya sharing dengan teman satu kosnya. Lalu dia coba sampaikan ke teman- teman kosnya. Tidak disangka ide itu mendapatkan tanggapan baik dari mereka. Ia pun mendapatkan dana Rp.4,5 juta. Menurutnya waktu itu, hasil iuran, sudah termasuk banyak dari mereka mahasiswa.

Dukungan moril juga diberikan teman Dymas. Ia sendiri berjanji uang tersebut adalah hutang usaha. Jadi bukan sharing modal. Yah teman- teman Dymas ragu. Meskipun tetap memberi dukungan, mereka nampak tidak siap untuk berbagi usaha dan percaya bahwa bisnisnya akan sukses.

Ia memaklumi hal tersebut. Bisnis yang awalnya katering, berubah menjadi bisnis ayam bakar, tetapi dia pintar tetap menarget pasar sebelumnya. Dia mematok harga ayam bakarnya Rp.7.500. Dengan waktu itu tahun 2010 masih sedikit persaingan, bisnis ayam bakarnya masuk memenuhi pesanan buat mahasiswa Unibraw.

Dia juga menyiapkan ayam goreng Rp.6.500. Dibanding tempat lain sudah murah tuh, tempat lain harga satuanya bisa Rp.10.000 -an. Sudah banyak orderan Dymas baru kepikiran nama usaha. Dulu pake nama pemberian teman tetapi dianggap tidak cocok.

Bisnis mahasiswa


Ia teringat asal usulnya. Pelosok Desa Ngimbang, Kabupaten Lamongan, inilah cikal bakal nama usahanya. Dymas ingin mengangkat nama desanya, membuat orang tuanya bangga. Uang segitu ternyata tidak mudah loh. Dia memulai usahanya bermodal dua kompor minyak dan satu penanak nasi.

Dymas memang jago mengolah ayam. Bumbu racikan dicari sampai 36 kali hingga rasanya pas. Jadi dia tidak langsung launching bisnis. Modal lainnya, yang utama, adalah ketekunan, keuletan, inilah rahasia dia mampu menciptakan masakan sedap.

Inilah cara dia menemukan resep sesuai lidah pelangganya. Usahanya berkembang pesat, memasuki tahun 2007- 2009, dia membuka 15 cabang. "Kalau soal bumbu, itu rahasia, nanti ditiru," selorohnya. Buat menunya ada ayam bakar Ngimbang, ayam goreng mentega, dan bebek halilintar.

Tahun 2009 datang masalah tidak terduga. Yakni penyakit flu burung yang merebak. Apalagi daerah Jawa Timur ramai sekali kasus flu burung. Alhasil, penjualan Dymas menurun drastis, banyak cabangnya tutup dan sisa tiga yakni di Malang, Surabaya, dan Lamongan.

Sudah jatuh karena flu burung, pihak mall juga melarang jualan ayam bakar karena asapnya. Agar bisa lepas dari jerat penyakit flu burung. Ia mulai mengedukasi masyarakat bahwa unggas miliknya aman. Dia juga membuat stiker bebas flu burung. Hasilnya per- hari bisa menjual 250 ekor per- hari dan omzetnya wah!

Berawal dari satu outlet di depan Unibraw. Karena permintaan banyak, dia membuka empat outlet di luar kampus, terus hingga cabang di luar kota. Omzet tahun 2007 adalah Rp.60 juta, untung bersihnya sampai Rp.27 juta. Tahun 2008 membuka empat outlet, hasilnya omzet Rp.128, laba bersih Rp.75 juta.

Tahun 2009, ozmet naik sampai Rp.234 juta, dan untung bersih Rp.166 juta. Tidak berhenti di usaha satu saja. Dia lantas membuka usaha ojek motor. Beberapa sepeda motor nanti dipakai oleh mahasiswa. Lalu ada jajanan ote- ote, memang usahanya keliatan sepele, tetapi pendapatannya lumayan loh.

Banyaknya pesanan membuat banyak orang minat. Para investor menawari Dymas untuk menjadika usaha ayam bakar miliknya menjadi franchise atau waralaba. Selepas menang Wirausaha Muda Mandiri 2009, dan dapat juara 1, nama Ayam Bakar Ngimbangan semakin menarik investor untuk menjadi bisnis mereka.

Namun, Dymas belum kepikiran, malah lebih fokus membuka cabang sendiri. Fokus ini didukung oleh kemampuan menjaga cira rasa tetap terjaga.

Kamis, 25 Mei 2017

Membuka Usaha di Papua Jayapura Kisahnya

Profil Pengusaha Widiyawati 


 
Memilih menjadi wirausahawan bukan pegawai. Bukanlah pilihan mudah bagi kita semua. Jujur itu pula yang pernah dirasakan Widiyawati. Apalagi bisa dibilang pekerjaanya sudah mapan puluhan tahun. Di umur 37 wanita berambut cepak ini akhirnya memilih membuka usaha sendiri.

Bayangkan keputusan gila itu terjadi tahun 2006 silam. Ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tambang emas terbesar, ya PT. Freeport Indonesia. Bekerja di Papua, gaji puluhan juta dikantongi oleh Widi.

Baginya karyawan tetap karyawan. Dia ingin naik kelas menjadi atasan. Bekerja di Freeport tentu  lah dia kesulitan mencapai titik itu. Uang tabungan Rp.70 juta digelontorkan buat mendirikan bisnis. Dimana dia bikin tempat spa di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ternyata berbisnis spa memiliki persaingan sangat ketat loh.

Bisnisnya gagal, uang tabungan puluhan juta hilang. Tetapi tidak sia- sia pengalaman. Meskipun belum merasakan untung sesuai target. Widi tetap semangat mencoba berbisnis kembali. Terbersit penyesalan karena memilih kengkang dari perusahaan Freeport itu.

"Rasa penyesalan kelaur dari pekerjaan mapan itu ada (untuk berwirausaha)," ia berkata.

Namun dirinya harus siap apapun rintangannya. Keputusan telah diambil dan Widi harus bangkit dari rasa keterpurukan itu. Warga Jurangmangu, Tangerang Selatan, ini memilih kembali ke Papua pada 2009. Dia tidak kembali bekerja di Freeport justru memilih berbisnis di sana.

Bermodal tekat dan nekat, dia membuka bisnis serupa, tetapi dengan modal seadanya. Widi memulai dari nol besar. Bermodal sisa jual aset usaha senilai Rp.30 juta. Itupun sebagian sudah dipakai buat biaya hidup keluarga. Di Papua dia mulai lagi membangun bisnis yang pernah bangkrut tetapi dengan perbaikan.

Jika di Jakarta dia menyewa ruko buat bisnis. Di Papu, Widi cuma menenteng proposal bisnis, dengan percaya diri tinggi dia menawarkan bisnisnya ke hotel- hotel. Modalnya hanya niat, keberanian, dan tentu kemampuan dalam hal bisnisnya tersebut.

Tidak mungkin Widi barani kalau belum paham akan bisnisnya. Ternyata membangun bisnis di Jayapura malah lebih susah. Iklimnya ekstrim dimana sering terjadi hujan. Alhasil soal pengiriman barang jadi sangat terganggu. Tidak membuat Widi menyerah. Ia tetap berjuang mengembangkan bisnis barunya itu.

Bisnis bernama Herbal Aroma SPA mulai dibangun. Kegigihan itu membawanya sukses masuk ke hotel- hotel, salah satunya ada Harison Hotel. Sekarang dia memiliki 15 orang karyawan, 10 laki- laki dan 5 perempuan. Sebulan mampu mengantungi Rp.71 juta bayangkan sudah.

Prospek usaha menurut Widi: Menarik jika melongkok Papua dibangun banyak hotel- hotel berkelas. Kita sebut saja Swiss Bell Hotel, Sahid Hotel, dan Yasmin Hotel.

Widi yang memilik kempapuan melobi. Dia mendapatkan tempat bahkan di lantai satu Hotel Horison, yang mana pengunjung begitu masuk bisa langsung spa. Ia juga sudah memegang kontrak dengan Swiss Bell Hotel yang mana sudah mulai beroprasi. Pendapatan tambah begitu juga karyawan bertambah juga pula.

Menjadi pemula berbisnis di Papua, Widi menawarkan keunikan sendiri, memakai rempah dari Yogyakarta dan Bali. Tiap bulan dia berbelanja ke Yogya dan Bali. Karena unik mangkanya pengunjung memburu itu. Pemilihan bahan pasti akan membuat badan segar. Harganya lumayan mahal karena di Papua yakni Rp.199- 999 ribu.

Rabu, 24 Mei 2017

SItus Tiket.com Kapan Berdirinya dan Oleh Siapa

Profil Pengusaha Dimas Surya Yaputra 



Terkadang kita cukup butuh obrolah ringan menjadi bisnis. Ini adalah kisah empat sekawan, terutama kisah seorang anak muda bernama Dimas Surya Yaputra, atau Dimas Putra yang tergila- gila internet. Bagianya disinilah dia menemukan jati diri hingga berbisnis sendiri.

Tahun 2009 dia menemukan Swinde.com, situs barang lelang yang dibandro dibawah harga sebenarnya di masyarakat. Cuma enam bulan dia mampu menghasilkan pendapatan $1 juta, dan mampu menggaet kurang lebih 80.000 orang pengguna.

Pemuda lulusan Universitas Pelita Harapan, tahun 2007- 2010, jurusan ekonomi yang kemudian lanjut kuliah di Beijing Language and Culture University. Dia mengajak Wesna Agustiawan dan Jeffry Anthony mengerjakan bisnis PhaseDev. Menggaet 30 pengembang perangkat lunak dalam tiga divisi bisnis mereka.

Yakni mengerjakan aplikasi mobile, kemudian pengembangan aplikasi desktop, dan membangun situs web buat kamu. Dimas diangkat jadi CFO yang mengurusin keuangan perusahaan. Mereka memiliki 40 orang karyawan yang merupakan anak- anak muda. Meskipun sudah banyak penghargaan Dimas masih merasa kurang.

"Kami masih jauh dari sukses," ujarnya. Bungsu dari empat bersaudara ini merasa performa produksi nanti harus ditingkatkan. Anak muda penghobi golf dan komputer ini, ingin lebih banyak konten karya mereka PhaseDev lebih menarik masyarakat pengguna.

Bisnis tiket


Dia memiliki ide berbisnis tiket. Bayangkan susahnya kala itu, bagaimana orang harus bercalo ketika mau pergi naik pesawat. Tahun itu tahun 2010, dimana kalau mau pergi dari Medan ke Tegal rasanya super sulit, dan berbanding terbalik kisah sukses startup Tiongkok berbasis Online Travel Agent (OTA).

Meskipun begitu OTA itu beda dengan tiket.com. Bisnis Dimas ini, bersama tiga orang temannya, yakni Wenas Agusetiawan, Gaery Undarsa dan Natali Ardiant, mereka juga didukung seorang investor lokal. Berawal dari obrolan karena malasnya mengantri membeli tiket malah menjadi bisnis.

Dimas berkata inilah peluang besar di internet Indonesia saat itu. Berdiri pada Agustus 2011 dan baru bisa beroperasi Desember 2010. Tidak cuma menjual tiket tetapi mereka memberi informasi rute. Tidak cuma bebas calo tetapi lebih gampang mencari ketersediaan di tempat.

Memang usianya belia, tetapi Dimas tidak ragu membangun mimpi bisnis digital nya. Dalam setahun sejak mereka launching. Mereka berhasil menggaet 100 ribu pengguna. Banyak tiket dijual tidak cuma tiket pesawat, ada tiket bioskop, konser.dll.

Tiket.com menjadi salah satu rekanan bisnis PT. Kereta Api Indonesia. Semuanya memang berawal dari kereta api dahulu dan berhasil. Kebetulan pemerintah tengah membenahi penjualan tiket kereta api. Lalu mereka mulai menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan.

Ada total enam maskapai, jaringan bioskop 21, mengandalkan jumlah mereka mampu mereguk transaksi tidak kurang dari 1.000 tiket. Untuk modal sendiri Dimas tidak banyak bercerita. Yang pasti mereka siap mengeluarkan biaya agar server tidak mati. Dan dari enam orang karyawan sekarang 40 orang karyawan.

Artikel Terbaru Kami