Awal Aplikasi Hotel Airbnb Menyewakan Tempat Kamu

"Saya akan berkata, jangan dengarkan orang tua. Mereka adalah hubungan paling penting di dunia, tetapi seharusnya anda jangan mengambil saran karir mereka, dan saya menggunakan mereka menjadi jembatan untuk semua tekanan di dunia."

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Es Pisang Ijo Justmine Omzetnya 850 Juta

"Saya memulai dari bawah, dengan berjualan pulsa elektronik," ujar Riezka

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Jumat, 29 Juli 2016

Membuat Gaudi Menjadi Fasion Ikon Dunia

Profil Pengusaha Nathalia Napitupulu dan Janet Dana



Berbisnis bareng sahabat emang asik. Inilah kisah Nathalia Napitupulu dan Janet Dana. Keduanya sepakat buat berbisnis bersama membangun brand fashion. Mereka adalah pemilik brand butik Gaudi sejak 2004. Mulai perencanaan desain, pemilihan bahan, serta melayani pelanggan dimulai dari keduanya sendiri.

Hingga sekarang nama Gaudi sudah terkenal. Bagi penikmat fasion, terutama wanita aktif di Jakarta sudah tidak asing buat nama Gaudi.

Inspirasi internasional


Bukan rahasia fasion asing menjadi inspirasi pengusaha muda ini. Namun tidak disangkal pemahaman mereka mengenai Indonesia lebih baik. Istilahnya semua yang berbau asing belum tentu cocok. Mereka membidik masuk diantara brand lokal dan internasional. Hingga kini mereka sudah memiliki 29 gerai Gaudi tersebar.

Ada celah fasion ketika keduanya memilih berbisnis. Mereka menciptakan keluwesan, gaya stylish, namun harga terjangkau. Dua pengusaha muda ini lantas memberi namanya Gaudi.

Natha sendiri sudah akrab dengan garmen. Ia sempat terjun di bisnis garmen. Melalui usaha dijalankan sang ayah. Nathalia membantunya berjualan pakaian grosir. Ketika produk- produk asing mulai bercokol di pusat perbelanjaan, maka keduanya masih bukanlah siapa- siapa.

Natha dan Janet kemudian meminjam uang ke orang tua. Keduanya sepakat membangun gerai busana. Yang mereka beri nama Gaudi -merujuk nama arsitektur dunia-, yang mana pertama kali ada di Plasa Semanggi, Jakarta, pada 2004 -an. Cuma berdua mengerjakan gerai mereka sendiri semuanya!

Mereka mengincar wanita remaja dan pekerja muda. Dari formal hingga santai dikerjakan Gaudi, dimana dari mendesain baju, memilih bahan, menentukan konveksi, dikerjakan mereka. Tidak cuma itu juga mereka mendekorasi gerai mereka sendiri. Dua kepala bersama ikutan terjun mengurusi semua soal pelayanan pula.

Akhirnya mereka memiliki pegawai sendiri, yakni ada empat orang di bagian produksi dan seorang penjaga gerai. Respon masyarakat terhadap produk Gaudi bagus. Lebih bagus lagi karena Janet membekali pegawai aneka pengetahuan fasion. Tujuannya agar mereka juga menjadi konsultan fasion kepada pelanggan.

Penjualan Gaudi juga mulai bagus. Kemudian Janet dan Nathan sepakat membuka beberapa gerai lagi di Jakarta. Masuk tahun kedua, Gaudi sudah memiliki tempat di tiga pusat perbelanjaan di Jakarta.

"Justru, pemilik mal yang memburu kami," jelas Janet bersemangat. Pengembangan tidak perlu capai mencari tempat. Karena pihak mal sudah mengakui akan kualitas Gaudi.

Tidak perlu repot mencari tempat baru. Memasuki tahun ketiga mereka sudah membayar utang. Hutang dari kedua orang tua terbayar lunas dari bisnis mereka. Bisnis Gaudi berjalan mengalir layaknya sungai. Mereka makin update soal fasion. Tidak cuma remaja, wanita karir, juga termasuk aksesoris, sampai tas sendiri.

Pertembuhan bisnis mereka membawa nama Gaudi mulai merambah kota lain, seperti Medan, Semarang, Denpasar, Palembang, Makassar, dan Balikpapan. Tidak patah semangat meski persaingan berjualan di mal sangat ketat. Setiap kota pilihan mereka memiliki nilai beli baik.

Bisnis update


Harga jualnya antara Rp.88 ribu hingga Rp.250 ribu. Pelanggan juga akan selalu dimanjakan. Keduanya siap menghadirkan 40 item baru setiap bulan. Konsep gerai juga dibuat unik. Gerai didandani menurut tema yang akan dikonsep setiap tiga tahun sekali. Tujuannya agar pelanggan tidak bosan akan kehadiran Gaudi.

Masalah tetap ada meski mereka telah sukses. Suatu ketika mereka pernah memindahkan gerai. Mereka jadi harus mendekor ulang semuanya. Padahal keduanya mengaku tidak pernah telat bayar sewa. Semuanya karena pihal mal tidak mau mendukung. Padahal gerai keduanya selalu ramai didatangi pengunjung selalu.

Walaupun begitu keduanya tetap berusaha. Memastikan bahwa gerai mereka tidak kalah. Dengan brand dari luar negeri yang lebih dahulu bercokol. Natha bercerita bahwa mereka sempat tidak laku. Produknya tidak terjual dan menumpuk ketika awal usaha.

Mereka harus bekerja keras menghabiskan stok. Namun pengalaman tersebut mengajari bagaimana caranya mengatur stok. Kini mereka menyetok buat 26 gerai, berisi 700 item barang setiap produknya. Mereka menggaet konveksi Hong Kong tetapi tidak lupa akan konveksi lokal.

"Sering kali buat warna- warna tertentu belum bisa diproduksi di Indonesia," jelas Natha.

Pengerjaan konveksi Hong Kong juga dikenal rapih. Agar produk tetap berkualitas, sampai sekarang saja Janet memilih bahan sendiri yang dipakai Gaudi. Janet juga ikutan mendesain motif pakaian. Juga termasuk rajin mengganti label pakaian dan tas pembungkus Gaudi.

Mereka mempekerjakan 300 karyawan. Menghasilkan omzet mencapai Rp.50 miliar. Walaupun sudah bisa dibilang sukses. Brand lokal ini masih memiliki ambisi. Mereka ingin menyamakan brand mereka dengan brand luar negeri. Kedua sahabat ini berambisi mengibarkan bendera Gaudi ke kancah internasional.

"Kami mempunyai mimpi seperti Zara," ujar Natha. Target mereka sekarang membuka di Bangkok dan juga Singapura tiga tahun kedepan. Mempelajari bagaimana pasar Singapura yang akan menjadi sasaran pertama. Untuk mendukung mereka juga lahir brand baru yakni Heiress.

Selasa, 26 Juli 2016

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


 
Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Contohnya yaitu wanita cantik bernama Sally Giovanny. Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan. 

Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya mampu dirintis sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. Dia juga tidak takut memberi makan Sally.

Bisnis amplop


Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu.

Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.

Dia pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas.

Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang.

Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri.

Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian.

Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya. Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!

Bisnis Trusmi


Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih.

Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. "Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon.

Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya.

Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal.

Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. "Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Sally lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi.

Bisnis nol


Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu.

Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali.

Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. "Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja.

Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. Disisi lain dia juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha.

Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally.

Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Kamis, 21 Juli 2016

Biografi Restu Anggraini Desainer Hijab Muslim Internasional

Profil Pengusaha Restu Anggraini 


 
Berawal dari sosial media kemudian berlanjut sampai manca negara. Siapa sangka sosok mungil tersebut dulunya hanya seorang EO. Kini, siapa tidak kenal Restu Anggraini. Pengusaha muda kali ini memang mulai dari postingan Facebook. Waktu itu namanya sosial media dan blog happening banget buat anak muda.

Tidak mudah baginya menemukan jati diri. Terutama di bisnis fashion, beruntung dia memulai lebih awal dari pesaingnya berbisnis hijab. Tahun 2010 dia bekerja sebagi event organizer, bagian menawarkan produk jadi sudah pengalaman lah. Kreatifitas dituntut selalu dimiliki Restu sebagai EO, namun siapa sangka arah tujuan berubah.

Dia bersema tiga orang kawan memilih bisnis hijab. Perempuan Jakarta, 18 Maret 1987, memang hobinya segala sesuatu tentang fashion. Dia sering ikutan lomba fashion show dari RT sampai kelurahan. Pernah ia mengikuti lomba desain baju tetapi tidak menang.

Bisnis trendy


Siapa sangka dia yang belum pernah menang lomba desain sukses. Ini karena selama perjalanan dia selalu mengasah keahlian. Disela waktu dia mulai membuat baju kerja kepada rekan kerjanya. Teman kantor mulai merasa Restu memiliki kelebihan. Aliran pesanan mulai meluap membuat optimisme kepada Restu.

Tahun 2010, seperti penulisa tulis diatas, dia memutuskan keluar dari pekerjaan. Dia berharap nanti berbisnis fasion sendiri. Sadar bahwa keahliannya masih kurang Restu tidak buru- buru. Ia mengambil kursus desain dulu di Esmod, Jakarta.

Keputusannya tepat pada 2011 lahirlah brand RA by Restu. Wanita berhijab yang akrab dipanggil Etu ini lalu mulai memasarkan produknya online. "Awalnya itu aku jualan lewat teman- teman terus makin kesini sosial media lagi happening, Facebook, blog, dari situ terus meluas," paparnya kepada Dream.co.id

Bermodal uang Rp3 juta perjalanan Etu dimulai. Mereka mulai mendesain dress, outer, celana, sampai rok. Namun dia cuma membatasi tidak lebih 10 buah masing- masing. Kemudian diunggah ke Facebook lantas mendapatkan respon positif. Sebuah kepuasan bajunya disukai, apalagi desainer baju muslim belum banyak.

Ia sendiri sulit menyatuka tiga kepala. Selera tiga sekawan ini memang beda soal fashion. Beruntung konsep klasik hijab mereka usung disambut baik. Bisnis yang berawal sebagai sambilan ini dijalankan maki bersuka hati. Mereka mulai ikutan bazar di mal. Walau minoritas baju muslim mereka laris manis meski ketat.

Etu semakin yakin menekuni bisnis fashion. Kenekatan Etu didukung kemauan belajar terus. Alhasil sampai ke tahun 2014, dia meluncurkan brand lagi bernama ETU, antusias mengiringi tumbuhnya bisnis hijab yang diprakarsai Restu Anggreini ini.

Bisnis hijab


Memulai berbisnis ketika hijab belum seramai sekarang. Etu menemukan tujuannya dan terus berkembang lagi. Wanita yang berhijab sejak bangku SMP ini, mengakui hijab bukanlah sekedar fasion baginya. Bagi seorang desainer menjadi pembuat baju muslimah merupakan ladang syiar.

Kaedah baju sesuai syari seperti tidak ketat. Serta bagaimana menjadikan ini pakaian sehari- hari. Dia lebih mencontohkan ke dirinya sendiri sebagai wanita karir. Memang susah membuat pakaian kerja muslimah kala dia bekerja dulu. Inspirasi justru datang dari pakaian muslim pria dengan cutting enak, kancing, dan kupnat.

Kan pakaian muslim pria longgar. Namun dipadu padankan dengan warna- warna cerah. Etu mencoba untuk keluar dari kesan hijab monoton. Sayangnya, dalam perjalanan kedua teman Etu tidak dapat melanjutkan perjalanan bersama. Etu tetap mantab melanjutkan berbisnis hijab sendirian dan sampai ke titik tertingginya.

Titik puncaknya mungkin ketika memasuki Jakarta Fashion Week 2015. Namanya sebagai desainer pakaian muslim mulai diakui. Dia juga sempatkan belajar di Pale Art Studio. Berlanjut dia mengikuti program yang bertajuk Indonesia Fashion Forward. Brand ETU sendiri digadang sebagai brand utamanya ke pasar luar negeri.

Etu lantas tampil di ajang bernama Virgin Australia Melbourne Fashion Festival 2016. Namanya didukung segenap lapisan masyarakat dan pemerintahan, seperti dari Perusahaan Gas Negera.

Tidak mudah berbisnis hijab


Dia memulai pusat produksi di Bandung. Begitu permintaan meningkat, dia memindahkan produksinya ke Jakarta. Pengalaman dijiplak sudah menjadi hal biasa. Saking seringnya, maka Etu disarankan buat langsung mendaftarkan hak cipta. Jangan setengah- setengah mengurus ijin usaha kamu dafatarkan merek di Dirjen HAKI.

Agar memperlancarkan usahanya dibidang fasion. Ia mengangkat pegawai asal Malang dan Pekalongan, yang dianggapnya baik soal menjahit. Sekarang sudah gampang karena sudah kenal satu sama lain. Inilah kenapa usaha Etu semakin berkembang karena prinsip kekeluargaan diusung soal perekrutan pegawainya.

Kan enak kalau penjahit satu sama lain sudah kenal. Konsep kasual diangkat Etu melalui brand RA, buat formalnya maka ETU menjadi cakupan. Inti desainnya tidak bertumpuk- tumpuk. Siluet penampilan dibikin minimalis namun sesuai kaidah Islami.

Jika melihat kesuksesan Etu sekarang pasti kedua temannya sayang. Andai saja keduanya memilih melepas pekerja. Andai mereka tidak ikut pindah kantor. Namun, justru ketika seorang Etu "terpaksa", cita rasanya semakin tergali lebih dalam berekspolrasi dibanding ketika dia bekerja bertiga.

Dia juga ikutan Hijabers Community. Nah melalui itulah, dia membukan toko pertama yakni di Muse 101 FX Plaza Sudirman, Jakarta Selatan. Enaknya memiliki toko asli ketimbang toko online: Dia lebih leluasa buat berpromosi dari mulut ke mulut. Juga ada cross costumer dari dua brand bikinannya saling melengkapi.

Konsep hijab diberikan Etu adalah tidak cuma hijaber. Tidak cuma mereka yang sudah berhijab. Tetapi bagi mereka yang mau berhijab sudah dia sediakan. Tidak cuma toko sendiri, ia menyulap halaman belakang rumahnya, menjadi tempat produksi dari penjahitan dan finishing dikerjakan puluhan karyawan.

Fasion masa depan


"Pebisnis itu harus satu tujuan dengan para pegawainya," ungkapnya. Ia tidak memposisikan sebagai atasan mereka. Mereka dianggap Etu menjadi patner kerja. Ibu dua anak ini dibantu sang suami memperbesar lagi pasaran bisnis.Ia selalu meriset market place Indonesia serta trend kekinian.

Bahkan sudah mempunyai rencana bisnis hingga ke 2030 mendatang. Ia tidak mencari uang semata. Tetapi bagaimana mengembangkan masyarakat dalam bidang fasion. Terbukti dia tercatat melakukan kerja sama dengan perusahaan Jepang, mengembangkan produk berbahan daur ulang plastik atau ultra sweet.

Berkat visi go internasional, dia pernah mengikuti Tokyo Fashion Week 2015 dan Mercedez- Benz Fashion Week Tokyo (MBFWT). Seperti dilansir dari gomuslim.co.id dia menampilkan 10 busana dari 12 busana dia siapkan. Tidak cuma berbisnis dia juga fokus merubah fasion itu sendiri secara keseluruhan bukan cuma hijab.

Contohnya ETU bekerja sama dengan Toray Industries asal Jepang. Ia memanfaatkan teknologi mereka buat membuat pakaian muslim. Nama Ultrasuede adalah bahan kulit sintetis yang menyamai kulit asli. Dia sungguh beruntung mendapatkan akses ke teknologi dan event di Jepang waktu itu secara keseluruhan.

Tetapi disayangkan, untuk masalah desain, dia terkendala akan penjiplakan model. Kualitas barang pun aspal karena harganya murah. Awalnya dia sebal tetapi mau bagaimana lagi. Dia menganggap saja bahwa produk bikinannya disukai masyarakat semua. Meski kini sukses mendapatkan dukungan dia sempat jatuh bangun sendirian.

Ia sempat dipandang sebelah mata ketika akan go internasional. Hanya kepercayaan bahwa produk miliknya serta Indonesia pada umumnya layak mendapatkan tempat. Inilah modal Etu tetap berusaha menggapai visi bisnisnya sampai ke luar negeri. Ia menyadari sifat meremehkan justru milik orang Indonesia sendiri.

Alhasil terciptalah pemikiran pesimis dikalangan pengusaha muda sendiri. Etu sendiri memiliki keinginan lebih dari sekedar menciptakan. Dia ingin menggelar fashion show sendiri ke luar negeri. Perasaan ini dibawah jadi dia bisa menghilangkan pesimisme sendiri dan masyarakat terhadap kualitas produk dalam negeri.

Ia menghimbau masyarakat buat percaya kepada karya anak bangsa. Lebih lanjut dia memberikan wejangan buat pengusaha muda seperti kita bahwa potensi bisnis fasion masih luas. Janganlah cepat puas akan hasil, dan beranilah mengambil keputusan mendalami kewirausahaan bukan sekedar want to be entrepreneur.

Menjahitkan Rok di Instagram Chandra Annisa

Profil Pengusaha Chandra Annisa 


 
Sukses jualan rok Chandra Annisa bukan biasa. Karena pengusaha muda satu ini menciptakan rok custom. Usaha ber- brand HDCK ini mampu merebut perhatian masyarakat. Padahal tuturnya bahwa usaha ini mulai dengan bermodal minimalis. Yaknilah apapun selama kamu bekerja keras meski modal minim tidak masalah.

Dia berkisah bermodal Rp.35 ribu. Awal Annisa merasa berjualan rok punya prospektif. Lebih- lebih bisa membuat rok sendiri. Kelihatan mudah dan bahannya sederhana. Sejak 2014, dia lantas menawarkan bisnis berkonsep rok custom, yang mana rok dipesan sesuai keinginan, dari ukuran, bahan, dan modelnya.

Bukankah strategi tersebut bukan hal baru. Kebanyakan wanita pasti sudah terbiasa menjahitkan sendiri ke tukang jahit. Strategi Annisa ditambah memanfaatkan internet mempermudah transaksi.

Bisnis internet


Uang Rp.35 ribu dibelikan bahan sifon. Kemudian kain dijahitnya dan itulah rok contoh buat dipamerkan ke sosial media. Contoh rok dipamerkan ke teman- teman. Mereka tertarik lantas memesan. Lantaran awalnya tidak ada modal, Annisa mengakali dengan mengisyaratkan uang muka 50%, dari harga satuannya itu Rp.55 ribu.

Rok ber brand HDCK memiliki kepanjangan hope, do, create, dan keep alive. Inilah visi dari bisnis yang ia jalankan sampai sekarang. Konsep open order diberikan beserta periode waktu tertentu. Rok dibuat sekitar 2 hari sampai 5 harian. Pemesanan pun meningkat drastis ketika memasuki masa Ramadhan.


Sukses Annisa bukan tanpa sebab. Dia mencoba mempermudah jasa menjahitkan. Model contoh kemudian ia kembangkan menjadi 15 model. Bahan digunakan mulai kain sifon Jepang, kain satin valvet, satin Jepang, atupun kain jersey, katun, tutu, sandwash dan wedges.

Harga rok sudah jadi berkisar Rp.45 ribu sampai Rp.120 ribu. Untung diperoleh Annisa lumayan mencapai 40% -nya. Pemasaran paling utama melalui Instagram @hdckhardware, juga melalui aneka bazar seperti hal di car free day Malang. Atau kegiatan lainnya, yang bertujuan menonjolkan brand miliknya itu.

Dalam event tertentu ia memberikan potongan khusus. Diskon termasuk buat pemesanan 3 potong rok yang khusus dijahitkan ini. Meski permintaan membludak, Annisa mengaku masih terbatas memproduksi. Patut disayangkan, namun dia optimis mampu mengembangkan bisnisnya.

Ia pun bertekat memperbanyak produksi lewat mesin baru. Annisa tengah mengumpulkan modal. Dia kelak berharap mampu memproduksi rok satu stok aneka ukuran. Jadilah pelanggan tidak butuh waktu lama buat menunggu jahitan. Dalam sebulan dia bisa membuat beberapa kemudian diupload ke sosial media internet.

Persaingan terbilang super ketat buat bisnis rok. Itulah kenapa dia menghadirkan rok custom. Memiliki satu dimensi berbeda soal desain. Pelayanan konsumen juga diperhatikan Annisa. Peluang masih terbuka karena orang butuh pakaian terutama wanita. Produk fasion memang tidak pernah akan mati jika ke depan.

"Kuncinya harus mengikuti perkembangan fasion," ujarnya. Carilah celah diantara keinginan konsumen ke depannya.

Minggu, 17 Juli 2016

Situs Penyewaan Perlengkapan Bayi Inspirasi

Profil Pengusaha Rinastuti Trapsila Putri 


 
Bisnis penyewaan apa belum banyak. Mungkin jawabannya bisnis penyewaan perlengkapan bayi. Ini kisah seorang pengusaha bernama Rinastuti Trapsila Putri. Yang berbisnis penyewaan perlengkapan bayi lewat media internet. Dia membaca dilema ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan sang bayi.

Bukanlah bohong harga kebutuhan bayi lebih mahal. Harga perlengkapan bayi bahkan lebih mahal dibanding harga susu formula. Sebut saja boks bayi, kereta dorong bayi, atau tempat duduk bayi buat mobil, alat bantu belajar bayi, atau meja bayi tinggi, kesemuanya itu mahal kan.

Dilema tersebut dibaca Rina melalui bisnis ini. Tambahan lagi, padahal kalau beli baru, usia pakai juga sudah tanggung tidak lebih dari dua tahun. Kan dibanding keluar banyak uang dan sia- sia, mending kita menyewa ke Rina begitulah kiranya.

Bisnis jarang


Selain menggerus kantong juga makan tempat. Apalagi kalau sudah tidak dipakai mau ditaruh dimana nanti. "Solusi ya sewa perlengkapan bayi! Jauh lebih ekonomis," paparnya. Kalau harga sewa dijamin lebih murah. Kalau sudah tidak terpakai lagi ya tinggal dikembalikan ke Rina.

Dilema ibu muda mengilhami Bunda Rina. Target awal Rina adalah masyarakat Kota Surabaya. Lewat satu situs bernama www.sewaperlengkapanbayisurabaya.com, dirinya menyiapkan sewa perlengakapan mulai dari baby walker, baby bouncer, boks bayi, boks bayi oval, buggy walker, carseat, high chair, stoller juga.

Dia mengatakan tinggal telephon saja. Barang nanti akan diantarkan. Kalaupun sudah habis masa sewa kan tinggal telephon memperpanjang. Rina juga mengatakan pihaknya akan datang sendiri. Kalau sudah waktu menyewa habis akan ada orang mengambil ke rumah, mudah kan?

Berbagai perlengkapan tinggal ditaruh di website. Kontak buat dihubungi juga sudah ada. Kalau ditanya apa kiat sukses pengusahanya: Mengalir saja mengikuti usaha. Tidak ada kiat khusus. Hal terpenting menurutnya justru di pelayanan. Haruslah supel dan ramah kepada pelanggan yang bertanya.

Tidak cuma menghubungi buat menyewa. Terkadang pelanggan malah ikutan curhat rumah tangga. Dengan senang hati Bunda Rini mendengarkan. "Syukur- syukur bisa memberi jalan keluar," tambahnya. Hubungan kekeluargaan menjadi landasan bisnis Rini. Kehangatan Bunda membawa promosi baik dari mulut ke mulut.

Promosi sederhana tersebut ternyata ampuh. Dia sendiri enggan berkata soal keuntungan. Namun, yakinlah bahwa usaha ini terbilang masih luas pasarnya. Dan masih dapat dikembangkan ke kota- kota lain. Lumayan buat ibu lain membantu suami agar dapur keluarga mengepul.

Sabtu, 16 Juli 2016

Layanan Spa Bayi Bisnis Unik Bergengsi Masa Kini

Profil Pengusaha Febiola Rina Suhartiwi 



Pengalaman Febiola Rina Suhartiwi, pemilik usaha yang bernama Angela Baby Spa, bisnis spa bayi memiliki tingkat kesulitan tergantung kawasan. Pengusaha asal Bandung ini menjelaskan masyarakat memiliki prefensi. Walaupun kita tingkat konsumsi masyarakat tinggi, mereka mendahulukan makanan atau ritel dibanding jasa.

Butuh pemasaran ekstra sabar buat berbisnis jasa. Baby spa sendiri bagi masyarakat Bandung masih awam waktu itu. Ia mengisahkan sudah banyak baby spa di kawasannya. Daerah Taman Topo Indah 2 Blok D1 no 18, Bandung Selatan, yang belum terlalu diminati masyarakat.

Masyarakat Bandung sendiri lebih tertarik belanja kuliner. Berbanding terbalik di Jakarta, dimana baby spa sudah menjamur dan memiliki pelanggan tetap tersendiri. Tetapi justru Febi mencoba membangun brand -nya dari ketidak biasaan.

Butuh waktu lama, aneka promosi digencarkan Febi butuh pendekatan agar masyarakat sadar manfaat. Dia melakukan aneka edukasi ke masyarakat mengenai baby spa.

Bisnis pengalaman


Awalnya dia hanya pegawai di rumah sakit ST Boromeus. Pijat bayi ternyata penting untuk kebugaran dan kesehatan bayi. Selama bekerja dia mulai menambung hingga mengumpulkan uang Rp.350 juta. Dia gunakan sewa tempat, ikut pelatihan dan sertifikasi pijat bayi dan ibu hamil.

Di rumah sakit sendiri pijat bayi sering dilakukan. "Saya pikir kenapa tidak membuka usaha spa bayi sekalian saja," tandasnya. Pertama kali, usaha spa bayi belum seramai sekarang, dia merupakan perintis di Bandung Selatan.

Agar mampu masuk ke target pasar, Febi bekerja sama dengan perusahaan bayi macam Ace Hardware, Chatime, ataupun baby shop kawasan Bandung. Dari outlet mereka menyebarkan brosur serta voucher ke masyarakat luas. Termasuk voucher diskon khusus buat member outlet Febi ajak kerja sama.

Pelayanan memang terjangkau. Sudah termasuk diskon 30% buat treatment senilai Rp.75 ribu sampai ke bulan tertentu. "Promosi tidak kalah penting," saran Febi. Layanan seperti home care atau treatment datang ke rumah menjadi andalan. Inilah kelebihan usaha dijalankan Febi dibanding usaha spa lainnya.

Memang hal tersebut dirancang buat ibu- ibu yang malas keluar. Kan ada orang tua enggan membawa sang bayi karena takut hitam. Khususnya buat bayi baru lahir, yang bahkan tali pusarnya belum lepas. Pintarnya Febi, dia merekrut teman sesama bidan, bersama dua orang terapis keduanya memberika layanan ekstra.

Ini termasuk layanan memandikan, menjemur, ditambah memijat bayi bahkan sejak lahir. Selain buat si bayi ternyata Angela Baby Spa juga menjakan ibunya. Pelanggan Febi kebanyakan mereka ibu baru yang baru melahirkan putra pertamanya.

Radius pelayanan home care masih sebatas 5km dari lokasi usaha Febi. Soal harga masih sama treatment biasa. Hanya Febi menambahkan biaya pengganti ongkos saja. Nah berkat aneka strategi tersebut janganlah kaget kalau sekarang Angela Baby Spa menjadi usaha besar.

Kurang dari setahun, usaha dijalankan Febi sudah menjaring 500 pelanggan terdaftar, dimana per- harinya bisa melayani minimal lima orang. Empat layanan utama berupa pijat relaksasi, pijat konstipasi, pijat demam dan batuk, baby gym serta baby spa.

Ia juga membuka kids spa berfurnitur buah- buahan, atau bunga. Kalu satu ini layanan meliputi pijat, creambath, spa di bathtub, dan facial. Untuk ibu- ibunya meliputi pijat hamil, pijat setelah melahirkan, senam hamil, dan perawatan payudara. Biaya termurah seharga Rp.50 ribu, dan laba bersih 60% dari omzetnya.

Bagi Febiola berbisnis baby spa menarik. Meski tidak seperti rumah sakit dimana melayani urgensi. Usaha dijalankan terbukti membawa pasien tetap. Tidak sampai penuh, namun masyarakat melihat usaha dijalankan Febi sebagai rileksasi di padatnya kota. Menjadi alternatif merawat kesahatan ibu dan bayi jaman sekarang.

Berkembangnya jaman baby spa sudah menjadi gaya hidup. Ibu akan bangga jika bayinya dibawa ke tempat baby spa. Diluar gengsi, baby spa memiliki manfaat jauh lebih tinggi, dimana postur bayi menjadi baik, jarang sakit, tidak rewel, dan banyak lagi, tutup wanita 46 tahun ini.

Jumat, 15 Juli 2016

Jualan Aksesori Bayi Beboo Awalnya Cuma Laku Dua Juta

Profil Pengusaha Syahrial Suryandana 



Menjadi pengusaha tidak harus monoton. Tidak melulu usaha kuliner ataupun pakaian wanira -seperti hijab atau batik. Kami mencatat beberapa pengusaha sukses meraup untung lewat usaha aksesoris bayi. Salah satunya pengusaha bernama Syahrial Suryandana, pemilik brand Beboo, bisnis tempat duduk khusus bayi.

Pria Surabaya, Jawa Timur, yang mengawali usahanya dari mainan bayi. Pengusaha satu ini menemukan ide menganai alat memberi nyaman bayi. Beboo memasarkan aksesoris bayi berumur sampai 3 tahun. Produk bikinan Syahrial berbahan kain aman, mulai produk baby harness, topi menyusui, kemudian gendongan bayi.

Kesemuanya merupakan produk buatan lokal. Dimulai sejak November 2011, bermodal gajinya sebagai seorang karyawan. Kain dirajut sendiri dibantu karyawan tambahan. Namun, ujung- ujungnya kesulitan untuk menjaga kualitas, alhasil dia menyerahkan pembuatan seluruhnya ke konveksi.


Bermula dia membeli mesin dahulu. Kemudian mendapatkan penjahit, dia mulai memproduksi sendiri namun susah menjaga kualitas. Syahrial lantas memberikan pembuatan ke konveksi. Jujur modal usaha dijalankan olehnya tinggi yakni Rp.50 juta. Itupun ternyata masih harus nambah Rp.10 juta.

Sayangnya, dalam produksi Beboo tidak untung, malah harus mengadakan aneka promosi, kemudian datang ke pameran bayi. Memajukan usaha sendirian bukanlah hal mudah. Apalagi Syahrial mengusus usaha yang berbasis lokal. Usahanya hanya mengantungi omzet Rp.2 jutaan per- bulan.

Tetapi dia mau langsung menyerah. Aneka cara promosi dilakukan agar brand -nya dikenali. Hasilnya ya dia mampu menaikan omzet sampai Rp.40 juta per- bulan. Dia menyebut omzet stabil antara Rp.30 juta sampai Rp.40 juta. "Kadang pernah Rp.20 juta," kenangnya. Namun dia mampu mengatasi semua melalui promosi tepat.

Dia mengatakan usahanya akan laris memasuki akhir tahun. Nah kalau lebaran malahan susah menjual lebih banyak -berbending bisnis pakaian dewasa. Pemasaran fokus lima pulau Indonesia, ditambah Malayasia dan Filipina. Untuk sasaran pasar mereka ibu muda yang barulah berumah tangga.

Pemasaran melalui online di www.bebooland.com. Penjualan menjadi praktis, cocok buat ibu muda paham akan teknologi, konsumen tidak perlu repot ke toko, cukuplah memesan melalui internet. Pasarnya ibu muda sibuk tidak mau diurus pihak ketiga. Memang produk Beboo mudah penyimpananannya dibanding lain.

Cakupan lebih luas menjadi alasan Syahrial fokus online. Penjualan ke luar negeri digunakan memanfaatkan pos. Perlengkapan bayi Beboo dijual antara Rp.157 ribu sampai Rp.250 ribu. Paling murah adalah produk topi wrape, atau topi khusus ibu menyusui. Topi tersebut digunakan ke bayi agar dapat disusui.

Mimpi besar Syahrial bagaimana memperluas cakupan produk Beboo. Termasuk memperluas pasaran ke bayi umur sampai 5 tahun.

Rabu, 06 Juli 2016

Rendang Resep Nenek Enaknya Omzet 300 Juta

Profil Pengusaha Ivan Daryana 



Bisnis rendang memang menguntungkan. Semenjak namanya masuk dalam daftar makanan terenak di dunia. Rendang kini sudah merambah pasar ekspor. Inilah kisah suami- istri pembuat rendang enak. Kisah seorang Ivan Daryana (40) dan istrinya, Intan Rahmatillah, tak menyangka mampu meraup omzet hingga ratusan juta.

Alkisah Ivan hanyalah pegawai biasa bekerja keras. Gajinya mapan bekerja di sebuah perusahaan besar. Ia meski begitu meresa tidak nyaman. Memang harusnya cukuplah uang pekerjaan sebagai karyawan Garuda Maintenance Facility (GMF- AeroAsia). Dia sudah cukup bergelimangan harta ketika menjadi karyawan.

Namun, sekali lagi, terasa menjanggal dalam benak Ivan. Meski bergaji tinggi pekerjaan tersebut dirasa ia tidak cocok. Padahal Ivan bekerja sesuai bidang dipelajarinya sewaktu kuliah. Dia sendiri adalah lulusan S-2 ITB Teknik Industri, dan memilih keluar resign, kembali ke kampung halaman di Bandung tercinta.

Ia ingin memulai hidup baru. Keingan terkuat ialah membuka usaha sendiri. Namun tidak semudah berkata, dia tidak pernah mewujudkannya. Keinginan tidak ditunjang keadaan. Alhasil hanya menjadi pengangguran tidak bekerja. Sampai Ivan ditawari mengajar menjadi dosen sebuah perguruan tinggi swasta.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mengajar dulu," kenang Ivan. Menurut Indotrading.com sebagai dosen, maka pendapatan didapat berbeda ketika menjadi pegawai. Bukannya naik malah turun pendapatan Ivan tidak besar.

Bedanya dia tidak terjebak rutinitas kantor. Jam mengajar pun lebih fleksibel. Karena kebebasan itulah dia mampu membangun rencana mau usaha apa. Kebanyakan dosen memilih mengerjakan proyek. Tetapi dia lebih memilih membuka usaha sendiri.

Sayangnya ide bisnis tidak kunjung muncul. Pengennya berbisnis bermodal sedikit tetapi menghasilkan. Ia akhirnya mendapatkan ide ketika mudik ke rumah nenek. Nenek sang istri yang merupakan keturunan asli Padang. Ketika itu dia sedang menikmati makan di rumah nenek. "Disana disajikan rendang unik," ia lanjut.

"Rendang berbentuk kubus, warna gelap nyaris hitam, dan kering tidak ada minyak," imbuhnya. Walau dia sempat ragu mencicipi tetapi rasanya luar biasa. Rendang buatan nenek sangat enak. Rasanya berbeda dari rendang selama ini dia cicipi.

Berbisnis resep


Istrinya Intan berkata itu merupakan resep keluarga. Katanya nenek Intan justru rendang asli malah begitu. Dia kemudian mengenang dulu. Ayah Ivan pernah meminta rendang bikinan nenek istrinya. Dan ayah Ivan bilang kalau rendang seperti ini susah dicari, dan hanya ada di Padang.

Yah padalah dia sudah lama mendengar tentang rendang tersebut. Namun barulah sadar bahwa rengdang ini benar- benar berbeda. Dan ketika dia mencicipi pertama kali, justru ketika dia membutuhkan ide bisnis maka inilah jawaban atas kengototan seorang Ivan Diryana.

Ayah Ivan adalah seorang dosen yang suka mengerjakan proyek ke Padang. Dari sanalah ayah sadar akan cita rasa sebenarnya rendang Padang, berbeda dengan anaknya Ivan. Singkat ceritanya dia memutuskan buat berjualan rendang. Ide bisnis ini ditelusuri lewat sang istri tentang bagaimana cara membuat rendangnya.

Sang istri kemudian meminta resep bagaimana cara membuatnya. Butuh waktu hingga Intan dinyatakan lulus dari sang nenek. Karena resep turun menurun Intan butuh restu keluarga buat dikomersilkan. Beruntung Ivan diperbolehkan dan akhirnya bisa tersenyum lepas.

Usaha ini kemudian dimulai tahun 2011 berlabel Rendang Nenek. Usaha mereka membuat rendang daging bermodal resep nenek. Brand -nya sederhana yaitu rendang Padang, yang dibikin merupakan hasil resep turun- menurun dari sang nenek. Dibutuhkan modal Rp.1 juta diproduksi sendiri dengan peralatan seadanya.

Ivan tidak memiliki mesin apapun. Kemasan sederhana plastik membuatnya bertahan beberapa hari saja. Ia tidak pantang menyerah. Hasil berjualan disisihkan diputarkan menjadi modal. Menabung sampai mereka punya 1 freezer, 2 vacuum sealer, dan 12 kompor 24 titik api.

Berbekal itu kemasan lebih bagus sehingga awet sampai 6 bulan. Ivan benar- benar memperhatikan betul soal pengemasan. Rendang Nenek memiliki 7 varian rasa yaitu ada rendang paru, daging, hati, limpa, ayam suwir, jengkol bahkan jamur tiram.

Omzetnya rata- rata Rp.100 juta, bulan puasa mencapai Rp.300 juta, dan memproduksi kurang lebih 1 ton daging. Ini belum termasuk varian rasa. Dengan cekatan dia langsung memilih mengetes pasar online lewat situs gratisan Multiply. Ketika belum berbungkus benar Ivan sempat deg- degan ketika berjualan online.

"Khawatir terlambat keburu basi," kenangnya.

Berkembang pesat


Perubahan kemasan serta proses produksi merubah segalanya. Ivan juga memperbaruhi sistem penjualan. Ia tidak lagi khawatir cuma kuat seminggu. Kini pemasaran online melalui website berbayar dot com. Kebetulan dia paham membuat website sedikit. Maka jadilah website sederhana sementara www.rendangnenek.com.

Perlahan tapi pasti mengumpulkan uang. Dia menabung agar bisa membeli vacuum sealer loh. Alat berkelas industri membuatnya bukan sekedar UMKM. Dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan lewat serangaki pelatihan pengemasan produk.

Rendang ayam dan sapi mampu bertahan 6 bulan. Sementara rendang lainnya bertahan sampai sebulanan. Hanya bermodal uang gaji dosen dan untung dari penjualan, Ivan merangkak menjadi pengusaha berkelas nasional.

Usaha Rendang Nenek terus berkembang. Dulu cuma berbekal dapur, sebuah kompor, dan kulkas pribadi buat menyimpan daging. Sekarang dia merombak ruang bawah rumahnya menjadi pabrik. Yang mana bisa mengolah sampai 50kg daging per- hari.

"Alhamdulillah perlahan kami terus kembangkan usaha Rendang Nenek ini," jelasnya. Kekuatan dalam hal pengawasan produksi menjadi andalan.

Penjualan sudah menyebar sampai Aceh dan Papua. Untuk pembelian tersebar datangnya dari Jabodetabek dan Bandung. Penjualan ke luar negeri seperti Brunei Darusalam, Jepang, Prancis, Jerman, dan negara asal Eropa.

Marketing unik


Dia menjual ke luar negeri lewat jalur nitip. Mereka pembeli setia yang rela bayar mahal. Rendang Nenek lalu berkeliling ke negara- negara tersebut. Bersama ada 8- 10 orang pegawai direkrut memenuhi pemesanan Ramadhan sampai Lebaran. Mereka senang karena mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tambahan.

Kebanyakan mereka merupakan lulusan SD atau SMP. Mereka itu ibu- ibu bersuamikan tukang bangunan, tukang ojek atau sudah tidak punya. Semua berkat kegigihan sekarang bisa membantu banyak orang biar bisa makan.

Ia berkisah awalnya banyak orang gagal paham. Waktu itu belum seramai sekarang. Orang belum paham apa itu rendang kemasan. Memang rendang bisa dikemas seperti mie instan. Kemudian datang dari apakah rendang buatannya halal dimakan. Apalagi waktu itu dia masih memproses mengembangkan penjualan dulu.

Modalnya pas- pasan bukanlah kendala baginya. Dia bertahap membiayai semua bermodal gaji dosen. Ivan menghadapi masalah ditribusi sampai harga sapi mahal. "Hal paling menyulitkan ketika harga daging sapi yang terus meningkat," jelasnya.

Usahanya membesar karena fokus ke masa depan. Dia bahkan berhasrat agar rendangnya go international. Tetapi sebelum itu dia ingin rendangnya menyebar sekala nasional dulu. Baginya pasar lokal masih belum dia kelola baik. Maka dia menargetkan agar mampu bersaing masuk ke pasar retailer- retailer modern.

Kunci sukses


Konsistensi merupakan kunci sukses lain. Sukses juga jangan sampai membuat kamu sombong. Sebelum ia mengerjakan Rendang Nenek. Ditelisik oleh IndoTrading ternyata dia pernah berbisnis lain. Tepatnya tidak jelas apa, tetapi dia gagal dikarenakan tidak konsisten.

Berkat dukungan istri maka dia mampu tetap konsisten. Jangan berharap untung di tahun pertama. Janganlah fokus mendapatkan keuntungan sebesarnya. Janganlah berpindah ke usaha lain harus benar- benar jalannya benar dulu. Bangunlah sistem lakukan aneka perbaikan dalam berbagai hal. "Profinya Insha Allah mengikuti."

Perhitungan matang juga tidak dapat dipungkiri. Perhatikan segmen pasar, Ivan mengingatkan bahwa masih banyak UMKM yang ugal- ugalan soal penjualan. Pemasaran bukan soal promosi saja. Tetapi soal nantinya membangun daya saing. Belajarlah banyak teori pemasaran kemudian praktikan ke bisnis langsung.

Berkat itulah, kini, mereka merambah ritel modern melalui supermarket di Bandung, contohnya Setiabudi Supermarket. Juga membukan cara jualan keagenan ada 20 agen menjual ke berbagai daerah.

UMKM tidak cuma membantu pengusaha seperti Ivan. Tetapi memberikan harapan baru bagi ekonomi di Indonesia. Bayangkan dia mempunyai seorang pegawai umur 55 tahun lulusan SD. Maka hanyalah di UKM dirinya masih bisa menghasilkan uang ditengah kebutuhan hidup makin mahal.

Dukungan pemerintah dirasa Ivan dibutuhkan. Adanya kebijakan mendukung UMKM sangat dinantikan. Ia menambahkan kalau ingin Indonesia maju, maka perhatikan UMKM. Katanya kenapa membuang anggaran harusnya berikan ke UMKM bukan cuma pengusaha besar.

Dia menjelaskan janganlah memaksakan. Jangan memaksakan gaya hidup seperti orang kaya. Kalau belum waktunya memiliki barang mahal, jangan dipaksakan. Bekerja keras sampai ke posisi tersebut. Kalau tidak bisa liburan ke luar negeri, ya jangan dipaksakan.

Jangan karena ingin iPhone nekat membeli nyicil. Orang Indonesia kebanyakan gaya hidup dulu, gak apa yang penting kekinian, nyicil sampai tahunan gak masalah. Jangalah bergaya cuma buat persepsi orang saja. Nah, beerkat menabung dan tidak gaya hidup mewah, kini Ivan mampu mengantungi omzet sampai Rp.300 juta!

Jualan Rendang Jengkol Ramadhan Makin Menguntungkan

Profil Pengusaha Margaretha Chrisna Sari 


 
Tidak mudah bagi Margaretha Chrisna Sari berbisnis. Pengalamannya berjualan fasion online panjang tidak sampai membuat sukses. Hingga dia memutuskan banting stir menjadi pengusaha rendang. Namanya dikenal sebagai pemilik rendang Den Lapeh. Kisah Erita perlu kamu tau dimulai dari hobi berjualan pakaian online.

Moment Lebaran memang menguntungkan. Mangkanya dia memilih berbisnis pakaian. Kan ketika Idul Fitri permintaan pakaian naik tinggi. Dia bercerita pengalaman berbisnis online. Masa panen bagi penjual online tetapi kendala tentu besar. Salah satunya bagaimana agar tidak kwalahan menyetok pakaian buat dijual nanti.

Kalender panen usaha menjadi solusi. Erita menjelaskan fungsinya yaitu bagaimana merencanakan matang penjualan khusus di Idul Fitri. Semacam "to do list" mengani hal apa dibutuhkan pengusaha. Dia sendiri biasa membuat dan menerapkan sistem empat tahap:

Tahap pertama, empat bulan sebelum Lebaran, menyiapkan modal buat membeli barang dan juga mulai aktif mengamati trend pasar. Sumber modal buat kamu pengusaha musiman. Cobalah untuk menjual aset ataupun menggadai, menawarkan investasi ke investor, atau juga meminjam ke keluarga buat dipakai dulu.

Bagaimana mencari tau produk yang sedang trend. Ia menyarankan datang ke supermarket atau pasar. Aktif lah mengamati produk ditawarkan. Kalau Erita, dia lebih memilih berkunjung ke Tanah Abang, menjadi satu sumber inspirasi mencari barang.

Erita menyarankan sekaligus membeli barang. Pada tahap kedua, pastikan bahwa sudah aktif kumpulkan barang disimpan sebagai persediaan. Ia mengingatkan biasanya produk fasion akan diborong dari suplier, setidaknya 3 bulan sebelum Ramadhan. Ingat persediaan banyak akan meningkatkan pendapatan kamu.

Beda jualan makanan, kalau jualan produk fasion, kamu bisa menyimpan produk kamu dulu. Kalau tidak laku kamu bisa menyimpan dijual tahun depan. Ia mengingatkan juga jangan salah membeli barang. Jangan salah memilih barang untuk dijual. Pastikan barang kamu jual mengikuti trend dan berkualitas bagus.

Tahap ketiga kamu mengevaluasi stok dua bulan sebelum Ramadhan. Biasanya konsumen pada 2 bulan awal sudah mencari barang. Maka omzet kamu harusnya sudah meningkat berangsur. Jika persediaan meningkat dan dirasa stok tidak mencukupi, baiknya kamu bisa tambah.

Mangget konsinyasi atau mencari suplier tambahan. Carilah alternatif sedini mungkin mengatasi masalah. Dia lalu melanjutkan tahap terakhir. Yakni sebulan sebelum Ramadhan, baiknya pengusaha makin rajin dalam hal mengawasi stok. Pengusaha harus tanggap jika persediaan mulai menipis.

Ia mengingatkan mengambil stok baru berarti barang tidak laku. Ingatlah memastikan bahwa produknya masih bagus. Erita menambahkan agar bisa makin laris: Bukalah toko lebih awal dan tutup lebih akhir. Atau memberikan diskon atau menggelar event khusus.

Pastikan produk dijual habis bagaimanapun usahanya. Kalau masa panen selesai, pengusaha seperti kita bisa meraup omzet berlipat dibanding hari biasa. Kalau sudah kumpul uang perhatikan tiga langkah bijak soal modal berikut: 30% dibelikan aset tetap, 60% gunakan sebagai modal, dan 10% barulah dinikmati sendiri.

Dimulai dua tahun belakangan, pengusaha berhijab ini memang memiliki hobi jualan. Tidak salah jika tiba- tiba dia balik arah ke bisnis rendang. Dia berkisah bahwa bisnis rendang terinspirasi Lebaran. Soal resep dia dapat dari nenek dan yakin akan rasanya mampu menarik perhatian.

"Saya pasarkan melalui online shop saja," dia lanjutkan. Walaupun dia membuat manual penghasilan mampu mencapai diharapkan. Kalau masuk bulan puasa maka permintaan meningkat tajam.

Tidak cuma menjual daging tetapi termasuk menjual jengkol. Erita mengolah tidak cuma jengkol, termasuk daging ayam, paru, apapun yang dapat dia buat menjadi rendang.Paling digemari rendang daging sapi disusul rendang paru. Kemudian disusul adalah rendang jengkol dan rendang ayam.

Bulan Ramadhan, dia dibantu tiga karyawan mampu memproduksi 500 pak. Rendang siap saja yang diberinya nama Rendang Den Lapeh. Rendang siap saji dijual 175gram dan 350gram. Dijual Rp.45 ribu sampai Rp.89 ribu.

Penjualan menurut warga Cibinong ini sudah sampai ke Papua. Dia juga pernah mengirim sampai ke negara Inggris, Korea Selatan, Balanda. Biasanya orang asing sukanya rendang daging. Kalau orang Belanda punya ke khususan ke jengkol. Bahkan rendang bikinannya sampai ke Gunung Mount Everest, Himalaya, Nepal.

Kisahnya ada pembeli yang membeli dan ternyata dibawa ke sana. Memang rendang terkenal awet begitu juga rendang miliknya kuat selama sebulan. Prosesnya tidak sederhana juga. Proses penggilingan bumbu dan santan menghabiskan sembilan jam. Kemudian dikemas mesin vakum agar tahan lama tanpa pengawet.

Waktu Ramadhan sampai Lebaran, dia kebanjiran orderan rendang. Omzetnya mencapai Rp.100 juta loh. Ia manambahkan bahkan Walikota Depok, Idris Abdul Shomad, menikmati rendang bikinan Erita terutama rasa pedasnya.

Selasa, 05 Juli 2016

Pusat Pembuatan Pupuk Organik Sederhana Sleman

Profil Pengusaha Haryo Muyono.dkk 



Kotoran sapi dapat dijadikan pupuk. Fakta sederhana mampu mengangkat harkat peternak lokal. Contoh kisah kelompok ternak bernama Sedyo Makmur asal Dusun Ngemplak I, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Mereka yang tidak cuma beternak sapi sekarang dikenal berjualan pupuk organik.

Secara mandiri mereka membangun usaha aneka macam. Semua berkat sosok Pak Haryo Muyono, yang mana menjadi penggagas aneka usaha. Berkat kerja sama pintar mereka tumbuh signifikan. Dari memelihara cuma 13 ekor menjadi 143 ekor dalam kandang komunal seluas 2.600 meter persegi.

Saking banyaknya usaha mereka terbaru untung. Yakni usaha pembuatan pupuk berkilo- kilo. Kalau tidak ia akan membersihkan kotoran yang per- sapinya menghasilkan 25kg sehari. Kalau dulu mereka akan langsung kirim ke petani buat dibikin sendiri, sekarang tidak.

Sejak 2011, usaha mereka termasuk mengolah pupuk, kalau mentah dijadikan siap dipasarkan. Dikomandoi oleh Wiharjo membuat pupuk lewat komposer. Pada area seluas 14x5 meter kotoran sapi diolah menjadi pupuk kemasan. Mereka meyakinkan produk mereka sama kualitasnya dengan hasil pabrikan.

"Setiap kilo kami jual Rp.600," ujar Harno, sebagai penanggung jawab produksi pupuk Kelompok Ternak Sedyo Makmur.

Selain usaha tambahan juga berguna mengurangi limbah. Memang sudah dikenal lama usaha peternakan memang menghasilkan limbah tidak tertangani. Haryo.dkk menjual selisih seratus rupiah dari pupuk milik pemerintah. Alhasil mereka mendapatkan banyak pesanan pupuk sampai kwalahan ketika musim tanam.

Karena banyaknya pesanan, dan lahan pengolahan dan mesin masih terbatas, maka Harno.dkk tak jarang mengirim mentahan karean takut mengecewakan. Pupuk diolah 40 persen dulu lantas dikirim ke petani agar diolah di sawah. Soal pengiriman, petani akan datang sendiri ke pusatnya, belum ada marketing khusus.

Pembuatan pupuk kandang cukup kapur, ketes tebu, serta bahan pengurai. Per- tahun mereka memproduksi selama tiga kali. Mereka fokus berproduksi ketika musim tanam. Kan petani tidak setiap waktu butuh pupuk kandang. Hasil penjualan akan dibagi buat kelompok sebesar 80:2.

"Dalam sebulan kami memproduksi 2,3 ton pupuk organik," jelas Harno. Untuk proses pembuatan meski terlihat mudah tetapi butuh waktu.

Bisnis bersama


Butuh waktu sampai pengurai bereaksi. Prosesnya tergantung cuaca juga loh. Tiga pekan dibutuhkan dalam proses penguraian, jika tidak musim hujan. Kalau musim hujan, ia mengatakan mebutuhkan waktu sampai enam pekan. Kesuksesan ini berkat penyuluhan dan pelatihan Dinas Pertanian setempat pada 2011 silam.

Berawal pelatihan tersebut kelompok peternak ini mantap. Mereka mencoba sendiri memproduksi pupuk organik. Sayangnya pembuatan pupuk terkendala mahalnya peralatan produksi.

Atas saran pihak Dina, Harno bersama kawan- kawan, mengajukan proposal ke pusat dan ternyata mereka kabulkan. Mereka memberikan bantuan alat penggiling, kandang komunal, rumah produksi, serta motor roda tiga. Bantuan diberikan pemerintah senilai Rp.340 juta buat memproduksi pupuk organik.

Pertama pembuatan dia mencampur kotoran dengan pengurai, tetes tebu, kapur. Campuran tersebut maka didiamkan beberapa hari sampai mengurai. Proses penguraian juga harus dibolak- balik. Sekali seminggu kalau musim kering. Dua minggu sekali kalau musim hujan tiba.

"Untuk pembalikan ini dilakukan tiga kali," imbuhnya.

Sudah terurai maka akan digiling kemudian dikemas. Buat lebih bagus dilakukan pengayakan agar tidak ada gumpalan. Namun karena dia belum memiliki mesin pengayak, yah, terpaksa bisa langsung dikemas agar cepat. Walau tekstur bagus dibutuhkan waktu tidak kurang lima jam.

Sebulan mereka mampu mengolah 2,3 ton pupuk. Mereka juga menjual di toko pertanian. Atau petani yang terdekat dapat membeli langsung ke mereka. Total sapi 143 ekor berbagai jenis termasuk limusin, metal, peranakan ongle.

Semuanya merupakan milik dari 38 anggot kelompok tersebut. Dari segitu cuma 60% nya dijadikan pupuk sisanya dijadikan langsung sebagai pupuk kandang. Hasil penjualan dibagi 20% untuk anggota pengembang kelompok tani dan 80% buat pemilik sapi. Hasilnya berhasil menunjang penghasilan masing- masing kepala.

Harno sendiri dibantu Wiharjono, pensiunan guru yang banting stir menjadi peternak sapi. Demi uang pensiun mereka banting tulang bekerja keras. Menurutnya merawat sapi seperti merawat siswa. Kalau mereka lapar ya mereka minta makan, saat kenyang yah kenyang. Kadang mereka suka rewel butuh penanganan khusus sendiri.

Wiharjono sendiri juga membuka usaha penggemukan sapi. Sapi dua tahun dibeli Rp.15 juta, digemukan olehnya sampai 4- 6 bulan. Nilai bertambah sekitar Rp.1 jutaan atau nilai jual sampai Rp.20 jutaan. Lalu dia potong bermodal biaya produksi Rp.400 ribu.

"Ibaratnya saya sekarang digaji oleh sapi," candanya. Selain usaha pembuatan pupuk organik. Termasuk mereka mengerjakan usaha pembuatan pupuk cair dan biogas.

Minggu, 03 Juli 2016

Cuci Sepatu Semarang Wardiman Unik Menghasilkan

Profil Pengusaha Didik Kurniawan Toyiban



Buka usaha laundry sudah biasa. Bagaimana jika membuka usaha laundry sepatu, unik kan. Wardiman lantas berkisah bahwa semua bermula dari hobi sepatu. Pria bernama lengkap Didik Kurniawan Toyiban atau suka dipanggil Wardiman mengaku semua iseng awalnya.

Dia menyukai sepatu aneka bentuk, warna, dan bahan. Wardiman bersama teman, yang bernama Yohanes Awie Ananta, atau Awie merupakan penggemar sepatu apapun mereknya. Mereka sendiri merupakan warga Kecamatan Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Kedua sahabat ini lantas membuka usaha cuci sepatu.

Mereka merasa kesulit merawat aneka sepatu itu. Yah akhirnya sepatu- sepatu itu bertumpuk tidak terpakai karena nanti takut rusak. Mereka rasa semua orang mengalami pengalaman tersebut. Munculah ide mengenai bagaimana membuka usaha mencucikan sepatu.

Tanggal 25 Desember 2014, kedua teman ini sepakat membuka usaha bersama. Dimana mereka memberi nama usaha mereka Titik Shoes Spa. Keduanya menyewa tempat dan membuka layanan buat aneka merek sepatu dan bahan, mulai berbahan kulit Suede, Nubuck, ataupun kulit lainnya.

Sepeti namanya mereka memberikan perawatan spa untuk sepatu. Mereka menerima segala macam sepatu. Tetapi kebanyakan merupakan sepatu mahal yang sukar dicuci. "Dirawat agar tetap kinclong," imbuhnya. Ia sendiri cukup percaya diri merawat sepatu berhargaan jutaan rupiah.

Bisnis nekat


Menurut Suaramerdeka.com, Wardiman bukanlah pengangguran, dia pernah bekerja di sebuah tv lokal. Untuk menjadi pengusaha muda rela resign meski pekerjaannya telah mapan. Keisengan tersebut ternyata punya prospek cerah. Ketidak sengajaan berbisnis membawa pria 32 tahun ini mantap buat berwirausaha.

Pria kelahiran Semarang, 3 Maret 1985, tidak takut ditengah menjamurnya usaha sejenis. Ia meyakini usaha Titik Shoes Spa masih akan berkembang.

Semua berawal dari iseng, cerita- cerita sambil nongkrong bareng temen. Nyeletuk Wardiman bilang mau buka usaha jasa membersihkan sepatu. Kebetulah seorang teman asal Yogyakarta yang mempunyai hobi sama. Bedanya temannya ini jago membuat bahan pembersih sepatu sendiri.

"Setelah dikasih cleaner, aku mikir ini kayaknya kalu dijual terus usaha buka jasa laundry sepatu boleh juga nih," ceritanya. "Bismillah, buka saja."

Nama Titik Shoes Spa sendiri hasil becandaan teman. Mereka memberi saran banyak, termasuk soal nama usaha yang akan dijalankan Wardiman. Nama Titik Shoes Spa ternyata plesetan dari nama Titik Puspa. Tapi kalau dijabarkan kembali nama Titik berarti berhenti. Sementara Shoe itu sepatu, dan Spa itu yah tempat perawatan.

Jadilah artinya cukup di tempat itu. Orang akan berhenti buat merawat sepatunya. Kira- kira itu kesimpulan Wardiman diiringi derai tawa ketika diwawancarai. "Seperti itu kira- kira penjabaran garingnya," selorohnya.

Padahal meski dikenal penghobi sepatu. Mereka tidak seahli dibayangkan orang. Keduanya memulai semua dari nol. Pengetahuan perawatan sepatu mereka dibilang minim. Pernah awal- awal ada orang nyuci sepatu ke tempatnya. Eh sepatu berwarna putih polos dicuci malah menjadi kuning.

Karena belum ada SOP jadilah berantakan. Dia ingat ketika mencuci sepatu sambil ngerokok. "Eh kena rokok jadi bolong," kenang Wardiman lagi. Namanya usaha baru pertama kali, maka ketika mereka telah melakukan kesalahan ya mereka akhirnya rela hati mengganti rugi.

Pokoknya sebagai pengusaha jujurlah melayani. Bilang lah keadaan apa adanya meski pahit. Komunikasikan masalah terjadi meski makian menanti. Ketika mereka meminta ganti rugi ya diganti. Jika mereka meminta layanan cepat maka tepat waktu lah melayani.

Bukan bisnis pertama


Dulu dia mengaku pernah membuka usaha clothing. Jatuh bangun dibuatnya mengerjakan bisnis tersebut. Tapi dia bersyukur usahanya dapat digunakan makan. Wardiman mencoba menikmati apapun usaha. Dan ia selalu berprinsip usaha lurus meski jatuh bangun.

Seorang teman mengajari keduanya mencuci sepatu. Mereka sendiri tidak punya sandaran bagaiman cara mencuci sepatu benar. Informasi tambahan didapat dari internet serta segala sumber diperlukan. Sumber lain seperti halnya trial and error mereka kerjakan ketika berbisnis tersebut.

Dulu tidak tau bahan ini bagaimana. Terus akhirnya tau kalau bahan seperti ini tidak bisa diapakan. Semua itu datang dari pengalaman mereka sendiri. Berjalan waktu, mereka membeli sepatu sendiri, bukan buat dipakai tetapi bereksperimen bagaimana baiknya merawat sepatu sejenis.

Kalau rusak yah tidak masalah. Hal terpenting mereka mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku teks. Toh itu kan sepatu mereka sendiri. Cara promosi terbaik menurut mereka. Dia mengaku memulai dari teman- teman mereka dahulu. Datangnya pelanggan satu- dua mereka tanggapi penuh syukur dan keseriusan.

Banyak pelanggan puas maka nama mereka tersebar lewat mulut. Dari mulut ke mulut banyak pelanggan mau datang kembali membawa orang. Kini sudah 20 orang pelanggan tetap menyerahkan sepatu mereka ke tempat mereka. 

Mereka sendiri kebanyakan karyawan kantor yang padat jadwal jadinya susah cuci sendiri. Apalagi jika sepatu mereka mahal butuh perawatan khusus intens. Lalu harga dipatok Wardiman senilai Rp.40 ribu hingga Rp.70 ribu. Awie menjelaskan mereka memiliki dua layanan utama: Quick Clean dan juga Deep Clean.

Untuk Quick Clean artinya memberishkan cepat. Awie menyebut cuci cepat batas waktu mencucinya sampai 20 menit. Deep Clean lebih fokus membersihkan sebersih mungkin. Layanan kedua yaitu benar- benar detail agar sepatu lebih awet dan bersih karena cairannya khusus.

"Cairan tidak mengandung detergen dan memiliki kandungan melembabkan bahan sepatu," tutur dia.

Awie ingin terus mengembangkan usaha mereka. Tujuan mereka selanjutnya adalah bagaimana memperbaiki sepatu rusak. Dia ingin mengembangkan repaint atau cat ulang. Bahkan mereka maunya mencat ulang dan memperbaiki langsung ke tempat pelanggan.

Bisnis masa depan


Baginya berbisni sekarang merupakan pelajaran. Bahwa ternyata susah mencari uang sendiri. Wardiman akui hal tersebut menjadi tantangan. Baginya kepercayaan konsumen merupakan barang mahal. Menjaga bentuk komunikasi kepada pelanggan merupakan kewajiban pengusaha.

Tidak boleh tutup kuping. Kalau mau menjaga kualitas kita harus mendengar. Insha Allah, menurutnya semua akan wangi, bersih, dan tepat waktu hasilnya seperti sepatu cuci mereka. Mereka menggunakan bahan yang alami (herbal) ketika membersihkan sepatu. Karena menurutnya pakai detergen malah kuning dan kulit jadi keras.

"...kita juga pakai deodorize. Jadi kalau sepatunya bau tuh bisa ilang," imbuhnya. Walau banyak kompetitor malah justru semakin bersemangat. Selama ada persaingan justru mereka bersemangat menjadi lebih baik.

Harga Rp.50 ribu sampai Rp.80 ribu buat Deep Clean. Semuanya dari sol luar, dalam, tengah, sol atas, lidah, bahkan talinya dicuci. Quick Clean lebih murah Rp.25 ribu sampai Rp.35 ribu. Untuk satu ini cuma bisa dicuci atasnya dan tengahnya saja.

Meski bisa cepat semua tergantung bahan sepatu juga. Walau dapat ditunggu, soal mereka dan bahan kulit butuh perlakuan berbeda, inilah kelebihan mencuci di laundry sepatu dibanding cuci sendiri. Sepatu berharga jutaan tentu pelayanan akan berbeda dengan ratusan ribu.

Sepatu seharga jutaan, belasan juta, sampai ratusan juta, Wardiman pernah pegang. Untuk sepatu mahal, dia butuh waktu meriset dulu mereka, hingga bagaiman cara merawatnya butuh waktu. Awal sepatu datang dia akan berbicara terus terang tentang harga ditawarkan berbeda, resiko, serta bagaimana penanganan terbaik.

Ia menyebut cleaner saja enggak cukup. Katanya cleaner aja enggak mempan. Butuh bahan khusus yang dia dapatkan khusus. Soal bahan tersusah menurutnya adalah Suede. "Itu susah! Engga butuh tiga hari saja membersihkan," imbuhnya.

Butuh kering dan tidak boleh dijemur di bawah matahari. Hanya dianginkan saja loh. Pokoknya lama gitulah prosesnya. Termasuk karena noda- nodanya mencar. Juga rentan buat luntur kalau tidak hati- hati untuk dikerjakan. Yang terpenting disiplin mencari tau. Berkat usaha laundry sepatu kini banyak teman dapat kerja di tempatnya.

Wardiman mensyukuri semuanya. Mereka juga membuka peluang kerja sama. Selain itu mereka punya satu rencana membuka cabang di Jl. Krakatau V no.7 Semarang. Tepatnya mereka akan buka di UPGRIS atau dulunya dikenal IKIP PGRI Semarang.

Harapannya adalah Titik Shoes Spa semakin terkenal famous lah. Harapan lain yakni kesadaran masyarakat akan sepatu. Bahwa sepatu juga dapat menjadi investasi seperti hal mobil atau motor antik. Kan kalau benar dirawat nilanya akan semakin mahal bukannya menyusut. 

Sabtu, 02 Juli 2016

Melukis Kaleng Kerupuk Berbisnis Kriuk

Profil Pengusaha Noviarti Muhidir 


 
Mantan atlet Noviarti Muhidir tidak pernah menyangka. Tidak menyangka bahwa, konsep kesuksesan yang membawa namanya hingga ke manca negara, justru datang dari sampah daur ulang. Dia tidak pernah berpikir konsep sederhana mampu menghasilkan omzet puluhan juta.

Barang bekas tidak selamanya tidak berguna. Ibu enam orang anak ini membuktikan sampah mampu diubah menjadi uang. Bisa dijadikan barang kerajinan bernilai seni dunia. Mulai mendaur limbah kayu bekas, kelang bekas, lalu mendaur ulang kain perca.

Cerita awalnya dimulai dari iseng melukis country diatas kayu bekas. Ternyata banyak orang mengapresiasi hasil karya Nova. Beranjak dia mulai melukis diatas kaleng krupuk, kaleng minyak, kaleng susu, dan banyak lagi lukisan dibuat. Kemudian semua diunggah ke Facebook coba dipamerkan kepada masyarakat luas.

Dia tidak mau menjual. Nova mengaku belum berpikir membisniskan mereka. Dijelaskan oleh wanita paruh baya ini bahwa tidak mudah mencari kaleng bekas. Beruntung lah teman- teman dekat ikut membantu Nova buat mencari kaleng.

Tidak cuma berhenti melukis diatas kaleng. Nova kemudian menyasar ke tong sampah. Bisnis dimulai sejak tahun 2002. Beruntung dia memang memiliki hobi melukis dan menjahit.

Bisnis daur ulang


Dari sekedar melukis kaleng bekas, Nova merambah pembuatan boneka lucu kain perca. Ide awal ketika mengingat anaknya yang masih Taman Kanak- Kanak. Boneka kain perca tersebut ternyata berhasil merebut perhatian masyarakat. Dia membuat boneka ala Amerika dan dilukis karakter agar menarik perhatian.

Sarjana Pendidikan Insititut Keguruan dan Ilmu Keguruan (IKIP) Padang (atau sekarang Universitas Negeri Padang) ini, mengaku mendapat ilmu pembuatan boneka ketika berkunjung ke Arizona, Amerika Serikat. Ia mengaku cuma belajar sehari saja. Semua karena hobi Nova melukis mempermudah proses belajar disana.

"Awalnya sudah memiliki basic melukis dan menjahit," imbuhnya. Boneka buat anaknya ternyata diminati tak hanya sang anak, tetapi teman- teman anaknya tertarik memesan jadilah bisnis lain. Respon positif maka dia melanjutkan usaha dibawah bendera Country Kyra.

Dia lantas mengikuti pameran kerajinan Jakarta Conventional Center (JCC) 2002. Tujuannya mengikuti pameran kerjinan menurut Nova untuk mengetahui selera pasar. Sejak tersebut dia mengikuti aneka bazar maupun pameran, seperti Inacraft. Berkat kegigihan Nova, dia mendapatkan penghargaan salah satu majalah wanita.

Dan produk Nova makin bervariasi dan semua buatan tangan. Total sepuluh jenis barang memanfaatkan limbah daur ulang. Lantas dia membuka gerai Country Kyra di Grand Indonesia. Yakni memanfaatkan sistem jualan konyasi di Toy Kingdom dan Gandaria City.

Walaupun sudah berkembang pesat, Nova tidak lupa memanfaatkan teknologi internet. Penjualan online dia anggap lebih efektif karena dia sendiri berkomunikasi dengan pelanggan. Produknya dijual tidak cuma lokal tetapi sampai ke luar negeri, seperti Australia, Jepang, Thailand, Taiwan, Singapura, Amerika dan lainnya.

Produk dipasarkan Nova dari termurah Rp.25 ribu sampai Rp.2 juta. Omzetnya itu sampai Rp.15 sampai Rp.20 juta loh.

Bisnis kaleng kerupuk


Mantan atlet basket, yang pernah membela DKI Jakarta era 1989- 1993 ini, menyebut kaleng bekas cuma dibersihkan kemudian dilukis. Kemudian dapat dijadikan hiasan ataupun dipakai kembali sebagai perabot rumah tangga. Menggunakan tema Country Style bisnis Nova merebut perhatian masyarakat Indonesia juga.

Kesan mahal hadir lewat lukisan realistis mengenai kehidupan pedesaan. Hari pertama berbisnis saja sudah mampu balik modal. Bahkan hari pertama Nova berbisnis mampu untung Rp.10 juta. Ada sold out dipesan tinggal diambil pembeli. Berawal cuma menjual kayu bekas yang sudah dilukis indah, dijadikan hiasan rumah.

Jumlah karyawan Country Kyra ada empat orang. Dimana dia secara khusus mengajari mereka bagaimana melukis. Setiap karyawan melukis diatas media berbeda. Dari kaleng mentega, kaleng minyak, juga kaleng krupuk. Sebelumnya itu dibersihkan akrilik ramah pakai dan kemudian dicat lukis sesuai teman diinginkan.

"...sifatnya non- toxic," tegas Nova. Guna kaleng juga diubah sampai multi- tasking. Nova mengajarkan kita bahwa barang bekas bisa buat tempat baju, mainan, majalah buku, pokoknya bagi Nova barang- barang yang terlihat tidak berguna ini bisa didayagunakan.

Menjual melalui pameran dan bazar, Nova mengaku mampu balik modal dan mengantungi untung bersih sampai Rp.10 juta. Sudah bermain bisnis cukup lama, brand miliknya sudah dikenal jadi jangan salahkan jika harganya katanya terbilang mahal. Namun tetap lukisan diatas kaleng krupuk tetap diminati karena keunikan.

Harga jual produk antara Rp.300 ribu sampai Rp.500 ribuan. "Banyak orang bilang mahal. Tapi ini kan cat nya cat akrilik," tuturnya. Mahal memang tapi supaya aman buat di rumah. Agar tidak meracuni keluarga kita terutama anak- anak kita. Jika dilihat dari segi seni maka pantas karena lukisan Nova memang berkelas.

Berawal dari keisengan, wanita asal Bintaro kelahiran 1964 ini, mulai mengecat- ngecat barang bekas lantas diminati orang melihatnya. Tidak cuma lukisan dia mengerjakan aneka boneka perca bordiran. Semuanya dia jual selain melalui sosial media juga melalui offline.

Kamis, 30 Juni 2016

Bola Benang Dijadikan Lampu Untung Ratusan

Profil Pengusaha Guntoro Rusli 

 

Bisnis tidak melulu ribet. Kamu tidak harus menciptakan aplikasi apapun. Tinggal pakai benang aja, pria 33 tahun ini mampu meraup omzet mencapai Rp.100 juta. Bisnisnya bernama lampu benang. Atau lampion dari bahan benang aneka bentuk. Guntoro Rusli bercerita ide awal berbisnis dari hobi mengumpulkan souvenir.

Dia seorang perajin lampu karakter asal Surabaya. Pria gantang yang dulunya seornag pelaut. Alhasil dia jadi sering berkunjung ke tempat dari dalam sampai luar negeri. Menjadi pelaut memberikan kemudahan baginya untuk mengoleksi souvenir. Dalam perjalanannya dia mampu memproduksi 2.000 unit lampu per- bulan.

Ide datang ketika dia melihat produk, ketika Guntoro berkunjung ke Amerika Serikat dan Thailand. Orang sedang berjualan lampu. Maka Guntoro mengajak istri buat berbisnis lampu benang.

Bisnis sederhana


Waktu berjalan- jalan bersama teman ia menemukan cotton light. Lampu hias berbahan benang aneka yang dibentuk aneka bentuk. Ia sebenarnya iseng membuat cotton light ball. Untuk awalan dia membeli satu buah buat contoh dibawa pulang. Lalu dia mencari tau apakah ada atau belum produk sejenis di Indonesia.

Pulang dari Thailand, Guntoro mencari tau lebih dalam, dan menemukan bahwa di Bali sudah ada produsen produk sejenis. Dia tidak takut berbisnis. Pada April 2009, dia memutuskan buat menggelontorkan sejumlah uang, uang Rp.20 juta digunakan buat memproduksi sekala besar.

Gun memulai usaha dari internet merambah ke penjuru Surabaya dan Bali. Uang digunakan membeli bahan serta dibayar buat menggaji pegawai sendiri.

Cotton light ball atau cotton ball lantern merupakan produk lampu berbahan benang polyster. Dia memakai cetakan, dililit benang, dilem dan dikeringkan. "Setelah dikeringkan, cetakannya diambil," jelas dia. Ternyata respon masyarakat kepada produk buatan Gun bagus. Guntoro semakin bersemangat membuat produk yang unik.

Peluang bisnisnya masih bagus dikembangkan. Ia lantas mencoba memperbanyak produksi. Yakni membuat produk 500 pieces dulu. Awal penghobi traveling ini mencoba menitipkan produk ke pusat perbelanjaan di Surabaya, Jawa Timur. Dari sana dia mulai membentuk tim desain sendiri buat menjadi pembeda produk lain.

Tim R&D dan Desain bertugas membuat desain lampu aneka bentuk. Lebih variatif sehingga ngejreng diliat mata calon pembeli. Usaha tersebut lantas, pada Februari 2011, telah berbedan hukum dibawah nama CV. Multicraft Indonesia. Kenapa begitu, karena Gun hendak melirik pasar ekspor hingga ke Amerika Serikat.

Dia menyebut biar mudah mengurus surat- menyurat ijin ekspor. Suami dari YennyWibowo ini, juga memakai strategi mengamati tren pasar. Ketika musimnya Natal, maka CV. Multicraft akan memproduksi lampu yang bertemakan pohon natal dan sebagainya.

Biasanya produk Gun digunakan sebagai hadiah dekoratif. Tidak cuma ketika musim tertentu, secara berkala mereka memproduksi buat pernikahan, ulang tahun atau hadiah perusahaan. Dua tahun berjalan dia makin mantap membuat ciri khas produknya.

Bisnis benang


Dia mengajak sang istri menjadi bagian dari tim kerja. Sebagai desainer interior dan event organizer agaknya sedikit banyak memacu bisnis si Gun. Berbekal jaringan istri pula, dia mampu masuk ke ranah acara- acara yang butuh souvenir -seperti pernikahan dan ulang tahun,.dll. Ini membuat produknya lekas cepat dikenal masyarakat.

Pemasaran mulai sampai ke luar negeri. Ekspor kecil- kecilan mulai digalangkan seperti ke Malaysia dan juga Singapura. Gun juga sudah menembus pasar eropa, seperti Italia, yang mana mampu melonjakan omzet penjualan sampai ratusan juta.

"Ekspor kita masih kecil- kecilan," ujarnya merendah.

Untuk memperluas pasar kembali, Guntoro mengaku memilih menunggu dan mempelajari apalagi cotton light ball sudah cukup dikenal di luaran sana. Butuh satu sentuhan berbeda jika dia ingin perusahaan masuk pasar asing. Brand Light Craft awalnya dikenal sebagai usaha pembuatan lampu benang, dan juga lampu rotan.

Strategi pemasarn berdasarkan pesanan khusus juga diapresiasi. Ia pokoknya tanggap akan keinginan dari konsumen dan terus berkreatifitas. Omzet meningkat dua sampai tiga kali lipat sejak didirikan. Bayangkan dia mengaku mampu mengantungi omzet sampai Rp.560 juta. Perbulan Guntoro memproduksi 1.000- 3.000 produk.

Lulusan perhotelan Universitas Kristen Petra Surabaya ini, mengaku tidak belajar khusus, namun secara niat serius mempelajari seni membuat lampu benang ini. Terlihat dengan keseriusan Gun menggunakan alat tenun sendiri untuk membuat produk lampu kap.

Dengan bantuan mesin mampu menggulung benang selusin roll beraneka warna. Untuk satu jenis lampu dia produksi 10 dengan empat varian warna benang. Produk lampu kap butuh setidaknya 48 roll benang hingga 120 roll benang agar membentuk karakter.

Variasi karakter juga beraneka macam termasuk tokoh kartun anak. Prosesnya gampang dijalankan tetapi butuh kreatifitas agar tidak monoton. Untuk bagian tersulit adalah membentuk bola benang. Juga bagaimana sih agar membentu bentuk dekoratif dan berdesain sesuai.

Untuk produk bervariasi dari Rp.50 ribu sampai Rp.1 juta ada. Aneka aksesoris penikahan atau acara ulang tahun dibandrol Rp.10 ribu sampai Rp.40 ribu. Minimal butuh 4- 6 minggu memenuhi pesanan dari mereka pemilik acara. Agar tidak kecewa selepas desain di muat ke internet ada sesi konsultasi acara terlebih dulu.

"Melakukan korelasi produk dengan calon klien selama dua minggu," jelasnya. Dia lalu mengajak pegawai dan juga masyarakat sekitar jika diperlukan.

Meski diluaran sana sudah banyak peniru. Ia mengaku tidak takut. Karena Guntoro memperlakukan usaha layaknya bisnis besar. Sebuah perusahaan besar memiliki staf khusus buat desain. Mereka mendasain di luar kegiatan produksi. Butuh waktu berminggu- minggu buat menciptakan desain baru lebih menarik di mata.

Gun juga menganjurkan prototipe sebelum diproduksi masal. Pokoknya mah seperti perusahaan besar yang telah menasional produknya. Jenis produk sudah mencapai 20 jenis, mulai dari cotton ball light, cotton ball lantern, letter lamp, character lamp, cooper light, fairly light, dan dia masih akan menambah lagi bila perlu.

Saran sebagai pengusaha mudah adalah jadikan produk unggulan. "Terus belajar dan pantang menyerah terus berusaha. Belum usaha sudah menyerah ya enggak bisa," tandasnya.

Tantangan berbisnis


Memang minat pasar dalam negeri dan luar negeri beda. Jadilah harus memiliki daya tarik tersendiri di kedua sisi. Pasar nasional ditarik melalui brand Boli atau bola imut. Dibuat kecil- kecil imut dapat dijadikan hiasan di kamar. Meski sudah memiliki banyak produk dan menghasilkan ratusan juta, bukan mudah juga.

Dia bercerita di awal tidak pernah digaji. Awal usahanya dia tidak mendapatkan untung. Dari bisnis langsung diputer buat gaji dan produksi. Dia menganggap ini bukanlah masalah. Gun tidak menganggap kerugian itu semua karena proses. Sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakkan untung dari setiap penjualannya.

Penjualan ke luar negeri juga musiman sesuai kontrak. Soal keuntungan dipacu para reseller yang bekerja giat memasarkan produk Light Craft. Menawarkan sistem reseller dan dropship tanpa minimal pemesanan. Berapapun dilayakni baik oleh Light Craft. Sistem distribusi reseller bukan retailer tetapi melalui vendor.

Dia memiliki 100 reseller sejak tiga tahun terakhir. Produknya cukup memakai patokan harga tertinggi yakni Rp.140 ribu. Lalu Rp.50 ribu buat lampu kecil dan Rp.90 ribu buat lampu besar. Untung reseller mampu kamu mengantungi untung 50 sampai 100 persen.

Dia bercerita seorang reseller dari Instagram mampu meraup Rp.20- 30 juta. Dia menyebut seorang anak kuliahan, mengambil untung kecil 20- 30 persen. Rahasianya dia memainkan marketing dengan kuat, jadilah tidak menjual nilai eceran tetapi sudah lusinan.

Ia mengaku pernah punya gerai di Surabaya, Bali, Lombok, dan Jakarta. Namun dia sekarang lebih memilih menjual melalui sosial media. Dia memiliki 20 staf serta 40 staf harian bila ada pesanan khusus. Dia sendiri konsern ke pemilihan dan perekrutan SDM. Masih sulit katanya mencari SDM cekatan dan kreatif jaman sekarang.

Karaketer dipriksa betul agar menyesuaikan ritme kerja. Haruslah memiliki kompeten dan mampu belajar cepat dalam bekerja. Gun sendiri tidak ragu memberikan dorongan. Tujuannya agar mendapatkan hasil yang maksimal bekerja. Ia tidak ragu mendengar keluhan kemudian mendorong stafnya agar tidak malah down.

Dia meciptakan suasana tempat kerja senyaman mungkin. Ia menekankan aspek kekeluargaan, mulai dari makan bersama, liburan bareng ke tempat wisata, melakukan training, melalukan pembekalan. Meski sudah sekuat tenaga mendukung SDM, kendala lain adalah bahan baku yang masih impor agar sesuai standarisasi.

Selasa, 28 Juni 2016

Kisah Manis Pahit Choa Seniman Coklat Filipina

Biografi Pengusaha Raquel T. Choa 



Menjadi pengusaha bisa saja merupakan pilihan hidup. Terkadang mungkin karena keterpaksaan agar tetap hidup. Menginginkan hidup lebih baik maka Raquel T. Choa berusaha. Dia hidup sangat sederhana. Ia sejak berumur muda sudah berjualan lilin dan sampaquita untuk membantu orang tua.

Umur 12 tahun, dia sudah bekerja menjadi kasambahay di Laguna, Filipina. Berjalanan waktu ia mengingat betul hidupnya "tidak jauh dari coklat". Dia ingat belajar menyajikan dan menyiapkan coklat dari sang nenek, Leonila Borgonia, yang bekerja menjual nanay.

Dia ingat, di umur 12 tahun, neneknya lah yang membawa dia pergi dari Cebu ke Laguna. "Saya tidak takut untuk bekerja karena saya bepikir saya harus benar- benar bekerja," kenangnya sedih.

"Saya memiliki masalah listrik di provinsi sampai saya tidak bisa melihat apa yang saya lakukan," imbuhnya lagi. Dari bekerja sebagai kasambahay uangnya digunakan untuk pulang ke Cebu. Dia ingin bertemu orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Choa berhutang ke rentenir dan menjaminkan rumah serta tanah.

"Mereka tidak meninggalkan rumah karena mereka dibutuhkan untuk membayar hutang," dia berujar. Inilah hidup dimana Choa harus bekerja kembali buat membayar hutang orang tua.

Bisnis coklat


Umur 7 tahun sudah paham tentang konsep tablea. Adalah nama untuk jajanan coklat berbentuk tablet. Dia sudah tau bau coklat bahkan dari jauh. Inilah dasar dia menjadi ahli coklat untuk membangun bisnis Ralfe Gourment Chocolate Boutique, dimana dia memulai usaha dari 2010.

Layaknya kisah film Charlie and the Chocolate Factory, dia ingin berbisnis coklat sendiri. Awal sih dia tidak paham mengenai detailnya. Hanya saja Choa mau berbisnis tablea buat bertahan hidup. Dia lantas meminta diajari nenek. Choa belajar membuat coklat hingga bagaimana membuat minuman coklat.

Disaku Choa ada 10.000 peso dan membelikan ratusan kilo biji coklat. Dari sanalah, dia belajar aneka cara membuat produk coklat, mulai mengeringkan, menggoreng, dan membuat biji tersebut menjadi aneka bentuk produk olahan.

Bukan perkara mudah berbisnis. Ketakutan akan biji- biji coklat tidak laku dipasaran hinggap. Dia takut kalau bisnis tidak berkembang. Maka berkardus biji coklat akan terbuang sia- sia. Bagi seorang chef untuk olahan coklat, kualitas biji segar memang sangatlah penting, jadi apa solusi buat bisnis Choa sekarang.

Dia ingat bagaimana seorang chef sekitar mengejek. Menyebut coklat miliknya adalah dirty- chocolate. Ini karena proses pembuatan masih menggunakan tangan. Namun dia tetap percaya diri atas apa pengajaran dari nenek. Karena juga Choa menyukai buatan tangan langsung lebih nikmat.

Bisnis Choa makin mengembang. Beruntung dia didukung oleh suami, Alfred, seorang teknisi mesin, dan juga rekan bisnisnya, Edu Pantino, yang mendukung langkahnya. Sampai dia mendapatkan julukan orang- orang sebagai ambasadornya coklat di Filipina.

Tidak ada rahasia dalam berbisnis coklat. Dia menyebut passion dan cinta kamu punya. Jikalau kamu melihat sesuatu penuh cinta. Bermodal sebuah bisnis sederhana dia menjadi ahli coklat. Tawaran franchise mengalir dari China atau Taiwan tetapi dia malah menolak.

"Kamu memberi apa yang terbaik apa yang kamu punya," tutur dia. Akan tetapi untuk franchise dia memilih tidak karena menurut Choa bisnis soal keluarga dan anak- cucunya kelak.

Bisnis passion


Banyak orang tidak tau bahwa dia terlahir miskin. Bayangkan dia cuma makan nasi sekali setahun, sisanya makan jagung dan sayuran saja. Dia tinggal bersama nenek di rumah kaki gunung Barangay. Disana dia mulai belajar bertani, menjual sayur, dan biji coklat. Menjadi petani coklat sejak kecil diajari neneknya sendiri.

Dia ingat berjalan melewati sungai agar dapat sekolah. Bersemangat dia mampu menjadi siswa berprestasi di sekolah. Meskipun dia harus belajar tanpa lampu karena tidak ada listrik. Dia lantas tinggal dan bekerja di Manila. Choa mencucikan baju orang, menjual lilin, sampaquita hanya untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah artikel dia menyebut tidak pernah menyesal. Dia tidak pernah menyesal terlahir miskin. Choa tidak pernah susah ketika masih kecil. Bahkan menurunya karena itulah menjadi dorongan baginya agar bisa seperti sekarang. Berkat itu dia sangat menghargai kenikmatan apapun meski sedikit.

"Masa kecil saya menyenangkan dan gembira. Hidup saya itu mudah, bersemangat menunggu musim panas tiba. Jikalau ini bukanlah bagian dari masa kecil saya, maka saya tidak akan seperti sekarang saya. Semakin kamu menderita, semakin kuat kamu," tegas Choa.

Entrepreneur satu ini memang sangat optimis. Di masa mudanya, Choa tidak pernah berharap akan kaya, ia hanya bermimpi bahwa dia akan bekerja kantoran dan bagian dari perusahaan korporasi. Dia mengakui ia tidak pernah bermimpi akan menjalankan usaha sendiri seperti empat tahun belakangan ini.

Sebagai pengusaha wanita, seorang business woman, maka dia menyarankan kamu agar tetap semangat buat menjalankan bisnis baru mu. Jangan pernah menyerah, kamu harus mencoba sesuatu yang baru, kegagalan akan selalu mengikuti keberhasilan, dan menempatkan kita berbeda dari orang biasa lakukan setiap hari.

Buatlah produk bernilai dibicarakan dan bernilai uang. Pastikan kamu selalu punya pengalihan. "Jikalau orang terus membeli produk kamu, maka kamu ada di jalur tepat," saran Choa.

Ingatlah selalu mendukung pembeli. Berikanlah apresiasi kepada pelanggan. Dia mencatat: Ketika kamu mulai berbisnis jangalah memikirkan tentang pesaing. Jangan sibuk sendiri mengamati mencoba mengalahkan pesain, namun jadilah lebih percaya diri akan kemampuan sendiri.

Akan selalu ada batasan kamu dengan kompetitor. Malah kalau kamu fokus diantaranya, kamu akan hilang fokus karena kita akan selalu bersaing. Fokuslah ke kepercayaan diri bahwa kamu lebih unik. Pasaran akan luas bagi kalian berdua jika kamu percaya. Carilah perbedaan dan lebih banyak latihan agar menonjol lagi.

Choa meyakinkan kita bahwa bisnis bukan tentang memiliki setumpuk modal. Taruhlah kepercayaan diri jadi investasi dan passion menjadi modal kapital kamu.

Usaha dari nol


Karena miskinnya keluarga Choa tidak dapat membeli susu. Maka sumber nutrisi mereka hanya coklat yang mereka tanam sendiri. Mereka minum coklat meski pahit tanpa gula. Ini menjadi nutrisi mereka sehari- hari. Kenapa pahit tanpa gula, ternyata keluarga Choa memilik filosofi sendiri, bahwa gula tidak baik bagi coklat.

Umur 13 tahun, dia bekerja sendiri pulang- pergi, lantas membuka kantin sendiri di pabrik. Dimana dia lalu bertemu rekan satu kerjanya di pabrik. Seorang entrepreneur Alfred Choa, yang umurnya 18 tahun waktu itu. Menjadi ibu rumah tangga dia masih bersemangat membuat aneka coklat sendiri dari kedua tangannya.

Tahun 2009, kebakaran melanda rumah mereka, dan Choa akhirnya meminta diajari membuat tablea. Dia lalu mendandani garasi, memasang meja billiar, dan menjual tablea dan produk coklat lainnya sementara dia mengawai renovasi rumahnya.

Apapun kamu lakukan lakukan passion kamu. Pikirkan sesuatu yang unik seunik kamu sendiri. "Itu ada di tangan kamu," ujar dia. Lakukan sesuatu datang dari hati. Jangalah kamu sekedar mengikuti tren. Lakukan apapun untuk menggapai kebahagiaan kamu. Itulah yang akan nampak di hasil akhir produk kamu nantinya.

Kenapa memilih berbisnis coklat? Dia mengenang pembicaraanya bersama Edu Pantino. Seorang Argentina yang mau bekerja sama dengan Choa. Dia sebenarnya sudah tau bahwa coklat bisa dijadikan sesuatu dari masa kecilnya.

Orang Argentina ini menantang Choa tentang produk andalan Filipina. Akhirnya dia terkenang namanya satu produk "tablea". Cukup lama sebelum membuka bisnis dia berpikir. Aneka ide mentok hingga dia bertemu coklat. Yah Choa akan berbisnis jamuan aneka produk coklat -termasuk tablea- yang dibuka di garasinya.

"Harta karun saya dan membuka kan jamuan coklat di garasi rumah kami," ia menjelaskan. Choa tidak cuma menjual coklat murni. Dia menyediakan aneka makanan, seperti pizza dan pasta yang juga dibumbui coklat tentunya. Tidak butuh waktu lama mengimplementasi ide membuka usaha serba coklat tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, beranak delapan, maka sudah biasa baginya bekerja di dapur. Dia cukau mulai lagi mengingat ajaran nenek. Dengan belajar lebih intensif kembali maka dia menemukan celah. Dari satu ke dua eksperimen mampu dia menciptakan produk unik dan menu enak yang dijualnya lewat tiga bisnisnya.

"Ini tidaklah mudah," dia menambah.

Dia menciptakan ratusan kilo tablea untuk bahan masakan ke hotel- hotel sekitar. Dia dibantu Pantino masuk ke hotel sebagai teknisi coklat. Dia secara bertahap menjelaskan tablea sebagai produk berkualitas nasional. Mulai mereka menerobos jaringan hotel internasional dan menjadikan seni membuat coklat diakui dunia.

Bisnis keluarga


Ingatan Choa kembali ke jaman umur 8 tahun. Dia ingat sang nenek menyiapkan tablea. Membuatnya jadi makanan lain nikmat dimulut gadis kecil itu. Waktu itu dia belum menyadari bahwa biji coklat atau kakao adalah bahan utama membuat coklat manis. "Itu adalah sarapan kami setiap hari," kenangnya.

Ketika nenek menjelaskan coklat merupakan pengganjal perut mereka. Dan coklat memiliki kandungan gizi baik. Choa mendengarkan seksama penjelasan tersebut. Maka ketika dia mendapatkan resep bagaimana membuat tablea tertanam dibenaknya.

Dia lantas dinikahi pengusaha, Alfred Choa, diumur 16 tahun dan kecintaan akan coklat semakin membesar. Justru ketika menjadi ibu rumah tanggan dan memiliki delapan anak, ibu dari Michael Ray, Michelle Honey, Anthony, Jonathan, Hanna, Alfredo, Rose Angeline dan John Paul, justru malah menjadi pemilik perusahaan sendiri.

Masa kecil sulit membuat dia tidak takut akan resiko. Dia percaya diri mengambil keputusan di perusahaan. Ia menjadi seniman coklat dimana coklat mengalir di imajinasinya.

"Sukses berarti melalukan hal baik. Saya melakukan hal baik dan seterusnya," ujarnya.

Sukses tablea membawa visi Choa ke masa depan. Dia ingin mengekspor produk coklat khas Filipina jadi komoditi internasional. Fakta dijelaskan Choa, negara mana yang mendapatkan pohon coklat pertama, yaitu ketika Spanish mulai menjelajah tahun 1670.

Jawaban tersebut pasti sudah kamu ketahui. Selanjutnya mimpi wanita 36 tahun ini bagaimana cara membuat produk coklat Filipina mendunia. Dan jika dia ingin lakukan itu, dia akan membawa lebih banyak kardus berisi coklat dan membawa ke pasar global.

Dia memutuskan akan mengekspor coklat. Bukan cuma berkardus coklat siap makan. Tetapi bagaimana cita rasa coklat khas Filipina menyebar ke dunia. "Saya tidak pernah berpikir saya akan berbisnis dengan coklat sekarang," ia tambahkan.

Artikel Terbaru Kami