Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Kamis, 13 Juli 2017

Racikan Telur Asin Rasa Udang Mengundang Untung

Profil Pengusaha Reginald Indarsin 


 
Mau berbisnis harus unik, kreatif, merupakan dua senjata pengusaha muda. Contoh lah Reginald Indarsin yang siapa sangka membuat telor asin menjadi udang. Mahasiswa Universitas Prasetya Mulya, yang baru 21 tahun, mampu membuat telor asin berasa udang.

Sebelumnya ia membuat telur asin rasa jahe dan bawang. Reginald memulia usaha sejak awal 2015. Dia memang berambisi menjadi pengusaha muda. Terutama ketika melihat sukses telur asin Ibu Ambar yang di Jakarta Utara.

Dimulai awal tahun tetapi masih percobaan. Meskipun begitu, Reginald berani memasarkan. Dimulai dari rasa jahe, udang, dan bawang. Talur asin buatanyanya cocok dimakan pakai rawon. Proses pembuatan sih tidak susah. Telur asin diamplas dibubuki bumbu khusus yang dia sediakan.

Barulah dilapisi tanah liat layaknya telur asin umum. Perpaduan bumbu diatas kemudian direbus. Rasanya khas dan enak. Kini dia sudah mensuplai beberapa restoran di kawasan BSD Tangerang, Banten. Dalam satu minggu dua kali bayangkan dia memproduksi 200 telur.

Modal awal ia tidak tanggung- tanggung. Reginald menggelontorkan uang Rp.20 juta, dimana Rp.10 juta buat beli telur asin dan sisanya peralatan produksi. Nekat? Tentu karena bisnisnya boleh dibilang coba- coba. Enak dilidah kita belum tentu masyarakat akan merespon positif seperti kita.

Biaya produksi telur Rp.3000, kita jualnya Rp.6000 per- telurnya dan diproduksi selalu habis. "Kita baru mulai bisnis ini 6 bulan yang lalu. Inovasi rasa kita akan lebih optimalkan," jelasnya. Pasaran telur asin ini memang menjanjikan apalagi selera kuliner kita tidak diragukan lagi.

Selasa, 11 Juli 2017

Pengen Punya Hobi Buat Wirausaha Coba Ini

Profil Pengusaha Shabrina Adlina


 
Hobi bisa menjadi usaha. Sebuah kalimat klise namun terulang lagi. Inilah kisah Shabrina Adlina, wanita 26 tahun, ini mencoba peruntungan di bisnis hobi. Karena dia hobinya menggambar maka jadilah. Awalnya dia membuat lukisan wajah di atas bantal.

Modalnya kecil namun menghasilkan loh. Omzet jutaan rupiah direguk Ina, hobinya menggambar manga ternyata membuahkan hasil. Bisnis Ina kemudian diberi nama nyentrik Mukalokayakbantal dan mulai dia jualan sejak 2010 silam.

Ia mengatakan idenya membuat gambar muka sendiri di bantal. Kemudian ikutan pameran dan ternyata, ada banyak yang berminat menggambar wajahnya sendiri di bantal. Lalu banyak mahasiswa membeli dari dia. Kemudian banyak yang minta menjadi reseller. "Sama sekali enggak lakukan promosi," jelasnya.

Pertama kali berbisnis Ina tidak mengeluarkan lebih dari Rp.500 ribu. Kemudian dia jual setiap bantalnya Rp.100 ribua bahkan Rp.1 juta. Pesanan datang sampai 50 buah per- bulan.

"Bantal dibentuk sesuai gambar dan dijahit rapi," tuturnya.

Suatu ketika ada pesanan khusus buat seprei. Harga ditawarkan juga tidak tanggung yakni Rp.2,5 juta. Dia kemudian memberi harga khusus buat bantalnya. Sejumlah 10 orang keluarga harganya Rp.1 juta setiap. Ia mengerjakan semua tanpa bantuan.

Sebabnya, hasil buatan orang lain tidak sesuai diharapkan. Awal kamu akan dibuatkan gambar kartun yang didasarkan ciri khusus kamu. Pada awalnya susah sih. Tetapi sejalan dengan pesanan semakin banyak ia mampu membuat persis cuma bermodal foto.

Bisnis ini memang banyak saingan. Apalagi dia bersaing dengan bantal bergambar printing. Tetapi justru lewat lukisan menjadi kelebihan Ina. Semuanya dikerjakan handmade jadi ada perasaan spesial. Jikapun ada pesaing Ina memiliki kelebihan yakni menggunakan crayon khusus kain.

"Belum menemukan lukis bantal kalau pakai yang crayon," paparnya.

Kain dipilih yang nyaman ujuga tetap bagus digambar. Bisnis lain dikerjakan olehnya yaitu lukis henna temporer. Yang mana dia berinama Hennaninuneno. Kemudian ada pernak- pernik bertema burung hantu, ada jam, tempat pensil, hingga boneka.


Senin, 10 Juli 2017

Kain Tenun Ikat Kediri Mustain Sampai Eropa

Profil Pengusaha Sukses Mustain


 
Naiknya pamor kain tradisional, termasuk kain tenun memberikan dampak siginifikan kepada pengusaha di daerah. Salah satunya Mustain pengusaha kain tenun asal Kediri. Apalagi namanya kain tenun Kediri sudah tidak asing lagi bahkan sudah menjadi produk ekspor.

Ketika Ramadhan mendekati Lebaran, bisnis Mustain semakin laku keras. Moment tersebut membawa berkah lebih. Tidak diragukan lagi kualitas kain tenun Mustain juara. Dengan menggunakan mesin yang masih tradisional, kain tenun Kediri buatanya lebih padat dan awet dipakai.

Jenis kainnya tenun ikat dibuat dari helaian benang pakan atau benang lusin. Setelah itu dikat dicelupkan ke zat pewarna alami. 

Dia bersama sejumlah perajin lain asal Kediri. Masih bertahan berbisnis. Meskipun pesang surut terutama dia bertahan. Usaha Mustain memang sudah turun- temurun di keluarganya. "Pembuatan kain tenun itu butuh waktu lama," paparnya. Memang prosesnya tidak semudah dibayangkan ketika jadi.

Sebelum ditenun disiapkan mesin tenun dulu. Helai benang ditata dipasang sesuai warna keinginan. Itu kemudian ditenun manual, disusaikan warna, dan corak tradisionalnya."...atau pola khas yang diinginkan," ia jelaskan.

Prosesnya lama dimulai benang panjang dan polos, ditenun sedemikian rupa menjadi lembaran kain besar tenun. Benang kemudian digulung. Diberi motif dan pola sesuai keinginan pembuat. Diwarnai dengan pewarna alami berbagi warna. Berbekal alat tenun kayuh kaki dan tangan, benang dirangkai menjadi kain.

Penenun harus siap menggerakan badan penuh ketelitian. Mustain memaparkan pengrajin kain tenun ini sangat langka. Dibuat sangat tradisional dianggap tidak praktis. Kesabaran dan ketelatenan yang sangat susah diterapkan ke anak muda jaman sekarang.

Langka adalah deskripsi buat kain tenun Kediri. Padahal sangat diminati konsumen, terutama di wilayah Jawa, luar Jawa, bahkan luar negeri. Kain tunun Kediri kuat dibanding kain tenun instan, harganya sangat bervariasi dari Rp.165 ribu sampai Rp.500 ribu per- lembar.

Jenis kain tenun ditawarkan perpaduan katun, dan semi sutra. Bisa dipakai buat busana atau dijahit menjadi pelapis mebel, penghias interior bahkan kelambu.

Produk tenun buatanya tembus pasar internasional. Salah satunya H. Mustain, pemilik merek Kurniawan, setiap minggu mengirim 180 meter ke Amerika. Selain itu dia mengirim ke Malaysia selain di Jawa dan luar Jawa. Ada 35 karyawan dan 20 alat tenun warisan leluhurnya untuk berproduksi memenuhi pasar.

Meskipun pemasaran masih belum maksimal. Dimana memproduksi 80 meter kain, di pasaran baru bisa terserap 60 persen, lalu distoknya itu buat dijual pada masa- masa tertentu. Ambil contoh ketika lebaran dia akan keluarkan tuh.

"Untuk promosi sekarang kita tidak mampu, kita saat ini hanya menunggu perantara," jelas Mustain.

Ada 14 tahap pengerjaan kesemuanya manual dikerjakan. Pemberian motif merupakan hal paling penting. Kemudian pengikatan benang menjadi kain. Meskipun pasar sudah masuk Eropa para pengrajin belum lah puas. Masih mau menembus pasar lain, sayang kurang promosi, dan dukungan pemerintah daerah minim.

Potensi yang tengah digali ialah bersinergi. Yakni bersenergi dengan pemerintah daerah membuat tujuan wisata. Desa tenun menjadi pandangan kedepan Mustain. Kemudian kerja sama dengan pecinta wisata agar tempat ini menjadi salah satu destinasi. Ia bekerja sama dengan biro perjalanan miwasata buat berkunjung.

Melalui konsep ini bukan barangnya keluar. Tetapi orangnya diajak masuk untuk melihat sendiri. Lewat biro perjalanan akan membawa mereka datang dan pulang bawa oleh- oleh.

Sabtu, 08 Juli 2017

Ukiran Wayang dari Kayu Bekas Berkah Hasam

Profil Pengusaha Umar Hasam 


 
Walaupun cuma lulusan SMP Umar Hasam tidak mau menyerah. Pemuda 23 tahun ini mencoba mencari jalannya lewat kewirausahaan. Warga Talun, Kabupaten Blitar, ini tidak pernah patah semangat berusaha. Keahlian ukir menjadi senjata andalannya mengembangkan usaha sendiri.

Hasam melihat peluang mebel di daerahnya. Lewat kreativitas ditambah teknologi informasi, Hasam lalu mencoba ukiran Indian apache. Tidak sama dengan pengukir pada umumnya. Hasilnya, ada teman yang suka langsung membeli Rp.25.000. Bertahap datang orang membeli ukiran buatanya sendiri.

Paling banyak pesanan yaitu ukiran wayang. Berbekal limbah ternyata bisa menghasilkan untung. Mulai dari serpihan pembuatan mabel. Pembuatan butuh waktu tiga hari. Kalau lebih sulit maka akan butuhkan waktu lebih banyak. Motifnya lembut dan tebal, maka butuh waktu lama karena mengukit kayu berserat.

Harga setiap produk sudah diperhitungkan. Dilihat dari tingkat kesulitan motif, bahan, serta waktu yang ia butuhkan. Tinggi tingkat kesulitan semakin tinggi harganya. Halusnya garapan Hisam bisa dibilang apa yang kita keluarkan tidak seberapa.

Karya ukuran 50x51 m dijual Rp.250 ribu. Ukuran besar diameternya, Hasam bisa mematok harga sampai Rp.25 juta. Salah satu proyek besarnya adalah mengerjakan pesanan ukiran Dewi Kwan Im. Pesanan ini datang dari seorang kolektor asal Jakarta bermodalkan sendiri yakni kayu jati ukuran 2x1 meter.

Sang kolektor mengapreasia kemampuan Hasam dalam bidang mengukir. Entah butuh waktu berapa lama ia belajar tetapi talenta Hasam adalah hebat.

Jumat, 07 Juli 2017

Lulus SMK Memilih Menjadi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha SMA Aji Wahyu Santoso



Bukan cuma rajin belajar tetapi kreatif berkarya. Bukan hura- hura menghabiskan uang orang tua. Pemuda ini malah coba- coba menjadi wirausahawan. Hasilnya mengejutkan siapa sangka dari barang bekas. Aji Wahyu Santoso mampu menghasilkan uang.

Caranya gampang kok. Bukan modus menggandakan uang. Cuma mengolah barang bekas menjadi aneka macam miniatur. Dengan bermodal sekedarnya, Aji merubah rumahnya menjadi workshop kecil- kecilan. Pemuda Desa Sudimoro, Kec. Megaluh, Kabupaten Jombang ini, tidak menyangkan akan selaris kini.

Baru beberapa bulan dia menemukan ide bisnis. Ia langsung praktek. Apalagi pemuda lulusan SMA ini memang menyukai dunia otomotif. Aji memeras otak agar bisa sama seperti anake motor di matanya. Dia merubah sejumlah barang bekas kecil- kecil, seperti tutup pulpen, korek, tikar, lalu sedotan bekas.

Murah dicari, juga merupakan sampan non- organik yang merusak lingkungan. "Kondisi ekonomi tidak mendukung saya kuliah," ujarnya sedih. Lulu SMK Aji segiat mungkin mencari pekerjaan, apapun dia coba untuk menafkahi diri.

Telaten merupakan kunci bisnis Aji. Penuh kehatian dan fokus Aji menyusu rangka. Aneka barang bekas ditempel menjadi kendaraan bermotor ataupun onthel. Alanya sederhana ada gunting, lem, penggaris, di tangan Aji, benda tidak bernilai tersebut dibuah menjadi aneka miniatur.

Bentuknya bisa moge, skuter, motor bebek, bahkan bisa buat yang serumit Harley Davidson. Dalam sehari dia mampu merakit lima. Modelnya rumit maka akan memakan waktu lebih lama, sekitar empat harian. Ketekunan tersebut, ditambah kreativitas, membawa pundi- pundi uang ke kantong Aji.

Sarana pemasaran lewat pameran atau car free day (CFD). Larisnya usaha Aji didukung peminat otomotif asal Kota Santri. Harga miniatur Rp.25.000, Rp.100.000 untuk yang rumit. Meskipun sukses dia masih merasa belum puas. Masih banyak hal dibenahi agar miniaturnya lebih sempurna, contohnya memakai cat semprot.

"...tapi karena masih memikirkan ekonomi, hingga sekarang masih memakai kuas," tutupnya.

Cerita Desainer Nina Nugroho Tidak Semua Hobi Bisnis

Profil Pengusaha Nina Septiana Nugroho 


 
Meskipun bisnis busana muslim memang banyak persaingan. Namun Nina Septiana tidak mau menyerah mencoba. Berbekal kemampuan melihat tren berbeda. Nina memang hobi pakaian muslim. Inilah bekal ia menjadi pengusaha busana muslim. Sudah lima tahun menghasilkan dua brand yakni Saniyya dan Sharia.

Berawal dari hobi, bisnis Nina tidak jelas, meskipun menghasilkan perkembanganya stagnan. Lantas sang suami bertanya apakah dia niat membesarkan bisnisnya. Pada Juni 2016, dia meluncurkan bran memakai namanya sendiri label Nina Nugroho.

"Suami tanya, usaha ini mau diapakan, kalau masih bertahan di hobi sudahi saja, tidak usaha diseriusin," ucap Nina menirukan.

Kalau mau jadi pengusaha harus bermanfaat buat orang banyak. Nina akhirnya niat menyeriusi bisnisnya itu jadi usaha. Uang Rp.40 juta digelontorkan untuk memperkuat brand. Itu uang untuk membayar bahan, penjahit, aksesoris dan finishing. Produksi pertama meliputi pakaian, outler, abaya, rok, gamis, pashmina.

Bisnis laku keras


Tidak disangka, respon masyarakat begitu baik dari pembeli, dan per- 2016 bisnisnya menghasilkan omzet Rp.5 miliar per- tahun atau omzetnya Rp.400 juta tiap bulan. Ia memang gencar memperkenalkan produk ke aneka departemen store seperti Sogo dan Debenhams dan sejumlah pemilik butik.

Untuk Debenhams dia diberikan jatah 100 pcs, kemudian dia bawa 1000 pcs, yang mana dia sediakan buat mengikuti pameran. Dia menciptakan pakaian siap pakai. Dimana mudah dipakai dan mampu digunakan siapa saja.

Separuh bulan Ramadhan mampu mencapai omzet Rp.1 miliar. Nina sendiri memiliki gaya sendiri atau kita menyebutnya signatur khusus bulan Ramadhan. Tiga koleksi telah dikeluarkan untuk Ramadhan tahun ini. "Signature biasanya seminggu menjelang Ramadhan sudah dicari," paparnya.

Ada 300 pcs signature diproduksi buat Ramadhan tahun ini. Ada 2000pcs produk kasual, dan 400 pcs buat kantor. Harga mulai termurah Rp.59.000 sampai Rp.1 juta.

Mode kasual banyak dibeli masyarakat sesuai iklim. Sesuai dengan iklim Indonesia, mangkanya produk ini paling dicari oleh masyarakat. Selama Ramadhan, produksi pasmina sebanyak 1.300 pcs. Konsep desain milikny klasik modern, kombinasi antik yang timeless dengan simplicity menjadi ciri era modern/

 "Senangtiasa menjadi inspirasi bagi orang lain," adalah moto Nina Septiana

Nina terdorong untuk menciptakan komunitas bersama. Melalui Active Muslima Community (AMC), ini adalah tempat para desainer muslim, bagaimana tetap menjadi ibu di rumah dan menjadi profesi desainer yang ditekuninya.

Berawal dari rasa suka memadu padankan baju dan jahitan baju. Eh banyak orang menyukai jahitan Nina dan melirik koleksi bajunya. Hal tersulit bukanlah bahwa dia adalah wanita karir. Justru beban datang dari tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Sudah 13 tahun, ia tetap ingin menemani suami dan anaknya, dan mulai rasa bersalah.

Rabu, 05 Juli 2017

Seni Mendesain Aquarium Aquascape Bisnis Puluhan Juta

Profil Pengusaha Wendy Kurniawan dan Doddy Ali Wijaya 




Senang bermain ikan membawa Wendy Kurniawan sukses. Akhirnya Wendy ikutan menekui seni menata aquarium. Namanya aquascape, seni ini memang belum umum, mangkanya prospek bisnis masih terbuka lebar buat kita.

Pria 32 tahun memulai bisnis bersama dua rekan. Hobi tersebut resmi jadi bisnis tahun 2010 silam. Dia yang dasarnya suka ikan hias tinggal belajar sedikit. Bagaimana menata ruang buat ikan memang tidak lah mudah. Tetapi Wendy sudah punya dasar buat mengetahui tentang kualitas air yang dibutuhkan ikan hias.

Ia mereflesikan diri kepada aquarium miliknya. Dia liat kok aquarium miliknya tidak sebagus di foto. Kok tidak seperti gambaran kita ketika melihat film ataupun internet. Mencari tau, Wendy baru tau ternyata kita butuh tanaman tempat menyimpan oksigen, kemudian mencari tau tanaman apa saja bisa ditanam di air tawar.

"Kita cari tau sampai ketemu konsep aquascape ini di tahun 2008," jelas dia.

Dia belajar bagaimana menanam tanaman di aqurium. Bersama teman satu klub penyuka aquascape dia menemukan kesenangan. Tahun 2009- 2010 memang menjadi tahun naik daunnya. Peluang bisnis tersebut ditangkap dan ia membuka usaha aquascape.

Sambil aquascape juga jualan aneka ikan hias. Konsep khusus aquascape membawa rasa berbeda ketika orang mengunjungi lapak ikan hias miliknya. Ini seperti bertanam saja namun kita menanam di dalam air, air tawar.

Bisnis menggiurkan


Secara umum sebenarnya aquascape menitik beratkan ke menatan. Bagaimana tidak sekedar menaruh apa tanaman kita sukai sebagai hiasan. Mangkanya juga dihiasi hiasan lainnya seolah kita menata taman. Uang digelontorkan Rp.50 juta, Wendy bersama Dody dan Erwin, membuka usaha bernam Aquajaya.

Aquarium ukuran 30x30 cm dijual seharga Rp.40 0 ribu. Harga menjadi "wah" lantaran tidak cuma pada akuran berpatok. Namun termasuk tanaman hias, hiasan, serta kerja Wendy dan rekan menciptakan suasana di dalam aquarium. Bersama mereka mengembangkan usaha hingga rata- rata omzet Rp.20- 40 jutaan.

Karena juga menggabungkan unsur seni. Tidak sedikit harganya diluar akal sehat. Contoh Wendy pernah jual sampai harganya Rp.10 juta lebih. Harga aquarium set 30 cm sebenarnya cuma Rp.800 ribu, tetapi kalau sudah kena aquascape harganya bisa naik, karena ya hitunganya di menghias tempat ikan itu tinggal.

Modal desain bisa setengah dari harga jualnya. Bisa dibayangkan keuntungan bisa direguk mereka. Apalagi semenjak aquascape makin digilai. Alhasil pesanan mereka meningkat di tahun berikutnya. Khususnya di kota- kota besar nama aquascape sudah dikenal. Promosi mereka cukup melalui sosial media dan jadilah hasil.

Segmentasi beragam dari mahasiswa sampai pekerja kantoran. Tidak jarang anak SMP dan SMA berminat mencari tau soal aquascape. Kedepan bisnis mereka juga akan ditingkatkan, contoh menjual aneka bahan membuat aquascape, seperti pasir, pupuknya, dan media tanam.

Nama brand Aquarest mencoba dikembangkan sendiri. Seperti juga menjual aneka filter dan lampu buat mempercantik. Aquajaya juga sudah mulai mengimpor. Biasanya dia sudah ambil dari distributor. Hingga mereka mampu membeli langsung biar lebih murah.

Bisnis menarik


Doddi Ali Wijaya menjelaskan semua promosi dimulai dari sosmed. Di situs jual- beli Kaskus, dia mulai jualan bahan aquascape, yang awalnya kelebihan material pembuatan. Dan hasilnya diluar dugaan hingga ia makin mantab berbisnis.

Pemasan juga tidak berhenti di sana. Melalui situs Aquajaya.com, toko online ini menawarkan solusi buat kita merakit aquascape sendiri. Menjuala aneka material pembuatan aquascape. Tidak ayal maka omzet usaha mereka telah mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Usaha ini berkembang ke arah berbeda, termasuk jasa menginstalkan aquarium ke rumah, juga memberi solusi buat ikan apa dan bagaimana perawatan seharusnya. Jasa desain ulang aquarium lama juga tersedia loh. Aquajaya juga memberika jasa perawatan aquascape, penjualan sudah merambah kantor dan instansi pemerintah.

Meskipun penjualan termasuk mahluk hidup, Doddi dan toko onlinenya sudah siap mengirim ke penjuru Indonesia. Bekerja sama dengan ekspedisi JNE, dia sudah mampu mengirim ke luar kota, dan buat yang ada di Jakarta jika tidak punya waktu mampir ke toko nyata maka ada jasa kurir dan layanan langsung kok.

Suami Selvi Eka menjelaskan bisnis mereka memanjakan. Bagaimana cara memanjakan para penggemar aquascape baru buat berkarya. Jadi usaha mereka tidak monton dipenjualan produk jadi saja. Meskipun suskses ternyata masalah pasokan material masih terkendala.

Agar gampang maka mereka membuat farm sendiri. Ya mereka menciptakan peternakan buat ikan maupun buat tanaman hiasanya meski kecil- kecilan. Kendala stok bisa ditangani, dan kualitas layanan mereka bisa diandalkan. Sebagai lulusan IT tugas, Doddi bertugas mengatur suhur, parameter air, dan pupuk serta stok.

Untuk menambah pengalaman, mereka tidak segan mengikuti lomba aquascape dan juara. Yakni juara 2 buat Indonesian Fisheries Expo, juara 3 Indonesian Plant and Pets dan Plant Aquatic Expo pada 2011 di WTC Mangga dua, dan paling mengena ketika juara 1 Indonesian Fish for The World.

Wendy dan Doddi mendorong lahirnya pengusaha serupa. Jaman sekarang kan sudah beda dan pengusaha muda dimudahkan lewat sosial media. Terserah usahanya apa, mau sejenis aquascape atau apapun, asal kita punya lebih banyak pengusaha.

"Kita tinggal modal sedikit, promosi online, promo terus lama- lama juga akan besar," jelas Wendy. Ia lalu menambahkan,"jangan takut gagal. Kalau gagal, jangan nyerah, usaha terus." Namanya usaha bisa saja kita untung atau buntung.

Senin, 03 Juli 2017

Pengusaha Diejek Karena Inovasinya Kaos Kaki Bambu

Biografi Pengusaha Taufik Rahman


 
Tidak mudah bagi Pak Taufik Rahman menjadi seperti sekarang. Banyak hal pernah dilalui Taufik yang dulu pernah diolok karena inovasinya. Siapa sangka berbekal bambu dia bisa membuat produk fashion. Unik karena produknya menciptakan inovasi di bidang tekstil.

Produk bambu sudah dipakai di Jepang dan China. Tetapi nampaknya baru Taufik yang menggunakan nama fiber bambu. Diolahnya menjadi sepatu dan kaos kaki. Tidak mudah, karena awal- awal tahun, dia tidak mendapatkan laba sama sekali. Bahkan sempat menggadaikan rumah untuk mendanai bisnisnya tersebut.

Keyakinan besar lah membawa Taufik sekarang. Bayangkan pria asal Jombang, kelahiran 8 November 1964, ini mampu menghasilkan Rp.2 miliar perbulan. Mulainya 2010, berawal produk kaos kaki dulu, lalu dia kembangkan sepatu, t- shirt, dan sweater.

Karyawan jadi pengusaha


Sebelum menjadi pengusaha, Taufik menjalani kehidupan seperti kita yakni karyawan. Dari desa pergi ke kota, bekal Taufik membawanya bekerja di perusahaan farmasi. Memulai bisnis sampingan dulu dia mulai coba- coba menjadi pemasok barang- barang komputer, pabrik kaos kaki, dan menyalurkan pupuk organik.

Segala jenis usaha dijalankan dia sebagai sampingan. Menjadi pengusaha memang susah bahkan istrinya sempat pesimis. Menyebutkan tidak berbakat pengusaha. Bukan jalur hidupnya. Tetapi ia ngotot sampai dia juga jadi juragan restoran seafood. 

Aisyah, istri Taufik, melihat betul kegagalan demi kegagalan. Dengan penuh semangat Pak Taufik ngotot mendeklarisikan dirinya sebagai pengusaha ke istri. "Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang sudah menguasai bidang ini," terangnya, merasa beruntung pernah jadi karyawan dulu.

Berbisnis aneka macam sampai menggadaikan sertifikat ke bank. Di tahun 2003, dia berbisnis membuat aneka kaos kaki, tidak pernah mendapatkan untung tetapi ia yakin bisnis ini akan sukses. Bisnis kaos kaki bernama Parker. Berbekal uang pesangon kerja Rp.40 juta dibelikan mesin dan menggaji satu karyawan.

Prinsi kerjanya adalah mutu terjamin. Ide tentang menggunakan benang bambu muncul. Tidak segan dia mencari tau kemudian mengimpor. Bahan baku dibeli dari China sebesar 5 ton, yang kemudian dipintal di Bandung sendiri. Awalnya dia mengimpor benang sudah terpintal, kemudian mencoba memintal sendiri.

Disaat bersamaan dia meyakinkan masyarakat. Ia mencoba meyakinkan tentang serat bambu. Bahkan ini bisa dijadikan produk fashion siap pakai. "Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang saja, disangkanya bohong. Karena saya tidak bisa membuktikan ini bambu beneran apa bohong," kenang Taufik.

Memang soal bahan bambu ini belum populer. Menurut penilitian daya serap keringatnya bagus. Inilah yang digunakan dia sebagai landasan promosi. Dua thun tidak laku apa yang dirasakan Taufik? Tidak apa dia katakan. "...yang penting saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari kegagalan itu," jelasnya.

Kain serat bambu memang ramah lingkungan. Seratnya itu 3,5 kali lebih kuat menyerap air daripada kain katun. Dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah tak terdaur ulang.

Bisnis terus


Sekarang mengantungi omzet Rp.250 juta, omzet meningkat seiring dengan munculnya peminat pakaian berserat bambu. Ia mengatakan modal awal Rp.100 juta dan omzetnya segitu naik- turun. Dijual beraneka ragam dengan harga kompetetif dengan bahan katun.

Kisaran harga untuk kaos kaki Rp.70 ribu sampai Rp.100 ribu. Lalu harga kaos Rp.100 ribu, Rp.200 ribu, sampai Rp.400 ribu. Kemudian sweater harganya Rp.500 ribu dan sepatu antara Rp.400 ribu sampai satu juta rupiah. Bisnis yang diberinya nama Bamboo Studio, sudah melalang buana dibanyak acara UKM.

Dia memiliki 25 karyawan melebarkan sayapnya lewat berbagai pameran manca negara. Mulai pameran di lokal, kemudian Hong Kong, Malaysia, sejak 2012 silam.

Mengenang masa susah selama satu dasawarsa merupakan cara bersyukur. Dia tidak menjadi lupa diri akan kesuksesan sekarang. Dimulai tahun 2010 silam, Pak Taufik membuat kaos kaki kulit sapi setiap bulan. Ia kesukaran mendapatkan bahan. Barulah dia mencari tau bahan lain yang lebih natural dan gampang dicari.

Terpikir kulit ikan nila, biawak, dan katak lebuh. Pokoknya aneh- aneh pikiran Pak Taufik. Tengah mencoba mencari alternatif bahan. Ketertarikan tersebut ditunjang kreatifitas berpikir tentang produk apa. Untuk produksi dia menggaet pengrajin lokal, satu pasang bisa dibuat 2 sampai 5 hari, ada 25 pengrajin dibawah dia.

Produksi sepatu sampai 1000 buah tiap bulan. Dimulai dari serat bambu dipintal, dijadikan benang, lalu dicelup, kemudian dirajut sesuai corak. Barulah digabungkan prosesnya hingga menjadi kain. Dari lining, insole, outsole, hingga heel.

Senin, 26 Juni 2017

Biografi Singkat Syahir Karim Pengusaha Oleh- Oleh Haji

Profil Pengusaha Pemilik Bursa Sajadah 


 
Hidup Syahir tidak mudah hingga seperti sekarang. Pengusaha oleh- oleh Haji ini, bercerita tentang masa kecilnya harus bekerja keras kepada awak media. Sejak umur 14 tahun sudah "dipaksa" bekerja keras. Dan hasilnya dia adalah pemilik toko Bursa Sajadah, usaha beromzet ratusan juta.

Orang baru naik haji pasti paham nama toko oleh- oleh haji. Buat mereka jamaah haji yang tidak sempat membeli oleh- oleh. Inilah solusi mereka buat membahagiakan keluarga di rumah. Nah, salah satu toko oleh- oleh terkenal adalah Bursa Sajadah, pemiliknya bernama Syahir Karim Vasandani.

Cabangnya sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Bisnisnya mulai dari jualan air zam- zam, aneka sajadah, mukena, kerudung, tasbih, teko, cangkir arab, lalu karpet. Produknya datang dari produksi dalam negeri. Sisanya Syahir mengimpor langsung dari Arab Saudi sendiri.

Perjalanan panjang bisnis


Pria kelahiran Surabaya, 18 November 1949, ini sudah bekerja keras sejak kecil. Alasannya karena sejak umur tiga bulan dia sudah yatim. Sejak umur 14 tahun, Syahir kecil sudah mengerti bahwa sebagai lelaki dia harus bekerja. Ia tidak tega melihat perjuangan ibu apalagi Syahir punya empat adik kecil.

Tidak tanggung dia bahkan berhenti sekolah buat kerja. Waktu itu dia sekolah kelas lima sekolah rakyat atau setara sekolah dasar. Pekerjaan pertama dia menjadi pegawai pengusaha tekstil asal India. Kerjaanya apa saja membantu tidak tetap satu bidang.

Ia mengerjakan bahkan hal aneh tidak ada hubunganya dengan tekstil: Seperti menyemir sepatu atau dia akan disuruh membuang sampah. Ia sempat hijrah ke Jakarta namun kembali lagi. Di Surabaya, Syahir lalu kembali bekerja di perusahaan tekstil lagi pada 1864, hingga pekerjaanya mapan jadi manajer penjualan.

Total dia bekerja di Surabaya lagi selama enam tahun. Syahir namapaknya puas dengan karirnya yang mulai bagus. Sesekali dia mencoba berbisnis tekstil sendiri meski gagal. Tahun 1972, ia hijrah ke Bandung dan melamar ke pabrik tekstil di Majalaya, yang juga punyanya orang keturunan India.

Sudah jadi rahasia umum kalau orang India lebih merekrut keturunan India juga. Orang tua Syahir sendiri berasal dari Hydrabad Syind, Pakistan. Cara unik dilakukanya untuk mendapatkan ilmu gratis. Karena dia bekerja pada malam hari, maka paginya Syahir masuk meskipun tidak bekerja sama sekali.

Datangnya pagi hari cuma buat observasi bagaimana pimpinan pabrik bekerja. "Saya mencari ilmu setiap hari," jelasnya. Dia bekerja, lalu menikah, dimana menetap di Bandung sampai 1979. Tahun 1980 dia lalu dikirim ke Negeria membantu penjualan kosmetik si boss. Tidak lama Syahir bekerja di negeri orang dan kembali.

Empat tahun di Indonesia lagi, barulah Syahir berniat membuka usaha sendiri lagi. Tetapi pulang dari sana, dari Negeria membawa masalah, karena kebiasaan minum disana terbawa hingga Indonesia. Dia menjadi sosok pemabuk. Alhasil mau membuka usaha malah gagal terus karena uangnya kepakai buat mabuk lagi.

Tobat jadi pengusaha


Tahun 1992 dia bertobat tidak lagi minum- minuman. Ia berhenti minum sekaligus berhenti merokok, dan mulai mendalami agama. Di tahun 1993, dia mengajak istri menunaikan ibadah Haji di Mekah. Pulangnya dia membuka toko oleh- oleh haji di kawasan Jalan Palaguna, Bandung, yang bernama Babussalam.

Uang modal membuka toko oleh- oleh haji. Ada Rp.10 juta merupakan hasil sisa simpanan dan pinjaman. Dia bisa dibilang genius. Karena apa, karena bisnis semuanya sudah dihitung, dan Syahir belajar buat mengatur uang perusahaan terpisah.

Ceritanya sebelum bisnis oleh- oleh ini. Syahir sudah lebih dulu berbisinis jaket kulit Garut. Bisnis jaket ini menjadi penompang bisnis oleh- oleh Hajinya. Tepatnya tahun 1994, dia menekuni pembuatan jaket kulit sampai ekspor 1000 buah. Karena mulai sepi memutar otak memindahkan uang modalnya ke bisnis ini.

Alasan bisnis oleh- oleh Haji ternyata datang dari pelanggan. Mereka iseng mengucap kebutuhan mereka ke Syahir. Mulai lah dia mendatangkan barang- barang dari Mekah dan Madinah. Lalu pabrik garmen di Majalaya dan Kopo, memproduksi tidak cuma jaket tetapi kemeja, rompi, baju olahraga, dan lainnya.

Alkisah tahun 1993, ia pulang beribadah haji, teman lama datang ke rumah. Ngobrol macam- macam lalu sang teman meminta pekerjaan. Lebih tepatnya tidak meminta langsung tetapi bercerita butuh pekerjaan. Ia langsung menawarkan pekerjaan di tempatnya. Dan kebaikan itu berbuah manis ternyata diujung cerita.

Bayangkan, Pak Krisna, teman lamanya itu ternyata sangat handal dalam penjualan. Seorang salesman yang tangguh dari sejak pengunjung masuk toko. Pokoknya kalau ditangani dia, pengunjung pasti pulang dengan membeli sesuatu. Syahir memang orangnya mengapresiasi orang lain, terutama karyawannya sendiri.

Baginya karyawan merupakan aset penting perusahaan. Disisi lain tidak ada tuh namanya break event point atau target tertentu. Pokoknya ia menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Dari bentuk kerja keras serta didukung oleh sikap baik. Lahirlah perusahaan bernama PD Aarti Jaya yang berbisnis bidang garmen.

Tahun 1998, dari PD Aarti Jaya menjadi CV Aarti Jaya, dan semakin besar jadi PT. Aarti Jaya. Kini SKV -begitu nama bekennya- memiliki sekitar 1000 karyawan. Dimana ada 30 UKM yang menjadi pemasok ke toko- toko miliknya. Tokonya kini menjual lebih dari 6000 jenis produk tekstil dan oleh- oleh haji.

Toko Bursa Sajadah sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Malang dan Solo. Satu pencapaian lainnya ialah, bahwa Bursa Sajadah merupakan pengimpor terbesar aneka sajadah dan karpet dari Turki, Arab Saudi, India, Iran, dan Uni Emirat Arab pada umumnya.

Kini, bisnisnya, sudah diserahkan ke sang anak Heera Syahir Karim Vasandani, yang mana juga memiliki segudang prestasi dalam melanjutkan bisnis sang ayah. "Allah mau

Kamis, 22 Juni 2017

Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Rabu, 21 Juni 2017

Jualan Kulit Harimau Sumatra Aman Ala Catur

Profil Pengusaha Debi Catur Setyobudi 


 
Berburu harimau itu dilarang. Tetapi bagaimana cara bisnis aman kulit harimau. Bagaimana kalau kita coba seperti pengusaha muda satu ini. Namanya Debi Catur Setyobudi, yang mana bisnisnya unik, bagaimana dia bisa jualan kulit harimau aman berikut detailnya.

Kulit harimau memang dicari buat koleksi. Warga Dukuh Alastuo, Desa Balegondo, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan, yang berbisnis kulit sapi. Dimana Catur merubah kulit sapi nampak seperti macan. Aneka motif macan bisa dibuat Catur seperti macan tutul kecil/besar, cheetah atau leopard, hingga motif zebra bisa.

Mereka dibuat pakai kulit sapi. Hanya motifnya diubah. Cara pembuatan menggunakan pigmen warna. Tapi sebelumnya dia siapkan dulu motif targetnya.

Bisnis kreatif


Bisnis ini sudah dijalankan sejak lima tahun lalu. Awalnya pengusaha muda, putra pasangan Sirun Priadi dan Eni Sri Mawar, pernah bekerja di pengolahan limbah industri Magetan. Catur memilih membuka usaha sendiri tetapi tidak mudah seketika.

Butuh waktu setengah tahun, untuk mencari cara merubah warna kulit lewat pigmennya. Susah apalagi itu masih ada bulunya. Ia menjelaskan yang diwarnai bukan kulit tetapi bulu sapi. Bagaimana caranya merubah warna bulu menyerupai bulu harimau. "Itu susah bukan main," jelasnya.

Walau kamu oles pigmen hitam belum tentu jadi hitam. Kan motif harimau itu ada hitam- hitamnya, ada coklat- coklatnya kemerahan. Campuran pigmen agar mendapatkan warna itu butuh lebih dari pengalaman. Hingga pengalaman dan teknik itu mendapatkan bayaran berupa maraknya pesanan datang.

Dia menjual aneka ukuran. Ukuran 25 sentimeter persegi kulit motif dijual 35 ribu, itu kalau satu warna, nah kalau warnanya dua harganya Rp.45 ribu.

Produknya sudah ada di wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Nantinya akan diproduksi ulang jadi tas, sepatu, dan dompet, yang bahkan diekspor ke Timur Tengah. Motif harimau dan zebra Catur juga dibikin jok mobil bisa. Penggunaan kulit lain juga dimungkinkan seperti kulit domba atau kambing.

Namun tidak semua bisa dicetak semprot. Khusus buat motif harimau Sumatra butuh lukis tangan. Jadilah harganya pantas mahal. Setiap bulan dia mengirim 50- 100 lembar kulit. Kadang bisa melonjak banyak ya kadang juga permintaan sedikit.

Pasar impor


Pria yang cuma lulusan STM Mesin ini. Tidak cuma lokal tetapi juga merambah internasional. Sebuat saja negara Amerika menggemari motif leopard, jaguar, dan zebra miliknya. Untuk motif zebra ada kendala tersendiri nih teman. Karena warna dasarnya harus putih dan kulit seperti itu hanya ada waktu tertentu.

Usut- punya usut ternyata dia pernah belajar kulit. Meskipun singkat tetapi dia bekerja langsung. Dia dulu ikut Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Langsung kerja dipengolahan kulit dari dasar. Ternyata adalah bosnya yang pernah menantang Catur membuat kulit harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

Mantan bosnya dapat pesanan entah dari mana. Tapi dia maksa Catur bekerja meski di rumah. Bahkan dia rela memberikan bahan untuk dikerjakan gratis. Sukses membuat sendiri, si bos malah makin rajin buat memberinya proyek sampai ke Bali.

Kendala lain adalah masalah cuaca. Dimana pengeringan masih memakai tenaga matahari. Alhasil pada musim tertentu pemenuhan permintaan bisa dibatasi. Dia cuma dibantu seorang karyawan bernama Tumini yang juga tetangganya. Keduanya mampu memenuhi pesanan seabrek itu hebat bukan.

Harga jual meningkat drastis dibanding jualan kulit sapi polos. Apalagi nih, kalau sudah di kirim ke luar, di pasaran Eropa saja harganya bisa berlipat- lipat. Kulit tanpa motif harganya Rp.15 ribu per- 30 senti, dan kalau sudah bermotif harimau di Eropa harganya bisa Rp.50 ribu per- 30 sentimeter.

Meskipun sudah jadi barang ekspor. Pihak pemerintahan daerah Magetan masih belum sadar. Keberadaan bisnisnya tidak disadari. Walau kebutuhan modal tidak mendesak. Ia masih merasa bisnisnya ini butuh promosi terutama ke daerah lain diluar jangkauannya sekarang. "Atau pembinaan kualitas kerajinan saya."

Selasa, 20 Juni 2017

Artis Sekaligus Pengusaha Bakso Marcell Darwin

Profil Pengusaha Artis Marcell Darwin 


 
Artis berbisnis langsung sukses. Mungkin beberapa tetapi tidak semua. Yang pasti mereka akan merasakan susahnya membangun pasar. Salah satu artis yang berbisnis adalah Marcell Darwin. Bisnisnya kami anggap anti- mainstream dimana jika artis lain membuka restoran, bisnis kosmetik, tetapi bukan pabrik bakso.

Entah dapat ide dari mana. Tetapi nyatanya bisnis Marcell mulai berjalan baik. Dalam lima tahun omzet bisa mencapai Rp.10- 20 juta. Namun bagi pengusaha bisnis umur lima tahun masih tergolong muda. Ia mengatakan butuh pematangan.

"Namanya pabrik baru, nggak bisa cepat, matengin dulu," tuturnya. Kalau masalah modal Marcell sudah mendukungnya setahap- demi setahap. Hanya masalah SDM masih dirasanya kurang memadai.

Tiga tahun pertama menjadi ujian bisnis baksonya. Tahun suram begitu Marcell mendiskripsikan tahun itu. Ia sempat ditipu orang. Terkena isu bakso babi. Sempat hampir tutup tetapi dia perjuangkan kembali. Dan akhirnya lancar sampai sekarang.

"Pernah rugi karena duitnya dimaninin," kenang Marcell yang semakin hati- hati mengatur kas perusahaan. Dia meyakini setiap itu merupakan pelajaran sebagai pengusaha muda.

Bisnis bakso dan kopi


Menjadi produsen bakso berapa sih modalnya. Perkiraan menurut Kontan sekitar Rp.10 juta bisa kok. Ada beberapa cara membuka bisnis bakso. Dari menjual sendiri baksonya atau menjadi suplier bagi pedagang bakso. Kalau pakai sistem titipkan ke penjual bakso maka modal kamu akan membengkak.

Sistem mereka pakai konsinyasi atau bayar setelah laku. "Sistemnya mereka utang dulu," jelas Marcell. Nanti mereka bayar kalau sudah seminggu bahkan dua minggu. Dengan usaha yang mulai mapan Marcell bisa menentukan dijual ke siapa dan masih bisa berjualan sendiri.

Dia memilih opsi siapa yang bisa beli baru bisa kerja sama. Jadi cash flow -nya lancar kalau mau menjadi pemasok Bakso Salsa -nama usaha bakso Marcell Darwin. Apa perlu diperhatikan lainnya adalah masalah mesin dan tentu lokasi karena berpengaruh kepada pemasaran.

Contoh Bakso Salsa di Jakarta Selatan, karena tidak mengandung bahan pengawet, mangkanya distribusi sekitaran Jabodetabek saja. Kalau kelamaan nanti bakso bisa jamuran. Salah satu strategi bisnis jualannya lewat layan delivery order. Kalau dulu sebalum BBM naik masih bebas, sekarang mah pakai minimum order.

Sukses berbisnis bakos apa yang dilakukan Marcell Darwin selanjutnya? Apalagi kalau bukan membuka usaha lainnya. Dia memang sudah diajari untuk hidup beretos kerja tinggi. Business is business itulah satu penggalan kalimat profesionalitas Marcell.

Setelah sukses bakso kini dia membuka usaha warung kopi. Semua berawal dari tongkorongan, iseng kok kepikiran bikin warung kopi, jadilah bisnis tersebut. Dia kemudian jadi public- relation dan memodali. Ia menyerahkan bisnisnya dikerjakan orang lain. Ternyata keuangan semua bisnisnya diserahkan ke mamah Marcell.

Jujur mengakui dia orangnya masih boros. Marcell Darwin menarget pasar anak muda. Ide sederhana kok bukan kayak coffee shop gitu. Buka warung kopi tetapi berkonsep restoran santai. Uniknya ketika ada saudara mereka harus tetap bayar. "Manajemen tetap, business is business, nggak ada yang gratis."

Warung kopi beneran kayak warung kopi. Bahkan dia membawa langsung konsep dari Jawa. Mulai dari tata ruang, aksesoris, pernak- pernik khas warung kopi. Nama bisnisnya Cafe KingXkong, dibuka di Pasar Impres, Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Bisnis Marcell tidak tergesa- gesa. Semua sudah diperhitungkan termasuk soal tempat. Strategis karena di depan kampus. Apalagi Marcell punya klub montor bisa dah nongkrong. Selain kopi ada musik yang akan menemani telinga pengunjung. Di malam khususnya, musiknya beda, bahkan ada yang bawa musik sendiri.

Kalau dibilang udah balik modal belum. Marcell sadar bahwa bisnis tidak bisa cepat. Yang penting sudah keliatan marketnya. Dia juga berjualan pernak- pernik kecil- kecilan. Marcell memang senang wirausaha jadi jalaninya enjoy. Bahkan rencana ekspansi ke luar kota itu ada. "... kita mau ekspansi," tegasnya.

Berbisnis sambil menjalankan karir akting. Marcell mendapatkan dukungan dari tim management. Tapi ia tetap tidak meninggalkan perkembangan bisnisnya sedikit pun. "Gue syuting, pabrik bakso mama jalanin. Gue lebih ke managemennya aja," tutupnya.

Senin, 19 Juni 2017

Biografi Pengusaha Mebel Jepara yang Sukses

Profil Pengusaha Furnitur Ali Sodikin



Nama kota furnitur dimana lagi kalau bukan Jepara. Banyak perajin kayu berasal dari daerah tersebut. Ialah Ali Sodikin sedikit dari banyak namanya menanjak. Anak petani ini diangkat ceritanya oleh Kontan.co.id. Orang tuanya petani tetapi lingkungan Ali di Jepara adalah para pengrajin kayu.

Akhirnya pria 37 tahun ini tertarik akan dunia mabel. Dia kemudian memutuskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk memperdalam ilmu desain. Sayangnya, karena kekurangan biaya, dia akhirnya drop- out kuliah. Lantas apa yang dilakuan Ali muda selanjutnya berikut lengkapnya.

Desainer mebel


Pulang ke Jeparang langsung memilih bekerja. Pekerjaan pertama Ali adalah membuat desain untuk rumah mabel. Gambarnya masih pakai tangan. Ternyata perasaan mau kuliah masih membara. Dia sempat mau berkuliah di Jepara saja. Namun urung dan kembali berhenti di tengah jalan.

Waktu krisis moneter banyak kena imbas. Termasuk pengusaha mebel asal Jepara. Dampaknya tempat Ali kerja bangkrut. Ali lalu lari ke Jekarta mengadu nasib. Di sana dia memasuki dunia yang sama apalagi kalau bukan dunia mebel atau furnitur.

Beda dengan pengusaha mebel Jepara. Di Jakarta, mereka tidak memakai kayu semuanya, tetapi adalah perpaduan antara triplek dan kayu. Baru ketika di Jakarta dia belajar bagaimana material mebel. Sudah memegang material sendiri, Ali nekat berbisnis sendiri di Jepara, dimana semuanya dimulai tidak sengaja.

Dia secara tidak sengaja mendapat pesanan pintu rumah. Pembeli menantang Ali memenuhi pesanan itu. Ia menanggapi serius dan pembeli itu puas. Berlanjut pembeli tersebut mulai memesan lebih banyak. Adanya keberuntungan itu ditanggapi Ali lebih serius, pesanan mulai dari furnitur isi kantor dan rumah juga.

Mulai pemesanan semakin banyak datang. Guna menggarap itu, Ali kemudian meminta pinjam alat dari kakaknya, yang kebetulan menjalankan usaha mebel di Jepara. Tetapi usaha sang kakak itu bangkrut ketika krisis datang dulu. Ali kemudian mengambil alih semua peralatan dengan uang Rp.13 juta.

Sudah punya peralatan Ali berani buka workshop sendiri dengan sewa. Sudah memiliki workshop sendiri, Ali menerima kontrak pembuatan lantai kayu dari sebuah pabrik di Solo. Dia menerima orderan yang mungkin sulit tetapi dikerjakan. Meskipun pengalaman minim tetap dikerjakan buat menggaji karyawan.

Menambah modal dilakukan Ali berbagai cara. Termasuk ikut ajakan Pemerintah Daerah untuk datang ke Pulau Seram, Maluku, guna memberikan penyuluhan anak muda agar memanfaatkan kayu. Dua bulan dia bekerja di sana kemudian balik ke Jepara.

Bisnis lanjut


Pria kelahiran Jepara, 6 Juni 1978 ini, pada 2006 silam mendapatkan perhatian dari pembeli luar negeri. Dari dia, Ali mendapatkan pesanan berupa aneka furnitur luar rumah atau outdoor. Bisnis beresiko sih, Ali mengatakan tidak ada pembayaran uang muka, sebuah bisnis beresiko sulit mekanisme pembayarannya.

Untuk menyelesaikan masalah, dia memutar otak, caranya menghubungi pemasok yakni dari pengrajin lain dibidang mebel ini. Tujuannya agar cepat menghasilkan barang. Dan, anehnya, Ali berani menggelontorkan uang lebih meski tanpa uang muka. Dia beli lebih mahal agar bisa cepat dikemas dalam 6 kontainer siap kirim.

Pembayaran selesai, sukses Ali semakin percaya diri akan bisnisnya. Dimana bisnis itu berjalan ke tahun- tahun berikutnya. Jumlah pesanan bertambah tiap tahun. Mulai 6 kontainer, menjadi 10 kontainer, lalu sampai 24 kontainer. Dalam satu periode bisa mengirim hingga 43 kontainer sejak 2009- 2010.

Meskipun dianggap orang sebagai bukti kesuksesan. Menurut Ali, menanggapi ekspor belum tentu kita katakan sukses, karena tidak ada uang muka beresiko tinggi. Apalagi pasarnya makin kompetitif banyak pemainnya. Mangkanya tuntutan keuangan kuat harus dimiliki pengusaha macam Ali.

Suami Yuni Fatciah ini mengaku, agak kurang nyaman berbisnis seperti itu. Karena tidak sedikit pengusaha bangkrut karena bisnis ekspor tersebut. Padahal untungnya tipis, kalau dilanjutkan Ali harus punya modal kuat tegasnya. Celah lain adalah memperkuat penjualan dalam negeri sambil tetap melayani ekspor mebel.

Kemudian dari segi profit, penjualan mebel indoor lebih tebal dibanding mebel garden furniture. Jadilah dia semakin gesit menggarap furnitur dalam ruangan. Model- modelnya didesain semenarik mungkin buat di mata. Caraka Creasindo menawarkan solusi produk furnitur untuk kebutuhan keluarga di ruangan.

Contoh satu paket furnitur untuk lobi hotel. Desainnya semenarik mungkin bisa agar menarik pengunjung hotel. Tidak cuma membuat meja kursi, termasuk membuat aksesoris buat menambah keindahan. Akhir 2011, dia semakin matang berbisnis furnitur indoor, dan mulai mengurangi pengiriman mebel outdoor.

Tetap berjualan outdoor termasuk pasar luar negeri. Namun, jumlahnya terbatas, agar bisa disesuaikan dengan keadaan keuangan dan kenyamanan perusahaan Caraka Creasindo. Masih menjual aneka furnitur outdoor ke Eropa, Timur Tengah dan Kanada kok.

Untuk pasar lokal makin digenjot Ali. Khususnya memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran. Dengan penargetan ini Ali yakin bisnisnya tidak akan berhenti di satu titik. Kini, dia mampu mempekerjakan 60 orang karyawan.

Minggu, 18 Juni 2017

Sejarah Andrrows Mematahkan Stigma Pria Bertato

Profil Pengusaha Faris Juniarso


 
Stigma melekat bahwa orang tatoan tidak berprestasi. Mereka yang biasanya cuma memilih kriminalitas. Dipatahkan oleh Faris Juniarso, dipatahkan sampai kecil- kecil, karena prestastinya menciptakan satu produk yang merambah pasar Malaysia, Singapura, bahkan Australia.

Pria 28 tahun ini memang ingin mematahkan stigam itu. Pengalaman susah dapat kerja juga. Bayangkan orang seperti Faris sangat disepelkan. Dipandang tidak mampu bekerja kantoran. Alhasil wirausaha jadi pilihan kebanyakan orang bertato. Namun Faris memilih bisnis diluar kebiasaan yakni bisnis cuci sepatu.

"Orang bertato itu bakalan susah dapat kerja... Mangkanya saya memilih bikin kerjaan sendiri," tuturnya kepada pewarta Merdeka.

Rintisan pertama berupa bisnis cuci sepatu. Ia merekrut anak muda bertato yang susah cari kerja. Dia juga ingin menunjukan ke masyarakat bahwa orang bertato berkarya. Sengaja dia nyari pegawai yang bertato. Perasaan dulu pernah ditentang untuk bertato oleh keluarga berasa.

Bisnis inovasi


Ia mengenang bagaimana orang tua melarang. Apalagi orang tua Faris adalah pegawai kantor urusan agama. Sejak kelas 3 SMA dia mengaku sudah punya tato. Tentu waktu itu dia masih sembunyi- sembunyi dari orang tua. Ketika kuliah ikut teater, lalu dia kenalan sama seniman- seniman bertato dan jadilah dia.

Aneka pekerjaan diterima asal tetap menjadi diri sendiri. Tentu tidak banyak pilihan pekerjaan. Sebut saja dia pernah bekerja sebagai tukang sampah, pencuci piring, dan bartender. Karena tato hidupnya susah dan harus siap kerja apapun untuk makan saja.

Wirausaha pertama Faris ialah berjualan lekker. Semuanya bermodalkan sendiri, hasil jualan apapun yang ada di badan tanpa bantuan orang tua. Kemudian dia membuka bisnis semir sepatu berlanjut jasa buat mencuci sepatu bernama Andrrows.

Andrrows merupakan nama diambil dari sahabat Faris. Keduanya sepakat bekerja sama membangun satu bisnis. Sayang dia meninggal dunia ketika bisnis cuci sepatunya belum sukses. Namanya Andrrows adalah teman bermain sejak kuliah. Keduanya hobi sepatu bersama membuat cairan pembersih sepatu sendiri.

Dia menggunakan nama sang teman. Sebagai bentuk penghargaan, biar menjadi persembahan karena dia belum merasakan suksesnya sekarang. Bayangkan nama Andrrows sekarang dikenal di luar negeri semua berkat cairan pembersih racikan mereka.

Mereka pecinta sepatu, berdua kerap pergi bersama mengisi waktu luang untuk hunting sepatu. Mereka kemudian kepikiran membuat pembersih sepatu lewat obrolan santai. Ide mereka kemudian dicoba tetapi kegagalan selalu ada.

Kegagalan kunci sukses


Awalnya mereka ingin membuat alat pembersih sneaker. Namun, kelamaan, keduanya mengembangkan buat semua macam sepatu. Semua sepatu bisa dari kain, kulit, atau jenis pantofel. Termasuk buat sepatu cewek yang aneh- aneh bahannya.

Bisnis digeluti Faris sebenarnya adalah bisnis cuci sepatu. Tetapi nama produk pembersih Andrrows jadi lebih menonjol. Tidak apa- apa toh bisnis Faris sukses. Pasarnya luas sampai menerobos batas negara besar macam Australia -yang notabennya susah dimasuki pasarnya.

Merek Andrrows diluncurkan pertama kali 1 Mei 2014. Dimana total produksi baru beberapa botol saja. Dua tahun berselang produksinya perhari meningkat jadi 2.5000 botol per- hari. Awal, untuk uji coba, ia mendekati para kolektor sepatu dan hasilnya oke.

Inovasi digayangkan Faris agar beda dengan produk pencuci luar negeri. Bahannya dibuat alami yakni dari bahan virgin coconut oil dan aroma khas Andrrows. Kebetulan kotoran di Indonesia lebih banyak jadi kita sudah tau ketahanan Andrrows terjamin.

Dalam sebulan omzet sampai Rp.100 juta karena juga diekspor, dan mempekerjaan 19 orang pegawai buat produksi. Penjualan sampai ke Malaysia, Singapura, dan Australia. Untuk proses produksi masih ada di Semarang, packingnya dan distribusi ke Yogyakarta,

"Kami pertahankan produk lokal berkualitas internasional," terangnya penuh semangat.

Ia belajar dari pembersih asal Amerika. Yang harganya Rp.300 ribuan, sudah mahal dan susah dicari, lalu dia mulai membuat produknya sendiri. Semua orang kan memakai sepatu mahal, anak SD saja sepatunya sudah mahal, tidak cuma buat orang kantoran jadi prospek bisnisnya bisa ke atas ataupun ke bawah.

Contoh Jason Markk -produk pembersih asal Amerika- bahannya coconut oil, jojoba oil, dan lainnya. Ya sayangnya memiliki kandungan bahan kimia. Maka Faris ingin produk bagus namun bebas bahan kimia. Ia bayangkan kalau alami beda lebih baik kenapa tidak.

Apalagi ya kotoran di Indonesia lebih ngeri candanya. Proses pencarian resep dari 2010 tetapi terus gagal, tahun 2013 akhirnya menemukan resep tepat, maka dilirik produk buatan mereka itu. Dari omzet Rp.40 juta sudah naik Rp.100 juta hingga membuat kantor cabang di Australia juga.

Inovasi kerja sama bisnis

Harganya Rp.150 ribu lebih murah dibanding produk impor. Dia juga membuat starter kit memudahkan buat pembeli berisi satu pembersih dan standar brush atau sikat seharga Rp.180 ribu. Sikat itu terbuat dari bulu sapi Australia. Cukup Rp.400 ribu itu saja sudah bisa membuat bisnis cuci sepatu sendiri loh.

Pemasaran produk semakin gencar. Teknik pemasaran termasuk mengajak kerja sama jasa layanan cuci sepatu. Mitra pertama mereka yakni Shoes & Care asal Yogyakarta. Ada 40 perusahaan bekerja sama dengan mereka, tersebar di Lampung, Aceh, Batam, Makassar, dan kota lainnya.

Bentuk kerja samanya perusahaan itu harus berjanji. Mereka tidak akan menggunakan bleaching ataupun pakai ditergen. Jadi 100% menggunakan produk mereka sudah. Jika kerja sama baik, kita sebagai mitra mau mengikuti SOP mereka, akan dapat potongan 15%- 20% selama memakai produk mereka.

Edukasi pasar terus dilakukan. Tetapi sekarang ini bahkan anak SMP sudah tau pentingnya merawat sepatu mereka. Bisnis cuci sepatu berkembang sejalan bisnis cairan pembersih Adrrows. Selebihnya tinggal dia melakukan promosi sosial media seperti Intagram dan Twitter @Andrrows.

Jaringan ke costumer didekatkan lewat layanan Line. Pokoknya cara marketing modern sudah dia lakukan sekarang. Hasilnya tidak mengecewakan. Target berikutnya menguasai seluruh pasar Asia. Inovasi coba dia kembangkan adalah produk pembersih sepatu berbentuk spray buat traveling.

Jumat, 16 Juni 2017

Kerja Dulu Baru Buka Usaha Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Bayu Wirawan 




Skill dipelajari seseorang ketika sekolah, belum tentu menjamin kesuksesan seseorang. Justru dari hobi kita bisa menemuka skill utama kita. Sekolah cuma mempoles teori sedangkan dari hobi bisa jadi sebuah pekerjaan nyata. Inilah kisah seorang pengusaha pemilik toko kue bernama Queen Pastry.

Sempat dia bekerja di restoran dan bakery. Justru disana, dia belajar banyak, berkat hobi memasak pula dia jadi semakin percaya diri. Ini kisah Bayu Wirawan, yang kemudian resign kerja untuk mengejar bisnis pembuatan roti. Meskipun sekala kecil dia mengerjakan dengan senang hati dibanding menjadi karyawan.

Bisnis kue


Agar dapat modal dijualnya motor pribadi. Dia tidak pernah belajar di luar negeri. Tidak pernah belajar buat membikin kue khusus. Modalnya nekat dengan uang seadanya. Total Rp.500 ribu digunakan sebagai modal bisnis. Skill terasah selain karena hobi tetapi juga karena keluar masuk perusahaan bakery.

"...benar- benar memulai dengan Bismillah," tuturnya.

Tetapi dia tidak langsung resign. Awalnya dia masih bekerja hingga bisnisnya matang. Merasa omzet sudah matang. Bayu baru memutuskan resign. Mantan karyawan Aston Hotel ini, memproduksi setelah pulang dari jam 12 malam sampai 6 pagi.

Untuk awalan dia membidik makanan umum. Sesuatu yang tidak mahal dijangkau semua golongan. Namun cita rasanya harus sekelas bakery besar. Inilah daya jual Bayu berbekal modal seminim itu. Targetnya kue- kue pasar seperti donat isi, bolen keju, seharga Rp.2000/pcs, donat keju Rp.3000/pcs.

Tidak cukup juga ada roti mini bite, roti kacang coklat, lapis Surabaya, American risoles, pastel ulir, dan akhirnya aneka wedding cake. Tidak mudah tetapi berhasil. Tiga bulan omzet terakhir Rp.100- 180 jutaan. Dia dibantu sang istri semakin menajamkan bisnisnya.

Berbisnis hanyal berbekal ijasah SMA. Tetapi lantaran karena memang hobi masak. Ia memilih untuk bisa mengembangkan skillnya. Bukan lewat kuliah, selepas SMA, Bayu memilih bekerja di sebuah toko kue saja. Sambil bekerja sambil mengasah kemampuan langsung tanpa teori melulu.

Dia keluar- masuk toko bakery dan restoran di Pontianak. Pikirannya bagaimana mengasah skill tetapi dia dibayar. Apalagi kalau sudah masuk umur 30 tahun, kan ijasah SMA saja tidak cukup. Prinsipnya di dunia kerja digeluti itu. Semakin pengalaman di dapur maka akan semakin dicari oleh perusahaan bakery bukan teori.

Jatuh bangun pemasaran pernah dilalui. Dia pernah terpuruk. Tetapi bangkit kembali membenahi sistem di dalamnya. Bayu pernah kesulitan bekerja sama dengan karyawan. Kini, dia memilih lebih aktif di dapur, hasilnya bisa dirasakan pada produksi kue miliknya.

Walaupun sudah menjamur tetapi dia yakin. Bisnis bakery bisa dia taklukan dan tetap menghasilkan omzet menjanjikan. Untuk itu inovasi selalu diberikan Queen Pastry. Termasuk salah satunya ialah ia membuka tawaran kue blackforest, vanilla cake, dan cake brownies, dengan desain pesanan kita sendiri.

Minggu, 11 Juni 2017

Rugi Bisnis Konsinyasi Tetap Berjuang Terus

Profil Pengusaha Kartika Yuswadi Soediwardojo 


 
Siapa sangka berawal keisengan menjadi bisnis serius. Kesenangan seseorang siapa sangka, seperti kisah dari Kartika Yuswadi, yang merubah kesenangan menjadi bisnis. Iseng dia menjual hasil karya kerajinan tangan miliknya. Dia memang hobi membuat aneka pernak- pernik gelang sendiri.

Nama lengkap wanita 28 tahun ini, Kartika Yuswadi Soediwardojo, hobinya mengkoleksi buku. Dimana dia memilih jurusan kuliah D3, kemudian berlanjut S1 dibidang Ekonomo Manajemen di Univesitas Islam Indonesia.

Sebelum usaha gelang dia pernah usaha lain. Bisnis kecil- kecilan membuat aneka kartu ucapan. Yang dia lalu jual kepada teman- teman kuliah. Bosan, Kartika lantas mencoba sesuatu yang baru, alasannya usaha itu dirasa tidak efesien dalam waktu. Kan dia melanjutkan kuliah tentu meskipun renggang tetapi harus efektif.

Bisnis gelang


Awal dia mempunya banyak waktu kosong, karena Kartika mengambil program ekstensi, jadi materi kuliah sudah habis di awal. Waktu kosong disempatkan membuka- buka buku bukan pelajaran. Dia mempraktekan apa di buku handycraft yakni membuat kerajinan kertas -awalanya sekali tuh.

Uang Rp.50 ribu digunakan untuk modalin awal. Uang segitu menjadi aneka kartu ucapan, atau berupa juga bookmark buku. Lantas dia titipkan ke penjual Malioboro. Ternyata, eh ternyata, jualannya laku terjual loh dan membuat dia semakin bersemangat menitipkan barangnya ke toko- toko souvenir lainnya.

"Saya nekat menitipkan hasil kerajinan tangan saya ke toko- toko tersebut," ia menerangkan. Lewat para penjual Malioboro nama Karika kokoh sebagai pengusaha muda.

Waktu itu jujur tidak diperhitungkan sama sekali. Dia tidak perhitungkan biaya produksi, biaya operasional dia keluarkan. Pokoknya dibenaknya titip dan laku terjual. Padahal dia harus membayar biaya konsinyasi besar yakni senilai 50%. 

Dia santai saja karena hal terpenting laku. Apalagi produknya belum terstandarisasi, dan ada yang belum layak jual menurutnya. Pada waktu itu dia dapat untung Rp.50 ribu bulan pertama, dengan produksi yang masih kecil segitu sudah banyak.

Potongan konsinyasi tidak dipikirkan. Yang penting dia melihat prospek bisnis tersebut. Maka wanita kelahiran 8 April 1980, mulai memproduksi kerajinan lainnya, seperti clay, peperquilling, clay tepung, knitting, sulam dan sebagainya.

Bisnis berlanjut

Ia lantas menambah modalnya. Uang Rp.1 juta hasil pinjam orang tua diglontorkan. Kartika mulai fokus untuk mengerjakan bisnis sampingan ini. Alhasil dia kini tidak lagi menganggapnya bisnis sampingan. Ia tetap fokus merampungkan kuliah kok. Dasarnya rasa penasaran mencoba apa di buku tersebut lagi dan lagi.

Pelan tetapi pasti dia belajar lewat praktik. Mencoba apa di dalam buku kembali. Dua bulan dia mengawali bisnis. Bayangkan dia mengantungi untung Rp.700.000.000. Kartika senang karena bisa merangkul lebih banyak karyawan. Sekarang dia tidak bisa menjalankan bisnis sesuka hatinya lagi.

"...sudah ada tanggungan gaji karyawan dan tagihan ini itu yang perlu saya pikirkan," tandasnya.

Semula hanya sampingan sekarang menjadi bisnis utama. Kemudian dia beri nama bisnisnya itu Semoet Ketjil dan menjadi salah satu pengusaha muda kebanggaan Indonesia.

Produk andalan Semoet Ketjil lainnya. Adalah aneka gelang lucu. Berkat ketekunan, dia mampu tidak lagi berkonyasi, tetapi kerja sama saling untung dengan beberapa toko. Bahkan Semoet Ketjil sendiri yang ditawari kerja sama. Kartika sendiri tidak terobsesi dengan keuntungan bakal diraubnya nanti.

Kualitas baginya menjadi nomor satu. Hal desain berbeda membuat produknya gampang disukai. Saat ini dia berproduksi 1000- 1500 buah, seharga antara Rp.15 ribu- 500 ribu. Karena bisnis dijalankan berdasar passion jadi terlihat santai.

Dia sendiri tidak memiliki rahasia khusu sukses. Sarana promosi juga umum seperti sosial media. Tetapi dia menekankan selalu berinovasi. Bagi pemula, ingatlah untuk mengamati potensi sekitarnya dulu, jadi tidak tergesa- gesa berbisnis. Memang bisnis butuh perhitungan sebelum meluncurkan produk kamu.

Contoh, kan dia tinggal di kawasan wisata, jadi dia lihat apa yang potensi dari daerah Yogyakarta itu, maka jadilah bisnis aneka aksesoris miliknya.

Sabtu, 10 Juni 2017

Penjual Prabotan Akar Kayu Jati Nur Ali

Profil Pengusaha Nur Ali




Namanya pengusaha pasti pernah gagal. Begitu juga Nur Ali, rejeki justru datang ketika dia iseng belaka. Kok malah menjadi bisnis menjanjikan kedepan. Pria yang dulu pernah berbisnis ayam potong ini. Gagal. kemudian iseng menaruh akar jati erosi di depan rumah.

Bisnis akar jati dimulainya lima belas tahun silam. Awalnya dia menirukan mencari akar jati, tapi bukan dijadikan kayu bakar seperti tetanggnya, dia taruh di depan rumah buat hiasan. "Siapa tau ada yang berminat (iseng)," kenang Ali.

"Saya menunggu beberapa hari, tak ada yang menawar," ucapnya. Akhirnya ada orang iseng membeli kayu jati itu. Uang Rp.65.000 masuk kantong buat akar kayu jati. Dia sempat diejek tetangga. Akar kayu yang item kusam tersebut dijual- jual, ngapain?

Niatnya berbisnis bukan mencuri. Ali cuek ketika mendengar cemooh tetangga. Mantan buruh tani, itu loh orang yang disuruh mengerjakan sawah orang lain, ini memang memiliki mental pengusaha karena sudah terbiasa gagal. Lambat laun dia menemukan akar jati tersebut bisa dipoles bukan sekedar glondongan saja.

Jujur akarnya itu keras, susah dibentuk, jadi baiknya dibiarkan begitu saja. Natural memang akar kayu itu sudah terlihat indah. Cukup dibersihkan dan diperhalus saja. Bentuknya sudah bagus, kalau beruntung dia dapat yang berbentuk hewan. Harganya lumayan dibanding bentuk biasa dipajang di depan rumahnya.

Cara mendapatkan akar kayu jati erosi, Ali datang ke tengah hutang, seizin PT. Perhutani sebagai pihak yang bertanggung jawa. Ali akan berjalan masuk hutan kawasan antara Ngawi, Madiun. Jarak dari rumahnya sekitar 100km dari rumah. Tahun ke tahun, bisnis Nur Ali makin bagus, tidak lagi bentuk standar biasa.

Ali menjual buat kursi, meja, bentuk jamur, dan aneka souvenir. Tapi benda itu masih setengah jadi yang mana dijualnya dari Rp.50 ribu sampai Rp.5 juta untuk ukuran besar. Harga akar jati erosi yang besar memang harganya lumayan yakni Rp.750 ribu sampai Rp.5 juta, untuk meja besar Rp1- 1,5 juta, kursi Rp.250- 500 ribu.

Souvenir dijual terjangkau yakni Rp.50 ribu, dimana tiap bulan dia memproduksi 1.000 buah souvenir ke berbagai daerah. "Kalau bentuk bagus, karakternya bagus, ada daya seninya, saya jual Rp.5 juta," ia lalu menambahkan. Selain dia, kini, tetangga Ali ikutan berbisnis sama bahkan membentuk paguyuban akar jati.

Untuk sementara ini, orang desan Ali menjual bentuk setengah jadi, tentu kalau bentuk jadi akan jauh lebih mahal harganya. Meskipun begitu perputaran uang bisnis ini ternyata sampai miliaran.

Senin, 05 Juni 2017

Bisnis Sepatu Kulit Mahasiswa Keterusan Suksesnya

Profil Pengusaha Jangkar Sri Kusumo Wibowo 



Kekuatan pengusaha muda satu ini adalah keberanian. Prinsip dipegangnya usaha dulu, tidak ada kata buat keraguan. Meskipun ada masalah, Jangkar Sri Kusumo Wibowo tetap usaha meskipun kegagalan pasti membayangi langkahnya. Dia tidak pernah takut berwirausaha.

"Bagi saya, yang penting action dulu. Saya tak mau ragu- ragu," paparnya.

Bisnis dicoba Jangkar adalah memproduksi sepatu kulit. Prospek bisnis ini nampak jelas. Kita tau bahwa sepatu sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Dilihar dari segi kegunaan, fashion, serta estetika maka sepatu tengah digilai anak muda.

Bahkan pria jaman sekarang rela. Mereka rela merogoh kocek untuk mengkoleksi sepatu. Sebuah hal yang tidak kita temui ketika dulu. Inilah coba diraih oleh industri sepatu lokal. Bagaimana caranya pengusaha muda seperti Jangkar mengambil celah kebutuhan anak muda -yang tergeneralis oleh perusahaan besar.

Perubahan trend tidak diikuti oleh perusahaan sepatu besar. Sementara mereka sibuk menebak pasar yang terlalu luas. Pasar lokal menjadi perhatian khusus Jangkar. Apalagi sebagai anak muda tentu dia lebih tau kesuksaan anak muda kita sendiri.

Pengusaha lokal jaya


Prospek cukup tinggi dilihat Jangkar. Pemuda 23 tahun ini ternyata mampu meraup untung jutaan rupiah. Ia mengaku tumbuh ide karena hobi. Dia memang hobi beli sepatu tipe leather footwear atau sepatu kulit. Ia tidak peduli mereknya. Sepatu lokal banyak dimiliki Jangkar tidak pilih- pilih merek.

Pembuatan sendiri mulai digeluti April 2012 silam. Awalan dia mensurvei pasar dulu, tidak langsung saja membuat produk. Dia mensurvei jenis apa yang cocok buat anak muda. Mencari tau sepatu macam apa yang dia sukai bukan cuma mengandalkan selera pribadi.

Dia kepikiran kesukaanya akan sepatu kulit. Lalu dia langsung aksi tidak pakai pikir lama. Mahasiswa dari Universitas Airlangga ini, langsung mencari siapa bisa bikin. Uang digelontorkan Jangkar ada Rp.8 jutaan dan jadi 32 pasang.

Per- pasangnya dia jual Rp.450 ribu sampai Rp.425 ribu. Dalam waktu dua bulan habis sudah barang dia buat. Omzetnya kemudian digunakan untuk membeli bahan baku kembali. Hasil produksi dan penjualnya mencapai untung Rp.15 juta. Dia sangat senang dan bangga karena merupakan bisnis pertamanya.

Kan jarang nih, apalagi mahasiswa, menghasilkan uang sendiri murni dari berbisnis bukan jadi karyawan tengah waktu. Sudah 10 bulan dilakui diakui masalah tetap ada. Meskipun langsung untung, Jangkar akui ada saja masalah berdatangan, berwirausaha memang tidak mudah teman.

Prinsip Jangkar pasti ada celah dibalik setiap kesulitan. Dia tinggal memikirkan dimana letak celah itu. Ia memastikan kita tidak boleh berhenti mencari jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dia menyebutkan beberapa masalah dihadapi. Pokoknya tanamkan dibenak kita harus selalu semangat usaha.

Masalah seperti produksi yang molor, ngaret, dari deadline yang dia berikan ke pihak produksi. Atau yang ngaret pengiriman bahan baku ke tempatnya. "...itu saja yang bikin sebel," curhatnya.

Mengusung nama Zappier dia mencoba mereguk pasar anak muda. Modelnya mengusung modal kuno, ia menyebutkan model broques, modelnya Inggris kuno. Kan biasanya anak muda suka sporti dan kasual. Dia mencoba menawarkan gaya vintage yang berbeda.

Modelnya elegan jadi tidak keliatan jadul. Cocok buat anak muda menurutnya. Alhasil usaha yang dimulai sejak 2017 itu. Akhirnya meraup perhatian anak muda Indonesia. Pelanggan datang merupakan anak muda berbagai profesi.

Omzetnya mencapai Rp.15 Juta per- bulan dimana terjual rata- rata 32 pasang, terjual offline ataupun online. Produknya masuk toko- toko baik di Surabaya, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Dia menggunakan kulit domba asli awet 4 tahun lebih. Hingga nama Zippier diminati para artis musik indie.

Para artis tersebut bahkan membawa brandnya ke luar negeri, sebut saja Endah n Rhesa, Sore Band, Rock n Roll Mafia. Memang berbisnis ini tidak bisa langsung dihargai seperti sekarang. Pasang surut sudah dia temui. Semua masalahnya menurut Jangkar merupakan proses pendewasaan berwirausaha teman.

Bisnis Jangkar juga mulai berkembang tidak cuma pada sepatu, ada produk dompet, belt, gantungan kunci, slingbag, dan beberapa aksesoris berbahan kulit lainnya.

Sabtu, 03 Juni 2017

Mencari Kemasan Rendang Terbaik Uni Farah

Profil Pengusaha Retno Andam Sari 


 
Namanya Retno Andam Sari, sedikit dari banyak pengusaha rendang kemasan sukses. Ceritanya berbeda dan wajib kita simak bagaimana dia menangani persaingan. Semua bermula ketika, di 2004 silam, dimana dia mulai mencari ide bisnis.

Dari ide bisnis apa bisa dijadikan hantaran. Makanan apa yang khas Padang, yang bisa dijadikan hantaran buat pernikahan. Maka dia berpikir tentang rendang dalam kemasan. Dia kemudian menamai usaha rendang itu Uni Farah. Naman yang berdasarkan nama putrinya sendiri dan memulai usahanya.

Berawal rendang dikemas dalam toples. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia mencoba. Retno memang ingin menciptakan alternatif. Tujuannya agar berbedang dengan rendang lain. Lalu dia tawarkan sebagai hantaran Lebaran.

Sesuatu yang nyeleneh atau unik tidak langsung sukses. Ia bercerita bagaimana pandangan sinis orang ke dia. Beberapa melihat keunikan dan melihat rendang dalam toples masuk akal. Mereka inilah peminat rendang Uni Farah. Lambat laun orang banyak semakin meminati rendang tersebut karena memang enak.

Pengemasan produk


Sukses rendang dalam toples, Retno belum merasa nyaman dengan jualannya. Ia berpikir bagaimana agar jualannya lebih mantap. Bagaimana agar kemasan lebih aman terutama ketahanannya. Bagaimana agar juga nyaman dikirim dan dibawa ke mana- mana.

Maka dia berpikir tentang rendang divakum. Rendang kemasan vakum lebih aman, menjadi lebih bersih, jadi lebih praktis, lebih lama disimpan. Kalau kamu simpan di freezer bisa tahan sampai 6 bulan. Kalau disimpan di chiller rendang bisa tahan 3 bulan. Di suhu ruangan bertahan sampai 2- 3 minggu.

Ibu dua anak ini semakin mantap menjajakan rendang kemasannya. Seperti kata penulis sebelumnya ada saja yang nyinyir melihat rendang kemasan Retno. Mereka merasa gak penting dikemas seperti ini. Ya karena mereka bisa menemukan rendang dimana- mana.

Rendang kemasan belum dianggap penting. Butuh waktu buat mengenalkan produk rendang kemasan itu, ya kesabaran sebagai pengusaha diuji, banyaknya rumah makan padang dianggap masyarakat tidak perlu ada rendang dikemas.

Masyarakat lantas mulai menyadari keberadaan produk Retno. Mereka mulai memesan untuk keperluan traveling -seperti membeli buat dibawa oleh orang yang berangkat haji. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah atas. Mereka dianggap lebih sadar akan kepraktisan rendang dikemas vakum miliknya.

Mereka yang suka kepraktisan buat dibawa dan disimpan. Pikiran Retno mengarah ke populernya nuget dan sosis dalam kemasan. Kenapa produk lokal seperti milik kita tidak bisa. Meski kemasan sudah sangat modern ternyata dia tetap tradisional.

Pembuatan rendang buatanya masih pakai tungku kayu bakar. Agar menjaga kualitas rasa masakan Sumatra Barat katanya. Uang 3 juta dibelikan mesin vakum cuma satu, dan bahan baku daging dan bumbu. Lalu dibuat menjadi rendang aneka rasa. Ia ciptakan rendang suwir, rendang paru, rendang ayam, dan udang.

Harganya variasi mulai Rp.28 ribu sampai Rp.450 ribu. Ukuran mulai 100 gram sampai 1 kilogram. Sarjana desain grafis Universitas Trisakti ini. Juga tidak tinggal diam melihat minyak rendang yang jatuh menetes. Ia terinspirasi akan minyak zaitun dan minyak cabai yang dikenal masyarakat.

Apa guna minyak rendang tersebut. Bisa digunakan menambah cita rasa rendang. Atau bisa kamu gunakan untuk memasak nasi goreng atau bahkan pasta. Biar rasa rendang tersebut mengalir menjadi penyedap rasa ke masakan kamu. Minyak tersebut didapat dari hasil tirisan rendang yang sudah jadi.

"Minyak rendang ini menjadi penambah aroma masakan," tuturnya. Per- botol 250cc dibandrol Rp.50 ribu. Ia mengatakan hasil untunga dari keseluruhan mencapai 15- 20 persen.

Kamis, 01 Juni 2017

Sepatu Desle Sepatu Sekolah Hingga Trendi

Profil Pengusaha Sukses Haryamto 


 
Meskipun serbuan sepatu luar begitu kuat. Namun siapa sangka, diantara kita masih ada produk lokal yang sukses bertahan. Ternyata masyarakat sudah mulai sadar untuk menggunakan produk lokal. Ada sepatu buat anak sekolah, sepatu olahraga, dan kantoran, mereknya Desle merupakan produksi pengusaha asal Yogya.

Pengusaha asal Yogyakarta itu bernama Desle. Berdiri sejak lama sekitar tujuh tahun lalu. Pria bernama Haryamto mengaku dulu sukar. Bayangkan, waktu itu, dia bersaing dengan produk impor yang kata orang lebih baik. Pemikiran bahwa produk lokal jelek dan tidak tahan lama begitu menggema kala itu.

Padahal kalian tau, meskipun mereknya luar negeri, ternyata pembuatannya dilakukan oleh pabrik tetangga Haryamto sendiri. Alasan tahan lama, modis lah, seolah membenarkan gengsi orang waktu itu untuk beli produk asing.

Selama itu dia bersama pengusaha lokal lain gencar. Mengkampanye bahwa produk dalam negeri juga bisa sangat berkualitas. Perlahan tetapi pasti marketing Haryamto membuahkan hasil. Kampanye untuk cinta produk dalam negeri membantu bisnis Desle.

Strategi marketing


Dia menggunakan diskon besar- besaran. Sampai memberikan garansi uang kembali kepada masyarakat. Ia meyakinkan kualitas produknya. Menjadi produk lokal asli Yogyakarta, dia diberi kesempatan ikut acara khas seperti Yogya Night Run. Di kesempatan itulah dia membangun brand bisnisnya, lewat acara tersebut nanti.

Ia memberikan hadiah bagi siswa berprestasi. Dengan cara tersebut dia mencoba mendongkrak penjualan produk dan berhasil. Dengan marketing tersebut ternyata mampu menarik lebih banyak pembeli. Utama dari pelajar Indonesia mulai melirik produk lokal, yang lebih murah tetapi kualitasnya sama dengan asing.

"...kualitasnya tidak kalah dari sepatu impor," paparnya.

Sepatu impor lanjutnya, ternyata, kebanyakan dijual disini merupakan buatan orang kita sendiri. Kan sama saja yang membuat orang kita sendiri. Yang penting ada kecintaan akan produk dalam negeri. Sisanya kita sendiri ternyata yang membuat kualitas dengan brand milik orang asing.

Nama Desel berarti "Depok- Sleman" atau Desainya Orang Lodok imbuhnya. Dia mengatakan sudah bisa berproduksi lebih 20 ribu pasang sepatu. Ia mampu meningkatkan penjualan saban bulan. Target pasarnya adalah Indonesia Timur. Menurutnya di sana resiko bisnisnya cukup kecil karena bebas bencana.

Kalau di Jawa, nama Desle memiliki pasar kok, pangsa pasarnya terutama di kota- kota besar. Di Jawa kita bisa melihat outlet- outlet sepatu Desle, contohnya di Kebumen, Pati, dan Kabupaten lainnya di Jawa. Lewat sistem CSR ke sekolah- sekolah. Tujuannya mendongkrak penjualan di outlet mereka sendiri.

Ajang seperti Desle School Wefie, menjadi ujung marketing mereka di daerah- daerah. Efektif promosi ke outlet lokal mereka. Sejak dini Desle fokus mengajarkan anak buat mencintai produk dalam negeri. Salut buat perjuangan pengusaha kita yang satu ini.

Artikel Terbaru Kami