Pengusaha Paling Dibenci Amerika Martin Shkreli

"Saya selalu ingin memulai perusahaan publik dan membuat banyak sekali uang," satu quote Shkreli.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Jumat, 24 Februari 2017

Manisan Carica Enak Sukses Al- Fath

Profil Pengusaha Mudhofi 


 
Mencari sumber penghasilan sendiri. Mudhofi, guru mengaji, melihat pencerahan dibalik kekayaan alam Dieng. Buah carica ternyata memberikan peluang usaha. Menghasilkan rupiah lewat para pelancong yang datang ke sana. Dia tidak sendiri tetapi bersama membangun ekonomi daerah tempat tinggalnya.

Peluang bisnis manisan cerica tidak disia- siakan. Buah yang mirip pepaya bentuknya, tetapi manis rasanya ini, memang memiliki cita rasa khas tidak ada pada buah lain. Kesempatan tersebut diambil guru mengaji Pesantren Alfattah, Desa Petak Banteng, Kec. Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Bersama pengurus anggota pesantren lainnya, dibantu oleh warga desa, lantas membentuk koperasi untuk mendukung para petani buah carica. Diolah diproduksi menjadi aneka manisan buah carica. Manisan itu kemudian dikirim ke berbagai Kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Perjalanan bisnis tidak selamanya lancar. Pernah berhenti produksi, karena arus keungangan yang keteter karena terseret ke pihak agen. Mereka para agen penjual telat bayar, bahkan banyak yang tidak bayar dari penjualan manisan Al- Fath. Kejadian tersebut tahun 2014, kemudian dia tangani dan berjalan akhir tahun.

Produksi setiap hari mencapai 60kg buah carica. Itu dibuat bermacam manisan dengan aneka rasa. Satu pengalaman pelatihan magang sebuah UMKM di Jakarta. Mudhofi mengkreasikan aneka rasa, dari lemon, terong belanda, sampai original.

Manisan dijual Rp.20.000 berisi 6 cup, dan Rp.35.000 berisi 12 cup. Satu cup iru isinya 115 gram buah carica, proses produksi oleh 20 orang santri Pesantren sendiri. Omzetnya kata Mudhofi masih kecil, yakni Rp.30 juta, dimana uang untungnya buat Yayasan Pesantren yang mengandalkan pemasukan warung.

Sekarang ada carica, lumayan menambah pendapatan kas Pesantren ujarnya. Pesanan makin tinggi dimana dari Semarang, ambil contoh, ia mengirim sampai 300 dus. Jualan juga melalui sistem online tetapi ya belum efektif lebih mengandalkan keagenan.

Kamis, 23 Februari 2017

Membuat Cemilan Enak Dijadikan Usaha Widayati

Profil Pengusaha Sampingan


 
Tidak disangka usaha sampingan tersebut berbuah sukses. Berawal iseng menemukan resep- resep camilan ringan. Widayati kemudian mulai membuat usaha sendiri. Bisnis tersebut dirintis sejak dia tinggal di Pontianak, Kalimantan, pada 2008 silam.

Jujur Wida tidak bisa memasak loh. Keinginan memulai usaha membuat dia belajar. Berbekal resep dari koran dimulai lah jarinya bekerja. Ada resep kue carang berbahan ubi. Ia coba buat dan berhasil. Lalu dia tawarkan ke Megamall Pontianak yang belum seramai sekarang.

Dia titipkan ke warung- warung, kemudian toko jajanan dan oleh- oleh. Hasilnya positif, orang suka akan hasil olahan Widayati. Melihat potensi besar dia mulai mengejar bisnis tersebut. Dibantu sang suami, mereka mencoba memproduksi lebih banyak dan lebih variatif membuat camilan.

Bermodal uang Rp.50 ribu, kini, dia mampu mempekerjakan lima orang karyawan. Dimana nanti produk camilan buatanya ke berbagai daerah termasuk ke Jakarta. Produk racikan Widayati memang sedap cocok dilidah siapa saja.

Dulu mereka sempat minder akan usaha mereka. Masih ada rasa ketakutan kalau mau meminta pinjaman ke Bank. Terutama sang suami, yang melarang Wida mengambil pinjaman ke pihak Bank. Hingga bisnis mereka mulai stabil, akhirnya suami Wida mengijinkan untuk mengambil KUR karena bunganya kecil.

Mengambil pinjaman mendapatkan binaan. Bisnis Wida lalu masuk dalam naungan mitra binaan PT. Bank Negara Indonesia Tbk, dengan cuma berbisnis camilan omzet dicapai Wida sampai Rp.50 jutaan. Untuk pemasaran lebih memasarkan lewat marketing digital.

Untuk sekarang, pengusaha wanita ini, ingin menambah produksi lewat ikut program Rumah Kreatif Badan Usaha Milik Negara (RKB) Pontianak. Percuma kan kalau marketing Wida bagus, dapat buat memenuhi permintaan

Selasa, 21 Februari 2017

Macam Camilan Minang Bisnis Mengenyangkan

Profil Pengusaha Mimi Sivia 




Sambil kuliah tidak ada salahnya membuka usaha. Sambil kuliah S- 2, Mimi Silvia, menemukan ide buat bisnis makanan ringan Minang. Eh, ternyata, menjadi usaha menjanjikan buat masa depan Mimi. Camilan khas Batusangkar, Sumatra Barat, dikemas modern oleh mahasiswi S-2 Universitas Indonesia ini.

Keinginan membuka usaha ditengah kuliah lagi. Tepatnya pertengahan 2016, ada perasaan ingin membuat satu usaha melihat kelebihan daerah asal. Di Batusangkar, memiliki kelebihan oleh- oleh khas, dan tidak cuma rendang.

Inilah alasa Mimi menggeluti usaha sekarang. Dia ingin mengangkat lebih dibalik kuliner Minang. Disisi lain nama kuliner Minang sedang ngetrend. Mampu mendorong Mimi untuk berbuat lebih. Langsung dari ide bisnis tersebut pilihan promosi jatuh pada bisnis jualan online.

"Kepikiran saja jual oleh- oleh khas Minang online," paparnya. Didukung koneksi banyak, dari karyawan swasta hingga mahasiswa, di Jakarta sampai Depok. Beda dengan pengusaha pada umumnya. Mimi lebih memilih memesan langsung ke Batusangkar.

Melalui usaha dia berharap memberi lebih ke Batusangkar. Minimal mendukung, mempromosikan kuliner khas daerah, serta memberikan peluang usaha kepada masyarakat. Ia menjamin produk dijual adalah hasil olahan keluarga Mimi asal Batusangkar.

"Kasihan pasar tradisional di sini pedagangnya suka ngeluh," terangnya kepada Detik.com

Aneka produk mulai ikan bilih sambal hijau- merah, serundeng kentang atau talas, rendang telur, rendang daging, rendang belut, rendang kerang, dan banyak lagi. Pokoknya semua kuliner khas Minang, asal daerah Batusangkar, dikemas Mimi kemudian dijajakan.

Kemudian dikemas menarik dengan nama O- NE (dibaca o ne) atau dalam bahasa Minang artinya "Uni", yang mana merupakan sebutan buat perempuan Pariaman. Dikemas higenis, modern, serta memiliki warna menarik perhatian pembeli. Pembuatan juga menunggu pemesanan, jadi produk baru dikirima langsung.

Bumbu tanpa bahan pengawet, umur produk mampu bertahan 1- 3 bulan. Pemasaran lewat Instagram, lalu Facebook, dan Path Pribadi. Awal dia menghubungi teman- teman buat pemasaran, koneksi semua dia hubungi, dan jualannya lewat WhatsApp.

Pengenalan awal lewat broadcast WA, lumayan kan, Mimi punya 2000 koneksi di sosial media tersebut. Ia mengatakan sementara pembeli kebanyakan Jakarta dan Bandung. Kemudian pembeli memborong dan membawanya ke Belanda, Australia, Inggris, dibeli teman- teman atau kenalan yang tengah kuliah di luar negeri.

Pasar mulai anak SMA, mahasiswa, sampai pegawai kantoran. Kemudian ada dosen yang menawarkan diri menjadi reseller. Produk Mimi juga digaet oleh pemerintah daerah, dipromosikan jadi salah satu UKM terbaik daerah. Omzet puluhan juta, dimana modal tidak mau setengah- setangah yakni sampai Rp.10 juta.

Paling mahal menurut Mimi, ada di bahan baku produk, soal kemasan serta hal- hal teknis cuma beberapa juta. Memang produk Mimi dijual lumayan yakni Rp.200- 280 ribu buat aneka rendnag, ikan bilih sekitar Rp.220 ribu- 250 ribu, rendang telur dan serundeng Rp.15- Rp.40 ribu -tergantung ukuran kemasan dibeli.

Penjualan sudah mencapai kisaran 400- 500 bungkus perbulan. Dengan aneka produk pilihan, Mimi bisa meraup lebih banyak pasar, dimana produk andalan ikan bilih dan rendang. Fokus ke depan, Mimi ingin kebih banyak menggaet reseller, dan membawa terbang produknya ke luar negeri terutama Malaysia.

"Selain itu bakal launching web oneminang.com," tutupnya.

Jumat, 17 Februari 2017

Bihun Jagung Teddy Tjokrosaputra Batik Keris

Profil Pengusaha Teddy Tjokrosaputro 


 
Nama Teddy Tjokrosaputro harusnya akrab dengan bisnis batik. Tetapi bukannya memilih menjadi juragan batik, Teddy lebih memilih memasak mie. Bukan sembarangan mie tetapi mie bihun jagung. Dia lah sang direktur PT. Subafood Pangan Jaya, dimana kakek dan neneknya dikenal sebagai pengusaha pemilik Batik Keris.

Menjadi generasi ketiga tetapi tidak memilih mewarisi. Generasi ketiga bisnis Batik Keris, justru lebih menikmati membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Tidak memilih berbisnis tekstil malah memilih ke bisnis pangan.

Apa sih bisnis PT. Subafood Pangan Jaya, menjadi pelopor bisnis bihun jagung, adalah satu pencapaian terbesar bisnis mereka. "Produk bihun jagung merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia," Teddy semangat. Pelopor bisnis bihun jagung ini tengah menaikan kapasitas bisnisnya terus.

Kapasitas produksi selalu naik 100 persen setiap tahun. Dimana kapasitas mereka mencapai 1.200 ton tiap bulannya atau sekitar 14.400 ton per- tahun. Adapun market sharenya mencapai 20 persen. Dia sebut harga eceran tertinggi Rp.11.000 per- kilogram. Bihun jagungnya mampu menembus pasar dan diminati.

Bisnis kebutuhan pokok


Teddy bermula bisnis properti bukan makanan. Selepas lulus University of Southern California, Los Angles, Amerika Serikat, pada 1995, ia memilih pulang ke Indonesia kemudian membantu orang tua buat mengurus bisnis keluarga dibidang properti. Melalui perusahaan keluarga belajar mengenai apa itu bisnis langsung.

Dia belajar bisnis lewat properti selama dua- tiga tahunan. Suami dari Shelly Verywan ini, mengenang pada 1997- 1998, perusahaan keluarga terpukul karena krisis moneter. Hampir semua bisnis keluarganya gulung tikar, termauk properti. Walaupun begitu, Teddy tidak menyerah buat berbisnis properti.

Untuk menjalankan bisnis properti setelah krismon. Teddy membuka usaha sendiri dibawah bendera PT. Andalan Propertindo, dimana dia menggarap proyek trade center Solo, Jawa Tengah. Isinya trade center tersebut rata- rata pengusaha batik.

Bapak dua anak, tidak merasa puas akan perjalanan bisnis properti miliknya. Pada 2004, dia merambah ke bisnis makanan lewat PT. Subafood Pangan Jaya. Pilihan usaha dijatuhkan kepada bisnis pengolahan bahan baku jagung. Pilihan jagung karena merupakan bahan pokok kedua terbesar setelah beras di Indonesia.

Pemikiran Teddy lainnya adalah jagung dapat diolah aneka produk. Dua kelebihan tersebut kemudian dia coba olah. Melalui membentuk tim mencari tau olahan cocok buat masyarakat. Ide kemudian membuat mie berbahan jagung. Bihun jagung memudahkan penyerapan produk ke masyarakat karena kedekatannya.

Setahun penuh, Teddy meneliti, bagaimana agar bihun jagung benar terserap ke masyarakat. Kemudian dia mendirikan pabrik bihun jagung di daerah Tangerang, Banten, pada Juni 2005. Di tahun 2006, Subafood mulai memproduksi sekitar 100 ton per- bulan. "Tidak semulus dibayangkan," dia menjelaskan.

Butuh waktu buat mengedukasi masyarakat, dan pada umumnya orang cuma tau bihun ya terbuat dari bahan beras. Inilah tantangan Subafood mangkanya kapasitas produksi tidak langsung besar. Proses dijalani oleh Teddy menjadi semacam sekolahan baru berbisnis. "Harga jualnya tidak mungkin tinggi (dibanding dari beras."

Kendala datang juga karena stok pengiriman bahan baku. Tidak selalu mencukupi produksi padahal jumlah produksi masih relatif. Perjalanan Teddy membawanya mengatasi semua masalah. Butuh waktu dan proses tetapi dia menikmati hal tersebut, hingga aneka inovasi dikembangkan oleh Subafood dengan produk itu.

Sebut saja bihun jagung instan anaka rasa, kemudian merambah sorgum, mie kering, dan makaroni juga. Ia kemudian menyasar produksi lain. Tidak cuma jagung, juga memproduksi trasi dan merica bubuk. Jika awalnya cuma ada 2 produsen bihun jagung, sekarang sudah ada 23 produsen bihun jagung mengekor.

Teddy tidak mau tinggal diam. Langkah berikutnya adalah melakukan ekspansi. Salah satunya, mengirim aneka olahan jagung ke pasar luar negeri, ke Belanda, Malaysia, hingga ke Brunei Darusalam.

Kamis, 16 Februari 2017

Tips Broker Waralaba Bisnis Kesempatan

Profil Pengusaha Sidik Rizal 


 
Pesatnya bisnis waralaba membuka prospek lain. Diantara geliat para pengusaha baru, bermunculan sosok yang berbisnis diluar dugaan. Orang banyak mengenal broker properti. Tetapi nama broker waralaba mulai naik ke permukaan. Segelintir orang sukses menapaki bisnis ini, justru menjadi peluang menggiurkan.

Mereka memasarkan berbagai skema bisnis. Dari waralaba sudah siap dijalankan, atau sekedar berupa satu business opportunity, salah satunya broker bernama Sidik Rizal. Ia sudah mulai berbisnis sejak 2008. Ia meloncat pekerjaan. Bermula desain grafis perusahaan periklanan, dia mendadak menawarkan waralaba.

Ia tidak suka menjadi karyawan. Mangkanya mau berbisnis tetapi apa, karena keahlian utama Sidik ialah membuat desain, termasuk membuat desain website inilah prospek. Dia ingat membuat banyak website buat klien pengusaha waralaba. Bahkan Sidik sendiri sempat ditawari menjadi mitra mereka juga.

Sejak itulah, ide cemerlang justru ketika dia mempromosikan ke orang lain. Gimana sih mempromosikan bisnis waralaba ke orang lain. Untuk itulah website dibuat Sidik. Agar mendapatkan lebih banyak jaringan waralaba. Dia tidak jarang turun gunung mencari klien ke Bekasi, Jawa Barat, mencari waralaba prospek.

Tidak jarang bisnis mereka bukan waralaba. Si pengusaha lantas diajak Sidik menjadi waralaba. Melalui skema ditawarkan Sidik diharapkan perubahan drastis. Sidik lantas memoles bisnisnya agar tampak lebih menarik di mata klien.

Broker penting


Banyak hal dilakukan agar menaikan citra klien. Salah satunya, yakni mengembangkan standar oprasional dari usaha dijalankan. Bagaimana mengubah manajemen usaha. Fungsi utama broker menurut Sidik ialah ia termasuk membantu menyediakan karyawan berkualitas.

Ia juga memberikan konsep desain interior buat calon klien.

Tips buat kamu calon broker waralaba pemula: Gunakan berbagai media pemasaran tidak cuma elektronik, juga lewat media internet juga cetak. Butuh waktu satu bulan sampai tujug bulan, buat kamu merubah satu bisnis biasa menjadi bisnis waralaba.

Upah bisnis broker waralaba memang bervariasi. Tergantung konsep diminta pelanggan nanti, buat bisnis waralaba berupa booth, maka Sidik memasang tarif Rp.5 juta- Rp.15 jutaan. Waralaba kelas pertengahan bisa mencapai puluhan juta loh. Dan jika pewaralaba sekelas restoran bisa dihargai sampai ratusana juta.

"Kelas restoran... biaya paling mahal sampai Rp.500 juta per- paket," ujarnya.

Setiap investor bergabung menjadi klien Sidik. Lanjutnya, ia akan mendapatkan komisi 5%- 10% paket investasi. Klien pertama Sidik adalah Pecel Lele Lela, dari sana, dia semakin akrab akan bisnis bermodel waralaba ini. Hasilnya omzet dikantongi Sidik setiap bulan mencapai Rp.100 juta.

Mau contoh broker waralaba lainnya. Sebut saja Mulyadi Handojo, Komisaris PT. Mahir Food asal Kota Jakarta, dimana meskipun baru sudah punya banyak klien. Ia menggaet PT. Best Waralaba, broker waralaba lainnya untuk meningkatkan performa.

Klien mereka seperti Jupe Fried Chicken, Rocket Fried Chicken, dan Tokyo Bento. Klien Mahir Food bisa dibilang kelas artis. Nama besar komisaris sendiri agaknya menaikan potensi. Selain itu polesan bisnis mereka juga sangat profesional, bahkan mereka menawarkan dibuatkan bisnis sendiri ke artis.

Kesepatakan penanaman modal serta penggunaan nama. Brand akan dibentuk lewat nama si artis sendiri agar menaikan pamor. Sudah dibuatkan usaha waralaba, juga dibuatkan PT atau CV dibawah nama mereka sendiri. Ambil contoh artis sekaligus presenter Chantal Della Concetta dimana membuka bisnis steak.

Rabu, 15 Februari 2017

Mantan Pegawai Astra Sukses Berbisnis Onderdil

Profil Pengusaha Stanly Erungan 


 
Usaha memang butuh perjuangan keras. Stanly Erungan, 40 tahun, membuktikan kerja keras selama ini dia kejar berhasil. Kalau anak petani saja sukses, kenapa kamu tidak bisa mengikuti jejaknya. Alkisah inilah kisah pengusaha mobil sukses meraup omzet miliaran rupiah.

Berawal dari karirnya di perusahaan besar Group Astra. Tekad menjadi pengusaha lantas muncul. Lulusan jurusan komputer, Universitas Padjajaran, mengambil jurusan bidang informasi teknologi. Bekerja cukup lama sejak lulus kuliah pada 1996. Lama bekerja di sana, Stanly menduduki pososi penting dalam struktur perusahaan.

"...pada usia menjelang 40 tahun harus memiliki usaha sendiri," tantangnya, target itulah kenapa Stanly bisa melepaskan pekerjaan penting di Astra.

Keluar Astra tahun 2011 silam, ayah dua anak ini sudah dikenal dekat dunia otomotif, juga telah memilik banyak jaringan kuat disana. Untung berkat Astra, Stanly paham runutan proses pemasokan oli ke sejumlah pengusaha truk, bus, dan kendaraan lain.

Banyak kenalan, suami dari Maria Natalia ini, kemudian fokus berbisnis sendiri. Bermodal jaringan yang kuat pada 2008, dia keluar dari pekerjaan dan mulai berbisnis dengan perusahaan bernama PT. Mitra Jaya Agung Motor, yang bermarkas di Cikokol, Tangerang, Banten.

Usaha bengkel yang bernama Mitra Service Car (MSC). Dimana dia bercerita semua berawal dari usaha bengkel motor. Yang dia kerjakan selepas bekerja di Astra, dan sebuah perusahan oli. Stanly mengatakan bisnis bengkel motor dua tahunan. Dan, dua tahun sudah, lalu dijualnya karena ingin fokus bengkel mobil.

Bisnisnya termasuk penjualan aneka onderdil. Salah satunya bermerek sendiri bernama AQ Genuine. Ia memberi nama AQ agar kualitas nomor satu. Menariknya onderdil target Stanly, kebanyakan merupakan onderdil mobil truk. Berkat bisnis baru tersebut Stanly mengantongi omzet Rp.1 miliar per- bulan.

Bisnis otomotif


Selain menjual onderdil sendiri, Stanly juga mengimpor onderdil dari Eropa. Pengembangan bisnisnya relatif cepat. Dimana, pada 2012, ia membuka konsep waralaba agar lebih menjangkau. Total MSC punya enam gerai, lima diantaranya milik pewaralaba.

Dia pernah bekerja di Astra dibagian penjualan. Lepas dari Astra, Stanly pernah bekerja di perusahaan oli, dan akhirnya memutuskan membuka usaha sendiri. Bekerja di perusahaan oli, dia bertugas memasok oli buat aneka perusahaan, seperti perusahaan bus, truk, dll.

Inilah cikal bakal relasi kuat antara Stanly dan dunia otomotif. Disanalah bisnis berbekal relasi kuat bisa menaikan tingkat kesuksesan kita. Sejak awal Stanly langsung membangun relasi, tidak sulit buat Stanly mengajak kerja sama karena memang sudah dekat sejak bekerja kantoran.

Jika dulu memasok oli, sekarang Stanly memasok onderdil langsung ke pool bus, travel, dan tempat para pemilik truk. Tidak cuma onderdil juga merambah perawatan pula. Kalau mereka butuh onderdil tertentu tinggal panggil Stanly. Barang akan dikirim mengurangi waktu pengusaha buat mencari barang tentunya.

Mulai onderdil sampai perawatan disediakan dia. Kunci sukses menurutnya adalah pengembangan dalam hal kreatifitas. Termasuk soal kreatifitas layanan, distribus, dan barang. Bisnis tidak bisa terus pada posisi monoton seperti cuma berjualan onderdil saja.

Pelayanan prima berkualitas menjadi esktra kreatifitas Stanly. Sukses MSC tidak berhenti juga cuma dalam bisnis bengkel mobil. Bisnis rambahan lain, adalah Stanly membuka usaha rental mobil, dimana ia masih sekala kecil menjalankan tiga unit mobil penyewaan, dan akan bertambah.

Kemungkinan berbisnis lainnya tidak ditolak Stanly. Kemudian akan merambah ke sektor lain. Rencana lain yakni membuka bisnis ekspedisi sendiri. Tentu agar bisa lebih mudah mengirim kebutuhan logistik onderdilnya. Utamanya kesulitan pengiriman barang ketika malam hari atau ketika musim liburan tiba.

Perusahaan eskpedisi digadang buka 2013. Investasinya masih menghitung dulu, mungkin kurang dari 50 miliaran. Stanly tidak merintis usaha sendiri. Dia sudah menggandeng perusahaan yang akan ikut dalam pembiayaan. Stanly akan kebagian menjadi pengelola bisnis tersebut.

Investor masuk tinggal masukan modal. Bisnis tersebut lalu akan terintegrasi dengan bisnis sebelumnya. Ia akan pula membuka pelayanan pengiriman 24 jam, bahkan tidak akan ada hari libur atau hari minggu sekalipun. Pelanggan akan mendapatkan pelayanan onderdil cepat lewat bisnis ekspedisi tersebut.

Bisnis MSC diharapkan akan merambah ke berbagai kota. Sistem waralaba memberikak kemudahan bagi Stanly menyebar. Ia bahkan berencana menggandeng pemerintah daerah. Memberikan jasa perawatan dan onderdil buat dinas pemerintah. Dia meyakinkan bahwa pemerintah akan mendapatkan manfaat besar nanti.

Anggaran perawatan akan lebih terjangkau, karena Stanly akan memantau semua kebutuhan onderdil dan juga buat perawatan kendaraan. Anggaran akan terpantau kegunaanya secara optimal. Dimananya anggaran pengeluaran buat bulanan akan terhitung benar.

Selasa, 14 Februari 2017

Memanfaatkan Genangan Air Menjadi Lahan Bisnis

Profil Pengusaha Ramidi 


 
Berawal kekesalan karena ketidak pedulian. Bayangkan, masak tujuh hari sudah banjir, tidak surut- surut di kampungnya. Melalui pengeras suara, pria yang juga ketua RT 02 RW 01 ini, tengah membagikan bantuan korban banjir. Begitu selesai dia lantas menceritakan keadaan daerah didiaminya.

Saban musim hujan, daerah didiami Ramidi, kawasan Duri Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Sosoknya selain dikenal sebagai ketua RT nih, juga dikenal sebagai penggerak budidaya lele. Semenjak 2010 silam, dia menjadi pelopor budidaya lele di daerah yang banjir enggan surut tersebut.

Wilayah tempatnya memang lumayan cekung. Dua sungai mencakupi wilayah tersebut. Ada di utara -nya, sungai Gendong, disisi lainnya, ada sungai Gawangan di selatan. Karena cekung lah tempat tersebut jadi langganan banjir permanen.

Banyak tempat pula menjadi genangan. Ide mamanfaatkan genangan tersebut ia pelopori. Bagaimana cara memanfaatkan lahan seperti itu. Ramidi kemudian mengajak warga membuka keramba. Dimana nantinya mereka akan menyebar bibit lele.
Tantangan terbesar bagaimana memberi pakan. Ia kemudian lari ke Pasar Kalideres. Seadanya dia belajar menangani masalah tersebut. Ia menyambangi para penjual ayam potong. Dia mengambil limbah ayam dari mereka. Jeroan dan usus lantas dijadikan pakan lele karena tidak layak jual.

Masalah tersebut Ramidi bisa atasi. Selanjutnya, dia merogoh kocek, modalnya Rp.1 juta buat membeli bibit lele dumbo. Satu keramba diisinya 5000 bibit lele. Hasilnya, sekarang dia sudah punya enam buah keramba, sebulan dia meraup panen 3 kuintal lele.

Sudah ada 100 keramba di Duri Semanan. Lalu, ada 18 kelompok budidaya lele, mereka memasang lebih banyak keramba di Situ Bulak -hanya sebuah genangan air besar, bukan situ sebenarnya. Tiga tahun sudah berlewat, Ramidi semakin dikenal sebagai pengusaha lele bermodal genangan air saja.

Pengepul lele mulai mendatangi warga. Makin banyak datang, dimana harga lele satu kilogram dibandrol Rp.18.000. Palang Merah Indonesia (PMI) lantas memberi Ramidi gelar toko pemanfaatan lahan. Dari sana bergelontoran dana bantuan mendukung bisnis warga.

Bantuan lainnya, yaitu enam karung pakan lele dan 50 botol rojolele atau perangsang pertumbuhan lele. Ia senang karena mampu mengajak banyak orang. Bukan cuma dirinya yang menjadi mandiri, tetapi lebih banyak orang warga Duri Semanan, merasakan berkah dibalik musibah banjir tahunan tersebut.

Tetapi, ada sedikit masalah nih, ketika banjir datang kembali lele mereka bisa menjadi korban juga. Pasca banjir lele dipanen Ramidi cuma tujuh kuintal. Kalau tidak banjir bisa panen sampai satu ton per- bulan. Ia mengatakan sementara banjir, beberapa badan memberikan bantuan termasuk PT. Global Success Chain.

Kamis, 09 Februari 2017

Usaha Mukena Lukis Omah Colet Pekalongan

Profil Pengusaha Sukses Murdiyah 



Jika orang tua maunya anak menjadi pegawai. Lain kisah Murdiyah, alkisah dari 9 orang anaknya, yang mana semuanya lulusan sarjana. Tidak ada satupun menjadi pengusaha. Sang ayah nyeletuk mengomentari hal tersebut. Mengapa anaknya semua bekerja untuk orang lain, padahal ayah ingin punya kayak Aburizal Bakrie.

Menjadi pengusaha tengah diminati ayah Murdiyah. "Pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan buat orang lain," jelasnya. Sembilan belas tahun Murdiyah bekerja. Sebagai karyawan Bank Danamon, kok, ia tiba- tiba menanggapi serius celetukan sang ayah.

Kakak Murdiyah kebetulan punya koneksi. Hubungan baik dengan pengusaha tekstil. Mereka lantas jadi jalan bagi dirinya menggapai bisnis. Mereka pemasok bahan tekstil, dan membuat bahan mukena bukan lah susah. Tidak ada kata terlambat buat berbisnis. Sukses ini diraih berkat kerja sama Murdiyah dan Marfuah.

Bisnis keluarga


Ia mengenang, dulu, dia dan Marfuah pernah tinggal bersama Bude. Tinggal bersama Bude yang penjual mukena. Waktu itu mukena masih belum warna- warni seperti sekarang. Masih polosan tetapi cukup buat kenangan Murdiyah. Sampai tahun 2005, memutuskan berbisnis mukena sendiri, inilah kisah suksesnya.

Meskipun memproduksi sendiri, bisnis dijalankan Murdiyah tidak langsung sukses. Posisi produksi ada di Pekalongan membuat dia bersemangat. Karena bisnis mukena Murdiyah merupakan kombinasi seni lukis dan batik. Memasuki tahun 2007, keseriusan bisnis muken Mukena Batik Omah Colet, bisnis mulai lah nampak.

Dia dibantu sang suami, Dicky Roswy, yang mana keduanya tekun berbisnis mukena lukis. Tidak kenal menyerah itulah utama. Aneka pameran didatangi mereka berdua. Salah satunya pameran diselenggarakan oleh tempat bekerjanya dulu. Pokoknya bagaimana menggait orang mengenal brand sekaligus jualannya.

Bagaimana menanamkan merek Batik Omah Colet ke benak orang. Berjalannya waktu, usaha Mardiyah menghasilkan, awalnya cuma teman sekantor Bank Danamon, tetangga, dan kini semua orang mau. Banyak orang setuju lukisan Mardiyah diatas mukena itu indah.

Penjualan meningkat pesat ketika memakai internet. Bisnis melalui Facebook, Omah Colet dimulai pada 2014 silam, kemudian disusul jualan lewat Instagram sendiri. Penjualan maju pesat dimana dari 2 orang karyawan menjadi 50 orang karyawan.

Dari bisnis Omah Colet, Mardiyah mampu membeli 2 unit rumah di Kota Legenda, Bekasi Timur, di sana dijadikan butik muken Batik Lukis Colet. Semester 1, tahun 2016, bisnis mereka menghasilkan omzet mencapai Rp.1 miliar. Selain di sana, adapula di pertokoan Dukuh Zamrud, Bekasi.

Bisnis tumbuh


Dulu, Omah Colet cuma memiliki dua orang karyawan, kemudian menjadi tujuh tenaga pelukis. Kemudian ada tenaga penjahit, pengobras, dan bagian quality control berjumlah 8 orang. Memasuki Ramadhan, bisa ditebak permintaan naik dan jumlah pekerja lepas semakin banyak.

Inilah berkah Lebaran karena berbisnis mukena. Bisnisnya laris manis bak kacang goreng. Sudah ada 15 varian mukena cantik, dari mukena colet biasa bermotif bunga- bunga aneka warna, muken bergradasi, ada mukena pasir cinta, mukena gribikan, mukena coklat timbul, mukena mega cinta dan sebagainya.

Mukena tidak cuma ukuran biasa S, M, L, dan mukena menyasar trend ABG juga. Mukena lainnya khusus buat ukuran jumbo, inilah kelebihan bidikan pasar Mardiyah. Harga jual kisaran Rp.90.000 sampai Rp.135.000. Dan omzet mencapai Rp.40 juta dengan pemasaran sekitar Pekalongan, dan 50- 60 juta dari Jakarta.

Menjual mukena colet memang tidak mudah. Usaha dijalankan Mardiyah mendapat tantangan. Yakni ketika booming bisnis mukena bordir dari Tasikmalaya dan Bukit Tinggi. Tetapi karena bahan utama terbuat kain santung (katun rayon) maka bahanya lebih adem, jahitannya lebih halus, lama kelamaan maka orang pilih dia.

Ketika tidak musim mukena, maka Omah Colet mengembangkan desain baru. Bisnis mereka juga akan merambah pembuatan sajadah, sarung, baju koko, kopiah dan lainnya. Setelah 9 tahun, dia ternyata tetap menjadi pegawai, kini dia sudah mengundurkan diri buat lebih fokus berbisnis mukena lukis coletnya.

Usaha Menyewakan Tanaman Hias Kantoran

Profil Pengusaha Nana Roesdiono 



Perkantoran besar butuh penyegaran. Ruangan ber- AC butuh hijaunya daun, cerahnya bunga- bunga cantik, nah inilah kesempatan kamu yang hidup di kota besar. Berbisnis lah penyewaan tanaman hias. Apakah itu akan sukses nantinya. Ikuti kisah seorang wanita bernama Nana Roesdiono.

Lulusan Universitas Airlangga, jurusan Psikologi, selepas dia kuliah tahun 1991- 1999, dia kemudian jadi personalian di perusahaan Jepang. Tidak cuma satu perusahaan tetapi dua. Karir yang cemerlang didukung hobi menenangkan. Tanaman hias dijadikan sarana menghilangkan letih, lelas, selama bekerja di kantor.

Saking hobinya sampai begitu banyak. Bagian depan, belakang, bahkan lantai dua dijejali aneka tanaman hias beraneka jenis. Semua ditanam diatas pot cantik hias. "...ditata rapi hingga sedap dipandang," tukasnya di halaman Kompasiana miliknya.

Dia merawat sangat teliti dan telaten. Ujungnya, kepikiran nih, kalau saja tempat kerjanya ditempati aneka tanaman hias cantik. Bunga- bunga tertaburan menambah gairah bekerja. Saking "terobsesinya" Nana juga terkadang bicara sendiri seolah menyuapi anaknya -ke tanaman miliknya ketika memberi air.

Bisnis hobi


Ibu- ibu tetangga Nana undang. Sekedar bersama menikmati indahnya bunga- bunga. Celetukan tentang apa dikerjakan Nana semerbak. Disana muncul ide berbisnis tanaman hias. Ide awal, Nana pikirnya sih, mau jualan tanaman hias aja.

Dia pikir kembali, "sudah terlalu banyak penjual tanaman hias." Nana mulai mencari informasi dari sumber Yellow Pages. Kemudian tanya ke sana- ke mari, hasilnya mengejutkan jasa penyewaan tanaman tidak ada. Yang berarti Nana menjadi pelopor usaha penyewaan tanaman hias.

Dia kembali ke kantor, mulai rajin mengamati sekeliling, dan menyadari tanaman hias di kantor itu tidak ada. Adanya tanaman plastik sekedarnya dipojokan. Nana menyeriusi ide bisnis penyewaan tanaman hias. Dia mulai menulis proposal, mencantumkan harga, ditunjang kegunaan tanaman hias dari aneka sumber.

Disebar puluhan proposal, dari puluhan, hanya satu proposal diterima oleh perusahaan. Yakni oleh sebuah perusahaan asuransi lantai delapan BRI tower Surabaya. Perusahaan menelephon Nana, menunjukan minat buat menyewa tanaman hias Nana.

Permulaan mereka sewa 5 tanaman meja, 2 tanaman sedang, dan 2 tanmana tinggi, dengan masa sewanya 3 bulan. Hari pertama dapat sewaan, Nana rela bolos kerja, membawa tanaman hias sendiri memakai mobil pick- up. Dari klien pertama, datang orderan lainnya, dari sejumlah kantor BII di seluruh Surabaya.

Orderan kemudian semakin banyak datang. Bisnis sewaan tanaman hias memang lebih menarik. Dibanding perusahaan merawat tanaman sendiri. Menyewa tanaman, Nana akan mengganti tanaman setiap sepuluh hari sekali. Kemudian dia sendiri menugasi perawatan, penyiraman, dan membersihkan pot dari daun layu.

Bisnis semakin berkembang, Nana bisa menyewa lahan belakang rumah. Gunanya dijadikan tempat yang khusus melakukan perawatan. Gunanya tanaman habis sewa akan dipaparkan matahari cerah. Selama 10 hari dipaparkan matahari hingga dimasukan ke ruangan lagi.

Nana juga tidak tinggal diam. Dia terus memperbaharui koleksi tanaman hias. Berburu sampai ke penjuru Jawa Timur, kemudian memesan tanaman hias yang tidak ada di Jawa Timur, mulai dari ke arah Bogor dan Bandung.

Semakin bisnis tidak dapat dibendung, disana Nana memutuskan keluar dari pekerjaan. Keseriusan terus ia pupuk ke bisnis sewa tanaman hias. Dia mulai rajin mengirim puluhan proposal kembali, serta aktif ikut menerangkan sendiri bisnisnya ke khalayak sendiri.

Tiga tahun berbisnis dia sudah memiliki 70 klien, 2 mobil pick- up, 8 pegawai pengiriman dan juga bagian perawatan, dan 1 sekertaris merangkap administrasi. Dukungan sang suami, Eddy Roesdiono, dirasa ia sangat rasakan hingga sekarang sukses. Hingga dia bisa menjadi vendor buat gedung Gubernur Jawa Timur.

Bisnis sewa tanaman hias menghasilkan penghasilan. Jika dulunya, cuma bisanya sewa lahan nursery 300 meter persegi, tahun 2005 dia membeli lahan tersebut. Rumah yang mana juga menjadi tempat kursus bahasa Inggris, yang mana cicilan lima tahunnya terlunasi berkat tanaman hias.

Bisnis sewa tanaman juga punya untung ganda. Pada 2008 silam, dia diajak ikut pameran Hortifair oleh  Kedutaan Belanda, ke Amsterdam, mewakili ASPENI (Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Hias di Indonesia). Di 2010, kembali ke Belanda, mendapatkan pengetahuan manajemen produksi dan perniagaan tanaman hias.

Dua kunjungan ke Belanda, dia mendapatkan pengetahuan tentang nursery, dimana dia berkunjung ke pusat tanaman hias Alsmeer. Dia juga dapat pengalaman tentang bisnis keseluruhan. Mulanya yang sekedar hobi menjadi bisnis sangat serius. Kini, mulai banyak bisnis penyewaan tanaman hias di kota- kota besar.

Jatuh bangun, Nana berbisnis sewa tanaman hias, bersamaan pula melewati gejolak booming tanaman yang bernama anthurium dan gelombang cinta. Dari berbisnis tanaman hias, Nana banyak dikenal orang karena sering

Selasa, 07 Februari 2017

Menyewakan Mainan Berapa Untungnya

Profil Pengusaha Amelia Purnajati 



Tingginya permintaan akan mainan berkualitas. Membuat pangsa pasar mainan sewa dilirik. Banyak orang tua lebih nyaman menyewa mainan. Dibanding harus kesana kemari mencari, dan ujungnya mereka harus rela merogoh kocek buat mainan tidak berkualitas.

Koleksi beragam memberikan kemudahan memutuskan. Pada orang tua bisa memilih mainan terbaik dari koleksi dari yang terbaik. Makin tinggi kesadaran akan mainan sehat. Mendorong mereka tidak asal untuk mengajak anak membeli sembarangan.

Kalau bisa memilih mainan pilihan, kalau bisa lebih berkualitas, kenapa harus capek mencari mainan buat si kecil. Tidak jarang mainan berkualitas tidak ramah kantong. Harga mainan edukatif misal, apalagi buat balita, pastilah mahal karena aman, nyaman dipegang.

Contoh pengusaha rental mainana ialah Amelia Purnajati. Pemilik situs www.duniabermain.com ini, sudah memiliki banyak koleksi mainan sewa. Dari ukuran paling kecil, mainana ramah anak harganya bisa antara Rp.150- Rp.500 ribu. Mainan lebih besar harga taksiran antara Rp.2,5 juta- Rp.4,5 jutaan.

Alasan lain, kenapa orang tua akan memilih sewa mainan, ya karena sifat anak yang mudah bosan dengan mainannya sekarang. Inilah kenapa Amelia bersemangat membangun bisnis. Jangka waktu bosan anak itu memang beragam tetapi pasti. Rentang waktu antara satu sampai tiga bulan, sudah dibaca oleh Amelia.

Bisnis sewa


Mainan berharga mahal berasa mubazir. Umur pemakaian cuma sebentar. Begitu selesai, kita cuma akan menyimpan mainan itu. Apalagi jika mainannya besar memakan ruangan. Ketika itulah, mainan bingung akan digunakan apa, disinilah Amelia dan kawanya, Jessica Natasha Halim, menawarkan bisnis sewa saja.

Bisnis yang bernama Funbox Toy Rental (FTR) ini, melihat celah kebutuhan anak akan mainan berkualitas. Mereka melihat pasar sewa mainan anak besar. Penyewa datang dari berbagai kalangan, mulai orang tua, organisasi tertentu, perusahaan, atau event organizer.

Tidak cuma buat mainan sehari- hari. Orang tua menyewa mainan juga termasuk buat pesta si kecil. Mau mengadakan pesat ulang tahun dengan mainan bisa sewa. Sementara event organizer bisa sewa mainan buat mendukung konsep acara mereka. Jadi keliatan kan prospek bisnis dijalankan Funbox Toy Rental mereka.

Tempat penitipan anak juga menyewa kepada mereka. Banyak pelanggan perusahaan rekanan mereka yang memang targetnya anak kecil. Bisnis mereka bisa merangkul langsung ke konsumen, ataupun lewat sewa ke rekanan mereka. Tidak heran dalam setahun bisnis merek sudah keliatan hasilnya.

Jessica sudah memiliki 160 buah mainan. Dimana mereka menawarkan mainan ke berbagai tempat di Jakarta. Mereka mancangkup pasaran Cibubur. Amelia mengaku dalam sehari ada 40 sampai 60 penyewa mainan setiap bulan. Sekali sewa, biasanya, penyewa tidak cuma meminjam satu mainan saja.

Mainan disewakan kebanyakan mainan edukatif. Kebanyakan mainan edukasi merupakan produksi mainan perusahaan luar negeri. Agar memudahkan orang tua, mereka sudah membagi mainan ke berbagai macam kategori usia. Jadi lebih memudahkan penyawa mencari mainan sesuai kriteria kebutuhan anak mereka.

Sewa mainan mulai harga Rp.50.000 hingga Rp.700.000 perbulan, ini tergantung jenis mainan disewakan ke penyewa. Sewa bulanan bisa, sewa mingguan juga bisa kamu lakukan, temponya seminggu- dua minggu atau harian bila mau.

Penyewa biasanya sewa mingguan, atau harian dulu biar tau apakah anaknya cocok atau tidak dulu. Amelia mengamini hal tersebut. Penyewa awalan akan menyewa sebentar, kalau anaknya tidak suka kan dapat cari mainan lain. Ketika sudah suka tinggal ditambah sewa sampai beberapa bulan.

Deposit sewa


Untuk organisasi atau perusahaan, biasanya menyawa harian untuk membuat acara yang melibatkan anak- anak. Sebagai contoh kalau ada acara ulang tahun. Amelia mengatakan biasanya organisasi atau korporasi menyewa lebih banyak macam mainan.

Seperti rental lainnya, mereka menerapkan sistem deposit dulu, dimana besanya Rp.100 ribu untuk sekali sewa. Uang deposit kembali jika mainan kembali. Selain deposit cara lainnya, agar aman, maka penyewa menunjukan tanda pengenal asli dan menyerahkan fotokopi KTP buat dicatat.

Omzetnya berapa sih, dari bisnis tersebut mereka mengantungi omzet Rp.30- 50 juta. Mereka dapat dari bisnis sewa mainan tersebut, belum termasuk ongkos kirim loh. Untung dikisaran 30 persen sampai 50 persennya. Bisnis sewa mainan itu untungnya lumayan besar. Apalagi biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar.

Sudah dipotong gaji karyawan, biaya operasional, adapula anggaran buat alat pembersih dan antiseptic buat mainannya. Jika mainan dibawa pulang kotor ada tambahan biaya Rp.20 ribu. Mereka biasanya menyewa tempat buat gudang penyimpan, atau menggunakan rumah sendiri buat menyimpan aneka mainan sewaan.

Catatan saja, kamu harus punya anggaran mainan loh, melengkapi koleksi mainan membutuhkan tambahan dana yang harus dianggarkan. Kelebihan bisnis mereka ialah tidak perlu memiliki showroom. Mereka lebih memilih memamerkan mainan lewat situs mereka, termasuk layanan diberikan kepada pelanggan.

Modal awal antara Rp.50- 100 juta, meskipun keliatan mahal tetapi kalau tepat sasaran, bisnis kamu bisa balik modal empat atau lima bulanan. Perlu diingat bisnis sewa mainan, biasanya, ada di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, atau Yogyakarta yang kesadaran akan mainan sehat tinggi.

Ingat usaha ini membutuhkan pengetahuan tentang mainan. Tau tentang siapa produsennya, kualitas produk mereka, termasuk tentang keamanan mainan dan bahan bakunya. Ingin hemat biaya beli produk dari para distributor di Indonesia. Koleksi beragam menjadi kunci sukses pengusaha sewa mainan anak juga.

Amelia mengaku sudah punya 500 mainan. Kalau kamu menemukan mainan favorit, kamu harus sediakan lebih dari satu jenis. Mainan anak favorit umur 6- 12 bulan ya jumperoo dan exercauser. Untuk anak umur 12 bulan- 6 tahun mainannya slider swing, playhouse, mobil mainan, dan roller coaster.

Jika kamu sudah memiliki mainan banyak. Tinggal dah, kamu membuat situs buat memajang katalog kamu, situs harus menarik memanggil orang lebih banyak. Selain itu pastikan keamanan, kenyamanan, dan juga kebersihan setiap koleksi. Umur mainan biasanya 1- 2 tahun, maka sebaiknya diganti agar tidak bahaya.

Jangan lupa memberikan keterangan detail. Terutama tentang umur pengguna mainan sebaiknya. Utamanya berat dan usia anak. Tentukan pula tentang apakah mainan bisa ditelan atau tidak. Pokoknya bagaimana agar penyewa merasa nyaman menyewa di tempat kamu. Akan mengurangi dari resiko kecelakaan pada anak nantinya.

Di FTR, mereka akan menerangkan dahulu cara pemakaian, tugasnya untuk menjaga keamanan yang berisi baik apa saja yang boleh dan tidak boleh. Seperti tidak boleh dimasukan ke mulut dan sebagainya. Bisnis sewa memang mengendalkan pematangan internal untuk membuat sistem terbaik guna layanan maksimal.

Karena sasaran orang tua, maka iklan di sosial media, bisa menjadi pilihan bisnis kamu ini. Siapkan dana khusus buat beriklan kalau ada. Ide promosi kreatif juga termasuk kerja sama dengan pihak ke ketiga. Contohnya FTR mengajak kerja sama pengelola apartemen, membuka tempat bermain indoor buat para penghuni.

Tidak berhenti, jika dana banyak, kamu bisa mencoba mempromosikan ke media konvensional, seperti di televisi. Atau kalau mau murah, bisa dengan membuat brosur atau bekerja sama dengan pihak terkait, atau bisa membangun iklan ke website gratisan. Tapi paling efektif adalah promosi mulut ke mulut sendiri.

"...mereka puas dengan layanan FTR dan mempromosikan ke teman dan saudaranya," terang Jessica.

Kamis, 02 Februari 2017

Anak Pengusaha Membuka Usaha Sendiri

Profil Pengusaha Bernama Budi


 
Anak pengusaha menjadi pengusaha. Meskipun sudah hidup nyaman, Budi memilih hidup dalam ketidak pastian alias pengusaha. Seperti halnya orang tua Budi, kini, dia dikenal sebagai pengusaha yang usahanya adalah menjual aneka lampu hias. Pengusaha muda satu ini membuka usaha sendiri bermodal Rp.5 juta.

Tahun 2011, ia mencoba peruntungan jualan lampu hias, kemudian utamanya usaha jualan lampu tidur. Dia awalnya melihat kedua orang tua. Kok, jadi pengusaha, malah kelihatan santai dibanding karyawan. Lama- lama Budi ingin merasakan sendiri pengalaman tersebut.

Seketika keluar dari pekerjaan, dia membuka usaha sendiri kepikirannya membuat lampu hias. Proses cari bisnis cocok dilalui Budi pula. Awal dia mencari informasi segala tentang lampu hias. Mencari bagaimana cara membuat lampu sendiri.

Hingga akhirnya, dia bisa membuat lampu sendiri, dan setiap lampu dihargai Rp.25 ribu dan omzetnya dia dapat Rp.10 juta sampai Rp.15 juta. Pemasaran tidak masalah, Budi sudah punya jalan, memilik rekan kerja yang baik.

Untuk Budi lebih memilih fokus bagian produksi saja. Bisnis begitu dinikmati hingga tidak ada beban. Dia mengaku menikmati menjadi pengusaha. Dia mengkreasikan produk sesuai imajinasi. Jenis modelnya dia bikin bermacam- macam. Pemesanan juga disesuaikan konsumen jika diinginkan, kerjakan kan semua.

Keputusan keluar dari pekerjaan sudah tepat. Sekarang Budi begitu menikmati bisnisnya sendiri. Memang karena punya passion jadi lebih menyenangkan mengerjakan. Meskipun bekerja sama kerasnya, menjadi pengusaha dan pegawai ternyata dua hal berbeda.

Tidak Pernah Melamar Pekerjaan Tetapi Sukses Jualan

Profil Pengusaha Aulia Achmad, Satria Kinayungan, dkk



Selepas kuliah biasanya mau berkuliah. Namun, dalam benak dua mahasiswa, Aulia Achmad dan Satria Kinayungan, tidak ada dalam benak mereka bekerja. Tidak juga bekerja berkeinginan di perusahaan asing besar, sekalipun. Dua sahabat tersebut memilih melanjutkan bisnis sandwich sejak kuliah dulu.

Bisnis belakang rumah


Dimulai sejak 2013, masih kuliah, Agam dan Isank mendirikan usaha sandwich. Untuk target pasaranya adalah teman mereka sendiri, sebuah kampus di Tangerang. Bisnis mereka bermodal tidak lebih dari 500 ribu.

Sistem bisnisnya bernama sistem preorder, dimana mereka akan kirim satu per- satu. Mereka saban pagi mengirim pesanan sehari sebelumnya. Mereka bermodal roti tawar. Mereka berbelanja bahan bersama. Mereka bersama membuat resep sendiri. Keduanya dapat untung yang lumayan Rp.5000/potong.

Karena urusan skripsi, keduanya memilih fakum, bisnis sandwich mereka sempat berhenti hingga dilanjut kembali ketika lulus. Selesai kuliah, keduanya menggebu melanjutkan bisnis yang lumayan tersebut. Tidak cuma berdua saja tetapi mengajak personil lagi.

Tahun 2015, ada Yohanes Ladita Patriyoso (Yosho), dan Mandala Putra yang bergabung pada tahun 2016 silam. Ke empat pengusaha muda tersebut mencoba peruntungan. Bisnis sandwich Agam dan Isank lalu dikemas menjadi lebih menarik. Mereka lantas menamai bisnis tersebut menjadi Sandwich Attack.

Harga sandwich Rp.20.000/potong, sehari terjual 50 potong. Mereka juga menawarkan aneka minuman enak. Omzet saban bulan menembus Rp.50 jutaan.

Bisnis iseng berkembang melebisi espektasi. Rahasianya, ya, karena mereka mencintai pekerjaanya dan memilih pandangan luas. Semakin kedepan Agam dan Isank yakni bisnis mereka mampu menghidupi. Dari jualan sandwich mereka bisa makan punya masa depan.

Hidup mereka sekarang mengembangkan bisnis ke depan. Agam mengaku bisnis mereka mengalir. Tidak banyak masalah dialami, ada sih tetapi tidak besa hingga tidak teratasi. Cara pemasaran unik, juga mereka suka melakukan variasi, dari lewat sosmed, bercerita mulut ke mulut, hingga akhirnya punya kafe.

Empat pemuda ini tidak berpikir akan kerja kantoran. Berwirausaha ternyata menghasilkan tidak kalah dari bekerja menjadi karyawan. Bekerja kantoran menurut Agam dan Isank bukan dunia mereka. Karena kamu tau keduanya belum pernah sama sekali melamar pekerjaan.

"Dari experience, menjadi wirausaha, gue juga dapat," ujarnya. Berkat wirausaha dia bisa bertemu banyak link- link baru yang kreatif.

Kelebihan Sanwich Attack ialah aneka konsep ditawarkan. Tidak memakai penyedap rasa tetapi memakai bahan rempah pilihan. Jualanya dengan menggunakan mobil berkeliling. Sementara disisi lain, ada kafe yang siap menemani kamu makan sambil membaca buku, menikmati lantunan musik, pokoknya anak muda.

Senin, 30 Januari 2017

Kisah Pengusaha Kerupuk Masih Muda Luar Biasa

Profil Pengusaha Saraya Tauris Dianti 


 
Jika pengusaha muda lainnya memilih bisnis fasion. Gadis 24 tahun ini malah memilih menjadi juragan kerupuk. Berawal seorang pengusaha kerupuk yang hampir bangkrut. Saraya Tauris Dianti kemudian datang mengambil alih -mengakuisisi pabrik kerupuk-, karena pemilik awal tidak mampu menutupi biaya oprasional.

Pemilik pabrik kerupuk awal tidak mampu membayar biaya. Pengusaha tersebut tidak mampu membayar uang pesanan tepung ke ibu Raya. Kemudian Ibu Raya dan dia sendiri, memberika penawaran mengambil alih usaha tersebut. Keduanya sepakat membangun usaha kerupuk miliknya kembali jaya.

Sang pemilik awal sama sekali tidak ikut campur. Total produksi diserahkan kepada Ibu Raya, dan kepada Raya pada khususnya menjadi puncak pimpinan pabrik. Sulit sih, bayangkan saja, Raya harus memulai dari nol karena jualan kerupuk biasa saja jaman sekarang susah.

Pengusaha dadakan


Dia bersama ibu membuat resep sendiri. Kesana- kemari keduanya coba membangkitkan kerupuk buatan mereka sendiri. Banyak komplain datang kepada mereka, mulai dari ukuran, warna, serta rasa yang tidak cocok. Sang ibu lantas menunjuk Raya menghadapi mereka, dari pemasaran sampai costumer service.

 "...agar kerupuk kami bisa menjadi lebih baik," ia menjelaskan.

Melalui aneka eksperimen mencoba menemukan komposisi. Dibawah bisnis Kerupuk Putra Jangkar, Raya mencoba menampung keluhan konsumen mereka. Pokoknya bagaimana agar usaha semakin kedepan. Ia tidak ingin cuma berjualan di kawasan Sidoarjo mulu.

Raya memiliki pandangan ke seluruh Jawa Tengah, Jawa Barat, sampai ke Lampung, Makassar, dan juga ke Balikpapan. Padahal awalnya, Raya sendiri tidak memilik pandangan segitu, menurut gadis berkacamata tersebut bisnis dijalani sekarang karena dia iba melihat sang ibu.

Ibu Raya sudah cukup tua buat mengurus semua. Apalagi mereka seperti memulai bisnis dari nol ketika menjalankan pabrik Kerupuk Putra Jaya. Dari awal, Raya sudah merasakan capeknya, perasaan bagaimana menghadapi kerasnya berbisnis ikut dirasakan.

Dia tidak ingin ibunya terporsir buat mengurusi pabrik. Untuk masalah dikomplain pembeli, kemajuan dari pabrik sendiri, ia berpikir biar lah Raya sendiri rasakan. Saat ini, kerupuk dihasilkan 2 ton dalam sehari berproduksi. Jumlah karyawan 60 orang dengan shift pagi- malam. Kisaran harga Rp.56 - Rp.57 ribu per- bal (5kg).

Harga masih bisa dinego loh. Disesuaikan saja dengan harga pasaran mau menerima. Bahan baku tepung tapioka dari Lampung. Kendala dihadapi sebagai pengusaha muda, dalam wawancara khusus bersama pihak bisnisukm.com, ia menyebutkan kendala terbesar ialah bahan baku.

Terkadang pada bulan tertentu kebutuhan akan tepung tapioka sulit. Sering mengalami kekosongan buat produksi karena harga naik- turun. Sehingga bahkan sampai sekarang Raya masih berjuang. Bagaimana biar bisa menangani kekosongan stok bahan baku ke depan, tetapi tanpa mengurangi kualitas produksi sendiri.

Banyak pesaing, usaha pembuatan kerupuk kecil- kecilan mulai nampak. Kebanyakan dibuat justru malah merusak harga pasaran. Untung Raya mempunya cara jitu mendekati pelanggan. Kendala tersebut dapat ia atasi dengan pendekatan persuasif.

Meskipun modalnya besar buat akusisi yakni Rp.800 juta. Ia mengaku sudah bisa mengantungi omzet hingga Rp.350 per- bulan. Pabriknya juga memberikan pahala karena memberikan lowongan pekerjaan. Ia merasakan betul perubahan masyarakat sekitar lebih baik. Inilah kenapa dia optimis bisnisnya berkah ke depan.

Ke depan, selain membuat kerupuk mawar, keong, rantai dan kepang, Raya ingin mengembangkan aneka kerupuk irisan, seperti kerupuk udang, tersanjung, dan kerupuk tahu. Untuk pemasaran sudah mencapai daerah luar pulau, dan akan mencoba masuk ke pasar ekspor.

Minggu, 29 Januari 2017

Mimpi Pengusaha Dodol Keripik Ibu Popon

Profil Pengusaha Popon Suhaemah 



Sosok petani buah satu ini layak kamu tiru. Popon Suhaemah tidak mau 83 pohon mangga miliknya terjual murah, atau bahkan membusuk tidak laku. Ibu Popon lantas membuka usaha jus buah. Sasaran Bu Popon adalah sekolah dekat rumah. Meskipun usaha ini berjalan sebentar, aneka usaha lainnya menyusul lagi.

Pokoknya Popon tidak mau hasil perkebunan mubazir. Inilah cikal bakal usaha camilan dia kembangkan. Yang dari semula berawal buah mangga, Bu Popon terkenal membuat keripik nangka. Dia memanfaatkan segala sumber daya sekitaran daerahnya.

Ide bisnis muncul dari pelataran rumah, Kelurahan Cijati, Kab. Majalengka, yang sebelumnya berjualan jus lantas berbisnis dodol kemudian keripik. Sebelum bisnis buah, Bu Popon ternyata pernah jualan telur asin pada 2000 silam. Bisnis berakhir ketika musim kemarau karena bebek hilang di budidaya desanya.

Bisnis terus


Kenapa bisnis jus buah Popon gagal. Ternyata ada alasan dibalik kisah gagal tersebut. Menurutnya jus buah tidak awet. Dalam seminggu disimpan maka akan keluar bakteri pembusuk. Ia mulai memutar otak caranya agar jus buah mangga awet. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, bagaimana biar tahan lama.

Ia mengenang awal usahanya: Cuma ingin bagaimana produk jualan yang bertahan lama. Atas saran Dinas Kesehatan, dia diberi surat mengikuti pelatihan, mendapatkan ilmu baru tentang bagaimana mengawetkan buah mangga. Dia merubah mangga menjadi dodol kemudian keripik.

Segera bisnis ini berjalan, dan sejak 2002, nama usaha Ibu Popon sudah terdaftar menjadi merek dagang. Ia menggunakan nama Ibu Popon biar nyarinya gampang. "..karena saya asli orang sini," jelasnya. Kan orang sana kenal sama Ibu Popon, jadi orang tau siapa pembuat camilan mangga menggiurkan itu.

Agresifitas bisnis Popon memang meningkat. Apalagi semenjak sang suami di- PHK, bisnis keripik ia jalankan semakin gencar promosi. Pada Oktober 2003, mangga Popon melimpah, menghasilkan banyak buah yang dijadikan modal usaha.

Popon lantas merubah mangga menjadi dodol, dengan berbekal pengawet. Semua berkat ilmu pengawet baik yang sudah berijin Dinas. Mengendarai motor GL 86, Popon titipkan dodol mangga ke warung, ada 20 bungkus dodol setiap warung disinggahi, dodol pokoknya harus habis tidak ada sisa di rumah.

Namun, berbisnis tidak semudah harapan, dodol Ibu Popon kok tidak selaku dibayangkan. Laku cuma 2- 5 bungkus setelah dia menagih ke warung- warung. Sisanya dikembalika ke Popon dan berlangsung lumayan lama. Popon tidak lupa membawa gunting, tidak laku dodol dipotong kecil, dan merek dibakar dibuang ke sungai.

Tetapi Popon tetap ulet menggarap bisnis dodol mangga. Meskipun hasilnya rugi tetap dia perjuangkan. Ia lantas menarik perhatian Dinas Pertanian. Senang banget ketika itu, tempat usahanya didatangi pejabat- pejabat berseragam cokelat. Mereka membeli dodol- dodol mangga Ibu Popon akan dijual ke Provinsi.

Mereka ingin memamerkan bahwa Majalengka punya khas. Dodol mangga menunjukan bahwa sumber daya utama Majalengka, yakni mangga, bisa diusahakan menjadi hal baru. Inilah titik terang bisnis Popon berkembang. Lewat obrolan dan sepucuk nomor telephon yang dia minta seolah membuka jalan.

Bisnis keripik


Selepas Lebaran, Bu Popon mampir ke Dinas Pertanian, untuk bertemu Kepala Seksi Usaha tingkat Kab. Majalengka, bernama Pak Nunu. Dia berkesempatan menceritakan mimpinya. Panjang lebar tentang apa yang hendak Popon capai dari bisnis dodol mangga.

Dia kemudian diajak menjadi warga binaan tani. Syaratnya Bu Popon harus membentuk kelompok tani dulu. Ada 4 orang dalam satu kelompok Popon. Mereka adalah saudaranya sendiri. Mengumpulkan uang Rp.50 ribu buat mendapatkan pelatihan. Mereka melakukan trial- error usaha dodol mangga bersama.

Dengan dukungan Dinas Pertanian, beberapa hal mendasar mendapatkan bantuan. Tetapi untuk bagaimana menciptakan produk berkualitas. Sepenuhnya ditangan kelompok tani Bu Popon. Sudah membuat dodol tapi malah sudah jamuran meski belum beredar. Dinas memberi saran lemak sapi tetapi dodol malah bau.

Didampingi Dinas, usaha terus dilakukan, hingga mereka diajak melalukan kunjungan ke Ciamis. Di sana dia belajar mengenai cara benar membuat dodol. Pokoknya Dinas Pertanian mendampingi pasca panen sampai akhirnya membantu memberi pencerahan.

"Ooohh... rupanya begini caranya membuat dodol," ujar dia. Mulai studi banding dodol ke Ciamis hingga Sukasena. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya enggak," yakinnya. Pelatihan mulai cara membuat sampia ke pengemasan.

Dia pun belajar mengenai arti merek. Nama harus memiliki filosofi kuat dibaliknya. Nama merek berarti intergritas bisnis mereka. Popon mendapatkan bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan juga Universitas Pasundan (Unpas). Semua masalah dikonsultasikan ke Jurusan Teknologi Pangan keduanya.

Bahkan Popon rela mahasiswa datang melalukan penelitian ke rumah. Berkat bantuan para mahasiswa itu, Popon dapat menempelkan kandungan nutrisi.

Tahun 2004, bisnis Popon makin maju, aneka camilan diolah yang berbahan dasar buah- buahan hasil pertanian. Dia kemudian mendapatkan tawaran mesin vacuum frying untuk membuat keripik. Aneka macam keripik buah dibuat. Dari kerpik pisang, dia belajar, bagaimana agar keripik tidak letoy kelamaan.

Ia belajar jenis pisang berpengaruh, disisi lain tingkat kematangan mempengaruhi. Kita harus tentukan dulu, pisangnya apa, kulit pisangnya seperti apa, kemudian harus kita goreng sampai ke tingkat kematangan berapa. Kalau gagal disortir maka akan diolahnya menjadi dodol.

Kalau awal, pisang dihajar, langsung kupas goreng tanpa mikir. Bu Popon belajar bahwa berbisnis adalah kesabaran. Meskipun dianggap sepele, Popon barulah mampu membuat keripik pisang sesuai dengan apa yang dia inginkan setelah tiga tahun. Nama dodol dan keripik Ibu Popon mulai dikenal khalayak ramai nih.

Bisnis tidak berhenti


Usaha dijalankan Popon terus berkembang. Dia terus belajar termasuk cara menentukan harga. Jika dia jual ke warung Rp.3.500 maka kalau ke pembeli langsung Rp.5000. Disisi lain ada orang jualan 1/4 ons dijual Rp.2.500. Alhasil keripik Popon tidak laku di pasaran, meski rasa lebih mantap, hanya karena harga.

Ia kembali dapat retur. Dia kemudian menentukan ulang harga. Disisi lain, permodal juga masalah, untung ada jaminan dari Dinas Koperasi. Alhasil Popon mendapat pinjaman bank BJB senilai Rp.9 jutaan di tahun 2009 silam.

Dia kemudian diajak ikut pameran oleh Dinas Perindustrian. Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah dia kunjungi, contoh NTB, Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Produk Ibu Popon juga pernah muncul di pameran Singapura Expo. Kemudian masalah packing produk juga mulai diperbaiki Bu Popon.

Dibantu Packing House asal Bandung, disarankan produk buatannya tidak cuma diplastik, tetapi dibentuk jadi souvenir lewat kardus. Melalui itulah nama Ibu Popon semakin besar -pemasaran merambah sampai ke Majalengka, Jakarta, termasuk rest area jalan tol dan kantor koperasi Jakarta.

Di Bogor, kamu bisa dapati produk Ibu Popon di sentra oleh- oleh Priangan Sari. Pusat perbelanjaan di Carrefur Yogya juga sudah ada. Sudah berkembang, Popon mulai berbagi ilmunya lewat pelatihan kepada ibu- ibu sekitar. Ada sekitar 40 kelompok tani, terdiri dari 10 orang, dimana mereka berkeahlian khusus.

Ada bagian pembuatan keripik pisang, karipik jagung, keripik salak. Soal SOP dan bumbu dikontrol oleh Bu Popon langsung. Dengan bantuan mereka bisa menghasilkan berbagai jenis keripik. Kemudian tidak cuma berhenti di keripik, juga ada peyek kacang hijau, sumpia isi oncom, dimana juga mak nyus.

Siapa sangka wanita sederhana ini, adalah pemilik pabrik memproduksi aneka jajan, banyak sekali dari aneka dodol sampai aneka keripik buah. Popon sendiri termasuk suka inovasi. Dia mengutak- atik setiap produknya menjadi lebih unik. Ia sekarang terkejut karena setiap idenya diminati masyarakat luas.

Dengan upah Rp.2000 per- kilogram, maka Popon mempekerjakan sumpia oncom. Lalu ada juga emping jagung yang diminati konsumen Bogor. Awalnya cuma bikin emping original. Permintaan konsumen mau lebih: Mereka ingin diberi taburan bumbu barbeque, ini menjadi jalan Popon mengembangkan produk lagi.

Inovasi selalu dilakukan Popon. Dia menyikapi hal tersebut seperti hobi. Biasanya dia membuat sesuatu yang baru di bulan sepi order yakni Maret hingga Mei. Banyak mimpi ingin direguk Popon akan produk olahan bermerek Ibu Popon. Seperti keripik nanas, dimana tengah dia agresif pasarkan dan berhasil.

Kerja keras 8 tahun Popon, apa yang telah dihasilkan wanita tersebut. Tidak banyak dibanding pengorbanan waktu. Dia menghasilkan omzet Rp.180 juta, dimana keuntungan bersih 15- 20 persen. Dimana Popon sudah memiliki lima buah mesin penggoreng sekaligus pengering keripik sendiri.

Kegemaran -atau hobi- Popon berkreasi praktis membuatnya sulit disaingi. Pokoknya selalu ada yang baru ditampilkan produknya ini. Selain mimpi pribadi menjadi pengusaha sukses, mimpi lainnya, yakni memberdayakan petani sekitarnya telah berhasil lewat kelompok tani binaan.

Semua kesuksesan karena dia ikhlas membantu orang. "Dengan membantu orang lain, Insya Allah urusan kita juga dibantu sama Yang Kuasa," tegasnya.

Kamis, 26 Januari 2017

Hiasan Magnet Kulkas Lucu Berbentuk Makanan

Profil Pengusaha Megawati Suganda 


 
Kegemaran Megawati Suganda akan miniatur. Membuatnya berpikir tentang bisnis sendiri. Dia dan suami lantas mempunyai ide bikin hiasan kulkas. Berbekal kecintaan akan miniatur, dari minatur diubah mereka jadi pernak- pernik kulkas bermagnet itu.

Ide bisnis dimulai sejak 2009 silam. Dengan nama TechnoCraft membuat aneka miniatur. Lalu dijadikan pernak- pernik kultas menarik. Kebetulan sang suami bekerja sebagai arsitek. Jika orang berpikir mereka akan membeli barang impor. Salah. Mereka berencana membuat miniatur buatan sendiri hingga jadi.

Mereka berpikir desain khas Indonesia. Mereka mencari trend disekitaran sendiri. Pokoknya makanan apa yang dikenal masyarakat Indonesia. Dikaji dulu, membuat desain, dan mulai berproduksi. Awal bisnis ia dibantu suami membuat semua manual, tanpa mesin.

Siring perkembangan usaha, mereka sudah memiliki lima mesin. Menurut Detik.com ada mesin pencetak kemudian mesin pengecil miniatur. Macam- macam minatur tersebut lantas dipasangi magnet. Desain meliputi produk makanan dan minuman terkenal Indonesia, contohnya Freshmilk dan Teh Botol. 

Awal usaha mengeluarkan uang mencapai Rp.30 juta. Itu buat beli bahannya saja. Mesin beru kebeli ketika sudah berjalan bisnisnya.

Semakin dikenal usaha semakin banyak promosi. Mega mulai mengikuti aneka pameran bisnis, aneka ajang pameran kerajinan seperti di Jakarta Convention Center (JCC), dan Indonesia Convention Center (ICC) di BSD, Tangerang. Juga memajang produknya di pusat perbelanjaan kota wisata Bandung.

Biasa mereka membuka pameran kecil, di mal Kasablanka, tetapi memakai konsep tidak menetap seperti cuma dua bulan. Termasuk ke floating market Lembang, atau di Farm House. Mereka juga mengirim ke Siangpura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Timur Tengah.

Website: www.magnetkulkas.com

Usaha Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

Profil Pengusaha Annisa Febby Chaurino dan Hendra Gunawan 




Bagi pecinta kaos khas Banyuwangi, nama Nagud sudah tidak asing didengar di telinga. Tetapi buat kita nih namanya Nagud adalah bisnis berkonsep unik. Kamu layak mencoba bisnis mereka. Bisnis kaos distro itu memang tidak ada matinya. Bagaimana jika membuat kaos distro limited edition?

Distro Nagud! Banyuwangi dipelopori pasangan pengusaha. Sang suami, Hendra Gunawan (34), melihat peluang ada di bisnis istrinya. Annisa Febby Chaurino, memulai brand Nagud! Banyuwangi sengaja untuk membuat desain tidak pasaran.

Annisa juga mengangkat nama Banyuwangi sendiri. Hasilnya tidak asal membuat kaos distro. Ia juga tidak mau memproduksi banyak, tetapi kualitas kaos rendah. Dimulai sejak 2012 silam, satu bulan selepas dia lulus Design Industri ITS Surabaya, modalnya cukup Rp.2 juta sudah bisa membuka distro milik sendiri.

Uang tersebut pinjaman orang tua. Berarti Annisa harus sukses mengembalikan. Dengan pemasaran lewat sosial media, ada Facebook, Twitter, ada webnya juga, desainnya original tidak copy- paste desain milik orang lain. "Desainnya juga asli karya saya dan mengharamkan copy- paste desain orang lain," ujarnya.

Memang sejak awal Annisa menawarkan sesuatu beda. Dia sendiri pernah dapat juara lomba desain kaos se- Jawa Timur pada 2010. Waktu itu dia masih aktif berkuliah. Dan, oleh karenanya, dia sangat percaya diri buat memulai bisnis clothing.

Dua bulan dia mengembangkan bisnis. Mulai belajar administrasi dulu, pembuatan kaos, lalu dia beranikan diri meminjam uang. Ia sudah perhitungkan betul perputaran uang. Akhirnya memberanikan diri meminjam uang kembali ke bank. Kemudian dia mengajak kerja sama kakak di Surabaya, untuk mulai membuat kaos.

Bisnis pintar


Harga produksi Annisa memang sedikit lebih mahal. Patokan harga kaosnya mencapai Rp.90.000 sampai Rp.150.000. Satu desain diselesaikan selama satu minggu. Tetapi terkadang juga malah mengikuti mood -nya sih, jadi bisa lebih panjang. Setiap dua bulan Nagud! dan dia minimal mengeluarkan dua desain.

Bersama sang suami Hendra, mereka menyasar konsep tradisi khas ke- Banyuwangian. Bisnis mereka juga sudah berkembang tidak cuma kaos, termasuk jeket, jamper, aksesoris, batik, pokoknya khas Banyuwangi lah.

Nama- nama tradisi diambil mengangkat Banyuwangi. Baik gambar ataupun tulisan semuanya Banyuwangi. Ia mengaku bisnis mereka berjalan. Alasan karena konsep ditawarkan mereka beda. Tidak ada produksi kaos banyak. Bisnis mereka cuma memproduksi 18 potong kaos.

Dimulai kaos anak- anak hingga dewasa diproduksi terbatas. "Sengaja terbatas dengan desain yang khas agar tidak pasaran," Hendra mempromosikan.

Pengalaman memakai pakaian branded berkualitas. Yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ada perasaan yang berbeda Hendra rasakan. Ditambah tradisi lokal membuat bisnisnya makin bersinar. Pengabdian akan tradisi lokal membuat Nagud! Banyuwangi makin matang.

Bisnis mereka sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Denpasar, dan juga sampai ke luar negeri loh, seperti ke Taiwan dan Hongkong. Untuk jaket harga kisaran Rp.120.000 sampai Rp.150.000. Juga ada tas seharga Rp.60.000. Batiknya kisaran Rp.100.000 sampai Rp.600.000.

Bisnis kaos mereka berharap mampu memindahkan. Trademark tentang kota distro Bandung, ataupu kalau orang mau ke distro di Jawa Timur, ya Surabaya. Maunya nama Banyuwangi menjadi trademark tersendiri lewat Nagud! Soal omzet mereka mengaku pernah mampu mengantungi omzet Rp.60 juta perbulan.

Senin, 23 Januari 2017

Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Jumat, 20 Januari 2017

Quote Terbaik Yasa Singgih Pengusaha Muda

Quote Terbaik Pengusaha Muda 



Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Suhaedah 




Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.

Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.

Bisnis keluarga


Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.

Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.

Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.

Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.

Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.

Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.

Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.

Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.

Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.

Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.

Kamis, 19 Januari 2017

Ditipu Tiga Ratus Juta Kisah Holycow by Chef Afit

Profil Pengusaha Lucy Wiryono dan Afit Dwi Purwanto 



Sungguh tidak mudah mengikhlaskan suami jadi pengusaha. Apalagi ketika suami sudah memiliki kerjaan mapan. Awalnya Lucy Wiryono menolak ide suami tentang berwirausaha. Kan kalau jadi pengusaha punya resiko besar. Orang tidak pernah tau apakah usaha akan sukses atau tidak.

Hasilnya kan juga tidak besar tetap setiap bulan. Faktor- faktor lainnya, contoh faktor teknis seperti SDM berkualitas, bisa menyeret orang ke jurang kebangkrutan. Disisi lain, pengeluaran bulanan akan selalu ada sama besarnya, bahkan bisa- bisa malahan naik.

Kemudian sang suami, Afit Dwi Purwanto, seorang chef pada acara khusus di stasiun RCTI. Nyeletuk gini di depan Lucy: Kalau menjadi pegawai yang ngerasain aku, kamu, anak kita, keluarga... dan paling sudah dibafi zakat. Jika Afit membuka usaha sendiri bisa membantu banyak orang, kan?

Bayangkan kamu mempunyai pegawai, digaji kamu, kemudian menikah menafkahi istri, anak, terus sampai jenjang setinggi mungkin. Lewat usaha sendiri,  berkat kamu, pegawai kamu itu nanti bisa mencukupi gizi, menyekolahkan, dan banak lagi. Jadi bisa lebih membantu dibanding jadi pegawai meski banyak tunjangan.

Bisnis sendiri


Chef Afit akhirnya memutuskan berhenti dari RCTI. Lucy tengah berjudi akan nasib keluarga mereka di tangan nasib. Bersama mereka kemudian membahas mau bisnis apa. Keduanya ternyata memiliki satu hal sama. Mereka ingin membuka tempat makan steak bagus, tetapi itu loh, butuh banyak uang dikorbankan.

Kesimpulan mereka ingin membuka warung. Konsep gila mereka: Membuka warung steak wagyu murah yang berkaki lima. Usaha mereka jualan di pinggir jalan. Istilahnya nebeng, dan waktu itu keduanya buka usaha di depan toko kaca film untuk mobil, tanah jualan mereka tentu bukan milik mereka sendiri.

Bisnis dijalankan Maret 2010 silam, dikerjakan enam orang tidak termasuk Lucy, tentu saja yang jadi juru masaknya Afit. Menurut blog pribadi Lucy Wiryono, ia cuma bisa melihat saja karena tugas lebih penting, yakni menjaga anak mereka.

Hari pertama buka pengunjung lumayan. Afit dan lima orang rekannya lumayan kerepotan. Tidak punya pengalaman melayani orang, apalagi sebanyak itu. Sempet merasa takut kalau salah melayani. Waktu asik melayani pengunjung, eh masalah datang, tiba- tiba hujan besar menyeruduk kanopi sampai bocor, becek.

Beruntung pengunjung tidak kabur. Pengunjung memilih bertahan bersama mereka. Orang berpikir kalau mau makan enak harus di restoran. Inilah tantangan coba mereka patahkan. Terbukti pengunjung merasakan betah meski hujan mengguyur panjang. Kebersihan sangat diperhatikan mereka agar pengunjung merasa nyaman.

Bermodal uang bersama senilai Rp.70 juta di Bali. Mereka tengah mencoba membuktikan bahwa bisnis wagyu murah bisa. Hasrat ingin bekerja untuk diri sendiri mengemuka. Alasan itulah kenapa bisnis mereka penuh kehati- hatian serta perhitungan cermat. "...bukan keren- kerenan," ujar Lucy.

Bisnis murah


Murah tetapi tidak jual murahan. Konsep yang dibawa Afit dan Lucy, membawa usaha bernama Holycow ini beruntung. Dulu cuma menumpang jualan di pinggir jalan. Kini, Holycow sudah memiliki tempatnya sendiri -tanah milik mereka sendiri.

Tuga pengusaha adalah membangun kepercayaan. Gimana sih agar wagyu murah diyakini memiliki kualitas tidak kalah. Mereka mengambil daging stik asal Jepang, untuk meyakinkan masyarakat, mereka datang ke Jepang sendiri. Melihat lewat mata sendiri peternakan sapi, dari perawatan sampai sembelih, semua halal.

Kenapa daging wagyu yang dikenal mahal itu jadi miring. Ternyata rahasianya yaitu penentuan margin untung Holycow. Mereka lebih memilih meningkatkan jumlah penjualan. Dibanding mengambil margin untung besaar. Sama- sama daging Jepang berkualitas tetapi harganya jadi lebih miring deh.

Banyak orang belum tau wagyu. Jika orang lain menjual daging wagyu antara Rp.200- 500 ribu. Maka di Holycom dijualan bisa sampai Rp.90 ribu. Lucy memang sempat berpikir amatir. Sebelum bisnis bidang daging sapi. Dia sempat berpikir harga mahal karena faktor distribusi dan perawatannya.

Tetapi ternyata harga mahal justru karena profit diambil pengusaha. Gampangnya orang jualan di mall- mall sama di jalanan beda. Ada harus bayar AC lah, karyawan lebih mahal lah, sedangkan Holycow ini jualannya di jalan. Hitungan umum pengusaha profitnya 70% dibanding modalnya cuma 30% -nya.

Kalau Holycow membalik prinsip tersebut: Jadi profit 30% dibanding belanja modal 70%. Mangakanya mereka getol berpromosi guna menutupi margin. Pemikiran bahwa semua orang suka daging. Menjadi landasan bisnis Holycow bertahan diterpa cobaan.

Salah satunya orang berpikir daging mereka bermasalah. Mulai berpikir daging reject lah. Daginya bekas lah. Pokoknya prasangka bermunculan jika kalian menggunakan prinsip Holycow. Sukses mereka juga terletak kepada kesabaran mengedukasi pasar bahwa kita berkualitas sama -dibanding yang lebih mahal.

Memilih berpisah


Sejak lama Afit menginginkan usaha sendiri. Tetapi menjadi pengusaha bukan perjalanan semalam. Butuh waktu waktu hingga Chef Afit berada di posisi sekarang. Sudah mendapatkan tentangan dari istri, Afit juga mendapatkan tentangan dari orang tua, terutama ayah yang ingin Afit jadi profesional di bidangnya.

Gaji tetap menjadi alasan kebanyakan orang. "Dari kuliah, saya selalu ingin independen. Tidak mau jadi buruh orang lain" ujarnya kepada situs Marketeers.com.

Sejak kuliah Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Afit sudah mulai menjual aneka kaos sablonan. Bisnis ini bahkan sempat dibapakai seorang VJ MTV. Sayang, Afit tidak pandai mengantur uang, terbawa arus kehidupan remaja berfoya- foya. Singkat bisnis Afit runtuh karena gagal mengelola keuangan usaha.

Selepas menikah dengan Lucy Wiryono, beberapa bisnis sudah dimulai, sebalum mantab berbisnis steak wagyu. Bisnis Afit meliputi bisnis keripik dan bisnis trading company. Kegagalan dilalui kedua pasangan tersebut. Bahkan nih, tahun 2004, ia sempat tertipu sampai Rp.300 juta.

Dua pelajaran kamu bisa dapatkan: Jangan fokus hanya mencari untung lebih cepat. Dan, harus paham akan seluk beluk bisnis ditekuni.

Puncak masalah justru datang ketika dia menjalankan Holycow. Yakni ketika rekan bisnis mereka memilih pisah karena berbeda visi. Alasan klise ini sempat membuat Holycow goyah pada 2012 silam. Tepatnya di Mei 2012, kedua belah pihak memilih mengambil jalan sendiri, membesarkan Holycow masing- masing.

Perpecahan memang berat tetapi jangan bersatu malah saling curiga. Menjadi catatan menarik ketika mereka berpisah lewat notaris. Mereka membawa mediator bersertifikat membagi saham. Aneka biaya dikeluarkan mulai biaya penalti, disusul tutupnya gerai Holycow di Singapura.

Hutang suplier akhirnya menumpuk di pihak Afit. Meskipun sama- sama memakai nama Holycow, nama dibawa Afit berbeda. Bagaimana membedakan Holycow Afit atau bukan. Untuk menarik pelanggan yang sampat hilang. Aift membuka sayembara logo buat bisnis Holycow milik mereka sendiri.

Lahirlah nama Holycow Steakhouse by Chef Afit, pada Oktober 2012. Dia tau betul bahwa orang sudah tau kalau Holycow pecah kongsi. Cuma orang belum tau Holycow yang mana besutan Chef Afit. Yang mana kah Holycow menghadirkan masakan otentik sang Chef.

Unik memang, bisnis mereka dioperasi, dan memilih wajah baru berdasarkan keinginan pelanggan. Cara brand awareness cocok buat kamu yang pisah bisnis. Membuat konsumen sadar bahwa brand mereka baru tetapi tetap memiliki kualitas sama.

Kedua belah pihak sama di mata hukum berhak memakai Holycow. Hal terbaik dilakukan ialah lewat menegaskan brand mereka. Nama by Chef Afit semisal, memberikan ketegasan bahwa inilah Holycow yang bercita rasa awal, racikan tangan Chef Afit.

Perpecahan memberikan dampak kepada keuangan juga. Memulai bisnis tinggal separuh aset, sementara dia sendiri dalam ketidak pastian, ditambah harus menanggung 28 karyawan yang memutuskan ikut Afit. Dua gerai tersisa di tanganya, maka dia memberikan dua sift pendek dan ekstra libur kepada karyawan.

Isitilahnya mereka kelebihan pegawai, ketika bisnis mereka memulai ulang bermodal dua gerai. Hingga seorang Angel Investor memberika uluran tangan. Afit membuka gerai ketiga dibuka di Kelapa Gading. Dimana tujuan menampung tenaga kerja, serta meningkatkan produktifitas.

Dua sisi mata koin terjadi ketika Holycow berpisah. Terutama soal kemajuan bisnis. Singkatnya ketika Holycow satu berbuat ulah. Maka Holycow lainnya dapat terkena dampak. Begitu juga sebaliknya, jika Holycow Afit sukses berprestasi, Holycow satunya juga ikutan mendapatkan kredit.

Artikel Terbaru Kami