Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Kamis, 17 Agustus 2017

Jual Kerajinan Bunga Sabun Untung

Profil Pengusaha Sukses Camelia


 
Selain harum di tubuh wangingnya sabun juga menguntungkan. Berapa banyak rupiah bisa diteguk. Ternyata bisa diluar dugaan dengan kreatifitas tingkat tinggi. Ini cerita seorang pengusaha wanita bernama Camelia. Siapa sangka wanginya sabun batangan bisa diubah menjadi emas sungguhan.

Singkat cerita dimulai dari ketertarikan Camelia akan karya seni. Bermula 2013 silam, lewat saudarinya dari Kendari, yang memperlihatkan kerajinan berbahan dasar sabun mandi. Produk sehari- hari tersebut ia lihat bisa dirubah menjadi sebuah bentuk kesenian ukir.

Melihat bentuk unik, indah, dan harum, Cameli mendapatkan ide cemerlang untuk membuat kerajinan dari bahan sabun batangan. Wanita asal Makassar ini menghasilkan keuntungan sampai jutaan. Untuk bisa dia sekarang, belajar mengukir sabun membutuhkan waktu lama.

Tidak mudah apalagi dia bukan orang menganggur. Sebagai ibu rumah tangga, kegiatan menata rumah bisa menyita waktu. Disela- sela membersihkan rumah, dia mengukir alat pembersih tersebut menjadi bentuk bunga. Satu pot diproduksi dalam tempo tiga pekan. Bau sabun berbentuk bunga menjadi kelebihan hiasan ini.

Semangat wirausaha menggebu ketika Camelia dikunjung orang. Melihat hiasan tersebut dan wanginya yang memenuhi ruangan. Mereka tertarik memberikan lontaran pertanyaan. Dari ketertarikan mereka bisa disimpulkan sendiri bahwa Camelia punya peluang bisnis menjelang Idul Fitri. Berjualan di Pantai Losari, hasilnya jualan Camelia laku keras diborong pembeli.

"Responnya sangat bagus, orang penasaran dengan kerajinan ini," jelasnya.

Bisnis serius


Dia merasa bisnisnya bisa dipasarkan lebih luas. Selepas Idul Fitri jualanya menyebar dari mulut ke mulut. Dibantu anak ketiganya, Adel, bisnis kerajinan sabun semakin dikenal masyarakat. Adel membantu pula promosi lewat sosial media. Pesanan semakin banyak lewat promosi semacam tersebut.

Dia juga ikut berbagai ajang promosi usaha kecil dan menengah. Juga ikut berbagai pelatihan wirausaha, seperti tentang bagaimana berpromosi, cara mencari modal, hingga produk mereka semakin luas dalam hal jangkauan penjualan.

Bunga buatan mereka pun ikut dipamerkan di acara pameran Menteri Koperasi dan UKM. Yang mana tiap pot ukuran besar dihargai Rp.150 ribu. Terhitung murah karena waktu pengerjaan mencapai 2 mingguan. Dan yang kecil dijualnya Rp.50 ribuan, usaha ini menghasilkan untung Rp.500 ribu per- bulannya.

Meskipun kecil, dia tidak menyerah, masih ada pasar yang tengah digalinya lagi. Untuk membuat satu pot atau 25 tangkai, dibutuhkan tiga sampai empat batang sabun. Sabun tersebut diparut kecil- kecil, hingga jadi serbuk, diberi air dijadikan adonan yang gampang dibentuk.

Setiap rangkaian dibentuk dengan lem. Kemudian diberi batang besi panjang sebagai dahan. Nah, kalau hal daunnya dibuat dari daun plastik. Ditempel ke bunganya hingga membentuk indah. Bunga akan mengeras dalam waktu. Soal wanginya bisa bertahan sampai empat bulanan.

Gunakan plastik yang dilubangi, dibungkuskan ke bunga, tujuannya agar wangi jadi lebih awet tahan lama. Produk ini juga ditawarkan ke pihak hotel, atau perusahaan- perusahaan. Optimis bisnis ini berkembang bahwa ketika mereka sadar akan produknya. Pastilah pesanan akan membanjiri dia ketika sudah berhasil.

Kamis, 10 Agustus 2017

Kisah Mualaf Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Potensi Clay Buat Wirausaha Menjanjikan

Profil Pengusaha- Pengusaha Clay 



Memang bisnis bidang kerajinan selalu ada jalan. Kalau kita jeli, pasti ada saja peluang dapat kamu bidik kembali. Cukup mengikuti trend kekinian bisa. Ambil contoh sukses beberapa pengusaha berikut. Soal bisnis mereka boleh dibilang tengah digandrungi masyrakat yaitu bisnis clay.

Clay impor menjadi pilihan beberapa pengusaha. Polymer clay memang bisa diubah menjai apa saja. Salah satu pengusahanya bernama Yeni, wanita 31 tahun yang mulai mendalami kerajinan clay sejak 2002 silam. Awalnya dia diajari seorang teman hingga akhirnya berwirausaha.

Produk mulai dari miniatur hewan, bentuk makanan, dan bunga. Pesanan bisa mencapai ratusan juta loh. Dia menjual Rp.15.000 per- item. Soal omzet Yeni memilih tidak memberi tau. Tetapi bisa dipastikan jika produk claynya sangat mirip aslinya, sudah pasti omzetnya bisa sampai puluhan juta.

Meskipun masa krisis, dia masih bisa menjual terutama mereka para kolektor. Pengusaha clay lainnya ada pasangan suami istri Hermawan dan Widi. Mereka membuat aneka figura berbahan polymer clay. Yang mana clay ini dioven dulu baru kering.

Bisnis mereka bermula dari hobi sang istri. Widi merupakan penggemar clay sejak dulu. Jadi tanganya memang sudah terampil. Masuk 2007, dia dan suami, mulai menekuni bisnis aneka produk clay dibawah bendera Pro C1ayArt, yang mana fokus mereka lebih artistik lewat figura clay bukan sekedar miniatur.

Perpaduan warna detail, dimana sudah ada 25 desain frame foto 3R dan 4R. Dimana sudah termasuk aneka hiasan kecil berbahan clay juga. Hiasannya juga tidak besar, terkadang hanya butuhkan 1 kilogram saja per- bulan. Dimana harga jualnya Rp.400-500 ribu dimana omzet mereka perbulan mencapai Rp.40 juta.

"Karena harus impor, harga jualnya jadi mahal," paparnya.

Selasa, 08 Agustus 2017

Mencintai Wirausaha Kunci Sukses Mendunia

Profil Pengusaha Thuy Thanh Truong



"Ketika saya mengerjakan sesuatu yang aku cintai tentanya maka aku akan menikmatinya, untuk ku berhenti mengerjakan itu berarti sebuah hukuman," ia membuka.

Namanya Thuy Thanh Truong, pengusaha muda asal Vietnam, dikenal sebagai ratunya startup di negar itu. Ia merupakan putri satu- satunya. Kelahiran Bein Hoa, kota di utara Vietnam. Di 2003, orang tuanya lalu pindah ke Amerika, untuk pendidikan lebih baik Thuy.

Dia masuk Alhambra High School. Kemudian kuliah di Pasadena City Collage. Tahun 2009 dia pindah ke University of Southern California sebagai lulusan ilmu komputer.

"Saya cuma tidur lima jam sehari," ucap pengusaha 29 tahun ini.

"Saya bahkan tidak bisa mengatasi jet leg. Saya tidak percaya prinsip hidup seimbang," jelasnya. Kenapa bisa begitu karena dia sibuk menjalankan tiga bisnis di dunia berbeda. Dia dengan semangatnya bisa masuk ke jajaran perusahaan Silicon Valley.

Awal bisnis


Layaknya orang tua lain asal Vietnam, Amerika menjadi tujuan terbaik pendidikan anak mereka. Tetapi ia memilih kembali ke Vietnam ketika lulus. Jujur orang tua Thuy ingin dia bekarir di Amerika Serikat. Dia kemudian memulai bisnis pertama yakni bisnis yogurt beku bersama teman sekolah menengahnya.

Bisnis tersebut dimulai 2008, yang mana diberinya nama Parallel Frozen Yogurt. Dengan sistem yang bersifat startup. Bisnis ini berkembang diluar perkiraan. Yang mana dia mendapatkan pendanaan untuk bisa membuka 3 cabang.

Dia berhasil menghasilkan ribuan dollar. Dengan marketing dan branding baik, bisnis Thuy bisa dibilang tidak ada hambatan. Namun brand bagus saja tidak cukup loh. Intinya bagaimana Thuy menciptakan bisnis berkesinambungan. gagal. Dalam tiga tahun akhirnya bisnis ini tutup pada 2012.

Penjelasannya adalah 99% bisnis startup gagal, hanya 1% yang berhasil dalam perjalanannya nanti. Dia menambahkan ketika kamu muda. Kamu mau menjalankan bisnis. Jalankan bisnis kamu rasa passion mu itu. "(Tapi) tidak ada garansi itu akan berhasil," terang dia.

Walaupun gagal dia menjelaskan di sana, kita bisa belajar sesuatu untuk bisnis lainnya ke depan. Disisi lain ternyata Thuy juga sedang menjalankan bisnis teknologi pertamanya -disaat yang sama bisnis yogurt dia jalankan.

Tahun 2010, teman kuliahnya, Elliot Lee berkunjung ke Vietnam. Keduanya setuju membuat studio kecil di Ho Chi Minh City, untuk membantu teknisi asal Vietnam berkembang. Usaha tersebut diberinya nama GreeGar dimana merupakan aplikasi whiteboard aplikasi desain kolaboratif laris iOS Store di berbagai negara.

Dimana penggunanya sempai 100 negara, penggunanya adalah para anak sekolahan. "Kami menghasilkan ribuan  dollar tetapi gagal menaikannya," tandasnya. Dimana pada 2014, bisnis ini selesai, tutup dimana sebagian timnya terpecah dan Thuy bersama beberapa orang mengerjakan aplikasi Tappy.

Apa sih Tappy? Sebuah aplikasi sosial media, dimana menyasar orang Vietnam sendiri, dengan tumbuhnya sampai 10% per- tahun. Tappy mencoba menjadi pemain lokal. Dengan mengenali keadaan Vietnam lokal mampu membuat aplikasi ini lebih bersinar.

Lewat Tappy bisa mencari orang di sebuh event tertentu. Tappy bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian jadilah komunitas kalian sendiri lewat Tappy. Pada Mei 2015, pihak Weebly, sudah sepakat membeli Tappy dimana senilai 7 digit angka nilai dalam waktu 10 bulan launching.

Lantas dia diangkat menjadi direktur bisnis oleh Weebly untuk Asia. Meskipun terlihat Vietnam punya potensi besar dalam startup. Faktanya infrastruktur masih terkendala. Wi- Fi dimana- mana sih. Tetapi sinyalnya sangat lemot. Dan perusahaan yang mau investasi butuh waktu 6 bulan hingga dokumennya siap.

Menjadi pengusaha muda Silicon Valley kehidupan Thuy adalah 50- 50 antara ke Amerika dan Vietnam. Dimana juga termasuk ke Singapura, dengan 10 kali pertemuan tiap harinya. Orang tuanya tinggal di Los Angles, pulang ke Vietnam dia berkunjung ke rumah paman dan sepupu di kampunya Bein Hoa.

Kekek Thuy dan ayahnya adalah pekerja keras, mereka memilih wirausaha. Mangkanya orang tua Thuy bisa mendukung memberikan semangat. "Kamu harusnya kerja keras ketika muda," tutup Thuy.

Kamis, 03 Agustus 2017

Toko Kebakaran Bangkrut Tetapi Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Nazmah Armadhani 



Menjadi pengusaha harus siap mengambil resiko. Begitu juga sukses Nazmah Armadhani, masih saja dia teringat cemooh tetangga. Waktu itu Nazmah sudah bekerja kantoran. Sebagai lulusan Sarjana, kok, gaji Nazmah tidak sebesar gaji babysitter.

"Sarjana kok gajinya kalah sama babysitter ku," ia menirukan.

Dia, seorang ibu rumah tangga memiliki tiga anak, bekerja kantoran cukup menyita waktu. Tetapi hasilnya tidak sebesar perjuangan mencapai gelar sarjana itu. Terselip keinginan membuka usaha sendiri. Namun dia belum punya bayangan. Berbisnis sepatu lukis? Menggambar saja Nazmah tidak bisa mau melukis lagi.

Bertitle Sarjana Ekonomi, pencapain Nazmah ialah bekerja sebagai editor, dan itupun di perusahaan kecil buku- buku Islam. Tahun 1992 digajinya uang Rp.80.000 per- bulan. Sedangkan sang babysitter tetangga gajinya Rp.400.000 per- bulan.

Malu Nazmah mendengar kenyataan hidup. Apalagi ditambah ejekan soal suami yang betah di kampung karena jam kerja Nazmah. Sang suami memang tinggal terpisah di kampunya, Banjarmasin, Kalimantan. Ia mencapai titik kesal ketika harus mengandung anak kedua.

Tahun berlanjut, masuk tahun 2000, anaknya sudah masuk TK -yang cukup mentereng di Surabaya. Yang mana isinya anak- anak tergolong mampu. Dibanding Nazmah, maka ia tidak ada apanya, justru ketika itu dia mulai mengamati paluang masuk ke dunia mereka.

Modal pertemanan dan tetangga toko di Pasar Turi. Dimana suaminya adalah pedagang ritel di sana. Maka Nazmah mendapatkan harga kusus buat ambil barang. Lantas dia mencoba menjajakan ke mereka berbekal mengamati mereka. Bisnis busana muslim Nazmah baru saja dimulai sambil membawa anak bungsu jalan.

Awalnya dia sama sekali tidak berani menawarkan. Mental tempe katanya. Padahal dia sudah bawa banyak barang tetapi tidak jadi dijual. Sampai ada ibu mendekati Nazmah karena penasaran akan barang bawaan -yang sangat besar itu. Nazhmah hanya tersenyum penuh arti. 

Sang ibu spontan nyeletuk. Rasa ingin tau membawanya membuka bawaan Nazmah. "Lho ini dijual ya, saya buka ya?" terang Nazmah. Dari sanalah kepercayaan lebih timbul. Mulai Nazmah berubah menjadi sosok pengusaha pakaian muslim sekaligus ibu rumah tangga.

Musibah bisnis


Diantara perjuangannya menjadi pengusaha. Kabar buruk terjadi yakni dua toko suaminya terbakar. Alhasil dia kehilangan banyak modal usaha. Padahal satu toko tersebut merupakan toko baru. Tetapi memang itu sudah menurun pendapatannya dan akhirnya terbakar. Tahun 2007 kerugian ratusan juta diterima dia dan suami.

Memulai bisnis kembali memang susah. Tapi Nazmah membuktikan dirinya mampu. "Dua toko kita habis, pas mau bulan puasa. Dua tahun kita bingung karena nggak ada pemasukan," ia mengenang. Dan suatu saat, sang anak mulai membuat lukisan di atas sepatu polos, Nuzmah lantas menjajal masuk ke pameran.

"Ternyata ibu gubernur suka," jelasnya.

Padahal bisnis dijalankan Nuzmah terbilang pasaran. Banyak sudah pengusaha masuk di bisnis tersebut. Tapi ia meyakinkan diri bahwa produknya berbeda. Pengalaman merupakan hal terpenting. Namun, disisi lain, Nuzmah merupakan sosok pelajar mengamti pasar dan juga kemampuan pegawainya.

Jika pengusaha lain sudah percaya diri. Nuzmah yang tidak bisa melukis. Mempercayakan kepada mereka yang cuma lulusan SD. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi justru disana ada ketelatenan. Dan darah seni tidak memandang jenjang pendidikan.

Hasilnya produk Nazmah seperti buatan pabrik. Garisnya rapih bukan sembarang goresan. Karyawannya cukup lima orang asal Jawa Timur. Bahan cukup cat sablon atau cat akrilik, kemudian sepatu polos didapat dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Bandung juga.

Omzet sampai Rp.20 juta kalau ikutan pameran. Sedangkan kalau tidak mengantungi omzet Rp.6 jutaan. Ia menambahkan masalahnya karena produknya nyempil di toko orang. Tidak terlihat mencolok namun pasti menarik pembeli. Ada 60 pasang dijamin laku ketika sudah keluar dari rumah produksinya.

Harga bervariatif antara cewek dan cowok beda. Harga mulai Rp.100- 300 ribuan, dan kalau cowok kan medianya besar jadi harganya lebih mahal. Nuzmah sendiri belum merambah pasar ekspor. Alasanya ya karena prosesnya berbelit. Walaupun sudah ada penawaran tetapi masih dia tolak buat memenuhi pasar.

Ia membayangkan keribetan ekspor. Sudah lagi ada kendala bahasa, dan ditambah lagi keharusan merapikan manajemen dulu. Bagi pengusaha sepatu lukis waktu empat tahun dianggapnya kurang. Mungkin 10 tahun lagi. Pemasan bisa memesan dengan model sendiri inilah kelebihan dia.

Warna cerah menjadi andalan brand Dhona Dani ini. Tips sukses buat kita? Nazmah mengatakan bagi kita pengusaha pemula, tidak khusus pengusaha sepatu lukis ya, harus percaya diri akan karya kita sendiri. Dia mengatakan kita harus selalu optimis ada masa depan di bisnis kita jalankan.

Senin, 31 Juli 2017

Patungan Kandang Ayam Pemberdayaan TKI

Profil Pengusaha Abdullah Hadi 



"Saya memilih sendiri strategi bisnisnya serta strategi menjalankannya," terang Abdullah Hadi. Yang punya visi kewirausahaan kuat. Ketika TKI Indonesia lainnya, lebih memilih menanam investasi tanah, Hadi lebih memilih membangun usahanya sendiri. 

Dan tidak sembarangan, tidak sekedar membuka warung makan. Hadi pernah berbisnis budidaya lele. Uang hasil menabung dari gaji TKI. Kini, dia malah dikenal sebagai pengusaha ayam kini, mantan TKI ini lantas mulai bercerita tentang kisahnya.

Kerja di Korea


Demi sukses, tahun 1997, Hadi berangkat ke Korea Selatan lewat uang gadai. Ia memantapkan diri buat menjual tanah milik orang tua. Tiga tahun di Korea dia bekerja di perusahaan terpal. Tiga tahun sudah dia bekerja di sana. Hadi meninggalkan Korea kembali ke tanah Sukolila, Kab. Pati, Jawa Tengah.

Mimpinya menjadi pengusaha di bidang perairan. Yakni menjadi pengusaha lele, dan akhirnya lewat uang bekerja di Korea, jadilah Hadi berbisnis lele.

Alasan dia ingin jadi pengusaha lele. Karena daerahnya banyak air -cocok dibuat empang lele mungkin. Tapi keberuntungan tidak membawa ia sukses. Padahal dia sudah pakai semua uang hasil mengumpulkan uang gaji itu. Namun kegagalan tidak bisa ditolak maka Hadi jatuh, "Saya gagal pulang dari Korea"

"Cita- cita yang saya idamkan jadi pengusaha, gagal," kenang Hadi.

Ketika dalam keterpurukan itulah, Hadi memilih menemui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Tujuannya mencari usaha apa lagi bisa dijalankan. Adakah program pemberdayaan buat TKI macam dia. Ternyata ada. Dan program tersebut difokuskan untuk bagaimana cara beternak ayam.

Program pemberdayaan tahun 2015, dia bersama tiga orang lainnya, para TKI asal Korsel ini lantas diajari membangun peternakan ayam modern. Kadang sebesar 100x10 meter persegi dan sudah ada pengolahan limbahnya terintegrasi.

Namun ternyata usaha ini membutuhkan biaya sampai Rp.1- 2 miliaran. Untuk itu pihak BNP2TKI beri jalan lewat hutang dari Bank BNI, dengan jaminan sertifikasi tanah. Uang Rp.2 miliar ditangan makalah tinggal membangun kandang ayam. Dua kandang ayam besar sudah dikerjakan Hadi siap menghasilkan.

Hadi bermitra dengan PT. Super Unggas Jaya (Suja), anak perusahaan Cheil Jedang Feed Indonesia, yang mana merupakan perusahaan peternakan asal Korea. Mereka menjadi pemasok bibit ayam Kop kepada Hadi dan kawan.

Ayam siap panen dalam usia 22 hari, bobot 1kg dan 29 hari bobotnya 1,6kg, dan bisa dihargai Rp.4000- 5000/ekor. Singkatnya dalam 24 kadangnya sekarang ada 600.000 ekor. Untuk selanjutnya dia mengajak sesama TKI Korsel untuk membangun pusat rejekinya sendiri.

"Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tidak perlu kembali bekerja di negeri orang," jelas Hadi.

Setiap empat orang akan investasi satu kandang, dimana populasi ayam 30.000- 40.000 ekor. Modal awal ya uang mereka bekerja di Korsel. Total omzet per- kandang sampai Rp.135 juta- Rp.180 juta/bulan. Hadi sendiri memiliki 220.000 ekor.

Bisnis Hadi dinamai Sonagi yang berarti bersih- bersih dalam bahasa Indonesia. Tidak cuma berhenti di ayam, Hadi membuka bisnis pertanian dan kursus bahasa Korea sebagai tambahan.

Jumat, 28 Juli 2017

Bisnis Pasaran Siapa Takut Persaingan

Profil Pengusaha Okta Indra Sakti



Tidak sedikit yang sudah bekerja memulai bisnis sampingan. Tidak juga mengganggu pekerjaan mereka. Inilah kisah Okta Indra Sakti. Lumayan menjadi tambahan penghasilan. Pria 26 tahun ini memang bekerja di perusahaan swasta. Berbisnis pomade -jenis minyak rambut- bermerek Piw's Pomade.

Bisnis dirilis tahun 2013, pertama kali menjadi reseller produk pomade lokal maupun luar negeri, lantas Okta mulai berusaha membuat sendiri. Bahan baku semuanya didapat bermodal Rp.5 juta. Uang segitu bisa dijadikan 20 buah. Lantas Okta titipkan ke tempat pangkas rambut untuk dijual kembali.

Kemudian Okta mencek respon masyarakat lewat situ. Ia tidak langsung produksi terus. Ketika sudah ia melihat sukses barulah. "Saya titipkan ke tempat pangkas rambut sebagai sample," jelasnya. Sudah terlihat menjual barulah Okta menseriusi produksi pomade.

Ia menjelaskan tidak ada bakat berdagang. Dari keluarga juga tidak ada garis keturunan pengusaha. Jujur ia berjualan berdasarkan hobi memakai pomade. Minyak rambut anti- badai tersebut sudah menjadi ciri khas. Sukses Okta lantaran mampu melihat naik daunya produk pomade akhir- akhir ini.

Produk ini tengah digandrungi anak muda sampai tua. Mulai dari yang mau coba- coba, sampai mereka yang sudah paham kualitas pomade. Okta membuktikan mampu membuat produk berkualitas. Bisnis ini lantas diberinya nama Piw's Pomade.

Alat promosi lewat Instagram, Facebook, pokoknya aneka jenis jejaring sosial. Respon baik membuat ia semakin semangat. Kemudian dia menjanjaki reseller buat Jabodetabek dan luar, seperti ke Lampung, Pekanbaru, Kediri, Gresik, Surabaya, Purwokerto, Cirebon, dan Indramayu.

Memang banyak pesaing bisnis ini. Tetapi kelebihan Okta ialah sudah memulai dua tahun sebelumnya. Ia yakin sudah memiliki jalur distribusi mantab. Hubungan baik dengan pelanggan juga menjadi andalan. Dia yakin ini kunci sukses jika bisnis kamu sudah ada di pasaran.

Kamis, 13 Juli 2017

Racikan Telur Asin Rasa Udang Mengundang Untung

Profil Pengusaha Reginald Indarsin 


 
Mau berbisnis harus unik, kreatif, merupakan dua senjata pengusaha muda. Contoh lah Reginald Indarsin yang siapa sangka membuat telor asin menjadi udang. Mahasiswa Universitas Prasetya Mulya, yang baru 21 tahun, mampu membuat telor asin berasa udang.

Sebelumnya ia membuat telur asin rasa jahe dan bawang. Reginald memulia usaha sejak awal 2015. Dia memang berambisi menjadi pengusaha muda. Terutama ketika melihat sukses telur asin Ibu Ambar yang di Jakarta Utara.

Dimulai awal tahun tetapi masih percobaan. Meskipun begitu, Reginald berani memasarkan. Dimulai dari rasa jahe, udang, dan bawang. Talur asin buatanyanya cocok dimakan pakai rawon. Proses pembuatan sih tidak susah. Telur asin diamplas dibubuki bumbu khusus yang dia sediakan.

Barulah dilapisi tanah liat layaknya telur asin umum. Perpaduan bumbu diatas kemudian direbus. Rasanya khas dan enak. Kini dia sudah mensuplai beberapa restoran di kawasan BSD Tangerang, Banten. Dalam satu minggu dua kali bayangkan dia memproduksi 200 telur.

Modal awal ia tidak tanggung- tanggung. Reginald menggelontorkan uang Rp.20 juta, dimana Rp.10 juta buat beli telur asin dan sisanya peralatan produksi. Nekat? Tentu karena bisnisnya boleh dibilang coba- coba. Enak dilidah kita belum tentu masyarakat akan merespon positif seperti kita.

Biaya produksi telur Rp.3000, kita jualnya Rp.6000 per- telurnya dan diproduksi selalu habis. "Kita baru mulai bisnis ini 6 bulan yang lalu. Inovasi rasa kita akan lebih optimalkan," jelasnya. Pasaran telur asin ini memang menjanjikan apalagi selera kuliner kita tidak diragukan lagi.

Selasa, 11 Juli 2017

Pengen Punya Hobi Buat Wirausaha Coba Ini

Profil Pengusaha Shabrina Adlina


 
Hobi bisa menjadi usaha. Sebuah kalimat klise namun terulang lagi. Inilah kisah Shabrina Adlina, wanita 26 tahun, ini mencoba peruntungan di bisnis hobi. Karena dia hobinya menggambar maka jadilah. Awalnya dia membuat lukisan wajah di atas bantal.

Modalnya kecil namun menghasilkan loh. Omzet jutaan rupiah direguk Ina, hobinya menggambar manga ternyata membuahkan hasil. Bisnis Ina kemudian diberi nama nyentrik Mukalokayakbantal dan mulai dia jualan sejak 2010 silam.

Ia mengatakan idenya membuat gambar muka sendiri di bantal. Kemudian ikutan pameran dan ternyata, ada banyak yang berminat menggambar wajahnya sendiri di bantal. Lalu banyak mahasiswa membeli dari dia. Kemudian banyak yang minta menjadi reseller. "Sama sekali enggak lakukan promosi," jelasnya.

Pertama kali berbisnis Ina tidak mengeluarkan lebih dari Rp.500 ribu. Kemudian dia jual setiap bantalnya Rp.100 ribua bahkan Rp.1 juta. Pesanan datang sampai 50 buah per- bulan.

"Bantal dibentuk sesuai gambar dan dijahit rapi," tuturnya.

Suatu ketika ada pesanan khusus buat seprei. Harga ditawarkan juga tidak tanggung yakni Rp.2,5 juta. Dia kemudian memberi harga khusus buat bantalnya. Sejumlah 10 orang keluarga harganya Rp.1 juta setiap. Ia mengerjakan semua tanpa bantuan.

Sebabnya, hasil buatan orang lain tidak sesuai diharapkan. Awal kamu akan dibuatkan gambar kartun yang didasarkan ciri khusus kamu. Pada awalnya susah sih. Tetapi sejalan dengan pesanan semakin banyak ia mampu membuat persis cuma bermodal foto.

Bisnis ini memang banyak saingan. Apalagi dia bersaing dengan bantal bergambar printing. Tetapi justru lewat lukisan menjadi kelebihan Ina. Semuanya dikerjakan handmade jadi ada perasaan spesial. Jikapun ada pesaing Ina memiliki kelebihan yakni menggunakan crayon khusus kain.

"Belum menemukan lukis bantal kalau pakai yang crayon," paparnya.

Kain dipilih yang nyaman ujuga tetap bagus digambar. Bisnis lain dikerjakan olehnya yaitu lukis henna temporer. Yang mana dia berinama Hennaninuneno. Kemudian ada pernak- pernik bertema burung hantu, ada jam, tempat pensil, hingga boneka.


Senin, 10 Juli 2017

Kain Tenun Ikat Kediri Mustain Sampai Eropa

Profil Pengusaha Sukses Mustain


 
Naiknya pamor kain tradisional, termasuk kain tenun memberikan dampak siginifikan kepada pengusaha di daerah. Salah satunya Mustain pengusaha kain tenun asal Kediri. Apalagi namanya kain tenun Kediri sudah tidak asing lagi bahkan sudah menjadi produk ekspor.

Ketika Ramadhan mendekati Lebaran, bisnis Mustain semakin laku keras. Moment tersebut membawa berkah lebih. Tidak diragukan lagi kualitas kain tenun Mustain juara. Dengan menggunakan mesin yang masih tradisional, kain tenun Kediri buatanya lebih padat dan awet dipakai.

Jenis kainnya tenun ikat dibuat dari helaian benang pakan atau benang lusin. Setelah itu dikat dicelupkan ke zat pewarna alami. 

Dia bersama sejumlah perajin lain asal Kediri. Masih bertahan berbisnis. Meskipun pesang surut terutama dia bertahan. Usaha Mustain memang sudah turun- temurun di keluarganya. "Pembuatan kain tenun itu butuh waktu lama," paparnya. Memang prosesnya tidak semudah dibayangkan ketika jadi.

Sebelum ditenun disiapkan mesin tenun dulu. Helai benang ditata dipasang sesuai warna keinginan. Itu kemudian ditenun manual, disusaikan warna, dan corak tradisionalnya."...atau pola khas yang diinginkan," ia jelaskan.

Prosesnya lama dimulai benang panjang dan polos, ditenun sedemikian rupa menjadi lembaran kain besar tenun. Benang kemudian digulung. Diberi motif dan pola sesuai keinginan pembuat. Diwarnai dengan pewarna alami berbagi warna. Berbekal alat tenun kayuh kaki dan tangan, benang dirangkai menjadi kain.

Penenun harus siap menggerakan badan penuh ketelitian. Mustain memaparkan pengrajin kain tenun ini sangat langka. Dibuat sangat tradisional dianggap tidak praktis. Kesabaran dan ketelatenan yang sangat susah diterapkan ke anak muda jaman sekarang.

Langka adalah deskripsi buat kain tenun Kediri. Padahal sangat diminati konsumen, terutama di wilayah Jawa, luar Jawa, bahkan luar negeri. Kain tunun Kediri kuat dibanding kain tenun instan, harganya sangat bervariasi dari Rp.165 ribu sampai Rp.500 ribu per- lembar.

Jenis kain tenun ditawarkan perpaduan katun, dan semi sutra. Bisa dipakai buat busana atau dijahit menjadi pelapis mebel, penghias interior bahkan kelambu.

Produk tenun buatanya tembus pasar internasional. Salah satunya H. Mustain, pemilik merek Kurniawan, setiap minggu mengirim 180 meter ke Amerika. Selain itu dia mengirim ke Malaysia selain di Jawa dan luar Jawa. Ada 35 karyawan dan 20 alat tenun warisan leluhurnya untuk berproduksi memenuhi pasar.

Meskipun pemasaran masih belum maksimal. Dimana memproduksi 80 meter kain, di pasaran baru bisa terserap 60 persen, lalu distoknya itu buat dijual pada masa- masa tertentu. Ambil contoh ketika lebaran dia akan keluarkan tuh.

"Untuk promosi sekarang kita tidak mampu, kita saat ini hanya menunggu perantara," jelas Mustain.

Ada 14 tahap pengerjaan kesemuanya manual dikerjakan. Pemberian motif merupakan hal paling penting. Kemudian pengikatan benang menjadi kain. Meskipun pasar sudah masuk Eropa para pengrajin belum lah puas. Masih mau menembus pasar lain, sayang kurang promosi, dan dukungan pemerintah daerah minim.

Potensi yang tengah digali ialah bersinergi. Yakni bersenergi dengan pemerintah daerah membuat tujuan wisata. Desa tenun menjadi pandangan kedepan Mustain. Kemudian kerja sama dengan pecinta wisata agar tempat ini menjadi salah satu destinasi. Ia bekerja sama dengan biro perjalanan miwasata buat berkunjung.

Melalui konsep ini bukan barangnya keluar. Tetapi orangnya diajak masuk untuk melihat sendiri. Lewat biro perjalanan akan membawa mereka datang dan pulang bawa oleh- oleh.

Sabtu, 08 Juli 2017

Ukiran Wayang dari Kayu Bekas Berkah Hasam

Profil Pengusaha Umar Hasam 


 
Walaupun cuma lulusan SMP Umar Hasam tidak mau menyerah. Pemuda 23 tahun ini mencoba mencari jalannya lewat kewirausahaan. Warga Talun, Kabupaten Blitar, ini tidak pernah patah semangat berusaha. Keahlian ukir menjadi senjata andalannya mengembangkan usaha sendiri.

Hasam melihat peluang mebel di daerahnya. Lewat kreativitas ditambah teknologi informasi, Hasam lalu mencoba ukiran Indian apache. Tidak sama dengan pengukir pada umumnya. Hasilnya, ada teman yang suka langsung membeli Rp.25.000. Bertahap datang orang membeli ukiran buatanya sendiri.

Paling banyak pesanan yaitu ukiran wayang. Berbekal limbah ternyata bisa menghasilkan untung. Mulai dari serpihan pembuatan mabel. Pembuatan butuh waktu tiga hari. Kalau lebih sulit maka akan butuhkan waktu lebih banyak. Motifnya lembut dan tebal, maka butuh waktu lama karena mengukit kayu berserat.

Harga setiap produk sudah diperhitungkan. Dilihat dari tingkat kesulitan motif, bahan, serta waktu yang ia butuhkan. Tinggi tingkat kesulitan semakin tinggi harganya. Halusnya garapan Hisam bisa dibilang apa yang kita keluarkan tidak seberapa.

Karya ukuran 50x51 m dijual Rp.250 ribu. Ukuran besar diameternya, Hasam bisa mematok harga sampai Rp.25 juta. Salah satu proyek besarnya adalah mengerjakan pesanan ukiran Dewi Kwan Im. Pesanan ini datang dari seorang kolektor asal Jakarta bermodalkan sendiri yakni kayu jati ukuran 2x1 meter.

Sang kolektor mengapreasia kemampuan Hasam dalam bidang mengukir. Entah butuh waktu berapa lama ia belajar tetapi talenta Hasam adalah hebat.

Jumat, 07 Juli 2017

Lulus SMK Memilih Menjadi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha SMA Aji Wahyu Santoso



Bukan cuma rajin belajar tetapi kreatif berkarya. Bukan hura- hura menghabiskan uang orang tua. Pemuda ini malah coba- coba menjadi wirausahawan. Hasilnya mengejutkan siapa sangka dari barang bekas. Aji Wahyu Santoso mampu menghasilkan uang.

Caranya gampang kok. Bukan modus menggandakan uang. Cuma mengolah barang bekas menjadi aneka macam miniatur. Dengan bermodal sekedarnya, Aji merubah rumahnya menjadi workshop kecil- kecilan. Pemuda Desa Sudimoro, Kec. Megaluh, Kabupaten Jombang ini, tidak menyangkan akan selaris kini.

Baru beberapa bulan dia menemukan ide bisnis. Ia langsung praktek. Apalagi pemuda lulusan SMA ini memang menyukai dunia otomotif. Aji memeras otak agar bisa sama seperti anake motor di matanya. Dia merubah sejumlah barang bekas kecil- kecil, seperti tutup pulpen, korek, tikar, lalu sedotan bekas.

Murah dicari, juga merupakan sampan non- organik yang merusak lingkungan. "Kondisi ekonomi tidak mendukung saya kuliah," ujarnya sedih. Lulu SMK Aji segiat mungkin mencari pekerjaan, apapun dia coba untuk menafkahi diri.

Telaten merupakan kunci bisnis Aji. Penuh kehatian dan fokus Aji menyusu rangka. Aneka barang bekas ditempel menjadi kendaraan bermotor ataupun onthel. Alanya sederhana ada gunting, lem, penggaris, di tangan Aji, benda tidak bernilai tersebut dibuah menjadi aneka miniatur.

Bentuknya bisa moge, skuter, motor bebek, bahkan bisa buat yang serumit Harley Davidson. Dalam sehari dia mampu merakit lima. Modelnya rumit maka akan memakan waktu lebih lama, sekitar empat harian. Ketekunan tersebut, ditambah kreativitas, membawa pundi- pundi uang ke kantong Aji.

Sarana pemasaran lewat pameran atau car free day (CFD). Larisnya usaha Aji didukung peminat otomotif asal Kota Santri. Harga miniatur Rp.25.000, Rp.100.000 untuk yang rumit. Meskipun sukses dia masih merasa belum puas. Masih banyak hal dibenahi agar miniaturnya lebih sempurna, contohnya memakai cat semprot.

"...tapi karena masih memikirkan ekonomi, hingga sekarang masih memakai kuas," tutupnya.

Cerita Desainer Nina Nugroho Tidak Semua Hobi Bisnis

Profil Pengusaha Nina Septiana Nugroho 


 
Meskipun bisnis busana muslim memang banyak persaingan. Namun Nina Septiana tidak mau menyerah mencoba. Berbekal kemampuan melihat tren berbeda. Nina memang hobi pakaian muslim. Inilah bekal ia menjadi pengusaha busana muslim. Sudah lima tahun menghasilkan dua brand yakni Saniyya dan Sharia.

Berawal dari hobi, bisnis Nina tidak jelas, meskipun menghasilkan perkembanganya stagnan. Lantas sang suami bertanya apakah dia niat membesarkan bisnisnya. Pada Juni 2016, dia meluncurkan bran memakai namanya sendiri label Nina Nugroho.

"Suami tanya, usaha ini mau diapakan, kalau masih bertahan di hobi sudahi saja, tidak usaha diseriusin," ucap Nina menirukan.

Kalau mau jadi pengusaha harus bermanfaat buat orang banyak. Nina akhirnya niat menyeriusi bisnisnya itu jadi usaha. Uang Rp.40 juta digelontorkan untuk memperkuat brand. Itu uang untuk membayar bahan, penjahit, aksesoris dan finishing. Produksi pertama meliputi pakaian, outler, abaya, rok, gamis, pashmina.

Bisnis laku keras


Tidak disangka, respon masyarakat begitu baik dari pembeli, dan per- 2016 bisnisnya menghasilkan omzet Rp.5 miliar per- tahun atau omzetnya Rp.400 juta tiap bulan. Ia memang gencar memperkenalkan produk ke aneka departemen store seperti Sogo dan Debenhams dan sejumlah pemilik butik.

Untuk Debenhams dia diberikan jatah 100 pcs, kemudian dia bawa 1000 pcs, yang mana dia sediakan buat mengikuti pameran. Dia menciptakan pakaian siap pakai. Dimana mudah dipakai dan mampu digunakan siapa saja.

Separuh bulan Ramadhan mampu mencapai omzet Rp.1 miliar. Nina sendiri memiliki gaya sendiri atau kita menyebutnya signatur khusus bulan Ramadhan. Tiga koleksi telah dikeluarkan untuk Ramadhan tahun ini. "Signature biasanya seminggu menjelang Ramadhan sudah dicari," paparnya.

Ada 300 pcs signature diproduksi buat Ramadhan tahun ini. Ada 2000pcs produk kasual, dan 400 pcs buat kantor. Harga mulai termurah Rp.59.000 sampai Rp.1 juta.

Mode kasual banyak dibeli masyarakat sesuai iklim. Sesuai dengan iklim Indonesia, mangkanya produk ini paling dicari oleh masyarakat. Selama Ramadhan, produksi pasmina sebanyak 1.300 pcs. Konsep desain milikny klasik modern, kombinasi antik yang timeless dengan simplicity menjadi ciri era modern/

 "Senangtiasa menjadi inspirasi bagi orang lain," adalah moto Nina Septiana

Nina terdorong untuk menciptakan komunitas bersama. Melalui Active Muslima Community (AMC), ini adalah tempat para desainer muslim, bagaimana tetap menjadi ibu di rumah dan menjadi profesi desainer yang ditekuninya.

Berawal dari rasa suka memadu padankan baju dan jahitan baju. Eh banyak orang menyukai jahitan Nina dan melirik koleksi bajunya. Hal tersulit bukanlah bahwa dia adalah wanita karir. Justru beban datang dari tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Sudah 13 tahun, ia tetap ingin menemani suami dan anaknya, dan mulai rasa bersalah.

Rabu, 05 Juli 2017

Seni Mendesain Aquarium Aquascape Bisnis Puluhan Juta

Profil Pengusaha Wendy Kurniawan dan Doddy Ali Wijaya 




Senang bermain ikan membawa Wendy Kurniawan sukses. Akhirnya Wendy ikutan menekui seni menata aquarium. Namanya aquascape, seni ini memang belum umum, mangkanya prospek bisnis masih terbuka lebar buat kita.

Pria 32 tahun memulai bisnis bersama dua rekan. Hobi tersebut resmi jadi bisnis tahun 2010 silam. Dia yang dasarnya suka ikan hias tinggal belajar sedikit. Bagaimana menata ruang buat ikan memang tidak lah mudah. Tetapi Wendy sudah punya dasar buat mengetahui tentang kualitas air yang dibutuhkan ikan hias.

Ia mereflesikan diri kepada aquarium miliknya. Dia liat kok aquarium miliknya tidak sebagus di foto. Kok tidak seperti gambaran kita ketika melihat film ataupun internet. Mencari tau, Wendy baru tau ternyata kita butuh tanaman tempat menyimpan oksigen, kemudian mencari tau tanaman apa saja bisa ditanam di air tawar.

"Kita cari tau sampai ketemu konsep aquascape ini di tahun 2008," jelas dia.

Dia belajar bagaimana menanam tanaman di aqurium. Bersama teman satu klub penyuka aquascape dia menemukan kesenangan. Tahun 2009- 2010 memang menjadi tahun naik daunnya. Peluang bisnis tersebut ditangkap dan ia membuka usaha aquascape.

Sambil aquascape juga jualan aneka ikan hias. Konsep khusus aquascape membawa rasa berbeda ketika orang mengunjungi lapak ikan hias miliknya. Ini seperti bertanam saja namun kita menanam di dalam air, air tawar.

Bisnis menggiurkan


Secara umum sebenarnya aquascape menitik beratkan ke menatan. Bagaimana tidak sekedar menaruh apa tanaman kita sukai sebagai hiasan. Mangkanya juga dihiasi hiasan lainnya seolah kita menata taman. Uang digelontorkan Rp.50 juta, Wendy bersama Dody dan Erwin, membuka usaha bernam Aquajaya.

Aquarium ukuran 30x30 cm dijual seharga Rp.40 0 ribu. Harga menjadi "wah" lantaran tidak cuma pada akuran berpatok. Namun termasuk tanaman hias, hiasan, serta kerja Wendy dan rekan menciptakan suasana di dalam aquarium. Bersama mereka mengembangkan usaha hingga rata- rata omzet Rp.20- 40 jutaan.

Karena juga menggabungkan unsur seni. Tidak sedikit harganya diluar akal sehat. Contoh Wendy pernah jual sampai harganya Rp.10 juta lebih. Harga aquarium set 30 cm sebenarnya cuma Rp.800 ribu, tetapi kalau sudah kena aquascape harganya bisa naik, karena ya hitunganya di menghias tempat ikan itu tinggal.

Modal desain bisa setengah dari harga jualnya. Bisa dibayangkan keuntungan bisa direguk mereka. Apalagi semenjak aquascape makin digilai. Alhasil pesanan mereka meningkat di tahun berikutnya. Khususnya di kota- kota besar nama aquascape sudah dikenal. Promosi mereka cukup melalui sosial media dan jadilah hasil.

Segmentasi beragam dari mahasiswa sampai pekerja kantoran. Tidak jarang anak SMP dan SMA berminat mencari tau soal aquascape. Kedepan bisnis mereka juga akan ditingkatkan, contoh menjual aneka bahan membuat aquascape, seperti pasir, pupuknya, dan media tanam.

Nama brand Aquarest mencoba dikembangkan sendiri. Seperti juga menjual aneka filter dan lampu buat mempercantik. Aquajaya juga sudah mulai mengimpor. Biasanya dia sudah ambil dari distributor. Hingga mereka mampu membeli langsung biar lebih murah.

Bisnis menarik


Doddi Ali Wijaya menjelaskan semua promosi dimulai dari sosmed. Di situs jual- beli Kaskus, dia mulai jualan bahan aquascape, yang awalnya kelebihan material pembuatan. Dan hasilnya diluar dugaan hingga ia makin mantab berbisnis.

Pemasan juga tidak berhenti di sana. Melalui situs Aquajaya.com, toko online ini menawarkan solusi buat kita merakit aquascape sendiri. Menjuala aneka material pembuatan aquascape. Tidak ayal maka omzet usaha mereka telah mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Usaha ini berkembang ke arah berbeda, termasuk jasa menginstalkan aquarium ke rumah, juga memberi solusi buat ikan apa dan bagaimana perawatan seharusnya. Jasa desain ulang aquarium lama juga tersedia loh. Aquajaya juga memberika jasa perawatan aquascape, penjualan sudah merambah kantor dan instansi pemerintah.

Meskipun penjualan termasuk mahluk hidup, Doddi dan toko onlinenya sudah siap mengirim ke penjuru Indonesia. Bekerja sama dengan ekspedisi JNE, dia sudah mampu mengirim ke luar kota, dan buat yang ada di Jakarta jika tidak punya waktu mampir ke toko nyata maka ada jasa kurir dan layanan langsung kok.

Suami Selvi Eka menjelaskan bisnis mereka memanjakan. Bagaimana cara memanjakan para penggemar aquascape baru buat berkarya. Jadi usaha mereka tidak monton dipenjualan produk jadi saja. Meskipun suskses ternyata masalah pasokan material masih terkendala.

Agar gampang maka mereka membuat farm sendiri. Ya mereka menciptakan peternakan buat ikan maupun buat tanaman hiasanya meski kecil- kecilan. Kendala stok bisa ditangani, dan kualitas layanan mereka bisa diandalkan. Sebagai lulusan IT tugas, Doddi bertugas mengatur suhur, parameter air, dan pupuk serta stok.

Untuk menambah pengalaman, mereka tidak segan mengikuti lomba aquascape dan juara. Yakni juara 2 buat Indonesian Fisheries Expo, juara 3 Indonesian Plant and Pets dan Plant Aquatic Expo pada 2011 di WTC Mangga dua, dan paling mengena ketika juara 1 Indonesian Fish for The World.

Wendy dan Doddi mendorong lahirnya pengusaha serupa. Jaman sekarang kan sudah beda dan pengusaha muda dimudahkan lewat sosial media. Terserah usahanya apa, mau sejenis aquascape atau apapun, asal kita punya lebih banyak pengusaha.

"Kita tinggal modal sedikit, promosi online, promo terus lama- lama juga akan besar," jelas Wendy. Ia lalu menambahkan,"jangan takut gagal. Kalau gagal, jangan nyerah, usaha terus." Namanya usaha bisa saja kita untung atau buntung.

Senin, 03 Juli 2017

Pengusaha Diejek Karena Inovasinya Kaos Kaki Bambu

Biografi Pengusaha Taufik Rahman


 
Tidak mudah bagi Pak Taufik Rahman menjadi seperti sekarang. Banyak hal pernah dilalui Taufik yang dulu pernah diolok karena inovasinya. Siapa sangka berbekal bambu dia bisa membuat produk fashion. Unik karena produknya menciptakan inovasi di bidang tekstil.

Produk bambu sudah dipakai di Jepang dan China. Tetapi nampaknya baru Taufik yang menggunakan nama fiber bambu. Diolahnya menjadi sepatu dan kaos kaki. Tidak mudah, karena awal- awal tahun, dia tidak mendapatkan laba sama sekali. Bahkan sempat menggadaikan rumah untuk mendanai bisnisnya tersebut.

Keyakinan besar lah membawa Taufik sekarang. Bayangkan pria asal Jombang, kelahiran 8 November 1964, ini mampu menghasilkan Rp.2 miliar perbulan. Mulainya 2010, berawal produk kaos kaki dulu, lalu dia kembangkan sepatu, t- shirt, dan sweater.

Karyawan jadi pengusaha


Sebelum menjadi pengusaha, Taufik menjalani kehidupan seperti kita yakni karyawan. Dari desa pergi ke kota, bekal Taufik membawanya bekerja di perusahaan farmasi. Memulai bisnis sampingan dulu dia mulai coba- coba menjadi pemasok barang- barang komputer, pabrik kaos kaki, dan menyalurkan pupuk organik.

Segala jenis usaha dijalankan dia sebagai sampingan. Menjadi pengusaha memang susah bahkan istrinya sempat pesimis. Menyebutkan tidak berbakat pengusaha. Bukan jalur hidupnya. Tetapi ia ngotot sampai dia juga jadi juragan restoran seafood. 

Aisyah, istri Taufik, melihat betul kegagalan demi kegagalan. Dengan penuh semangat Pak Taufik ngotot mendeklarisikan dirinya sebagai pengusaha ke istri. "Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang sudah menguasai bidang ini," terangnya, merasa beruntung pernah jadi karyawan dulu.

Berbisnis aneka macam sampai menggadaikan sertifikat ke bank. Di tahun 2003, dia berbisnis membuat aneka kaos kaki, tidak pernah mendapatkan untung tetapi ia yakin bisnis ini akan sukses. Bisnis kaos kaki bernama Parker. Berbekal uang pesangon kerja Rp.40 juta dibelikan mesin dan menggaji satu karyawan.

Prinsi kerjanya adalah mutu terjamin. Ide tentang menggunakan benang bambu muncul. Tidak segan dia mencari tau kemudian mengimpor. Bahan baku dibeli dari China sebesar 5 ton, yang kemudian dipintal di Bandung sendiri. Awalnya dia mengimpor benang sudah terpintal, kemudian mencoba memintal sendiri.

Disaat bersamaan dia meyakinkan masyarakat. Ia mencoba meyakinkan tentang serat bambu. Bahkan ini bisa dijadikan produk fashion siap pakai. "Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang saja, disangkanya bohong. Karena saya tidak bisa membuktikan ini bambu beneran apa bohong," kenang Taufik.

Memang soal bahan bambu ini belum populer. Menurut penilitian daya serap keringatnya bagus. Inilah yang digunakan dia sebagai landasan promosi. Dua thun tidak laku apa yang dirasakan Taufik? Tidak apa dia katakan. "...yang penting saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari kegagalan itu," jelasnya.

Kain serat bambu memang ramah lingkungan. Seratnya itu 3,5 kali lebih kuat menyerap air daripada kain katun. Dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah tak terdaur ulang.

Bisnis terus


Sekarang mengantungi omzet Rp.250 juta, omzet meningkat seiring dengan munculnya peminat pakaian berserat bambu. Ia mengatakan modal awal Rp.100 juta dan omzetnya segitu naik- turun. Dijual beraneka ragam dengan harga kompetetif dengan bahan katun.

Kisaran harga untuk kaos kaki Rp.70 ribu sampai Rp.100 ribu. Lalu harga kaos Rp.100 ribu, Rp.200 ribu, sampai Rp.400 ribu. Kemudian sweater harganya Rp.500 ribu dan sepatu antara Rp.400 ribu sampai satu juta rupiah. Bisnis yang diberinya nama Bamboo Studio, sudah melalang buana dibanyak acara UKM.

Dia memiliki 25 karyawan melebarkan sayapnya lewat berbagai pameran manca negara. Mulai pameran di lokal, kemudian Hong Kong, Malaysia, sejak 2012 silam.

Mengenang masa susah selama satu dasawarsa merupakan cara bersyukur. Dia tidak menjadi lupa diri akan kesuksesan sekarang. Dimulai tahun 2010 silam, Pak Taufik membuat kaos kaki kulit sapi setiap bulan. Ia kesukaran mendapatkan bahan. Barulah dia mencari tau bahan lain yang lebih natural dan gampang dicari.

Terpikir kulit ikan nila, biawak, dan katak lebuh. Pokoknya aneh- aneh pikiran Pak Taufik. Tengah mencoba mencari alternatif bahan. Ketertarikan tersebut ditunjang kreatifitas berpikir tentang produk apa. Untuk produksi dia menggaet pengrajin lokal, satu pasang bisa dibuat 2 sampai 5 hari, ada 25 pengrajin dibawah dia.

Produksi sepatu sampai 1000 buah tiap bulan. Dimulai dari serat bambu dipintal, dijadikan benang, lalu dicelup, kemudian dirajut sesuai corak. Barulah digabungkan prosesnya hingga menjadi kain. Dari lining, insole, outsole, hingga heel.

Senin, 26 Juni 2017

Biografi Singkat Syahir Karim Pengusaha Oleh- Oleh Haji

Profil Pengusaha Pemilik Bursa Sajadah 


 
Hidup Syahir tidak mudah hingga seperti sekarang. Pengusaha oleh- oleh Haji ini, bercerita tentang masa kecilnya harus bekerja keras kepada awak media. Sejak umur 14 tahun sudah "dipaksa" bekerja keras. Dan hasilnya dia adalah pemilik toko Bursa Sajadah, usaha beromzet ratusan juta.

Orang baru naik haji pasti paham nama toko oleh- oleh haji. Buat mereka jamaah haji yang tidak sempat membeli oleh- oleh. Inilah solusi mereka buat membahagiakan keluarga di rumah. Nah, salah satu toko oleh- oleh terkenal adalah Bursa Sajadah, pemiliknya bernama Syahir Karim Vasandani.

Cabangnya sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Bisnisnya mulai dari jualan air zam- zam, aneka sajadah, mukena, kerudung, tasbih, teko, cangkir arab, lalu karpet. Produknya datang dari produksi dalam negeri. Sisanya Syahir mengimpor langsung dari Arab Saudi sendiri.

Perjalanan panjang bisnis


Pria kelahiran Surabaya, 18 November 1949, ini sudah bekerja keras sejak kecil. Alasannya karena sejak umur tiga bulan dia sudah yatim. Sejak umur 14 tahun, Syahir kecil sudah mengerti bahwa sebagai lelaki dia harus bekerja. Ia tidak tega melihat perjuangan ibu apalagi Syahir punya empat adik kecil.

Tidak tanggung dia bahkan berhenti sekolah buat kerja. Waktu itu dia sekolah kelas lima sekolah rakyat atau setara sekolah dasar. Pekerjaan pertama dia menjadi pegawai pengusaha tekstil asal India. Kerjaanya apa saja membantu tidak tetap satu bidang.

Ia mengerjakan bahkan hal aneh tidak ada hubunganya dengan tekstil: Seperti menyemir sepatu atau dia akan disuruh membuang sampah. Ia sempat hijrah ke Jakarta namun kembali lagi. Di Surabaya, Syahir lalu kembali bekerja di perusahaan tekstil lagi pada 1864, hingga pekerjaanya mapan jadi manajer penjualan.

Total dia bekerja di Surabaya lagi selama enam tahun. Syahir namapaknya puas dengan karirnya yang mulai bagus. Sesekali dia mencoba berbisnis tekstil sendiri meski gagal. Tahun 1972, ia hijrah ke Bandung dan melamar ke pabrik tekstil di Majalaya, yang juga punyanya orang keturunan India.

Sudah jadi rahasia umum kalau orang India lebih merekrut keturunan India juga. Orang tua Syahir sendiri berasal dari Hydrabad Syind, Pakistan. Cara unik dilakukanya untuk mendapatkan ilmu gratis. Karena dia bekerja pada malam hari, maka paginya Syahir masuk meskipun tidak bekerja sama sekali.

Datangnya pagi hari cuma buat observasi bagaimana pimpinan pabrik bekerja. "Saya mencari ilmu setiap hari," jelasnya. Dia bekerja, lalu menikah, dimana menetap di Bandung sampai 1979. Tahun 1980 dia lalu dikirim ke Negeria membantu penjualan kosmetik si boss. Tidak lama Syahir bekerja di negeri orang dan kembali.

Empat tahun di Indonesia lagi, barulah Syahir berniat membuka usaha sendiri lagi. Tetapi pulang dari sana, dari Negeria membawa masalah, karena kebiasaan minum disana terbawa hingga Indonesia. Dia menjadi sosok pemabuk. Alhasil mau membuka usaha malah gagal terus karena uangnya kepakai buat mabuk lagi.

Tobat jadi pengusaha


Tahun 1992 dia bertobat tidak lagi minum- minuman. Ia berhenti minum sekaligus berhenti merokok, dan mulai mendalami agama. Di tahun 1993, dia mengajak istri menunaikan ibadah Haji di Mekah. Pulangnya dia membuka toko oleh- oleh haji di kawasan Jalan Palaguna, Bandung, yang bernama Babussalam.

Uang modal membuka toko oleh- oleh haji. Ada Rp.10 juta merupakan hasil sisa simpanan dan pinjaman. Dia bisa dibilang genius. Karena apa, karena bisnis semuanya sudah dihitung, dan Syahir belajar buat mengatur uang perusahaan terpisah.

Ceritanya sebelum bisnis oleh- oleh ini. Syahir sudah lebih dulu berbisinis jaket kulit Garut. Bisnis jaket ini menjadi penompang bisnis oleh- oleh Hajinya. Tepatnya tahun 1994, dia menekuni pembuatan jaket kulit sampai ekspor 1000 buah. Karena mulai sepi memutar otak memindahkan uang modalnya ke bisnis ini.

Alasan bisnis oleh- oleh Haji ternyata datang dari pelanggan. Mereka iseng mengucap kebutuhan mereka ke Syahir. Mulai lah dia mendatangkan barang- barang dari Mekah dan Madinah. Lalu pabrik garmen di Majalaya dan Kopo, memproduksi tidak cuma jaket tetapi kemeja, rompi, baju olahraga, dan lainnya.

Alkisah tahun 1993, ia pulang beribadah haji, teman lama datang ke rumah. Ngobrol macam- macam lalu sang teman meminta pekerjaan. Lebih tepatnya tidak meminta langsung tetapi bercerita butuh pekerjaan. Ia langsung menawarkan pekerjaan di tempatnya. Dan kebaikan itu berbuah manis ternyata diujung cerita.

Bayangkan, Pak Krisna, teman lamanya itu ternyata sangat handal dalam penjualan. Seorang salesman yang tangguh dari sejak pengunjung masuk toko. Pokoknya kalau ditangani dia, pengunjung pasti pulang dengan membeli sesuatu. Syahir memang orangnya mengapresiasi orang lain, terutama karyawannya sendiri.

Baginya karyawan merupakan aset penting perusahaan. Disisi lain tidak ada tuh namanya break event point atau target tertentu. Pokoknya ia menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Dari bentuk kerja keras serta didukung oleh sikap baik. Lahirlah perusahaan bernama PD Aarti Jaya yang berbisnis bidang garmen.

Tahun 1998, dari PD Aarti Jaya menjadi CV Aarti Jaya, dan semakin besar jadi PT. Aarti Jaya. Kini SKV -begitu nama bekennya- memiliki sekitar 1000 karyawan. Dimana ada 30 UKM yang menjadi pemasok ke toko- toko miliknya. Tokonya kini menjual lebih dari 6000 jenis produk tekstil dan oleh- oleh haji.

Toko Bursa Sajadah sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Malang dan Solo. Satu pencapaian lainnya ialah, bahwa Bursa Sajadah merupakan pengimpor terbesar aneka sajadah dan karpet dari Turki, Arab Saudi, India, Iran, dan Uni Emirat Arab pada umumnya.

Kini, bisnisnya, sudah diserahkan ke sang anak Heera Syahir Karim Vasandani, yang mana juga memiliki segudang prestasi dalam melanjutkan bisnis sang ayah. "Allah mau

Kamis, 22 Juni 2017

Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Rabu, 21 Juni 2017

Jualan Kulit Harimau Sumatra Aman Ala Catur

Profil Pengusaha Debi Catur Setyobudi 


 
Berburu harimau itu dilarang. Tetapi bagaimana cara bisnis aman kulit harimau. Bagaimana kalau kita coba seperti pengusaha muda satu ini. Namanya Debi Catur Setyobudi, yang mana bisnisnya unik, bagaimana dia bisa jualan kulit harimau aman berikut detailnya.

Kulit harimau memang dicari buat koleksi. Warga Dukuh Alastuo, Desa Balegondo, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan, yang berbisnis kulit sapi. Dimana Catur merubah kulit sapi nampak seperti macan. Aneka motif macan bisa dibuat Catur seperti macan tutul kecil/besar, cheetah atau leopard, hingga motif zebra bisa.

Mereka dibuat pakai kulit sapi. Hanya motifnya diubah. Cara pembuatan menggunakan pigmen warna. Tapi sebelumnya dia siapkan dulu motif targetnya.

Bisnis kreatif


Bisnis ini sudah dijalankan sejak lima tahun lalu. Awalnya pengusaha muda, putra pasangan Sirun Priadi dan Eni Sri Mawar, pernah bekerja di pengolahan limbah industri Magetan. Catur memilih membuka usaha sendiri tetapi tidak mudah seketika.

Butuh waktu setengah tahun, untuk mencari cara merubah warna kulit lewat pigmennya. Susah apalagi itu masih ada bulunya. Ia menjelaskan yang diwarnai bukan kulit tetapi bulu sapi. Bagaimana caranya merubah warna bulu menyerupai bulu harimau. "Itu susah bukan main," jelasnya.

Walau kamu oles pigmen hitam belum tentu jadi hitam. Kan motif harimau itu ada hitam- hitamnya, ada coklat- coklatnya kemerahan. Campuran pigmen agar mendapatkan warna itu butuh lebih dari pengalaman. Hingga pengalaman dan teknik itu mendapatkan bayaran berupa maraknya pesanan datang.

Dia menjual aneka ukuran. Ukuran 25 sentimeter persegi kulit motif dijual 35 ribu, itu kalau satu warna, nah kalau warnanya dua harganya Rp.45 ribu.

Produknya sudah ada di wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Nantinya akan diproduksi ulang jadi tas, sepatu, dan dompet, yang bahkan diekspor ke Timur Tengah. Motif harimau dan zebra Catur juga dibikin jok mobil bisa. Penggunaan kulit lain juga dimungkinkan seperti kulit domba atau kambing.

Namun tidak semua bisa dicetak semprot. Khusus buat motif harimau Sumatra butuh lukis tangan. Jadilah harganya pantas mahal. Setiap bulan dia mengirim 50- 100 lembar kulit. Kadang bisa melonjak banyak ya kadang juga permintaan sedikit.

Pasar impor


Pria yang cuma lulusan STM Mesin ini. Tidak cuma lokal tetapi juga merambah internasional. Sebuat saja negara Amerika menggemari motif leopard, jaguar, dan zebra miliknya. Untuk motif zebra ada kendala tersendiri nih teman. Karena warna dasarnya harus putih dan kulit seperti itu hanya ada waktu tertentu.

Usut- punya usut ternyata dia pernah belajar kulit. Meskipun singkat tetapi dia bekerja langsung. Dia dulu ikut Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Langsung kerja dipengolahan kulit dari dasar. Ternyata adalah bosnya yang pernah menantang Catur membuat kulit harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

Mantan bosnya dapat pesanan entah dari mana. Tapi dia maksa Catur bekerja meski di rumah. Bahkan dia rela memberikan bahan untuk dikerjakan gratis. Sukses membuat sendiri, si bos malah makin rajin buat memberinya proyek sampai ke Bali.

Kendala lain adalah masalah cuaca. Dimana pengeringan masih memakai tenaga matahari. Alhasil pada musim tertentu pemenuhan permintaan bisa dibatasi. Dia cuma dibantu seorang karyawan bernama Tumini yang juga tetangganya. Keduanya mampu memenuhi pesanan seabrek itu hebat bukan.

Harga jual meningkat drastis dibanding jualan kulit sapi polos. Apalagi nih, kalau sudah di kirim ke luar, di pasaran Eropa saja harganya bisa berlipat- lipat. Kulit tanpa motif harganya Rp.15 ribu per- 30 senti, dan kalau sudah bermotif harimau di Eropa harganya bisa Rp.50 ribu per- 30 sentimeter.

Meskipun sudah jadi barang ekspor. Pihak pemerintahan daerah Magetan masih belum sadar. Keberadaan bisnisnya tidak disadari. Walau kebutuhan modal tidak mendesak. Ia masih merasa bisnisnya ini butuh promosi terutama ke daerah lain diluar jangkauannya sekarang. "Atau pembinaan kualitas kerajinan saya."

Selasa, 20 Juni 2017

Artis Sekaligus Pengusaha Bakso Marcell Darwin

Profil Pengusaha Artis Marcell Darwin 


 
Artis berbisnis langsung sukses. Mungkin beberapa tetapi tidak semua. Yang pasti mereka akan merasakan susahnya membangun pasar. Salah satu artis yang berbisnis adalah Marcell Darwin. Bisnisnya kami anggap anti- mainstream dimana jika artis lain membuka restoran, bisnis kosmetik, tetapi bukan pabrik bakso.

Entah dapat ide dari mana. Tetapi nyatanya bisnis Marcell mulai berjalan baik. Dalam lima tahun omzet bisa mencapai Rp.10- 20 juta. Namun bagi pengusaha bisnis umur lima tahun masih tergolong muda. Ia mengatakan butuh pematangan.

"Namanya pabrik baru, nggak bisa cepat, matengin dulu," tuturnya. Kalau masalah modal Marcell sudah mendukungnya setahap- demi setahap. Hanya masalah SDM masih dirasanya kurang memadai.

Tiga tahun pertama menjadi ujian bisnis baksonya. Tahun suram begitu Marcell mendiskripsikan tahun itu. Ia sempat ditipu orang. Terkena isu bakso babi. Sempat hampir tutup tetapi dia perjuangkan kembali. Dan akhirnya lancar sampai sekarang.

"Pernah rugi karena duitnya dimaninin," kenang Marcell yang semakin hati- hati mengatur kas perusahaan. Dia meyakini setiap itu merupakan pelajaran sebagai pengusaha muda.

Bisnis bakso dan kopi


Menjadi produsen bakso berapa sih modalnya. Perkiraan menurut Kontan sekitar Rp.10 juta bisa kok. Ada beberapa cara membuka bisnis bakso. Dari menjual sendiri baksonya atau menjadi suplier bagi pedagang bakso. Kalau pakai sistem titipkan ke penjual bakso maka modal kamu akan membengkak.

Sistem mereka pakai konsinyasi atau bayar setelah laku. "Sistemnya mereka utang dulu," jelas Marcell. Nanti mereka bayar kalau sudah seminggu bahkan dua minggu. Dengan usaha yang mulai mapan Marcell bisa menentukan dijual ke siapa dan masih bisa berjualan sendiri.

Dia memilih opsi siapa yang bisa beli baru bisa kerja sama. Jadi cash flow -nya lancar kalau mau menjadi pemasok Bakso Salsa -nama usaha bakso Marcell Darwin. Apa perlu diperhatikan lainnya adalah masalah mesin dan tentu lokasi karena berpengaruh kepada pemasaran.

Contoh Bakso Salsa di Jakarta Selatan, karena tidak mengandung bahan pengawet, mangkanya distribusi sekitaran Jabodetabek saja. Kalau kelamaan nanti bakso bisa jamuran. Salah satu strategi bisnis jualannya lewat layan delivery order. Kalau dulu sebalum BBM naik masih bebas, sekarang mah pakai minimum order.

Sukses berbisnis bakos apa yang dilakukan Marcell Darwin selanjutnya? Apalagi kalau bukan membuka usaha lainnya. Dia memang sudah diajari untuk hidup beretos kerja tinggi. Business is business itulah satu penggalan kalimat profesionalitas Marcell.

Setelah sukses bakso kini dia membuka usaha warung kopi. Semua berawal dari tongkorongan, iseng kok kepikiran bikin warung kopi, jadilah bisnis tersebut. Dia kemudian jadi public- relation dan memodali. Ia menyerahkan bisnisnya dikerjakan orang lain. Ternyata keuangan semua bisnisnya diserahkan ke mamah Marcell.

Jujur mengakui dia orangnya masih boros. Marcell Darwin menarget pasar anak muda. Ide sederhana kok bukan kayak coffee shop gitu. Buka warung kopi tetapi berkonsep restoran santai. Uniknya ketika ada saudara mereka harus tetap bayar. "Manajemen tetap, business is business, nggak ada yang gratis."

Warung kopi beneran kayak warung kopi. Bahkan dia membawa langsung konsep dari Jawa. Mulai dari tata ruang, aksesoris, pernak- pernik khas warung kopi. Nama bisnisnya Cafe KingXkong, dibuka di Pasar Impres, Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Bisnis Marcell tidak tergesa- gesa. Semua sudah diperhitungkan termasuk soal tempat. Strategis karena di depan kampus. Apalagi Marcell punya klub montor bisa dah nongkrong. Selain kopi ada musik yang akan menemani telinga pengunjung. Di malam khususnya, musiknya beda, bahkan ada yang bawa musik sendiri.

Kalau dibilang udah balik modal belum. Marcell sadar bahwa bisnis tidak bisa cepat. Yang penting sudah keliatan marketnya. Dia juga berjualan pernak- pernik kecil- kecilan. Marcell memang senang wirausaha jadi jalaninya enjoy. Bahkan rencana ekspansi ke luar kota itu ada. "... kita mau ekspansi," tegasnya.

Berbisnis sambil menjalankan karir akting. Marcell mendapatkan dukungan dari tim management. Tapi ia tetap tidak meninggalkan perkembangan bisnisnya sedikit pun. "Gue syuting, pabrik bakso mama jalanin. Gue lebih ke managemennya aja," tutupnya.

Senin, 19 Juni 2017

Biografi Pengusaha Mebel Jepara yang Sukses

Profil Pengusaha Furnitur Ali Sodikin



Nama kota furnitur dimana lagi kalau bukan Jepara. Banyak perajin kayu berasal dari daerah tersebut. Ialah Ali Sodikin sedikit dari banyak namanya menanjak. Anak petani ini diangkat ceritanya oleh Kontan.co.id. Orang tuanya petani tetapi lingkungan Ali di Jepara adalah para pengrajin kayu.

Akhirnya pria 37 tahun ini tertarik akan dunia mabel. Dia kemudian memutuskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk memperdalam ilmu desain. Sayangnya, karena kekurangan biaya, dia akhirnya drop- out kuliah. Lantas apa yang dilakuan Ali muda selanjutnya berikut lengkapnya.

Desainer mebel


Pulang ke Jeparang langsung memilih bekerja. Pekerjaan pertama Ali adalah membuat desain untuk rumah mabel. Gambarnya masih pakai tangan. Ternyata perasaan mau kuliah masih membara. Dia sempat mau berkuliah di Jepara saja. Namun urung dan kembali berhenti di tengah jalan.

Waktu krisis moneter banyak kena imbas. Termasuk pengusaha mebel asal Jepara. Dampaknya tempat Ali kerja bangkrut. Ali lalu lari ke Jekarta mengadu nasib. Di sana dia memasuki dunia yang sama apalagi kalau bukan dunia mebel atau furnitur.

Beda dengan pengusaha mebel Jepara. Di Jakarta, mereka tidak memakai kayu semuanya, tetapi adalah perpaduan antara triplek dan kayu. Baru ketika di Jakarta dia belajar bagaimana material mebel. Sudah memegang material sendiri, Ali nekat berbisnis sendiri di Jepara, dimana semuanya dimulai tidak sengaja.

Dia secara tidak sengaja mendapat pesanan pintu rumah. Pembeli menantang Ali memenuhi pesanan itu. Ia menanggapi serius dan pembeli itu puas. Berlanjut pembeli tersebut mulai memesan lebih banyak. Adanya keberuntungan itu ditanggapi Ali lebih serius, pesanan mulai dari furnitur isi kantor dan rumah juga.

Mulai pemesanan semakin banyak datang. Guna menggarap itu, Ali kemudian meminta pinjam alat dari kakaknya, yang kebetulan menjalankan usaha mebel di Jepara. Tetapi usaha sang kakak itu bangkrut ketika krisis datang dulu. Ali kemudian mengambil alih semua peralatan dengan uang Rp.13 juta.

Sudah punya peralatan Ali berani buka workshop sendiri dengan sewa. Sudah memiliki workshop sendiri, Ali menerima kontrak pembuatan lantai kayu dari sebuah pabrik di Solo. Dia menerima orderan yang mungkin sulit tetapi dikerjakan. Meskipun pengalaman minim tetap dikerjakan buat menggaji karyawan.

Menambah modal dilakukan Ali berbagai cara. Termasuk ikut ajakan Pemerintah Daerah untuk datang ke Pulau Seram, Maluku, guna memberikan penyuluhan anak muda agar memanfaatkan kayu. Dua bulan dia bekerja di sana kemudian balik ke Jepara.

Bisnis lanjut


Pria kelahiran Jepara, 6 Juni 1978 ini, pada 2006 silam mendapatkan perhatian dari pembeli luar negeri. Dari dia, Ali mendapatkan pesanan berupa aneka furnitur luar rumah atau outdoor. Bisnis beresiko sih, Ali mengatakan tidak ada pembayaran uang muka, sebuah bisnis beresiko sulit mekanisme pembayarannya.

Untuk menyelesaikan masalah, dia memutar otak, caranya menghubungi pemasok yakni dari pengrajin lain dibidang mebel ini. Tujuannya agar cepat menghasilkan barang. Dan, anehnya, Ali berani menggelontorkan uang lebih meski tanpa uang muka. Dia beli lebih mahal agar bisa cepat dikemas dalam 6 kontainer siap kirim.

Pembayaran selesai, sukses Ali semakin percaya diri akan bisnisnya. Dimana bisnis itu berjalan ke tahun- tahun berikutnya. Jumlah pesanan bertambah tiap tahun. Mulai 6 kontainer, menjadi 10 kontainer, lalu sampai 24 kontainer. Dalam satu periode bisa mengirim hingga 43 kontainer sejak 2009- 2010.

Meskipun dianggap orang sebagai bukti kesuksesan. Menurut Ali, menanggapi ekspor belum tentu kita katakan sukses, karena tidak ada uang muka beresiko tinggi. Apalagi pasarnya makin kompetitif banyak pemainnya. Mangkanya tuntutan keuangan kuat harus dimiliki pengusaha macam Ali.

Suami Yuni Fatciah ini mengaku, agak kurang nyaman berbisnis seperti itu. Karena tidak sedikit pengusaha bangkrut karena bisnis ekspor tersebut. Padahal untungnya tipis, kalau dilanjutkan Ali harus punya modal kuat tegasnya. Celah lain adalah memperkuat penjualan dalam negeri sambil tetap melayani ekspor mebel.

Kemudian dari segi profit, penjualan mebel indoor lebih tebal dibanding mebel garden furniture. Jadilah dia semakin gesit menggarap furnitur dalam ruangan. Model- modelnya didesain semenarik mungkin buat di mata. Caraka Creasindo menawarkan solusi produk furnitur untuk kebutuhan keluarga di ruangan.

Contoh satu paket furnitur untuk lobi hotel. Desainnya semenarik mungkin bisa agar menarik pengunjung hotel. Tidak cuma membuat meja kursi, termasuk membuat aksesoris buat menambah keindahan. Akhir 2011, dia semakin matang berbisnis furnitur indoor, dan mulai mengurangi pengiriman mebel outdoor.

Tetap berjualan outdoor termasuk pasar luar negeri. Namun, jumlahnya terbatas, agar bisa disesuaikan dengan keadaan keuangan dan kenyamanan perusahaan Caraka Creasindo. Masih menjual aneka furnitur outdoor ke Eropa, Timur Tengah dan Kanada kok.

Untuk pasar lokal makin digenjot Ali. Khususnya memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran. Dengan penargetan ini Ali yakin bisnisnya tidak akan berhenti di satu titik. Kini, dia mampu mempekerjakan 60 orang karyawan.

Minggu, 18 Juni 2017

Sejarah Andrrows Mematahkan Stigma Pria Bertato

Profil Pengusaha Faris Juniarso


 
Stigma melekat bahwa orang tatoan tidak berprestasi. Mereka yang biasanya cuma memilih kriminalitas. Dipatahkan oleh Faris Juniarso, dipatahkan sampai kecil- kecil, karena prestastinya menciptakan satu produk yang merambah pasar Malaysia, Singapura, bahkan Australia.

Pria 28 tahun ini memang ingin mematahkan stigam itu. Pengalaman susah dapat kerja juga. Bayangkan orang seperti Faris sangat disepelkan. Dipandang tidak mampu bekerja kantoran. Alhasil wirausaha jadi pilihan kebanyakan orang bertato. Namun Faris memilih bisnis diluar kebiasaan yakni bisnis cuci sepatu.

"Orang bertato itu bakalan susah dapat kerja... Mangkanya saya memilih bikin kerjaan sendiri," tuturnya kepada pewarta Merdeka.

Rintisan pertama berupa bisnis cuci sepatu. Ia merekrut anak muda bertato yang susah cari kerja. Dia juga ingin menunjukan ke masyarakat bahwa orang bertato berkarya. Sengaja dia nyari pegawai yang bertato. Perasaan dulu pernah ditentang untuk bertato oleh keluarga berasa.

Bisnis inovasi


Ia mengenang bagaimana orang tua melarang. Apalagi orang tua Faris adalah pegawai kantor urusan agama. Sejak kelas 3 SMA dia mengaku sudah punya tato. Tentu waktu itu dia masih sembunyi- sembunyi dari orang tua. Ketika kuliah ikut teater, lalu dia kenalan sama seniman- seniman bertato dan jadilah dia.

Aneka pekerjaan diterima asal tetap menjadi diri sendiri. Tentu tidak banyak pilihan pekerjaan. Sebut saja dia pernah bekerja sebagai tukang sampah, pencuci piring, dan bartender. Karena tato hidupnya susah dan harus siap kerja apapun untuk makan saja.

Wirausaha pertama Faris ialah berjualan lekker. Semuanya bermodalkan sendiri, hasil jualan apapun yang ada di badan tanpa bantuan orang tua. Kemudian dia membuka bisnis semir sepatu berlanjut jasa buat mencuci sepatu bernama Andrrows.

Andrrows merupakan nama diambil dari sahabat Faris. Keduanya sepakat bekerja sama membangun satu bisnis. Sayang dia meninggal dunia ketika bisnis cuci sepatunya belum sukses. Namanya Andrrows adalah teman bermain sejak kuliah. Keduanya hobi sepatu bersama membuat cairan pembersih sepatu sendiri.

Dia menggunakan nama sang teman. Sebagai bentuk penghargaan, biar menjadi persembahan karena dia belum merasakan suksesnya sekarang. Bayangkan nama Andrrows sekarang dikenal di luar negeri semua berkat cairan pembersih racikan mereka.

Mereka pecinta sepatu, berdua kerap pergi bersama mengisi waktu luang untuk hunting sepatu. Mereka kemudian kepikiran membuat pembersih sepatu lewat obrolan santai. Ide mereka kemudian dicoba tetapi kegagalan selalu ada.

Kegagalan kunci sukses


Awalnya mereka ingin membuat alat pembersih sneaker. Namun, kelamaan, keduanya mengembangkan buat semua macam sepatu. Semua sepatu bisa dari kain, kulit, atau jenis pantofel. Termasuk buat sepatu cewek yang aneh- aneh bahannya.

Bisnis digeluti Faris sebenarnya adalah bisnis cuci sepatu. Tetapi nama produk pembersih Andrrows jadi lebih menonjol. Tidak apa- apa toh bisnis Faris sukses. Pasarnya luas sampai menerobos batas negara besar macam Australia -yang notabennya susah dimasuki pasarnya.

Merek Andrrows diluncurkan pertama kali 1 Mei 2014. Dimana total produksi baru beberapa botol saja. Dua tahun berselang produksinya perhari meningkat jadi 2.5000 botol per- hari. Awal, untuk uji coba, ia mendekati para kolektor sepatu dan hasilnya oke.

Inovasi digayangkan Faris agar beda dengan produk pencuci luar negeri. Bahannya dibuat alami yakni dari bahan virgin coconut oil dan aroma khas Andrrows. Kebetulan kotoran di Indonesia lebih banyak jadi kita sudah tau ketahanan Andrrows terjamin.

Dalam sebulan omzet sampai Rp.100 juta karena juga diekspor, dan mempekerjaan 19 orang pegawai buat produksi. Penjualan sampai ke Malaysia, Singapura, dan Australia. Untuk proses produksi masih ada di Semarang, packingnya dan distribusi ke Yogyakarta,

"Kami pertahankan produk lokal berkualitas internasional," terangnya penuh semangat.

Ia belajar dari pembersih asal Amerika. Yang harganya Rp.300 ribuan, sudah mahal dan susah dicari, lalu dia mulai membuat produknya sendiri. Semua orang kan memakai sepatu mahal, anak SD saja sepatunya sudah mahal, tidak cuma buat orang kantoran jadi prospek bisnisnya bisa ke atas ataupun ke bawah.

Contoh Jason Markk -produk pembersih asal Amerika- bahannya coconut oil, jojoba oil, dan lainnya. Ya sayangnya memiliki kandungan bahan kimia. Maka Faris ingin produk bagus namun bebas bahan kimia. Ia bayangkan kalau alami beda lebih baik kenapa tidak.

Apalagi ya kotoran di Indonesia lebih ngeri candanya. Proses pencarian resep dari 2010 tetapi terus gagal, tahun 2013 akhirnya menemukan resep tepat, maka dilirik produk buatan mereka itu. Dari omzet Rp.40 juta sudah naik Rp.100 juta hingga membuat kantor cabang di Australia juga.

Inovasi kerja sama bisnis

Harganya Rp.150 ribu lebih murah dibanding produk impor. Dia juga membuat starter kit memudahkan buat pembeli berisi satu pembersih dan standar brush atau sikat seharga Rp.180 ribu. Sikat itu terbuat dari bulu sapi Australia. Cukup Rp.400 ribu itu saja sudah bisa membuat bisnis cuci sepatu sendiri loh.

Pemasaran produk semakin gencar. Teknik pemasaran termasuk mengajak kerja sama jasa layanan cuci sepatu. Mitra pertama mereka yakni Shoes & Care asal Yogyakarta. Ada 40 perusahaan bekerja sama dengan mereka, tersebar di Lampung, Aceh, Batam, Makassar, dan kota lainnya.

Bentuk kerja samanya perusahaan itu harus berjanji. Mereka tidak akan menggunakan bleaching ataupun pakai ditergen. Jadi 100% menggunakan produk mereka sudah. Jika kerja sama baik, kita sebagai mitra mau mengikuti SOP mereka, akan dapat potongan 15%- 20% selama memakai produk mereka.

Edukasi pasar terus dilakukan. Tetapi sekarang ini bahkan anak SMP sudah tau pentingnya merawat sepatu mereka. Bisnis cuci sepatu berkembang sejalan bisnis cairan pembersih Adrrows. Selebihnya tinggal dia melakukan promosi sosial media seperti Intagram dan Twitter @Andrrows.

Jaringan ke costumer didekatkan lewat layanan Line. Pokoknya cara marketing modern sudah dia lakukan sekarang. Hasilnya tidak mengecewakan. Target berikutnya menguasai seluruh pasar Asia. Inovasi coba dia kembangkan adalah produk pembersih sepatu berbentuk spray buat traveling.

Artikel Terbaru Kami